Pilgrims of Christ’s Mission

jesuit indonesia

Pelayanan Gereja

Catatan Seorang Pemandu

Cerita di Balik Tembok Gedangan: Hai, namaku Lusia tapi biasa dipanggil Aisul dan aku adalah satu dari banyak OMK di Gedangan. Aku suka jalan-jalan, sejarah, dan yang paling favorit adalah jalan sambil mendengarkan cerita sejarah. Kali ini gantian aku yang mau cerita tentang Gereja Gedangan, gereja Katolik paling tua di Semarang. Di OMK Gedangan, kami punya satu wadah seru untuk kenalan—dan pastinya makin sayang—dengan gereja kami sendiri lho! Namanya Jelajah Gedangan. Tujuan awalnya sederhana, yaitu mengenalkan kembali Gereja Santo Yusup Gedangan ke siapa pun yang penasaran, terutama dari sisi sejarah dan kekayaan warisan imannya. Dan karena ini adalah kegiatan OMK, tour guide-nya juga dari kami-kami sendiri, OMK Gedangan. Kami sering berkumpul, ngobrol, dan cari tahu cerita-cerita lama tentang gereja ini. Lalu, semua yang kami temukan itu kami bagikan ke siapa saja yang tertarik untuk menelusuri jejak masa lalu di balik tembok tua Gedangan.   Akhir 2019 sampai awal 2020 adalah waktu kami memulai penjelajahan di Gereja Gedangan. Masih hangat di pikiran kita bukan? Kala itu awal mula adanya Covid-19? Memang agak melanggar aturan pemerintah yang seharusnya duduk diam di rumah yang saat itu masih ramai dengan hastag #mendingdirumahaja, tapi kami malah berkumpul untuk mengajak banyak orang jalan-jalan virtual. Bermodalkan sejarah yang kami baca dan kami cari tahu lebih lanjut sumbernya dan didukung kemajuan teknologi yang juga mumpuni, kami mulai dengan Jelajah Gedangan Virtual. Kami tidak hanya mengajak teman-teman dari Gedangan, tetapi juga semua orang yang ingin tahu tentang Gedangan. Mungkin, Anda yang sedang membaca tulisan ini juga jadi salah satunya? Dari yang awalnya hanya bercerita tentang sejarah Gedangan, tokoh yang pernah tinggal di Gedangan, dan ornamen yg biasa kita lihat kalau sedang misa, sekarang jadi makin banyak tema yang bisa kami ceritakan ke banyak orang.    Di 2025 ini, Gereja Gedangan merayakan 150 tahun pemberkatan gedung gereja dan sepanjang tahun ini ada banyak rangkaian acara untuk memeriahkannya, salah satunya adalah Mini Talk Show Jelajah Gedangan yang sudah terlaksana bulan Juni lalu dengan mengusung tema Di Balik Tembok Gedangan sebuah momen langka untuk para peserta Jelajah yang biasanya diajak berjalan sambil mendengarkan cerita dan berkeliling Gedangan, kala itu mereka cukup duduk manis sambil mendengarkan beberapa narasumber yang punya cerita dan pengalaman seru mengenai Gereja Gedangan.    Ada tiga narasumber saat itu, yaitu pertama Pater Vincentius Suryatma Suryawiyata, S.J. atau yang akrab dipanggil Pater Surya. Obrolan saat itu cukup menarik, informatif, dan penuh nuansa nostalgia yang membuat peserta bisa turut ‘menyusuri waktu’ bersama Pater Surya lewat tokoh dan sosok yang membentuk wajah Gereja Gedangan. Dari Pater Surya kami diajak menyadari bahwa Gedangan tidak hanya bangunan tua yang indah, namun juga menjadi tempat lahirnya semangat misi yang besar dan tempat di mana banyak kisah bermula, bahkan jejaknya masih sangat bisa dirasakan sampai sekarang.   Selain Pater Surya yang mengajak bernostalgia, ada juga Pater Ignatius Windar Santoso, S.J. yang juga berbagi cerita. Kali ini dengan latar belakang sebagai archivist Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Windar menunjukkan salah satu dokumentasi catatan baptisan di zaman dulu yang masih tersimpan rapi. Melalui dokumen baptisan, kami jadi tahu bahwa Semarang adalah salah satu tempat penting dalam perkembangan Katolik di masa Hindia Belanda. Gedangan memiliki cukup banyak peran sebagai gerbang awal misi katolik di Jawa, maka dari itu arsip-arsip ini bisa jadi semacam ‘harta karun’ sejarah yang sangat berharga.      Masih tentang arsip baptisan, ada satu lagi narasumber yang membawakan cerita ‘mengejutkan’ dengan fun fact-nya! Namanya Mas Yogi, seorang pengamat sejarah sekaligus founder dari Bersukaria Walk Tour (Bersukaria Walk Tour bisa dicari di instagram. Anda pasti jadi ingin ikut semua rute Walking Tour-nya). Mas Yogi berbagi cerita seru tentang arsip Gereja Gedangan. Beberapa waktu lalu Mas Yogi membawa rombongan orang Belanda yang sedang mencari tahu sejarah leluhur mereka. Menurut cerita yang mereka dengar, para leluhurnya dibaptis di Gedangan. Yang mengejutkan adalah setelah ditelusuri dan ketemu, ternyata salah satu leluhurnya adalah artis terkenal di masa itu! Selain itu orang-orang Belanda ini juga membawa beberapa foto untuk membandingkan gereja dulu dan sekarang. Semacam ingin tahu before-after.   Dari cerita Pater Surya, Pater Windar, dan Mas Yogi, aku jadi makin tahu, betapa pentingnya keberadaan para Pater pendahulu dan arsip yang berupa catatan baptisan bagi gereja. Tidak hanya jadi bukti adanya sejarah tapi juga bisa menjadi jembatan penghubung lintas generasi. Tidak pernah terbayangkan, kalau catatan puluhan bahkan ratusan tahun lalu itu bisa membantu seseorang menemukan keluarganya dan menyambung cerita hidup mereka. Ternyata, banyak hal yang patut untuk disyukuri dari Mini Talk Show Jelajah Gedangan ini. Setiap pembicara punya warna dan cerita yg unik. Pater Surya yang penuh nostalgia dengan mengingat kembali tokoh-tokoh yang pernah tinggal di Gedangan, Pater Windar yang menunjukkan betapa pentingnya arsip dan catatan baptisan, dan juga Mas Yogi yang menunjukkan secara nyata terhubungnya masa lalu dan masa sekarang melalui peninggalan sejarah berupa catatan baptisan.   Untukku sendiri, aku bersyukur bisa jadi bagian dari tour guide di Jelajah Gedangan dan juga jadi bagian dalam rangkaian perayaan 150 tahun ini. Bukan hanya berbagi dan belajar bersama mengenai sejarah, tetapi tentang memunculkan kembali kisah-kisah yang mungkin nyaris terlupakan. Dan pastinya membagikan pada Anda dan banyak orang adalah salah satu usaha kecil yang bisa aku lakukan untuk merawat Gedangan agar tidak hanya menjadi bagian masa lalu tapi juga menjadi bagian yang tetap terasa dekat juga hidup di segala zaman.    Kabar baiknya OMK Gedangan masih akan mengadakan Jelajah Gedangan dan di bulan November nanti akan ada Mini Talk Show Jelajah Gedangan yang kedua. Pastinya akan ada banyak cerita baru, perspektif yang menarik nan seru, dan mungkin mendapat fun fact sejarah lain yang belum pernah kita dengar sebelumnya! Tetap stay tune dan jangan lupa follow instagram @gerejagedangan dan @gedanganmuda. Sampai Jumpa di Gereja Gedangan!    Kontributor: Lusia Pamungkas – Gedangan Muda

Penjelajahan dengan Orang Muda

Sebuah Catatan di Satu Semester

Perkampungan Sosial Pingit Seperti biasa, pada Senin sore saya bersiap dan bergegas terutama karena langit sudah berubah menjadi gelap. Doaku sore itu semoga hujan tidak turun sebab menurutku hujan hanya romantis bagi mereka yang mampu, yang mempunyai privilese untuk melihat indahnya rintik hujan dari balik kaca mobil. Namun tidak untuk penunggang ojek online seperti saya, pengguna kendaraan roda dua dan transportasi umum. Juga tidak romantis, terutama bagi  orang-orang yang harus mencari rezeki di jalanan. Petang itu, kami sudah janjian dengan anak-anak di Perkampungan Sosial Pingit (PSP) untuk memasak bersama, sebuah rencana sejak beberapa minggu sebelumnya. Ini harus terlaksana, sebab jika gagal, tentu anak-anak sakan sangat kecewa.    Malam itu kami akan masak seblak sebagai menu utama. Berbekal resep hasil berguru dari adik dan cookpad, merapal doa dan harap di hati kepada Sang Penentu Hidup supaya kelas perdana memasak kami hari itu berjalan lancar dan mudah, saya pun berangkat dari rumah menuju Pingit dengan wajah yang berusaha terlihat yakin meski hati khawatir tidak karuan. Rasa cemas muncul karena takut perkakas masak ada yang terlupa, bahan masakan ada yang terlewat, bumbu yang sudah diracik dari rumah tidak cukup, hingga  rasa takut jangan-jangan kompor gunung yang kami sewa tidak bisa bekerja ciamik layaknya kompor-kompor rumahan pada umumnya.    Tak disangka, anak-anak PSP luar biasa antusias terhadap kelas memasak ini. Bukan hanya dari kelas inti yang kami ampu, yaitu anak-anak SMP, tetapi juga anak-anak dari kelas sebelah juga sama bersemangatnya. Seperti biasa, anak-anak lebih memilih kelas diselenggarakan di Balai karena sirkulasi udara yang lebih terbuka dan mereka merasa lebih nyaman dan leluasa. Kelas memasak malam itu juga kami selenggarakan di Balai. Kami berdoa bersama sebelum memulai kelas. Salah seorang dari anak-anak kami pasti akan bertugas untuk memimpin dengan doa yang sangat singkat, dan tak jarang, sambil bercanda. Tetapi sepertinya pertanyaan musikus Sal Priadi dalam lagunya Gala Bunga Matahari tentang apakah Dia suka bercanda? terjawab malam itu. Sepertinya Dia memang suka bercanda sebab nyatanya doa kami yang kurang ‘serius’ pun tetap didengar dan dikabulkan. Doa kami malam itu adalah semoga kelas memasak pada malam itu berjalan dengan sangat riang, mudah, dan penuh kehangatan. Baik laki-laki maupun perempuan sangat bersemangat, bahu-membahu mempersiapkan semuanya, ikut mencuci sayur, memotong bahan isi seblak, hingga menyalakan kompor. Waktu terasa berjalan dengan cepat dan kelas kami pun melebihi jam pembelajaran sehingga anak-anak dari kelas lain untuk ikut bergabung memasak dan menyantap bersama hasil masakan perdana ini. Rasa masakannya? Lumayan enak.     Memang sejak awal kami terpilih untuk bergabung menjadi sukarelawan di Perkampungan Sosial Pingit, ada beberapa pesan yang menyarankan bahwa sedapat mungkin, materi yang kami akan berikan kepada anak-anak bukanlah materi pembelajaran yang mirip seperti silabus mata pelajaran mereka, namun sesuatu yang berbeda. Kami para sukarelawan yang tergabung ke dalam Tim SMP dari pertama urun rembug, kami memilih beberapa core values yang akan menjadi ‘benang merah; dari materi kami selama setahun ke depan, yaitu Survive and Sustain. Kami ingin materi yang akan kami bagi selama setahun ke depan, meskipun tidak banyak, namun bisa masuk menjadi ‘core memories’ anak-anak yang akan selalu mereka ingat, rasa dan gunakan ketika kelak mereka dewasa. Seperti kelas memasak yang kami pilih untuk malam ini, kelas ini memang sudah masuk ke dalam silabus materi rencana pembelajaran kami untuk satu tahun ke depan, karena untuk anak-anak kami yang memang baru mulai memasuki masa SMP, dimana mereka juga mulai masuk ke dalam fase pubertas dan pencarian jati diri, kami berharap materi-materi yang kami berikan kepada mereka akan membantu mereka menghargai dan sabar terhadap yang namanya ‘proses’. Proses daur hidup yang tidak selalu gembira. Sebelum kelas memasak ini, kami juga memberikan mereka kesempatan untuk berkreasi menghias kue untuk melatih kreativitas mereka. Harapan kami, kelak di masa depan, mungkin ada dari mereka yang tertarik untuk menjadi seorang Chef handal atau jika harapan itu dianggap terlalu tinggi, paling tidak suatu saat ketika kesulitan mendapatkan pekerjaan, mereka bisa membuat usaha sendiri, menjadi pengusaha makanan gerobak. Sekali waktu, kami juga pernah dalam satu jadwal kelas, memberikan mereka tantangan untuk mengisi peta buta negara-negara di kawasan regional Asia Tenggara, harapan kami, dengan itu mereka tahu bahwa ada kehidupan lain di luar Pingit, bahkan di luar Indonesia. Jika berharap salah satu dari mereka berhasil menjadi Diplomat juga terlalu muluk, setidaknya minimal mereka tahu bahwa mereka mungkin suatu hari nanti bisa bertahan hidup dengan menjadi pejuang devisa di negara tetangga.   Kembali kepada proses pembelajaran kami di kelas memasak malam itu. Ada satu catatan yang mungkin akan saya ingat dan menjadi salah satu pembelajaran hidup berharga untuk saya selamanya. Ada satu momen, di tengah proses kami memasak, kami kehabisan bumbu penyedap. Seorang anak perempuan kecil, dengan wajah lugu dan suara lantang langsung menawarkan diri kepada saya. “Mbak, aku belikan ya bumbunya di warung atas sebentar?”. “Loh, memangnya ga jauh? Sebentar biar Mbak minta tolong kakak yang lain untuk belikan, Mbak juga ambil uangnya dulu ya,” jawab saya. “Ga usah Mbak, kelamaan nanti, biar aku belikan saja, aku ada uang kok,” ucap gadis kecil itu sambil menunjukkan uang seribuan nya ke saya. “Loh jangan, masak pakai uang kamu, sebentar ya biar Mbak minta kakak sukarelawan saja yang belikan” tegas saya. “Gapapa Mbak, biar pakai uang aku aja, lagian kan ini untuk kita makan rame-rame juga, jadi ya gapapa,” ujar gadis kecil itu tetap memaksa dan seketika langsung lari pergi menghilang, menuju warung di atas. Seketika saya terdiam dan terhenyak. Fokus saya terpecah. Perasaan kaget, haru, dan senang menjadi satu. Ada perasaan hangat yang menjalar. Dari penampilan gadis kecil itu, bisa jadi, uang seribu yang ia tunjukkan kepada saya adalah uang jajan satu-satunya yang ia punya di hari itu, namun dengan lantang dan berani, ia tawarkan uang satu-satunya itu tanpa rasa takut, alasannya pun luar biasa, karena nanti masakan ini juga akan dimakan bersama-sama. Ucapan yang berjiwa besar dan tanpa rasa takut sedikitpun, terucap dari bibir seorang anak kecil.    Momentum itu membuat saya akhirnya merenung. Sambil memperhatikan sisa menit-menit terakhir menuju berakhirnya kelas kami di malam itu. Mungkin dunia orang dewasa menjadi sangat rumit karena tanpa sadar, seiring proses kita menjadi tua dan dewasa, perlahan kita juga

Karya Pendidikan

Menulis Bab Baru Pendidikan Tinggi Jesuit

IAJU Assembly 2025 Bogotá, Kolombia – International Association of Jesuit Universities (IAJU) Assembly 2025 telah diselenggarakan pada 30 Juni hingga 3 Juli 2025 di Pontificia Universidad Javeriana, Bogotá, Kolombia. Pertemuan tiga tahunan ini menjadi momentum penting bagi Universitas Sanata Dharma (USD), bersama 170 universitas Jesuit dari seluruh dunia, untuk membangun strategi bersama dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi global.   Mengangkat tema “Our Mission in Challenging Times: Let’s Write the Next Chapter of Jesuit’s Higher Education History,” pertemuan ini dibuka dengan pidato inspiratif dari Pater Jenderal Arturo Sosa SJ. Dalam pidato tersebut, ia menekankan pentingnya universitas Jesuit menjadi kehadiran yang kreatif dan dialogis, berakar pada identitas yang mengalir dari karisma Ignasian.    ”Universitas Jesuit harus menjadi kehadiran yang kreatif dan dialogis, berakar pada identitas yang mengalir dari karisma kita,” tegasnya.    Pater Jenderal juga menyampaikan tiga pilar utama yang harus menjadi fondasi pendidikan tinggi Jesuit: Charism (karisma), Context (konteks), dan Way (jalan).    Pesan ini disampaikan kepada lebih dari 300 peserta dari lima benua, termasuk delegasi dari Universitas Sanata Dharma yang diwakili oleh Rektor Albertus Bagus Laksana SJ dan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Caecilia Tutyandari. Dalam berbagai sesi dan diskusi, USD menunjukkan komitmennya untuk memperkuat jaringan global pendidikan tinggi Jesuit dan menghadirkan pendidikan yang transformatif, kontekstual, serta berdampak sosial.     Salah satu sesi pleno IAJU 2025 di Javeriana Pontifical University, Bogota, Kolombia ini, secara khusus mengangkat tema tantangan sekularisme bagi pendidikan tinggi Katolik, sebuah tantangan yang kompleks dan semakin nyata. Rektor USD, Pater Bagus, tampil sebagai panelis dalam sesi bertema “Contextual Intercultural Engagement.” bersama dengan Mgr Carlo Maria Polvani,  Sekretaris pada Dikasteri untuk Budaya dan Pendidikan, dan Dewan Kepausan untuk Budaya, Tahta Suci.    Sekularisme dan sekularisasi terjadi dalam pelbagai bentuk yang tidak sama dan seragam dalam pelbagai konteks. Msgr Polvani menekankan peran terdepan dan  strategis dari  universitas Katolik untuk  berhadapan langsung dengan fenomena sekularisasi. Beliau mengajak para peserta untuk mempelajari dengan seksama gejala dan tantangan sekularisme pada konteks masing-masing, juga bagaimana  agama menghadapi sekularisasi.   Dalam tanggapannya, Pater Bagus menjelaskan bahwa sekularisasi di Indonesia memiliki dinamika yang berbeda dengan di Barat. Di Indonesia, terutama di kalangan muda perkotaan, ada kecenderungan mengambil jarak dari institusi agama, namun tanpa sepenuhnya meninggalkan pencarian makna spiritual. Identitas keagamaan menjadi lebih cair, terbuka, dan sering kali hibrid, seiring dengan tumbuhnya budaya plural dan tantangan global.   “Fenomena ini menantang kita untuk menghadirkan wajah agama yang otentik, terbuka, dan kontekstual—bukan yang kaku dan menghakimi, tetapi yang mendampingi dan menumbuhkan,” ujar Pater Bagus.     Menurutnya, tantangan utama bukan datang dari represi terhadap iman Katolik, tetapi dari melemahnya nilai-nilai Katolik dalam kehidupan publik. Pengaruh mekanisme pasar, sistem pendidikan yang kompetitif, serta tawaran budaya instan menjadi kekuatan sekular yang perlahan mengikis nilai-nilai keadilan, solidaritas, dan spiritualitas dalam masyarakat.   Pater Bagus menawarkan pendekatan berbasis human flourishing atau perkembangan manusiawi sebagai kerangka alternatif yang menyatukan aspek religius, etis, dan sosial secara kreatif. “Human flourishing memberi jalan bagi kita untuk tetap relevan di tengah pluralitas dan sekularisasi, sekaligus menghidupi misi Jesuit untuk membentuk pribadi yang berpikir kritis, peduli, dan terbuka terhadap yang lain,” ungkapnya.   USD sendiri telah mengintegrasikan kerangka human flourishing dalam tridarma perguruan tinggi, antara lain melalui kerja sama dengan Australian Catholic University (ACU) dan Universitas Gadjah Mada. Sebuah konferensi internasional tentang topik ini baru saja digelar di kampus ACU di Roma, menghadirkan peneliti dari Harvard, Baylor University, dan delegasi pemerintah Indonesia.   Pater Bagus juga menekankan peran penting universitas Jesuit seperti USD dalam menciptakan ruang dialog antarbudaya dan antariman, mendampingi mahasiswa dalam pencarian makna hidup, serta membentuk kepemimpinan publik yang berakar pada keadilan dan belas kasih. Dalam konteks ini, sekularisasi tidak dilihat sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang untuk memperbarui iman dan spiritualitas secara otentik dan kontekstual.     Selama empat hari pelaksanaan, IAJU Assembly 2025 membahas berbagai isu penting lainnya seperti dampak kecerdasan buatan terhadap pembelajaran, keadilan lingkungan sebagai respons terhadap penderitaan bumi dan kaum miskin, serta kesejahteraan mental mahasiswa melalui pendekatan spiritualitas Ignasian. Selain itu, para peserta juga berdiskusi tentang isu migrasi, pengungsi, kolaborasi jejaring antaruniversitas Jesuit, serta tantangan demokrasi dan identitas di tengah dunia yang semakin kompleks.   Partisipasi USD dalam IAJU Assembly 2025 menegaskan perannya sebagai bagian dari Association of Jesuit Colleges and Universities Asia Pacific (AJCU-AP). Menurut Wakil Rektor Caecilia Tutyandari, keikutsertaan ini mencerminkan komitmen jangka panjang USD dalam membangun pendidikan yang yang menjadi ruang formasi integral yang mendorong kolaborasi internasional.   “Partisipasi USD dalam IAJU Assembly 2025 merupakan bagian dari komitmen jangka panjang universitas dalam mengembangkan pendidikan yang holistik dan transformatif, memperkuat identitas Jesuit-Katolik dalam konteks Indonesia, berkontribusi pada solusi global melalui pendidikan tinggi, dan membangun solidaritas dengan universitas Jesuit sedunia,” ungkapnya.   IAJU Assembly 2025 diharapkan menghasilkan penguatan visi bersama pendidikan tinggi Jesuit global, strategi konkret menghadapi tantangan zaman, dan perluasan jaringan kolaborasi lintas negara dalam bidang pendidikan dan riset. Momentum ini semakin mengukuhkan USD sebagai salah satu universitas Jesuit terkemuka di Asia Tenggara yang terus berkontribusi dalam membangun dunia yang lebih adil, berkelanjutan, dan penuh harapan.   Kontributor: Antonius Febri Harsanto – Humas Universitas Sanata Dharma

Formasi Iman

Nasi Berkah, Berkah bagi Sesama

Pada Minggu, 8 Juni 2025, skolastik Kolese Hermanum berkumpul bersama dengan para donatur untuk mengadakan rapat evaluasi dan refleksi terkait program nasi berkah. Sepanjang Oktober 2024 hingga Juni 2025, program ini terus memberikan kekayaan pembelajaran bagi para frater. Program nasi berkah di Kolese Hermanum terus berlanjut sebagai bentuk konkret kehadiran dan solidaritas terhadap saudara-saudari kita yang mengalami kesulitan ekonomi. Dari yang mulanya hanya dilaksanakan di Unit Pulo Nangka, program ini telah berkembang ke unit-unit lain seperti Kampung Ambon, Johar Baru, Kramat 6, dan Kramat 7 (Wisma Dewanto).    Setiap unit tetap mempertahankan pembagian 30 kupon nasi berkah per minggu, yang masing-masing bernilai subsidi Rp10.000. Para penerima diminta memberikan kontribusi sebesar Rp2.000 ke warung mitra sebagai bentuk partisipasi mereka atas kegiatan ini.    Namun, dalam pelaksanaannya, kegiatan ini menghadapi sejumlah tantangan, yaitu (1) pergantian PIC dan perubahan komposisi unit membuat alur koordinasi sempat tidak stabil; (2) beberapa warung mengajukan kenaikan harga karena biaya bahan baku yang meningkat; (3) miskomunikasi terkait sistem pembayaran juga sempat terjadi, terutama ketika PIC berhalangan hadir dan digantikan oleh orang lain yang belum sepenuhnya memahami alur; dan (4) ketidakteraturan dalam pembagian kupon juga muncul ketika para frater mengalami kesibukan akademik atau kegiatan internal sehingga perlu saling mengingatkan agar kupon tetap dibagikan tepat waktu.   Relasi dengan Penerima dan Warung Salah satu kekuatan program ini terletak pada relasi yang terbangun secara personal. Banyak frater membagikan pengalaman bagaimana kupon yang diberikan bukan sekadar akses ke makanan tetapi menjadi pintu perjumpaan yang bermakna. Dari para frater yang membagikan kupon, mereka membagikan cerita tentang para penerima kupon yang dengan setia menanti setiap minggu. Pemilik warung juga merasa terlibat dalam kegiatan nasi berkah ini. Bahkan ada warung yang tanpa diminta menambahkan lauk seperti daging sebagai bentuk keterlibatan memberi.    Keluarga Ibu Fifi dan keluarga Ibu Khim, yang sebelumnya telah menjadi inspirasi bagi program ini, tetap menjadi mitra dan donatur aktif. Mereka melihat bahwa membantu menyediakan makanan secara layak adalah bentuk nyata menghargai sesama. Bagi mereka, program ini bukan hanya transaksi ekonomi, tetapi juga kesempatan rutin berbagi kasih dan kemurahan hati yang juga menjadi sumber pemasukan stabil bagi para pemilik warung.   Refleksi Sosial dan Rohani Sebagaimana telah menjadi semangat awal program ini, kegiatan nasi berkah bukanlah sekadar pembagian makanan murah. Hal ini adalah bentuk tanggapan terhadap Universal Apostolic Preferences (UAP) nomor dua, yaitu berjalan bersama mereka yang terpinggirkan. Program ini membawa pesan bahwa tidak ada seorang pun yang sendirian di dunia ini — bahwa Tuhan, dalam cara-Nya yang sederhana, hadir melalui komunitas yang peduli.   Banyak PIC menyadari bahwa proses ini membentuk mereka secara pribadi dan rohani. Bagi para skolastik ekspatriat, kegiatan ini menjadi sarana belajar bahasa dan budaya Indonesia sekaligus menyentuh realitas sosial secara langsung. Di tengah tantangan praktis, selalu ada momen kecil yang menjadi ruang belajar mencintai lebih dalam dengan cara yang konkret.   Arah ke Depan Beberapa keputusan pun diambil selama periode ini untuk menjalankan program agar berjalan lebih baik, yaitu: (1) penyesuaian harga kupon dengan kondisi ekonomi dan kebutuhan warung. Biaya subsidi yang awalnya Rp10.000 meningkat jadi Rp13.000. Dengan cara yang sama pula para penerima harus membayar Rp2.000; (2) bukti pembayaran lebih diperjelas melalui nota atau dokumentasi foto agar ada transparansi dan pertanggungjawaban; (3) komunikasi dengan warung mitra harus diprioritaskan, baik dalam hal harga, menu, maupun sistem pembayaran; dan (4) Kriteria penerima kupon ditekankan pada kebutuhan riil, bukan pada status sosial atau penampilan luar. Orang yang menunggu dengan harapan, mereka layak untuk menerima tanpa harus dibebani verifikasi yang kaku.   Kini apa yang telah kami mulai kiranya menjadi gerakan kolektif yang membentuk kepedulian. Kegiatan ini telah menyentuh kehidupan banyak orang — baik penerima kupon, pemilik warung, para frater, maupun donatur. Sekecil apapun yang dibagikan, ketika dilakukan secara konsisten dan dengan hati, akan menjadi rahmat. Pertanyaannya ini kembali pada kita, “Maukah kita menjadi saluran rahmat bagi sesama dan menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan meski dengan cara yang sederhana namun penuh arti?”   Kontributor: Sch. Laurensius Herdian Pambudi, S.J.

Tahbisan

Menjadi Sahabat di Jalan Pengharapan

Empat diakon Serikat Jesus ditahbiskan imam oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang, pada Rabu, 23 Juli 2025 di Gereja Santo Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta. Keempat diakon tersebut adalah:  Diakon Antonius Septian Marhenanto, S.J. (Paroki St. Yohanes Maria Vianney, Cilangkap, Keuskupan Agung Jakarta),  Diakon Isodorus Bangkit Susetyo Adi Nugroho, S.J. (Paroki St. Maria Lourdes, Sumber, Keuskupan Agung Semarang),  Diakon Jacobus Aditya Christie Manggala, S.J. (Paroki Santo Petrus dan Paulus, Babadan, Keuskupan Agung Semarang), dan  Diakon Leo Perkasa Tanjung, S.J. (Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar, Keuskupan Denpasar).  Misa tahbisan yang dihadiri oleh keluarga serta tamu undangan berlangsung khidmat dan penuh syukur. Dalam homilinya, Mgr. Rubiyatmoko memberikan bahan permenungan bagi para diakon agar sungguh-sungguh memberikan diri secara total yang diwujudkan melalui komitmen dan tekad mendalam. Sakramen imamat yang diterima hendaknya dihayati sebagai perayaan syukur atas rahmat yang mengatasi kelemahan manusia itu sendiri.   Menjadi Sahabat di Jalan Pengharapan adalah tema tahbisan tahun ini. Tema tersebut diharapkan mampu mengingatkan bahwa imam adalah sahabat Yesus sendiri dan sahabat dari teman-teman Yesus yang kecil, tersingkir, terluka, dan tak berpengharapan. Menjadi imam di masa ini kiranya bukan sekadar mengajar dan memimpin ibadah-ibadah. Imam perlu berperan sebagai sahabat yang berani hadir secara nyata, menjadi pendengar yang penuh empati, dan berani membalut luka-luka hati dengan berbagai macam cara sehingga mampu membuat mereka bangkit kembali membangun pengharapan sekaligus mempunyai masa depan kembali.      Meskipun menjadi sahabat Yesus tidak selalu mudah, dalam homilinya Mgr. Rubiyatmoko berpesan agar jangan putus dalam pengharapan sebab pengharapan tidak mengecewakan. “Selagi kita punya pengharapan yang besar maka akan ada usaha dan nantinya akan ada hasil yang bisa kita tawarkan kepada umat yang kita layani.” Para imam ini pun nantinya tidak akan sendirian karena mereka memiliki Tuhan serta rekan dalam Serikat Jesus yang akan mendukung dan menguatkan.   Mengakhiri homilinya, Mgr. Robertus Rubiyatmoko berharap agar para imam yang ditahbiskan hari ini mampu menjadi sahabat Yesus yang nyata, khususnya bagi mereka yang kecil, terluka, dan kebingungan, serta mampu memberikan pengharapan. Pelayanan yang dilakukan hendaknya dilakukan sebagai wujud cinta kepada Yesus, sang sahabat sejati. Ketika mengalami penderitaan dan kesulitan, teladanilah Santo Paulus yang mampu menemukan sukacita bahkan dalam penderitaan sebab penderitaan adalah bagian dari persekutuan dengan Kristus.    Setelah ditahbiskan, keempat imam baru ini akan menjalani perutusan ke berbagai tempat sesuai dengan tugas perutusan yang disampaikan oleh Pater provincial.  P. Antonius Septian Marhenanto, S.J. bertugas sebagai Koordinator Purna Waktu Tim Komunikator SJ Indonesia  P. Isodorus Bangkit Susetyo Adi Nugroho, S.J. bertugas sebagai anggota staf SMA YPPK Adhi Luhur, Nabire, Papua  P. Jacobus Aditya Christie Manggala, S.J. bertugas sebagai Direktur Campus Ministry Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, dan  P. Leo Perkasa Tanjung, S.J. bertugas menjalani studi Kitab Suci di Biblicum, Roma.  Pada akhir misa tahbisan, para imam baru memberikan berkat perdana kepada seluruh umat. Seusai misa, acara dilanjutkan dengan ramah tamah di Kolese Santo Ignatius. Semoga para neomis ini senantiasa mampu menggembalakan umat dengan penuh cinta, kasih, dan perhatian. Proficiat!   Kontributor: Bonifasia Amanda – Tim Komunikator Jesuit Indonesia

Karya Pendidikan

Dari Ragu Menjadi Percaya

Pada 25–26 April 2025, saya mengikuti kegiatan rekoleksi gabungan kelas X angkatan 38 dan kelas XI angkatan 37 SMA YPPK Adhi Luhur, Kolese Le Cocq d’Armandville. Kegiatan ini bertujuan untuk merenungkan kembali perjalanan hidup kami, memperdalam relasi dengan Tuhan, dan mempererat hubungan antar teman.   Saat pertama kali mendengar berita mengenai rekoleksi, saya merasa senang karena rekoleksi kali ini akan menginap di sekolah. Meski demikian, beberapa teman sepertinya kurang suka jika kegiatan ini menginap. Namun saya juga merasa kurang antusias karena saya khawatir tidak bisa bekerjasama dengan adik kelas.    Dinamika Kelompok Dalam rekoleksi kali ini saya masuk ke dalam kelompok yang beranggotakan 9 siswa dari total 20 kelompok. Dalam dinamika pembagian tugas, saya mendapat bagian membawa panci. Selama rekoleksi kami diwajibkan untuk menyiapkan sendiri kebutuhan untuk makan dan minum. Sebelum berangkat saya sedikit cemas karena dalam kelompok tidak ada yang memilih membawa kompor. Namun setelah sampai di sekolah sudah ada teman yang membawa kompor walaupun saya tidak tahu siapa yang membawanya.   Arti Kemenangan Tema rekoleksi tahun ini adalah “Melangkah Bersama di Jalan Harapan”. Sesi pertama rekoleksi kali ini Pater Yohanes Adrianto, S.J. menerangkan tentang “Kisah Kemenangan”. Beliau menjelaskan bahwa kemenangan bukan hanya tentang sesuatu yang besar seperti juara lomba, juara kelas atau memenangkan olimpiade. Kemenangan bisa diraih juga dari sesuatu yang kecil seperti berhasil berdamai dengan masa lalu yang buruk, berhasil mengontrol emosi, atau berhasil melawan rasa malas. Saya pun mengingat-ingat kembali kemenangan kecilku, yaitu saya berhasil melawan rasa malas untuk melakukan eksperimen setelah menyelesaikan bab kedua karya ilmiah. Kemenangan yang lainnya saya sekarang lebih rajin beribadah atas keinginan sendiri. Sekarang saya sudah sidi dan masuk Persekutuan Anggota Muda (PAM) di gereja.    Belajar dari Kegagalan Kegagalan adalah kondisi ketika suatu usaha atau rencana tidak mencapai hasil yang diharapkan. Setiap manusia pasti pernah mengalami yang namanya kegagalan, lalu banyak orang yang merasa kehilangan motivasi atau merasa sedih sehingga tak ingin mencoba lagi. Tapi tak sedikit juga yang menjadikan kegagalan sebagai motivasi untuk berusaha lebih keras lagi, itulah poin penting dari materi pada sesi kedua, kegagalan.    Kegagalanku adalah gagal melawan rasa malas, cara saya berusaha menghadapi rasa malas ini dengan melakukan berbagai kegiatan seperti mengerjakan tugas, bermain di luar rumah, atau membantu orang tua di rumah. Kegagalan yang lain adalah saya dalam pelajaran matematika sehingga saya cukup kecewa. Dan saat ini saya memilih untuk fokus mempelajari pelajaran lain yang lebih saya kuasai daripada matematika.    Memperbaiki Diri Sesi ketiga kami belajar mengenai memperbaiki diri. Untuk menjadi lebih baik kita perlu memperbaiki sesuatu agar hasilnya bisa lebih maksimal. Saya memperbaiki kebiasaan scrolling HP selama berjam-jam salah satunya dengan berkegiatan di luar rumah agar tak terfokus ke HP.   The Boy Who Harnessed the Wind Pada sesi keempat, kami menonton film The Boy Who Harnessed the Wind. Film ini memberi pesan penting mengenai peran keberanian, kegigihan dan kemauan untuk mencapai hidup yang lebih baik. Setelah menonton, kami diberi kesempatan untuk berefleksi pribadi di area kolese Le Cocq dengan membawa sebatang lilin.   Malam itu, hanya lilinlah yang memberi terang dan menjadi teman. Saya merasakan perasaan yang damai saat menulis, meski angin yang terus bertiup membuat lilinku sering hampir mati. Setelah berdinamika pribadi, kami berkumpul sambil membawa lilin lalu berdoa bersama. Seru dan damainya kegiatan di hari itu kami tutup dengan istirahat di ruang-ruang kelas. Awalnya saya kesulitan tidur, tapi akhirnya saya bisa tidur lelap setelah seharian yang melelahkan.   The Village of Hope Keesokan harinya, Sabtu 26 April 2025, kami bangun sekitar pukul 04.30 WIT untuk memulai memasak sarapan pagi dan berganti pakaian untuk kegiatan luar sekolah. Kami diutus dengan misi yang berbeda-beda dengan hanya diberi amplop yang berisi lokasi dan aktivitas yang dilakukan. Kelompokku mendapat misi harus ke tempat bernama “The Village of Hope” lalu mencari tempat ibadah, menggambar tempat tersebut dan menyanyikan dua lagu bertema Paskah. Kami langsung tahu “The Village of Hope” adalah Kampung Harapan dan segera menuju ke sana. Awalnya saya dan beberapa teman ragu memilih jalan yang harus kami lewati, tapi akhirnya kami mendapati Gereja GBI Pondok Daud. Kami pun sempat salah paham dengan  misinya yang tertulis “Mintalah seseorang untuk menggambar” sehingga kami berpikir orang yang menggambar adalah orang di luar kelompok sehingga kami meminta orang di situ untuk menggambar gerejanya. Untunglah mereka mau menerima permintaan kami, lalu kakaknya mulai menggambar dan kami menyanyikan  dua lagu bertema paskah.    Berbagi Kami lanjut sharing di dalam aula mengenai pengalaman menjalankan misi. Perutusan kami tadi beragam, ada yang ke Pantai Nabire, Taman Gizi, Kantor Pos, Goa Maria KSK, Tugu Nabire Hebat, dll. Ternyata ada yang seharusnya ke Masjid Al Falah hanya saja mereka gagal karena memang misinya cukup sulit. Saya merasa gembira karena boleh menerima misi khusus dan belajar menjalani misi itu dengan baik. Tidak semua misi itu mudah, tetapi mencobanya sepenuh hati itu penting. Dan yang tidak kalah penting juga adalah berani berbagi agar sesama bisa belajar dari setiap kisah yang ada. Karena setiap misi memiliki kisahnya sendiri-sendiri.   Rahmat yang Mengejutkan Dari rekoleksi ini saya belajar banyak hal, mulai dari kerja sama, kebersamaan, motivasi-motivasi, dan sebagainya. Saya tidak menyangka rekoleksi kali ini akan menyenangkan, saya dapat mengenal adik kelas dan bahkan teman seangkatan yang belum terlalu dikenal sebelumnya. Saya awalnya ragu dengan kelompokku sendiri. Saya berpikir kelompok 11 tidak akan kompak, ternyata tidak. Setelah dijalani ternyata mereka cukup menyenangkan dan bisa diandalkan khususnya urusan memasak. Saya mengalami banyak perasaan, ya senang, sedih, bosan, dan sebagainya. Dari yang awalnya ragu, kini saya semakin percaya. Melalui rekoleksi ini saya merasa lebih mampu menghargai diri sendiri dan orang lain, lebih terbuka, dan tidak boleh berprasangka buruk ke orang lain sebelum mengenal dan  melihatnya lebih dekat.   Kontributor: Gracia Tawa Buntu – Siswi Kelas XI 2 SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville

Penjelajahan dengan Orang Muda

Café Puna: “Discerning the Will of God”

Pada hari Kamis, 22 Mei 2025, komunitas SJ Pulo Nangka menyelenggarakan kegiatan Café Puna (Café Pulo Nangka), sebuah forum santai dan inspiratif untuk berbagi pengalaman dalam menghidupi spiritualitas Ignatian bersama para Frater Serikat Jesus Unit Pulo Nangka. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 19.30 hingga 21.00 WIB dan dilaksanakan secara hybrid, yakni on-site di Komunitas Pulo Nangka serta secara daring melalui platform Zoom.   Kegiatan bertajuk “Discerning the Will of God” ini dihadiri oleh 65 peserta secara langsung dan 50 peserta secara daring, yang terdiri dari umat lingkungan, OMK, mahasiswa, kelompok MAGIS, serta para religius lain yang memiliki ketertarikan pada dinamika hidup rohani dan proses discernment (membedakan kehendak Allah) dalam spiritualitas Ignatius Loyola.   Sesi utama dipandu oleh Frater Herdian, S.J. dan Frater Pond, S.J. yang membawakan pembahasan mengenai tiga waktu diskresi dalam spiritualitas Ignatian. Fokus utama malam itu adalah pada waktu ketiga—yakni momen diskresi di mana seseorang tidak berada dalam kondisi pengalaman batin yang kuat (waktu pertama) maupun gerak rasa yang mencolok (waktu kedua), tetapi mengambil keputusan melalui pertimbangan akal budi yang jernih dan tenang.     Disampaikan pula bahwa pertimbangan akal budi dalam waktu ketiga tidak bersifat kering atau semata-mata rasional. Diskresi ini tetap mengandaikan kebebasan batin, yakni keterbukaan dan keterlepasan dari ketertarikan pribadi yang mengaburkan pandangan. Kebebasan ini memungkinkan seseorang untuk memilih bukan hanya apa yang baik, melainkan apa yang lebih memuliakan Tuhan dan membahagiakan dirinya secara mendalam dan sejati.   Sesi diakhiri dengan tanya jawab interaktif dan sharing pengalaman singkat dari beberapa peserta yang menyoroti tantangan konkret dalam menjalani proses discernment, terutama dalam konteks pilihan hidup dan pekerjaan. Pada sesi ini, pertanyaan-pertanyaan dari para peserta dijawab oleh para Pater SJ yang hadir baik secara langsung maupun online. Mereka adalah Pater Sardi, Pater Effendi, Pater Siwi, dan Pater Widi. Selain bahwa kita harus cermat dalam melakukan diskresi, para penanggap menegaskan pentingnya membangun kebiasaan refleksi harian dan pendampingan rohani sebagai sarana konkret untuk menumbuhkan kepekaan rohani dalam membuat keputusan-keputusan penting.   Akhirnya, kegiatan ini menjadi ruang formasi rohani yang hangat, terbuka, dan mencerahkan, yang diharapkan terus berlanjut secara berkala sebagai wadah bagi kaum muda dan siapa saja yang ingin mendalami spiritualitas Ignatian dalam kehidupan sehari-hari.   Kontributor: Sch. Alexius Aji Pradana, SJ – Humas Café Puna

Pelayanan Masyarakat

Senja di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah

Minggu, 27 April 2025, adalah hari yang dinantikan oleh para volunteer Perkampungan Sosial Pingit (PSP). Jam 16.00 WIB, volunteer PSP dan frater pendamping berkumpul di Pingit dan berangkat. Perjalanan yang ditempuh tidaklah jauh namun cukup tricky bagi pendatang pertama kali karena harus memasuki kampung daerah Cokrodiningratan yang banyak belokan. Lokasinya yang bisa dibilang tersembunyi pada sebuah kampung di belakang projek bangunan mangkrak seakan menyiratkan makna: ada sebuah kisah perjuangan hidup dari kelompok yang termarginalkan di balik megahnya kota Jogja yang jarang mendapat sapaan hangat dari masyarakat (atau mungkin sengaja tak disapa oleh masyarakat atas nama kebaikan, atas nama moral, dan mungkin, agama?). Dan di sinilah kami berada, Pondok Pesantren Waria Al-Fatah.   Para santri penghuni Pondok Pesantren (Ponpes) Waria Al-fatah begitu hangat menyambut kehadiran kami yang hendak berdialog sore itu. Adalah Kak YS, seorang transgender perempuan (transpuan) yang sangat excited mempersilakan kami masuk. Kak YS menceritakan banyak hal bagaimana Ponpes Al-Fatah ini didirikan. (Alm) Ibu Shinta Ratri yang merupakan seorang transpuan Muslim sekaligus aktivis HAM mendirikan Ponpes Al-fatah pada tahun 2008. Berjalannya waktu, ponpes ini sempat berpindah-pindah lokasi akibat penolakan warga dan bahkan sempat ditutup akibat persekusi dari kelompok konservatif. Setelah sebelumnya dari Kota Gede, Ponpes Al-Fatah kini berlokasi tak jauh dari Tugu Jogja. Tujuan didirikannya ialah untuk memberi tempat bagi rekan-rekan LQBT, khususnya transpuan, untuk beribadah dengan nyaman serta belajar mengaji dan membaca Al-Quran didampingi beberapa rekan mahasiswa relawan, ustadz, dan bahkan pendeta.   Tak hanya santri yang beragama Islam saja, Ponpes Al-Fatah juga membuka pintu bagi rekan-rekan transpuan yang beragama Kristen. Melihat realita diskriminasi berupa penolakan yang dialami oleh rekan-rekan transpuan, Ponpes Al-Fatah menjadi rumah yang memenuhi kebutuhan afeksi cinta kasih sebagai seorang makhluk hidup. Mereka mendekatkan hati kepada Sang Sumber Kasih itu sendiri. Disela-sela pergulatan hidup dan berbagai tekanan yang dialami, kasih yang mereka terima melalui keluarga Ponpes Al-fatah diwujudkan pula dalam kehidupan sehari-hari. Banyak santri yang terlibat dalam kerja bakti masyarakat dan kegiatan LSM. Ada pula yang belajar make up, pijat, usaha catering, dan berjualan agar mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di tengah keterbatasan akses akibat identitas yang mereka yakini, mereka tetap berjuang hidup mandiri. Beberapa ada yang masih bekerja sebagai pengamen jalanan dikarenakan tidak dapat memenuhi kriteria pekerja di lembaga-lembaga tertentu; mereka tidak memiliki kartu pengenal identitas seperti KTP.   Kak YS berkisah bahwa dirinya dan rekan-rekan transpuan masih saja mendapat stigma negatif dari masyarakat, bahkan dari pemuka agama. Contohnya, dalam sebuah kegiatan seminar edukasi, Kak YS yang mewakili kaum transgender mendapat pengalaman diberi label bahwa sebagai seorang transpuan merupakan perbuatan dosa dan disuruh bertobat, kembali menjadi laki-laki cisgender. “Padahal, aku emang sudah merasa sejak kecil bahwa aku ini perempuan walaupun terlahir sebagai laki-laki. Umur 3 tahun aja aku udah pakai rok. Ada, lho, fotonya!” Di balik diskriminasi yang mereka alami, prinsip hidup yang menjadi langkah awal bagi rekan-rekan santri Ponpes Al-Fatah ialah penerimaan diri. “Tetap akan selalu ada orang-orang yang menuntutmu menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Tapi selama kamu jadi diri sendiri, keinginan pribadi mereka tidak akan menggoyahkan dirimu. Dan langkah awalnya adalah menerima diri apa adanya, siapa pun diri kamu,” tutur Kak YS dengan mata berkaca-kaca.     Arif Nur Safri, ustadz yang mendampingi para santri belajar agama, memberi kami nasihat untuk berpikir lebih kritis dengan stigma dan label yang ada terhadap rekan-rekan transgender. Mungkin kita pernah mendengar stigma soal waria, banci, bencong atau apa pun sebutannya itu yang kemudian tanpa sadar pikiran mengadopsinya menjadi asumsi negatif terhadap kelompok-kelompok tertentu. Membaca dan berdialog memampukan kita agar menjadi pribadi dengan pemikiran yang mandiri. Diskriminasi itu terus mereka alami selama masih belum banyak orang yang terbuka dan teredukasi bahwa tiap individu memiliki hak atas identitas pribadinya masing-masing.   Momen dialog ini memang momen yang kami nantikan. Seminggu seusai perayaan Paskah dan kurang dari sebulan perayaan Idul Fitri. Momen dialog yang menggugah kesadaran kami soal kasih, yaitu nilai utama yang Yesus ajarkan melalui pesan wafat-Nya di kayu salib. Perlu ada perspektif kasih dalam memandang kelompok tertentu yang termarginalkan. Sebagaimana Yesus yang selalu berpihak kepada orang miskin, lemah, dan tersingkir, kita diutus pula untuk merengkuh mereka dengan penuh kasih sebagai seorang sahabat yang sederajat, bahkan saudara. ”Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Injil Markus 3:35 mengajarkan bahwa persahabatan dan persaudaraan tidak hanya sebatas hubungan darah. Kita semua adalah anak-anak Allah jika hidup dalam kebaikan. Apalagi melakukan perbuatan yang dikehendaki Allah seperti mewujudkan cinta kasih, keadilan, dan perdamaian bagi sesama tanpa membeda-bedakan gender, agama, suku, dan lainnya.   Waktu terasa sangat singkat. Matahari mulai terbenam diiringi suara adzan maghrib. Kami pamit untuk kembali ke kesibukan kami masing-masing, namun dalam hati berjanji untuk tidak sibuk sendiri. Masih banyak teman-teman kami yang masih terpinggirkan oleh dunia. Satu hal yang menghidupkan kembali semangat kepedulian kami terhadap sesama yang terpinggirkan dengan menjadi volunteer mengajar anak-anak di Pingit. Kakak-kakak santri yang senyumnya tidak pernah lepas melepas kepulangan kami. Kami menghaturkan rasa terima kasih atas dialog singkat yang manis sore ini. Terima kasih atas inspirasi yang nyata bahwa keadilan dapat sungguh-sungguh diperjuangkan dengan penuh kasih.    Dan senja yang hangat sore itu mengantar kepulangan kami selepas bercengkrama bersama santri transpuan di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah.   Kontributor: Basilika Rain (volunteer pengajar Perkampungan Sosial Pingit)