Pilgrims on Christ’s Mission

jesuit

Feature

Dalam Bayang-Bayang Gempa: Mengabdi, Menginspirasi, dan Membangun Kesiapsiagaan

Semburat matahari pagi lengkap ditambah raut antusias dan senyum cerah anak-anak Pingit. Momen itu seolah menjadi sambutan hangat kala kami menginjakkan kaki di Perkampungan Sosial Pingit (PSP). Di tengah kebisingan kendaraan, kami merasakan energi positif menyelimuti mereka. Raut penasaran dan tatapan mereka mewarnai kegiatan pagi itu. Kami merasakan keingintahuan anak—anak akan hal baru, tentang apa yang akan mereka dapatkan. Mengabdi dan berbagi di Kampung Pingit pada 29 September 2024 adalah perjalanan bermakna yang tak terlupakan. Kegiatan sosial mengajar ini dilakukan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Himpunan Mahasiswa Sains Informasi Geografi (HMSaIG). Ini merupakan bagian program kerja Departemen Sosial Masyarakat, hasil kolaborasi dengan Realino SPM. Tema yang diangkat “Kenali Gempa: Tetap Tenang dan Siap Siaga.” Bahasan ini ingin memberikan edukasi penting tentang mitigasi bencana gempa bumi kepada masyarakat, khususnya anak-anak di daerah Yogyakarta yang memiliki risiko gempa bumi.   Seiring kami memulai sesi pertama, rasa cemas yang sempat menghinggapi digantikan kegembiraan. Dalam sesi belajar, kami bukan hanya mengajarkan teori-teori dasar gempa bumi dan langkah-langkah keselamatan yang harus dilakukan, tetapi juga memastikan bahwa anak-anak paham akan apa yang sedang terjadi di bumi ini ketika gempa berlangsung. Simulasi dilakukan untuk mengetahui dan memperdalam pengetahuan mereka bahwa gempa bumi dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya pergerakan lempeng tektonik. Melalui video dan alat peraga simulasi gempa bumi yang menarik dan edukatif, materi disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Setiap sesi pun menjadi interaktif dan bermakna. Anak-anak juga diajak untuk mencoba menggerakkan alat peraga supaya merasakan dampak yang gempa bumi. Selain menyampaikan materi, kami mengadakan games, kuis sederhana, dan makan bersama sebagai jembatan membangun kedekatan dengan anak-anak Pingit. Setiap tawa dan tanya yang terlontar dari anak-anak menyalakan semangat kami untuk berbagi. Kegiatan ini mengingatkan kami pada ungkapan Mahatma Gandhi, “The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.” Ungkapan tersebut menekankan pentingnya mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kepentingan pribadi. Melalui tindakan pelayanan, kami tidak hanya membantu orang lain melainkan juga menemukan tujuan dan identitas kami sendiri. Sebagai fasilitator, kami datang dengan niat berbagi ilmu, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kami belajar banyak dari anak-anak Pingit, tentang ketekunan, semangat belajar, dan kemampuan beradaptasi di tengah keterbatasan. Mereka mengajarkan bahwa harapan tetap tumbuh meskipun dalam kondisi sulit, dan pendidikan adalah jembatan menuju masa depan lebih baik.   Dalam interaksi dengan masyarakat Pingit, dirasakan bahwa kehadiran kami sebagai mahasiswa bukan sekadar membawa materi akademik, tetapi juga membawa harapan baru. Anak-anak di sini, dengan keterbatasan mereka, menunjukkan rasa ingin tahu sangat besar. Mereka tidak hanya belajar bagaimana menghadapi gempa, melainkan juga belajar bahwa di luar sana ada banyak kesempatan bisa mereka raih lewat pendidikan. Selain memberikan edukasi gempa, kegiatan ini menjadi kesempatan mendekatkan diri dengan Volunteer Komunitas Belajar Pingit. Kami berbagi cerita, mendengarkan aspirasi, dan memahami permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari. Hal ini memperkuat kesadaran kami akan pentingnya kepedulian sosial dan solidaritas. Pengabdian ini mengajarkan perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil, seperti kata Malala Yousafzai bahwa “One child, one teacher, one pen, and one book can change the world.” Setiap usaha kami meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana dapat berdampak besar pada keselamatan mereka di masa depan. Kampung Pingit mengajarkan kami bahwa pengabdian bukan hanya tentang apa yang bisa kami berikan, tetapi juga tentang bagaimana kami menerima. Setiap tindakan kecil dengan ketulusan akan memberi dampak lebih besar daripada yang kami bayangkan. Kami belajar bahwa melayani adalah sebuah panggilan, yang ketika dijalankan dengan sepenuh hati, akan membawa kebahagiaan mendalam baik bagi yang dilayani maupun yang melayani. Kampung Pingit akan selalu menjadi tempat kami menemukan makna pada setiap langkah pelayanan.   Kontributor: Himpunan Mahasiswa Sains Informasi Geografi – Universitas Gajah Mada

Pelayanan Gereja

OM JAMARI – Orang Muda Mengajar, Bermain, dan Berbagi

Inilah inisiasi kegiatan oleh Gedangan Muda, yaitu kunjungan ke Panti Asuhan St. Thomas Bergas pada Minggu, 15 Desember 2024. Kunjungan ini merupakan wujud syukur Gedangan Muda atas kegiatan-kegiatan yang sudah terlaksana sebelumnya yang sekaligus menjadi momentum refleksi bersama untuk mensyukuri setiap hal kecil yang diterima dan memupuk semangat berbagi. Dalam kunjungan ini, selain bantuan berupa donasi materi, kami juga ingin membagikan pengalaman berharga melalui kegiatan bermakna. Salah satu bentuk kegiatan bermakna yang kami selenggarakan adalah menghias pot tanaman bersama mereka. Aktivitas ini mengajarkan anak-anak untuk menghargai ciptaan Tuhan, seperti tanaman, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan. Ternyata pot-pot yang dihiasi dengan berbagai warna dan kreativitas semakin menghidupkan suasana dan menambah semangat untuk merawat tanaman. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberi kebahagiaan bagi anak-anak tetapi juga mengingatkan kami untuk terus mensyukuri hal-hal sederhana. Ternyata, berbagi itu bukan hanya soal materi tetapi juga waktu, perhatian, dan kasih. Semangat dalam kunjungan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Banyak umat yang tergerak berdonasi kebutuhan pokok, uang, dan buku bacaan. Rupanya, buku bacaan sangat mereka butuhkan karena kegiatan membaca merupakan salah satu kegiatan favorit dan hobi mereka. Semoga bantuan tersebut dapat membantu kelangsungan kebutuhan anak-anak di Panti Asuhan St. Thomas. Dalam kebersamaan yang terjalin, terasa nyata bagaimana cinta kasih Kristus yang hadir melalui setiap senyuman dan tawa yang dibagikan.   Kunjungan ini mengingatkan kami akan slogan yang selalu diusung, “Gedangan Muda, Aku Muda Aku Bisa!” Kami berharap semoga semangat dan jiwa muda selalu ada dalam diri kami di manapun berada. Rasa syukur dan sukacita bisa diwujudkan melalui tindakan kecil nan bermakna. Semoga kami selalu bisa mengupayakan langkah nyata yang berdampak bagi diri kami dan lingkungan sekitar!   Kontributor: Maria Godeliva Diantita K. – Ketua OMK Paroki St. Yusup Gedangan  

Kuria Roma

Pertemuan para Bruder: Mendalami Panggilan Mendasar dalam Serikat

Komisi Internasional Panggilan Bruder memulai perjalanan tiga tahun untuk memperdalam panggilan mendasar ini.   Kuria Roma menjadi tuan rumah pertemuan perdana Komisi Internasional Panggilan Bruder atau International Commission on the Jesuit Brother (ICJB) untuk menindaklanjuti pertemuan internasional para bruder di Roma, Juli 2022 lalu. Inisiatif baru ini menandai awal proses kerja dan discernment yang akan berlangsung selama tiga tahun ke depan. Komisi ini, yang mencerminkan keragaman dan universalitas Serikat, menyatukan para Bruder Jesuit dari enam Konferensi Provinsi, yaitu: Afrika dan Madagaskar, Amerika Latin dan Karibia, Asia Pasifik, Kanada dan Amerika Serikat, Eropa dan Timur Dekat, dan Asia Selatan. Yang menarik dari komisi ini adalah keikutsertaan seorang biarawati dan seorang awam kolaborator Serikat, serta dua imam Jesuit yang membawa perspektif lebih luas dan lebih kaya dalam dialog tentang panggilan Bruder Jesuit. Komposisi yang beragam ini mencerminkan semangat kolaborasi yang menjadi ciri khas cara kerja Serikat di dunia masa kini. Dalam pertemuan pertama di Roma ini, komisi meletakkan dasar kerja yang akan membahas isu-isu mendasar seperti identitas dan misi Bruder Jesuit di dunia saat ini, proses Pendidikan, dan promosi panggilan. Pertemuan ini menggabungkan refleksi mendalam, doa, dan discernment Ignatian yang menjadi tindak lanjut pertemuan tahun 2022 yang telah menghasilkan banyak hal penting.   Perpanjangan mandat komisi selama tiga tahun memungkinkan isu-isu ini dibahas secara mendalam, memfasilitasi proses mendengarkan yang mencakup suara para Bruder dan rekan berkarya dari berbagai belahan dunia. Jangka waktu ini juga memungkinkan pengembangan prakarsa secara bertahap dan pengamatan dinamikanya dalam konteks budaya yang berbeda.   Karya komisi ini sangat relevan pada saat Gereja berusaha memperbarui bentuk-bentuk kehadiran dan pelayanannya di dunia. Para Bruder Jesuit, dengan tradisi pelayanan mereka yang kaya di berbagai bidang seperti pendidikan, perawatan kesehatan, administrasi dan pekerjaan teknis, merupakan saksi penting terhadap hidup bakti di dunia modern ini. Proses tiga tahun ini, yang diprakarsai oleh Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J., merupakan komitmen penting Serikat terhadap masa depan panggilan Bruder Jesuit. Pertemuan di Roma ini menandai awal sebuah jalan yang baik untuk memperkuat dan memperbarui panggilan Bruder Jesuit bagi pelayanan Gereja dan dunia di abad ini.   Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel “Jesuit Brothers: Deepening this Essential Vocation”. Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat SJ Provindo pada tanggal 1 April 2024.

Penjelajahan dengan Orang Muda

Kunjungan ke Pesantren Ahmadiyah

Pada Sabtu, 18 Januari 2025, perwakilan frater dari Kolese Hermanum melakukan kunjungan ke Kampus Mubarok yang berlokasi di daerah Parung, Jawa Barat. Kampus Mubarok merupakan pusat Ahmadiyah Indonesia sekaligus “seminari” para calon imam Ahmadiyah di Indonesia. Ada 15 frater dari berbagai negara, ditemani oleh Pater Guido Chrisna, S.J. dan Pak Buddhy Munawar, seorang dosen Islamologi di STF Driyarkara, yang berkunjung ke komunitas Ahmadiyah. Kunjungan ini dimaksudkan agar para frater dapat semakin mengenal Komunitas Ahmadiyah dan pada akhirnya semakin mampu membangun dialog antaragama dengan mendalam.   Kunjungan kami ini disambut oleh Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia (pimpinan Ahmadiyah Indonesia), Maulana Mirajuddin Sahid. Dalam seremoni pembukaan kunjungan ini, Amir Nasional berpesan untuk selalu mengusahakan dialog dengan berbagai pihak agar dapat menciptakan kerukunan di tengah masyarakat. Setelah seremoni pembukaan tersebut, kami diajak untuk mengenal sejarah dan spiritualitas komunitas Ahmadiyah di sebuah gedung yang mereka sebut sebagai Peace Center. Ketika memasuki Peace Center kami diperlihatkan foto-foto para pemimpin agama di dunia (termasuk Paus Fransiskus), pendiri Komunitas Ahmadiyah dan para penerusnya, tokoh-tokoh nasional Indonesia yang merupakan bagian dari Komunitas Ahmadiyah dan karya-karya pelayanan Ahmadiyah di Indonesia. Komunitas Ahmadiyah menjadi komunitas yang sering “dipinggirkan” karena keyakinan mereka yang berbeda dari arus utama, terutama mengenai paham mesias dan nabi dari keyakinan umat Islam pada umumnya. Komunitas ini didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad pada abad ke-19 di India. Ahmadiyah percaya bahwa Kedatangan Kedua Sang Mesias telah terjadi, dan bahwa Mesias yang Dijanjikan adalah pendiri mereka sendiri. Meskipun sebagian besar keyakinan mereka mirip dengan agama Islam pada umumnya, penafsiran mereka tentang peran Mesias menjadi titik perbedaan yang kontroversial. Akibatnya, mereka sering dianggap sebagai non-Muslim. Bahkan Pusat komunitas Ahmadiyah dipindahkan dari Pakistan ke London demi alasan keamanan. Kepemimpinan Mirza Ghulam Ahmad diteruskan oleh para penerusnya dan bergelar Khalifatul Masih. Sekarang, Komunitas Ahmadiyah dipimpin oleh Khalifatul Masih V yang bernama asli Hazrat Mirza Masroor Ahmad. Khalifatul Masih V selalu menyerukan mengenai perdamaian dan cinta kasih dalam khotbah-khotbahnya. Love for all, hatred for none. Itulah motto dari Komunitas Ahmadiyah yang selalu dibawa dan ditunjukkan oleh Khalifatul Masih V dalam setiap khotbahnya.   Setelah berkenalan dengan sejarah dan iman mereka, para frater diajak berdinamika bersama para “seminaris” Ahmadiyah. Para mahasiswa di Kampus Mubarok ini tinggal dalam sebuah asrama besar dan tidur bersama di sebuah barak besar. Mereka tidak boleh mengakses internet dan menggunakan ponsel. Mereka bahkan juga mengalami “peregrinasi” selama tiga hari. Cara hidup ini sepintas mirip kehidupan di seminari pada umumnya.   Setelah lulus dari SMA, para calon imam Ahmadiyah menjalani pendidikan di Kampus Mubarok selama tujuh tahun. Setelah tujuh tahun, mereka akan “ditahbiskan” menjadi imam Ahmadiyah dan menerima perutusan langsung dari Khalifatul Masih, pimpinan tertinggi komunitas Ahmadiyah. Segala perpindahan tugas perutusan harus berdasarkan keputusan Khalifatul Masih dengan rekomendasi dari pimpinan nasional Ahmadiyah suatu negara. Secara tidak langsung, sistem hierarki yang dipakai oleh komunitas Ahmadiyah tidak jauh berbeda dengan hierarki Gereja Katolik. Komunitas Ahmadiyah memiliki pemimpin umum yang disebut Khalifatul Masih. Cara mereka mengutus para imamnya juga terkesan mirip dengan model Gereja Katolik dalam perutusan para imamnya. Belum lagi, proses formasi para calon imam Ahmadiyah juga mirip dengan formasi para calon imam Katolik.   Kemiripan dalam hal-hal teknis dan juga nilai kasih yang mereka junjung tinggi meneguhkan kami. Kunjungan kami ke pesantren Ahmadiyah ini semakin meneguhkan kami untuk berusaha berjejaring dan berkolaborasi dengan semua pihak dalam menciptakan bonum commune di dalam masyarakat. Memang apa yang kami imani tentu saja berbeda dengan mereka. Akan tetapi, kami dan mereka memiliki kesamaan visi dan nilai yang sama-sama dijunjung tinggi, baik oleh Gereja Katolik maupun oleh Ahmadiyah sendiri: mengasihi sesama dan mewujudkan kedamaian di dunia. Kunjungan ini ditutup dengan olahraga bersama dengan para “seminaris” Ahmadiyah. Kami bermain sepak bola untuk menutup kunjungan yang penuh makna ini.   Kontributor:Fr. Feliks Erasmus Arga, S.J. dan Fr. Aman Aslam, S.J.

Provindo

Pentakhtaan Relikui St. Ignatius Loyola dan Pemberkatan Gedung Pastoral St. Paulus – Paroki St. Ignatius Loyola, Semplak, Bogor

“Dengan diterimanya relikui ini, kami berharap Paroki Santo Ignatius Loyola semakin diperkaya oleh semangat Ignatius. Kehadiran relikui ini bukan hanya lambang, tapi juga pengingat akan panggilan untuk hidup kudus, melayani dengan cinta tanpa batas, dan menghidupi semangat ‘Magis’ dalam memberikan yang terbaik bagi Allah dan sesama. Semoga seluruh umat paroki terinspirasi oleh teladan Santo Ignatius Loyola untuk terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih. Semangat Ad Maiorem Dei Gloriam, demi kemuliaan Allah yang lebih besar, kiranya menjadi pegangan dalam setiap karya dan doa. Kami percaya bahwa dengan menghormati dan dengan perantaraan Santo Ignatius, paroki ini akan semakin diberdayakan untuk hidup dalam terang Injil.“   Pesan harapan itu menjadi penutup surat penyerahan relikui Santo Ignatius Loyola yang dibacakan oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. dalam perayaan Ekaristi di Gereja Santo Ignatius Loyola, Semplak – Bogor pada Sabtu, 25 Januari 2025. Usai pembacaan surat, relikui berupa potongan jubah Santo Ignatius Loyola ditakhtakan di altar dengan iringan lagu Amare et Servire (Mencintai dan Melayani).   Umat Paroki Semplak tidak hanya bersukacita atas anugerah penyerahan relikui, tetapi juga bersyukur atas pemberkatan dan peresmian Gedung Pastoral Santo Paulus. Tak hanya itu, umat sekaligus bersukacita atas ulang tahun ke-61 RD. Antonius Dwi Haryanto (Romo Anton) yang sejak tahun 2017 menjadi Pastor Kepala Paroki Semplak. Sukacita-sukacita ini dirayakan dalam Ekaristi yang dipimpin secara konselebrasi oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM (Uskup Keuskupan Sufragan Bogor), Mgr. Christophorus Tri Harsono (Uskup Keuskupan Sufragan Purwokerto), RD. Kol (Sus.) Yoseph Maria Marcelinus Bintoro (Wakil Uskup umat Katolik di lingkungan TNI dan POLRI), Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. (Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia), RD. Antonius Dwi Haryanto (Pastor Paroki Semplak saat ini), dan RD. Ridwan Amo (Pastor Paroki Semplak yang pertama).   Mgr. Paskalis merefleksikan pertobatan Santo Paulus dalam homilinya. Tuhan mengambil inisiatif memanggil manusia untuk berkarya bersama Dia, bahkan hingga saat ini. Ia mengambil tindakan untuk mempertobatkan Saulus, seseorang yang bersemangat menghancurkan pengikut Yesus. Tuhan lalu mengubahnya menjadi misionaris agung yang memberitakan Yesus kemana pun ia pergi. Mgr. Paskalis juga mengambil contoh Mgr. Tri Harsono yang lahir dari rahim paroki Semplak dalam keluarga Komando Pasukan Gerak Cepat Angkatan Udara. Mgr. Tri dipilih Tuhan untuk berkarya memberitakan nama Tuhan dengan menjadi uskup Purwokerto. Mgr Paskalis mengajak umat Semplak, yang memilih St. Ignatius Loyola sebagai pelindungnya, untuk mengikuti Kristus dengan cara Santo Ignatius: memiliki ketaatan total pada Gereja Katolik apapun keadaannya.    Dalam kata sambutannya, Romo Anton berterima kasih kepada seluruh pihak, baik dari Keuskupan Bogor, Pangkalan Udara TNI-AU, dan seluruh umat yang telah terlibat dalam dinamika perjalanan pembangunan paroki ini. “Semua sukacita ini terjadi karena rahmat dan kasih Tuhan yang sangat luar biasa.”   Romo Anton secara khusus berterima kasih kepada Pater Benny dan Pater Windar dari Provinsialat Serikat Jesus Provinsi Indonesia atas anugerah relikui yang diberikan kepada umat paroki Semplak. Ini tak lepas dari orang-orang yang mencintai Santo Ignatius, khususnya pasutri Antonius Imam Toni dan Retno yang telah sekian lama mencari relikui ini dan berhasil mendapatkannya dari Provinsialat Serikat Jesus.   Selayang Pandang Paroki St. Ignatius Loyola, Semplak – Bogor Paroki Semplak adalah bagian dari Keuskupan Sufragan Bogor yang memiliki keunikan tersendiri. Terletak di kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Atang Sendjaja, paroki ini tergolong paroki muda karena baru dikukuhkan pada 1 Agustus 2015 setelah sebelumnya menjadi bagian dari karya pelayanan Paroki Katedral Bogor. Komunitas umat Katolik Semplak mulai terorganisasi pada tahun 1964. Kemudian pada tahun 1977 umat Katolik dan Protestan mendapatkan fasilitas gereja oikumene dari pimpinan Pangkalan Udara. Gedung gereja tersebut kemudian difungsikan sebagai kapel Santo Petrus oleh umat Katolik dan menjadi gereja Sola Gratia bagi umat Protestan. Meskipun berdiri di tanah milik TNI AU, umat Katolik Semplak tak hanya berasal dari kalangan kategorial TNI AU tapi juga umat non militer yang tinggal di luar kompleks Pangkalan Udara.   Pertambahan jumlah umat di wilayah St. Petrus Semplak sangat menggembirakan, hingga pada tahun 2005 pengurus wilayah mengajukan pembangunan gereja Katolik kepada Komandan Pangkalan Udara dan disetujui oleh Kepala Staff Angkatan Udara Republik Indonesia. Tanggal 8 September 2006 adalah hari yang sangat bersejarah karena wilayah Semplak dinaikkan statusnya menjadi stasi. Pada hari itu pula, gereja baru diberkati oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM dan diresmikan oleh komandan pangkalan udara Atang Sendjaja, Marsekal Pertama Ignatius Basuki, yang nama baptisnya menjadi inspirasi bagi penamaan paroki Semplak.    Mengutip sambutan Pater Benny, nama Ignatius Loyola adalah nama yang amat tepat bagi paroki yang berlokasi di lingkungan militer ini. Santo Ignatius awalnya adalah seorang prajurit dengan ambisi yang luar biasa. Namun setelah cita-citanya pupus akibat terkena mortir pada pertempuran di Pamplona, ambisi besarnya diserahkan pada apa yang dikehendaki Allah. “Apapun yang aku lakukan adalah demi besarnya kemuliaan Tuhan.”   Pertumbuhan umat disertai juga dengan kebutuhan bangunan untuk memfasilitasi kegiatannya. Dirasa perlu juga untuk membangun pastoran yang dapat ditinggali oleh lebih dari satu orang pastor. Oleh karena itu, sejak tahun 2019 mulai dibentuk panitia pembangunan sarana pastoral, meski pelaksanaan pembangunannya baru bisa terlaksana pada Januari 2024 setelah terbit izin dari Pangkalan TNI AU. Penantian panjang umat paroki Semplak berakhir indah dengan pemberkatan dan peresmian gedung pastoral pada pesta pertobatan Santo Paulus, 25 Januari 2025.   Semoga kehadiran relikui Santo Ignatius Loyola dan peresmian gedung pastoral Santo Paulus semakin menambah semangat kerohanian dan memperkuat iman umat paroki Semplak.   Kontributor: Ignatia Marina

Tahbisan

Tahbisan Diakon 2025: Hendaklah Kamu Murah Hati

Sebelas frater dari berbagai keuskupan dan kongregasi menerima tahbisan diakon dari tangan Bapa Uskup Mgr. Rubiyatmoko pada Perayaan Ekaristi yang diselenggarakan di Kapel Seminari Tinggi St Paulus, Kentungan, 28 Januari 2025 pukul 10.00 WIB. Salah satu frater tertahbis berasal dari Serikat Jesus Provinsi Indonesia, yakni Fr. Jakobus Aditya Christie Manggala, S.J. Fr. Adit merupakan putera Paroki Babadan, Yogyakarta. Mgr Rubiyatmoko memimpin perayaan ini, didampingi oleh Romo Alexius Dwi Ariyanto, Pr selaku Rektor Seminari Tinggi St Paulus Kentungan dan Romo Barnabas Kara, OCD selaku Superior Rumah Teologan OCD St. Theresia Lisieux, Yogyakarta.   Tema tahbisan diakon kali ini adalah “Hendaklah kamu murah hati.” Murah hati seperti halnya Allah Bapa murah hati dan pribadi Yesus dalam karya pelayanan-Nya. Inspirasi tema ini berasal dari Lukas 6: 36. Dalam homilinya, Mgr. Ruby mengingatkan para calon diakon untuk menghidupi panggilannya dengan murah hati. Menurut Mgr. Ruby, ada tiga hal yang menjadi ciri pribadi yang murah hati, yaitu tulus, serius, dan total. Tulus: para diakon diharapkan mampu menjalankan pelayanannya dengan tulus, sepenuh hati, tanpa pamrih, serta mengutamakan kepentingan yang dilayani, bukan pertama-tama kepentingan diri sendiri. Serius: pelayanan hendaknya dilakukan dengan tekad dan niat untuk senantiasa serius, sungguh-sungguh, dipersiapkan dengan baik, dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Total: harapannya, dalam pelayanan para diakon semakin rela mengorbankan dirinya sendiri, seperti Yesus yang berani untuk menyerahkan dirinya bagi kita yang dicintai-Nya.   Selanjutnya, para diakon tertahbis ini mendapat perutusan untuk melanjutkan tugas yang saat ini sedang mereka emban. Diakon Adit melanjutkan studi S2 Teologi dan Licensiat di Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma.   Setelah Ekaristi, diakon Adit, keluarga, dan tamu undangan beramah tamah di Kolsani. Semoga para diakon tertahbis semakin bersukacita dalam tugas, perutusan, serta peran baru ini dan pada akhirnya mampu mewartakan sukacita itu bagi banyak orang.   Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator Jesuit Indonesia

Pelayanan Gereja

Tidak Ada Salahnya Mencoba

SHARING ANAK MUDA DIDIKAN ALA PAROKI JESUIT Perkenalkan, nama saya adalah Alberta Pangestika Silvera Putri. Biasanya saya dipanggil Alberta atau Silvera. Selain aktif sebagai Lektor di Paroki St. Yusup Gedangan, saya juga merupakan seorang siswi kelas XII salah satu SMK di Semarang. Tulisan ini adalah sharing saya sebagai salah seorang anak muda yang mengalami didikan ala paroki yang dikelola Jesuit. Salah satu didikan yang saya alami adalah dalam hal kesiapsediaan dan kemauan berproses saat diberi tanggung jawab. Didikan itu sangat terasa ketika saya terlibat menjadi bagian dari kepanitiaan Lomba Baca Kitab Suci yang diselenggarakan oleh Tim Lektor Gereja St. Yusup Gedangan. Tepatnya saat itu saya menjadi Ketua Panitia.   Jalannya Acara Lomba Baca Kitab Suci ini sendiri berlangsung pada 8 Desember 2024. Dibuka oleh MC, serta diawali doa bersama, sambutan pendamping dan Ketua Panitia, lomba dijalani para peserta dengan begitu semangat dan antusias. Mulai dari anak-anak, remaja, orang muda, sampai orang tua menunjukkan kemampuan terbaik dari segi teknik vokal, penghayatan, dan penyampaian isi perikop yang dibacakan. Mereka maju bergantian sesuai kategori dan tata tertib yang sudah diterangkan panitia di awal acara. Penampilan mereka dinilai oleh Ibu Tessa dan Pak Widodo, dua Lektor senior yang pernah aktif di Gedangan, dibantu Romo Dodo, SJ sebagai salah satu Pendamping Lektor.   Dengan mengikuti lomba ini, para peserta ditanamkan rasa percaya diri dan keberanian tampil di depan umum. Para peserta dan penonton juga diajak menumbuhkan semangat membaca, merenungkan, dan mencintai Firman Tuhan, memperdalam iman, serta memupuk rasa persaudaraan satu sama lain. Menjadi Bagian dari Kepanitiaan Menjadi ketua atau koordinator suatu kepanitiaan sebenarnya bukan pengalaman pertama bagi saya. Baik ketika terlibat di Pendampingan Iman Anak (PIA) maupun di sekolah, saya pernah menjadi koordinator kegiatan. Akan tetapi, bagi saya, semua itu tidaklah seberapa menantang dibandingkan dengan menjadi Ketua Panitia Lomba Baca Kitab Suci kali ini.   Yang menjadikan Kepanitiaan kegiatan ini menantang adalah hubungan kami dengan pihak eksternal, bukan hanya internal tim Lektor Gedangan. Oleh karena itu, bagi saya, keseluruhan acara perlu dipikirkan secara matang. Jika perencanaan dan pelaksanaannya kurang matang atau detail, bisa jadi ada yang mengkritik kegiatan ini. Dengan kemungkinan menerima kritik itu pula, sebagai ketua, saya juga harus menyiapkan hati dan mental. Jadi, tanggung jawab yang diemban memang besar. Selain itu juga, terkadang saya yang masih belajar ini kewalahan dalam membagi waktu dengan beberapa tugas lain di luar Lektor.   Oleh karena itu, saya sadar bahwa mulai dari mempersiapkan hingga memastikan acara dapat berjalan dengan baik, semuanya membutuhkan kerja keras dan koordinasi dalam sebuah  Kepanitiaan. Sesekali, dalam proses persiapan itu memunculkan perbedaan pendapat dalam beberapa hal di antara kami, tapi semua itu bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Setiap orang menjalankan perannya masing-masing dan mendukung satu sama lain.   Perasaan saya pribadi campur aduk saat terlibat dalam kepanitiaan ini. Ada perasaan bangga karena diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari kegiatan besar ini. Selain itu, kebanggaan pun muncul saat melihat para peserta tampil dengan optimal atau ketika penonton dan juri memberikan apresiasi atas kelancaran acara. Perasaan hangat dan haru juga muncul saat melihat kerelaan, semangat, dan kerja sama yang hebat antara sesama panitia. Rasa lelah seakan hilang saat melihat antusiasme dari semua pihak yang terlibat. Proses jatuh bangun yang dialami bersama juga membuat hubungan kami sebagai tim kepanitiaan semakin erat.   Dari teman-teman di dalam Kepanitiaan, saya belajar, terutama tentang pentingnya saling pengertian dan kerja sama. Momen lucu, jengkel, tegang, gugup, dan cemas dialami bersama sebagai satu-kesatuan Tim Kepanitiaan. Demikian pula, kebahagiaan dan rasa syukur menjadi milik kami bersama ketika acara berhasil berjalan dengan lancar.   Saya juga menjadi paham rasanya memikul tanggung jawab, yang menurut saya agak berat. Dari situ saya belajar untuk lebih percaya diri. Saya juga mengembangkan keutamaan dalam diri, yaitu berani mencoba hal-hal positif baru yang ditawarkan dalam hidup. Saya dididik untuk menyadari bahwa kegagalan mungkin bisa terjadi saat mencoba, tetapi kesempatan belum tentu datang untuk kedua kalinya. Walaupun agak takut untuk memulai dan mengakhiri semuanya, tetapi saya percaya, semua akan baik-baik saja saat selalu berserah kepada Tuhan. Bagi saya, pengalaman itu pembelajaran hidup yang sangat berharga dan  bisa membuat pemikiran saya menjadi lebih dewasa.   Saya juga bersyukur karena para Jesuit turut mendampingi saya sebagai anak muda. Bukan hanya soal bagaimana membawa diri di depan umat, saya juga belajar mengenai makna yang mendalam dari setiap tugas yang saya jalani. Para Jesuit selalu memberi nasihat yang sangat menyentuh dan membuat saya jadi paham apa arti melayani dengan hati. Nilai-nilai khas Jesuit yang diajarkan tidak hanya membantu saya berkembang sebagai bagian dari Lektor, tetapi juga mengubah cara pandang saya dalam banyak hal. Ada beberapa momen kecil saat pendampingan yang membuat saya berpikir, “Oh, iya ya, benar juga”. Selain itu, mereka juga selalu ada dan benar-benar mau mendengarkan ketika saya mencurahkan isi hati. Hal itu membuat saya sangat merasa didukung dan dipahami.   Penutup Bagi saya, berproses sebagai anak muda merupakan perjalanan hidup yang sangat bermakna. Saya bersyukur bisa belajar melalui berbagai sarana, mulai dari menjadi lektor sampai koordinator Lomba Baca Kitab Suci. Saya berharap pengalaman ini akan terus memberikan inspirasi dan motivasi dalam kehidupan saya ke depan. Saya juga terdorong untuk semakin mencintai dan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui Sabda-Nya yang hidup.   Selain itu, saya juga dapat belajar bahwa tidak ada salahnya mencoba apa yang sudah dimulai. Walaupun masih muda dan belum mempunyai banyak pengalaman, saya dididik untuk berusaha semaksimal mungkin yang saya bisa. Setidaknya, saya sudah berani bertanggung jawab dengan baik sampai akhir.   Kontributor: Alberta Pangestika Silvera Putri – Lektor Paroki St. Yusup Gedangan

Feature

Healing yang Cerdas dan Humanis

Dunia perkuliahan memang banyak lika-liku yang harus dilewati. Kesulitan dalam memahami suatu materi, kepadatan jadwal mengurus tugas-tugas, usaha lebih untuk aktif di organisasi dan kepanitiaan mewarnai dinamika anak kuliah zaman sekarang. Seringkali situasi ini dijadikan sekat untuk membatasi “ini urusanku” dan “itu urusanmu.” Di akhir pekan pun mungkin ada yang berpikiran untuk healing setelah sepekan sibuk dalam kuliah dan segala dinamikanya. Namun, apakah semua kondisinya begitu dan berjalan monoton tanpa ada hal bisa dimaknai? Tidak, di Komunitas Belajar Realino di Jombor, kami menemukan pengalaman healing berbeda yang membuat hari kami berarti sekaligus memberikan makna bagi sesama.   Kami melihat dan merasa terinspirasi bahwa masih ada orang-orang berdedikasi untuk anak-anak jalanan, kurang mampu, dan dalam kondisi yang terbatas di tengah hiruk-pikuk kesibukan yang harus dilaksanakan. Itulah yang kami lihat dari Realino SPM yang berisikan para relawan berdedikasi tinggi. Mereka setiap minggu hadir memberikan segala perhatian bagi teman-teman kecil di Jombor. Masing-masing relawan ini pasti memiliki kesibukan dan agenda. Meski demikian mereka tetap menyediakan ruang, tenaga, dan waktu membagikan kasih dengan cara yang menyenangkan.   Syukurlah kami, mahasiswa-mahasiswi Farmasi Universitas Sanata Dharma boleh ambil bagian di dalamnya pada Sabtu, 14 September 2024. Hari itu kami datang dengan segala kecemasan dalam pikiran dan hati kami mengenai materi dan dinamika yang akan disampaikan. Apakah akan bisa menarik dan ditangkap adik-adik di Jombor? Walaupun ada kekhawatiran tetapi muncul optimisme akan keberhasilan acara yang kami siapkan. Ternyata ketika dinamika berjalan, kami menemui bahwa adik-adik di sana adalah anak-anak yang asyik, cerdas, dan aktif menyambut permainan juga materi yang kami bawakan. Namun, bukan berarti semua berjalan lancar begitu saja. Tentu ada beberapa adik di sana dengan kondisi dan kecenderungan dirinya memilih asik sendiri. Beberapa lainnya sedikit enggan dalam momen-momen tertentu mengikuti apa yang telah kami rancang dan tuntun. Meskipun demikian, itu tidaklah menjadi soal besar karena kami tahu bahwa itulah fase anak-anak mengeksplorasi dan mengekspresikan diri sehingga tak bisa untuk dibatasi begitu saja. Dari pengalaman di Jombor bersama mereka, secara keseluruhan, kami rasa apa yang sampaikan dapat ditangkap. Semoga materi kami bisa diaplikasikan dalam keseharian dan diceritakan kepada keluarga di rumah.   Healing bagi kami di hari itu adalah mencari pengalaman baru memberikan hati kepada adik-adik di Komunitas Belajar Realino – Jombor. Kampanye Kesehatan merupakan salah satu bentuk cerdas dan humanis, pengetahuan kami tidak berhenti hanya pada kami saja, melainkan disebarkan untuk semakin memanusiakan manusia. Mendidik bukan hanya tugas seorang guru saja tetapi kami sadari juga bagian tugas kami sebagai mahasiswa farmasi yang mempelajari tentang obat-obatan termasuk obat tradisional. Hal yang sebelumnya mungkin bagi adik-adik itu terasa jauh dan tidak pernah ditemui, kami coba letakkan di dekat mata supaya akrab dan jadi bagian hidup mereka.    Lewat pengalaman di Jombor, kami menemukan rancangan Tuhan yang menarik. Refleksi kami, Tuhan ingin menunjukkan bahwa cara menambahkan nilai pada diri sendiri itu tak melulu dari mencari prestasi akademis, memperkaya diri, atau mengejar IPK sempurna. Memperkaya orang lain dengan pengalaman juga menjadi sarana menambahkan nilai pada diri sendiri dengan jalan cinta kasih. Refleksi lainnya, dalam dunia farmasi, semua eksperimen itu memiliki hasil dan parameternya. Dalam pengabdian ini, ada parameternya pula, peningkatan pengetahuan adik-adik lewat hasil post test, diskusi, dan tanya jawab yang berjalan seru. Kemudian, tak kalah pentingnya juga senyum tersungging penuh kepolosan dari anak-anak yang belajar hal baru. Semoga pengalaman dan dinamika ini membawa perkembangan bagi kita semua. Akhir kata, terima kasih kepada Realino Seksi Pengabdian Masyarakat (SPM) yang memberikan kesempatan kepada kami untuk bergabung dalam pengabdian di Komunitas Belajar Realino – Jombor.   Kontributor: Alfonsus Stanley – Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma