capture imaginations, awaken desires, unite the Jesuits and Collaborators in Christ mission

Empat Tahun UAP: Dua Pembelajaran yang Tidak Terduga

Date

Pada Februari 2019, Paus Fransiskus mengutus Serikat Jesus dengan Universal Apostolik Preferences (UAP). Apa yang telah kita pelajari setelah menghidupi UAP selama empat tahun ini?

Berikut adalah refleksi mengenai empat tahun UAP oleh Pater John Dardis, Asisten Pater Jenderal bidang Perencanaan Apostolik.

Saudara yang terkasih, saya hendak berbagi tentang Universal Apostolic Preferences (UAP) yang bulan ini memasuki tahun keempat. Oleh Bapa Suci Fransiskus, pada tahun 2019 lalu, UAP diserahkan kepada kita sebagai sebuah perutusan. Ini sungguh menjadi hal yang begitu penting. Bapa Suci menekankan Preferensi pertama, menunjukkan jalan menuju Allah, sebagai yang terpenting karena menjadi preferensi kunci dari tiga preferensi lainnya. Saya membayangkan beberapa perubahan yang mungkin telah kita lakukan dan hal-hal yang telah kita petik selama empat tahun terakhir ini. Saya ingin menyampaikan beberapa hal terkait dengan itu.

Pertama, menurut saya, kita telah belajar tentang kerendahan hati melalui percakapan rohani, doa, dan diskresi. Kita sadari bahwa kita bukanlah satu-satunya yang bertanggung jawab atas perutusan dari Allah tadi. Kita harus senantiasa mendengarkan Allah, Yesus, dan menangkap Roh lalu memutuskan untuk bertindak. Itulah saat-saat kunci. “Mendengarkan” memberikan kita kerendahan hati yang sesungguhnya. Rapat, aneka pertemuan, atau menulis dokumen, semuanya itu memanglah penting bagi kita. Namun yang terpenting adalah mendengarkan Roh yang memampukan kita siap berbenah dan bergerak serta memperdalam hasrat kita. Itulah hal pertama yang dapat saya petik selama empat tahun ini. Saya telah melihat hal tersebut melalui aneka kesempatan kunjungan ke berbagai Provinsi, ketika membaca rencana-rencana yang telah disusun, dan ketika memberi asistensi kepada para Provinsial dan Provinsi, termasuk rekan berkarya Serikat, ketika membantu mereka mendiskresikan jalan untuk bergerak maju. Jadi, yang pertama adalah kerendahan hati.

Kedua, kita seperti kembali menemukan hasrat untuk hidup sebagai Jesuit. Kita kembali antusias dan berani bermimpi, penuh daya untuk menunjukkan jalan menuju Allah dan memperhatikan mereka yang terbuang dan disingkirkan, serta membantu orang muda. Banyak orang muda di berbagai belahan dunia hidup miskin. Lantas bagaimana kita bisa membantu mereka menemukan masa depan yang penuh harapan di dunia yang dilingkupi kegelapan ini.

Terakhir, tentang rumah kita bersama. Mungkin ini preferensi yang mengejutkan tetapi memberi banyak konsolasi. Kita tahu bahwa ini menjadi isu penting di seluruh dunia dan planet bumi kita. Kita memang tidak begitu paham bagaimana melakukannya, namun menjadikannya sebagai salah satu preferensi justru mendorong kita untuk memikirkan tentang rumah kita bersama, untuk mendoakannya, dan bertanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya istimewa dalam panggilan Jesuit dan tradisi Ignasian sehingga mampu mendorong kita untuk berani bergerak maju.

Jadi, merangkum apa yang telah kita petik bersama selama empat tahun ini, sekali lagi, kita telah belajar bagaimana berdiskresi secara rendah hati, mendengarkan, dan menggunakan percakapan rohani untuk dapat melaksanakan isi UAP. Kerendahan hati dan hasrat. Kita telah menemukan kembali semangat kita untuk melayani begitu banyak karya Serikat beserta inisiatif-inisiatifnya. Hasrat dan keberanian untuk mewujudkan impian Tuhan bagi dunia ini. Sungguh pelajaran besar yang dapat kita petik dari UAP. Masih ada enam tahun lagi dan semua itu akan menjadi petualangan kita.

Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel UAPs After 4 Years: 2 Unexpected Lessons dalam https://www.jesuits.global/2023/02/17/uaps-after-4-years-2-unexpected-lessons/ Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat SJ Provindo, pada tanggal 28 Februari 2023

More
articles

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top