capture imaginations, awaken desires, unite the Jesuits and Collaborators in Christ mission

Belajar Nilai Hidup Melalui Hidup di Pelabuhan Branta

Date

Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That’s why it’s called the present. 

Master Oogway

Pernahkah saat kalian sedang makan di sebuah restoran yang menyediakan menu-menu seafood, kalian bertanya, “Dari mana ya ikan-ikan ini diambil?” “Bagaimana ya cara menangkap ikan-ikan ini hingga akhirnya bisa diubah menjadi hidangan?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut sempat terlintas di kepala saya. Kesempatan yang diberikan Tuhan mengantar saya pada suatu pengalaman yang membantu saya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan live in di daerah pelabuhan Branta, Pamekasan, Madura. Saat tiba di tempat itu, saya teringat akan pertanyaan-pertanyaan yang pernah saya ajukan sambil berkata dalam hati, “Sepertinya Tuhan akan membantu saya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini lewat pengalaman di tempat ini.” Kurang lebih lima hari saya tinggal di Pelabuhan Branta. Selama waktu itu, saya sungguh-sungguh memaksimalkan waktu untuk mengamati keadaan dan suasana di tempat itu sekaligus berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sana. Saya mengamati kondisi ekonomi, sosial, budaya, kehidupan beragama, dan kondisi lingkungan di sana. Permukiman di sekitar Pelabuhan Branta cukup padat dan rumah-rumah berjarak sangat dekat. Ada satu akses jalan besar sebagai jalan utama menuju pelabuhan. Jalan utama itu terbentang dari ujung ke ujung dan ramai. Yang menarik perhatian saya ialah alat transportasi di sana yaitu bentor dan odong-odong. Bentor di sana rangkanya lebih panjang dan digunakan untuk mengangkut orang. Namun saat jam pasar, bentor mengangkut ikan dan hasil laut lainnya. Sementara odong-odong, motor yang dimodifikasi menjadi mirip minibus dipakai mengangkut anak sekolah di pagi hari. Pada malam hari odong-odong digunakan sebagai sarana hiburan dengan lampu warna-warni. Banyak ibu-ibu di daerah sekitar situ yang naik odong-odong sambil menggendong anaknya agar anak-anak itu tertidur. Yang lebih menarik bagi saya ialah baik odong-odong maupun bentor di daerah itu selalu memutar lagu dengan pengeras suara. Lagu-lagu khas yang diputar di daerah itu ialah dangdut koplo, remix, lagu cover berbahasa Madura, dan lagu-lagu India. Lagu-lagu itu menjadi menemani percakapan saya dengan teman-teman nongkrong bersantai di depan rumah setelah bekerja sambil membicarakan keacakan tempat kami live in.

Sekolah sepertinya menarik minat banyak anak-anak dan remaja di sana. Setiap pagi mulai pukul 06.00, kami melihat banyak anak-anak mulai dari SD sampai SMA berangkat ke sekolah. Jarak sekolah dengan permukiman penduduk tidak terlalu jauh dan dilengkapi dengan fasilitas yang cukup lengkap. Perguruan tinggi memang ada tetapi letaknya lebih jauh.

Namun ada banyak ibu-ibu muda yang sedang menggendong anak juga ditemui di tempat itu. Rupanya banyak pasangan yang memutuskan untuk menikah dalam usia muda. Terlepas dari ketersediaan fasilitas seperti sekolah dan pendidikan, pada akhirnya kesenjangan ekonomi terlihat dari adanya rumah-rumah besar dan megah dan rumah kecil yang mungkin kurang layak huni. Beberapa rumah terletak di tanah pemerintah yang rentan penggusuran. Mayoritas warga laki-laki bekerja sebagai nelayan, sedangkan yang perempuan berjualan di pasar atau tempat pelelangan ikan. Ada juga yang berjualan di warung-warung kecil. Karena kehidupan sangat dekat dengan laut, banyak anak berpikir bahwa bekerja di kapal adalah kesempatan yang tersedia bagi mereka saat dewasa. Penghasilan nelayan di sana rata-rata sekitar 100-200 ribu sekali melaut.

Beban kerja menurut saya sangat berat. Saya berkesempatan untuk ikut melaut selama dua hari. Berangkat dari pelabuhan pukul 02:00 dan sampai di tempat menjaring ikan pukul 05:00–05:30. Kembali ke pelabuhan sekitar pukul 12.00-13.00 dan sampai sana pukul 14:00-15:00. Mereka bekerja menarik jaring sekitar enam jam. Jaring ditebar dengan tali tambang sepanjang satu kilometer. Tali itu juga sangat berat. Nelayan akan melemparkan jaring dan kapal akan berputar di area tertentu. Jaring akan ditarik perlahan menggunakan mesin, tetapi para nelayan harus menggulung tali tersebut. Hasil yang di dapat pun tidak menentu, tergantung rejeki mereka. Mereka juga memiliki tradisi, yaitu ketika mendapatkan penyu, maka akan dilepas kembali. Mereka percaya jika penyu tidak dilepas, maka hasil tangkapan akan sedikit.

Orang-orang di Pelabuhan Branta menurut saya sangat religius. Mayoritas beragama Islam dan banyak terdapat masjid di sana. Mereka taat beribadah. Selama di atas kapal, tetap taat sholat. Ada pengajian yang terjadwal. Anak-anak disana juga sudah diajarkan untuk menghafal dan membaca Al-Quran. Bahkan saya juga sempat bertemu dengan seorang nelayan yang melakukan puasa Senin-Kamis. Namanya Pak Mastur. Saya mengobrol dengannya dan ia senang membicarakan tentang Tuhan. Ia berbicara tentang komunikasi yang baik dengan Tuhan, berusaha menyelaraskan hati dan pikiran ketika ingin berkomunikasi dengan-Nya. Di sana gelar haji cukup disegani dan memiliki nama. Kebetulan saya dan beberapa kawan lain memiliki orangtua asuh bernama Haji War yang berpengaruh dan cukup memiliki nama di daerah itu.

Ada pengalaman menarik di malam pertama berada di daerah tersebut. Sekitar pukul 22:00, ketika saya dan beberapa teman sudah tidur, tiba-tiba kami dibangunkan oleh salah satu teman saya yang masih nongkrong di depan rumah, “Heh bangun-bangun, kita mau diusir dari sini.” Saya kaget dan segera bangun bertanya mengapa ia berbicara seperti itu. Ternyata di luar ada pak RT yang menegur teman saya dan menanyakan izin tinggal di daerah ini. Kami semua panik karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pada saat itu kami dikira komplotan teroris, mungkin karena berambut gondrong dan membawa trashbag. Untung saja Pak Haji War langsung datang dan menyelesaikan masalah meskipun sempat cukup alot. Bahkan keesokan paginya ada dua polisi datang. Dengan baik, Pak Haji War menjelaskan semuanya kepada polisi dan petugas setempat.

Saya sempat diberitahu bahwa di daerah tersebut merupakan daerah yang aman karena orang atau warga setempat biasa menyelesaikan masalah dengan berkomunikasi. Saya juga sempat melihat sendiri warga setempat yang sempat bersitegang karena serempetan bentor. Pemilik bentor tidak terima dan berteriak kepada penyerempet. Mereka bertengkar hebat dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Warga segera menghampiri dan menenangkan mereka. Pada awal datang, saya sempat berpikir bahwa warga setempat sangat cuek karena tidak merespon atau malah judes ketika disapa. Ketika pertama nongkrong di depan rumah, mereka menatap sinis dan tidak ada satupun yang mengajak ngobrol tetapi lama-kelamaan semua itu mulai berubah. Kita mulai membaur dengan lingkungan sekitar. Kita juga mulai diterima dan banyak yang mengajak berbicara. Terutama ketika malam, ada yang datang dan ikut nongkrong bersama. Tidak sedikit pula yang memberi makanan dan minuman. Kesan awal saya terhadap mereka berubah. Awalnya mereka seperti tidak peduli, namun setelah berbaur, mereka menerima saya.

Selama lima hari di Pelabuhan Branta, saya sungguh merasakan kehadiran Tuhan dalam diri saya. Tuhan selalu menjaga saya sehingga saya bisa melaksanakan live in dengan lancar dan pulang kembali ke Jogja dengan selamat. Kehadiran Tuhan juga saya rasakan melalui perantaraan orang-orang baik dan perhatian mereka. Ketika merasa terasing, ternyata masih ada orang yang peduli. Mereka memberikan apa yang mereka punya kepada kita. Saya rasa itu adalah bentuk kehadiran Allah yang datang dari orang lain. Saya juga belajar mengenai rasa syukur melalui live in ini.

Saya belajar untuk selalu bersyukur atas apa yang saya miliki dan bisa mengerti bagaimana susahnya mencari uang. Saya jadi tahu bahwa kita harus terus belajar tidak terbatas hanya di sekolah saja. Kita harus bisa belajar langsung di lapangan dan melihat kenyataan yang ada. Saya juga senang karena bisa membantu dan berbaur dengan masyarakat setempat. Semangat juang hingga tapal batas juga saya rasakan ketika saya terombang-ambing di tengah ombak besar. Saya tidak ikut menarik tali jaring karena saya sudah cukup lelah dan pusing. Saya merasa ingin segera pulang tetapi harus bisa memaksa diri melewati tapal batas.

Selepas dari live in di Pelabuhan Branta, sempat terpikir komitmen yang akan saya lakukan. Saya ingin berkomitmen untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala anugerah-Nya. Sederhana saja, mulai dari bersyukur atas pagi yang cerah, masih diberi kehidupan, dan masih bisa menikmati makanan. Hal ini pun ingin saya lakukan dalam tindakan konkret. Saya juga ingin berkomitmen untuk membantu orang-orang yang membutuhkan ketika saya memiliki rezeki lebih. Selain itu, saya berkomitmen untuk hemat mengeluarkan uang karena saya telah mengerti dan paham bagaimana susahnya mencari uang. Saya juga ingin menghargai perbedaan dalam masyarakat. Ketika di Madura saya belajar bahwa kemajemukan atau perbedaan yang kita miliki tidak menghalangi kita untuk hidup berdampingan dan menciptakan kedamaian. Oleh karena itu, saya ingin lebih menghargai orang lain.

Sebuah petualangan dan pengalaman yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Pelabuhan Branta, tempat yang sebelumnya asing bagi saya, ternyata meninggalkan pengalaman yang begitu mengesan. Jika Santo John de Britto menjalani misinya di Madurai, begitu pula dengan saya menjalankan misi saya di Madura. Itulah yang membuat saya juga ingin berbaur dengan masyarakat setempat agar bisa diterima. Saya menjalani kehidupan saya dengan penuh tanya, “Apa yang akan terjadi esok hari?” Bekerja sebagai nelayan sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sempat muncul dalam pikiran saya. Bertemu dengan orang-orang yang sungguh luar biasa dengan latar belakang yang berbeda. Mengamati kehidupan masyarakat setempat yang cukup unik. Mulai dari orang yang terbiasa berbicara dengan nada tinggi hingga musik dangdut Madura dan DJ remix yang selalu menemani seiring bentor dan odong-odong yang berjalan. Banyak pelajaran yang saya dapat, baik itu dari orang tua asuh, Pak Mastur, maupun masyarakat sekitar. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena diberi kesempatan langka ini. Berbaur dengan siapa saja tanpa memperhatikan latar belakang mereka. Pelabuhan Branta akan selalu menjadi bagian dalam hidup saya karena dari pelabuhan Branta saya belajar banyak mengenai hidup.

Kontributor: Imanuel Axellino Anandito – SMA Kolese de Britto

More
articles

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top