capture imaginations, awaken desires, unite the Jesuits and Collaborators in Christ mission

Rekoleksi Umat: Penyegaran Rohani, Imam Berbau Domba

Date

Gereja St. Yusup, Gedangan mengadakan rekoleksi umat selama bulan Mei dengan mengusung tema “Membawa Damai: Semakin Bersinergi, Semakin Melayani.” Melalui tema ini, umat diharapkan dapat membawa damai, merangkul semua suku, budaya dan strata sosial sehingga menghilangkan sekat-sekat pemisah. Umat diharapkan terlibat dan bersinergi sehingga terjalin komunikasi terbuka dan lancar diantara Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan antar umat di lingkungan. Umat juga diharapkan mampu melayani dengan meniru keteladanan dari St. Yusup dan St. Ignatius Loyola.

Gereja St. Yusup, Gedangan memiliki 10 wilayah dan 50 lingkungan. Satu wilayah terdiri atas empat hingga tujuh lingkungan. Kesepuluh wilayah dilayani oleh dua imam yakni Pater Benedictus Cahyo Christanto, S.J. dan Pater Vincentius Suryatma Suryawiyata, S.J. (masing-masing melayani rekoleksi umat untuk lima wilayah). Dalam satu minggu setiap romo melayani satu wilayah sehingga dalam satu bulan semua wilayah dapat terlayani. Wilayah Christophorus, Fransiskus Xaverius, Yohanes Pembaptis, Petrus, dan Vincentius dilayani oleh Pater Cahyo Christanto, S.J. sedangkan Wilayah Andreas, Leonardus, Theresia, Thomas, dan Hati Kudus dilayani oleh Pater Suryatma, S.J.

Dalam paham Gereja sebagai umat beriman maka umat Katolik yang berada di lingkungan adalah umat beriman yang sesungguhnya. Mereka hidup bersama dalam satu wilayah teritori tertentu. Dengan demikian, umat beriman adalah warga lingkungan tertentu. Gereja sebagai persekutuan umat beriman adalah cita-cita gereja zaman ini. Jumlah umat yang terbatas, hubungan saling mengenal, terbuka terhadap interaksi dengan masyarakat membuat lingkungan menjadi tempat yang memungkinkan untuk mewujudkan gereja sebagai persekutuan umat beriman.

Rekoleksi umat merupakan sebuah bentuk penyegaran rohani bagi umat di lingkungan dan wilayah. Pandemi covid-19 telah melemahkan kehidupan dari berbagai aspek termasuk reksa pastoral paroki dan dinamika umat di lingkungan dan wilayah. Saat ini sungguh diperlukan penyegaran kembali akan pentingnya lingkungan dan wilayah sebagai cara hidup menggereja yang merupakan kekuatan untuk mendewasakan umat paroki.

Para imam tidak bekerja seorang diri dalam karya penggembalaan umat paroki. Para imam dibantu oleh DPP dan para pengurus lingkungan dan wilayah. Tanpa keterlibatan aktif DPP dan para pengurus lingkungan dan wilayah, para imam tidak dapat berbuat banyak dalam menggembalakan umat yang dipercayakan kepadanya.

Sejalan dengan surat gembala Prapaskah 2023 Keuskupan Agung Semarang dengan tema “Hadirkan Damai Bagi Sesama dan Alam Ciptaan,” maka Gereja St. Yusup, Gedangan berkehendak menyegarkan lagi semangat pertobatan Paskah dan menyapa umat di lingkungan dan wilayah masing-masing dengan mengadakan acara rekoleksi umat.

Hal yang paling menarik dari rekoleksi umat ini adalah kegiatan ini diadakan di wilayah masing-masing bukan di gereja. Bukan umat yang mendatangi romo tetapi romo yang mendatangi umat bersama dengan DPP. Mereka bersinergi, bergerak menyentuh ke bawah. Mereka hadir bersatu dan membaur bersama umat. Umat yang ada di lingkungan dan wilayah merasa disapa, ditemani, dan diperhatikan.

Rekoleksi umat diisi dengan sarasehan yang meliputi sejarah singkat komunitas basis, hakikat peran dan kegiatan lingkungan, situasi umat lingkungan, dan belajar dari keteladanan St. Yusup dan St. Ignatius Loyola. Para romo di wilayah masing-masing mengajak umat memahami dan merefleksikan komunitas basis dan situasi konkret yang terjadi di setiap lingkungan. Umat diajak memiliki kepekaan melihat sisi-sisi positif dan sisi-sisi yang perlu dikembangkan di wilayah dan lingkungan. Kemudian, umat diajak meneladani nilai-nilai luhur dari St. Yusup dan St. Ignatius Loyola.

Dari sarasehan tersebut, umat diberikan panduan pertanyaan refleksi yang harus dijawab dalam kelompok kecil. Satu kelompok terdiri dari 5 sampai 6 umat. Panduan pertanyaan refleksi membuat umat merenungkan dan merepetisi kembali materi sarasehan yang telah diberikan oleh para romo. Jawaban mereka nantinya akan disampaikan dalam pleno sehingga setiap kelompok dapat belajar dari kelompok lainnya.

Jawaban-jawaban umat atas pertanyaan refleksi sungguh menarik. Dari jawaban itu dapat diketahui bahwa umat sangat serius mengikuti rekoleksi. Mereka dapat memahami dengan baik komunitas basis, hakikat peran dan kegiatan lingkungan, situasi umat lingkungan, dan belajar dari keteladanan St. Yusup dan St. Ignatius Loyola. Mereka merasa diteguhkan untuk menghidupkan iman dan membangun persekutuan-persekutuan secara teritorial dalam lingkungan masing-masing.

Rekoleksi diakhiri dengan berkat penutup dari romo pendamping. Sebelum berkat penutup, umat dipersilahkan untuk menyampaikan pesan dan kesan dari rekoleksi umat ini. Umat menanggapi secara positif adanya rekoleksi umat ke wilayah-wilayah. Mereka merasakan konsolasi. Mereka mengatakan bahwa rekoleksi umat menjadi bentuk dari gereja menyapa. Gereja melalui para romo hadir bergerak ke bawah untuk menyapa umatnya secara langsung. Umat berharap bahwa rekoleksi umat bisa diadakan secara berkala.

Rekoleksi umat bukan hanya membawa penyegaran rohani kepada umat tetapi juga menjadi bentuk dari gembala berbau domba. Gembala berbau domba adalah wujud dari Gereja yang bergerak ke luar. Imam yang melayani umat hingga blusukan ke bawah menjadi salah satu cara menghidupi gembala berbau domba. Imamat tidak hanya dihidupi di seputar altar tetapi juga di rumah-rumah warga lingkungan dan wilayah. Dengan menemui umat secara langsung, umat merasakan kedekatan dengan gembalanya.

Kontributor: S. Wahyu Mega, S.J. – Gereja St. Yusup Gedangan

More
articles

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *