Gonzaga Festival 2021 : Jatuh Satu, Tumbuh Seribu

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Setiap tahunnya, kompleks bangunan di Jalan Pejaten Barat 10A menjadi saksi bisu kemeriahan pagelaran Gonzaga Festival (Gonzfest). Ratusan anak muda tumpah ruah dan terlibat di dalamnya. Ada pekik gembira lantaran bertemu kawan lama. Ada histeria karena bertemu idola, mendapati teman-teman sepermainannya naik panggung, atau karena bisa menunjukkan kebolehannya. Akan tetapi, pandemi tahun ini membungkam segalanya. Kompleks bangunan yang terletak di Jalan Pejaten Barat 10A itu kini sunyi, sepi, dan nyaris tak berpenghuni. Tidak ada lagi antrean body checking, pembelian tiket, maupun lorong-lorong yang penuh sesak oleh tenant yang menjajakan berbagai kudapan. Lapangan-lapangan olahraga yang biasa menjadi medan laga kontingen dari berbagai sekolah, kini ditinggalkan kosong. Demikian pula dinding-dinding SMA Gonzaga tidak lagi bersolek dengan dekorasi meriah. Ia ditinggalkan pucat pasi tanpa riasan. Pada malam hari, tidak ada lagi sorot lampu warna-warni di halaman sekolah. Hanya pendar samar-samar lampu taman yang menerangi jalan setapak yang sesekali dilewati orang. Sekali lagi, pandemi tahun ini membungkam segalanya. 

Pandemi memang membuat anak jatuh, terpuruk, kesepian, dan bahkan kehilangan harapan. Gonzfest 2021 pun menjadi monumen mereka tumbuh, menyongsong hari baru yang masih akan datang, dan merawat api harapan yang masih berpendar dalam diri mereka. Keinginan untuk tetap tumbuh di tengah ketidakpastian inilah yang membuat mereka sampai pada rumusan tema “Jatuh satu, Tumbuh seribu”.

Gonzfest ditandai dengan kegiatan ZADARI (Gonzaga Sepeda Lari). Kegiatan ZADARI berlangsung satu bulan dari tanggal 9 Agustus 2021 s/d 12 September 2021. Seluruh Komunitas Kolese Gonzaga diundang untuk berolahraga sambil mengumpulkan donasi. Olahraga yang dilakukan di dalam rumah maupun di luar rumah sesuai protokol kesehatan yang dibuat.  Donasi yang terkumpul sebesar Rp. 111.320.000,- (Seratus sebelas juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) dan disumbangkan melalui LDD KAJ (Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta) bagi keluarga-keluarga pra-sejahtera yang terdampak pandemi. 

Rangkaian perayaan Gonzfest pun berlanjut dengan berbagai agenda sejak tanggal 13 hingga 18 September 2021. Pekan Gonzfest ini ditandai dengan diselenggarakannya pengumpulan donasi. Ada dua metode yang digunakan, yaitu melalui donasi secara langsung dan melalui Gonzcart. Dalam kegiatan ini, siswa/siswi Gonzaga mengupayakan adanya e-canteen yang menjajakan berbagai kudapan. Keuntungan yang dihasilkan dari Gonzcart inilah yang nantinya turut akan disumbangkan bagi keluarga pra-sejahtera.

Opening Ceremony Gonzaga Festival 2021.

Pekan Gonzfest diawali dengan webinar mengenai Perubahan Iklim oleh pendiri Greenwalfare.id, Nala Amira Putri dan workshop pembuatan kompos oleh anggota komunitas Kertabumi, Santi Novianti. Dalam kegiatan ini, semua peserta disadarkan kembali identitas mereka sebagai bagian dari alam semesta. Semua peserta diingatkan akan adanya tuntutan untuk terus berkontribusi aktif terhadap kelestarian lingkungan. Setiap orang dipanggil untuk terlibat dalam merawat bumi, rumah bersama ini. Selanjutnya, dinamika Gonzfest diisi dengan berbagai perlombaan pada hari kedua hingga kelima, antara lain: Solo vocal, Poster, English Debate, E-Sport, Visualisasi Puisi, Short Film, Pidato Virtual, Fotografi, Solo dance, dan Makeup. Meskipun penyelenggaraan lomba dilakukan secara daring tetapi tidak menurunkan animo para peserta yang terlibat. Perlombaan dan kompetisi Gonzfest diikuti oleh 36 SMP, 121 SMA, dan 12 perguruan tinggi. Mereka berasal dari Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang, Bali, Bajawa, Lampung, Aceh, Jambi, Pare, dan Nabire. Rangkaian Gonzfest ditutup dengan Charity Concert pada hari Sabtu, 18 September 2021 secara daring. Di ruang virtual inilah, siswa-siswi Gonzaga menunjukkan kebolehan mereka, baik dalam bentuk nyanyian, tarian, maupun visualisasi puisi. Secara khusus, konser ini dimeriahkan oleh penampilan Hindia sebagai bintang tamu. Penutupan Gonzfest ini menandai pula akhir dari pengumpulan donasi bagi keluarga pra-sejahtera yang terdampak oleh pandemi Covid-19. 

Meski warga Kolese Gonzaga tidak lagi dapat mengekspresikan kemeriahan Gonfest Gonzfest seperti di tahun-tahun sebelumnya, akan tetapi jiwa muda kawula muda Kolese Gonzaga tetap dapat diungkapkan dalam tindakan nyata untuk membantu sesama. Gonzfest tidak lagi hanya diperjuangkan demi kemeriahan maupun gengsi belaka. Gonzfest tahun ini terus mengupayakan agar mereka yang putus asa dan terpuruk karena pandemi dapat menemukan dan menyalakan sekali lagi harapan mereka. Akhirnya, kompleks bangunan di Jalan Pejaten Barat 10A inilah yang menjadi saksi bisu geliat anak muda yang gelisah atas keprihatinan dunia. Kompleks bangunan di Jalan Pejaten Barat 10A juga menjadi rumah bagi orang muda yang tidak gentar memberikan diri bagi sesama. Mereka inilah nyala-nyala api di tengah kabut ketidakpastian, yang siap menyalakan api harapan dunia yang mulai pudar nyalanya.  

Kontributor : Gregorius Agung Satriyo Wibisono, S.J.