Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Tulisan ini Diterjemahkan oleh Herman Wahyaka dari surat elektronik yang dikirimkan oleh Pater George Alt, SJ – Jesuitenmission

Jesuitenmission mengharapkan dukungan kita bersama para donatur Jerman dan Austria untuk mendukung advokasi global terhadap pemerintah Jerman. Ketika program vaksinasi terhadap Covid-19 diluncurkan di negara maju, semakin jelas terlihat bahwa mereka menyimpan sebagian besar vaksin untuk keperluan mereka sendiri dan hanya sedikit yang tersisa bagi negara-negara miskin.

Pada Sidang Umum PBB 26 September 2020 yang lalu, Paus Fransiskus berseru, “Andaikan ada pilihan, maka mereka yang termiskin, paling rentan, dan yang begitu sering mengalami diskriminasi karena tidak memiliki kekuatan dan sumber daya kekayaan mendapat prioritas pertama.” Senada dengan itu, pada 16 Februari 2021 Sekjen WTO yang baru, Ngozi Okonjo-Iweala, juga mengingatkan tentang kecenderungan terhadap “nasionalisasi vaksin” dan menegaskan kembali bahwa “tidak akan ada yang selamat sampai semua orang selamat.”

WTO bisa menjadi tempat di mana solusi sederhana dan cepat dapat ditemukan. India dan Afrika Selatan telah mengajukan prakarsa yang mengacu pada pasal IX Perjanjian WTO yang mengatur penangguhan sementara hak paten atas informasi yang relevan dengan produksi vaksin dalam “keadaan luar biasa” dan, jika di antara negara-negara anggota WTO tidak ditemukan kesepakatan, maka sesuai pasal yang sama, tindakan tersebut tetap dapat dilakukan di bawah persetujuan tiga perempat negara anggota. Penangguhan sementara hak paten dan dukungan teknis serta finansial yang memadai untuk menyesuaikan jalur produksi vaksin di seluruh dunia ini nantinya mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan ketersediaan vaksin bagi semua orang.

Saat ini beberapa badan PBB, ratusan organisasi kemasyarakatan, dan lebih dari separuh negara anggota WTO mendukung opsi ini. 

Namun demikian, negara-negara yang menyimpan vaksin untuk keperluan mereka sendiri justru menghalangi usaha ini. Inilah yang perlu dibenahi karena pandemi Covid-19 akan berakhir hanya jika virusnya diberantas secara global. Kini bahkan varian virus telah bermutasi dan terbukti kebal terhadap beberapa vaksin yang dikembangkan.

Oleh karena itu, dengan segala daya upaya, kita perlu memperkuat dukungan terhadap prakarsa India dan Afrika Selatan serta melemahkan perlawanan terhadap perjuangan mereka ini.

Jesuitenmission Jerman dan Austria, bersama dengan Medical Mission Institute di Würzburg, mencoba menghimpun dukungan untuk mengirim Surat Terbuka kepada Kanselir Jerman Merkel dan Kanselir Austria Kurz agar mereka mendukung advokasi penangguhan sementara hak paten. Bukankah situasi global saat ini termasuk sebagai “keadaan luar biasa?” Lagipula, ini bukan soal miskin dan kaya, tetapi lebih mengenai nasib dan kebaikan seluruh umat manusia.

Oleh karena itu, Jesuitenmission mengajak Anda untuk segera menandatangani Surat Terbuka kepada Kanselir Merkel dan Kanselir Kurz ini. Anda dapat menandatangani kedua Surat Terbuka tersebut karena keduanya ditujukan kepada dua orang berbeda. Anda dapat menunjukkan dukungan melalui tautan di bawah ini. 

Tautan untuk pemerintah Austria adalah https://tinyurl.com/WaivePatentRights 

Tautan untuk pemerintah Jerman adalah https://www.change.org/WaivePatentRights 

Sebarkan informasi ini kepada sebanyak mungkin orang. Ajak siswa-siswi di sekolah-sekolah untuk menandatangani petisi ini. Kita juga bisa menutup pertemuan atau rapat dengan meminta seluruh anggota rapat menandatangani petisi. Mari segera kita lakukan karena pertemuan Dewan WTO terkait prakarsa ini akan diadakan pada 10 Maret 2021 mendatang.  

Terima kasih banyak atas bantuan Anda. Semoga kita semua tetap sehat dan selamat,

George Alt SJ 

——————-

P. Dr. Jörg Alt, S.J.

Jesuitenmission

Research, Networking, Advocacy

Königstraße 64

D-90402 Nürnberg

Tel. (+49) 911 2346-189

Fax (+49) 911 2346-161