Senang menjadi bagian Gereja Katolik Indonesia

Untuk para Jesuit, Menemani kaum muda pun bukan sautu hal yang mudah, kan? Namun, kami percaya dengan semua usaha, kegigihan, dan doa pasti akan ada buah yang dihasilkan dari pendampingan kaum muda Katolik di seluruh dunia, khususnya di Indonesia.

Menjadi bagian dari tiga puluh lima orang yang hadir dalam Jesuit Conference of Asia Pacific Youth Ministers Meeting 2019 adalah pengalaman yang menyenangkan dan menantang bagi Saya. Berada di tengah komunitas dengan beragam usia, latar belakang, budaya, dan kebangsaan bukan merupakan suatu masalah. Perbedaan mereka justru menjadi suatu kekuatan untuk bersama-sama mendampingi kaum muda katolik di seluruh dunia.

             Dari berbagai cerita dan pengalaman yang saya dengarkan, satu hal yang membuat saya tertarik yaitu kepercayaan. Bagaimana para Jesuit dan pendamping yang sudah dewasa memberikan kepercayaan mereka untuk kaum muda bisa berekspresi dan mengembangkan dirinya dalam Iman. Jesuit tidak hanya mendampingi kaum muda, namun membuat mereka mampu menjadi pendamping baru bagi teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Disaat banyak orang yang meremehkan peran kaum muda, fakta bahwa Jesuit melibatkan kaum muda secara nyata untuk hadir dan terlibat aktif dalam meeting ini adalah bentuk kepercayaan yang sudah lebih dari cukup.

Para peserta Magis JCAP meeting berfoto bersama dengan background pemandangan kota Macau

            Saya hadir untuk membagikan pengalaman pendampingan anak-anak di Indonesia melalui Eucharistic Youth Movement (EYM) yang saya dapatkan tahun 2012 lalu. Hal yang tidak mudah, namun menantang bagi saya untuk dapat bercerita di depan tiga puluh empat peserta lainnya. Sebenarnya bisa saja jika Romo John yang menginisiasi gerakan ini bercerita di depan mereka, namun justru saya yang masih sembilan belas tahun ini diberi kepercayaan untuk menceritakannya. Awalnya saya merasa takut. Takut jika mereka tidak memahami apa yang saya sampaikan, dan takut jika apa yang saya sampaikan nanti justru tidak relevan dengan misi mereka.

            Satu hal yang membuat saya merasa empowered ketika di akhir sesi sharing saya, salah satu anak muda dari Australia menyatakan gagasannya bahwa kaum muda harus diberi kepercayaan. Kepercayaan untuk bisa menyuarakan pendapatnya, kepercayaan untuk bebas berekspresi, dan kepercayaan bahwa kaum muda sebenarnya mampu diberi tanggung jawab.

            Memberikan kepercayaan kepada kaum muda mungkin bukan hal yang mudah awalnya. Namun, semua pengalaman di JCAP YM Meeting kemarin membuat saya merasa lega dan terharu. Melihat betapa kaum muda sungguh dihargai dan diberi kepercayaan yang luar biasa membuat saya optimis bahwa kami bukanlah penambah masalah di dunia, justru kami adalah harapan masa depan dunia ini.

Untuk para Jesuit, Menemani kaum muda pun bukan sautu hal yang mudah, kan? Namun, kami percaya dengan semua usaha, kegigihan, dan doa pasti akan ada buah yang dihasilkan dari pendampingan kaum muda Katolik di seluruh dunia, khususnya di Indonesia.  

Ketika mendengar cerita dari berbagai Negara tentang misinya, perasaan saya campur aduk. Ada rasa terharu ketika mendegar kesuskesan Chinese Province membuat banyak komunitas, ada rasa senang ketika mendengar cerita bahwa banyak non-Katolik yang juga ikut terlibat dalam kegiatan Magis di Kamboja, namun ada pula rasa sedih ketika mendengar Korea kesulitan untuk membuat komunitas di negaranya.

            Ada satu hal yang justru membuat saya merasa sedih namun bangga di saat yang sama. Cerita dari Chinese Province tentang betapa kerasanya usaha mereka untuk membangun komunitas dari nol dan harus terus waspada dengan situasi politik di negaranya. Mungkin Negara-negara lain juga memiliki kesulitan, namun kesulitan komunitas di Chinese Province inilah yang menurut saya paling bisa menggambarkan pendampingan dan kekuatan Tuhan. Dua orang yang hadir mewakili komunitasnya, Joy dan Mei Liang Sun adalah awam. Meskipun bukan seorang pastur, namun mereka merelakan waktunya untuk berkarya mendampingi kaum muda. Bahkan, salah satu dari mereka rela meninggalkan istri dan dua orang anaknya yang masih kecil untuk datang ke JCAP YM Meeting.

Rasa bangga muncul karena dari cerita mereka tergambar betapa gigihnya mereka untuk terus berupaya mendampingi kaum muda yang mungkin sedang kebingungan mencari jati dirinya. Mereka mungkin takut, tapi mereka tidak menunjukannya. Mereka justru tersenyum dan juga tertawa ditengah keterbatasanya untuk berbicara bahasa Inggris. Bangga bahwa mereka adalah saudara satu Iman dengan saya, bangga bahwa masih ada orang-orang baik yang mau mengorbankan dirinya untuk mendampingi kaum muda.

            Pengalaman mereka sungguh membuat saya bersyukur lahir dan tumbuh di Indonesia, serta menjadi pemeluk agama Katolik di Indonesia. Semua kemudahana, akses menuju Gereja, kesempatan untuk membicarakan iman kita di Indonesia sungguh sangat mudah. Tidak ada tekanan dari pemerintah, pembatasan untuk pergi beribadah, dan juga batasan untuk melakukan kegiatan rohani bagi kaum muda.

            Hal ini saya sharingkan dalam contemplative dialogue di hari pertama. Saya bercerita tentang rasa bersyukur saya bahwa di Indonesia, semua terasa mudah bagi saya. Mungkin, di Indonesia kita memang minoritas yang kadang dilupakan. Namun, saya bersyukur bahwa semua karya pendampingan kaum muda Katolik di Indonesia bisa berjalan dengan baik tanpa tekanan maupun ancaman.

            Mungkin di Indonesia pun terkadang kita menghadapi tantangan, seperti kesulitan mendapatkan SDM, finansial, maupun kesulitan-kesulitan lainnya. Tapi, apabila mengingat cerita perjuangan mereka, kesulitan kita tidak ada apa-apanya. Saya sungguh senang dan juga bersyukur bisa menjadi bagian dari Gereja Katolik di Indonesia.

Renata Tania Nugroho (Anggota Eucharist Youth Movement)

Found something interesting? share to friends....

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *