Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

JRS Indonesia menemani, melayani, dan membela kepentingan para pengungsi di Indonesia. Karya kerasulan JRS Indonesia mengintegrasikan Universal Apostolic Preferences ke dalam karya kerasulan Serikat Jesus Provinsi Indonesia dalam misi rekonsiliasi dan keadilan. 

Menemani Para Pengungsi

Orang-orang yang merasa tak aman di negeri asal mereka (negeri pertama) terpaksa mengungsi, melintasi batas negara mereka, dan mencari suaka atau perlindungan internasional. Tiga belas ribuan pengungsi ada di Indonesia. Bagi mereka, Indonesia merupakan negeri transit (negeri kedua). Di Indonesia, mereka menunggu diterima dan ditempatkan di negeri tujuan (negeri ketiga) oleh negara peratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Tahun 1951 dan Protokol Tahun 1967 tentang Pengungsi. Proses penerimaan dan penempatan ini disebut resettlement

Semakin lama mereka di Indonesia menanti resettlement, semakin memprihatinkan kehidupan mereka. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 menjunjung tinggi martabat pribadi dan hak manusia untuk mencari suaka. Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia melalui Ketetapan Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia sudah menugasi Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat untuk meratifikasi berbagai instrumen Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berkaitan dengan hak asasi manusia. Kendatipun demikian, Negara Indonesia belum memberikan hak untuk bekerja kepada para pengungsi. Sebutan-sebutan “imigran ilegal” dan “imigran gelap” mendiskreditkan mereka. Negara hanya memberikan hak untuk belajar di sekolah kepada anak-anak pengungsi yang berusia tujuh sampai dua belas tahun, dijamin oleh suatu organisasi, memiliki surat izin dari Kantor Imigrasi setempat. Meskipun demikian, mereka tak akan menerima ijazah. 

JRS giat dalam interaksi sehari-hari bersama para pengungsi untuk melindungi hak-hak mereka atas kebutuhan-kebutuhan esensial, pelayanan kesehatan, dan pengembangan diri. Mereka dapat mengambil bagian dalam pelbagai pelatihan keterampilan untuk bertahan hidup selama mereka berada di Indonesia. JRS menyediakan ruang-ruang kolaborasi dengan para warga Indonesia di sekitar para pengungsi. 

Di JRS Learning Center, yaitu pusat belajar yang dikelola oleh JRS bersama para pengungsi di Bogor, JRS menyelenggarakan kursus-kursus Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan latihan-latihan yoga dan meditasi mindfulness bagi mereka yang ingin memelihara kesehatan jasmani dan rohani. 

Latihan yoga para pengungsi di JRS Learning Center, Bogor, 2019.

JRS selalu mengajak semua pihak untuk ikut berkolaborasi dengan JRS. Beberapa kali, Uskup Bogor mengundang JRS untuk menceritakan karya JRS kepada para imam dan rekan-rekan mereka dalam pertemuan para pelayan pastoral di Keuskupan Bogor. Kepada mereka pada 27 Agustus 2019, JRS menceritakan pelaksanaan misinya, maka tiga bulan kemudian bangkitlah kepedulian dalam tindakan bagi para pengungsi. Komunitas Serikat Sosial Vinsensius (SSV) Paroki Sentul, Bogor, menyelenggarakan pelatihan kekriyaan bagi para pengungsi di JRS Learning Center

Para pengungsi dalam pelatihan kekriyaan di JRS Learning Center, 28 November 2019, bersama Komunitas Serikat Sosial Vinsensius (SSV) Paroki Sentul, Bogor.

Merawat Harapan Para Pengungsi Muda 

Para pengungsi muda menghadapi banyak tantangan dalam dunia yang tak memberi alasan bagi mereka untuk mengharapkan masa depan yang lebih baik. JRS melibatkan para pengungsi muda untuk membantu diri mereka sendiri dan para pengungsi yang lain dalam upaya-upaya memulihkan diri, merawat harapan, dan membangun masa depan. 

Pada 2020, perahu-perahu mengangkut 396 pengungsi Rohingya dan mendarat di Aceh. Sebagian besar mereka adalah pemuda, pemudi, dan anak-anak. JRS tak hanya menyediakan makanan tiga kali sehari bagi mereka, namun juga ngobrol dan bermain bersama mereka dalam kamp di Lhokseumawe. 

Menemani anak-anak Rohingya di Lhokseumawe, 2 November 2020. JRS menyediakan sarana bagi mereka untuk mengisi waktu.

Di JRS Learning Center, mereka yang mengajar adalah para pengungsi yang berusia 21 sampai 35 tahun, namun bukan para pengungsi muda ini saja yang mau menjalin relasi dengan sesama mereka. Para warga Indonesia pada usia muda pun mau menjadi sesama bagi para pengungsi, bahkan ketika gelombang kedua kasus infeksi dan kematian Covid-19 di Indonesia mencapai puncak yang empat kali lebih tinggi daripada yang pertama. Selama Maret sampai Agustus 2021, tiga mahasiswi peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Katolik Indonesia Atmajaya Jakarta bergabung dengan JRS di Bogor dan Jakarta. Mereka mengambil bagian secara aktif dalam kegiatan-kegiatan JRS, tak hanya daring namun juga luring, tentu dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 bagi semua anggota staf dan sukarelawan JRS Indonesia. Kontribusi-kontribusi para mahasiswi Atmajaya Jakarta peserta KKN ini membantu JRS untuk memberikan dukungan yang sebaik-baiknya kepada orang-orang yang kami layani.

Memelihara Rumah Kita Bersama

Sekelompok pengungsi yang dilayani oleh JRS mengolah tanah. Pada tiga tahun terakhir ini, JRS bersama para pengungsi semakin berani mewujudkan ide-ide yang kreatif, tak hanya agar mereka dapat makan dan meneruskan kehidupan mereka, namun juga agar mereka dapat mempraktikkan ekologi yang integral dengan sederhana. Sikap hormat dan peduli terhadap martabat manusia tak terpisahkan dari sikap hormat dan peduli terhadap keindahan, diversitas, keutuhan, dan kelestarian semua ciptaan. Untuk melindungi masa depan martabatnya sendiri, manusia perlu memulihkan ekosistem yang rusak. Kewajiban manusia untuk memelihara planet ini merupakan konsekuensi martabat manusia sebagai yang diciptakan secitra dengan Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam keadaan baik. 

Para pengungsi bertani sayur-mayur, 2021.

Para pengungsi yang bertani sayur-mayur ini memang, seperti semua orang asing di Indonesia, harus menerima banyak pembatasan. Namun mereka pantang menyerah, terus berpikir dan bertindak secara proaktif, memberdayakan diri. Mereka dan JRS mengajak para warga Indonesia di sekitar mereka untuk bercocok tanam. JRS menyelenggarakan pelatihan bagi para pengungsi dan para warga ini agar meluas dan mendalam pengetahuan dan keterampilan mereka untuk mengelola lahan pertanian dengan cara yang ramah lingkungan. Mereka mewujudkan komunitas agraris yang akrab dengan tanah dan air. Bumi dapat mereka andalkan untuk mengganjar jerih payah dan tetes-tetes keringat mereka dengan hasil bumi yang dapat mereka masak menjadi pangan sehari-hari. Dengan sepenuh hati, mereka mau ikut memelihara bumi.

Menjadi Sakramen Cinta Allah yang Universal

Di JRS, orang-orang yang lemah dan berdosa menanggapi panggilan Allah dengan pemberian diri melalui praksis solidaritas sehari-hari. JRS menjadi komunitas yang kreatif karena mereka menyatukan karya, misi, iman, komitmen, dan kehidupan mereka untuk memperhatikan dan merangkul para pengungsi yang diabaikan dan disingkirkan. Mereka adalah para anggota staf JRS dan para sukarelawan, para warga Indonesia dan para pengungsi, para Jesuit dan para religius, orang-orang Katolik dan yang beragama lain, laki-laki dan perempuan. 

Betapa pun proses dan hasil kerja mereka tak ideal dan tak sempurna, pluralitas JRS dan pluralitas pengungsi menampakkan dan menghadirkan sesuatu yang sempurna, yaitu cinta Allah yang universal. Selama berjalan bersama para pengungsi, JRS akan terus menjadi tanda dan sarana cinta Allah yang universal itu. 

Kontributor : Fransisca Asmiarsi dan Peter Devantara, S.J.