Pilgrims on Christ’s Mission

Kuria Roma

Pertobatan, Penebusan, Pengampunan, dan Pilihan

Sebagai tema yang tampaknya sederhana, keempat kata tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan masa pontifikal Paus Fransiskus selama 10 tahun ini. Meskipun dunia telah banyak berubah dalam beberapa dekade terakhir, karena perang, pergolakan global, bencana alam, dan pandemi, Paus Fransiskus secara konsisten meminta semua orang yang berkehendak baik untuk membuka diri terhadap pertobatan, mencari penebusan dosa dan mengampuni mereka yang telah berbuat dosa, dan menentukan pilihan untuk membangun masa depan yang penuh harapan dan peluang, alih-alih sinisme dan ketakutan. 10 Tahun Paus Fransiskus: Refleksi dari Para Jesuit Paus Gregorius XII juga melakukan hal yang sama pada tahun 1415, yaitu mengadakan konklaf untuk memilih penggantinya. Tahun 2013 lalu, pada voting kelima, 115 kardinal yang hadir memilih Jorge Mario Bergoglio, S.J., Uskup Agung Buenos Aires, untuk menjadi Uskup Roma menggantikan Paus Benediktus. Pada 13 Maret 2013, Paus Fransiskus diperkenalkan kepada dunia. Itulah kali pertama seorang Jesuit menjadi Paus, kali pertama Paus berasal dari benua Amerika, dan kali pertama seorang Paus menggunakan nama “Fransiskus.” Itu menjadi awal yang sungguh menggugah perasaan atas sejarah kepausan paling penting di zaman modern. Tahun ini, 2023, adalah tahun kesepuluh masa kepemimpinan Paus Fransiskus dan kami meminta para Jesuit dari seluruh dunia untuk memberikan refleksi pribadi tentang arti satu dekade Paus Fransiskus bagi diri, pelayanan, dan hidup mereka dalam Gereja. Kami akan membagikan refleksi mereka dan berharap semua itu menginspirasi doa-doa kita dan memungkinkan kita memetakan gerakan Roh Kudus dalam hidup selama masa yang luar biasa ini. 10 Tahun Paus Fransiskus: Ia adalah Paus saya juga Pater Patrick Mulemi, dari Lusaka, Zambia, adalah Jesuit pertama yang memberikan refleksi tentang Kepausan Fransiskus dalam seri “10 Tahun Paus Fransiskus” ini. Rabu, 13 Maret 2013. Saya adalah seorang pastor Paroki Matero, sebuah daerah miskin yang luas di Lusaka, ibukota Zambia. Matero terletak lebih dari 10.000 kilometer jauhnya dari Roma, dan hari itu para kardinal sedang mengadakan konklaf. Saya baru saja merayakan misa sore dan mengobrol dengan umat saat mereka keluar dari gereja. Tiba-tiba seseorang berteriak, “Kita punya paus baru!” Saya bergegas ke pastoran, menyalakan TV, dan … “Dia seorang Jesuit!” Seorang Jesuit??? Apa artinya bagi Gereja dan Serikat Jesus? Saya benar-benar tak menduganya. Dia memilih nama Fransiskus, demikian diumumkan. Pikiran pertama saya yang muncul adalah “Orang miskin dari Asisi.” Dan saya benar. Mungkin itu karena saya tinggal dan bekerja di lingkungan yang miskin. Pada misa pagi keesokan harinya, setelah menyebutkan “Fransiskus Paus kita” untuk pertama kalinya dalam doa Ekaristi, seorang wanita tua mendekati saya setelah misa selesai dan sambil tersenyum berkata kepada, “Dia Paus saya juga.” Pada saat itu saya tahu bahwa Roh Kudus telah berbicara. Saya kemudian bertemu dengan Paus Fransiskus dalam beberapa kesempatan ketika bekerja di Roma. ia adalah seorang Jesuit, dengan nama Fransiskan, dan kebiasaan Dominikan. Seorang Paus untuk semua orang. Karunia Tuhan bagi Gereja. Dia adalah Paus yang dibutuhkan Gereja saat ini. 10 Tahun Paus Fransiskus: MAGIS Pater Ramesh Vanan, S.J., Jesuit dari India yang sedang berkarya di Guyana, menuliskan refleksi untuk seri “10 Tahun Fransiskus.” MAGIS adalah nilai Ignasian yang saya peluk dan telah lama tertanam dalam diri saya. Nilai ini sudah menjadi bagian integral diri dan hidup saya sehari-hari, yang pada gilirannya menuntun saya untuk melayani Tuhan dan umat-Nya di Guyana. Bagi saya, pontifikal Paus Fransiskus telah menggarisbawahi sebuah apresiasi dan membantu menenun esensi MAGIS yang sama namun dalam dimensi yang berbeda. Diantaranya ialah menjaga segala sesuatunya tetap sederhana, mengakui bahwa tidak ada yang lebih besar daripada Sang Pencipta, tidak menghakimi, rendah hati meminta pengampunan, mengekspresikan diri dengan sederhana, merangkul spiritualitas dalam hal-hal yang paling kecil, mencium bau domba, peduli akan kebaikan bersama, menjaga agar pintu-pintu Gereja tetap terbuka, mengingat yang miskin, merangkul semua orang apapun latar belakang mereka, hadir di tengah-tengah realitas dunia, dan di atas semua itu, terlibat dalam kebutuhan orang banyak. Saya menghargai bahwa melalui iman dan tindakannya, Paus Fransiskus telah menginspirasi hidup dan pelayanan saya. Cara Gereja di Guyana melibatkan diri dalam keinginan untuk berkontribusi pada pertumbuhan Gereja universal adalah contoh yang bagus. Hal ini dapat dilihat melalui pesan yang disampaikan Paus Fransiskus kepada umat beriman di seluruh dunia, khususnya di Guyana. Berkali-kali ia menggarisbawahi pentingnya Gereja mendengarkan umatnya dan merespon dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Kristus lakukan bagi mereka. Mereka mendengarkan pesannya, dan hal itu telah membuka kekuatan iman di dalam diri mereka. Seorang peserta lansia dalam sesi audiensi untuk sinode mengatakan, “Tolong beritahu Paus (Fransiskus) untuk makan dan beristirahat yang cukup supaya sehat untuk terus memimpin Gereja.” Kelembutan hati Paus Fransiskus telah menyentuh orang-orang sederhana yang mendiami daerah-daerah terpencil di Lembah Amazon. Dengan demikian, orang-orang merasa bahwa Gereja mendengar dan memperhatikan hidup dan pertumbuhan rohani mereka. Saya berharap dan berdoa bagi Paus Fransiskus, semoga Tuhan senantiasa memberkati dan memberikannya rahmat yang cukup untuk memimpin Bunda Gereja kita di dalam zaman kontemporer ini. 10 Tahun Paus Fransiskus: Inspirasi Panggilan S Rob Rizzo, SJ, skolastik dari Provinsi EUM (Euromediterania) yang sedang menempuh formasi teologi di Filipina. Paus Fransiskus dan saya sebenarnya memiliki tanggal yang istimewa. Rabu pagi, 13 Maret 2013, saya bertemu seorang promotor panggilan di tempat saya dan ia mengajak saya menjadi Jesuit. Kini, 10 tahun sudah saya menjadi seorang Jesuit, sama dengan masa kepausan Paus Fransiskus. Meskipun belum pernah bertemu, saya merasa dekat dengannya. Saya merasa ia akan memahami saya – dan banyak orang merasakan hal ini. Itulah salah satu karisma Paus Fransiskus yang saya kagumi. Ia membuat orang merasa dekat dengan Tuhan dan Tuhan dekat dengan kita. Kepausannya dipenuhi aneka anekdot seperti ketika dia menelepon agen koran di Buenos Aires untuk membatalkan langganannya ketika ia menjadi Paus atau ketika ia memberi tahu seorang anak kecil, Emanuele, bahwa ayahnya yang seorang ateis tetap dicintai Tuhan; atau siapakah yang bisa melupakan foto ikoniknya, ia memberikan berkat Urbi et Orbi pada Maret 2020 tanpa seorang pun hadir di sana karena Covid-19. Paus Fransiskus menginspirasi saya dengan keberaniannya. Tanpa takut, ia menghadapi isu-isu kontroversial dan tabu bagi Gereja sebelumnya, misalnya kasus pelecehan oleh klerus dan kesulitan Gereja memahami dan menyambut LGBTQ+. Bagi seseorang dari generasi saya, ini bukanlah masalah yang bisa disembunyikan. Sungguh menggembirakan melihat Paus mulai membahasnya. Ia lebih

Pelayanan Masyarakat

Sumunar ing Jiwa kang Samar*

Refleksi Tumpu | SMA Kolese de Britto dan Realino SPM Barang siapa menanam akan menuai. Sama halnya dengan dunia masa depan yang merupakan hasil jerih payah masa sebelumnya. Setiap tindakan yang dilakukan akan memberikan efek pada lingkungan sekitar maupun efek bagi masa depan. Kami percaya bahwa Tuhan menghendaki kami turut berperan dalam memberi efek dan daya ubah bagi lingkungan sekitar. Salah satunya adalah keterlibatan kami dalam organisasi pemimpin pengabdi bernama Tumpu. Tumpu bermakna sebagai tempat berpijak atau fondasi yang berfungsi sebagai tumpuan benda agar stabil atau aman. Tumpu mengajak para volunteer,salah satunya beberapa siswa SMA Kolese de Britto, untuk berani terjun langsung dalam kegiatan pelayanan kepada sesama, yaitu mengajar anak-anak yang tidak pernah bersekolah. Salah satu kegiatan tersebut berlokasi di Bong Suwung, sebuah sanggar yang dikelola Seksi Pengabdian Masyarakat (SPM) Realino dan terletak di sebelah barat Stasiun Kereta Api Tugu, Yogyakarta. Ngrembug Kami bergabung dengan Tumpu sebagai volunteer. Kami akui, ketika masuk dan berjumpa dengan Tumpu, kami cukup kebingungan menentukan aksi yang akan dilakukan. Pada awal kegiatan ini dilaksanakan, sebenarnya kesungguhan dan kemauan melayani secara murni belum timbul dalam diri kami, terutama karena kegiatan ini hanyalah semata tugas dari mata pelajaran Pendidikan Nilai. Beruntunglah, kebingungan ini tidak bertahan lama karena selang beberapa hari, anggota Tumpu berkumpul dan mengadakan pertemuan secara daring membahas segala hal yang akan dikerjakan. Setelah pertemuan itu, semuanya menjadi lebih jelas. Para siswa SMA Kolese de Britto dibagi menjadi dua tim. Ketika saatnya berdiskusi, kebingungan muncul kembali. Materi apa yang akan disampaikan? Lantas muncul banyak pertanyaan lainnya. “Siapa koordinatornya?” “Ini kita ngajar anak-anaknya di mana?” “Ngajarnya entar pake materi apa? Kita yang buat?” “Eh tim kita bagian apa sih?” Seraya mendiskusikan bahan pengajaran, muncul berbagai perasaan bingung, cemas, hingga khawatir. Mengapa hal ini muncul? Karena inilah pengalaman pertama kami untuk mengajar. Kami lebih terbiasa dengan peran siswa dibandingkan dengan peran sebagai guru. Kebingungan ini akhirnya membawa kami pada keputusan untuk melakukan peninjauan dahulu ke calon tempat kegiatan. Secercah Ketersentuhan Perjalanan menuju sanggar Bong Suwung bisa dikatakan merupakan pengalaman yang unik bagi kami. Ini adalah kali pertama kami pergi ke sebuah area permukiman yang berada di bantaran rel kereta dan yang biasanya hanya dilihat melalui TV. Ketika sampai di sanggar, kami melihat-lihat keadaan sekitar. Sanggar tersebut berada di pinggir rel kereta tetapi tentu tidak terlalu dekat. Ruangannya cukup nyaman dengan dominasi warna coklat dan diisi dengan perabotan-perabotan lainnya. Suara kereta yang sangat keras dan berisik seringkali mengejutkan kami karena jarak yang cukup dekat dengan jalur mereka dan mereka sering muncul dengan tiba-tiba. Dalam kesempatan ini, tak sengaja, kami malah bertemu dengan salah satu dari anak-anak sanggar ketika hendak melangkah pergi dari sana. Awalnya kami mengira bahwa dia akan mengabaikan kami namun ternyata sebaliknya. Dia justru begitu antusias dan bertanya kepada salah satu dari kami, “Mas, ini mau mulai? Kok masnya pada balik?” Dari nada bicaranya, terlihat bahwa anak itu bersemangat untuk belajar namun sayangnya saat itu kami hanya melakukan peninjauan tempat saja. Sesi Pengajaran Hari pengajaran pun datang. Selama dua minggu berturut-turut, kami mempersiapkan materi yang akan diajarkan pada anak-anak. Kami juga harus pergi ke sana-sini untuk menyiapkan bahan dan materi pendukung. Ternyata cukup melelahkan dan membuat pusing terutama karena harus menghitung dana dan membuat berbagai laporan pertanggungjawaban. Ternyata tantangan belum usai. Ada kendala di luar dugaan kami. Kami tidak bisa menggunakan mesin lem tembak di sana karena keterbatasan daya listrik. Kejadian tersebut sungguh membingungkan dan membuat seluruh anggota tim kecewa dan kalut. Materi yang sudah dipersiapkan hampir saja gagal karena bahan utamanya tidak bisa digunakan. Situasi ini diperkeruh dengan suara anak-anak yang ribut. Namun kendala ini bukanlah halangan tetapi justru menjadi tantangan bagi kami. Kami berusaha mengatasinya dengan membeli lem di warung terdekat. Hal ini cukup berhasil dalam mengatasi masalah sehingga materi dapat berjalan meskipun terjadi penundaan begitu lama. Dari sesi pertama, banyak sekali emosi dan perasaan yang didapatkan, sekalipun didominasi oleh rasa kecewa.Kecewa karena materi yang dipersiapkan gagal dan kecewa karena semuanya tidak berjalan mulus. Namun dari sini kami belajar bahwa rencana yang sudah dipersiapkan dengan matang pun memiliki potensi gagal. Meski demikian, pertemuan pertama sudah mengajari kami cara berkomunikasi dengan anak-anak, memahami perilaku mereka yang enerjik, dan lainnya. Ada satu hal yang cukup menampar kami, yaitu kebahagiaan mereka. Di balik kondisi dan situasi yang dialami, mereka selalu bisa tersenyum dan tertawa. Cukup heran rasanya. Pada pertemuan kedua, kami menyiapkan materi mosaic origami. Dalam kesempatan ini, kami berusaha untuk mempersiapkan materi dengan lebih baik. Secara khusus, kami berusaha untuk terus berkomunikasi dengan pihak volunteer lainnya agar tidak ada salah komunikasi lagi. Anak-anak antusias untuk mencoba materi kedua yakni mosaic origami. Antusiasme mereka menjadi angin segar bagi kami. Seolah-olah semua kerja keras yang dilakukan terbayar lunas oleh senyuman dan antusiasme anak-anak di sanggar. Kami senang karena bisa bahagia bersama kebahagiaan mereka. Sejenak Merefleksikan Terkadang kami terlalu fokus dengan tujuan sampai melupakan proses yang seharusnya dirasakan. Dalam pengajaran ini, terdapat banyak emosi, baik antusiasme, kebahagiaan, kebingungan, maupun kelucuan. Kami pada awalnya masih belum bisa memahami mereka. Namun, perlahan-lahan kami belajar untuk memahami dan membuat senyum terus bertahan di muka dan hati mereka. Dari pengalaman-pengalaman ini, kami juga belajar banyak hal baru: Bagaimana menghadapi anak-anak, berkomunikasi dengan mereka, memahami mereka, merasakan dan menanggapi emosi yang mereka tunjukkan. Hal ini menjadi pengalaman yang begitu bermakna bagi kami. Meskipun kami kebingungan pada permulaan, tetapi perlahan-perlahan kepuasan, rasa bahagia, dan keberhasilan bisa kami dapatkan. Segala perasaan seperti capek, bingung, pusing, lelah, ketidakberdayaan, kecewa dan lainnya, terbayar sudah dengan kebahagiaan. Kami menyadari bahwa kehidupan yang harus mereka alami begitu keras, bahkan mungkin lebih sulit dari hidup yang kami miliki. Mungkin masa depan mereka lebih samar dibandingkan masa depan kami. Namun, dengan sarana Tumpu, kami mencoba untuk belajar bersyukur serta menyumbangkan diri kami lewat berbagi ilmu dengan harapan dapat menjadi secercah terang di tengah jiwa yang samar. Kami bersyukur atas dinamika ini. Kami bersyukur boleh berupaya menjadi wujud terang kasih Allah bagi sesama. Sama seperti lilin yang harus terbakar untuk menjadi terang bagi yang lain, kami pun bersyukur karena bisa belajar berkorban entah waktu, tenaga, pikiran, maupun perasaan. Lilin itu adalah kami, yang

Karya Pendidikan

Sister School Partnership

Kanisius KAS & SMA Kolese de Britto Pada 2 Februari 2023 dua lembaga pendidikan yang dikelola oleh Jesuit, yaitu SMA Kolese de Britto dan Yayasan Kanisius Keuskupan Agung Semarang mengadakan pertemuan di ruang rapat Yayasan de Britto. Pertemuan ini diinisiasi sebagai bentuk kesadaran formasi berkelanjutan sekolah-sekolah yang dikelola oleh Serikat Jesus. Kolaborasi ini diharapkan memberikan dampak signifikan bagi Yayasan Kanisius dan SMA Kolese de Britto untuk mendampingi orang muda seturut arahan Universal Apostolic Preferences. Pertemuan ini dihadiri oleh Pater Yohanes Heru Hendarto, S.J. selaku Ketua Yayasan Kanisius Keuskupan Agung Semarang, Pater C. Kuntoro Adi, S.J. selaku Ketua Yayasan de Britto, Ibu Nur Sukapti selaku Kepala Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta, Bapak F.X. Catur Supatmono selaku Kepala SMA Kolese de Britto beserta staf dan enam kepala sekolah SMP Kanisius di Yogyakarta (SMP Kanisius Sleman, Bambang Lipuro, Kalasan, Gayam, Pakem, dan Sleman). Suasana dialog yang menyenangkan dan saling memberi informasi, menggugah kesadaran untuk membuka cakrawala dan berani keluar dari kotak-kotak yang membelenggu. Rahmat Kolaborasi Sister School Partnership menjadi salah satu brand yang hendak dibangun Yayasan Kanisius dan SMA Kolese de Britto. Harapan dari kerja sama ini tidak hanya berdampak terhadap serapan siswa yang akan masuk ke SMA Kolese de Britto (penerimaan siswa baru jalur beasiswa dan jalur kerjasama Kanisius-de Britto) namun secara menyeluruh mendorong dan memaksimalkan kapasitas sumber daya manusia dua lembaga ini. Salah satunya, formasi guru Ignatian menjadi peluang bagi lembaga pendidikan Jesuit untuk memperkaya pengalaman dan membangun jejaring. Gagasan kerja sama ini kemudian ditanggapi dengan mengumpulkan siswa SMP Kanisius kelas sembilan di DIY yang ingin melanjutkan ke SMA Kolese de Britto. Tahun ini ada enam belas siswa dari SMP Kanisius Keuskupan Agung Semarang yang diterima. Dua belas siswa SMP Kanisius di DIY yang diterima, delapan diantaranya mendapatkan beasiswa, lalu satu siswa berasal dari YKC Semarang dan tiga siswa dari YKC Magelang. Hal ini menjadi motivasi para pendidik di Yayasan Kanisius untuk menyiapkan siswa-siswanya yang ingin melanjutkan ke SMA Kolese de Britto. Working for Local and Regional Networks Diskusi berlangsung semakin hangat dengan membahas peluang apa yang perlu digali. Pater Heru Hendarto, S.J. memberikan penekanan pada formasi pendidikan yang saling mengisi. Siswa Kanisius yang melanjutkan ke SMA Kolese de Britto perlu diperhatikan kapasitasnya selama berproses, sehingga menjadi umpan balik bagi guru-guru Kanisius dalam mengembangkan diri. Pater Kuntoro Adi, S.J. mendorong supaya kerja sama ini memberikan mimpi besar kepada para anak didik. Para kepala sekolah dan guru berkewajiban menemani peserta didik dan mewujudkan cita-cita mereka, serta dapat menginspirasi dan punya hati untuk mendedikasikan diri kepada peserta didik. Salah satu lulusan SMP Kanisius Pakem yang melanjutkan di SMA Kolese de Britto sekarang ini melanjutkan karier bermusiknya sampai di Austria. Contoh konkret ini menunjukkan bahwa kapasitas guru dan sekolah bisa turut memaksimalkan potensi diri siswa. Dukungan semua pihak terkait sister school partnership tidak hanya meliputi Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta namun juga akan melibatkan tiga cabang lainnya. Secara bertahap akan mulai dirintis pula kerja sama serupa bagi kolese-kolese Jesuit di Keuskupan Agung Semarang. Semoga dengan usaha ini bentuk kolaborasi nyata bisa terbangun dan meluaskan jejaring. Pembinaan berkelanjutan sekolah Jesuit semakin mendaratkan UAP dalam terang Latihan Rohani, pendampingan orang muda, keberpihakan terhadap mereka yang termarginalkan dan merawat keutuhan ciptaan. Terkait kolaborasi, ungkapan Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. “Working for local and regional networks will also mean working in and for the global network” memberikan cakrawala baru. Langkah ini sebagai langkah kecil untuk mewujudkan jaringan global sekolah Jesuit dari berbagai tingkat. Semoga. Kontributor: S. Petrus Craver Swandono, S.J. – Skolastik TOK di Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta

Karya Pendidikan

Peran Pembelajaran Produk Kreatif dengan Memanfaatkan Teknologi 3D Printer

Pendidikan dan teknologi saling berjalin kelindan. Pendidikan tidak hanya menjadi alat untuk mempelajari teknologi, namun juga dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk pembelajaran. Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran produk kreatif adalah teknologi 3D printer. Teknologi 3D printer memungkinkan kita untuk mencetak objek tiga dimensi dari berbagai material seperti plastik, logam, kertas, dan bahkan makanan. 3D printer memungkinkan pengguna untuk membuat prototipe produk bahkan produk jadi dengan cepat dan mudah. Dalam konteks pendidikan, teknologi ini memberi peluang yang tak ternilai dalam membantu siswa untuk mempelajari konsep matematika dan ilmu pengetahuan dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Penggunaan 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif sudah diterapkan di SMK St. Mikael Surakarta sejak tahun 2019. Teknologi ini membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Siswa dapat menghasilkan produk yang mereka desain sendiri dan melihat hasilnya dalam bentuk fisik yang nyata. Hal ini meningkatkan motivasi dan antusiasme mereka dalam belajar. Selain itu, teknologi 3D printer juga membantu siswa untuk mempelajari desain produk dengan lebih efektif. Dengan membuat prototipe produk, siswa dapat dengan mudah melihat kelemahan desain mereka dan melakukan perbaikan secara langsung. Mereka juga dapat mempelajari bagaimana berbagai material dan tekstur mempengaruhi kinerja produk. Penggunaan 3D printer juga dapat membantu siswa mempersiapkan diri untuk karir di bidang teknologi dan rekayasa. Siswa dapat mempelajari teknologi cetak 3D dan cara menggunakan perangkat lunak desain, sehingga dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan di dunia kerja. Namun, untuk mengoptimalkan potensi teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif, diperlukan pengajaran yang tepat dan peralatan yang memadai. Guru harus dapat mengajarkan kepada siswa cara menggunakan teknologi ini secara efektif dan memandu mereka dalam membuat produk. Sekolah juga harus mempertimbangkan pengalokasian sumber daya untuk membeli dan memelihara peralatan cetak 3D yang diperlukan. Untuk mendukung penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif, diperlukan beberapa hal, seperti: 1. Infrastruktur dan peralatan yang memadai Sebelum menggunakan teknologi 3D printer, sekolah atau institusi pendidikan perlu memastikan bahwa infrastruktur dan peralatan yang diperlukan sudah tersedia. Ini termasuk perangkat keras seperti 3D printer, komputer, dan perangkat lunak desain 3D. Selain itu, diperlukan juga ruangan yang memadai untuk mengoperasikan peralatan dan menyimpan bahan-bahan cetak 3D. 2. Pelatihan dan pengembangan keterampilan Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif memerlukan keterampilan khusus dalam desain 3D dan operasi peralatan cetak 3D. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi guru dan siswa untuk menggunakan peralatan dan perangkat lunak dengan benar. Hal ini akan membantu siswa untuk belajar dengan lebih efektif dan guru untuk memimpin dan mendukung siswa dalam pembelajaran produk kreatif. 3. Kurikulum yang relevan Kurikulum pembelajaran produk kreatif yang efektif harus mencakup penggunaan teknologi 3D printer dalam desain dan pembuatan produk. Kurikulum ini harus mencakup pelajaran tentang dasar-dasar desain 3D, operasi peralatan cetak 3D, dan pengembangan keterampilan kreatif dan berpikir kritis. Dengan demikian, siswa dapat mengembangkan keterampilan yang relevan untuk mempersiapkan mereka berkarir di bidang teknologi. 4. Integrasi dengan mata pelajaran lain Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran lain, seperti matematika, sains, atau bahasa. Contohnya, siswa dapat menggunakan perangkat lunak desain 3D untuk membuat model matematika 3D atau membuat produk sains dengan teknologi 3D printer. Sedangkan dalam Bahasa Jawa, siswa mendesain tulisan aksara jawa dengan aplikasi Tinkercad berkolaborasi dengan pelajaran produk kreatif untuk realisasinya dengan 3D printer. Integrasi ini dapat membantu siswa memahami konsep-konsep penting dalam mata pelajaran lain sambil mengembangkan keterampilan kreativitas dan berpikir kritis. Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif juga memiliki beberapa manfaat, di antaranya: 1. Meningkatkan keterampilan kreatif dan berpikir kritis Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif memungkinkan siswa untuk mengembangkan keterampilan kreatif dan berpikir kritis. Dalam proses desain dan pembuatan produk, siswa harus berpikir kreatif untuk menghasilkan ide dan konsep yang unik dan original. Selain itu, siswa juga harus berpikir kritis untuk mengevaluasi produk mereka dan menemukan cara untuk meningkatkan kualitasnya. 2. Meningkatkan motivasi dan minat belajar Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa. Siswa akan merasa lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar ketika mereka terlibat dalam proses desain dan pembuatan produk yang nyata dan bermanfaat. Selain itu, penggunaan teknologi canggih seperti 3D printer dapat menarik minat siswa dan membuat mereka merasa lebih antusias untuk belajar. 3. Meningkatkan kemampuan kolaborasi dan komunikasi Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif juga dapat meningkatkan kemampuan kolaborasi dan komunikasi siswa. Dalam proses desain dan pembuatan produk, siswa harus bekerja dalam kelompok dan berkolaborasi untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Hal ini akan membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan komunikasi yang penting untuk kehidupan dan karir mereka di masa depan. 4. Membuka peluang karir di bidang teknologi Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif dapat membuka peluang karir di bidang teknologi. Siswa yang terampil dalam desain 3D dan operasi peralatan cetak 3D akan memiliki keunggulan dalam mencari pekerjaan di bidang teknologi dan manufaktur. Dengan demikian, penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif dapat membantu siswa untuk mempersiapkan diri untuk karir di masa depan. Secara keseluruhan, penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan, kreativitas, berpikir kritis, dan mempersiapkan diri untuk karir di bidang teknologi. Dengan pengajaran yang tepat dan peralatan yang memadai, teknologi ini dapat membawa perubahan positif dalam pembelajaran di masa depan. Selain itu, teknologi 3D printer juga dapat membantu mempromosikan inklusivitas dalam pendidikan. Dalam banyak kasus, siswa atau mahasiswa yang memiliki disabilitas fisik tidak dapat membuat prototipe produk mereka secara tradisional, seperti dengan menggunakan kayu atau kertas. Namun, dengan teknologi 3D printer, siswa ini dapat menggunakan perangkat lunak desain yang mudah digunakan untuk membuat produk dan mencetaknya dalam bentuk fisik. Hal ini memungkinkan siswa dengan disabilitas untuk mengikuti pembelajaran produk kreatif secara penuh tanpa mengalami hambatan fisik. Dengan adanya infrastruktur dan peralatan yang memadai, pelatihan dan pengembangan keterampilan, kurikulum yang relevan, dan integrasi dengan mata pelajaran lain, penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif dapat memberikan manfaat besar bagi siswa dan guru. Dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh melalui penggunaan teknologi ini, siswa dapat mempersiapkan diri untuk karir

Pelayanan Masyarakat

Kunjungan para Uskup ke Taman Komunikasi

Menjelang momen penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa kepada Kardinal Miguel Angel Ayuso, M.C.C.J oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Minggu, 12 Februari 2023 lalu, para Uskup menyempatkan berkunjung ke Taman Komunikasi Kanisius. Empat Uskup yang hadir dalam kunjungan tersebut adalah Mgr. Boddeng Timang dari Keuskupan Banjarmasin, Mgr. Aloysius Sudarso dari Keuskupan Agung Palembang, Mgr. Agustinus Agus dari Keuskupan Agung Pontianak, dan Mgr. Vitus Rubianto dari Keuskupan Padang didampingi para Romo Kuria Keuskupan Agung Semarang dan Vikep Yogyakarta area Timur, Romo Adrianus Maradiyo, Pr. Kunjungan bersuasana informal ini menghasilkan perjumpaan yang akrab dan mengesankan, terutama karena para Uskup melebur dalam perbincangan mengenai perjalanan karya dalam konteks sinodalitas Gereja. Dalam sambutannya, Romo Maradiyo menyampaikan apresiasi atas kontribusi PT Kanisius dalam perjalanan sejarah Gereja dan dunia pendidikan melalui produk-produk yang dihasilkan. Salah satu produk terbitan yang sedang berproses dalam kerja sama dengan Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Semarang adalah buku Wastu Pana yaitu buku referensi pendampingan kaum muda. Sebagai anggota Tribunal (Hakim Gereja) KAS, Romo Maradiyo juga mengapresiasi kontribusi PT Kanisius dalam penyediaan sarana reksa pastoral, khususnya dalam proses penyiapan hidup perkawinan. Untuk membantu mencermati hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam penyelidikan kanonik, telah dilakukan pula proses revisi terhadap Lembar Penyelidikan Kanonik yang dilengkapi dengan formulir pendukungnya. Dengan revisi ini, diharapkan romo-romo paroki dapat melaksanakan reksa pastoral penyiapan hidup berkeluarga dengan lebih baik. Kontribusi konkret PT Kanisius dalam hal ini adalah menerbitkan lembar Penyelidikan Kanonik versi revisi yang mengakomodir penyesuaian yang diperlukan. Direksi PT Kanisius, Pater E. Azismardopo Subroto, S.J. dan Ibu Margaretha Sulistyorini pada kesempatan tersebut juga menyampaikan kesiapsediaan PT Kanisius untuk berkolaborasi dengan keuskupan-keuskupan dalam tugas perutusan mewartakan Kabar Gembira. Di usianya yang lebih dari seabad, Kanisius menyadari perlunya lahir baru, menjadi muda tanpa mengubah jati diri kelembagaan. Dalam kelahiran barunya sebagai PT Kanisius, telah banyak Insan Muda Kanisius yang menyumbangkan aspirasinya, hingga mewujudkan perubahan wajah Kanisius, yang direpresentasikan oleh keberadaan Gedung Taman Komunikasi atau Takom yang baru. Tempat ini diharapkan menjadi taman bagi semua orang untuk berkomunikasi, membuka diri, menyingkirkan sekat, bertukar gagasan, saling menginspirasi, sehingga makin banyak menghasilkan karya-karya kreatif bagi kehidupan bersama yang lebih baik. Acara kunjungan dipuncaki dengan santap malam bersama menikmati menu Takom Café & Resto. Terima kasih untuk kehangatan dan keakraban yang tercipta dari momen kunjungan ini. Kontributor : Christin Natalia Puspitaningrum – PT Kanisius

Kuria Roma

Empat Tahun UAP: Dua Pembelajaran yang Tidak Terduga

Pada Februari 2019, Paus Fransiskus mengutus Serikat Jesus dengan Universal Apostolik Preferences (UAP). Apa yang telah kita pelajari setelah menghidupi UAP selama empat tahun ini? Berikut adalah refleksi mengenai empat tahun UAP oleh Pater John Dardis, Asisten Pater Jenderal bidang Perencanaan Apostolik. Saudara yang terkasih, saya hendak berbagi tentang Universal Apostolic Preferences (UAP) yang bulan ini memasuki tahun keempat. Oleh Bapa Suci Fransiskus, pada tahun 2019 lalu, UAP diserahkan kepada kita sebagai sebuah perutusan. Ini sungguh menjadi hal yang begitu penting. Bapa Suci menekankan Preferensi pertama, menunjukkan jalan menuju Allah, sebagai yang terpenting karena menjadi preferensi kunci dari tiga preferensi lainnya. Saya membayangkan beberapa perubahan yang mungkin telah kita lakukan dan hal-hal yang telah kita petik selama empat tahun terakhir ini. Saya ingin menyampaikan beberapa hal terkait dengan itu. Pertama, menurut saya, kita telah belajar tentang kerendahan hati melalui percakapan rohani, doa, dan diskresi. Kita sadari bahwa kita bukanlah satu-satunya yang bertanggung jawab atas perutusan dari Allah tadi. Kita harus senantiasa mendengarkan Allah, Yesus, dan menangkap Roh lalu memutuskan untuk bertindak. Itulah saat-saat kunci. “Mendengarkan” memberikan kita kerendahan hati yang sesungguhnya. Rapat, aneka pertemuan, atau menulis dokumen, semuanya itu memanglah penting bagi kita. Namun yang terpenting adalah mendengarkan Roh yang memampukan kita siap berbenah dan bergerak serta memperdalam hasrat kita. Itulah hal pertama yang dapat saya petik selama empat tahun ini. Saya telah melihat hal tersebut melalui aneka kesempatan kunjungan ke berbagai Provinsi, ketika membaca rencana-rencana yang telah disusun, dan ketika memberi asistensi kepada para Provinsial dan Provinsi, termasuk rekan berkarya Serikat, ketika membantu mereka mendiskresikan jalan untuk bergerak maju. Jadi, yang pertama adalah kerendahan hati. Kedua, kita seperti kembali menemukan hasrat untuk hidup sebagai Jesuit. Kita kembali antusias dan berani bermimpi, penuh daya untuk menunjukkan jalan menuju Allah dan memperhatikan mereka yang terbuang dan disingkirkan, serta membantu orang muda. Banyak orang muda di berbagai belahan dunia hidup miskin. Lantas bagaimana kita bisa membantu mereka menemukan masa depan yang penuh harapan di dunia yang dilingkupi kegelapan ini. Terakhir, tentang rumah kita bersama. Mungkin ini preferensi yang mengejutkan tetapi memberi banyak konsolasi. Kita tahu bahwa ini menjadi isu penting di seluruh dunia dan planet bumi kita. Kita memang tidak begitu paham bagaimana melakukannya, namun menjadikannya sebagai salah satu preferensi justru mendorong kita untuk memikirkan tentang rumah kita bersama, untuk mendoakannya, dan bertanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya istimewa dalam panggilan Jesuit dan tradisi Ignasian sehingga mampu mendorong kita untuk berani bergerak maju. Jadi, merangkum apa yang telah kita petik bersama selama empat tahun ini, sekali lagi, kita telah belajar bagaimana berdiskresi secara rendah hati, mendengarkan, dan menggunakan percakapan rohani untuk dapat melaksanakan isi UAP. Kerendahan hati dan hasrat. Kita telah menemukan kembali semangat kita untuk melayani begitu banyak karya Serikat beserta inisiatif-inisiatifnya. Hasrat dan keberanian untuk mewujudkan impian Tuhan bagi dunia ini. Sungguh pelajaran besar yang dapat kita petik dari UAP. Masih ada enam tahun lagi dan semua itu akan menjadi petualangan kita. Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel UAPs After 4 Years: 2 Unexpected Lessons dalam https://www.jesuits.global/2023/02/17/uaps-after-4-years-2-unexpected-lessons/ Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat SJ Provindo, pada tanggal 28 Februari 2023

Tahbisan

Cinta dan RahmatMu, Cukup itu Bagiku

Kamis, 16 Februari 2023, menjadi hari yang membahagiakan bagi Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Biasanya tahbisan imam Jesuit diselenggarakan pada bulan Juli, namun kali diadakan pada bulan Februari. Mengapa demikian? Hal ini dilakukan untuk menandai pesta syukur 100 tahun Kolsani yang jatuh pada 18 Februari 2023. Ada lima diakon yang ditahbiskan menjadi imam di Gereja St. Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta, yaitu Yohanes Deodatus, S.J. (Paroki St. Yosef Mojokerto, Keuskupan Surabaya), Fransiskus Asisi Wylly Suhendra, S.J. (Paroki St. Odillia, Citra Raya, Tangerang, Keuskupan Agung Jakarta), Agustinus Daryanto, S.J. (Paroki St. Isidorus, Sukorejo, Keuskupan Agung Semarang), Yulius Suroso, S.J. (Paroki St. Maria Bunda Penasihat Baik, Wates, Keuskupan Agung Semarang), dan Antonius Siwi Dharma Jati, S.J. (Paroki St. Maria Assumpta, Gamping, Keuskupan Agung Semarang). Mereka ditahbiskan oleh Bapak Uskup Robertus Rubiyatmoko, Uskup Keuskupan Agung Semarang. Dalam perayaan Ekaristi tahbisan, Bapak Uskup Robertus Rubiyatmoko ditemani oleh Pater Provinsial Benedictus Hari Juliawan, S.J. dan acting rector Kolese Santo Ignatius Pater Paulus Suparno, S.J. Tahbisan imam ini dihadiri oleh para Jesuit (nostri), imam, suster, frater, bruder, keluarga, dan para tamu undangan. Perayaan Ekaristi berlangsung kurang lebih 2,5 jam. Tema tahbisan imam tahun ini adalah Cinta dan Rahmat-Mu, Cukup itu Bagiku. Para tertahbis memilih tema ini karena mereka menyadari bahwa panggilan imamat mereka tidak lepas dari keterbatasan dan kelemahan manusiawi mereka namun disertai, dikuatkan, dan disempurnakan oleh rahmat Allah. Tuhan membentuk, menempa, dan membina mereka menjadi pribadi yang siap untuk menyampaikan kabar sukacita. Bapak Uskup Rubiyatmoko mengingatkan agar para neomis senantiasa memohon rahmat terus-menerus dari waktu ke waktu, sehingga cinta dan rahmat Allah semakin melimpah bagi mereka, serta menjadi jalan untuk menghayati iman dan menanggapi panggilan Tuhan. Selain itu, para imam baru ini diharapkan menjadi Imam yang serius sehingga kegelisahan, kekhawatiran, dan keraguan yang sebelumnya dirasakan bisa teratasi dengan baik. Dengan demikian, keyakinan bahwa Tuhan senantiasa menyertai mereka, akan mengobarkan pemberian diri seutuhnya dalam pelayanan. Setelah perayaan Ekaristi, Pater Provinsial Benny langsung memberikan perutusan bagi kelima neomis. Setelah Perayaan Ekaristi tahbisan imamat, acara dilanjutkan dengan ramah tamah di kompleks Kolsani. Mari kita berdoa, agar Roh Kudus senantiasa menyertai mereka sehingga mereka mampu menghayati panggilan imamat dengan sepenuh hati. Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator Provindo

Kuria Roma

Tanggap Darurat Gempa Bumi Turki dan Suriah

Situasi masih terlihat tak menentu setelah gempa bumi dahsyat pada malam hari 5-6 Februari yang melanda Suriah dan Turki. Bangunan gereja Katedral Iskenderun runtuh. Uskup Paolo Bizzeti, S.J., Uskup Anatolia di Turki Timur, sedang berada di luar negeri saat bencana terjadi. Namun demikian, ia bisa segera mengorganisasi bantuan. Pater Antuan Ilgit S.J. yang berada di lokasi juga langsung mengorganisasi bantuan untuk para umat. Situasi berubah-ubah dan informasi terus diperbarui. Gambaran di sekitar nampak kacau: rumah sakit runtuh atau tidak dapat melayani pasien, kurangnya pasokan listrik, dan koneksi internet yang rusak atau sangat sulit. “Dari hati terdalam, kami menyampaikan belarasa dan belasungkawa yang terdalam kepada keluarga dan semua orang yang terdampak gempa bumi di Suriah dan Turki,” kata Pater Arturo Sosa. “Kami turut berduka atas mereka yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai, mereka yang kehilangan tempat tinggal dan komunitas. Kami berdoa semoga semua segera pulih dan mereka yang terluka mendapat perawatan yang aman dan mereka yang terdampak bencana mendapatkan kenyamanan kembali.” Di Aleppo, di sebuah komunitas yang terdiri atas tiga Jesuit, mereka terpaksa turut mengungsi setelah gempa pertama dan bergabung dengan penduduk Aleppo lainnya dalam cuaca yang sangat dingin sepanjang malam. Banyak rumah telah runtuh. Orang-orang tidak mau kembali ke rumah karena takut akan gempa susulan. Lembaga kita telah membuka rumah di Aziziyé, sebuah rumah yang telah dibangun dengan sangat baik, sebagai tempat pengungsian sementara. JRS berdiri di depan untuk melakukan respon tanggap darurat dan sekaligus mereka telah meluncurkan permohonan bantuan dana. Tony O’Riordan, imam Jesuit Irlandia, mengatakan, “Saya baru saja tiba di Aleppo untuk melakukan assessment kebutuhan dan respon tanggap darurat yang akan dilakukan JRS. Menyelamatkan hidup dan memenuhi kebutuhan kesehatan menjadi prioritas utama dan kami berusaha segera membuka kembali klinik kesehatan setelah semuanya dibersihkan dan disiapkan oleh para tukang hari ini. Kami akan terus meningkatkan sokongan perlindungan dasar terhadap cuaca dingin dan hal lainnya yang tidak memungkinkan para korban kembali ke rumah. Prioritas kedua kami adalah membantu para korban agar tetap tangguh secara mental.” Turki: untuk informasi lebih lanjut dan tautan untuk donasi silakan klik www.amo-fme.org Suriah: untuk informasi lebih lanjut dan tautan untuk donasi silakan klik https://jrs.net/. Donasi dari AS klik di sini.