Pilgrims on Christ’s Mission

karya jesuit

Realino SPM

Menjadi Sahabat: Pendengar dan Utusan Kasih

Saya dan teman seangkatan memilih pengabdian sosial (pengabsos) di Yayasan Realino, pendampingan anak-anak Komunitas Belajar Realino (KBR) Bongsuwung dan Jombor. Pengalaman sebagai volunteer di Realino Seksi Pengabdian Masyarakat (Realino SPM) membawa saya pada refleksi mendalam tentang hidup. Sebagai volunteer, saya tidak hanya bertindak sebagai pendidik, tetapi juga teman, pendengar, dan pemberi kasih tulus. Pengalaman ini mengingatkan saya pada semangat dan dedikasi pendiri kongregasi saya, Pater Leo John Dehon. Dia memperjuangkan kehidupan kaum buruh dan orang miskin. Pater Dehon merupakan teladan bagi kami, para Dehonian dalam memperhatikan dan menyelesaikan masalah sosial. Saya berusaha meneladan semangatnya, terutama dalam mengabdi masyarakat dan Gereja.   Mengajar anak-anak di KBR Bongsuwung dan Jombor bukanlah tugas mudah. Di tengah keceriaan dan semangat mereka, saya sering menemukan tantangan. Banyak anak-anak terpengaruh budaya toxic yang menjauhkan mereka dari nilai kesopanan dan penghormatan pada sesama. Saya menyaksikan antara mereka berperilaku kurang sopan, kadang-kadang dengan kata-kata menyakitkan. Di sisi lain, ada pula kebahagiaan selama pengabsos. Saya bangga dan bahagia bisa berbagi, mendapat pengalaman baru, menjalin relasi dengan sesama volunteer dan anak-anak KBR. Kerja sama mengajar dan mendampingi anak-anak menyatukan komunitas volunteer dan membangun solidaritas satu sama lain. Kami saling mendukung untuk terus berkomitmen memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Momen-momen lucu penuh tawa bersama menciptakan kenangan tak terlupakan. Saya merasa terhormat jadi bagian hidup mereka.   Anak-anak KBR Bongsuwung dan Jombor sangat aktif dan periang. Mereka punya semangat luar biasa dan imajinasi tak terbatas ketika saya mengajak membuat handycraft bahan-bahan alam, seperti terrascape tumbuhan hidup atau kapal pesiar daun pisang kering (klaras). Mereka antusias mengerjakan dan memberikan ide-ide kreatif. Saya menyadari mereka membutuhkan bimbingan, perhatian, dan kasih sayang. Banyak dari mereka kurang diperhatikan orang tua yang mungkin terjebak kesibukan tuntutan hidup harian. Saya terpanggil memberikan dukungan sebagai sahabat. Saya belajar jadi pendengar, memberikan perhatian penuh saat mereka berbicara, menciptakan lingkungan aman tempat mereka merasa diterima, dihargai dan dicintai.   Sebagai mahasiswa Teologi, saya belajar bahwa Teologi pun bersuara tentang bagaimana saya menciptakan dampak positif di masyarakat, khususnya bagi yang terpinggirkan. KBR Bongsuwung dan Jombor jadi ruang penghayatan nilai-nilai teologis dan manusiawi, aneka pengalaman perjumpaan kesedihan dan kebahagiaan yang kerap berjalan beriringan. Ada masa saya merasa sedih dan lelah karena terik panas dan habis energi. Namun, ada saat pula ketika saya merasa terinspirasi semangat anak-anak. Saya mensyukuri setiap pengalaman, suka maupun duka. Saya berkomitmen terus berjuang menghargai setiap pribadi dan perhatian pada mereka yang kecil. Sebagai frater SCJ, lewat semangat Pater Dehon, saya berniat memperjuangkan kehidupan lebih baik bagi mereka yang terpinggirkan dan memberikan suara kepada mereka yang tidak terdengar. Saya belajar tidak hanya menjadi pendamping, tetapi juga sahabat yang dapat dipercaya.    Pengalaman menjadi volunteer di Realino SPM telah menjadikan saya lebih peka pada kebutuhan sosial di sekitar saya. Saya lebih sadar akan berbagai isu yang dihadapi masyarakat, terutama anak-anak dan remaja. Ini mendorong saya berpikir lebih kritis bagaimana saya bisa berkontribusi menciptakan perubahan positif. Saya berefleksi bahwa pengalaman ini bukan hanya tentang memberikan, melainkan juga tentang menerima. Setiap interaksi dengan anak-anak dan relasi sesama volunteer telah memberikan pelajaran berharga tentang kebersamaan, kasih, dan harapan. Saya belajar lebih bersyukur atas setiap momen saya jalani. Pun saya menyadari bahwa setiap usaha kecil saya lakukan bisa berdampak besar bagi hidup sesama. Dengan semangat kasih, saya siap menjadi utusan kasih di tengah masyarakat dan Gereja. Setiap hari adalah kesempatan menciptakan perubahan berarti dalam hidup pribadi yang kita jumpai, terlebih mereka yang terpinggirkan.   Kontributor: Fr Faustinus Trias Windu Aji, SCJ – Volunteer Realino SPM

Provindo

Perjumpaan sebagai Jalan Hati

Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia – Indonesia (Pope’s Worldwide Prayer Network – Indonesia, selanjutnya disebut PWPN Indonesia) bersukacita karena bulan Februari lalu, Direktur Internasional PWPN, Pater Cristóbal Fones, S.J. mengunjungi Indonesia. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka mengenal konteks lokal Indonesia dan bagaimana karya kerasulan ini dijalankan, termasuk apa saja yang menjadi tantangan dan peluang untuk pengembangan. Pater Cristóbal Fones, S.J. adalah Jesuit asal Chile yang baru saja resmi menjadi Direktur Internasional PWPN per 1 Januari 2025. Dalam rangkaian kunjungan ke wilayah Asia Pasifik ini, Pater Cristóbal juga mengunjungi Malaysia, Singapura, dan Timor Leste.   Kunjungan di Indonesia berlangsung dari 22-27 Februari 2025. Kegiatan dimulai di Jakarta dengan mengunjungi Paroki Katedral, Terowongan Silaturahim, dan Masjid Istiqlal. Pater Cristóbal juga menjadi konselebran perayaan Ekaristi di Katedral. Esoknya, diadakan sarasehan The Way of the Heart bersama Pater Sindhunata, S.J.. Selain terbuka untuk umum, sarasehan ini juga menjadi kesempatan berkumpul bagi berbagai komunitas yang menghidupi Spiritualitas Ignatian, seperti Magis, Christian Life Community (CLC), Latihan Rohani Pemula (LRP), Schooled by The Spirit (SBS), Aminigo, dan lainnya. Pater Cristóbal juga mengenalkan PWPN pada para siswa Kolese Kanisius. Setelah itu, ia melanjutkan kunjungan ke Yogyakarta untuk bertemu Pater Antonius Sumarwan, S.J., Koordinator Nasional PWPN Indonesia. Di Yogyakarta, Pater Cristóbal diajak mengunjungi Pusat Musik Liturgi, kantor Yayasan Basis yang menerbitkan Utusan sebagai majalah resmi PWPN, dan Omah Petroek yang menyediakan beberapa situs untuk merefleksikan Jalan Hati. PWPN Indonesia juga mengadakan perayaan Ekaristi dan parade lagu di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru. Perjalanan dilanjutkan menuju Jawa Tengah, yaitu ke Seminari Menengah Mertoyudan dan menghadiri misa perdana Romo Petrik Yoga, Pr yang juga terlibat aktif di PWPN Indonesia. Di Wonosobo, Pater Cristóbal mendapatkan hadiah menarik yaitu tarian dari siswi-siswi SLB/B Dena Upakara yang didampingi para Suster PMY. Rangkaian kegiatan ditutup dengan berwisata ke Candi Borobudur.    Dalam rangkaian kunjungan ini, Pater Cristóbal juga banyak berbagi dan mengenalkan apa itu PWPN, dasar spiritualitas, dan misi yang diemban. Tulisan ini akan membagikan hal-hal tersebut.     Persahabatan dengan Yesus Dasar dari segala pelayanan, misi, dan karya PWPN adalah pengalaman persahabatan personal dengan Yesus. Dalam sejarahnya, PWPN memiliki kedekatan dengan spiritualitas Hati Kudus Yesus. Semangat ini pula yang selalu dihidupkan dalam karya-karya PWPN. Spiritualitas Hati Kudus Yesus menyatukan jaringan doa ini yang telah mencakup lebih dari 90 negara dan lebih dari 22 juta umat Katolik di seluruh dunia.   Dalam PWPN, Spiritualitas Hati Kudus Yesus dikenalkan dalam bentuk modul formasi berjudul The Way of the Heart (Jalan Hati). Modul ini terdiri atas 9 langkah permenungan yang membantu kita mengenal Hati Allah Bapa, Hati Allah Putra, dan Hati Allah Roh Kudus. The Way of the Heart menjadi dasar pengolahan hati kita untuk bisa menjalankan misi belas kasih bagi dunia (a mission of compassion for the world).   Sejak tahun 2023, PWPN Indonesia mencoba mengadaptasi modul Jalan Hati sebagai modul retret tahunan. Selain itu, pada Yubileum Hati Kudus Yesus ini, PWPN Indonesia juga menggunakan modul Jalan Hati sebagai tema buklet doa dan bahan permenungan selama setahun. Menggunakan bahan permenungan itu, diadakan olah dan percakapan rohani secara daring pada Senin kedua tiap bulan.   Pater Cristóbal tidak hanya bicara soal persahabatan dengan Yesus, tetapi sungguh menghidupinya. Pada dua kesempatan terpisah, ketika diskusi dengan para siswa Kolese Kanisius dan Seminari Menengah Mertoyudan, Pater Cristóbal mengungkapkan bahwa sahabat terdekatnya adalah Yesus. Ia mengungkapkan dulu ketika remaja sering menulis curhat dengan Yesus dan hingga kini pun Yesus adalah sahabat terbaiknya.     Kerasulan Doa Salah satu penerapan misi utama PWPN adalah mendoakan dan menyebarkan intensi doa Bapa Suci setiap bulannya. Beberapa cara yang digunakan oleh Tim Internasional PWPN adalah dengan membuat video Bapa Suci (The Pope Video) dan membagikan bahan dari aplikasi Click to Pray yang menyediakan bahan doa pagi, siang, dan malam untuk mendukung intensi doa Bapa Suci.    PWPN Indonesia pun bergerak aktif untuk mendukung dua sarana ini. Untuk The Pope Video, PWPN Indonesia berkolaborasi dengan Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia (BN-KKI) untuk memberi subtitle dan menerjemahkan infografis ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa bahan dari Click to Pray juga secara rutin diterjemahkan dan disebarkan melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp.    Dalam momen kunjungan kemarin, PWPN Indonesia mengadakan parade lagu, “Senandung Doa untuk Dunia”, setelah perayaan Ekaristi harian di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru. Dikatakan bahwa bernyanyi itu dua kali lipatnya berdoa, maka diharapkan dengan lantunan nada-nada, umat semakin mengenal spiritualitas dan karya-karya PWPN. Pada kesempatan itu, PWPN Indonesia memperkenalkan lagu Doa Persembahan Harian dalam bahasa Indonesia dan Inggris yang dibuat oleh Ibu Damian Alma, seorang komposer.   Pater Cristóbal juga menggunakan musik sebagai sarana pewartaan. Ia memiliki motto musik sebagai pelayanan iman dan promosi keadilan dan sudah memiliki 12 album. Yang menarik, dalam kunjungan ini ia beberapa kali berkata, “Saya bukan seorang musisi atau penyanyi, saya hanyalah seorang imam.” Musik adalah salah satu bentuk kerasulan dan pelayanannya.     Formasi Orang Muda Misi PWPN juga berkaitan dengan formasi dan pendampingan orang muda. PWPN memiliki komunitas orang muda bernama Eucharistic Youth Movement (EYM), yang di Indonesia dikoordinasi oleh Pater Yohanes Nugroho, S.J.. Kehadiran EYM didasarkan pada pedagogi para murid Emaus, yakni Injil, Ekaristi, dan Misi. EYM ingin mengajak anak muda usia 5-25 tahun untuk hidup dalam cara Yesus, dalam hubungan persahabatan dari hati ke hati dengan-Nya.   Dalam kunjungannya, Pater Cristóbal juga mengenalkan EYM kepada siswa Kolese Kanisius dan Seminari Menengah Mertoyudan. Para siswa pun sangat antusias dan mengajukan berbagai pertanyaan yang menarik pada Pater Cristóbal, antara lain mengenai iman, panggilan, karya PWPN, serta bagaimana Pater Cristóbal menggunakan musik dalam karya dan pelayanannya.   Selain dua kolese tadi, Pater Cristóbal juga memiliki kesempatan untuk bertemu para siswi SLB/B Dena Upakara di Wonosobo. Para siswi tunarungu ini mempersembahkan tiga tarian. Dibantu instruksi oleh guru, para siswi menari dengan gembira dan penuh sukacita. Perjumpaan dan tarian mereka sangat mengesan bagi Pater Cristóbal dan menjadikan kunjungan ini unik. Bagi Pater Cristóbal, anak-anak ini perlu menjadi perhatian dan ladang pelayanan kita.   Kunjungan Pater Cristóbal membawa semangat baru bagi PWPN Indonesia. Kami diajak sungguh bergerak dari kerja-kerja promosi doa dan menjadi komunitas orang-orang yang menjalankan misi belas kasih

Realino SPM

Hadir dan Berbagi Kasih-Nya

Dalam tradisi iman Kristiani, pengabdian sosial bukan hanya sebuah tugas atau kewajiban moral, melainkan bentuk perwujudan nyata kasih Allah kepada sesama. Yesus Kristus sendiri memberikan teladan dalam pelayanan-Nya kepada mereka yang lemah, tersisih, dan termarjinalkan. Setiap kali saya berinteraksi dengan anak-anak dampingan, saya diingatkan akan panggilan saya sebagai umat beriman. Pun saya diingatkan sebagai seorang suster CB yang digerakkan oleh kasih tanpa syarat Yesus Yang Tersalib. Dia memberikan teladan untuk melayani mereka yang berkesusahan dengan kerendahan hati. Ini tercermin dalam sabda Yesus: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40).   Tentu dalam proses berdinamika di Komunitas Belajar Realino (KBR), saya juga mengalami tantangan. Salah satunya adalah ketika saya harus berhadapan dengan anak-anak yang dalam konteks tertentu ‘haus perhatian.’ Bisa jadi mereka kurang mendapat pendidikan atau perhatian dari orang tua. Hal ini sungguh menguras tidak hanya tenaga tetapi juga perasaan. Meskipun demikian, tantangan ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menghayati kesabaran, keterbukaan hati, dan pengertian.    Tuhan sendiri hadir dalam kerapuhan anak-anak ini. Mereka mengajarkan kepada saya tentang makna pelayanan tanpa syarat, sebagaimana Allah melayani dan mencintai saya secara total, tak bersyarat. Tuhan tidak pernah  memandang kelemahan saya dalam hal mencintai. Karena itu, atas dasar cinta Tuhan ini saya dimampukan memberi hati dengan penuh dalam pelayanan di Komunitas Belajar Realino di Bongsuwung dan Jombor.   Hal menarik lain adalah ketika saya melihat anak-anak mengembangkan potensi mereka dan mengekspresikan kreativitas dalam hasil karya yang mereka bawa pulang. Saya menyadari betapa penting kehadiran dan pendampingan ini bagi mereka. Setiap pertemuan dan interaksi bukan sekadar rutinitas, melainkan perjumpaan dengan wajah-wajah Allah yang hidup dalam diri setiap anak. Dalam mereka, saya belajar bahwa pengabdian sosial ini adalah bentuk persekutuan dengan Tuhan. Dia memanggil saya untuk hadir dan berbagi kasih-Nya di tengah dunia yang membutuhkan ini.   Lewat refleksi ini, saya semakin menyadari bahwa tugas saya sebagai umat beriman bukan hanya melayani, melainkan juga memberikan diri, pikiran dan hati untuk belajar dari mereka yang saya layani. Allah bekerja dan hadir melalui setiap pengalaman. Dia memberikan saya kesempatan untuk mengasihi dan bertumbuh dalam iman melalui tindakan konkret pengabdian sosial ini. Saya merefleksikan dan memahami bahwa kegiatan pengabdian sosial ini menjadi sebuah jalan menuju transformasi pribadi dan spiritual. Dalam pengalaman ini saya merasa semakin dipersatukan dengan misi kasih Allah bagi dunia.   Kontributor: Sr. Rafaela, CB – Volunteer Realino SPM

Feature

Dalam Bayang-Bayang Gempa: Mengabdi, Menginspirasi, dan Membangun Kesiapsiagaan

Semburat matahari pagi lengkap ditambah raut antusias dan senyum cerah anak-anak Pingit. Momen itu seolah menjadi sambutan hangat kala kami menginjakkan kaki di Perkampungan Sosial Pingit (PSP). Di tengah kebisingan kendaraan, kami merasakan energi positif menyelimuti mereka. Raut penasaran dan tatapan mereka mewarnai kegiatan pagi itu. Kami merasakan keingintahuan anak—anak akan hal baru, tentang apa yang akan mereka dapatkan. Mengabdi dan berbagi di Kampung Pingit pada 29 September 2024 adalah perjalanan bermakna yang tak terlupakan. Kegiatan sosial mengajar ini dilakukan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Himpunan Mahasiswa Sains Informasi Geografi (HMSaIG). Ini merupakan bagian program kerja Departemen Sosial Masyarakat, hasil kolaborasi dengan Realino SPM. Tema yang diangkat “Kenali Gempa: Tetap Tenang dan Siap Siaga.” Bahasan ini ingin memberikan edukasi penting tentang mitigasi bencana gempa bumi kepada masyarakat, khususnya anak-anak di daerah Yogyakarta yang memiliki risiko gempa bumi.   Seiring kami memulai sesi pertama, rasa cemas yang sempat menghinggapi digantikan kegembiraan. Dalam sesi belajar, kami bukan hanya mengajarkan teori-teori dasar gempa bumi dan langkah-langkah keselamatan yang harus dilakukan, tetapi juga memastikan bahwa anak-anak paham akan apa yang sedang terjadi di bumi ini ketika gempa berlangsung. Simulasi dilakukan untuk mengetahui dan memperdalam pengetahuan mereka bahwa gempa bumi dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya pergerakan lempeng tektonik. Melalui video dan alat peraga simulasi gempa bumi yang menarik dan edukatif, materi disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Setiap sesi pun menjadi interaktif dan bermakna. Anak-anak juga diajak untuk mencoba menggerakkan alat peraga supaya merasakan dampak yang gempa bumi. Selain menyampaikan materi, kami mengadakan games, kuis sederhana, dan makan bersama sebagai jembatan membangun kedekatan dengan anak-anak Pingit. Setiap tawa dan tanya yang terlontar dari anak-anak menyalakan semangat kami untuk berbagi. Kegiatan ini mengingatkan kami pada ungkapan Mahatma Gandhi, “The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.” Ungkapan tersebut menekankan pentingnya mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kepentingan pribadi. Melalui tindakan pelayanan, kami tidak hanya membantu orang lain melainkan juga menemukan tujuan dan identitas kami sendiri. Sebagai fasilitator, kami datang dengan niat berbagi ilmu, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kami belajar banyak dari anak-anak Pingit, tentang ketekunan, semangat belajar, dan kemampuan beradaptasi di tengah keterbatasan. Mereka mengajarkan bahwa harapan tetap tumbuh meskipun dalam kondisi sulit, dan pendidikan adalah jembatan menuju masa depan lebih baik.   Dalam interaksi dengan masyarakat Pingit, dirasakan bahwa kehadiran kami sebagai mahasiswa bukan sekadar membawa materi akademik, tetapi juga membawa harapan baru. Anak-anak di sini, dengan keterbatasan mereka, menunjukkan rasa ingin tahu sangat besar. Mereka tidak hanya belajar bagaimana menghadapi gempa, melainkan juga belajar bahwa di luar sana ada banyak kesempatan bisa mereka raih lewat pendidikan. Selain memberikan edukasi gempa, kegiatan ini menjadi kesempatan mendekatkan diri dengan Volunteer Komunitas Belajar Pingit. Kami berbagi cerita, mendengarkan aspirasi, dan memahami permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari. Hal ini memperkuat kesadaran kami akan pentingnya kepedulian sosial dan solidaritas. Pengabdian ini mengajarkan perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil, seperti kata Malala Yousafzai bahwa “One child, one teacher, one pen, and one book can change the world.” Setiap usaha kami meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana dapat berdampak besar pada keselamatan mereka di masa depan. Kampung Pingit mengajarkan kami bahwa pengabdian bukan hanya tentang apa yang bisa kami berikan, tetapi juga tentang bagaimana kami menerima. Setiap tindakan kecil dengan ketulusan akan memberi dampak lebih besar daripada yang kami bayangkan. Kami belajar bahwa melayani adalah sebuah panggilan, yang ketika dijalankan dengan sepenuh hati, akan membawa kebahagiaan mendalam baik bagi yang dilayani maupun yang melayani. Kampung Pingit akan selalu menjadi tempat kami menemukan makna pada setiap langkah pelayanan.   Kontributor: Himpunan Mahasiswa Sains Informasi Geografi – Universitas Gajah Mada

Pelayanan Gereja

OM JAMARI – Orang Muda Mengajar, Bermain, dan Berbagi

Inilah inisiasi kegiatan oleh Gedangan Muda, yaitu kunjungan ke Panti Asuhan St. Thomas Bergas pada Minggu, 15 Desember 2024. Kunjungan ini merupakan wujud syukur Gedangan Muda atas kegiatan-kegiatan yang sudah terlaksana sebelumnya yang sekaligus menjadi momentum refleksi bersama untuk mensyukuri setiap hal kecil yang diterima dan memupuk semangat berbagi. Dalam kunjungan ini, selain bantuan berupa donasi materi, kami juga ingin membagikan pengalaman berharga melalui kegiatan bermakna. Salah satu bentuk kegiatan bermakna yang kami selenggarakan adalah menghias pot tanaman bersama mereka. Aktivitas ini mengajarkan anak-anak untuk menghargai ciptaan Tuhan, seperti tanaman, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan. Ternyata pot-pot yang dihiasi dengan berbagai warna dan kreativitas semakin menghidupkan suasana dan menambah semangat untuk merawat tanaman. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberi kebahagiaan bagi anak-anak tetapi juga mengingatkan kami untuk terus mensyukuri hal-hal sederhana. Ternyata, berbagi itu bukan hanya soal materi tetapi juga waktu, perhatian, dan kasih. Semangat dalam kunjungan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Banyak umat yang tergerak berdonasi kebutuhan pokok, uang, dan buku bacaan. Rupanya, buku bacaan sangat mereka butuhkan karena kegiatan membaca merupakan salah satu kegiatan favorit dan hobi mereka. Semoga bantuan tersebut dapat membantu kelangsungan kebutuhan anak-anak di Panti Asuhan St. Thomas. Dalam kebersamaan yang terjalin, terasa nyata bagaimana cinta kasih Kristus yang hadir melalui setiap senyuman dan tawa yang dibagikan.   Kunjungan ini mengingatkan kami akan slogan yang selalu diusung, “Gedangan Muda, Aku Muda Aku Bisa!” Kami berharap semoga semangat dan jiwa muda selalu ada dalam diri kami di manapun berada. Rasa syukur dan sukacita bisa diwujudkan melalui tindakan kecil nan bermakna. Semoga kami selalu bisa mengupayakan langkah nyata yang berdampak bagi diri kami dan lingkungan sekitar!   Kontributor: Maria Godeliva Diantita K. – Ketua OMK Paroki St. Yusup Gedangan  

Feature

Healing yang Cerdas dan Humanis

Dunia perkuliahan memang banyak lika-liku yang harus dilewati. Kesulitan dalam memahami suatu materi, kepadatan jadwal mengurus tugas-tugas, usaha lebih untuk aktif di organisasi dan kepanitiaan mewarnai dinamika anak kuliah zaman sekarang. Seringkali situasi ini dijadikan sekat untuk membatasi “ini urusanku” dan “itu urusanmu.” Di akhir pekan pun mungkin ada yang berpikiran untuk healing setelah sepekan sibuk dalam kuliah dan segala dinamikanya. Namun, apakah semua kondisinya begitu dan berjalan monoton tanpa ada hal bisa dimaknai? Tidak, di Komunitas Belajar Realino di Jombor, kami menemukan pengalaman healing berbeda yang membuat hari kami berarti sekaligus memberikan makna bagi sesama.   Kami melihat dan merasa terinspirasi bahwa masih ada orang-orang berdedikasi untuk anak-anak jalanan, kurang mampu, dan dalam kondisi yang terbatas di tengah hiruk-pikuk kesibukan yang harus dilaksanakan. Itulah yang kami lihat dari Realino SPM yang berisikan para relawan berdedikasi tinggi. Mereka setiap minggu hadir memberikan segala perhatian bagi teman-teman kecil di Jombor. Masing-masing relawan ini pasti memiliki kesibukan dan agenda. Meski demikian mereka tetap menyediakan ruang, tenaga, dan waktu membagikan kasih dengan cara yang menyenangkan.   Syukurlah kami, mahasiswa-mahasiswi Farmasi Universitas Sanata Dharma boleh ambil bagian di dalamnya pada Sabtu, 14 September 2024. Hari itu kami datang dengan segala kecemasan dalam pikiran dan hati kami mengenai materi dan dinamika yang akan disampaikan. Apakah akan bisa menarik dan ditangkap adik-adik di Jombor? Walaupun ada kekhawatiran tetapi muncul optimisme akan keberhasilan acara yang kami siapkan. Ternyata ketika dinamika berjalan, kami menemui bahwa adik-adik di sana adalah anak-anak yang asyik, cerdas, dan aktif menyambut permainan juga materi yang kami bawakan. Namun, bukan berarti semua berjalan lancar begitu saja. Tentu ada beberapa adik di sana dengan kondisi dan kecenderungan dirinya memilih asik sendiri. Beberapa lainnya sedikit enggan dalam momen-momen tertentu mengikuti apa yang telah kami rancang dan tuntun. Meskipun demikian, itu tidaklah menjadi soal besar karena kami tahu bahwa itulah fase anak-anak mengeksplorasi dan mengekspresikan diri sehingga tak bisa untuk dibatasi begitu saja. Dari pengalaman di Jombor bersama mereka, secara keseluruhan, kami rasa apa yang sampaikan dapat ditangkap. Semoga materi kami bisa diaplikasikan dalam keseharian dan diceritakan kepada keluarga di rumah.   Healing bagi kami di hari itu adalah mencari pengalaman baru memberikan hati kepada adik-adik di Komunitas Belajar Realino – Jombor. Kampanye Kesehatan merupakan salah satu bentuk cerdas dan humanis, pengetahuan kami tidak berhenti hanya pada kami saja, melainkan disebarkan untuk semakin memanusiakan manusia. Mendidik bukan hanya tugas seorang guru saja tetapi kami sadari juga bagian tugas kami sebagai mahasiswa farmasi yang mempelajari tentang obat-obatan termasuk obat tradisional. Hal yang sebelumnya mungkin bagi adik-adik itu terasa jauh dan tidak pernah ditemui, kami coba letakkan di dekat mata supaya akrab dan jadi bagian hidup mereka.    Lewat pengalaman di Jombor, kami menemukan rancangan Tuhan yang menarik. Refleksi kami, Tuhan ingin menunjukkan bahwa cara menambahkan nilai pada diri sendiri itu tak melulu dari mencari prestasi akademis, memperkaya diri, atau mengejar IPK sempurna. Memperkaya orang lain dengan pengalaman juga menjadi sarana menambahkan nilai pada diri sendiri dengan jalan cinta kasih. Refleksi lainnya, dalam dunia farmasi, semua eksperimen itu memiliki hasil dan parameternya. Dalam pengabdian ini, ada parameternya pula, peningkatan pengetahuan adik-adik lewat hasil post test, diskusi, dan tanya jawab yang berjalan seru. Kemudian, tak kalah pentingnya juga senyum tersungging penuh kepolosan dari anak-anak yang belajar hal baru. Semoga pengalaman dan dinamika ini membawa perkembangan bagi kita semua. Akhir kata, terima kasih kepada Realino Seksi Pengabdian Masyarakat (SPM) yang memberikan kesempatan kepada kami untuk bergabung dalam pengabdian di Komunitas Belajar Realino – Jombor.   Kontributor: Alfonsus Stanley – Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma  

Feature

Tidak Akan Menjadi Beban Jika Sudah Berkomitmen

Refleksi PKL Siswa SMK St. Mikael Surakarta Untuk memperkaya kompetensi siswa, SMK St. Mikael Surakarta mengadakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi para siswa kelas XII. Di SMK St. Mikael Surakarta, kegiatan belajar para siswa kelas X masih mengenai dasar-dasar teknik mesin, seperti kerja bangku, mengelas, dan menggambar teknik manual. Di kelas XI, para siswa mulai mengoperasikan mesin bubut dan milling konvensional maupun CNC dan menggambar dengan software CAD.    Di kelas XII, para siswa mulai mendapatkan pengayaan materi dengan ditempatkan magang di beberapa perusahaan yang berada di dalam maupun luar kota Surakarta. Kegiatan PKL diharapkan mampu memberikan pengalaman kerja sekaligus kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan karakter dalam dunia kerja. Selain itu, selama berdinamika di tempat PKL, para siswa bisa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan tambahan yang mungkin tidak didapatkan saat belajar di sekolah. Para siswa juga akan diuji komitmennya selama melaksanakan magang, apakah bisa melaksanakan pekerjaan dengan baik sesuai tuntutan tempat PKL masing-masing atau tidak.   PKL siswa SMK Mikael dilaksanakan dalam dua gelombang. Di tahun ajaran ini, gelombang pertama dilaksanakan pada 22 Juli-27 September 2024, sedangkan gelombang kedua dilaksanakan pada 7 Oktober-19 Desember 2024. Siswa yang menjalani PKL dengan baik akan mendapatkan sertifikat yang menjadi syarat kelulusan. Saya dan Jona Alfaloqita menjalani PKL gelombang pertama dan ditempatkan di lokasi terjauh dibandingkan dengan teman-teman yang lain, yaitu di P.T. KJL Plastic Indonesia, Tangerang. Pabrik ini memproduksi sedotan minuman plastik/drinking straw. Selama kurang lebih 10 minggu kami mendapatkan banyak pengalaman berharga dan menemukan semangat bekerja yang sesungguhnya.   Selama berproses di tempat PKL, kami membantu tim mekanik di bagian produksi. Di tempat tersebut, para karyawan harus mengenakan seragam khusus yang hanya dikenakan di dalam ruangan karena tempat tersebut adalah area hygiene. Tim mekanik yang sudah selesai memperbaiki mesin harus membersihkan alat dan mencuci tangan menggunakan hand sanitizer yang tersedia di setiap mesin. Semua kebiasaan itu bertujuan agar produk yang dihasilkan tetap higienis.   Selama menjalani PKL, kami mengikuti program training setiap Sabtu bersama tim maintenance. Hal ini tentu saja menambah pengetahuan dan keterampilan kami di dunia permesinan. Bonusnya, kami dapat berjumpa dengan Pak Richard, Alumni Kolese Mikael yang merupakan pengisi materi training. Selain bertemu alumni, kami juga bertemu Pak Tri Budiyanto selaku Kepala Bagian Produksi. Beliau sangat ramah, suka bercerita, dan senang berbagi ilmu. Cerita-ceritanya sangat menginspirasi, misalnya pengalamannya ikut berkontribusi dan berjuang membangun perusahaan dari awal hingga berkembang seperti saat ini. Dulunya, beliau hanya seorang mekanik biasa. Meskipun hanya seorang mekanik, beliau mempunyai semangat bekerja yang luar biasa. Beliau tekun mempelajari mesin-mesin di pabrik hingga setiap mesin di pabrik ini beliau kuasai. Tentu kemahiran tersebut bukan sebuah proses yang instan. Ada komitmen yang kuat dalam diri Pak Tri.   Salah satu core values atau nilai dasar yang diajarkan di Kolese Mikael dan juga di sekolah-sekolah Jesuit lainnya adalah commitment. Komitmen tidak hanya berlaku saat di sekolah saja, tetapi berlanjut sampai di dunia bekerja. Komitmen adalah sebuah janji. Dalam pengalaman ini, nilai komitmen adalah kehendak penuh untuk melakukan kewajiban dengan rasa tanggung jawab. Ada banyak peraturan yang harus dilaksanakan dalam bekerja, mulai dari aturan sederhana sampai yang rumit. Contohnya seperti datang tepat waktu, bekerja dengan baik, harus menjaga kebersihan, hasil produksi harus banyak dan berkualitas, hingga dituntut untuk belajar lebih. Aturan-aturan yang terkesan ribet tidak akan menjadi beban bila sudah memiliki komitmen. Tidak ada ruginya jika berkomitmen pada nilai-nilai yang baik. Ketika semua peraturan atau perintah sudah ditaati, maka lama-kelamaan itu menjadi sebuah kebiasaan. Kendati sudah terbiasa, jangan dianggap sebatas rutinitas. Semua itu perlu disadari dan dimaknai. Tidak akan ada keluh kesah atau reaksi negatif ketika sudah berkomitmen penuh, seperti halnya ketika menjalani PKL ini.   Kontributor: Syam Andriyanto Nugroho – SMK St Mikael Surakarta

Feature

“Manusia dan Ketahanan Lingkungan”

Refleksi Atas Studi Ekskursi 2024 Pada 30 September hingga 5 Oktober 2024, siswa kelas 10 SMA Kolese de Britto Yogyakarta mengikuti kegiatan formasi studi ekskursi. Pada tahun ini, studi ekskursi yang mengambil tema “Merawat Alam Ciptaan Tuhan Dalam Bingkai Kearifan Lokal,” mengajak para siswa untuk semakin memperhatikan lingkungan yang selama ini ditinggali sambil mengenali kearifan lokal di sekitar. Para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan pengamatan dalam bidangnya masing-masing, baik itu energi, pangan, maupun pengelolaan sampah. Tak hanya mengamati, para siswa juga ikut merasakan usaha mewujudkan kelancaran proses yang ada demi stabilnya kehidupan. Tangan kami menjadi kotor dan raga mengalami kelelahan, namun pengalaman kami terbentuk hingga mampu mengambil pelajarannya.   Melalui pengamatan, kami disadarkan bahwa menghasilkan pangan, menghasilkan energi listrik, dan mengelola sampah yang dihasilkan demi ketahanan kehidupan manusia memerlukan proses yang panjang dan tidak selalu instan. Supaya proses bisa berjalan lancar, diperlukan teknologi yang maju dan didukung oleh sumber daya dan sumber dana yang memadai. Sayangnya, hal tersebut rupanya masih menjadi mimpi yang terlalu jauh bagi para pelaku usaha pemberdayaan pangan, listrik, dan kebersihan lingkungan. Beberapa dari mereka mengalami kekurangan tenaga manusia dan keterbatasan teknologi sehingga hasil maksimal tidak mudah dicapai. Kurangnya dukungan ini juga membuat beberapa pelaku menjadi terancam, contohnya para produsen rambak di Desa Gantiwarno yang berkurang banyak jumlahnya. Dari yang semula berjumlah 15 rumah produksi, turun menjadi hanya 6 rumah produksi dalam waktu 1 dekade.   Kita diundang untuk bisa membantu para pelaku usaha pemberdayaan lingkungan dan ketahanan hidup, setidaknya dengan mendukung usaha pemberdayaan lingkungan. Tak perlu analisis mendalam, kegagalan kita untuk bisa membantu pemberdayaan lingkungan mampu kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Sampah plastik tercecer di mana-mana, sampah makanan menumpuk, suhu yang memanas akibat pemanasan global yang semakin parah. Ini semua menjadi bukti nyata yang dengan mudah kita temui. Justru semua ini terjadi ketika lingkungan semakin tidak stabil. Terjadi krisis pangan, energi, dan kebersihan lingkungan hidup yang semakin diperparah oleh kesulitan para aktivis pemberdayaan lingkungan hidup.   Saya sendiri sering merasa malu karena sedemikian tega terhadap lingkungan yang saya tempati. Sampah tidak saya pilah. Saya mengandalkan plastik sehingga sampah plastik semakin menumpuk. Makanan yang tersisa juga dibuang begitu saja. Saya juga menikmati dinginnya AC hampir sepanjang hari, menghamburkan energi. Manusia mungkin hanya menginginkan kenyamanan. Kita semua juga melakukan hal yang sama dan ini mengajak kita untuk berefleksi, mengapa kita setega itu? Sebagai makhluk yang telah diberi kehendak bebas oleh Tuhan, kita mampu menentukan keputusan sesuai akal budi dan hati nurani. Apa yang dapat kulakukan untuk memperbaiki lingkunganku?   Kontributor: Bumi Praba Murti – SMA Kolese de Britto