Pilgrims of Christ’s Mission

cafe puna

Penjelajahan dengan Orang Muda

Café Puna: “Discerning the Will of God”

Pada hari Kamis, 22 Mei 2025, komunitas SJ Pulo Nangka menyelenggarakan kegiatan Café Puna (Café Pulo Nangka), sebuah forum santai dan inspiratif untuk berbagi pengalaman dalam menghidupi spiritualitas Ignatian bersama para Frater Serikat Jesus Unit Pulo Nangka. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 19.30 hingga 21.00 WIB dan dilaksanakan secara hybrid, yakni on-site di Komunitas Pulo Nangka serta secara daring melalui platform Zoom.   Kegiatan bertajuk “Discerning the Will of God” ini dihadiri oleh 65 peserta secara langsung dan 50 peserta secara daring, yang terdiri dari umat lingkungan, OMK, mahasiswa, kelompok MAGIS, serta para religius lain yang memiliki ketertarikan pada dinamika hidup rohani dan proses discernment (membedakan kehendak Allah) dalam spiritualitas Ignatius Loyola.   Sesi utama dipandu oleh Frater Herdian, S.J. dan Frater Pond, S.J. yang membawakan pembahasan mengenai tiga waktu diskresi dalam spiritualitas Ignatian. Fokus utama malam itu adalah pada waktu ketiga—yakni momen diskresi di mana seseorang tidak berada dalam kondisi pengalaman batin yang kuat (waktu pertama) maupun gerak rasa yang mencolok (waktu kedua), tetapi mengambil keputusan melalui pertimbangan akal budi yang jernih dan tenang.     Disampaikan pula bahwa pertimbangan akal budi dalam waktu ketiga tidak bersifat kering atau semata-mata rasional. Diskresi ini tetap mengandaikan kebebasan batin, yakni keterbukaan dan keterlepasan dari ketertarikan pribadi yang mengaburkan pandangan. Kebebasan ini memungkinkan seseorang untuk memilih bukan hanya apa yang baik, melainkan apa yang lebih memuliakan Tuhan dan membahagiakan dirinya secara mendalam dan sejati.   Sesi diakhiri dengan tanya jawab interaktif dan sharing pengalaman singkat dari beberapa peserta yang menyoroti tantangan konkret dalam menjalani proses discernment, terutama dalam konteks pilihan hidup dan pekerjaan. Pada sesi ini, pertanyaan-pertanyaan dari para peserta dijawab oleh para Pater SJ yang hadir baik secara langsung maupun online. Mereka adalah Pater Sardi, Pater Effendi, Pater Siwi, dan Pater Widi. Selain bahwa kita harus cermat dalam melakukan diskresi, para penanggap menegaskan pentingnya membangun kebiasaan refleksi harian dan pendampingan rohani sebagai sarana konkret untuk menumbuhkan kepekaan rohani dalam membuat keputusan-keputusan penting.   Akhirnya, kegiatan ini menjadi ruang formasi rohani yang hangat, terbuka, dan mencerahkan, yang diharapkan terus berlanjut secara berkala sebagai wadah bagi kaum muda dan siapa saja yang ingin mendalami spiritualitas Ignatian dalam kehidupan sehari-hari.   Kontributor: Sch. Alexius Aji Pradana, SJ – Humas Café Puna

Penjelajahan dengan Orang Muda

Kemiskinan: Harta Dalam Hidup Bersahaja

Kaul kemiskinan? Menjadi orang miskin? Atau gimana? Apa sih maksudnya, ter?” Itulah pertanyaan-pertanyaan yang menyeruak ketika poster Café PuNa edisi Mei 2024 yang mengambil tema kaul kemiskinan mulai dibagikan di berbagai platform media sosial.   Kamis, 30 Mei 2024 malam, dengan wajah sumringah dan penuh kehangatan, para Pater dan Skolastik Jesuit di Komunitas Pulo Nangka menyambut umat yang hadir ke Komunitas Pulo Nangka untuk mengikuti acara Café PuNa. Acara ini diadakan rutin setiap semester sekali. Café PuNa edisi bulan Mei 2024 ini mengangkat tema Kaul Kemiskinan: Harta Dalam Hidup Bersahaja. Tema ini dipilih untuk melengkapi dua edisi Cafe PuNa sebelumnya yang telah membahas kaul ketaatan (Mei 2023) dan kaul kemurnian (November 2023).   Membahas kaul kemiskinan selalu menarik dan relevan bagi siapa saja. Hal ini terbukti dari kehadiran dan antusiasme umat yang berpartisipasi baik secara luring maupun daring via Zoom. Mulai dari yang muda hingga yang tua hadir memeriahkan dan larut dalam presentasi yang dibawakan oleh Frater Alexius Aji dan Frater Matthias Zo Hlun. Frater Kevin yang menjadi MC pun mampu membawakan acara dengan baik, menarik, dan menghibur.   Kemiskinan: Harta dalam Hidup Bersahaja Presentasi dari Fr. Alex dan Fr. Matthias dibuka dengan sebuah pembahasan mengenai kemiskinan pada umumnya untuk memberi konteks besar. Fr. Matthias menjelaskan bahwa kemiskinan pada umumnya dipahami sebagai “kondisi tidak berharta, serba kekurangan, atau berpenghasilan sangat rendah”. Lalu, pertanyaan yang muncul adalah “Jika kemiskinan digambarkan sebagai kondisi serba berkekurangan, apakah ada orang yang mau ‘mengambil pilihan’ untuk hidup miskin, khususnya dengan kapitalisme dan konsumerisme di zaman ini?” Kemiskinan yang dipahami demikianlah yang kadang kala menjadi padanan atau perbandingan bagi kaul kemiskinan yang secara sukarela diikrarkan oleh para religius. Maka sudah tentu dan pasti akan muncul beragam pertanyaan terkait kaul kemiskinan.   Kalau begitu, kaul kemiskinan itu yang seperti apa sih? Apakah sama seperti kemiskinan yang digambarkan dan dipahami sebagai keadaan serba berkekurangan? Fr. Alex mencoba membahas hal ini dengan menarik dalam bagian selanjutnya. Frater Alex mengawalinya dengan sebuah cerita tentang Sannyasi yang berhasil menggelisahkan hati dan pikiran karena dengan rela dan begitu saja memberikan batu permatanya kepada seseorang.   Fr. Alex melanjutkan presentasinya dengan memberikan penjelasan mengenai kaul kemiskinan yang diikrarkan oleh para religius sebagai usaha Imitatio Christi atau meniru Kristus. Kaul kemiskinan merupakan kaul yang diinspirasikan oleh Yesus Sang Allah Putera yang menjelma ke dunia dan mengosongkan diri menjadi manusia miskin. Kedekatan Yesus dengan orang miskin pada zaman-Nya banyak digambarkan di dalam Injil. Inilah yang menjadi sumber inspirasi dari kaul kemiskinan para religius.     Kemiskinan a la Jesuit Dengan mendasarkan pada Konstitusi Serikat Jesus, Fr. Alex mengupas lebih dalam mengenai kemiskinan yang khas Jesuit atau yang dihayati oleh para Jesuit. St. Ignatius menulis di dalam Konstitusi SJ bahwa kemiskinan merupakan benteng hidup religius yang harus dicintai dan dipelihara [Kons. 553]. St. Ignatius meminta para Jesuit untuk melepaskan keterikatan pada barang-barang duniawi dan menyerahkan hidup sepenuhnya pada penyelenggaraan Ilahi melalui komunitasnya.   Kekhasan lain dari kemiskinan a la Jesuit, yang juga dihayati oleh kaum religius lain, adalah kaul kemiskinan sebagai ungkapan rasa syukur yang ditandai dengan kemurahan hati untuk mewujudkan kebebasan batin dan lahiriah saat menjalankan karya kerasulan. “Seorang Jesuit bekerja bukan untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan demi cintanya pada Kristus dan sesama,” demikian Fr. Alex memberikan penjelasannya.   Tentu kaul kemiskinan memiliki tegangannya sendiri, yaitu penggunaan sarana duniawi sejauh mendukung pelayanan dalam kerasulan yang dijalankan oleh seorang Jesuit. Tidak ada halangan bagi seorang Jesuit untuk menggunakan sarana duniawi apapun apabila sarana tersebut mendukung pelayanannya dalam mengembangkan institusi dan komunitas dan bukan untuk memperkaya diri sendiri.   Dengan demikian, kaul kemiskinan menjadi harta dalam hidup bersahaja bagi seorang Jesuit karena kemiskinan bukan hanya berarti menjadi miskin seperti yang dipahami oleh kebanyakan orang. Kaul kemiskinan juga dihayati sebagai sebuah cara hidup yang diinspirasi oleh Yesus dengan tujuan apostolis. Dengan sarana yang dimiliki, kaul kemiskinan menuntut ketekunan dan kerja keras setiap Jesuit dalam mengusahakan perkembangan karya kerasulan dan komunitas. Fr. Alex menambahkan bahwa ada hal yang tidak bisa dilepaskan dari kaul kemiskinan, yaitu akuntabilitas dan option for the poor. Lebih lanjut Fr. Alex membagikan beberapa usaha untuk menghidupi kedua hal tersebut, yaitu pembuatan laporan keuangan bulanan yang dibuat oleh para skolastik Jesuit dan program Nasi Berkah yang saat ini dijalankan semua unit skolastik SJ di Jakarta.   Panggilan untuk Dekat dengan Orang Miskin Fr. Matthias membagikan pengalamannya hidup bersama para penderita kusta di Myanmar saat dia masih seorang novis. Pengalaman tersebut membawanya pada refleksi akan Yesus yang menginspirasinya untuk dekat, membantu mereka yang membutuhkan, dan mau bersama mereka yang miskin. Pengalaman kedekatan dengan orang miskin ini memberinya rasa bahagia karena ada cara pandang baru mengenai kaul kemiskinan sebagai rasa syukur dan undangan untuk menerima orang lain seperti yang dilakukan Yesus sendiri.   Fr. Alex juga memperkaya refleksi mengenai kaul kemiskinan dengan membagikan pengalaman menghidupi kemiskinan secara konkret sebagai skolastik di Jakarta. Misalnya, dengan membuat laporan keuangan bulanan, menumbuhkan sense of belonging, keterbukaan pada pembesar dan komunitas, dan undangan untuk terus memiliki pengalaman kedekatan dengan orang miskin lewat kerasulan ad extra yang dijalaninya di Lembaga Daya Dharma-Keuskupan Agung Jakarta.     Penutup Café PuNa kali ini juga terasa istimewa karena bukan hanya kedua Pater Unit komunitas Pulo Nangka yang hadir. Ada juga Pater Hendricus Satya Wening, S.J., Pater Windar Santoso, S.J., serta Pater Antonius Siwi Dharma Jati, S.J. yang hadir secara daring dari Perancis dan Pater L. A. Sardi, SJ yang juga hadir secara daring dari Roma. Kehadiran mereka sangat meneguhkan para umat yang hadir, khususnya ketika para Pater ini membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para umat yang hadir.   Ketika berbicara mengenai kaul kemiskinan, kita tidak bisa melepaskan diri begitu saja dari kemurahan hati. Karena itulah, Café PuNa edisi Mei 2024 ditutup dengan acara menikmati santapan berkat kemurahan hati yang dibawa oleh para umat yang hadir. Semua hidangan dinikmati secara bersama-sama dan penuh kehangatan serta obrolan seru. SAMPAI JUMPA LAGI DI CAFÉ PUNA EDISI BERIKUTNYA!!!!!!!   Kontributor: S Yohanes Deo Yudistiro Utomo, S.J.

bedah buku cafe puna
Pelayanan Spiritualitas

BELAJAR DISKRESI IGNASIAN BERSAMA CAFÉ PUNA

Minggu, 1 September 2019, Unit Skolastikat Pulo Nangka, Kolese Hermanum, Jakarta, bersama dengan umat Wilayah VIII Gereja St. Bonaventura, Paroki Pulomas, Jakarta, menggelar acara Bedah Buku Trilogi Diskresi Ignasian. Acara yang diselenggarakan di Aula Paroki Pulomas ini merupakan kelanjutan dari launching buku Trilogi Diskresi Ignasian yang sebelumnya pernah diadakan dalam sarasehan rutin unit Pulo Nangka, yakni Café Puna. Acara ini diawali oleh sambutan dari tiga romo, yakni Rm. Ignatius Prasetyo H. Wicaksono, Pr., selaku perwakilan dari Paroki Pulo Mas; Rm. Antonius Sudiarja, SJ, selaku perwakilan dari Kolese Hermanum; dan Rm. Frans Sutanto, Pr., selaku Direktur Penerbit OBOR. Dalam sambutannya, ketiga romo mengungkapkan rasa syukur bagaimana buku ini mampu menjadi sarana untuk mendalami spiritualitas bagi banyak orang. Secara khusus, Romo Tanto menceritakan perjalanan buku Trilogi Diskresi Ignasian ini dari awal proses pencetakan hingga sekarang menjadi salah satu buku bestseller dan diminati hingga luar Pulau Jawa. “Ini menunjukkan bagaimana umat kita sebenarnya haus akan kemendalaman rohani,” ungkap Rm. Tanto. Beliau juga menambahkan bahwa buku Trilogi Diskresi Ignasian akan naik ke cetakan kedua, mengingat banyaknya permintaan dari berbagai daerah. Bedah buku yang dimoderatori oleh Fr. Ishak Jacues Cavin, SJ ini mengundang dua pembicara yang mumpuni dalam bidang spiritualitas, yakni Rm. Leo Agung Sardi, SJ dan Rm. T. Kripurwana Cahyadi, SJ. Dalam sesi pertama, Rm. Krispurwana, SJ menekankan betapa pentingnya budaya berdiskresi dewasa ini. Diskresi diperlukan agar orang tidak terjebak dalam jawaban yang maunya serba pasti, tertutup dan lekat pada hal-hal yang tidak teratur. “Oleh karena itu, kita perlu berdiskresi agar mampu terus-menerus menegaskan kehendak Allah sehingga cara bertindak kita tidak ditentukan oleh rasa lekat.” Terkait hal tersebut, Rm. Krispurwana menganjurkan agar kita memiliki sikap waspada pada segala yang tampak baik dan saleh karena “musuh” dapat berwajah bak malaikat. Oleh karena itu, beliau menekankan pentingnya pengenalan diri dalam proses berdiskresi. “Semakin kita mengenali diri, apalagi semakin tahu bagaimana Tuhan mengenali diri-diri, semakin kita terbantu mengenali pola dan cara godaan.” Dalam sesi selanjutnya, Rm. Sardi menunjukkan betapa pentingnya hidup yang senantiasa didiskresikan. Diskresi yang terus dikembangkan dalam hidup mampu membawa seseorang tumbuh dalam kedalaman dan kesetiaan kepada Tuhan dan kehendak-Nya. Dalam usaha menghidupi diskresi tersebut, Ignatius menawarkan dua Pedoman Pembedaan Roh dalam Latihan Rohani. Menurut Rm. Sardi, Pedoman Pertama cocok digunakan untuk membantu orang yang sedang merenungkan dosa-dosa dan belas kasih Allah di Minggu Pertama Latihan Rohani. Sementara itu, Pedoman Kedua lebih mengajak kita untuk lebih cermat mengenali dan membedakan antara penghiburan rohani dan godaan rohani. “Pembedaan Roh Kedua menghadapkan kita pada roh buruk yang berlaku seperti roh baik dengan memberi konsolasi sehingga kita perlu menyikapinya dengan perhatian yang besar dan dengan lebih hati-hati dan teliti. Hanya di dalam Minggu Kedua dan selanjutnya musuh jahat akan mencobai kita dengan menampilkan diri sebagai yang baik melalui konsolasi rohani.” Acara bedah buku ini dihadiri 277 peserta yang berasal dari berbagai macam paroki dan kelompok spiritualitas seperti MAGIS Jakarta, School by Sprit (SBS) Jakarta, dan KOMJAK Jakarta. Para peserta sangat antusias dan mengapresiasi kehadiran trilogi buku ini. Mereka merasa buku ini mampu membantu mereka untuk semakin mendalami diskresi dan mempraktikkannya dalam hidup sehari-hari. Café Puna dan Trilogi Diskresi Ignasian Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, acara Bedah Buku Trilogi Diskresi Ignasian merupakan kelanjutan dari acara Café Puna. Café Puna sendiri merupakan acara semesteran Unit Skolastikat Pulo Nangka, Jakarta. Selama 11 tahun terakhir ini, acara tersebut sudah berlangsung. Kegiatan ini menjadi usaha nyata penuh kesetiaan dari para frater dan romo di Unit Pulo Nangka untuk memperkenalkan dan membagikan spiritualitas Ignasian kepada umat di lingkungan sekitar. Melalui dukungan umat sekitar pula, Café Puna akhirnya mampu menerbitkan buku Trilogi Diskresi Ignasian. Buku ini merupakan kumpulan makalah-makalah yang sejak 23 Mei 2008 didiskusikan bersama dalam Café Puna. Adapun Trilogi ini terdiri dari; 1) Buku Roh Tuhan Ada Padaku (2019) yang disadur dari buku The Discernment of Spirits : An Ignatian Guide for Everyday Living (2005); 2) Buku Awas! Si Jahat Berwajah Malaikat (2019) yang disadur dari buku Spiritual Consolation An Ignatian Guide for the Greater Discernment of Spirits (2007); dan 3) Buku Berdoa Examen Ignasian (2019) yang disadur dari buku The Examen Prayer (2006). Ketiga buku yang disadur ditulis oleh Rm. Timothy M. Gallagher, O.M.V. Melalui buku Trilogi Diskresi Ignasian, para skolastik Pulo Nangka berharap agar banyak orang semakin mengenal, mendalami, serta menularkan spiritualitas Ignasian dan Latihan Rohani dalam hidup mereka. Roberthus Kalis Jati Irawan, SJ

Formasi Iman

Café Puna Launching Tiga Buku

Kamis, 9 Mei 2019, kami para Pater, Frater, dan Bruder Unit Pulo Nangka baru saja menyelenggarakan event semesteran Café Puna yang sangat spesial. Café Puna kali ini didedikasikan untuk launching 3 buku (trilogi) hasil dari bunga rampai makalah-makalah Café Puna tentang Pembedaan Roh dan Doa Examen karya para skolastik Unit Pulo Nangka (Kolese Hermanum) sejak tahun 2011 s.d. 2018. Trilogi ini diterbitkan oleh OBOR.