KARYA ALLAH ITU NYATA

Mengenang 20 tahun kemartiran Rm. Dewanto dan Rm. Albrecht tentu saja mengingatkan kita akan keberanian mereka berhadapan dengan para milisi. Kedua orang ini mempertaruhkan nyawa agar bisa melindungi dan melayani umat di Timor Leste. Dengan mengenang mereka kita ingin merefleksikan bahwa karya Allah itu ada dan nyata. Melihat kisah mereka, kita percaya bahwa manusia itu bisa keji dan keluar dari jalan Allah.
69728790_735188903587601_187786660354719744_o

Sebagai manusia, kita tidak pernah bisa memahami dengan mudah karya Allah bagi kita. Karya Allah itu tidak pernah bisa digariskan atau dirumuskan terlebih dahulu menurut yang kita mau. Kita tidak dapat merasakan karya Allah sebelum kita bertindak. Ketika kita merefleksikan berbagai pengalaman kita, mungkin setelah bertahun-tahun, kita baru menyadari, “Ya… ini memang karya Allah.” Lewat refleksi inilah kemudian iman kita semakin berkembang dan menjadi siap menghadapi tantangan dan godaan. Kita menjadi siap menghadapi godaan roh-roh jahat dan juga kita semakin paham akan gerak-gerik mereka jika kita berani merefleksikan pengalaman-pengalaman hidup kita.
Mengenang 20 tahun kemartiran Rm. Dewanto dan Rm. Albrecht tentu saja mengingatkan kita akan keberanian mereka berhadapan dengan para milisi. Kedua orang ini mempertaruhkan nyawa agar bisa melindungi dan melayani umat di Timor Leste. Dengan mengenang mereka kita ingin merefleksikan bahwa karya Allah itu ada dan nyata. Melihat kisah mereka, kita percaya bahwa manusia itu bisa keji dan keluar dari jalan Allah. Apa yang kedua saudara kita lakukan merupakan kemartiran hidup yang membuat orang-orang di Timor Leste kini menjadi lebih setia hidup bersama di jalan Allah daripada dengan kekejian-kekejian duniawi.
Tulisan ini ingin menunjukkan hadirnya Allah dalam hidup kita. Perjalanan mengurus pengungsi dan juga pengalaman mencari makam Rm. Dewanto juga memperlihatkan bahwa Allah hadir. Tulisan ini merupakan hasil wawancara dengan Rm. Andre Sugijopranoto, S.J. yang saat itu membantu evakuasi makam Rm. Dewanto dan juga hadir bersama umat di Timor Leste yang menderita dan ketakutan.


Rm. Dewanto meninggal dengan tragis karena dianiaya oleh milisi ketika ia berada di Suai. Suai adalah tempat yang jauh dari kota sehingga tidak banyak orang yang menggunakan Bahasa Indonesia. Maka, setelah tahbisan, Rm. Dewanto dikirim ke Suai. Rm. Ageng Marwata sebagai Superior saat itu memang mengirim beliau ke Suai agar ia selain pandai berbahasa Tetun tetapi juga mampu beraksen Timor. Di Suai, menurut Rm Ageng, masyarakatnya lebih steril dari orang Jawa karena terletak di pelosok sehingga ia bisa belajar bahasa asli secara lebih baik. Sebenarnya Rm. Dewanto merasa tidak nyaman dengan keberadaannya di Suai dan ini terbukti dari suratnya kepada Pater Opzeeland (Pembimbing Rohaninya saat itu). Namun, Rm. Dewanto walaupun merasakan tidak kerasan, ia tetap tidak ingin pergi dari Suai.


Dari pengalaman Rm. Dewanto di atas, kita dapat melihat karya Allah yang luar biasa di mana ia lebih memilih menjalankan kehendak Allah daripada hanya keinginan pribadinya saja. Karya Allah juga sangat terlihat saat kejadian Rm. Dewanto dianiaya oleh milisi.
Kesaksian Rm. Dewanto sebagai martir dikisahkan oleh seorang suster Canossian dan seorang ibu yang mengungsi di gereja.
Menurut seorang suster Canossian, pada minggu di akhir Agustus 1999 kondisi di Suai telah berbeda jauh. Beberapa umat sekitar telah menyarankan Rm. Dewanto untuk pulang ke Pulau Jawa. Namun Romo Dewanto menjawab dengan enteng bahwa “Orang Jawa tidak mungkin menembak orang Jawa.” Maka ia tetap di Suai dan tetap melayani di sana.
Pagi hari, ketika kekejian itu terjadi. Di klinik suster Kanosian ada ibu yang akan melahirkan tapi sungsang dan harus dibawa ke RSU Kota Suai karena di sana hanya ada klinik saja. Namun Suster tidak berani mengantar. Suster kemudian pergi ke Pastoran dan meminta tolong kepada dua romo diosesan untuk menemani ke Rumah Sakit di Dili. Namun kedua imam tidak ada yang berani. Saat itu sejak pagi hari semua romo berjubah dan ini menunjukkan suasana yang tegang dan jubah menjadi pengenal bahwa mereka adalah imam. Akhirnya suster bertemu dengan Rm. Dewanto dan ia mau mengantar ke Rumah Sakit.
Tak lama berselang dari kejadian di atas, suster tersebut dilapori supir susteran yang ketika pergi mengisi bensin, mobil mereka diambil oleh milisi. Sopir susteran pulang dengan berjalan khaki. Rm. Dewanto yang baru pulang dari mengantar ke rumah sakit kemudian berniat mencari mobil tersebut tetapi ternyata gagal. Ia pergi untuk meminta tapi malahan mobilnya juga ikut tersita. Akhirnya ia kembali ke pastoran dengan berjalan kaki. Rm. Dewanto sesampainya di pastoran langsung makan dan sejenak beristirahat.
Kemudian, sekitar jam 3 sore terdengar suara orang diminta berbaris dan banyak sekali orangnya. Mereka disuruh oleh milisi dan mereka datang dengan senjata lengkap dan menyerbu gereja. Satu romo diosesan yang ada di sana langsung ditembak dan meninggal. Satu romo diosesan lain yang baru ke luar dari kamarnya juga langsung ditembak dan meninggal. Kemudian Rm. Dewanto keluar dan dengan suara keras ia berusaha melerai kekejian yang dilakukan milisi, namun apa yang ia inginkan tidak terjadi. Ia malahan dipukuli oleh para milisi hingga mati. Tak lama sesudahnya, gereja di lempari granat. Saat itu ada ratusan orang mengungsi di dalam gereja. Banyak umat di sana yang meninggal.
Gereja merupakan save heaven-nya orang Timor Leste. Karena masyarakat sekitar gereja adalah masyarakat kecil, maka ketika diintimidasi, mereka akan lari ke gereja. Namun dengan peristiwa ini, pemahaman gereja sebagai tempat yang aman sudah tidak benar lagi.
Setelah dua jam dan kondisi mulai sepi, biara suster diketuk oleh Dandim. Para suster yang bersembunyi ketakutan mendengar suara ketukan. Namun, setelah mereka mendengar suara Dandim yang mereka kenal, akhirnya mereka berani membukakan pintu. Mereka mengevakuasi para suster. Ketika keluar, para suster menyaksikan bahwa dari sela pintu Gereja mengalir ke luar banyak penuh darah.
Kronologi kedua diambil dari wawancara dengan seorang ibu yang mengungsi di gereja. Dia bersembunyi di bawah altar. sehingga ketika gereja di granat, dia tidak terluka. Ia bercerita bahwa dari tempatnya bersembunyi, ia melihat Rm. Dewanto sedang dianiaya.
Dari dua kisah ini, kita bisa melihat bahwa Rm. Dewanto tidak meninggal begitu saja, melainkan ia dianiaya karena berpihak pada korban, yaitu para jemaat di sana.

Evakuasi Jenazah
Dalam evakuasi, kita juga dapat melihat karya Allah yaitu ketika Allah mendampingi para relawan yang mempermudah segala persoalan selama evakuasi.
Saat itu, suasana di Timor Leste memang penuh kekacauan. Milisi menghendaki agar kejadian keji dan pembunuhan terhadap tiga imam katolik tidak diketahui banyak orang. Namun, hal tersebut merisaukan Komnas HAM Indonesia karena peristiwa tersebut sangat bertolak belakang dengan hak asasi manusia. Komnas HAM mendengar ada tiga pastor dikubur di Betun, Timor bagian indonesia. Ketika mendengar hal itu, ia ingin menyelidikinya. Ketua Komnas HAM saat itu adalah Baharuddin Lopa, yang juga mantan Jaksa Agung. Ia kemudian bekerja sama dengan Kejaksaan Tinggi di Kupang dan Jaksa Tinggi di Kupang adalah teman baiknya Kapolda. Berita ini juga sampai ke telinga Kapolda dan ia bercerita bahwa anak buahnya adalah saksi penguburan orang-orang yang dianiaya tersebut, termasuk tiga pastor yang dianiaya.
Tim evakuator berangkat dini hari jam 03.00 dan sampai di Suai jam 05.00. Perjalanan yang panjang dan sepanjang perjalanan Brimop terjaga dengan senjata-senjata mereka.
Jenazah mereka dimakamkan di suatu pantai yang luas. Untuk memastikan jenazah para imam tersebut, komnas HAM meminta para Jesuit untuk menjadi saksi yang memastikan jenazah tersebut. Munir saat itu menjadi pimpro evakuasi jenazah. Rm. Andre saat itu diminta untuk menggambar peta situasi, di mana di situ terletak bendera penanda jenazah mereka dan setelah penanda diberikan dan digambar, mereka memulai penggalian.
Dalam penggalian juga membuat putus asa karena situasi yang panas dan ada pikiran bagaimana menemukan jenazah di tempat yang seluas itu. Namun, tanda yang ada yang ditunjukkan oleh polisi tersebut ternyata benar dan tepat. Tentunya ini membuat heran karena di suatu tempat yang lapang dan sudah dua bulan yang lalu, polisi tersebut dapat menunjukkan dengan tepat lokasi-lokasi penguburan.
Jenazah Rm. Dewanto dapat dengan mudah teridentifikasi yaitu melalui rambut lurus (oleh Romo Andre) dan sandal (oleh Rm. Edi Mulyono karena sandal dibeli bersama) dan ikat pinggang (oleh Romo Ageng). Sebelum Rm. Dewanto ditahbiskan, ia memimiliki masalah gigi dan gigi yang bermasalah itu akhirnya dicabut. Semua temuan identifikasi tersebut kemudian disesuaikan dengan catatan medis yang ia miliki di Panti Rapih. Yang membuat situasi ini menjadi berkesan adalah tidak ada bekas penembakan pada tubuh Rm Dewanto melainkan hanya bekas penyiksaan.
Ternyata di sana, di sekitar pantai itu, tidak hanya ditemukan jenazah tiga romo, tetapi juga banyak tulang-belulang jenazah yang lain. Total ditemukan mayat sebanyak 24 orang awam lengkap dengan barang bawaan mereka. Hanya jenazah para romo yang ditutup tikar. Lainnya seadanya. Setelah itu semua kerangka orang awam dibawa ke RS Atambua untuk dilakukan otopsi. Kerangka para pastor sudah diotopsi di tempat.
Suasananya proses evakuasi ke Dili terasa sangat menegangkan. Evakuator keseluruhan berasal dari polisi dan Brimob menjaga ketat keseluruhan proses ini sehingga tidak memungkinkan milisi Timor Leste melakukan perlawanan. Sesampai di Katedral Dili, banyak orang meratap dan menangisi mereka yang menjadi korban kebrutalan ini. Keesokan harinya diadakan misa requiem bagi para korban.

Andre Sugiyopranoto, SJ

Found something interesting? share to friends....

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *