BELAJAR DISKRESI IGNASIAN BERSAMA CAFÉ PUNA

bedah buku cafe puna

Minggu, 1 September 2019, Unit Skolastikat Pulo Nangka, Kolese Hermanum, Jakarta, bersama dengan umat Wilayah VIII Gereja St. Bonaventura, Paroki Pulomas, Jakarta, menggelar acara Bedah Buku Trilogi Diskresi Ignasian. Acara yang diselenggarakan di Aula Paroki Pulomas ini merupakan kelanjutan dari launching buku Trilogi Diskresi Ignasian yang sebelumnya pernah diadakan dalam sarasehan rutin unit Pulo Nangka, yakni Café Puna.


Acara ini diawali oleh sambutan dari tiga romo, yakni Rm. Ignatius Prasetyo H. Wicaksono, Pr., selaku perwakilan dari Paroki Pulo Mas; Rm. Antonius Sudiarja, SJ, selaku perwakilan dari Kolese Hermanum; dan Rm. Frans Sutanto, Pr., selaku Direktur Penerbit OBOR. Dalam sambutannya, ketiga romo mengungkapkan rasa syukur bagaimana buku ini mampu menjadi sarana untuk mendalami spiritualitas bagi banyak orang. Secara khusus, Romo Tanto menceritakan perjalanan buku Trilogi Diskresi Ignasian ini dari awal proses pencetakan hingga sekarang menjadi salah satu buku bestseller dan diminati hingga luar Pulau Jawa. “Ini menunjukkan bagaimana umat kita sebenarnya haus akan kemendalaman rohani,” ungkap Rm. Tanto. Beliau juga menambahkan bahwa buku Trilogi Diskresi Ignasian akan naik ke cetakan kedua, mengingat banyaknya permintaan dari berbagai daerah.

suasana bedah buku diskresi Ignatian di aula Paroki Pulomas


Bedah buku yang dimoderatori oleh Fr. Ishak Jacues Cavin, SJ ini mengundang dua pembicara yang mumpuni dalam bidang spiritualitas, yakni Rm. Leo Agung Sardi, SJ dan Rm. T. Kripurwana Cahyadi, SJ. Dalam sesi pertama, Rm. Krispurwana, SJ menekankan betapa pentingnya budaya berdiskresi dewasa ini. Diskresi diperlukan agar orang tidak terjebak dalam jawaban yang maunya serba pasti, tertutup dan lekat pada hal-hal yang tidak teratur. “Oleh karena itu, kita perlu berdiskresi agar mampu terus-menerus menegaskan kehendak Allah sehingga cara bertindak kita tidak ditentukan oleh rasa lekat.”
Terkait hal tersebut, Rm. Krispurwana menganjurkan agar kita memiliki sikap waspada pada segala yang tampak baik dan saleh karena “musuh” dapat berwajah bak malaikat. Oleh karena itu, beliau menekankan pentingnya pengenalan diri dalam proses berdiskresi. “Semakin kita mengenali diri, apalagi semakin tahu bagaimana Tuhan mengenali diri-diri, semakin kita terbantu mengenali pola dan cara godaan.”


Dalam sesi selanjutnya, Rm. Sardi menunjukkan betapa pentingnya hidup yang senantiasa didiskresikan. Diskresi yang terus dikembangkan dalam hidup mampu membawa seseorang tumbuh dalam kedalaman dan kesetiaan kepada Tuhan dan kehendak-Nya. Dalam usaha menghidupi diskresi tersebut, Ignatius menawarkan dua Pedoman Pembedaan Roh dalam Latihan Rohani. Menurut Rm. Sardi, Pedoman Pertama cocok digunakan untuk membantu orang yang sedang merenungkan dosa-dosa dan belas kasih Allah di Minggu Pertama Latihan Rohani. Sementara itu, Pedoman Kedua lebih mengajak kita untuk lebih cermat mengenali dan membedakan antara penghiburan rohani dan godaan rohani.

antusiasme pendaftar bedah buku diskresi Ignatian


“Pembedaan Roh Kedua menghadapkan kita pada roh buruk yang berlaku seperti roh baik dengan memberi konsolasi sehingga kita perlu menyikapinya dengan perhatian yang besar dan dengan lebih hati-hati dan teliti. Hanya di dalam Minggu Kedua dan selanjutnya musuh jahat akan mencobai kita dengan menampilkan diri sebagai yang baik melalui konsolasi rohani.”
Acara bedah buku ini dihadiri 277 peserta yang berasal dari berbagai macam paroki dan kelompok spiritualitas seperti MAGIS Jakarta, School by Sprit (SBS) Jakarta, dan KOMJAK Jakarta. Para peserta sangat antusias dan mengapresiasi kehadiran trilogi buku ini. Mereka merasa buku ini mampu membantu mereka untuk semakin mendalami diskresi dan mempraktikkannya dalam hidup sehari-hari.

Café Puna dan Trilogi Diskresi Ignasian
Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, acara Bedah Buku Trilogi Diskresi Ignasian merupakan kelanjutan dari acara Café Puna. Café Puna sendiri merupakan acara semesteran Unit Skolastikat Pulo Nangka, Jakarta. Selama 11 tahun terakhir ini, acara tersebut sudah berlangsung. Kegiatan ini menjadi usaha nyata penuh kesetiaan dari para frater dan romo di Unit Pulo Nangka untuk memperkenalkan dan membagikan spiritualitas Ignasian kepada umat di lingkungan sekitar. Melalui dukungan umat sekitar pula, Café Puna akhirnya mampu menerbitkan buku Trilogi Diskresi Ignasian. Buku ini merupakan kumpulan makalah-makalah yang sejak 23 Mei 2008 didiskusikan bersama dalam Café Puna.


Adapun Trilogi ini terdiri dari; 1) Buku Roh Tuhan Ada Padaku (2019) yang disadur dari buku The Discernment of Spirits : An Ignatian Guide for Everyday Living (2005); 2) Buku Awas! Si Jahat Berwajah Malaikat (2019) yang disadur dari buku Spiritual Consolation An Ignatian Guide for the Greater Discernment of Spirits (2007); dan 3) Buku Berdoa Examen Ignasian (2019) yang disadur dari buku The Examen Prayer (2006). Ketiga buku yang disadur ditulis oleh Rm. Timothy M. Gallagher, O.M.V. Melalui buku Trilogi Diskresi Ignasian, para skolastik Pulo Nangka berharap agar banyak orang semakin mengenal, mendalami, serta menularkan spiritualitas Ignasian dan Latihan Rohani dalam hidup mereka.

Roberthus Kalis Jati Irawan, SJ

Found something interesting? share to friends....

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *