Pilgrims on Christ’s Mission

Provindo

Formasi Iman, Provindo

Program Tersiat Serikat Jesus Provinsi Indonesia 2026

Dalam Serikat Jesus, formasi tersiat adalah periode formasi ketiga dan terakhir sebelum seorang Jesuit mengucapkan kaul akhir. Setelah bertahun-tahun studi dan berkarya, para Jesuit yang menjalani formasi tersiat diajak kembali mencecap sumber-sumber utama Serikat Jesus, termasuk kehidupan Santo Ignatius, Latihan Rohani, dan sejarah Serikat Jesus. Selama periode ini, para tersiaris merenungkan panggilan mereka, hubungan mereka dengan Tuhan, dan pengalaman dalam karya pelayanan. Mereka juga sejenak undur diri, berdoa, dan merenungkan perjalanan pribadi mereka. Para tertian berbagi refleksi mereka dan menerima bimbingan rohani dari Direktur Program Tersiat. Tahun ini, program tersiat Provinsi Indonesia, yang berlangsung dari Januari hingga Juli, diikuti 8 imam dari negara lain, termasuk India, Italia,  Malaysia, dan Amerika Serikat, dan akan didampingi oleh Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J.   Berikut profil delapan Jesuit yang mengikuti Program Tersiat 2026 Provinsi Indonesia: P. Sujay Daniel D.G., S.J. Bangalore, Karnataka, India – 09 Januari 1982 Pater Sujay, S.J. ditahbiskan pada 1 Desember 2016. Ia pernah berkarya dalam pengelolaan pendidikan dan asrama pendampingan komunitas marjinal (Siddi), pelayanan pastoral kaum muda, serta formasi calon imam, sambil menempuh studi doktoral Neurosains yang memperkaya pendekatan pendampingannya dengan perspektif ilmiah.   Saya berharap dapat memberikan diri dengan tulus kepada Tuhan. Setelah itu, apapun yang terjadi, terjadilah!!!     P. Martinus Dam Febrianto, S.J. Lampung, Indonesia – 17 Februari 1981 Pater Dam, S.J. yang ditahbiskan pada 19 Agustus 2021, berkarya bersama Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia dalam pelayanan bagi pengungsi dengan memberikan dukungan emosional dan pemenuhan kebutuhan dasar. Sejak 2022 menjabat sebagai Direktur Nasional JRS Indonesia sambil tetap terlibat langsung dalam pendampingan di berbagai wilayah.   Saya ingin sepenuhnya menyerahkan diri kepada Tuhan, secara bebas dan jujur, membiarkan diri dibentuk, ditantang, dan diperbarui. Di luar itu, saya hanya ingin menikmati momen syukur ini!     P. Parthasarathi N, S.J. Chennai, India – 22 April 1986 Ditahbiskan pada 26 Agustus 2017, Pater Sarathi, S.J. menekuni karya pastoral dan kerasulan orang muda melalui pelayanan paroki, serta pendampingan komunitas. Selain itu, ia juga terlibat dalam AICUF Tamil Nadu (Perkumpulan Universitas Katolik Seluruh India), pengembangan karya digital dan pembelajaran global Jesuit, sembari menjalani studi doktoral di bidang Manajemen dengan fokus kewirausahaan sosial.   Saya ingin semakin mendengarkan panggilan Allah, orang-orang yang tersisih, terutama kaum muda, dan diri sendiri dalam terang iman, demi keterbukaan yang lebih besar pada perutusan universal Serikat dan Gereja.     P. Luigi Territo, S.J. Genova (Italia) – 27 April 1980 Ditahbiskan pada 22 Februari 2020, Pater Luigi, S.J. berkarya dalam pendampingan rohani, formasi calon imam, dan dunia akademik di Italia Selatan. Ia melayani sebagai pembimbing rohani di sekolah menengah di Naples, formator di Seminari Tinggi Pontifikal Antar-regio Campania, serta dosen teologi di Fakultas Kepausan di Naples, Italia, dengan subjek Trinitas dan dialog dengan Islam.   Saya ingin berhenti sejenak dan kembali kepada Tuhan untuk berada bersama-Nya sebagai seorang novis.     P. Joseph Koczera, S.J. New Bedford, Massachusetts, USA – 27 Mei 1980 Dari tahun 2009 hingga 2012, sebagai TOKer, Pater Joseph, S.J. mengajar filsafat di Universitas St. Joseph, Philadelphia (AS). Setelah ditahbiskan imam, ia menyelesaikan studi doktoral teologi di Centre Sèvres di Paris, dan sejak 2023 mengajar di Pontificia Università Gregoriana, Roma. Ia juga bekerja paruh waktu di paroki-paroki di Kanada, Prancis, dan Italia, serta bertanggung jawab mereksa Gereja Paroki Sant’Antonio Abate all’Esquilino, sebuah gereja kecil di Roma.   Saya berharap cinta saya kepada Allah semakin bertumbuh dan sebagai Jesuit saya makin mampu menjawab panggilan untuk melayani-Nya secara tulus, melalui keinginan mengikuti Latihan Rohani secara penuh sebagai pembaruan pengalaman Retret Agung yang terakhir saya jalani lebih dari dua puluh tahun lalu saat masih novis.     P. Rafael Mathando Hinganaday, S.J. Jakarta, Indonesia – 13 November 1988 Pater Rafael, S.J. memulai pelayanan apostoliknya di Kolese Mikael Surakarta, kemudian melanjutkan studi Magister Manajemen di Universitas Trisakti sambil menjadi ekonom Kolese Hermanum. Selain itu, ia bekerja sebagai anggota staf Yayasan Dana Pensiun (Yadapen), Semarang.   Saya ingin semakin bertumbuh dan menjadi seorang Jesuit yang mencintai Allah, Serikat Jesus, Gereja, dan karya di manapun saya ditugaskan.     P. Philipus Bagus Widyawan, S.J. Klaten, Indonesia – 18 November 1990 Segera setelah ditahbiskan imam, Pater Bagus, S.J. ditugaskan ke Paroki Santa Maria Bunda Allah di Botong, Keuskupan Ketapang, Kalimantan. Di sana, ia melakukan pelayanan paroki, pendampingan iman di kelompok-kelompok komunitas setempat.   Saya ingin semakin mencintai Serikat Jesus dan menjadi lebih siap diutus ke manapun sebagai seorang Jesuit untuk melayani Gereja.     P. Leslie Joseph Bingkasan, S.J. Sabah, Malaysia Pater Leslie, S.J. adalah Jesuit dari Regio Malaysia–Singapura. Beberapa kenangan terindahnya sebagai Jesuit adalah ketika ia menjalani pelayanan paroki, baik selama masa diakonat di Sabah maupun dalam karya pastoralnya saat ini. Sejak 2021, ia bertugas di Paroki St. Ignatius, Singapura, dan sejak 2023 menjadi pastor rekan. Keragaman demografis paroki yang tinggi menunjukkan kepadanya bahwa tidak ada pendekatan seragam dalam pelayanan. Hal ini memberikan ruang konkret baginya untuk menghidupi semangat lepas bebas Ignasian.   Saya berharap semakin terbantu untuk mengintegrasikan pengalaman hidup Jesuit dan pelayanan pastoral yang telah dijalani selama bertahun-tahun sehingga hidup dan panggilan saya sebagai Jesuit kembali disegarkan.     Kontributor: Tim Komunikator Jesuit Indonesia & Ha Wahyaka

Provindo

Kobarkanlah Karunia Allah yang Ada Padamu!

Pada Senin, 26 Januari 2026, bertepatan dengan Peringatan Wajib St. Timotius dan Titus, Bapa Uskup Keuskupan Agung Semarang menahbiskan lima belas frater menjadi diakon. Para diakon baru ini berasal dari Keuskupan Agung Semarang, Tarekat Misionaris Keluarga Kudus, Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria, Ordo Karmel Tak Berkasut, serta empat frater dari Serikat Jesus: Andreas Agung Nugroho, S.J. Amadea P. Putra Mahardika, S.J. Frederick Ray Popo, S.J. Klaus Heinrich Raditio, S.J.   Perayaan Ekaristi Tahbisan dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, yang didampingi oleh Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Pater Alexius Dwi Aryanto, dan Pater Ignatius Triatmoko, MSF. Kehadiran keluarga, kerabat, serta sahabat para diakon turut menyemarakkan dan mengagungkan perayaan tersebut. Mengangkat tema “Kobarkanlah karunia Allah yang ada padamu!” (2Tim 1:6), seruan Rasul Paulus kepada Timotius dalam bacaan pertama, para frater bertekad untuk secara aktif menjaga karunia Allah yang dicurahkan melalui penumpangan tangan Bapa Uskup, demi pelayanan kepada umat.   Dalam homilinya, dengan berpedoman pada Kitab Suci, khususnya surat-surat St. Paulus, Bapa Uskup Rubiyatmoko menegaskan sejumlah kualitas diakon yang harus terus diupayakan dan dijaga. Pertama, seorang diakon dipanggil untuk hidup yang terhormat dan utuh, tidak bercabang dalam tindakan maupun perkataan. Kedua, ia harus berdikari dan waspada, tidak silau oleh kenikmatan duniawi atau “menggemari anggur,” karena kemabukan duniawi akan memandulkan perutusannya.   Ketiga, sikap kolaboratif sangat penting; ia harus mampu bekerja sama, tidak memonopoli pelayanan untuk agenda pribadi, melainkan berbagi tugas demi kebaikan umat. Keempat, seorang diakon harus menjadi pribadi yang dapat dipercaya, bijaksana dalam menyimpan rahasia iman dan hanya menyampaikan ajaran yang membangun. Terakhir, ia dipanggil untuk hidup kudus dan rendah hati, yang diwujudkan dalam kesabaran, keprihatinan pada kaum lemah, dan jiwa yang senantiasa mengutamakan kerendahan hati.     Dalam perayaan tersebut, setiap diakon mengucapkan janji taat kepada Bapa Uskup atau pembesar tarekatnya. Mereka kemudian menerima penumpangan tangan, busana liturgi (stola dan dalmatik), serta Kitab Suci. Melalui ritus penumpangan tangan, para diakon menerima kewenangan untuk membantu imam dalam perayaan Ekaristi dan mewartakan Injil. Perayaan yang meriah ini ditutup dengan ramah-tamah dan resepsi di komunitas keuskupan atau tarekat masing-masing. Kini, para diakon kembali ke komunitasnya dengan tekad membara untuk mengobarkan karunia Allah, sambil menghayati doa Bapa Uskup: “Semoga Allah yang telah memulai karya baik dalam diri saudara, berkenan menyelesaikannya pula” (Filipi 1:6).     Kontributor: Tim Komunikator Jesuit Indonesia

Provindo

Mengenali Kehendak Roh Kudus

Catatan dari Pertemuan Extended Consult Provindo:   Dalam semangat doa dan discernment bersama, sebanyak 33 Jesuit Provinsi Indonesia berkumpul di Rumah Retret Panti Semedi, Klaten, pada 15-17 Desember 2025. Pertemuan Extended Consult ini bertujuan mencari bimbingan Roh Kudus untuk mempersiapkan suksesi kepemimpinan, menyongsong pergantian Provinsial Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. pada pertengahan 2026.   Sesuai dengan tradisi lama Serikat, setiap anggota extended consult diperkenankan untuk melakukan discernment pribadi dan bersama, serta mengajukan tiga nama Jesuit yang dianggap layak untuk menjadi provinsial. Proses ini mencerminkan keyakinan Ignatian bahwa kepemimpinan dalam Serikat muncul melalui proses mendengarkan secara cermat terhadap Roh Kudus di dalam tubuh Gereja.     Pada hari pertama, peserta bersama-sama merenungkan tantangan yang dihadapi Serikat di tingkat global, nasional, dan provinsi. Identifikasi tantangan ini membantu mengklarifikasi prioritas perutusan Provinsi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan dan profil pemimpin yang dibutuhkan.   Pater José Magadia, S.J., Asisten Jenderal untuk Asia Pasifik yang mendampingi proses, memimpin Ekaristi pada hari kedua. Dalam homilinya, ia mengutip pidato Paus Leo XIV dalam Pertemuan Para Superior Mayor di Roma (24 Oktober 2025), menyoroti seruan Bapa Suci agar para Jesuit tetap siap sedia bagi perutusan Gereja hingga batas paling tepi. Batas-batas ini bukan hanya bersifat geografis, misalnya di tempat menantang seperti Kalimantan dan Papua, tetapi juga dalam konteks akademik, sosial, budaya, dan spiritual di mana kehadiran Injil sangat dibutuhkan. Menanggapi pesan Paus Leo XIV, Pater Magadia mendorong para Jesuit untuk siap sedia menerima misi-misi baru dan menantang dengan keberanian apostolik dan kepercayaan penuh kepada Allah.     Selama sesi tertutup, setiap kandidat—yang hadir tetapi tidak selama pembicaraan tentang dirinya—diberi penilaian yang jujur dan penuh hormat. Mereka kemudian diundang kembali untuk menyatakan kesediaan. Meski beberapa menyiratkan keraguan, semua menanggapi dengan syukur atas kepercayaan rekan-rekan dan menegaskan kesiapan untuk melayani di mana pun Tuhan, melalui Serikat, menempatkan mereka. Doa bersama pun dipanjatkan, menyerahkan setiap nama kepada bimbingan Roh.   Pada hari terakhir, setelah discernment lanjutan, setiap peserta menyerahkan surat suara tertutup berisi hingga tiga nama. Hasilnya akan ditelaah dalam beberapa hari mendatang sebelum diajukan kepada Pater Jenderal. Diharapkan penunjukan Provinsial baru dapat diumumkan sebelum Pekan Suci 2026.   Dalam kata penutup, Pater Magadia menegaskan bahwa proses discernment Ignatian telah digunakan selama berabad-abad dalam berbagai budaya dan konteks untuk memilih Provinsial. Ia mengucapkan terima kasih kepada Pater Beni dan Pater Melkyor Pando, S.J. sebagai socius atas persiapan dan koordinasi yang cermat dalam pertemuan ini.   Pertemuan extended consult ini ditutup dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. yang mengucapkan terima kasih kepada para peserta atas komitmen mereka dan mengundang mereka untuk melanjutkan perutusan Serikat dengan kepercayaan yang diperbarui melalui bimbingan Roh Kudus.     Para peserta merefleksikan proses Extended Consult ini sungguh terasa sebagai sebuah proses diskresi. Pater Socius mempersiapkan doa dan ibadat setiap kali memulai dan menutup sesi. Termasuk setiap kali selesai membicarakan kandidat tertentu, selalu diakhiri dengan doa untuk kandidat tersebut. Extended consult ini juga ditandai dengan refleksi dan doa pribadi. Setiap peserta diajak untuk sungguh-sungguh mendengarkan Roh Kudus, membebaskan diri dari segala bentuk kepentingan pribadi dan atau kelompok dan memikirkan yang terbaik untuk masa depan Provinsi.   Kontributor: Sch. Klaus Heinrich Raditio, S.J.

Provindo

Berziarah sebagai Utusan Kristus

Kebanyakan pembaca Internos pasti pernah mendengar istilah Kongregasi Jenderal, yaitu institusi tertinggi pengambil keputusan dalam Serikat Jesus. Pesertanya adalah para wakil terpilih dari semua provinsi dan regio dan diadakan sejauh diperlukan. Dalam sejarah Serikat Jesus yang sudah hampir 500 tahun, baru ada 36 kali Kongregasi Jenderal.   Nah, saya yakin belum banyak yang mendengar istilah Pertemuan Para Superior Mayor. Ini adalah pertemuan yang ditetapkan dalam Kongregasi Jenderal 34 Dekret 23 (1995), “Kira-kira setiap enam tahun mulai dari Kongregasi Jenderal terakhir, Pater Jenderal akan mengundang pertemuan semua provinsial, untuk menimbang kondisi, persoalan-persoalan, dan inisiatif-inisiatif dalam Serikat universal, sebagaimana juga kerja sama internasional dan supra-provinsial.” Sejauh ini baru ada tiga kali pertemuan seperti itu dan yang terakhir terjadi pada tanggal 17-26 Oktober 2025 di Roma. Saya menghadiri pertemuan tersebut sebagai Provinsial Serikat Jesus Indonesia, bersama sekitar 77 orang superior dan 30 orang petugas kuria generalat yang lain.   Mengambil tema “Peziarah dalam Perutusan Kristus,” pertemuan ini membicarakan topik-topik yang sudah ditetapkan sebelumnya. Topik-topik ini dipilih sebagai bahan masukan untuk Pater Jenderal berdasarkan pengalaman yang beragam di berbagai provinsi, semacam konsultasi dengan seluruh Serikat. Untuk saya, yang menarik adalah metodenya. Setiap tema diolah dengan cara bertahap. Mulai dengan presentasi oleh dua orang yang sudah ditunjuk dan mempersiapkan diri. Presentasi ini diikuti oleh doa dan refleksi pribadi oleh peserta. Setelah itu para peserta berkumpul dalam kelompok kecil untuk membagikan hasil doa dan refleksinya memakai cara percakapan rohani. Ringkasan hasil pembicaraan di tiap kelompok ini kemudian disampaikan dalam pertemuan bersama lagi. Sesudah itu, pendalaman tema ditutup dengan mendengar reaksi para peserta secara individu terhadap hasil pleno tadi. Tidak ada tanya jawab di bagian ini. Semua mendengar ketika seseorang berbicara.   Dengan metode ini, beberapa topik tampak menonjol yaitu tema kolaborasi dengan awam, restrukturisasi gubernasi/pemerintahan Serikat, dan peran superior lokal. Semua ini menunjukkan bahwa Serikat sedang berubah. Peran awam semakin besar dalam lembaga dan karya Serikat tetapi mereka tidak punya suara dalam pemerintahan Serikat. Menurunnya jumlah Jesuit mengakibatkan penggabungan beberapa provinsi yang tidak selalu berhasil. Misi universal hampir selalu dikalahkan oleh pemerintahan Serikat yang memprioritaskan provinsi. Di komunitas superior lokal sering dilangkahi dalam pemerintahan Serikat, padahal mereka seharusnya punya peran penting baik dalam hal cura personalis maupun cura apostolica.     Di antara sesi-sesi pertemuan, para peserta diajak untuk bertemu Paus Leo XIV di hari ketujuh. Semua peserta antusias karena bagi banyak orang ini bakal menjadi perjumpaan yang pertama dengan Bapa Suci yang baru. Bapa Suci menyambut delegasi para superior dengan hangat. Dalam sambutannya Bapa Suci meneguhkan kembali pilihan apostolik Serikat seperti yang ada dalam Universal Apostolic Preferences (UAP). Beliau juga mengingatkan kembali, “Gereja membutuhkan Saudara sekalian di garis depan entah itu secara geografis, kultural, intelektual maupun spiritual … Kemendesakan untuk mewartakan Kabar Gembira sama besarnya di zaman ini seperti di masa Santo Ignatius.”   Menariknya juga, Paus Leo XIV tampak sangat membumi. Bahasa tubuhnya rileks, kata-katanya terpilih tapi tetap hangat. Ketika berdialog, tanggapan Bapa Suci sering merujuk pada pengalamannya sebagai misionaris dan sebagai religius. Saya dan para provinsial pulang dari pertemuan ini dengan hati yang berbunga-bunga, tentu saja setelah berfoto dengan beliau.     Rahmat terbesar yang saya peroleh dari pertemuan ini sebenarnya justru pada perjumpaan dengan para superior. Suasana hangat dan terbuka ditambah sesi-sesi sharing dengan cepat mendekatkan kami satu sama lain. Sebagian baru saja menjadi provinsial. Sebagian lagi sudah hampir selesai masa tugasnya. Pater Jenderal dan staf kuria selalu hadir sepenuhnya dan tak berjarak dengan para peserta. Bahkan Pater Jenderal mengundang para provinsial secara bergiliran untuk makan siang bersama di ruang kecil supaya bisa sambil berbincang-bincang santai.   Hasil pertemuan ini berupa rekomendasi-rekomendasi yang diserahkan kepada Pater Jenderal. Nantinya Pater Jenderal akan mengambil kebijakan dan menyusun surat-surat dengan memperhatikan usulan-usulan tersebut. Berbekal pengalaman ini, Serikat akan berusaha untuk tetap setia berziarah dalam perutusan yang dipercayakan Kristus di tengah dunia yang sedang penuh ketidakpastian.   Kontributor: P. Benedictus Hari Juliawan, S.J.

Provindo

Bertemu, Berbagi, Bersinergi

Humas Gathering 2025: Sabtu, 18 dan 25 Oktober 2025, Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia menyelenggarakan kegiatan Humas Gathering bagi para komunikator dari karya-karya dan lembaga yang dikelola Serikat Jesus yang ada di regio Yogyakarta dan Semarang. Pertemuan ini merupakan perjumpaan perdana secara tatap muka antarkomunikator dari berbagai karya, yang meliputi karya pelayanan masyarakat, pelayanan gereja, dan pendidikan untuk memperkuat jejaring, mengembangkan kapasitas komunikasi, dan menumbuhkan semangat kolaborasi antarkarya.   Kegiatan Humas Gathering diawali di regio Yogyakarta dan diselenggarakan di Kampoeng Media pada 18 Oktober 2025. Karya-karya dalam regio ini tersebar di Yogyakarta, Klaten, Magelang, Wonogiri, dan Surakarta. Pada kesempatan ini Koordinator Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Antonius Septian Marhenanto, S.J., memberikan pengantar mengenai sejarah terbentuknya Tim Komunikator Serikat Jesus Universal dan Provinsi Indonesia kemudian dilanjutkan dengan perkenalan Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia, peran, fungsi, serta agenda tim komunikator ke depan. Sesi dilanjutkan oleh Elizabeth Florence Warikar, Dosen Komunikasi Soegijapranata Catholic University Semarang, yang berbagi wawasan mengenai cara mengemas pesan yang efektif dan berdampak. Antusiasme peserta terlihat jelas melalui sesi tanya jawab dan diskusi dalam kelompok kecil. Berangkat dari wawasan yang dibagikan, para komunikator karya berbagi refleksi dan berkonsultasi mengenai dinamika yang dialami selama menjalankan perannya sebagai komunikator.      SMA Kolese Loyola menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Humas Gathering untuk regio Semarang yang diselenggarakan pada 25 Oktober 2025, dengan peserta yang berasal dari karya di Ambarawa, Semarang, Ungaran, Salatiga, dan Sukorejo. Pater Antonius Septian Marhenanto, S.J. memberikan pengantar dan dilanjutkan dengan materi yang disampaikan oleh Bapak Andreas Pandiangan, M.Si., Dosen Komunikasi Soegijapranata Catholic University Semarang mengenai strategi penggunaan media di era komunikasi digital. Materi yang disampaikan sungguh membuat para komunikator karya mengenali tantangan komunikasi digital dan menelusuri akar kendala yang mereka alami. Sesi sharing dalam kelompok dan konsultasi bersama Bapak Andreas menjadi ruang berbagi yang meneguhkan dan membantu para komunikator menemukan kembali kepercayaan diri dalam menjalankan peran mereka.   Humas Gathering, baik di regio Yogyakarta maupun Semarang, memiliki benang merah yang saling terhubung satu sama lainnya. Kedua regio ini memiliki kerinduan untuk saling mengenal, berjejaring, dan bertumbuh bersama, bukan hanya dalam karya pelayanan yang sama, baik dalam satu regio maupun lainnya. Para komunikator dari berbagai karya melihat peluang kolaborasi sebagai sarana mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing karya. Pada ujung acara, para peserta berharap bahwa kegiatan serupa bisa dilaksanakan kembali dan dikemas dalam bentuk workshop untuk meningkatkan kapasitas komunikasi. Melalui kegiatan Humas Gathering, semangat sinergi komunikasi yang solid antarsesama komunikator karya semakin diteguhkan.   Kontributor: Bonifasia Amanda – Tim Komunikator Jesuit Indonesia

Provindo

The Discerning Pope

KEJESUITAN JORGE MARIO BERGOGLIO (part 2): Latihan Rohani Seperti saya sebut sebelumnya, Pater Jenderal merayakan Ekaristi bersama para Jesuit yang berada di Roma untuk mendoakan Paus Fransiskus. Dalam homilinya dalam Perayaan Ekaristi tersebut (Eucaristia in grato ricordo di Papa Francesco, Chiesa del Gesù – Roma, 24 Aprile 2025) ia mengatakan bahwa Paus Fransiskus adalah orang yang ditempa di dalam Latihan Rohani St. Ignatius Loyola. Dari pengalaman Latihan Rohani inilah style orisinal hidupnya dan pelayanannya bagi umat Allah dan seluruh umat manusia.   Latihan Rohani dijelmakan di dalam keyakinan kuat untuk mempraktikkan dengan mengajak dialog sebagai dasar dalam membangun relasi yang otentik, mengatasi konflik dan memajukan rekonsiliasi. “Asas dan Dasar” Latihan Rohani menjadi titik tumpu yang tidak diragukan. Hidup Fransiskus adalah hidup yang dihayati dan diperjuangkan berdasarkan pada batu karang yang kuat, yaitu Yesus Kristus. Ia tidak mendasarkan pada gagasan-gagasan dan intuisi, karena Yesus sendiri yang menjadi pusatnya. Dalam hal ini sekaligus dicatat bahwa Paus dan saudara se-Serikat ini tidak menyembunyikan kerapuhannya. Bahkan kerapuhan ini merupakan bagian dari Minggu Pertama. Kemudian Minggu Kedua Latihan Rohani yang dimulai dengan Panggilan Raja, serta kontemplasi Penjelmaan dan Kelahiran Yesus pusat hidupnya didekati untuk sampai pada kebersatuan afektif melalui mengontemplasikan Injil secara terus-menerus.   Menurut Pater Arturo Sosa di dalam homilinya, “Kontemplasi Penjelmaan” membawa Paus Fransiskus mendapatkan pandangan universal dan melaluinya, Paus bisa ambil bagian di dalam karya penebusan dunia. Inilah pandangan Trinitas Kudus yang memampukan Paus Fransiskus tidak hanya memandang kompleksitas dan kekayaan hidup manusia, tetapi juga untuk masuk menyatu dengan persoalan hidup. Ini yang membuat Fransiskus dekat dan menyatu tanpa kesulitan dengan banyak orang, baik pria maupun wanita, anak-anak muda, bahkan anak-anak kecil, dan orang tua dari banyak banyak kalangan dan pelbagai budaya yang berbeda.   Masih mengenai Minggu Kedua Latihan Rohani, dikatakan bahwa meditasi “Dua Panji” menginspirasi Paus untuk mengidentifikasi dengan Yesus yang menjadi model dan ideal dalam kemiskinan dan kerendahan hati.   Petrus Faber Seorang Jesuit Spanyol, Santiago Madrigal dalam tulisannya (“Teoría y práctica de los Ejercicios espirituales según Jorge M. Bergoglio – Papa Francisco”, Teología y Vida 61/3 [2020], 273-304) menyebut St. Petrus Faber (1506-1546) merupakan model mistik kesuciannya. St. Petrus Faber sendiri dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada 17 Desember 2013. Inspirasi rohani dan jejak mistiknya ditemukan di dalam tulisan pribadi Petrus Faber, Memoriale. Tepatnya, Paus Fransiskus mengambil inspirasi dari St. Petrus Faber bahwa dasar pijak pembaruan itu adalah pengalaman rohani yang mendalam. Karena itu, tidak sulit membayangkan muatan kebenaran ungkapan ini dengan membayangkan Paus Fransiskus di dalam mengemban pelayanan pontifikalnya sebagai Paus. Penegasan dalam kata-kata demikian ini sebenarnya sejalan dengan kata-kata St. Ignatius yang menunjuk Petrus Faber sebagai pemberi Latihan Rohani terbaik. Memang demikian senyatanya. Karena itu, seperti tercatat di dalam sejarah primi patres, ketika St. Ignatius meninggalkan Paris dan berkunjung ke Azpeitia, Spanyol, di Paris, Petrus Faber sebagai yang dituakan, dengan Latihan Rohani dan persahabatannya dapat menambah tiga anggota baru, yaitu Paschase Broët, Jean Codure, dan Claude Jay. Demikian, sahabatnya yang sebelumnya enam orang pada saat kaul di Montmartre 15 Agustus 1534, maka pada saat berjalan kaki dari Paris ke Venezia menjadi sembilan dan St. Ignatius menyebutnya sembilan kawannya itu sebagai sahabat dalam Tuhan – nueve amigos mios en el Señor (Al “Juan Vedolay”, 24 Juli 1537).   Dari St. Ignatius, St. Petrus Faber mengambil inspirasi dan menerapkan untuk hidupnya, yaitu selalu mencari Tuhan; meniti hidup yang Tuhan sendiri jalani. Demikian juga bisa dimengerti dan dirasakan di dalam diri Paus Fransiskus di dalam pelayanan, penggembalaan, diskresi dan doanya yang semuanya tidak terpisahkan. Jorge M. Bergoglio itu “the Discerning Pope.”   Roma, Minggu, 8 Juni 2025 Hari Raya Pentakosta   L. A. Sardi, S.J.   Kontributor: P. L. A. Sardi, S.J. 

Provindo

The Discerning Pope

KEJESUITAN JORGE MARIO BERGOGLIO (part 1) Bahwa Paus Fransiskus adalah seorang anggota Serikat Jesus, hampir semua orang tahu. Tetapi apa itu artinya, boleh jadi tidak setiap orang mengertinya sehingga mereka terkadang tidak memahami dan menyetujui preferensi-preferensi pastoralnya. Oleh karena itu, ketika Paus Fransiskus wafat pada Senin, 21 April 2025 dan hari itu juga Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. dalam suratnya Death of Pope Francis yang ditujukan kepada seluruh anggota Serikat, saya merasa terbantu untuk memahami dan mensyukuri mengapa Jorge Mario Bergoglio, Paus Jesuit ini, dianugerahkan oleh Tuhan kepada Gereja dan dunia. Surat Jenderal mengenai wafatnya Paus ini pun saya cetak dan saya baca ulang. Waktu itu, saya bawa untuk sangu menunggu dan menemani jalan kaki masuk ke Pintu Suci (Porta Santa) Basilika St. Petrus pukul 15.00. Tidak jauh dari basilika ini terbaring jenazah Paus Fransiskus. Saya ingat, saya rasa-rasakan serta resapkan setidaknya tiga poin pertama yang dicatat oleh Pater Arturo Sosa, S.J. Kita berkabung atas kepergian seorang anggota Serikat yang ditempatkan di dalam pelayanan Gereja Universal dan menjalankan tugas pelayanan Petrus selama lebih dari 12 tahun. Namun demikian, pada saat yang sama, kita merasakan kepergian saudara kita yang kita cintai di dalam Serikat yang kecil dan dina ini (minima Compañía de Jesús), bahwa Jorge Mario Bergolio adalah anugerah Tuhan. Dalam Serikat, kita ambil bagian dari karisma rohani yang sama dan kita menghayati cara yang sama di dalam mengikuti Yesus Kristus Tuhan. Kita bersedih atas kepergiannya, tetapi pada saat yang sama merasakan syukur mendalam kepada Tuhan Bapa kita, karena kita telah menerima begitu banyak kebaikan dari Tuhan melalui seluruh hidup dan cara Paus Fransiskus membimbing Gereja selama masa pontifikalnya dalam kesatuan dan kesinambungan dengan para pendahulunya menerapkan praktik semangat dan arahan Konsili Vatikan II. Paus Fransiskus terus-menerus memperhatikan dengan jeli apa yang sedang terjadi di dunia ini untuk kemudian menawarkan pengharapan bagi semua. Dua ensiklik istimewa Laudato Si, dan Fratelli Tutti mengungkapkan bukan hanya analisis yang mencerahkan tentang situasi kemanusiaan, tetapi dalam terang Injil, dua ensiklik tersebut menawarkan cara-cara menghilangkan musabab ketidakadilan dan memajukan rekonsiliasi.    Tentu saja, tidak akan pernah dilewatkan untuk mengenal dan mensyukuri hal yang sudah menyebar, serta meresapi cara menggereja dua kunci pelayanannya, yaitu pentingnya berjalan bersama dan sentralitas doa. Keduanya membuat kita memahami bahwa Gereja sinodal adalah Gereja yang berjalan bersama, dan artinya Gereja yang berdiskresi dan ditopang oleh doa.     Poin-poin tersebut menyertai hari-hari saya saat Kamis malam, 24 April 2025, antre mengunjungi jenazahnya di Basilika St. Petrus, setelah sebelumnya bersama para Jesuit di Roma mengikuti Ekaristi dengan intensi untuk Paus Fransiskus juga. Ketika itu, pagi-pagi di hari Sabtu, 26 April 2025 berjalan kaki dari Gesù untuk ikut antre bergabung mengikuti misa pemakaman di Piazza St. Petrus, kemudian dilanjutkan dengan menanti mobil jenazah. Akhirnya mengesan juga, berkesempatan datang dan berdoa di makamnya, di Basilika Maria Maggiore pada pagi 30 April 2025, di mana di tempat tersebut St. Ignatius merayakan misa perdana 25 Desember 1538.   Dalam suratnya, Pater Jenderal Arturo Sosa juga mengajak untuk mengingat persetujuan dan peneguhan Universal Apostolic Preferences Serikat (2019). Menurut Pater Arturo Sosa, Paus Fransiskus menegaskan, bahwa preferensi pertama, yaitu menunjukkan jalan menuju Tuhan melalui Latihan Rohani dan diskresi merupakan hal yang krusial karena menjadi basis yang diandaikan bagi tiga preferensi yang lain. Preferensi ini juga mengandaikan relasi para anggota Serikat, relasi para Jesuit dengan Tuhan dalam doa pribadi, doa bersama dan dalam diskresi.   Rasa saya isi surat Jenderal Serikat, Pater Arturo Sosa berkenaan dengan wafat Paus Fransiskus itu demikian padat dan penuh. Oleh karena itu, kemudian saya menganjurkan kepada para frater yang bimbingan dengan saya untuk membaca berulang sebagai bacaan rohani dengan membayangkan bahwa di dalam Paus Frasiskus, kejesuitan itu demikian nyata dan menggerakkan hati banyak orang.   Gratia status Sementara itu Pater Federico Lombardi, S.J. (Federico Lomardi, S.J., Le riflessioni di padre Federico Lombardi su Papa Francesco, 30 April 2025), dalam refleksinya mengenai Paus Fransiskus menyebutkan bahwa Paus Fransiskus hidup di dalam semangat Ignatian dengan unsur-unsur yang ditunjukannya: Gereja yang berjalan, Gereja yang mencari dan menemukan kehendak Allah dalam segala, di dalam panggilan ke perutusan untuk mewartakan Injil hingga batas-batas bumi. Lebih rinci Pater menyebut unsur-unsur “spiritual” hidup pribadinya. Pertama, berkenaan dengan semangat dan kesehatan fisik dikatakan bahwa ini adalah gratia status – la grazia di stato; artinya itu rahmat yang diberikan Tuhan menyertai perutusan dan status hidupnya. Tentang hidup pribadinya, Pater Lombardi di waktu-waktu awal pontificalnya mengetahui bahwa di Santa Marta dia selalu melewatkan waktu hening doa di kapel. Kebiasaan dan cara hidupnya adalah dia pergi tidur cukup awal supaya bisa bangun segar berdoa di pagi hari, tanpa gangguan.    Kemudian, banyak orang juga disadarkan oleh surat apostolik Gaudete et Exultate tentang panggilan ke kekudusan untuk semua. Lalu di dalam ensilik Dilexit nos (24 April 2024), Paus mengungkapkan secara jelas devosinya terhadap Hati Kudus Yesus. Singkatnya, semua adalah buah doa-doanya serta relasi pribadinya dengan Tuhan. Di dalam relasi pastoral, Federico Lombardi mengatakan bahwa karisma Paus Fransiskus tampak di dalam kedekatannya dengan semua orang. Mereka merasa dekat, tidak ada jarak dan penghalang. Halnya konkret, sederhana dan langsung, serta ingin berdialog dengan siapapun. Pater Lombardi mengatakan bahwa dirinya diyakinkan kalau Paus Fransiskus memiliki anugerah istimewa dalam pendekatan personal yang sederhana, tulus, dan langsung dengan hati.     Kontributor: P. L. A. Sardi, S.J. 

Provindo

Menapaki Jalan Kekudusan dalam Serikat Jesus

Kaul Akhir Jumat, 15 Agustus 2025, pada Pesta Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, merupakan hari yang penuh syukur bagi Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Terdapat tujuh Pater Jesuit yang mengucapkan kaul akhir. Ketujuh Pater tersebut adalah Pater Thomas Septi Widhiyudana, S.J., Pater Christoforus Bayu Risanto, S.J., Pater Peter Benedicto Devantara, S.J., Pater Bernadus Dirgaprimawan, S.J., Pater Agustinus Winaryanta, S.J., Pater Alexander Koko Siswijayanto, S.J., dan Pater Christoforus Christiono Puspo, S.J. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Provincial, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. di Kapel Kolese Kanisius, Jakarta. Perayaan Ekaristi dihadiri oleh keluarga ketujuh kaules, umat, serta para Jesuit dari berbagai komunitas. Perayaan Ekaristi kaul akhir tersebut, juga ditayangkan secara live streaming di kanal Youtube Jesuit Indonesia.     Dalam homili yang disampaikan oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., umat diajak untuk melihat kembali sebuah momen penting dalam sejarah Gereja, yakni reformasi yang digagas oleh Paus Gregorius VII. Reformasi yang dikenal sebagai Reformasi Gregorian tersebut merupakan suatu upaya untuk membebaskan Gereja dari cengkeraman kekuasaan duniawi para raja. Di balik langkah-langkah keras dan strategis itu, tersimpan satu hal yang mendasar, yaitu upaya untuk menghidupi kekudusan. Bentuk konkret kekudusan yang dihidupi oleh Paus Gregorius VII yaitu suatu perjuangan untuk menjaga kemurnian Gereja sebagai Tubuh Kristus. Berangkat dari refleksi historis ini, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., kemudian menuntun perhatian umat, secara khusus para kaules; kepada makna Kaul Akhir dalam Serikat Jesus. Kaul ini bukan sekadar pernyataan pribadi, melainkan pengakuan dari Serikat bahwa seseorang telah diterima secara penuh sebagai anggota dalam tubuh Serikat Jesus. Dengan diterimanya seseorang secara penuh, ia tak hanya dipersatukan secara spiritual dan struktural, tetapi juga secara misi: terlibat aktif dalam membentuk wajah Serikat Jesus Universal.   Para kaules diundang untuk menghidupi kekudusan secara nyata, seperti yang dilakukan oleh Paus Gregorius VII; namun dalam konteks zaman serta medan perutusan mereka masing-masing. Kekudusan tersebut tidak bersifat abstrak, tetapi tampak nyata dalam cara mereka berpikir, berkata, dan bertindak. Semua ini dijalani dalam semangat Latihan Rohani dan Konstitusi Serikat Jesus, yang menjadi dasar pijakan hidup dan pelayanan setiap Jesuit.   Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. menambahkan, bahwa kehadiran mereka dalam Serikat merupakan suatu anugerah, sekaligus tanggung jawab. Serikat akan menerima warna baru lewat hidup dan kesaksian mereka. Namun, hal ini juga munculkan pertanyaan reflektif yang tajam: “Apakah Serikat menjadi semakin berwarna karena kehadiran mereka, atau justru menjadi pucat?”   Pertanyaan tersebut bukan sekadar retorika, melainkan undangan untuk terus memperbarui diri sebab Kaul Akhir bukanlah garis akhir melainkan awal baru dalam keterlibatan total untuk misi Allah melalui Serikat Jesus. Seperti para kudus yang telah lebih dahulu berjuang, para Jesuit yang berkaul akhir hari ini dipanggil untuk menghidupi kekudusan itu dengan sepenuh hati dan segenap hidup mereka.   Di penghujung Ekaristi, Pater Alexander Koko Siswijayanto, S.J., mewakili ketujuh kaules memberikan sambutan. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa mereka merasa tidak pantas untuk mengucapkan Kaul Akhir. Namun justru dalam ketidaksempurnaan itulah, mereka merasakan rahmat Allah yang bekerja secara nyata dalam hidup mereka; rahmat yang menopang, membentuk, dan menuntun mereka hingga hari pengucapan kaul akhir dalam Serikat Jesus.     Mereka bersyukur atas penyertaan Tuhan yang tak pernah berhenti, serta berterima kasih atas dukungan dari para formator, rekan-rekan seperjalanan, keluarga, dan umat yang telah menjadi bagian dari proses formasi mereka. Kaul Akhir, bagi mereka bukanlah puncak pencapaian, tetapi penegasan akan kesediaan untuk terus dibentuk, dan diutus. Pater Koko memohon doa agar beliau, dan rekan-rekannya dapat menghidupi panggilan sebagai Jesuit dengan kesetiaan dan kerendahan hati.   Kontributor: Sch. Ignatius Dio Ernanda Johandika, S.J.