Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan

Karya Pendidikan

Pergi, Kobarkanlah Seluruh Dunia!

“I will not have my faith questioned.” Berikut merupakan susunan kata bermakna yang diucapkan oleh Santo Ignatius Loyola pada saat menghadapi pengadilan pertama dari sekian kali pengadilan-pengadilan lainnya, mempertanyakan Latihan Rohani yang ia imani dan hidupi. Kegigihannya sebagai seorang ksatria sebelum kakinya terluka saat berperang membawa dirinya menjadi seseorang yang gigih pula dalam menghidupi peziarahannya. Adegan tersebut merupakan salah satu bagian dari pementasan teater INIGO: Ignatius of Loyola, sebuah drama yang mengisahkan kembali perjalanan hidup Santo Ignatius Loyola yang ditulis oleh Jonathan Moore. Drama tersebut dipersembahkan oleh Komunitas SMA Kolese Gonzaga di Ciputra Artpreneur Theater pada 23 September 2025.     Keselarasan Satu Komunitas dalam Penyelenggaraan Teater INIGO: Ignatius of Loyola Salah satu nilai yang dikembangkan untuk mewujudkan visi dan misi SMA Kolese Gonzaga adalah bekerja sama yang mampu menuntun satu komunitas untuk menjalin kebersamaan dalam semangat persaudaraan. Penyelenggaraan Teater INIGO: Ignatius of Loyola merupakan usaha konkret sekolah dalam mewujudnyatakan nilai yang dikembangkan tersebut. Tentunya, pada teater kali ini, pemilihan naskah kisah hidup nyata dari Santo Ignatius Loyola yang ditulis oleh Jonathan Moore tidak jauh dari identitas SMA Kolese Gonzaga sebagai salah satu sekolah di Indonesia yang dikelola oleh Serikat Jesus. Penyelenggaraan teater ini juga membawa setiap individu yang melibatkan diri di dalamnya untuk berefleksi bersama.   Pementasan teater ini merupakan gagasan langsung dari Pater Eduard Calistus Ratu Dopo, S.J. M.Ed., Kepala SMA Kolese Gonzaga, yang kemudian langsung diwujudnyatakan melalui proses seleksi para siswa yang tertarik untuk menantang diri dengan terlibat sebagai pemain di dalamnya. Berbekal naskah drama dengan kalimat-kalimat panjang penuh makna yang kemudian dikembangkan dengan ide-ide kreatif hasil kolaborasi bersama dari Pater Emmanuel Baskoro Poedjinoegroho, S.J. sebagai Delegat Pendidikan Serikat Jesus di Indonesia, Bapak Ibe Karyanto sebagai sutradara dan Kak Putri Dewi sebagai asisten sutradara, Kak Janabelia Ayu Tafarannisa sebagai koreografer, bahkan juga melibatkan para siswa, Adiel Uri Zabdianto dan kawan-kawan, yang ikut menjadi komposer musik, serta para guru yang menjalankan peran ganda tidak hanya menjadi pendamping pengembangan karakter siswa di dalam kelas tetapi juga di dalam proses penyelenggaraan kegiatan ini, menjadikan teater ini semakin menarik dengan adanya musik dan tarian yang membuat semakin banyak siswa terlibat di dalamnya misalnya sebagai pemain tambahan yang menari, Suara Gonzaga (Kelompok Paduan Suara SMA Kolese Gonzaga), dan Gonzaga Big Band Orchestra.   Seluruh siswa SMA Kolese Gonzaga yang melibatkan diri dalam proses persiapan teater ini, tidak hanya sebagai pemeran utama dan pendukung, pemusik, penyanyi, dan penari, serta panitia artistik dan produksi, tetapi juga diberi kesempatan untuk menuangkan ide-ide kreatif mereka melalui kegiatan Gonzsale. Kegiatan yang dikoordinasi oleh para senator dan didampingi oleh Pater Yulius Suroso, S.J. sebagai Moderator SMA Kolese Gonzaga, menciptakan lingkungan yang suportif sebagai satu komunitas untuk bersama-sama mencari dana melalui penjualan berbagai produk, seperti suvenir, makanan, dan lain-lain. Intensitas latihan yang semakin tinggi, secara khusus saat sudah mendekati pementasan, menggerakan hati para orang tua siswa untuk saling bahu membahu meluangkan waktu dan tenaga memberikan dukungan baik secara moral dan material. Bahkan, satu hari sebelum pementasan, para orang tua siswa juga membuatkan kukis manis yang dilengkapi dengan tulisan kalimat penyemangat untuk para guru dan siswa yang terlibat di dalamnya.   Ignatius Loyola bersama dengan Isabel Roser. (Dokumentasi: Tim Dokumentasi pementasan teater INIGO: Ignatius of Loyola)   Proses Pembelajaran Holistik melalui Penyelenggaraan Teater INIGO: Ignatius of Loyola Melalui penyelenggaraan teater INIGO: Ignatius of Loyola, para siswa menggunakan kesempatan ini untuk mengembangkan kemampuan serta keterampilan mereka agar menjadi manusia unggul yang mampu diandalkan. Hal ini dikarenakan selama proses persiapan teater ini, para siswa diarahkan untuk lebih mengenal diri secara utuh sehingga semakin siap menjadi agen perubahan dan pembaharuan yang selalu memiliki sikap kerendahan hati untuk belajar sepanjang hayat. Dengan begitu, mereka juga akan bertumbuh dan berkembang menjadi seorang pemimpin yang mampu untuk selalu beradaptasi dan berinovasi tidak hanya dengan kata-kata tetapi juga dengan tindakan. Selain itu, dari segi rohani, mereka juga dapat semakin mendalami Spiritualitas Ignasian yang dikembangkan melalui Latihan Rohani yang disusun oleh Santo Ignatius Loyola, melalui kisah hidup nyata yang digambarkan dalam teater ini. Oleh karena itu, para siswa menjadi semakin mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai pentingnya Examen Conscientiae yang telah dipraktikkan di sekolah setiap harinya. Selanjutnya, mereka juga mampu menumbuhkan dan mengembangkan rasa solidaritas yang tinggi dalam menjalankan tanggung jawab bersama terhadap suatu tujuan yang sama, yaitu menyukseskan teater ini demi kemuliaan Allah yang lebih besar.   Penyelenggaraan teater INIGO: Ignatius of Loyola mampu memberikan tantangan kepada para siswa agar terampil dalam berimajinasi menggunakan bahasa Inggris, terutama dalam kemampuan berbicara dengan penuh kepercayaan diri agar dapat lebih ekspresif dan interaktif. Selain itu, pertunjukan yang mengisahkan perjalanan hidup Santo Ignatius Loyola ini juga mengarahkan para siswa agar semakin mampu memvisualisasikan Latihan Rohani dengan semangat magis dalam mengenali dan mewujudkan kehendak Allah di setiap langkah kehidupan. Teater ini merupakan perwujudan dari pertunjukan seni sastra yang bermula dari suatu teks naskah drama yang ditulis oleh Jonathan Moore dan dikembangkan dengan melibatkan seni musik dan seni tari. Estetika yang tertuang melalui seni rupa yang diciptakan oleh para siswa dan guru juga turut dipamerkan di area depan teater untuk menemani para audiens yang sedang menunggu sebelum dimulainya pertunjukan. Selanjutnya, pertunjukan ini juga telah berhasil untuk tidak hanya menyampaikan namun juga melestarikan dan merefleksikan kisah hidup Santo Ignatius Loyola di masa lampau. Secara garis besar, penyelenggaraan pementasan ini merupakan pembelajaran kontekstual berbasis proyek yang berpusat pada para siswa agar semakin terdorong untuk lebih aktif dalam memecahkan suatu permasalahan kompleks dalam dunia nyata.      Kisah hidup Santo Ignatius Loyola yang dibawakan dalam pementasan ini sungguh memberikan inspirasi tidak hanya bagi berbagai pihak yang terlibat dalam masa persiapan tetapi juga bagi para penonton. Harapannya, pementasan ini mampu mengarahkan setiap individu untuk dapat mencecap kembali apa yang pernah dialami dan dirasakan. Ad Maiorem Dei Gloriam.   Kontributor: Theresia Rianika Septianingtyas, S.Pd. – Guru Kolese Gonzaga

Karya Pendidikan

Menjemput Kebajikan ke Benua Hijau

Suhu di bawah 20 derajat Celcius dengan cuaca yang berangin di Saint Ignatius’ College, Riverview, Sydney, Australia tidak mengurangi kehangatan yang kami rasakan melalui pelatihan yang diselenggarakan oleh Jesuit Conference of Asia Pacific Education pada 8-11 Oktober 2024 lalu. Pelatihan tersebut bertujuan tidak hanya agar setiap peserta yang datang dari berbagai negara Asia Pasifik mendapatkan pemahaman terkait dengan Ignatian Leadership namun juga agar setiap peserta dapat membagikan pengalamannya di sekolah masing-masing sehingga hubungan persaudaraan menjadi terjalin. Pelatihan ini mengundang peserta yang merupakan guru maupun karyawan sekolah Jesuit dari berbagai negara Asia Pasifik, seperti; Australia sebagai tuan rumah, Timor Leste, Cina, Filipina, Malaysia, Jepang, Micronesia, dan Kamboja. Ada tiga topik yang didalami dalam pertemuan ini, yaitu; Authentic and Trust dengan fasilitator Jennie Hickey dari Australia, Communal Discernment bersama Pater Non dan tim (Jepang), dan Collaboration bersama Pater Jboy dari Filipina.   Pribadi Otentik yang Siap menjadi Bagian dari Komunitas yang Saling Percaya Sebagai pemimpin dalam suatu komunitas, terkadang komunitas tersebut memandang kita sebatas sebagai pemimpin saja, tidak lebih sebagai diri sendiri. Namun, kita kembali diteguhkan bahwa hal tersebut dimulai dari dalam diri yang juga mengenal diri sendiri dengan baik karena bagaimana kita bisa mengharapkan orang lain mengenal kita apabila kita sendiri belum mengetahui siapa diri kita sendiri. Examen conscientiae adalah salah satu cara yang dapat dilakukan secara individu untuk mengenali diri sendiri; apa yang dialami dan dirasakan; apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan. Tentunya, examen conscientiae dimulai dengan mengucap syukur kepada Tuhan sebagai wujud nyata bahwa kita mempercayai kehadiran Tuhan dalam setiap pengalaman dan perasaan kita.   Sebagai manusia, kita memiliki berbagai macam keterbatasan. Bahkan, terkadang kita cenderung menarik diri dari Tuhan apabila ada hal yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita. Namun, kita kembali diingatkan bahwa kita harus senantiasa melihat segala sesuatu menggunakan mata Tuhan agar terbebas dari ego diri sebagai manusia. Terkadang manusia menggunakan mantra ‘it is okay to be a human.’ Namun, sering kali, hal tersebut dijadikan pembenaran saat memikirkan atau melakukan suatu hal yang tidak seturut dengan Citra Allah. Namun, sebagai manusia yang serupa dengan Citra Allah, kita harus sadar sepenuhnya bahwa Tuhan senantiasa mendorong diri kita ke arah kemajuan dan peningkatan dengan memberikan tantangan berupa kondisi dan situasi yang terkadang tidak nyaman untuk kita.   Menjadi pemimpin yang otentik juga berarti siap ketika ada yang membenci dan bahkan menghakimi. Hal yang wajar terjadi di dalam suatu komunitas. Namun, yang terpenting adalah diri sendiri yang sudah mengenal dan menerima dengan segala kekurangan dan kelemahan yang dimiliki. Selanjutnya, adalah benar hal yang dipikirkan, dilakukan, atau diputuskan sebagai pemimpin selama hal tersebut bukan semata-mata untuk memuliakan diri sendiri melainkan Allah. Apabila kita sudah menjadi pribadi yang autentik, maka kita akan siap bergabung ke dalam suatu komunitas agar dapat saling merayakan pribadi yang autentik satu sama lain untuk bertumbuh dan berkembang bersama dengan rasa percaya dalam suatu komunitas. Sehingga, kita juga siap untuk selalu menggeser dari ‘saya’ sebagai seorang individu kepada ‘kita’ sebagai seorang yang merupakan bagian dari suatu komunitas.     Pribadi yang Mau Mendengarkan: Upaya Menciptakan Kolaborasi  Dalam topik Communal Discernment, kami diberikan dua kesempatan untuk mempraktekkannya dengan topik dan kelompok yang berbeda. Dari kedua dinamika yang terjadi, kami menyadari bahwa kunci dasar dari Communal Discernment adalah komunikasi yang sehat secara dua arah. Saat melakukannya pun, kita harus berfokus bukan kepada tujuan pribadi untuk memuliakan diri sendiri tetapi untuk memuliakan Allah. Fokus kita adalah kepada Tuhan yang selalu hadir baik melalui fisik maupun emosi, spiritual maupun sosial agar kita dapat menjadi Kerajaan Allah dalam rupa manusia. Kepemimpinan bukan merupakan hal yang dilakukan berdasarkan jabatan dari atas ke bawah karena pada dasarnya kita berada di tempat yang sama untuk mencapai tujuan yang sama. Maka dari itu, apapun bagian yang kita ambil dari suatu komunitas, hendaklah kita memiliki sikap rendah hati untuk senantiasa mau mendengarkan sepenuh hati agar terjalin kolaborasi yang harmonis untuk mencapai tujuan bersama.   Saya merasa sangat bersyukur. Sebagai guru muda, saya sadar bahwa peziarahan hidup saya dalam menghidupi peran ini masih panjang. Banyak hal yang masih perlu saya pelajari. Saya banyak belajar dari orang-orang hebat selama pelatihan ini. Walaupun mereka memiliki peran penting di sekolah masing-masing, tidak hanya sebagai guru namun juga sebagai direktur dari bidang tertentu dan bahkan Kepala Sekolah, namun mereka tetap bersikap rendah hati untuk terus belajar. Hal ini mengingatkan saya akan salah satu sikap Yesus yang dengan rendah hati juga senantiasa memiliki kemauan belajar dari murid-murid-Nya sendiri.   Kontributor: Theresia Rianika Septianingtyas – SMA Kolese Gonzaga

Karya Pendidikan

“Dengan Ketekunan, Kita Tumbuh Bersama”

Pada 25 Oktober 2024 lalu, sebanyak 478 orang yang terdiri dari para guru, tamu undangan, dan siswa-siswi menyaksikan momen istimewa Peresmian Gedung di Kolese Le Cocq d’Armandville. Tidak hanya peresmian gedung baru, acara ini juga digelar sebagai puncak Ajang Kreativitas Adhi Luhur (AKAL). AKAL adalah sebuah kegiatan rutin dua tahunan yang bertujuan untuk menyalurkan bakat serta kreativitas para siswa Kolese Jesuit di ujung timur Indonesia ini.   “Dengan Ketekunan, Kita Tumbuh Bersama” menjadi tema Peresmian Gedung dan acara AKAL kali ini. Tema ini mencerminkan semangat kebersamaan dan kerja keras yang menjadi fondasi kesuksesan bersama. Ketekunan ini terpancar dalam berbagai aspek acara, mulai dari penari kolosal yang giat berlatih, hingga panitia yang mempersiapkan segala hal sejak sebulan terakhir.     Tamu Istimewa AKAL kali ini dihadiri sejumlah tamu istimewa, di antaranya Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, perwakilan Perkumpulan Alumni Kolese Jesuit (PAKJ), Pejabat Daerah, Anggota MRP (Majelis Rakyat Papua), Perwakilan PSW YPPK (Pengurus Sekolah Wilayah Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik), dan Kepala Dinas Kependudukan Catatan Sipil Provinsi Papua Tengah.   Acara dibuka dengan Ekaristi yang dipimpin oleh Pater Provinsial, kemudian dilanjutkan dengan pemberkatan gedung baru. Setelah pemberkatan gedung, dilaksanakan pemotongan pita sebagai penanda peresmian gedung ini oleh Pater Provinsial, Rektor Kolese Le Cocq, Perwakilan Pemerintah Provinsi, dan juga Pak Matheus, Wakil Ketua II Majelis Rakyat Papua.   Ketua Panitia AKAL, Elvin Sampary Giyai, dalam sambutannya, menjelaskan makna tema “Dengan Ketekunan Kita Tumbuh Bersama.” Prosesi dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Tanah Papua. Tampil pula pertunjukan spesial, mulai dari monolog dari Stifani Semboor dan instrumen solo oleh Rika Rinanti Radja serta tari kolosal.     Karya Bersama Sambutan-sambutan penting juga disampaikan oleh beberapa pihak. Dalam sambutannya, Rektor Kolese Le Cocq sekaligus Badan Pengurus YPPK, Pater Johanes Sudrijanta, S.J., menceritakan proses jatuh bangun pembangunan gedung induk yang hampir memakan waktu dua tahun lebih.   Di balik pembangunan paling megah di Nabire ini, Pater Sudri menyampaikan bahwa ada sosok penting penyumbang ide, gagasan, bahkan materi, yakni Pak Frans. Beliau merupakan seorang arsitek yang dulu pernah bersekolah di Kolese Loyola. Berkatnya, anggaran pembangunan yang diperkirakan mencapai 15 miliar bisa dipangkas menjadi 11 miliar tanpa mengurangi kualitas dan fungsinya.     Ketika diwawancarai, Pak Frans menyampaikan bahwa gedung ini dirancang dengan menerapkan ilmu fisika bangunan untuk mempertahankan kualitas dan keamanan sehingga tahan gempa. Mengingat Nabire adalah wilayah gempa yang membuat tidak ada bangunan yang lebih dari dua lantai di gerbang Cendrawasih ini. Pak Frans menambahkan, “Dinding bangunan luar ini dirancang memakai solid glass block agar mengurangi resiko, namun fungsi kaca tersebut diambil alih oleh lubang-lubang kecil sebagai ventilasi untuk tetap menjaga kualitas udara.”     Harapan Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, menyampaikan bahwa bangunan yang baru ini kiranya menjadi semangat dan gairah baru bagi keluarga besar Kolese Le Cocq sehingga mampu menghadirkan pelayanan pendidikan yang bermutu di Papua secara umum dan Papua Tengah secara khusus. Bangunan yang sedemikian megah dan kokoh ini diharapkan mampu digunakan semaksimal mungkin dalam mengembangkan kemampuan siswa dalam segala bidang.   Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah, Ibu Rita Dessy Fauziah Ananda, S.T. selaku perwakilan Pj. Gubernur Papua Tengah dalam sambutannya menyampaikan bahwa peresmian Gedung Induk ini menjadi bukti keseriusan Kolese Le Cocq sebagai salah satu sekolah Katolik terbaik di Papua untuk ikut memberikan akses pendidikan yang bermutu bagi putra-putri Papua.   Bu Dessy mengapresiasi aneka usaha dan kerja keras para Jesuit dan tenaga pengajar di Kolese Le Cocq yang terus berusaha menghadirkan pendidikan yang berkualitas di kota ini. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan selalu mendukung berbagai usaha dan niat baik para pengelola dan pelaksana sekolah ini, baik dalam bentuk dukungan moril dan materil sehingga semakin berkembang dan menghasilkan lulusan bermutu.     Tari Kolosal Acara puncak Peresmian Gedung Induk dan AKAL 2024 ditutup dengan tari kolosal. Sekitar 95 penari menyajikan enam tarian berbeda. Pertama, tarian Hati Su Tatinggal di Papua. Ini menggambarkan betapa indahnya keberagaman yang ada di Nabire dan juga ucapan syukur atas keindahan tanah leluhur mulai dari pegunungan sampai pesisir pantai. Kedua, Orsa Modao. Ini merupakan suatu lagu yang berasal dari Napan yang berarti “Hari yang Baik”. Ketiga adalah Waita, melalui prosesi bakar batu dalam tarian ini, kita menghaturkan ucapan syukur atas damai. Keempat, tari Kecak Sanghyang Dedari, di mana tarian ini terinspirasi dari kisah pertemuan antara Hanoman dan Arjuna. Melalui tarian ini, kita berharap bahwa dengan selalu melibatkan Tuhan terutama dalam acara ini, gedung baru Kolese Le Cocq di Papua ini menjadi gedung yang kokoh dan kuat serta bermanfaat baik.   Yang kelima, tarian Pangkur Sagu, menggambarkan kegiatan masyarakat Papua ketika bersiap memanen Sagu. Tarian ini menggambarkan niat para siswa untuk datang dan memasuki dunia pendidikan untuk menemukan sumber penghidupan. Terakhir, tarian Pergaulan Wi Sisi. Tarian ini dibawakan secara massal di wilayah pegunungan dan berasal dari suku Dani. Tarian ini adalah suatu ungkapan harapan agar rasa syukur dan niat mengumpulkan bekal masa depan bagi generasi muda dapat menular bagi semua orang.   Bertumbuh Bersama Pada akhirnya, acara ini kiranya mampu menjadi gairah baru bagi seluruh keluarga besar Kolese Le Cocq d’Armandville. Aneka ketekunan, kerja keras, dan pengorbanan semua pihak, termasuk panitia, para penari, dan para pendukung, kiranya membuat setiap pribadi di dalamnya bertumbuh.   Kontributor: Tim Dokumentasi AKAL 2024

Karya Pendidikan

Kemah Budaya Wujudkan Budaya Baik

Pendidikan Pramuka adalah salah satu proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup dan akhlak mulia sesuai dengan Tri Satya dan Dasa Dharma. Hal tersebut senada dengan Misi Yayasan Kanisius yaitu menyelenggarakan pendidikan yang unggul agar peserta didik berkembang menjadi pribadi yang pancasilais, cerdas, dan berkarakter.   Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta dalam rangkaian kegiatan HUT ke-106 tahun mengadakan kegiatan Jambore Penggalang Kanisius di Bumi Perkemahan Prambanan. Kegiatan ini dilaksanakan pada 16-18 Oktober 2024 dan diikuti oleh 1.008 peserta dari seluruh sekolah Kanisius di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepanitiaan Jambore Penggalang ini melibatkan 102 pembina dari semua sekolah tersebut. Sekolah Kanisius di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta terbagi dalam 6 KSK (Komunitas Sekolah Kanisius), yaitu Kulon Progo, Sleman Barat, Sleman Timur, Kota Yogyakarta, Bantul, dan Gunungkidul.     Jambore Penggalang Kanisius tahun ini bertajuk Kemah Budaya. Hal tersebut yang melatarbelakangi terpilihnya Bumi Perkemahan Candi Prambanan sebagai tempat diadakannya acara. Adik-adik penggalang dikenalkan berbagai peninggalan bersejarah yang ada di komplek Candi Prambanan dengan melakukan jelajah candi. Selain itu, mereka juga diajak untuk menyaksikan Sendratari Ramayana sebagai salah satu peninggalan budaya Indonesia. Lebih luas lagi, pengenalan kebudayaan nasional dilakukan melalui kegiatan Defile Nusantara yang diperankan oleh adik-adik dari 6 KSK tersebut. Pembagian wilayah Defile Nusantara sebagai berikut:  KSK Kulon Progo mengusung budaya Sulawesi KSK Sleman Barat mengusung budaya Bali KSK Kota Yogyakarta mengusung budaya Papua KSK Bantul mengusung budaya Kalimantan KSK Sleman Timur mengusung budaya Sumatera KSK Gunung Kidul mengusung budaya DIY   Pada saat defile adik-adik penggalang masing-masing KSK menampilkan berbagai pertunjukan kesenian daerah sesuai dengan pembagian yang sudah diberikan. Tari-tarian dan nyanyian daerah menyemarakkan Defile Nusantara siang itu.     Jambore Penggalang Kanisius tahun ini juga mengusung kearifan lokal Yogyakarta melalui kegiatan wisata kuliner tradisional khas Yogyakarta, seperti peyek belut, jadah tempe, slondok, madu mangsa, manggleng, marning, dan sebagainya.   Rangkaian kegiatan Jambore Penggalang Kanisius ini diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pater J. Heru Hendarto, S.J. sebagai selebran utama dengan konselebran PP Aria Dewanto, S.J., Thomas Surya Awangga, S.J., Azismardopo Subroto, S.J., Rm. Herman Yoseph SS, Pr, dan Rm. AR. Yudono Suwondo, Pr. Setelah perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan upacara pembukaan.   Kepala Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta Ibu Nur Sukapti, S.Pd. melakukan pemukulan gong yang diikuti dua kali tepuk pramuka oleh seluruh peserta menjadi tanda dibukanya kegiatan. Upacara pembukaan diakhiri dengan laporan persiapan pelaksanaan kegiatan Jambore Penggalang Kanisius oleh Kak Yanuar Setyarso dan Kak Kensi Jati Hananingrum selaku Ketua 1 dan 2.   Jambore Penggalang Kanisius kali ini mengusung tema “Penggalang Kanisius Tak Gentar” : Penggalang Kanisius Terlibat Aktif, Generasi Tangguh, dan Reflektif. Dengan tema tersebut, adik-adik penggalang Kanisius diharapkan semakin terlibat aktif, tangguh, dan reflektif dalam menghadapi tantangan zaman saat ini. Perkemahan ini dikemas dengan dinamika kampung, di mana setiap kampung dipimpin oleh lurah dan carik. Dalam dinamika kampung ini dilakukan banyak kegiatan yang diharapkan dapat menumbuhkan karakter tangguh, pantang menyerah, tidak rapuh, dan selalu gembira. Selain itu, adik-adik penggalang dilatih menjadi Generasi Reflektif sebagai salah satu penguatan nilai dasar Kanisius (Kedisiplinan, Keunggulan, Kepedulian, Kejujuran, dan Kemerdekaan). Dalam kegiatan perkemahan Jambore Penggalang Kanisius ini, adik-adik diajak untuk berefleksi dan merumuskan aksi sebagai tindak lanjutnya. Harapannya, kegiatan refleksi dan aksi ini menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.     Dalam Jambore Penggalang Kanisius para pembina pendamping menemani adik-adik penggalang untuk berpetualang selama tiga hari dua malam. Kakak-kakak pembina memfasilitasi adik-adik dalam bekerja sama dan peduli terhadap teman serta lingkungan. Kepedulian lingkungan diwujudkan dengan menjaga kebersihan dan kerapian tenda serta pemilahan sampah di kampung masing-masing. Selain itu, adik-adik penggalang juga diajak bergembira melalui fun game dan dinamika keterampilan kepramukaan.   Kegiatan Jambore Penggalang Kanisius ini juga memperhatikan keamanan dan keselamatan bagi para peserta kemah maupun pembina pendamping (Budaya Aman). Panitia bekerja sama dengan Rumah Sakit Panti Rini dalam rangka mengantisipasi keadaan darurat yang dapat terjadi selama kegiatan. Selain itu, tim P3K dari kepanitiaan juga siap memberikan pertolongan pertama sesuai prosedur keselamatan. Budaya aman juga diciptakan dengan membedakan lokasi tenda putra dan putri. Untuk tenda putra di kampung Tangguh dan Aktif sedangkan tenda putri di kampung Reflektif dan Integritas.   Jambore Penggalang 106 tahun Kanisius ini diharapkan menjadi fondasi yang kuat dalam membentuk pribadi yang cerdas dan berkarakter. Pembelajaran-pembelajaran baik dalam kegiatan ini, harapannya, dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik di keluarga, sekolah, gereja, maupun masyarakat. Semua dinamika ini juga menjadi usaha dalam mengimplementasikan UAP (Universal Apostolic Preferences) pokok menemani kaum muda menciptakan masa depan yang penuh harapan dan bekerjasama dalam merawat bumi rumah kita bersama.   Kontributor: Panitia Jambore Penggalang Yayasan Kanisius

Karya Pendidikan

UAP dalam Konteks Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan

Michael College Ministry (MCM) Surakarta pada Minggu, 15 September 2024 menyelenggarakan kegiatan Bincang Santai Spiritualitas Ignatian: UAP dalam Konteks Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan. Ini merupakan rangkaian kegiatan Ignatian Day di Aula Politeknik ATMI Surakarta. Kegiatan ini dihadiri  48 orang, yang terdiri atas para guru agama Katolik dari SMP/SMA/SMK yang dikelola Lembaga Pendidikan  Katolik dan para katekis dari paroki-paroki yang berada di Kota Surakarta dan sekitarnya. Hadir pula beberapa kepala sekolah SMA dan SMK dari sekolah yayasan Katolik serta biarawan dan biarawati. Tema yang diangkat dalam kegiatan ini Memupuk Iman dalam Kegalauan Sehari-hari dengan narasumber Pater Albertus Bagus Laksana, S.J. Rektor Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.   Tahun Peziarahan Harapan  Dewasa ini, salah satu tantangan iman yang dihadapi Gereja adalah hilangnya harapan. Harapan merupakan dasar dalam menjalani hidup. Seorang peziarah yang tanpa harapan sama artinya dengan peziarahan tanpa tujuan. Itulah mengapa harapan begitu penting, terutama bagi kaum muda. Hal inilah yang menjadi dasar Paus Fransiskus menetapkan tahun 2025 sebagai tahun peziarahan harapan.   Banyak orang tua yang hidup sendirian kehilangan harapan akan hari tuanya. Keluarga muda yang harus menanggung beban ekonomi atau menjadi sandwich generation kehilangan harapannya untuk menabung demi masa depan. Anak-anak yang sejak dini sudah terpapar banjir informasi yang tidak bisa dikelola sesuai dengan usianya mengalami keputusasaan dengan situasi saat ini. Para pendidik, pembimbing, guru, dan katekis dipanggil untuk melakukan pendampingan yang sesuai bagi kaum muda agar tidak kehilangan harapan, selaras dengan salah satu tema UAP (Universal Apostolic Preferences) yaitu menemani kaum muda menemukan masa depan yang penuh harapan. Para pendidik, pembimbing, guru, dan katekis diajak mengenal spiritualitas Ignatian untuk mendampingi kaum muda.   “Apakah pendampingan kita cukup kuat untuk memberikan pengharapan bagi anak-anak dan kaum muda?” tanya Pater Bagus Laksana. Ini menjadi pertanyaan reflektif bagi seluruh peserta.    Kasus-kasus terkini Akhir-akhir ini sering terdengar kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri. Banyak orang menderita, depresi, dan mengalami tekanan. Hal ini disebabkan beberapa faktor antara lain tekanan hidup, kematangan otak yang belum tercapai, banjir arus informasi serta faktor biologis, psikologis dan sosial.   Usaha pencegahan dan mengatasi depresi Remaja sekarang sudah terpapar begitu banyak arus informasi bahkan sejak mereka kecil. Banyaknya arus informasi ini tidak sepadan dengan kematangan otak mereka dalam memproses informasi yang ada. Sedangkan kematangan otak manusia baru terjadi pada usia 25 tahun. Itulah mengapa banyak remaja yang ditemukan mengidap depresi. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI 2023) angka tertinggi pengidap depresi terjadi di usia 15-24 tahun. Depresi yang tidak tertangani bisa memicu seseorang untuk melakukan percobaan bunuh diri. Bunuh diri adalah puncak dari masalah kesehatan mental masyarakat dan menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia.    Dalam masyarakat orang yang mengalami depresi atau melakukan percobaan bunuh diri dicap tidak beriman kuat. Lalu, bagaimana dengan formatio iman? Sebagai pendamping orang muda, kita melakukan perjumpaan fisik (hadir secara langsung), memberikan perhatian serta dukungan dan mendengarkan serta memberi ruang bagi mereka. Stop menghakimi permasalahan yang sedang mereka hadapi. Selain itu juga dengan menaikkan citra diri, perlunya kehadiran orang tua dalam mendampingi dan meningkatkan resiliensi mental.   Membendung banjir arus informasi harus dilakukan di sekolah-sekolah agar anak tidak menerima informasi-informasi palsu dan memberikan tekanan pada otak yang mestinya tidak perlu dipikirkan. Ponsel bisa tidak digunakan ketika kegiatan belajar-mengajar sekolah. Hal ini sudah dilakukan di negara Amerika. Mereka dipaksa untuk tidak memakai ponsel sehingga sekolah menyediakan laptop atau PC untuk pembelajaran.     Apa peran spiritualitas Ignatian?  Spiritualitas Ignatian mengajak pembimbing mendampingi anak muda untuk melakukan latihan rohani sehingga menumbuhkan motivasi melalui pembedaan roh dan juga diskresi. Orang muda diajak untuk tidak memikirkan hal-hal traumatik, kegagalan masa lalu, dan memandang masa depan dengan suram. sebaliknya, mereka diajak untuk memiliki pengharapan.    Dalam menumbuhkan pengharapan, kita bisa dengan mengajak orang muda untuk terlibat dan ikut pelayanan untuk melatih bela rasa, contohnya membantu menjaga lansia. Tak jarang sebagai manusia kita mengalami kebosanan iman dan ini dapat diatasi dengan membangkitkan selera iman. Selera iman adalah mencari cara-cara agar kaum muda bisa bertumbuh dalam iman. Misalnya untuk Ignatian, melakukan perjalanan ziarah dari Puri Loyola sampa Manresa dengan jalan kaki.    Pater Bagus Laksana mengajak peserta untuk menyadari tujuan manusia diciptakan, yakni memuji, menghormati, dan mengabdi Allah dalam Spiritualitas Ignatian. Hal ini juga digunakan dalam mendampingi orang muda yang sedang galau untuk mengingat tujuan utama hidup dan mampu memilih hal mana yang terpenting bagi hidup mereka. Pater Bagus Laksana juga menjelaskan sedikit mengenai pembedaan Roh, desolasi dan konsolasi, dan mengenal roh baik dan roh jahat.   Keterbatasan pembimbing atau pendamping kaum muda Pada pertemuan ini muncul tanggapan bahwa di  “lapangan,” baik itu di sekolah negeri maupun swasta dan juga di paroki, pembimbing yang mendampingi anak dengan spiritualitas Ignatian masih sedikit, bahkan bisa dibilang tidak ada. Pendamping kaum muda itu kebanyakan sukarelawan yang sering kali tidak menerima pembekalan apapun. Menanggapi hal tersebut Pater Bagus Laksana mengungkapkan bahwa spiritualitas Ignatian memang perlu menjadi  gerakan dan jaringan yang menyentuh orang dalam hidup sehari-hari. Perlu keterlibatan banyak orang, perlu alokasi sumber daya dari Gereja, dan perlu pendampingan berjenjang. Pelajaran agama di sekolah dilakukan sebagai bagian formatio iman dan pendampingan iman.    Kontributor: F.X. Juli Pramana – YKC Surakarta

Karya Pendidikan

Kehangatan Kasih dari Mereka yang Tersingkir

Compassion Week Sekolah-sekolah yang dikelola oleh para Jesuit di Indonesia memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya. Salah satu kekhasannya adalah memiliki nilai-nilai dasar (core values) yang dikenal dengan istilah 4C (Competence, Conscience, Compassion, Commitment). Nilai-nilai dasar tersebut juga dirumuskan dalam profil pelajar SMK Katolik St. Mikael Surakarta. Dalam rangka pengembangan core values 4C yang berkelanjutan dengan berfokus pada pengolahan hati nurani dan belarasa siswa terhadap sesama, SMK Katolik St. Mikael Surakarta mengadakan kegiatan Compassion Week yang dilakukan oleh siswa-siswi kelas XI dengan tujuan untuk melatih dan mengembangkan kepekaan siswa dalam bersimpati serta berempati terhadap orang-orang yang kurang mendapatkan perhatian. Pada kegiatan ini, siswa dan siswi dikirim ke tempat-tempat karya sosial yang berada di dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti SLB Karya Bhakti (Purworejo), Hellen Keller Indonesia (Yogyakarta), School of Life (Semarang), Pangon Utomo (Surakarta), Adullam Ministry (Sukoharjo), Panti Wredha (PW) Dharma Bhakti (Wonogiri), PW Salib Putih (Salatiga), PW Maria Sudarsih (Ambarawa), SLB Dena Upakara (Wonosobo), dan lain lain.   Compassion Week tahun 2024 ini dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama diadakan pada 5-9 Agustus 2024 dan gelombang kedua akan diadakan pada 11-15 November 2024. Selama kegiatan itu, para siswa tidak diperkenankan membawa alat komunikasi apapun agar mereka dapat fokus dan masuk ke dalam dinamika tempat mereka diutus. Pada kesempatan kali ini, penulis mendapatkan kesempatan melakukan Compassion Week gelombang pertama yang bertempat di The School of Life, Semarang. School of Life merupakan rumah sekaligus sekolah untuk orang-orang yang memiliki gangguan jiwa dan orang-orang terbuang. Banyak pengalaman luar biasa yang didapatkan penulis selama mengikuti Compassion Week. Pengalaman-pengalaman itu sangat berharga bagi kami dan dapat digunakan sebagai sarana untuk menyelami lebih dalam (duc in altum) lingkungan sosial di sekitar kita. Selain itu, muncul pula pergulatan batin dalam diri kami selama mengikuti Compassion Week yang ternyata tanpa sadar menumbuhkan rasa peduli terhadap orang-orang yang tersingkir.   Di School of Life, kami berjumpa dengan Ibu Priskilla Smith Jully yang merupakan pendiri tempat ini. Ibu Priskilla banyak bercerita kepada kami mengenai kisah hidupnya yang sangat inspiratif. Kami sangat terkesan dengan Ibu Priskila yang meskipun tunanetra sejak lahir namun memiliki banyak prestasi yang luar biasa. Kami terinspirasi oleh dedikasi dan keberanian beliau dalam membangun School of Life.     Di awal kedatangan, kami diajak berkeliling memasuki kamar teman-teman disabilitas yang ada di sana. Awalnya kami merasa sedikit takut. Namun setelah masuk, berkenalan, dan bersalaman dengan mereka, pandangan kami mulai berubah. Ternyata mereka tidak mengerikan seperti yang kami bayangkan. Mereka merupakan pribadi-pribadi yang menyenangkan dan unik.   Selama lima hari tinggal di sana, kami banyak berdinamika dengan para penghuni School of Life. Kami membantu merawat para penghuni, memandikan, menyuapi, dan membimbing mereka dalam membaca Alkitab. Kegiatan harian dimulai sejak pagi hingga malam hari. Awalnya kami merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas yang ada di panti, terutama karena harus berinteraksi dengan para penghuni yang membutuhkan perlakuan khusus. Aroma kurang sedap di kamar mereka dan lingkungan yang berbeda dari biasanya membuat kami merasa tidak nyaman. Namun, seiring berjalannya waktu, kami mulai terbiasa dan menemukan kebahagiaan dalam membantu mereka. Selain itu, kami juga membantu berjualan sembako dan pakaian di halaman depan panti. Hasil dari penjualan tersebut nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan para penghuni School of Life. Di malam terakhir, kami tidur bersama mereka di satu ruangan yang sama tanpa adanya pembatas. Hal itu menjadi pengalaman berkesan bagi kami dan tidak terlupakan. Bukan kami yang berbagi dengan mereka melainkan merekalah yang berbagi dengan kami.   Compassion Week ini mengajarkan kami banyak hal, terutama mengenai arti dari compassion. Kami belajar bagaimana memberikan hati dan waktu untuk mereka yang membutuhkan dan juga menerima orang lain tanpa melihat perbedaan. Kami juga banyak belajar dari Ibu Priskilla yang memiliki keterbatasan namun dapat berbuat sesuatu yang berguna bagi orang lain. Kami pun juga belajar arti sebuah keluarga dari para penghuni School of Life. Mereka saling membantu satu sama lain dan berkegiatan bersama dengan mencuci piring, mengepel, dan menyapu ruangan bersama. Mereka hidup bersama layaknya satu keluarga. Kami bersyukur atas perjumpaan kami dengan para penghuni School of Life yang penuh kasih dan kehangatan. Perjumpaan ini sangat singkat, namun sangat bermakna bagi hidup kami yang masih panjang.   Kontributor: Pamela Desiana Christy dan Muhammad Dafa Raditia –  SMK Kolese Mikael Surakarta

Karya Pendidikan

“Berguru di Pegunungan Seribu”

Live-in Kolese Gonzaga 2024 Mentari mulai merekah di ufuk timur ketika tujuh bus yang membawa rombongan siswa kelas XI SMA Kolese Gonzaga mulai mendaki Bukit Pathuk dan melewati slogan bertuliskan Gunung Kidul – Handayani. Panorama indah kota Yogyakarta yang terlihat dari Bukit Bintang seakan menyambut para peserta live-in, yang terlihat masih menyimpan rasa kantuk namun juga penasaran tak sabar ingin segera sampai di lokasi.    Kerja sama Sekolah dengan Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari Live-in Kolese Gonzaga merupakan kegiatan rutin sekolah bagi siswa kelas XI. Pada tahun 2020, sebenarnya Kolese Gonzaga juga merencanakan live-in di Gunung Kidul, namun dua hari menjelang keberangkatan, pemerintah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat Covid-19, sehingga live-in Kolese Gonzaga saat itu, terpaksa harus dibatalkan.    Tahun ini live-in Kolese Gonzaga yang diselenggarakan pada 8-13 September 2024, mengambil tema “Peduli Lingkungan, Peduli Sesama, Peduli Diri Sendiri.” Live-in tahun ini terselenggara berkat kerjasama antara sekolah dengan Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari, Gunung Kidul. Romo Nobertus Sukarno Siwi, Pr. dan Romo Yohanes Riyanto, Pr. yang merupakan pastor paroki memberikan izin penyelenggaraan live-in Kolese Gonzaga, sehingga 275 siswa dan 18 pendamping dapat berkegiatan di 14 lingkungan yang berada di desa Gunungsari, Trengguno, Kalangbangi, Nitikan, Kwangen, Semanu, Pokdadap, Jati, Petir, dan Cuwelo.     Live-in sebagai Sarana Formasi Karakter  Kurikulum Merdeka memberi keleluasaan sekolah untuk mengimplementasikan Proyek Penguatan Pelajar Pancasila (P5) dengan tujuan untuk membentuk Pelajar Pancasila yang beriman, berkebhinekaan global, mampu bergotong royong, mandiri, kritis, dan kreatif. Hal ini terwujud lewat penanaman core values sekolah yakni Competence, Conscience, Compassion, Commitment, dan Humility serta Integrity dalam  live-in.    Gunung Kidul dipilih sebagai lokasi live-in karena konteks masyarakatnya yang beragam, agraris, dan cukup terbuka. Mereka terlibat dalam dinamika harian keluarga dan masyarakat desa. Pada bulan September di wilayah Gunung Kidul yang sistem pertaniannya tadah hujan, tidak ada aktivitas penanaman. Pekerjaan pertanian yang ada adalah memetik kacang hijau, menggemburkan tanah ladang, mengolah hasil pertanian, seperti membuat gaplek, mengupas kacang, memipil jagung, membuat keripik-keripik singkong, dan mencari pakan ternak.    Berkegiatan bersama keluarga dalam masyarakat pedesaan menghadapkan para siswa dengan suatu pengalaman merasakan perjuangan para penyedia bahan pangan bagi banyak orang. Nasi, sayur, buah, dan lauk pauk yang tersaji di meja makan sesungguhnya adalah hasil proses yang panjang. Petani dan peternak menempati garda depan di dalamnya yang menguras peluh dan kadang juga air mata. Mereka tak pernah takut bekerja di bawah sengatan sinar matahari. Ada berbagai perbincangan yang terjadi saat para siswa diajak wedangan bersama keluarga asuh. Perbincangan tentang bagaimana mengatasi kegagalan panen, menghadapi kemarau panjang dan kekeringan, bagaimana bertahan saat harga hasil panen anjlok di pasaran, maupun saat terjadi wabah tetelo ataupun anthrax pada ternak.       Setiap malam, siswa merefleksikan berbagai peristiwa yang mereka alami sepanjang hari tersebut. Ada banyak hal menyentuh dari hasil refleksi para siswa. Banyak yang merasa tertampar dengan apa yang mereka saksikan. Betapa selama ini ada banyak kenyamanan hidup yang mereka nikmati di kota, baik akses transportasi yang mudah, kamar ber-AC yang sejuk, makanan yang sudah tersaji, serta berbagai kemudahan lainnya. Tiara dan Abel yang menempati rumah Mbah Rubiyem, tekun membantu mbah Rubiyem membuat tempe. Mereka membungkus kacang kedelai yang sudah direbus dan diberi usar dengan daun jati serta daun awar-awar. Meskipun tangan mereka bekerja, namun pikiran dan hatinya tertuju pada sosok Mbah Rubiyem yang sudah berumur 80 tahun yang tak pernah mau berdiam diri. Beliau masih mengurus ladang dan ternak, meskipun anak-anaknya di perantauan mengirimkan uang setiap bulan.     Pater Eduard Calistus Ratu Dopo, SJ. selaku Kepala Sekolah dan Pater Yulius Suroso, SJ. selaku moderator Kolese Gonzaga, secara terpisah mengunjungi siswa secara acak dari desa ke desa dan berdialog dengan siswa. Aradea dan Aquinas menyatakan rasa syukurnya ditempatkan di rumah Keluarga Hartono di Dusun Pokdadap yang berjarak 15 km dari kota Wonosari. Mereka belajar dari keluarga tersebut mengenai arti kebahagiaan di tengah situasi “Adoh ratu, cedhak watu”. “Adoh Ratu” artinya jauh dari pemerintahan sehingga fasilitas terbatas, sedangkan “cedhak watu” atau dekat bebatuan. Di Gunung Kidul memang banyak batu. Bukit-bukitnya pun berupa bukit batu kapur sehingga tidak semua lahan dapat dipakai untuk bercocok tanam.    Dalam live-in ini para siswa juga mengikuti pertemuan lingkungan dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN), dan berlatih seni budaya. Ada berbagai kesenian yang diperkenalkan dan dipelajari, antara lain tari Reog, Jathilan, tari Nawang Jagad, bermain gamelan, mewiru kain dan mengenal busana adat Jawa. Kegiatan ini bertujuan untuk mengolah rasa, dan menanamkan kecintaan akan budaya tanah air. Ada tradisi-tradisi yang kemudian diperkenalkan juga kepada para siswa untuk menjaga lingkungan, misalnya Tradisi Rasulan atau memetri desa dan tradisi Gugur Gunung yang dilakukan secara berkala untuk membersihkan lingkungan desa.      Live-In sebagai Sarana Formasi Intelektual  Alam dan masyarakat adalah sumber belajar dan laboratorium yang sangat bagus. Live-in, tidak hanya untuk mem-formasi karakter, tetapi juga mengembangkan kemampuan intelektual siswa dengan penerapan metode ilmiah. Sebelum berangkat live-in, para siswa diwajibkan untuk mempelajari berbagai hal terkait Gunung Kidul, baik kondisi geografis, sosial ekonomi budaya, keberagaman masyarakat, ekologi maupun keanekaragaman hayatinya. Mereka juga belajar menggunakan analisis SWOT dan design thinking secara sederhana. Saat berada di lokasi live-in, mereka melakukan observasi sederhana, melakukan konfirmasi teori yang telah mereka pelajari, serta melakukan analisis terhadap berbagai fenomena yang mereka temukan.    Sepulang live-in, kelompok-kelompok kerja mengumpulkan berbagai informasi hasil observasi dan melakukan diskusi. Permasalahan-permasalahan yang mereka temukan saat live-in dikumpulkan, lalu setiap kelompok memilih satu permasalahan yang kemudian dibahas secara ilmiah untuk menemukan alternatif-alternatif solusinya. Alternatif solusi ini kemudian diwujudkan dalam ide rancangan prototype. Permasalahan yang paling banyak dipilih oleh siswa adalah masalah keterbatasan air untuk pertanian. Berbagai ide yang muncul antara lain adalah penggunaan sistem drip irigation, desalinasi air laut, dan penangkapan uap air. Banyaknya anak muda yang meninggalkan desa merupakan masalah sosial yang teramati dengan jelas. Petani yang ada saat ini mengolah lahan pertanian sebagian besar adalah lansia. Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan krisis sumber daya manusia di bidang pertanian yang berujung pada krisis pangan di masa depan. Ide-ide yang muncul sebagai solusi antara lain, bagaimana mengubah image petani agar menarik anak muda menjadi petani keren berteknologi tinggi dengan penggunaan AI, drone untuk penyemprotan hama, dan

Karya Pendidikan

Kemerdekaan di Puncak Merbabu

Sebuah Refleksi Diri untuk Negeri Merbabu, Sang Penjaga Langit Jawa Tengah, adalah salah satu anugerah terindah dari Tuhan yang diberikan pada negeri ini. Keindahan alamnya yang menakjubkan membuat kami semakin mencintai Indonesia. Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-79, organisasi pecinta alam SMK Mikael Surakarta atau biasa disebut PASTELLO (Pecinta Alam STM Mikael Solo) mengajak siswa SMK Mikael untuk bersama-sama memperingati hari kemerdekaan Indonesia di Puncak Merbabu. Dengan semangat kemerdekaan, kami berencana untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Gunung Merbabu. Kami mulai merencanakan kegiatan ini sejak 2 minggu sebelum pendakian. Banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari pemilihan perlengkapan yang tepat hingga aklimatisasi. Dengan persiapan yang matang, pendakian akan menjadi lebih aman dan menyenangkan.   Jumat, 16 Agustus 2024, pukul 14.30 WIB, 11 siswa SMK Mikael dan 3 guru pendamping mulai berangkat menuju salah satu basecamp di kaki Gunung Merbabu. Gunung Merbabu memiliki beberapa pilihan jalur pendakian dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Kami memilih jalur Wekas karena kuota pendakian untuk jalur lain sudah penuh. Jalur Wekas merupakan jalur pendakian tersulit di Gunung Merbabu. Meski begitu, hal itu tidak membuat semangat kami goyah. Kami malah semakin termotivasi dan bersemangat untuk menjalani misi kami.   Setelah makan malam di basecamp, sekitar pukul 18.00, kami memulai pendakian. Pada pendakian ini, kami berencana membangun tenda di pos 2 dan beristirahat sejenak di sana. Agar pendakian lebih efisien, kami membentuk dua tim pendaki. Tim 1 bertugas sebagai porter yang membawa tenda dan berangkat lebih dulu. Dengan begitu, tim 1 akan sampai lebih cepat dan dapat mendirikan tenda terlebih dahulu. Tim 2 bertugas membawa logistik dan peralatan masak. Sepanjang perjalanan pendakian, kami saling membantu satu sama lain. Kami telah berkomitmen untuk saling menjaga dan tidak meninggalkan teman di belakang. Sebagai siswa Kolese Mikael, kami sangat memegang teguh nilai komitmen yang merupakan bagian dari core values SMK Mikael. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, terjal, dan menantang, kami bersyukur karena seluruh anggota tim berhasil mencapai Pos 2. Kami beristirahat di pos ini selama sekitar lima jam.   Sabtu, 17 Agustus 2024, sekitar pukul 04.30, suara burung berkicau mulai menyambut pagi di Pos 2. Petualangan baru pun dimulai. Setelah bersiap, kami pun melanjutkan pendakian menuju puncak. Tantangan demi tantangan kami hadapi, seperti jalur yang sangat terjal, cuaca yang tak menentu, dan kelelahan fisik. Namun, setiap kesulitan yang kami hadapi mengajarkan kami untuk semakin gigih, sabar, dan membangun kerja sama tim. Meski kami seringkali merasa lelah dan pegal, kami tidak pernah berpikir untuk menyerah. Bagi kami, pendakian ini merupakan sebuah perjalanan spiritual untuk menemukan kedamaian dan keharmonisan dengan alam. Dengan penuh semangat, kami terus mendaki menuju puncak sembari menikmati keindahan alam yang disuguhkan oleh Tuhan. Setiap langkah yang kami tapaki membawa kami lebih dekat dengan awan. Pemandangan matahari terbit adalah hadiah terindah yang tak terlupakan. Kabut yang menyelimuti lembah, hamparan sabana yang luas, dan mata air yang segar, semuanya menyatu menjadi sebuah lukisan alam yang sempurna.     Dengan napas tersengal-sengal, kami akhirnya mencapai puncak Merbabu. Kami pun langsung membentangkan bendera kebangsaan Indonesia, Merah Putih. Tak lupa kami juga membentangkan bendera CTE atau bendera SMK St. Mikael Surakarta. Lelah dan keringat yang bercucuran terbayar lunas saat bendera berkibar gagah di atas awan. Pemandangan sinar matahari yang menyinari Sang Saka Merah Putih dan bersanding dengan bendera CTE adalah momen yang tak terlupakan. Ini adalah persembahan kami untuk para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan. Mendaki Gunung Merbabu adalah sebuah perjalanan spiritual yang mengingatkan kami pada perjuangan para pahlawan. Jalur pendakian yang terjal dan cuaca yang tak menentu mengajarkan kami arti kegigihan dan pantang menyerah. Sama seperti para pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan, kami juga harus terus berjuang untuk mencapai tujuan hidup kami. Merbabu mengajarkan kami arti perjuangan.   Misi kami untuk mengibarkan bendera Merah Putih dan bendera CTE di puncak Gunung Merbabu telah tercapai. Namun sayangnya, kami tidak dapat mengikuti upacara bendera peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-79 bersama para pendaki lainnya karena adanya miskomunikasi. Kami pun memutuskan untuk kembali ke Pos 2 dan melaksanakan upacara di sana.   Di tengah keindahan alam merbabu, kami merenungkan arti kemerdekaan dan nilai-nilai apa yang kami dapat selama pendakian. Kemerdekaan dalam konteks pendakian bukan hanya sekedar mencapai puncak, tetapi juga tentang proses perjalanan. Setiap langkah pendakian adalah sebuah tantangan. Menaklukkan setiap tanjakan, melewati medan yang sulit, dan menghadapi cuaca ekstrem adalah simbol perjuangan untuk mencapai tujuan. Dalam sebuah kelompok pendakian, pasti ada perbedaan karakter dan kemampuan. Mampu menghargai perbedaan adalah kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan bersama. Mendaki gunung adalah upaya melepaskan diri dari rutinitas sehari-hari, dari zona nyaman, dan dari segala keterbatasan yang mengikat. Ini adalah bentuk kebebasan untuk mengeksplorasi diri dan potensi yang lebih besar. Dalam kesunyian alam pegunungan, kami memiliki banyak waktu untuk merenung dan memahami diri secara lebih dalam. Ini adalah kesempatan untuk menemukan kekuatan dan kelemahan diri, serta menggali potensi yang selama ini terpendam. Nilai-nilai dan semangat kemerdekaan yang kami rasakan saat mendaki gunung dapat kami terapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai tujuan yang lebih besar. MERDEKA!   Kontributor: Raditya Dhamar Alfikri – PASTELLO SMK St. Mikael Surakarta