Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Akhir-akhir ini kita semua semakin akrab dengan berbagai macam pertemuan daring. Mulai dari misa online, kelas online, rapat online, Pendampingan Iman Anak online, dan berbagai macam pertemuan online lainnya. Semuanya itu harus dilakukan dan diakrabi dengan tujuan mempertemukan beberapa orang dalam satu kepentingan yang sama karena tidak bisa berjumpa secara luring. Kita sudah mengalami banyak acara Provinsi yang juga dilakukan secara daring. Satu lagi acara Provinsi yang dilakukan daring di bulan Februari ini adalah solisitasi. Proses solisitasi yang dari tahun ke tahun biasanya dilakukan di Girisonta, terpaksa diadakan secara daring. 

Pada tahun 2021 ini ada 24 anak muda yang melamar bergabung ke Serikat. Para solisitan yang melamar datang dari berbagai macam latar belakang dengan rincian 15 solisitan dari Seminari Menengah Mertoyudan Magelang, 2 solisitan dari Seminari Menengah Wacana Bhakti Jakarta, 1 solisitan dari Seminari Menengah Bogor, 3 solisitan dari Seminari Menengah Pematang Siantar, 2 solisitan dari Prompang Jakarta, dan 1 solisitan dari Prompang Jogja.

Pada Senin-Jumat, 8-12 Februari 2021 diadakan tes wawancara solisitasi secara daring. Ini adalah pengalaman pertama dari pelaksanaan tes wawancara secara daring. Keputusan untuk melaksanakan solisitasi secara daring menjadi hal yang tidak bisa dihindari lagi. Hal ini mengingat adanya Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Status Girisonta sebagai rumah aman Provindo, dan posisi baik itu para examinator maupun para solisitan yang terpencar-pencar mulai dari Pulau Sumatera, Pulau Jawa, hingga Pulau Bali. Menariknya adalah semua solisitan dari Seminari Menengah Mertoyudan Magelang saat ini sedang menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah mereka masing-masing. Dinamika formasi di rumah mereka masing-masing justru memberi tantangan tersendiri dan memunculkan karakter mereka. Ada solisitan yang sedemikian rupa menjadi sibuk dan kesulitan untuk membagi waktu serta perhatian antara sekolah dan rumah karena harus membantu orang tua berjualan dan mempersiapkan dagangan. Ada pula yang justru menjadi semakin santai karena tidak ada yang mengawasi lagi.

Syukurlah kemajuan teknologi sangat membantu pelaksanaan solisitasi ini tetapi hal ini juga menantang panitia solisitasi untuk memikirkan pernak-pernik pelaksanaan teknisnya. Mulai dari memikirkan pilihan sarana-sarana yang ramah untuk para examinator dan juga para solisitan hingga memberikan panduan detail kepada semua pihak. Setiap solisitan mempunyai kesempatan wawancara dengan 4 orang examinator masing-masing selama 1 jam. Sarana yang akhirnya dipilih untuk melaksanakan wawancara daring ini adalah video call WhatsApp. Aplikasi ini adalah aplikasi paling umum dan ramah terhadap semua solisitan. Setiap solisitan bisa mengusahakan aplikasi ini bahkan mereka yang berada di daerah-daerah pelosok. Syukurlah semua solisitan menjalani tes wawancara daring ini dengan penuh semangat meskipun ada yang harus mengungsi ke pastoran, rumah saudara, ataupun ruangan yang tenang di salah satu sudut seminari agar mendapatkan sambungan internet yang baik dan situasi yang kondusif. Bahkan ada pula yang beberapa kali harus berpindah tempat dan naik ke atap rumah karena sambungan internet yang tidak stabil.

Selama lima hari para examinator juga berjuang untuk bersahabat dengan layar HP atau tabletnya masing-masing. Mulai dari jam 07.30 hingga 12.30 WIB non stop para examinator berkanjang asyik dan berdialog dengan gawai mereka. Kurang lebih ada 5 solisitan yang harus diwawancarai oleh para eksaminator setiap harinya. Dalam segala keterbatasan yang ada, para examinator berusaha untuk mengenali secara lebih mendalam masing-masing pribadi solisitan. Tentu masih ada banyak hal yang tidak tertangkap dalam pribadi solisitan, misalnya ekspresi tubuh, spontanitas, dll. Sebagian dari solisitan hanya terekspresi dan terwakili dalam layar berukuran 6,5 hingga 10,4 inch saja. Tentu saja para examinator menyadari ada banyak hal yang tidak bisa tertangkap dengan baik tetapi inilah cara terbaik yang dapat ditempuh di tengah situasi ini. 

Para examinator juga bersyukur atas keterbukaan dari masing-masing solisitan dan kelancaran pelaksanaan tes wawancara daring. Selain tes wawancara secara daring, setiap solisitan juga diminta untuk mengerjakan tes psikologi secara daring juga. Cara ini juga ditempuh untuk mendukung dan menambah pengenalan yang lebih dalam mengenai kepribadian para solisitan. 

Pada akhirnya pandemi yang sedang melanda kita akan menuntut kesiapsediaan kita untuk berubah dan beradaptasi dengan cara hidup yang baru. Pandemi ini diyakini tidak hanya akan merubah bentuk solisitasi saja tetapi juga cara hidup men-Jesuit, khususnya proses formasi di novisiat. Tim novisiat tentu masih terus memohon doa dan dukungan dari saudara-saudari untuk melaksanakan proses formasi yang tetap relevan dan mendekati dengan cita-cita serta idealisme Serikat dan Ignatius Loyola.

Kontributor: Hendricus Satya Wening, SJ – Panitia Solisitasi 2021