Allah yang Melindungi dan Memberi Kekuatan

Situasi saat itu, setelah referendum, memang tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Referendum terjadi pada 30 Agustus 1999. Namun sebelumnya, pada Januari 1999, ketika pemerintah Indonesia memberi keputusan memperbolehkan adanya referendum, Indonesia menawarkan otonomi khusus kepada Timor Timur, otonomi yang lebih luas daripada provinsi lainnya dan menawarkan banyak kekhususan. Walaupun demikian, hasil referendum berbeda dan rakyat Timor Timor tidak ingin tetap berada bersama Indonesia.
67886011_715547232218435_3217831064856690688_o

Situasi saat itu, setelah referendum, memang tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Referendum terjadi pada 30 Agustus 1999. Namun sebelumnya, pada Januari 1999, ketika pemerintah Indonesia memberi keputusan memperbolehkan adanya referendum, Indonesia menawarkan otonomi khusus kepada Timor Timur, otonomi yang lebih luas daripada provinsi lainnya dan menawarkan banyak kekhususan. Walaupun demikian, hasil referendum berbeda dan rakyat Timor Timor tidak ingin tetap berada bersama Indonesia. Sebanyak 80% rakyat Timor menolak adanya otonomi khusus dan menginginkan kemerdekaan. Tentu saja dengan hasil seperti ini, 20% lainnya yang pro Indonesia tidak terima dengan hasil yang ada. Situasi akhirnya memanas dan ketegangan terjadi di berbagai tempat, juga muncul milisi di beberapa tempat. Milisi adalah rakyat setempat yang dipersenjatai. Pada tanggal 4 September 1999, kekacauan semakin terjadi. Rakyat Timor bergembira lepas dari Indonesia. Namun bagi indonesia, ini merupakan kekalahan dan tentara tidak siap kalah. Akhirnya, muncul kelompok-kelompok yang tak dikenal yang kemudian merusak fasilitas-fasilitas umum dan membakarnya. Selain itu, kekacauan semakin terjadi dengan adanya pembunuhan di mana-mana. Jalur damai setelah referendum tidak terjadi seperti yang diharapkan. Yang terjadi malahan kerusuhan yang muncul di berbagai tempat. Rm. Dewanto dan Rm. Albrecht adalah korban dari kerusuhan tersebut. Mereka menjadi korban karena mereka mencoba melindungi rakyat Timor.
Setelah 20 tahun kemartiran mereka kita mungkin tidak melihat secara jelas buahnya. Namun kita bisa melihat, rakyat Timor Leste saat ini berani, yaitu berani untuk hidup mandiri lepas dari Indonesia. Mereka menjadi berani tentu saja seperti Rm. Dewanto dan Rm. Albrecht. Saya sendiri yakin, mereka punya kegairahan besar untuk maju. Sebuah contoh, alumni Santo Yosef yang saya kenal, ia adalah seorang yang berani, yang punya kegairahan untuk maju dan berkembang dengan studi dan pekerjaannya. Memang negara tersebut juga membutuhkan pengembangan human resources, namun saya yakin mereka punya cara yang bagus untuk mengembangkan hal tersebut yang akan mengubah masa depan mereka. Inilah yang ingin saya katakan sebagai bentuk dari keberanian. Mereka berani untuk berkembang sendiri secara mandiri.
Saya sendiri saat itu merasakan keganjilan karena seorang imam tentu saja sangat dihormati bak raja. Namun, dengan peristiwa terbunuhnya Rm. Dewanto hal yang tidak mungkin terjadi malah terjadi. Seorang imam terbunuh dan ini di luar dugaan banyak orang. Saya rasa, apakah ini harga yang harus saya bayar, sebagai superior yang mengutus Rm. Dewanto untuk tetap di situ. Ini memang pengutusan ketaatan yang mempunyai nilai luar biasa dan harganya juga sangat tinggi. Tidak mudah menjadi Superior di dalam situasi konflik seperti itu. Namun, saya malah merasa Allah tidak meninggalkan saya. Ia hadir, mendampingi dan memberi kekuatan. Justru ketika Rm. Albrecht terbunuh dan dimakamkan di sana, kami semua merasa dekat dengan Allah. Sungguh tidak ada rasa takut dan kemudian ingin protes dengan Allah. Saya merasa saya dilindungi oleh Allah.


Allah yang dirasakan itu melebihi dari yang kita pikirkan dan memang tidak bisa kita masukan dalam golongan apapun. Seperti ada sebuah misteri di mana saya paham di situ Allah hadir dan tidak dapat dengan mudah dijelaskan. Kita hanya bisa terbuka pada misteri tersebut. Justru ketika kita terbuka dan ada konsekuensi salib yang harus diterima, saya semakin merasakan begitu dekat dengan Allah, ada rasa tenang dan merasa dilindungi. Bahkan setelah pembunuhan, kami saat itu malah pergi ke mana-mana untuk melayani umat dan juga untuk mencari jenazah Rm. Dewanto juga. Kami malah tidak menutup diri karena takut dengan para milisi, melainkan tetap pergi dan mencari serta melayani umat yang saat itu membutuhkan ketenangan dan perlindungan.
Bagi orang muda saat ini, yang sama sekali tidak merasakan penderitaan karena konflik atau kekacauan yang bukan diakibatkan oleh diri kita sendiri, saya ingin mengatakan bahwa kemerdekaan itu luar biasa mahalnya. Sebagai manusia, kita selalu menginginkan hakikat tersebut. Manusia itu pada dasarnya manusia merdeka. Maka, hormat kepada harkat dan martabat manusia itu merupakan tantangan besar. Kita condong untuk membuat manusia menjadi bagian tertentu. Namun, dari pengalaman Timor Leste, yang namanya kemerdekaan dan kemanusiaan adalah sesuatu yang sangat luhur dan itu terkait dengan kebenaran. Referendum itu sendiri adalah kebenaran.
Untuk teman-teman muda kita, yaitu para Jesuit muda, mereka perlu kuat dalam memperjuangkan hak asasi manusia. Mereka harus berani ambil risiko, sekalipun harus kehilangan dirinya sendiri. Dengan begitu, saya merasa, mereka akan lebih mudah memahami apa yang menjadi kehendak Allah dalam konteks zaman ini.

Semarang, 24 September 2019
Wawancara dgn Rm. Ageng Marwata, SJ

Found something interesting? share to friends....

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *