Pilgrims on Christ’s Mission

Pelayanan Gereja

Pelayanan Gereja

Maguyub Welas Asih

Perayaan Ekaristi Syukur Hari Ulang Tahun (HUT) ke-92 Gereja St Stanislaus Kostka Paroki Girisonta yang bertema “Maguyub Welas Asih” berlangsung khidmat dan meriah. Misa syukur ini dipimpin langsung oleh Pater Agustinus Sigit Widisana, S.J. selaku Pastor Paroki dan Pater Leonardus Dibyawiyata, S.J., yang dulu pernah berkarya menjadi pastor paroki tahun 1973-1977.   Ekaristi dimulai pukul 08.00 WIB yang diawali dengan lagu pramisa, sambutan panitia, dan persembahan tarian dari siswi-siswi TK Santa Anna, Girisonta. Kegembiraan dan kebahagiaan melingkupi seluruh umat yang hadir. Tak lupa paduan suara gabungan keluarga besar SMPK Girisonta dan para alumni semakin menyemarakkan perayaan Ekaristi syukur ini. Suasana Minggu, 10 November 2024 ini sungguh membangkitkan semangat maguyub seluruh umat Girisonta, yang jumlahnya 4.873 jiwa.   Sepenggal Sejarah Lahirnya Gereja di Girisonta tidak lepas dari berdirinya rumah Retret dan Novisiat Girisonta. Rumah retret yang dibangun pada tahun 1930, dengan peletakan batu pertama pada 3 Oktober 1930. Rumah retret ini kemudian diberi nama Girisonta, Giri berarti gunung dan Sonta berarti Suci. Girisonta dimaksudkan sebagai tempat di kaki gunung yang sepi, cocok untuk bersemedi, menyucikan diri.     Pada tahun 1932 Girisonta menjadi Komunitas S.J. untuk pertama kali . Saat itu Pater H. Koch, S.J. sebagai rektor, Pater G. Schmedding sebagai magister, Pater Th. Verhoeven sebagai direktur rumah retret, Pater J. Hellings sebagai minister scholasticorum, dan Pater J. Schouten menjalani tersiat. Pada waktu itu ada 7 frater yunior, 7 frater novis dan 3 bruder novis; juga ada 2 orang postulan berminat menjadi bruder. Dari antara mereka, Pater Schmedding dan Verhoeven tahan paling lama, sampai zaman Jepang masih di Girisonta.   Lahirnya Gereja di Girisonta Pada waktu Girisonta lahir, di sekitar Karangjati hampir tidak ada orang Katolik, hanya di Ungaran ada kelompok kecil. Dalam buku “De Katholieke Missie” tahun 1933, jumlah orang Katolik di Ungaran dan Girisonta hanya 99 orang. Jumlah itu telah termasuk baptisan baru sebanyak 21 orang. Pada Hari Raya Paskah yang menerima Komuni mencapai 38 orang.   Awal mulanya, Pater G. Schmedding, S.J. mulai mengajar katekese kepada para karyawan kolese. Para novis mulai menjelajah desa-desa sekitar, sehingga sedikit demi sedikit orang mulai mengenal Pater. Tanggapan masyarakat sekitar Karangjati masih minim, tetapi mereka yang tinggal di desa-desa yang agak jauh dari Girisonta memberi tanggapan lebih baik. Maka untuk pertama kali, pada tahun 1932 Pater G. Schmedding, S.J. membaptis dan merintis buku baptis di Girisonta sebagai awal lahirnya Gereja di Girisonta. Baptisan pertama yang dicatat dalam buku pertama, terjadi pada 22 Februari 1932.     Maguyub Welas Asih Perayaan ulang tahun paroki jatuh pada peringatan Pesta Nama St. Stanislaus Kostka setiap 13 November. Minggu 10 November 2024, genap 92 tahun Paroki Girisonta hadir di bumi pertiwi, menapaki perjalanan sejarah yang tidak mudah, baik pada masa penjajahan maupun masa perang kemerdekaan.   Perkembangan dan kemajuan Paroki Girisonta selalu berkesinambungan. Kini, jumlah jiwa yang tercatat sekitar 5000 umat, tersebar di 13 wilayah, 46 lingkungan, dan 1 stasi yaitu Stasi Santa Maria Assumpta Glodogan yang masih berada dalam wilayah teritorial Kabupaten Semarang. Perayaan ekaristi HUT ke-92 ini mengambil tema “Maguyub Welas Asih” yang merupakan kelanjutan dari tema sebelumnya pada HUT ke-91 yang mengambil tema “Maguyub Sanggup“. Kata maguyub yang mempunyai makna mendalam, yaitu bahwa segenap umat Katolik di Paroki Girisonta ini mengupayakan untuk selalu bersatu (maguyub) dengan landasan rasa kasih dan sayang terhadap sesama (welas asih). Maguyub welas asih merupakan pesan untuk semua umat Paroki Girisonta agar selalu berbelas kasih dan penuh cinta kasih dalam melayani sesama demi kemajuan bersama gereja Paroki tercinta.   Sebelum berkat penutup, Romo Paroki memotong tumpeng yang diserahkan kepada ketua panitia HUT Paroki sebagai simbol syukur atas suksesnya perayaan Ekaristi dan kegiatan penyerta dalam rangkaian perayaan ulang tahun ini.   Perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan pesta umat yang diawali dengan pengambilan buah dan aneka sayuran dari gunungan yang sudah diberkati. Acara dilanjutkan dengan santap bersama nasi kuning yang telah disiapkan oleh tiap-tiap lingkungan. Pesta umat dimeriahkan dengan berbagai penampilan: drumband dari SDK Girisonta, drumband SMK Theresiana Bandungan, drum-blak persembahan dari Wilayah 3 Yulius, yang merupakan Panitia HUT ke-92 Paroki Santo Stanislaus Girisonta.   Kemeriahan acara ini tercipta berkat kerja sama dari Panitia, Dewan Paroki, dan semua pihak yang terlibat. Semoga gereja Girisonta semakin maguyub sanggup dan maguyub welas asih, dan umat semakin semangat dan terlibat aktif dalam aneka bentuk karya pelayanan yang membumi dan menyapa sesuai teladan St. Stanislaus.   Kontributor: KOMSOS Girisonta

Pelayanan Gereja

Bertualang di Bethlehem van Java

Sabtu, 27 April 2024, misdinar Gereja St. Yusup Gedangan mengadakan acara studi rohani Bethlehem van Java Misdinar ke kerkhof Muntilan, Museum Misi Muntilan, dan Gua Maria Sendangsono. Frater Yohanes Chrysostomus Wahyu Mega, S.J., pendamping misdinar, mengadakan program ini untuk misdinar dan beberapa tokoh lintas agama. Fr. Wahyu berharap melalui studi rohani Bethlehem van Java, misdinar Gedangan dapat memahami sejarah lahirnya misi kekatolikan di tanah Jawa, menumbuhkan semangat kekatolikan, dan toleransi antarumat beragama.   Beberapa tokoh lintas agama yang menemani kami adalah K.H. Khoirul Anwar (Pengasuh Ponpes Al-Insaniyyah, Salatiga), K.H. Abdul Qodir (Pengasuh Ponpes Roudhotus Sholihin, Demak), Ibu Rabi’atul Adawiyah, Ibu Naily Illyun, Bapak Lutfi (ketiganya adalah dosen UIN Walisongo, Semarang), Pendeta Setiawan Budi (Koordinator Persaudaraan Lintas Agama), Ibu Eva Yuni (Staf Bimas Katolik) dan Sr. Lutgardis, O.P. Ini pertama kalinya bagi kami mengalami perjumpaan dengan tokoh lintas agama.   Di Kerkhof Muntilan, kami mengunjungi makam Kardinal Justinus Darmojuwono yang merupakan kardinal pertama Indonesia. Selanjutnya kami mengunjungi makam Pater F. van Lith, S.J, Pater Hoevenaars, S.J. dan beberapa makam pater Jesuit Belanda lainnya. Tempat ini sangat jauh dari kesan menyeramkan tetapi sangat sejuk dan nyaman untuk berdoa.   Dalam bahasa Belanda, kerkhof memiliki arti halaman gereja. Berasal dari dua suku kata, yakni kerk yang bermakna gereja dan hoff yang berarti halaman. Mungkin karena sudah menjadi tradisi bangsa Eropa, khususnya Belanda, bahwa kuburan biasanya ditempatkan tidak jauh dari bangunan gereja. Kata kerkhof lambat laun menjadi sebutan yang familiar untuk kuburan atau pemakaman bangsa Belanda.     Setelah dari kerkhof kami menuju Museum Misi Muntilan. Sesampainya di Museum Misi, kami disambut oleh Bapak Seno. Kami dibagi menjadi dua kelompok besar untuk museum tour. Kami merasa takjub karena Museum Misi Muntilan menyimpan banyak sejarah mengenai perkembangan Agama Katolik. Kami melihat barang-barang peninggalan zaman dahulu seperti peralatan misa, altar dan mimbar dari kayu, jubah rama dan uskup, tongkat gembala, lonceng, dan masih banyak lagi.   Kami belajar tentang jejak sejarah Keuskupan Agung Semarang dan sejarah Gereja Katolik yang ada di Semarang. Ada satu peninggalan dari Pater van Lith, S.J. dan Pater Hoevenaars, S.J. yang menarik, yaitu doa Bapa Kami versi Bahasa Jawa. Kedua Pater ini dengan caranya sendiri menerjemahkannya ke dalam Bahasa Jawa.   Destinasi terakhir adalah Gua Maria Sendangsono. Sedikit informasi, Gua Maria ini masih bersangkutan dengan dua lokasi sebelumnya (Kerkhof Muntilan dan Museum Misi). Gua Maria Sendangsono adalah tempat di mana Pater van Lith , S.J. membaptis 171 orang Jawa. Peristiwa ini terjadi pada 14 Desember 1904. Kini, Sendangsono menjadi salah satu tempat ziarah yang sangat populer.   Di Gua Maria Sendangsono kami mengunjungi makam Barnabas Sarikromo. Awalnya ia memiliki penyakit kudisdi kaki dan sudah melakukan pengobatan dengan berbagai cara namun tidak kunjung sembuh. Suatu ketika ia bersemedi untuk mendapatkan kesembuhan. Ia mendengar bisikan untuk berjalan ke arah timur laut. Dikarenakan kondisi kakinya yang tidak memungkinkan untuk berjalan, Sarikromo pun menuju arah timur laut dengan cara mengesot. Perjalanan itu membawanya bertemu dengan dua Jesuit, yaitu Bruder Kersten, S.J. dan Pater van Lith, S.J,. Sarikromo memperoleh kesembuhan dan kemudian dibaptis oleh Rama van Lith.   Kami mendapatkan banyak sekali pengalaman dan pengetahuan dari ketiga tempat tersebut. Kami juga jadi tahu tentang kisah para tokoh penting, seperti Pater F. van Lith, S.J., Pater Hoevenaars, S.J. Bruder Kersten, S.J. dan Bapak Barnabas Sarikromo. Kisah-kisah mereka semakin membuat kami bangga sebagai orang Katolik Jawa. Kami semakin terbakar bukan hanya untuk menjadi Katolik tetapi untuk menghidupi iman Katolik.   Kontributor: Michelle Kanaya – Misdinar St. Yusup Gedangan

Pelayanan Gereja

Rekoleksi Umat: Penyegaran Rohani, Imam Berbau Domba

Gereja St. Yusup, Gedangan mengadakan rekoleksi umat selama bulan Mei dengan mengusung tema “Membawa Damai: Semakin Bersinergi, Semakin Melayani.” Melalui tema ini, umat diharapkan dapat membawa damai, merangkul semua suku, budaya dan strata sosial sehingga menghilangkan sekat-sekat pemisah. Umat diharapkan terlibat dan bersinergi sehingga terjalin komunikasi terbuka dan lancar diantara Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan antar umat di lingkungan. Umat juga diharapkan mampu melayani dengan meniru keteladanan dari St. Yusup dan St. Ignatius Loyola. Gereja St. Yusup, Gedangan memiliki 10 wilayah dan 50 lingkungan. Satu wilayah terdiri atas empat hingga tujuh lingkungan. Kesepuluh wilayah dilayani oleh dua imam yakni Pater Benedictus Cahyo Christanto, S.J. dan Pater Vincentius Suryatma Suryawiyata, S.J. (masing-masing melayani rekoleksi umat untuk lima wilayah). Dalam satu minggu setiap romo melayani satu wilayah sehingga dalam satu bulan semua wilayah dapat terlayani. Wilayah Christophorus, Fransiskus Xaverius, Yohanes Pembaptis, Petrus, dan Vincentius dilayani oleh Pater Cahyo Christanto, S.J. sedangkan Wilayah Andreas, Leonardus, Theresia, Thomas, dan Hati Kudus dilayani oleh Pater Suryatma, S.J. Dalam paham Gereja sebagai umat beriman maka umat Katolik yang berada di lingkungan adalah umat beriman yang sesungguhnya. Mereka hidup bersama dalam satu wilayah teritori tertentu. Dengan demikian, umat beriman adalah warga lingkungan tertentu. Gereja sebagai persekutuan umat beriman adalah cita-cita gereja zaman ini. Jumlah umat yang terbatas, hubungan saling mengenal, terbuka terhadap interaksi dengan masyarakat membuat lingkungan menjadi tempat yang memungkinkan untuk mewujudkan gereja sebagai persekutuan umat beriman. Rekoleksi umat merupakan sebuah bentuk penyegaran rohani bagi umat di lingkungan dan wilayah. Pandemi covid-19 telah melemahkan kehidupan dari berbagai aspek termasuk reksa pastoral paroki dan dinamika umat di lingkungan dan wilayah. Saat ini sungguh diperlukan penyegaran kembali akan pentingnya lingkungan dan wilayah sebagai cara hidup menggereja yang merupakan kekuatan untuk mendewasakan umat paroki. Para imam tidak bekerja seorang diri dalam karya penggembalaan umat paroki. Para imam dibantu oleh DPP dan para pengurus lingkungan dan wilayah. Tanpa keterlibatan aktif DPP dan para pengurus lingkungan dan wilayah, para imam tidak dapat berbuat banyak dalam menggembalakan umat yang dipercayakan kepadanya. Sejalan dengan surat gembala Prapaskah 2023 Keuskupan Agung Semarang dengan tema “Hadirkan Damai Bagi Sesama dan Alam Ciptaan,” maka Gereja St. Yusup, Gedangan berkehendak menyegarkan lagi semangat pertobatan Paskah dan menyapa umat di lingkungan dan wilayah masing-masing dengan mengadakan acara rekoleksi umat. Hal yang paling menarik dari rekoleksi umat ini adalah kegiatan ini diadakan di wilayah masing-masing bukan di gereja. Bukan umat yang mendatangi romo tetapi romo yang mendatangi umat bersama dengan DPP. Mereka bersinergi, bergerak menyentuh ke bawah. Mereka hadir bersatu dan membaur bersama umat. Umat yang ada di lingkungan dan wilayah merasa disapa, ditemani, dan diperhatikan. Rekoleksi umat diisi dengan sarasehan yang meliputi sejarah singkat komunitas basis, hakikat peran dan kegiatan lingkungan, situasi umat lingkungan, dan belajar dari keteladanan St. Yusup dan St. Ignatius Loyola. Para romo di wilayah masing-masing mengajak umat memahami dan merefleksikan komunitas basis dan situasi konkret yang terjadi di setiap lingkungan. Umat diajak memiliki kepekaan melihat sisi-sisi positif dan sisi-sisi yang perlu dikembangkan di wilayah dan lingkungan. Kemudian, umat diajak meneladani nilai-nilai luhur dari St. Yusup dan St. Ignatius Loyola. Dari sarasehan tersebut, umat diberikan panduan pertanyaan refleksi yang harus dijawab dalam kelompok kecil. Satu kelompok terdiri dari 5 sampai 6 umat. Panduan pertanyaan refleksi membuat umat merenungkan dan merepetisi kembali materi sarasehan yang telah diberikan oleh para romo. Jawaban mereka nantinya akan disampaikan dalam pleno sehingga setiap kelompok dapat belajar dari kelompok lainnya. Jawaban-jawaban umat atas pertanyaan refleksi sungguh menarik. Dari jawaban itu dapat diketahui bahwa umat sangat serius mengikuti rekoleksi. Mereka dapat memahami dengan baik komunitas basis, hakikat peran dan kegiatan lingkungan, situasi umat lingkungan, dan belajar dari keteladanan St. Yusup dan St. Ignatius Loyola. Mereka merasa diteguhkan untuk menghidupkan iman dan membangun persekutuan-persekutuan secara teritorial dalam lingkungan masing-masing. Rekoleksi diakhiri dengan berkat penutup dari romo pendamping. Sebelum berkat penutup, umat dipersilahkan untuk menyampaikan pesan dan kesan dari rekoleksi umat ini. Umat menanggapi secara positif adanya rekoleksi umat ke wilayah-wilayah. Mereka merasakan konsolasi. Mereka mengatakan bahwa rekoleksi umat menjadi bentuk dari gereja menyapa. Gereja melalui para romo hadir bergerak ke bawah untuk menyapa umatnya secara langsung. Umat berharap bahwa rekoleksi umat bisa diadakan secara berkala. Rekoleksi umat bukan hanya membawa penyegaran rohani kepada umat tetapi juga menjadi bentuk dari gembala berbau domba. Gembala berbau domba adalah wujud dari Gereja yang bergerak ke luar. Imam yang melayani umat hingga blusukan ke bawah menjadi salah satu cara menghidupi gembala berbau domba. Imamat tidak hanya dihidupi di seputar altar tetapi juga di rumah-rumah warga lingkungan dan wilayah. Dengan menemui umat secara langsung, umat merasakan kedekatan dengan gembalanya. Kontributor: S. Wahyu Mega, S.J. – Gereja St. Yusup Gedangan

Pelayanan Gereja

Pesan Kehidupan di HUT 75 Gereja HSPMTB

Momen 75 tahun Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) menjadi pengingat agar mau berbagi untuk kesejahteraan bersama Alkisah ada seorang pemuda datang di sebuah kampung. Ia mendapati suasana di kampung tersebut dingin, terkesan tidak ada interaksi sosial yang hangat. Sang pemuda lantas mengetuk pintu satu rumah untuk meminta makan. Akan tetapi, tuan rumah mengatakan bahwa ia tidak memiliki persediaan makanan. Sang pemuda menjawab, “Baiklah, kalau begitu saya mau meminjam panci, nanti kita makan bersama. Saya memiliki batu ajaib!” Tetangga-tetangga pun berdatangan hendak menyaksikan si pemuda memasak batu ajaib. Saat merebus batu itu, pemuda tadi mengatakan masakan ini akan enak jika ditambahkan daging, lalu seorang penduduk desa bersedia menyumbangkannya. Setelah daging dimasukkannya dalam kuali, pemuda itu kembali berkata, masakan ini akan enak jika ditambahkan sayur-mayur. Kembali seorang penduduk desa datang memberikannya. Begitu seterusnya hingga terkumpul berbagai bahan makanan yang membuat masakan itu lengkap dan banyak. Cerita pemuda dan batu ajaib ini disampaikan Uskup Agung Jakarta, Bapak Uskup Ignatius Kardinal Suharyo dalam homili misa HUT ke-75 Gereja HSPMTB. Beliau mengungkapkan bahwa renungan itu memiliki pesan agar umat Katolik terus menyadari tanggung jawab iman untuk selalu terlibat dalam membangun kesejahteraan bersama. “Dalam sejarah umat manusia, sampai saat ini kesejahteraan bersama belum mampu diwujudkan,” tandas Ketua Konferensi Waligereja Indonesia periode 2012—2022 ini. Bapak Uskup Suharyo memberikan contoh dengan informasi terkait perbandingan dari 84 orang yang paling kaya di dunia ini setara dengan “kekayaan” 3,5 miliar orang yang kurang beruntung. “Silakan membayangkan ketimpangan itu terjadi. Sementara cita-cita kemerdekaan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia juga belum tercapai, masih sangat jauh,” tegasnya. Tentang kesenjangan sosial, Bapak Uskup angkat bicara terkait fenomena flexing. Menurutnya, semakin banyak orang yang suka pamer kekayaan atau kemewahan. “Di sisi lain, jika kita berjalan saat malam hari banyak ditemui saudara-saudari kita yang tidak memiliki rumah. Mereka tidur di gerobak sampah yang pada siang harinya digunakan untuk memulung,” kisahnya. Ia menegaskan agar sebagai umat Katolik, kita mau membiarkan diri dipimpin Roh Kudus dalam setiap langkah hidup. “Salah satu tanda seseorang dipimpin Roh Kudus adalah saat seseorang dengan berani dan selalu berusaha memilih yang baik dan benar dan tidak sekadar memilih yang menyenangkan dan gampang. Sekecil apapun, kita hendaklah menunjukkan keterlibatan membangun kebaikan bersama dan kesejahteraan bersama,” pesannya. Sementara itu, Romo Paroki HSPMTB, Pater Walterus Teguh Santosa, S.J. mengungkapkan bahwa setiap orang memiliki potensi yang tersimpan dan kita semua ditantang untuk merangkainya menjadi gerakan solidaritas yang membawa kesejahteraan bersama. “HSPMTB memiliki banyak pengalaman seputar solidaritas. Mulai dari Dana Sehat dan Kematian Santo Yusuf melalui Iuran Kartu Kuning; Aksi Puasa Pembangunan (APP) untuk mendukung program Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) hingga Program Ayo Sekolah, Ayo Kuliah, Ayo Kerja (ASAK). Inilah salah satu usaha Gereja dalam menciptakan jembatan yang menghubungkan antara si kaya dan si miskin,” ujarnya. “Setiap orang ditantang memainkan perannya masing-masing. Tak harus peran besar, seperti aktif dalam organisasi, tetapi peran yang tidak terlihat pun perlu dilakukan. Misalnya, Gerakan Kartu Kuning itu menjadi peran yang tidak dilihat orang, tetapi itu nyata,” pesan Pater Teguh. Lebih lanjut Pater Teguh menyampaikan bahwa Gereja se-KAJ telah merintis gerakan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu gerakan yang dilakukan gereja HSPMTB adalah mendampingi dan mendukung UMKM rintisan yang dijalankan Orang Muda Katolik dengan gerakan beli dari umat. Kesejahteraan dan KAJ Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) memiliki program pelayanan pastoral jangka panjang (2016-2026). Program tersebut berlandaskan semboyan “Seratus Persen Katolik, Seratus Persen Indonesia.” Bapa Uskup Ignatius Kardinal Suharyo menegaskan bahwa seratus persen Katolik merupakan panggilan dari setiap orang Kristiani. “Paus Fransiskus menegaskan bahwa semua orang dalam status dan kedudukan apapun mempunyai panggilan yang sama menuju kesempurnaan Kristiani, kesempurnaan kasih,” ungkapnya. Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa seratus persen Indonesia adalah watak bangsa Indonesia yang cinta akan tanah air. Karenanya, KAJ merumuskannya dalam program pastoralnya. Selama 2016-2021 KAJ memiliki tema pastoral yang bertujuan mendalami sila-sila Pancasila. “Gagasan itu diterjemahkan menjadi gerakan. Salah satu gerakan yang paling dikenal adalah rosario merah putih.” Secara khusus tahun 2022-2026, KAJ memiliki lima tema pastoral terkait aktualisasi watak peduli yang sesuai dengan ajaran sosial gereja. Tema pastoral itu meliputi hormat terhadap martabat manusia (tahun 2022); kebaikan bersama dan kesejahteraan umum (2023); solidaritas (2024); perhatian kepada kaum miskin (2025); dan lingkungan hidup (2026). “Jadi pas sekali kutipan surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Roh dianugerahkan kepada masing-masing untuk kepentingan bersama. Diharapkan umat Katolik pernah mendengar istilah ajaran sosial gereja, pernah mencoba mendalami, dan pernah mencoba mengaktualisasikan. Itu disebarluaskan di dalam katekese tiga menit setiap Minggu di paroki-paroki se-KAJ,” tambahnya. Bapak Uskup Suharyo juga mengakui bahwa egoisme merupakan tantangan yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan nilai pelayanan pastoral Gereja. “Gejalanya adalah keserakahan, korupsi, suap, dan manipulasi. Korupsinya lengkap mulai eksekutif, yudikatif, hingga legislatif. Bisnis pun seringkali berselingkuh dengan negara, misalnya dengan undang-undang yang menguntungkan pihak tertentu.” “Mari kita dalami program watak bangsa Indonesia itu melalui inspirasi iman. Kita coba rawat dan kembangkan sikap peduli dan cinta tanah air,” pungkasnya. Dalam kesempatan ini pula, Bapak Uskup mengapresiasi keberhasilan HSPMTB yang secara konsisten menggembalakan umat. Hal ini sebagai bentuk dukungan terhadap upaya KAJ yang terus menggiatkan pelayanan pastoral. Peringatan HUT ke-75 Gereja HSPMTB ini didasarkan pada tonggak peristiwa baptisan pertama 23 Mei 1948. Hingga saat ini Gereja HSPMTB telah melahirkan 13 paroki di Tangerang Raya dan beberapa Paroki di Jakarta Barat. Kontributor: Ario & Redy – Paroki Tangerang

Pelayanan Gereja

Sejahtera Bersama dalam Pesta Paskah

Waktu menunjukkan hampir jam 10 pagi. Misa kedua pagi itu baru saja usai. Umat berbondong menuju area sekolah Strada yang persis berada di sebelah Gereja Santa Anna. Suara musik mulai berkumandang dan MC bersahutan menyambut umat yang memasuki gedung SD Strada van Lith 2. Dua orang muda tampak menunggu di area parkir motor sekolah yang digunakan sebagai lokasi salah satu acara lomba. Mereka adalah OMK Wilayah Klender dan pendaftar lomba memasak nasi goreng yang diadakan oleh panitia paskah. “Ingin ikut berpartisipasi saja, meramaikan. Lagipula, OMK harus aktif lagi di Gereja Santa Anna,” kata Intan dan Eva bergantian. Masuk ke dalam gedung sekolah, di dalam beberapa kelas sudah bersiap anak-anak TK, SD, hingga orang muda lainnya untuk mengikuti lomba mewarnai, menggambar, dan menggambar digital dengan aplikasi Canva. Sementara itu, riuh anak-anak playgroup mulai terdengar saat lomba mencari telur paskah di lapangan olah raga. “Sukacita Paskah hendaknya dapat dirayakan bersama keluarga dalam satu moment yang sama. Oleh karena itu, kami adakan lomba yang melibatkan dari anak-anak hingga orang tua,” ujar Veronika Andrianti, Ketua Panitia acara Lomba Paskah pada Minggu, 16 April 2023. Selain kegiatan lomba, ada pula bazar UMKM Padusa yang bekerja sama dengan Seksi PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) Paroki Duren Sawit. Hal ini sejalan dengan tema paskah, yaitu Mewujudkan Kesejahteraan Bersama. Kristin, salah satu anggota UMKM Paroki Duren Sawit, merasa senang terlibat dalam acara bazar yang diadakan oleh panitia paskah. “Saya senang, semoga ada kesempatan seperti ini lagi di lain waktu,” kata umat Lingkungan Tarsisius ini. Meski mengalami kendala dan tantangan dalam persiapan, panitia paskah selalu berupaya untuk dapat mengakomodasi kebutuhan setiap acara. “Sulit juga mengajak OMK untuk mengikuti lomba. Namun kami tetap bersyukur karena akhirnya banyak juga yang berpartisipasi dan respon umat cukup baik,” ungkap Andrianti. Perempuan yang akrab disapa Ria itu juga menambahkan, semoga lomba-lomba yang diadakan dapat menjadi wadah bagi anak-anak untuk belajar lebih percaya diri dan kreatif. “Bisa bertemu dengan teman-teman sebaya dan seiman, bukan sekadar mencari hadiah dan juara,” tambahnya. Kontributor: Amadea Pranastiti – KOMSOS St Anna

Pelayanan Gereja

Bakti Sosial untuk Helen Keller Indonesia dan Pesantren Waria Al-fatah

Minggu, 12 Maret 2023, lektor Gereja Santo Yusup, Gedangan, Semarang mengadakan bakti sosial (baksos). Program baksos merupakan program tahunan. Di tahun ini, baksos dilakukan dengan tidak biasa. Baksos yang out of the box ini dilaksanakan dalam rangka berjalan bersama orang miskin, terbuang dan yang martabatnya teraniaya (UAP 2). Ada dua tempat tujuan baksos, yaitu SLB G-AB Helen Keller Indonesia dan Pesantren Waria Al-fatah. Dalam rangka menggalang dana untuk kegiatan baksos ini, para anggota lektor berjualan makanan di depan gereja. Kami berjualan nasi goreng, siomay, nasi ayam, susu, dan sebagainya. Bahkan, ada anggota yang mengedarkan jualannya di halaman parkir luar gereja dengan bersemangat. Selain itu, kami juga dibantu oleh banyak donatur. Ternyata, tidak mudah mencari donatur untuk baksos edisi spesial ini. Tidak sedikit dari para calon donatur yang tidak setuju jika baksos dilakukan di pesantren dan untuk waria. Syukurlah bahwa pada akhirnya, dengan rahmat Tuhan, kami berhasil mendapatkan donasi yang kami butuhkan bahkan jumlahnya melebihi dari target. Kami dapat membeli barang-barang yang dibutuhkan untuk SLB G-AB Helen Keller Indonesia dan Pesantren Waria Al-fatah. Destinasi pertama baksos adalah SLB G-AB Helen Keller Indonesia. SLB G-AB Helen Keller Indonesia, Yogyakarta berdiri sejak tanggal 25 Juni 1996. SLB ini didirikan oleh para Suster Putri Maria dan Yosef (PMY) dan merupakan pengembangan dari SLB B Dena Upakara Wonosobo. SLB G-AB Helen Keller Indonesia adalah sekolah berasrama yang melayani anak berkebutuhan khusus ganda tunarungu-netra. Baksos di SLB G-AB Helen Keller Indonesia diisi dengan acara bernyanyi, menari, dan bermain games bersama. Dalam segala keterbatasannya, anak-anak tunarungu-netra dibantu oleh para pendamping mengikuti acara yang telah disiapkan oleh anggota lektor. Anak-anak tunarungu-netra ikut hanyut dalam kebahagiaan dan sukacita bersama anggota lektor. Acara ditutup dengan makan siang bersama. Dalam kesempatan ini pula, kami belajar berkomunikasi dengan anak tunarungu-netra dibantu oleh para pendamping. Destinasi kedua adalah Pesantren Waria Al-fatah. Pesantren Waria Al-fatah yang berada di Kotagede, Yogyakarta, berdiri pada 28 Juli 2008. Pesantren ini hadir untuk memberi kesempatan bagi para waria atau yang lebih akrab disapa dengan transpuan untuk beribadah dan memperdalam agama secara nyaman. Para transpuan terkadang merasa tidak nyaman dan seringkali mendapat penolakan dari warga. Acara baksos diisi dengan perkenalan singkat dengan beberapa transpuan, pengenalan profil pesantren, dan diskusi. Kami dapat memahami beberapa keunikan yang ada di Pesantren Waria Al-fatah. Salah satu dari keunikan itu adalah santri tidak tinggal dan menetap seperti pesantren-pesantren pada umumnya. Para santri transpuan tinggal di rumah masing-masing. Mereka datang ke pesantren biasanya pada weekend untuk memperdalam nilai-nilai keagamaan. Dalam acara diskusi singkat, para santri transpuan menceritakan kisah hidupnya, terutama tentang memperdalam agama dan kehidupan hariannya. Ada banyak pertanyaan yang terlontar saat pertemuan dan diskusi dengan para santri. Belajar dari sumber secara langsung membantu pemahaman kami, komunitas lektor, tentang kehidupan para santri transpuan dan terlepas dari prasangka-prasangka. SLB G-AB Helen Keller Indonesia dan Pesantren Waria Al-fatah adalah tempat yang tepat bagi kami, lektor St. Yusup Gedangan, untuk belajar memahami arti dari sesama manusia. Anak-anak tuna rungu-netra dan transpuan adalah orang-orang lemah, terbuang, dan yang martabatnya teraniaya. Anak-anak tersebut memiliki keterbatasan secara fisik. Mereka miskin secara bahasa. Sedangkan transpuan adalah kaum marjinal, mereka ditolak kehadirannya. Secara khusus, transpuan menjadi sasaran empuk bagi banyak orang untuk disingkirkan. Transpuan dianggap berdosa besar, melanggar kodrat, perilaku menyimpang, dilaknat Tuhan, dan sebagainya. Ada begitu banyak hujatan yang ditujukan kepada mereka. Sebagian orang lebih suka menghujat daripada menemani, lebih suka membenci daripada mencintai, dan lebih suka mengucilkan daripada merangkul. Reni, Steven, dan Santi sebagai anggota lektor Gereja Santo Yusup Gedangan mengatakan bahwa pengalaman baksos kali ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Pengalaman berharga yang mampu mengubah sudut pandang terhadap orang-orang miskin, tersingkir dan yang martabatnya teraniaya. Reni secara khusus mengatakan bahwa kaum transpuan butuh dihargai, dihormati, dibantu, terlebih diterima oleh kita sesamanya. Mereka manusia biasa yang juga membutuhkan teman untuk berbagi cerita, teman untuk berkeluh kesah, teman yang mau membantu saat mereka dalam kesulitan. Melalui perjumpaan dengan anak-anak tunarungu-netra dan transpuan, kami belajar bahwa hidup harus diisi dengan rasa syukur dan dijalani dengan gembira. Perjumpaan selalu saja memberikan banyak rahmat. Perjumpaan tersebut adalah undangan pertobatan secara personal. Tidak hanya rasa syukur, kami juga belajar untuk tidak menghujat orang lain dan, yang paling penting, belajar untuk memahami arti menjadi sesama manusia. Menjadi sesama manusia berarti mengasihi dan memperhatikan orang lain tidak hanya terbatas pada hubungan antar anggota sekeluarga, sebangsa, sesuku, segolongan, atau seagama. Kasih bersifat universal, melampaui batas-batas yang ada. Kasih mendekatkan yang jauh, menyembuhkan yang terluka, dan menemani yang kesepian. Dalam dokumen Fratelli Tuti dikatakan bahwa kasih ditujukan kepada semua manusia, tanpa terkecuali. Kasih tidak memanggil kita untuk bertanya siapa yang dekat dengan kita tetapi untuk menjadikan diri kita dekat, menjadi sesama manusia. Kontributor: S. Wahyu Mega, SJ – Pendamping Lektor St. Yusup Gedangan