HUBBUL WATHON MINAL IMAN

Acara ngopi bareng ini merupakan bagian dari rangkaian acara buka puasa bersama Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Kecamatan Jatisampurna. Sebuah acara yang memang sudah dilakoni oleh Ibu Shinta dan tim semenjak sekitar 20 tahun lalu. Gagasan untuk mengadakan di Jatisampurna muncul dari salah satu umat stasi Kranggan, Paroki Kampung Sawah, yang punya relasi dengan tim sahur (dan buka puasa) bersama ini.
kampung sawah 1

Pusaka hati wahai tanah airku
cintaku dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!

Indonesia negeriku
Engkau panji martabatku
Siapa datang mengancammu
‘Kan binasa di bawah durimu

Inilah penggalan lagu Mars Huzbul Wathon (Cinta Tanah Air) yang dinyanyikan dengan sepenuh hati oleh teman-teman dari Nahdatul Ulama (NU) dalam acara “Ngopi (ngolah pikir) Bareng” di Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi.


Lagu ini dinyanyikan sebagai lagu wajib setelah lagu Indonesia Raya. Sebagai orang luar saya sempat merasa canggung ketika setiap orang yang hadir tiba-tiba dengan kepal tangan teracung serentak menyanyikan mars ini penuh semangat. Untung saat itu saya tidak sendiri. Masih ada beberapa umat Gereja Stasi Kranggan dan Paroki Kampung Sawah yang juga ikut hadir. Pikir saya: “Mungkin teman-teman NU ini sedang mbatin, ini penyusup dari mana?” Gagasan tentang dan ingatan sebagai kaum minoritas di antara mayoritas yang tertanam sekian lama membuat hati terasa gentar. Namun, sebuah kata-kata peneguh hati terungkap pada malam itu: “Mereka yang beragama lain bukanlah minoritas. Kalian adalah mayoritas karena kalian bersama NU.”


Acara ngopi bareng ini merupakan bagian dari rangkaian acara buka puasa bersama Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Kecamatan Jatisampurna. Sebuah acara yang memang sudah dilakoni oleh Ibu Shinta dan tim semenjak sekitar 20 tahun lalu. Gagasan untuk mengadakan di Jatisampurna muncul dari salah satu umat stasi Kranggan, Paroki Kampung Sawah, yang punya relasi dengan tim sahur (dan buka puasa) bersama ini. Diakui oleh Ibu Shinta bahwa setelah sekian lama, baru kali ini kegiatan tersebut diadakan di Kecamatan Jatisampurna, Bekasi. Awalnya, acara ini sudah akan diadakan pada 2018. Namun, mendekati hari pelaksanaan, muncul tentangan dari beberapa pihak. Salah satu alasannya adalah karena diadakan di gereja, tepatnya halaman parkir Gereja Stasi Kranggan.Pengalaman ini kemudian menjadi pembelajaran bahwa untuk mengadakan acara seperti ini, Gereja tidak bisa bergerak sendiri. Gereja perlu keluar, menggandeng pihak-pihak lain, khususnya teman-teman NU, Ansor dan Banser.


Syukur bahwa acara ini kemudian dapat terlaksana dengan baik pada Rabu, 8 Mei 2019, di halaman Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi. Tentu kelegaan ini bukan hanya karena acara sudah bisa berjalan tanpa gangguan. Kami terlebih lagi bersyukur setelah mengalami proses dari persiapan sampai terlaksananya acara ini. Proses untuk bangkit dari ketakutan ketika harus kembali berhadapan dengan protes dan penolakan yang mengembalikan ingatan sebagian umat katolik Kranggan akan masa sulit ketika mengusahakan pembangunan gereja. Proses untuk keluar dan mengusahakan perjumpaan dan kerjasama dengan lingkungan sekitar, pemerintah setempat, dan organisasi-organisasi kemasyarakatan lintas agama yang mendukung rencana baik guna mempromosikan nilai-nilai persatuan sebagai bangsa. Proses untuk memahami bahwa gereja tidak bisa hidup sendiri, merasa aman dan nyaman di balik pagar yang tinggi, sampai lupa untuk melibatkan diri pada usaha bersama mengamalkan Pancasila, mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan nyata.


Jika teman-teman NU mengatakan Hubbul Wathon minal Iman, semboyan ini tidak hanya berlaku bagi mereka. Slogan yang berarti “cinta tanah air adalah sebagian dari iman” ini pada akhirnya juga adalah bagian dari panggilan imanku sebagai orang Katolik di Tanah Air Indonesia, …, sebagaimana terumus dengan indah dalam doa prefasi tanah air: “…Engkau pun mencurahkan kasih sayang yang besar kepada bangsa kami. Oleh kesaksian banyak orang yang berkehendak baik Engkau menumbuhkan kesadaran kami sebagai bangsa. Engkau membimbing kami untuk membela persatuan dan kebebasan untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan damai untuk membangun masyarakat yang sejahtera berdasarkan iman dan pengabdian kepada-Mu.”

Ferdinandus Tuhu Jati Setya Adi, SJ

Found something interesting? share to friends....

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *