Pilgrims on Christ’s Mission

Orang Muda Katolik

Penjelajahan dengan Orang Muda

Bahagia Berjalan Bersama Orang Muda

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Mazmur 119 Pada waktu itu di tahun 2000, angin malam terasa dingin dan suasana gelap gulita karena listrik padam. Di rumah formasi Jesuit, tepatnya di atas dak, di jalan Salemba Bluntas, Jakarta saya memandang langit yang dipenuhi bintang sambil melakukan percakapan antar sahabat. Dalam percakapan tersebut saya mengungkapkan minat mendalam untuk terlibat aktif mendampingi kaum muda. Bagi saya kaum muda adalah recup atau tunas yang bertumbuh. Recup itu perlu dipelihara, dipupuk, dan disiram agar dapat bertumbuh optimal. Berdasarkan diskresi, saya kemudian mengajukan usulan kepada Pater Rektor Kolese Hermanum, agar diperkenankan mendampingi orang muda, khususnya para mahasiswa di PMKAJ (Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta) unit Selatan. Di PMKAJ Selatan para intelektual muda berkumpul menimba ilmu di kampus-kampus besar yang berada di wilayah Depok dan sekitarnya. Perjumpaan dengan orang muda membuat saya mengerti betapa mereka membutuhkan perhatian, dan kepedulian mentor yang bersedia menemani perjalanan mereka. Saya, pada waktu itu sebagai frater Jesuit, lebih mudah menyesuaikan diri dengan cara bertindak orang muda. Melalui diskusi-diskusi yang panjang bersama mahasiswa, kami membuat aneka kegiatan seperti temu mahasiswa tahun 2000, napak tilas setelah malam Kamis Putih dari Wisma SJ Depok ke Katedral Jakarta pada tahun 2001; lalu pada tahun yang sama membentuk Ignatian Study Club. Aneka kegiatan yang dilakukan membuat saya semakin mengenali dan memahami kebutuhan orang muda yang sedang bertumbuh menjadi pribadi dewasa dan bertanggungjawab. Perjumpaan yang intens dengan mereka, menginspirasi saya untuk melakukan pendampingan yang pas sesuai kebutuhan mereka. Dalam analisis Buckingham (2008), orang muda perlu dilatih untuk mengetahui cara mengelola hidup, memimpin diri sendiri atau orang lain, dan mempertahankan serta sekaligus mengembangkan apa yang dimiliki orang muda. Menurut Lowndes (2014) orang muda perlu dilatih dan dikembangkan agar mereka yakin dan memiliki kepercayaan tinggi dalam meraih kesuksesan di masa depan. Orang muda yang terlatih akan merasa optimistis, bahwa hidup yang bernilai baik dan mulia layak diperjuangkan. Perasaan dominan berjalan bersama orang muda adalah sukacita. Orang muda mempunyai energi besar untuk bertumbuh. Dalam rentang tahun 2000-2019 saya mengalami interaksi langsung secara intens dengan orang muda di Wisma SJ Depok, Kolese Le Cocq d’Armandville, dan Civita Youth Camp. Semua daya upaya saya lakukan dalam mendampingi orang muda. Hasil pendampingan yang dirasakan tidak didapat secara langsung, tetapi kalau dilihat dari wajah-wajah mereka, setelah melalui proses pendampingan, tampak gembira. Tahun 2019 hingga sekarang, saya tidak lagi secara langsung mendampingi orang muda. Fokus saya sekarang menemani perjalanan para pendidik atau guru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK di Perkumpulan Strada. Mereka didampingi agar dapat bekerja melayani secara efektif, efisien, dan mendalam saat mereka mendampingi para murid, generasi muda. Pengalaman puluhan tahun mendampingi orang muda sungguh berguna dalam memberikan aneka inspirasi berupa tulisan opini, kajian, lumbung gagasan, seminar, podcast, semi-lokakarya, dan pendampingan langsung pada guru dan unsur pimpinan di Perkumpulan Strada, khususnya bagaimana menemani perjalanan orang muda. Berdasarkan gagasan C.P. Varkey, S.J. (2012), kekuatan doa mengalir pada realitas. Dia menegaskan bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Oleh karenanya, lewat doa dan mengandalkan Tuhan, saya merasa mendapatkan energi yang besar dari orang muda yang dijumpai. Selama mendampingi orang muda, saya mendapat begitu banyak insight pembelajaran. Mereka memberikan energi positif pada saya untuk terus bertumbuh bersama mereka. Dalam gagasan Herbert F. Smith, S.J., diungkapkan bahwa pengalaman yang membahagiakan karena dibimbing Roh Allah bergerak menuju pada persatuan lebih mendalam dengan Bapa, menyangkut tindak perilaku tertentu, yang menyatukan saya sebagai person lebih intim dengan Putra yang wafat dan bangkit. Cara bertindak yang didasari kasih Allah, membuat saya belajar banyak hal dari kaum muda. Membuka telinga dan hati yang lebar pada kehidupan mereka, rasa kesatuan relasi menjadi utuh, bukan lagi saya dan dia; atau kami, dan mereka tetapi kita. Coutinho, S.J. (2016) memberikan analisis bahwa manusia itu diberi kebebasan. Dalam kebebasan, orang mempunyai aneka pengalaman ilahi yang mengantar pada perbuatan-perbuatan baik. Tantangan zaman sekarang dan di masa depan sebenarnya merupakan realitas berulang dalam kualitas dan konteks yang berbeda. Pendampingan terhadap orang muda bukanlah segalanya dalam formasi. Akan tetapi, menemani secara formatif perjalanan orang muda sangat bernilai karena dinamika duniawi kerap berubah. Perubahan itu perlu dijawab dengan kematangan berpikir dan bertindak, maka selayaknya sahabat mentor perlu membantu orang muda dalam mengatasi persoalan hidup yang mereka alami. Ada empat pokok persoalan sebagai tantangan orang muda di zaman now, yaitu terkait masalah fondasi hidup, harga diri, relasi, dan orientasi masa depan. Pertama, di era modern banyak orang yang merasa kesulitan untuk menentukan fondasi yang menjadi arah tujuan hidup dalam mencari makna. Terkadang, orang muda merasa kehilangan arah dan bingung dengan apa yang seharusnya dilakukan. Hal ini dapat menyebabkan kecemasan, depresi, atau bahkan ketidakbahagiaan. Kedua, masalah harga diri terkait dengan kepercayaan diri seseorang. Banyak orang merasa tidak cukup baik atau kompeten dalam hal-hal tertentu dan ini dapat menyebabkan keraguan diri dan kecemasan. Selain itu, perkembangan teknologi dan media sosial juga dapat mempengaruhi harga diri seseorang terutama jika mereka merasa tertekan untuk terlihat sempurna atau mendapatkan persetujuan dari orang lain. Ketiga, di era digital seperti sekarang, relasi atau hubungan menjadi hal yang sangat penting. Meskipun teknologi memudahkan orang muda untuk terhubung dengan orang lain, terkadang sulit membangun hubungan yang sehat dan bermakna. Banyak orang muda merasa kesulitan dalam membangun hubungan, baik itu dengan teman, keluarga, maupun pasangan. Tantangan ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, termasuk perbedaan budaya, pola pikir, dan kesulitan berkomunikasi. Keempat, masalah orientasi masa depan bagi orang muda berkaitan dengan kekhawatiran apakah impian hidup mereka tercapai atau tidak. Dalam dunia yang terus berubah dan berkembang, banyak orang muda mengalami kesulitan membuat rencana atau menentukan arah hidup. Sebagian dari orang muda tidak terlalu yakin dengan karir atau pekerjaan yang cocok, bahkan di antara mereka ada yang tidak mengetahui bagaimana mencapai tujuan hidup mereka. Blanchard, Olmstead, & Lawrence (2013) memunculkan gagasan ABCD (Able, Believable, Connected, dan Dependable). Melalui gagasan mereka, saya terinspirasi bagaimana mendampingi orang muda agar mereka memiliki kemampuan olah diri yang baik, dapat dipercaya, terhubung satu sama lain, dan dapat diandalkan. Oleh karenanya, dalam banyak kesempatan kami membuat aneka bentuk kaderisasi berupa Latihan Kepemimpinan Ignatian, Rekoleksi, dan Retret Orientasi Hidup bagi orang muda. Dalam

Penjelajahan dengan Orang Muda

Menemani Orang Muda di Karya Kerasulan Jesuit

Nama saya Anton, seorang bapak usia 40-an. Saat ini saya bekerja di Universitas Sanata Dharma (USD), sebuah universitas Jesuit di Yogyakarta. Ketika redaksi INTERNOS menghubungi saya untuk menjadi salah satu kontributor tulisan edisi khusus tentang Orang Muda, saya merasa sangat senang. Rasa senang tersebut hadir bukan karena saya merasa mempunyai banyak pengalaman bersama-sama dengan orang muda, namun karena dari pengalaman-pengalaman tersebut saya belajar dan tumbuh sebagai manusia dewasa. Oleh karenanya, tulisan sederhana ini hanyalah sekadar sharing atas refleksi pribadi saya yang pernah menjadi orang muda, berjumpa dengan para Jesuit, dan sekarang menemani orang-orang muda serta bekerja sama dengan para Jesuit dalam tugas saya sehari-hari di perguruan tinggi. Menjadi Orang Muda, Menjumpai Allah yang Berkarya Lewat Pengalaman Hidup Jika ditanya perasaan dominan saya mengemban tugas perutusan melayani orang muda bersama para Jesuit, tentu jawabannya adalah perasaan bersemangat. Sebelum bekerja di USD, saya pernah menjadi orang muda yang didampingi oleh seorang Jesuit dan pengalaman tersebut sangat mengesankan. Sekira 25 tahun yang lalu, saat saya menjadi mahasiswa di sebuah universitas negeri, saya bertemu dengan seorang pastor Jesuit yang caranya memandang dunia dan cara hidupnya banyak mempengaruhi hidup saya. Dari beliaulah, di kemudian hari saya mengenal yang disebut sebagai cara bertindak seorang Jesuit. Saya menjadi orang muda di tengah situasi perubahan besar dalam kehidupan bangsa ini: krisis ekonomi, krisis sosial, dan krisis demokrasi. Melalui mata kuliah agama Katolik saya bertemu dengan mendiang Pater Joseph Adi Wardaya, S.J. Saya disadarkan pentingnya ikut serta memperbaiki situasi dengan terlibat lebih jauh pada permasalahan sosial masyarakat dan bagaimana itu semua menjadi perwujudan iman dalam hidup sehari-hari. Saya belajar tentang Analisis Sosial, Gerakan Non-Violence, dan Teater Rakyat sebagai media konsientisasi. Saya terpukau oleh bagaimana iman sangat erat kaitannya dengan keprihatinan hidup masyarakat. Namun lebih daripada itu, saya belajar darinya tentang memelihara iman, menemukan Allah melalui pengalaman dalam hidup sehari-hari, dan refleksi sebagai unsur penting dalam setiap aksi. Sampai akhir hidupnya, Romo Adi, begitu saya biasa memanggilnya, tidak pernah mengatakan – setidaknya secara langsung kepada saya – bahwa cara bertindaknya didasari oleh spiritualitas tertentu. Cara hidupnyalah yang menuntun saya pada akhirnya untuk mencari dan menemukan sendiri dari mana semua itu berasal. Di akhir masa muda saya, saya menemukan bahwa yang menggerakkan semua itu adalah apa yang disebut sebagai Spiritualitas Ignasian. Di masa muda, saya bersyukur karena mengalami perjumpaan dan didampingi oleh seorang Pastor Jesuit sehingga saya bisa menemukan bahwa menjadi (orang) muda adalah sebuah rahmat dari Allah, rahmat untuk terlibat memperbarui situasi hidup bermasyarakat yang juga pada akhirnya membuat dunia selalu menjadi muda. Rahmat Keterbukaan: Keberanian untuk Melangkah Lebih Jauh dan Melompat Lebih Tinggi Bekerja di Universitas Sanata Dharma memungkinkan saya untuk lebih terlibat dan bekerja sama dengan para Jesuit dan orang-orang muda. Kebetulan sebelum di Biro Humas, selama 10 tahun saya bertugas di Campus Ministry dan Asrama Sanata Dharma Student Residence. Jika ditanya suka duka menjadi pendamping orang muda, tentu lebih banyak sukanya, lebih banyak kegembiraan, dan sukacitanya. Di Campus Ministry saya bertemu dengan berbagai komunitas mahasiswa berbasis agama. Pernah dalam sebuah kesempatan camping yang kami laksanakan di bulan Ramadhan, saya sangat tersentuh dengan inisiatif beberapa teman muda Katolik yang ikut menyiapkan menu sahur bagi teman-teman muslim yang sedang berpuasa. Demikian juga ketika persiapan Tri Hari Suci di Kapel Bellarminus, teman-teman lintas iman banyak terlibat. Saya ingat sekali, dalam Tablo Jumat Agung di tahun 2018, banyak teman muda dari berbagai agama ikut menjadi pemeran dan tim produksi. Saya juga belajar banyak dari teman-teman di Asrama Sanata Dharma yang dengan segala kesulitannya beradaptasi di tengah situasi pandemi. Selama dua tahun, asrama kami yang diisi hampir dua ratusan mahasiswa yang berasal dari Papua, Nias, Kalimantan, dan NTT bertahan dan mendisiplinkan diri. Beberapa dari mereka harus menjalani isolasi karena terkena covid, yang lainnya harus menjaga mobilitas, menjaga jarak, menjaga kesehatan, dan terus menjalani kuliah secara online di tengah segala keterbatasannya. Saya sangat memahami bahwa sebagai orang muda mereka mempunyai mobilitas tinggi dan hasrat yang besar untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Namun, hal-hal tersebut di atas tidak mengurangi kehendak mereka untuk bisa mendisiplinkan diri selama kurang lebih dua tahun dengan tidak keluar sembarangan dari lingkungan asrama, beradaptasi dengan perkuliahan online, dan saling membantu sebagai sesama anak perantauan. Apa yang saya pelajari dari pengalaman ini? Saya merasa bahwa orang-orang muda mempunyai kemampuan yang luar biasa di dunia yang terus bergerak dan berubah dengan cepat. Melalui orang muda saya banyak belajar tentang keberanian dan keterbukaan terhadap dunia yang terus berubah. Mereka berani melangkah lebih jauh dan melompat lebih tinggi. Tantangan terbesar orang muda? Tidak dipahami dan dipercaya oleh orang tua. Menemani Orang Muda di Zaman Ini untuk Sebuah Pengharapan di Masa Depan Orang-orang muda di zaman ini adalah mereka yang lahir ketika dunia bergerak sangat cepat berkat teknologi informasi. Mereka banyak disebut oleh para ahli sebagai generasi Z, sebuah generasi yang memiliki karakteristik sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, termasuk generasi saya. Mereka di satu sisi memang sangat terbuka dan toleran dengan perbedaan budaya. Gen Z juga adalah penduduk asli era digital yang tumbuh dengan teknologi, internet, dan sosial media sehingga sering distigma sebagai generasi pecandu teknologi dan cenderung anti sosial. Akrab dengan teknologi dan internet, membuat mereka kaya akan informasi. Namun, ketergantungan terhadap teknologi membentuk karakter yang konon cenderung keras kepala, menyukai sesuatu yang instan, terkesan terburu-buru, dan senang mengumbar hal-hal privat di ranah publik. Sebagai orang yang yang tidak lagi ‘tergolong muda,’ tentu saya harus menerima teman-teman muda ini dengan segala keunggulan dan kelemahannya. Kerendahan hati saya untuk mendengarkan aspirasi mereka dan memahami dunia serta pilihan-pilihan mereka sangatlah dibutuhkan. Orang muda perlu dipercaya. Bahwa dengan segala potensinya mereka bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa (lagi) dilakukan oleh orang-orang tua. Kekuatan utama orang muda adalah kemampuan mereka untuk mengeksplorasi banyak hal. Mereka tidak takut salah, berani terus mencoba dan berusaha. Mereka perlu percaya pada diri, percaya pada kemampuan dirinya, dan terbuka terhadap situasi dunia, serta terhadap rahmat-rahmat Allah yang bekerja dengan caranya sendiri. Sebagai orang yang tidak lagi muda, saya merasa tugas saya adalah menjadi teman seperjalanan mereka. Menemani mereka dalam proses pertumbuhan manusiawi sebagai manusia dewasa agar pada saatnya nanti para pemilik masa

Penjelajahan dengan Orang Muda

Membersamai “Si Muda” Menemukan Tuhan melalui Dunia Digital

Tiga tahun ini saya banyak berdinamika dan berproses bersama orang muda di Paroki Santa Theresia Bongsari Semarang melalui layanan digital di gereja, khususnya multimedia. Mulai dari membuat jadwal tugas, mendampingi anggota baru, hingga mengolah teks misa agar dapat ditampilkan dengan baik dan nyaman di perangkat multimedia gereja kami. Melayani Orang Muda bersama Para Jesuit Berproses bersama Jesuit membuat saya merasa tertantang karena beberapa Jesuit yang saya kenal adalah pribadi yang inovatif meski kadang ide-ide kreatif itu muncul di menit-menit akhir. Dengan perubahan ide-ide yang datang “mendadak” seringkali membuat saya harus memikirkan cara untuk menyampaikannya kepada si muda tanpa mengecilkan apa yang sudah mereka lakukan. Menemani, berproses, dan saling bekerja sama mewujudkan ide-ide tersebut yang dibumbui “sambat” menjadi pengalaman yang menantang sekaligus mengembangkan. Melihat bagaimana para Jesuit bersemangat dan bersukacita dalam melayani umat juga menjadi motivasi tersendiri. Ketika orang mampu melayani dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati maka orang di sekitarnya pun merasakan buah sukacita. Dari pengalaman melihat itu, saya menyimpulkan bahwa ternyata pelayanan membuahkan sukacita baik bagi yang dilayani maupun yang melayani. Terang dan Rahmat Percaya atau tidak, membersamai si muda yang berdinamika dalam iman pun membawa berkat tersendiri bagi kehidupan. Saya dibawa pada ingatan ketika saat-saat pertama saya menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup saya. Misalnya, menemukan Tuhan dalam hal paling sederhana seperti bisa mengerjakan ujian di saat kondisi otak sudah buntu. Menjadi bagian dari kehidupan mereka dalam era digital membuat saya tersadar bahwa menyebarkan sukacita itu bisa sesederhana membuat IG story ‘By His wounds you have been healed. #GoodFriday.’ See! Tuhan berkarya dalam siapa saja bahkan dalam si muda yang belum banyak usianya. Saya tersentil dengan cara yang kadang kocak dan sederhana. Hal ini mengingatkan saya bahwa di dalam diri saya terdapat jiwa muda yang dipelihara oleh Tuhan untuk terus percaya pada-Nya. Tantangan Terbesar Orang Muda Saat ini Siapa itu orang muda? Apakah yang dikelompokkan menurut usia tertentu? Atau orang-orang yang memiliki jiwa muda di dalamnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelitik di dalam pikiran. Terkadang saya menjumpai seorang yang bahkan belum mencapai umur 17 tahun tapi didewasakan oleh perjalanan hidup yang tidak mudah. Kalau di reels Instagram biasanya ditulis “dipaksa dewasa oleh keadaan.” Dia kehilangan binar dan senyum masa muda yang tetap menunjukkan wibawanya. Menjadi muda di era saat ini sangatlah berat terutama berhadapan dengan kondisi dan tuntutan masyarakat. Belum lagi harus menghadapi fase krisis mempertanyakan eksistensi diri, mencari jati diri. Sebetulnya kita diminta jadi apa? Seharusnya langkah apa yang diambil? Apakah ini yang diharapkan untuk memenuhi standar khalayak umum. Menjadi muda saat ini adalah BEBAN! Bergaya dibilang flexing (padahal itu satu-satunya yang dimiliki). Ketika menulis caption “butuh healing” dicap tidak tahu bersyukur atas semua yang diberi. Bikin story Instagram “lelah” pun jadi perkara. ‘Kamu belum tahu zaman kita, dek. Lebih berat! Ini mah belum seberapa!’ Membuat checklist “misa mingguan check” pun dianggap sebagai pamer. Menjadi muda saat ini menguras mental. Jadi, bila kesehatan mental akhir-akhir ini digaungkan pun tidak salah karena menjadi muda yang berbeda, harus memenuhi ekspektasi yang luar biasa dari lingkungan sekitar. Sisi positifnya ialah orang-orang muda ini masih memberi tempat bagi Tuhan. Mereka tahu di bawah sadarnya bahwa mereka harus mengadu ke sana. Itu pula yang menjadi salah satu alasan si muda tidak konsisten dan tidak menindaklanjuti sesuatu yang sudah dipelajari. Mereka cenderung mempelajari sesuatu karena penasaran dan lekas bosan. Beberapa yang bergabung dan telah berlatih untuk bertugas, hanya muncul sebentar lalu menghilang. Mereka hanya penasaran namun kesadaran untuk melakukan pelayanan masih kurang. Mereka lebih memilih untuk bertemu dengan teman daripada harus bertugas sesuai jadwal. Kurangnya motivasi dari diri mereka sendiri membuat pelayanan menjadi tidak menarik dan terasa membosankan. Agaknya bagi mereka pasang IG Story dengan background komputer gereja masih kalah menarik dari background cafe lengkap dengan caption “senja, kopi, dan kamu.” Latar belakang keluarga juga menjadi salah satu faktor yang mendukung anak dalam mengembangkan talenta mereka di gereja. Tidak bisa dimungkiri, keluarga, dalam hal ini orang tua, yang tidak aktif dalam kegiatan menggereja cenderung sulit untuk mendorong anak mereka untuk mengikuti kegiatan-kegiatan di gereja. Hubungan keluarga yang kurang terbuka juga menjadi hambatan dalam pelayanan di gereja. Beberapa orang muda menggunakan alasan minim dukungan orang tua saat tidak dapat bertugas sesuai jadwal. Usaha dan Suka Duka dalam Menemani Orang Muda Sebagai kolaborator yang juga sedang belajar “lebih dewasa”, menemani orang muda dalam menemukan jalan perutusan melalui pelayanan multimedia di gereja, saya berusaha memberikan pengertian bahwa pelayanan tidak selalu yang “serius” seperti memimpin doa. Saya belajar memberi tanggungjawab dan kepercayaan kepada mereka. Cara pandang bahwa kegiatan gereja akan berjalan lebih baik dan lancar dengan keterlibatan mereka, juga coba saya tularkan kepada mereka. Bahkan memastikan kabel tidak terbakar karena overheat pun termasuk di dalamnya. Saya memberi lebih banyak ruang bagi mereka untuk berdinamika dalam ‘mencari Tuhan’ melalui langkah digital. Membuat konten untuk media sosial, menyiapkan slideshow misa, merekam jalannya tuguran atau mungkin sekadar memastikan bahwa pesan tentang sabda hari ini tersampaikan dengan baik adalah ruang keterlibatan bagi sang muda. Harus kembali ditekankan bahwa melayani Tuhan itu beragam rupanya. Panggilan itu beragam caranya. Bagi saya kolaborator yang menemani si muda dalam ‘mencari Tuhan’ pun diharapkan selalu mengimani dan mendampingi. Si muda adalah energi bukan gulma yang harus dibabat habis. Menemani si muda sebagai kawan perjalanan dalam melayani Tuhan dengan cara yang kreatif tidak lagi harus kaku dan menghakimi. Gereja sebagai wadah pertumbuhan dan perkembangan iman membutuhkan partisipasi mereka sebagai upaya regenerasi. Pada akhirnya masa depan Gereja berada di tangan si muda. Mereka sebetulnya sudah memiliki jawaban dalam diri mereka, mereka hanya butuh waktu untuk menemukannya. Dan tugas kita, menemani. Kontributor: Eugenia Agustina – Koordinator Multimedia Paroki Santa Theresia Bongsari Semarang

Pelayanan Spiritualitas

Beasiswa MAGIS untuk Mereka yang Membutuhkan

“Beasiswa Magis untuk Indonesia” adalah program beasiswa dari Komunitas Magis Jakarta yang disalurkan untuk pembiayaan sekolah anak-anak yang kurang mampu. Program beasiswa magis ini sudah dimulai sejak tahun 2017. Dana Beasiswa Magis Untuk Indonesia disalurkan melalui Yayasan Realino Seksi Pengabdian Masyarakat Yogyakarta yang saat ini berada di bawah asuhan Diakon Fransiskus Pieter Dolle, S.J. Dana yang dikumpulkan melalui Beasiswa Magis untuk Indonesia selanjutnya disalurkan kepada anak-anak kurang mampu di daerah Yogyakarta dan sekitarnya untuk membantu pembiayaan pendidikan mereka. Penunjukan Yayasan Realino sebagai penyalur dana dari Komunitas Magis Jakarta berangkat dari rekomendasi yang diberikan oleh Rm. Julius Mario Plea Lagaor, S.J. selaku pendamping Magis Jakarta pada tahun 2017. Anak-anak penerima bantuan dari Beasiswa Magis untuk Indonesia merupakan anak-anak sekolah pada tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) yang memiliki kesulitan secara finansial dalam pemenuhan kebutuhan biaya pendidikan. Pada tahun-tahun sebelumnya pengumpulan Beasiswa Magis untuk Indonesia dilakukan bersamaan dengan kegiatan perbul (pertemuan bulanan) dalam bentuk cash, namun pada tahun ini karena perbul (pertemuan bulanan) dilakukan secara online, maka pengumpulan dana Beasiswa Magis untuk Indonesia dilakukan setiap satu bulan sekali yang dimulai dari bulan September 2020 hingga saat ini hanya dalam bentuk transfer ke nomor rekening Magis Jakarta. Mulai dari alumni, formator, dan bahkan pengurus terlibat dalam kegiatan ini. Semoga kegiatan Beasiswa Magis untuk Indonesia ini dapat terus berjalan dan semoga siswa-siswi yang dibantu bisa semakin luas dan banyak. Kontributor: Eilin Nagari Harto Putri – MAGIS Indonesia