Pilgrims on Christ’s Mission

Provindo

Provindo

Apa Kata Mereka?

TEMU KOLESE 2023 Temu Kolese 2023 adalah kegiatan yang diinisiasi oleh para pamong kolese agar siswa-siswi Kolese Jesuit Indonesia berjumpa dan berkolaborasi. Dalam kegiatan ini tidak hanya siswa-siswi Kolese saja yang berjumpa dan berkolaborasi, namun juga para pamong dan guru Kolese juga. Berikut ini beberapa pengalaman berkesan yang dirasakan oleh para guru dan siswa saat mengikuti Temu Kolese 2023. “Bertemu dengan teman-teman baru, tanpa mereka pengalaman di Temu Kolese 2023 ini gak bisa tak rasain. Di sini aku mengetes diriku sendiri bisa gak ya aku bergaul dengan semua orang tanpa melihat perbedaan,” ungkap Raina Atitaranti Brata. Kegiatan immersion di Pasar Beringharjo bagi siswi SMA Kolese Gonzaga ini begitu mengesan karena menguji keberaniannya akan banyak hal. Mulai dari harus memegang pisau dan memotong ayam, memungut puntung rokok di jalanan Malioboro, dan melakukan orasi mengenai bahaya rokok di depan para perokok. Langkah pertama ternyata mengubah segala ketakutan yang dia pikirkan sebelumnya. Senada dengan Raina, Hieronymus Halashan Samosir atau biasa dipanggil Hiero, merasakan bahwa pengalaman mengikuti Tekol ini begitu menantang dirinya. Hiero yang tertutup bahkan dengan teman-temannya di Seminari Mertoyudan, mau tidak mau belajar untuk membuka dirinya selama kegiatan ini. Dalam Temu Kolese ini Hiero melihat begitu banyak karakter dan latar belakang teman-temannya yang membuat sudut pandangnya berubah. Belum lagi dengan immersion yang dia lakukan di daerah Magelang. Hiero merasa bahwa memahami dinamika kehidupan dan orang dapat dimulai dari kemauan kita untuk membuka diri bagi orang-orang terdekat atau daerah sekitarnya. Di balik kegiatan expo Temu Kolese 2023 ada sosok Yakobus Dani Senja atau Pak Dani. Beliau menyiapkan mulai dari merchandise kaos Tekol untuk semua kontingen, piala kejuaraan, medali, hingga plakat-plakat. Selain itu beliau dibantu siswa-siswa panitia mengkoordinir merchandise dengan desain ciri khas masing-masing kolese dan satu desain kolaborasi yang berisi semua kolese. Merchandise ini disiapkan untuk expo yang dijual melalui dua sistem yaitu pre-order (sebelum tekol) dan on the spot (ketika tekol). Pak Dani terkejut karena 80% barang sudah habis terjual dan bahkan banyak pre-order yang melebihi target penjualan hanya dalam dua hari. Anak-anak kolese begitu excited dengan merchandise yang ditampilkan, bahkan banyak yang belum mendapatkan barangnya. Pak Dani berharap setelah Temu Kolese ini compassion anak-anak semakin terasah dan menjadi lebih peduli dengan yang tersingkirkan. Bertemu dan berkolaborasi dengan anak-anak yang penuh semangat memberikan kesan tersendiri bagi Ibu Antonina Yunika Suryawulan atau Bu Ika, guru SMA Kolese de Britto. Dalam kepanitian Temu Kolese ini Bu Ika menjadi sekretaris Tekol bersama dengan dua frater, satu awam, dan sembilan anak dari berbagai kolese. “Anak-anak semangatnya sungguh luar biasa. Bahkan malam hari pun mereka masih mengerjakan laporan harian,” ungkapnya. Memang tidaklah mudah mempersiapkan Temu Kolese ini. Namun dengan komunikasi dan pembagian jobdesc yang jelas, semua pekerjaan menjadi terasa lebih ringan. Tidak dipungkiri pula pasti ada ricuh secara teknis mendekati hari H, namun semuanya bisa teratasi. Bu Ika berharap agar siswa-siswi yang mengikuti Temu Kolese melakukan semuanya dari hati sehingga mereka menjadi berkat bagi orang lain serta membawa perilaku zero waste di tempat mereka masing-masing, yaitu dengan membawa tempat makan dan minum yang dapat dipakai berulang-ulang. Selain itu, beberapa alumni juga menceritakan pengalaman mereka ketika mengikuti Temu Kolese. “Pengalaman paling berkesan saat malam keakraban karena di sana bisa lebih mempererat hubungan antara sesama kolese lain. Pertandingan-pertandingannya juga seru karena sesama tim dicampur antar kolese,” kata Gilbert Widjaja. Alumni CC tahun 2016 ini juga pernah menjadi peserta Temu Kolese 2015 dengan tema “My Earth My Mother”. Dia masih ingat bagaimana mereka, para peserta diajak untuk merawat bumi demi masa depan yang lebih baik, walaupun dengan usaha yang kecil, namun berdampak bagi lingkungan sekitar. Pastinya, selama temu kolese ini Gilbert juga mendapatkan teman baru dari berbagai kolese. Dia berharap agar anak-anak kolese tetap menjaga nilai-nilai dan kehidupan rohani kolese. Hidup harus seimbang antara rohani dan jasmani. Jika ada kesempatan mengikuti acara Temu Kolese jangan disia-siakan karena kesempatan tidak datang dua kali. Marcelino Angelus atau biasa dipanggil Ino, alumni PIKA tahun 2018 pernah mengikuti Temu Kolese 2015. Pengalaman yang berkesan ketika mengikuti Temu Kolese ini adalah saat tampilan lomba Tekol Got Talent. Ketika ia mendengar teman-teman peserta mulai berteriak dan bersorak sorai memenuhi aula, ia merasakan hangatnya kekeluargaan kolese yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Perasaan bahagia yang teramat bisa bergabung dan merasakan kehangatan keluarga kolese melalui Temu Kolese waktu itu. Dia mendapatkan keluarga baru yang bahkan sampai saat ini masih sering bertegur sapa. “Cari teman sebanyak mungkin!! Jangan cuma main sama anak-anak satu sekolah, temen-temen dari kolese lain seru semua kok! Kalian bakal dapet pengalaman baru dan banyak wawasan tentang kehidupan kolese! Perluas zona nyaman kalian dan rasakan kehangatan keluarga kolese!!” pesan Ino untuk peserta Temu Kolese. Kontribusi: Margareta Revita – Tim Komunikator

Provindo

To be Men and Women for and with Others

Setelah sempat tertunda selama dua tahun karena pandemi, akhirnya Temu Kolese (Tekol) diselenggarakan kembali. Temu kolese kali ini diselenggarakan di SMA Kolese de Britto, Yogyakarta dan mengusung tema “To Be Friend with The Poor!”. Kegiatan ini dilaksanakan pada 16-20 Oktober 2023 dan dihadiri delapan Kolese Jesuit Indonesia, yaitu Kolese Kanisius Jakarta, Kolese Gonzaga Jakarta, Kolese Loyola Semarang, Kolese de Britto Jogja, Kolese PIKA Semarang, Kolese Mikael Solo, Seminari Mertoyudan Magelang, dan Kolese Le Cocq Nabire. Temu kolese adalah kegiatan yang diinisiasi oleh para pamong kolese agar siswa-siswi Kolese Jesuit Indonesia berjumpa dan berkolaborasi. Pater Baskoro Poedjinoegroho, Delegat Pendidikan Serikat Jesus, bercerita bahwa kegiatan ini bermula dari 3 kolese besar (Kolese de Britto, Kolese Loyola, dan Kolese Kanisius) yang saling berkunjung dari satu kolese ke kolese lain secara bergantian. Dalam kunjungan ini diselenggarakan pula pertandingan olahraga sehingga terjadi interaksi antarsiswa kolese. Lambat laun, para pamong kolese menginisiasi pertemuan seluruh kolese Jesuit Indonesia yang terprogram dan rutin sekitar tahun 1980n. Temu Kolese tahun 1985 dilaksanakan di Seminari Mertoyudan Magelang dan dihadiri oleh 6 kolese Jesuit yaitu Kolese Loyola, Kolese de Britto, Kolese Kanisius, SMK PIKA dan STM Mikael. Kegiatan ini dilaksanakan pada 11-13 Oktober 1985 dengan agenda pertandingan olahraga. Pertemuan kolese selanjutnya dilaksanakan di Kolese Loyola Semarang pada 11-13 Oktober 1988 dengan tema “Satu dalam Semangat Yesuit”. Kegiatan ini diikuti oleh Kolese de Britto, Kolese Kanisius, Seminari Pejanten atau Kanisius Unit Selatan, PIKA, STM Mikael, Seminari Mertoyudan dan Kolese Loyola. Sempat beberapa kali temu kolese diselenggarakan di Seminari Mertoyudan karena ada asrama yang mengurangi kesulitan akomodasi dan mck anak-anak. Setelah beberapa waktu, Tekol diselenggarakan di kolese-kolese lain agar dapat mengunjungi sekolah-sekolah yang lainnya. Sempat, pertandingan olahraga menjadi sebuah ajang untuk menunjukkan kehebatan kolese serta mengajarkan para peserta berkompetisi. Lambat laun tidak hanya pertandingan olahraga saja, berbagai kegiatan seperti lomba namun mulai berkembang menjadi berbagai kesenian, debat, refleksi bersama, ekaristi, doa, dan malam ekspresi. Berbeda dengan temu kolese sebelumnya, panitia Tekol 2023 menambahkan sebuah kegiatan baru yaitu immersion. Program immersion ini adalah salah satu ciri khas formasi di SMA Kolese de Britto, di mana para siswa diajak untuk tidak hanya menjadi pengamat namun pelaku yang berinteraksi langsung dengan mereka yang tersingkirkan lewat live in di karya sosial atau slum area. Tujuan immersion dalam kegiatan Tekol 2023 ini adalah agar anak-anak belajar mengasah hati dan sisi compassion mereka serta memperdalam semangat to be men and women for and with others. Kegiatan ini sejalan dengan tema Temu Kolese kali ini yaitu “To Be Friend with The Poor!” sekaligus selaras dengan salah satu fokus Universal Apostolic Preferences (UAP). Saat immersion, para peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Ada yang mengunjungi lapas, menjadi pedagang di pasar Beringharjo, buruh pasir, tukang parkir, dan mengambil sampah di TPA Piyungan. Pater Hugo, ketua panitia Tekol 2023 mengatakan, “Semoga setelah mereka berbaur dengan orang sederhana, mencium bau keringat mereka, dan melihat situasi yang ada, akan menggugah mereka. Jika suatu saat mereka menjadi pemimpin, mereka ingat dengan saudara yang menderita dan dengan ringan tangan membantu.” Sebelum peserta terjun langsung ke lapangan, Pater Nano memberikan pengantar bahwa mereka datang ke tempat immersion perlu menyiapkan diri, termasuk mengidentifikasi ketakutan. Selain itu para peserta juga diajak untuk membuka hati, persepsi, dan imajinasi. Setelah immersion para peserta dibantu oleh Pater Pieter untuk menajamkan refleksi mereka sehingga menjadi bekal mereka untuk masa depan. Pater Hugo mengibaratkan anak-anak mendapatkan menu hamburger yang lezat dalam Tekol kali ini, dengan immersion sebagai dagingnya serta refleksi dari Pater Nano dan Pater Pieter Dolle sebagai rotinya. Logo Temu Kolese 2023 ini terinspirasi dari tema “To Be Friend with The Poor”, yang memiliki makna dengan kebersamaan dan saling merangkul, kita dapat mencapai tujuan bersama. Dalam logo ini terdapat bentuk 8 tangan yang melingkar membentuk bunga dengan matahari di tengahnya, dan tulisan melingkar “Temu Kolese 2023” serta tema Tekol tahun ini. Bentuk tangan disusun menyerupai bentuk bunga yang bermakna saling merangkul dan menghasilkan bentuk yang indah. Selain itu tangan yang mengelilingi ini merupakan gambaran bentuk compassion untuk menjadi sahabat bagi mereka yang tersingkirkan. Tangan ini melambangkan 8 Kolese di Indonesia dan menggunakan warna dominan dari masing-masing Kolese. Matahari menjadi representasi tujuan dari Tekol tahun ini yaitu melatih compassion, yang terinspirasi dari logo Jesuit. Bentuk matahari yang menyala dan menyebar merupakan gambaran kepekaan terhadap lingkungan sekitar agar mau berbagi dan memperhatikan mereka yang terpinggirkan. Di bagian kanan kiri terdapat bentuk salib yang melambangkan kegiatan ini dilandasi oleh iman katolik yang kuat untuk menjalankan dan menyebarkan kasih Tuhan kepada sesama manusia dan lingkungan. Tidak hanya para siswa-siswi saja yang berjumpa dan berkolaborasi bersama dalam Temu Kolese ini, juga para guru kolese. Hal ini terlihat dari keterlibatan para guru masing-masing kolese yang ikut menjadi panitia. Para guru yang menjadi panitia dibantu pula oleh siswa-siswi dari berbagai kolese. Temu Kolese ini tidak hanya menjadi ajang untuk berkolaborasi saja namun juga menyatukan energi. “Energi dari kolese-kolese Jesuit begitu positif dan bagus sehingga bila disatukan akan menjadi energi yang besar yang menggerakkan di wilayah masing-masing. Serikat Jesus melalui sekolah-sekolah memberikan kontribusi bagi masyarakat yang lebih luas tidak hanya untuk Gereja saja,” tutur Pater Hugo. Pater Kuntoro, rektor SMA Kolese De Britto, berharap setelah Tekol ini para peserta lebih berani mengambil waktu untuk diri sendiri guna mengendapkan, mengidentifikasi, dan memaknai pengalaman yang mereka peroleh. “Mungkin mereka tidak tahu apa maknanya sekarang, tapi nanti akan menjadi energi bagi mereka dalam menjalani kehidupan.” Pater Baskoro Poedjinoegroho pun menambahkan bahwa perkembangan dunia yang destruktif membutuhkan mereka yang mempunyai bekal yang kuat. Salah satunya berupa pengalaman dicintai. Semoga dalam perjumpaan di Temu Kolese ini, anak-anak merasakan pengalaman dicintai dan persahabatan dari teman-teman dan sesama sehingga mereka merasa diri mereka berharga. Ketika mereka merasa diri mereka berharga, mau mengapresiasi diri serta bersedia untuk bertumbuh, mereka pun akan memberikan kebaikan juga untuk orang lain. Dengan cara itu, mereka menghidupi semangat to be men and women for and with others. Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator

Provindo

See, Judge, Act

Temu Kolese 2023 Tahun ini menjadi kesempatan yang istimewa bagi siswa-siswi kolese. Temu Kolese (Tekol) diadakan lagi dengan peserta dari Kolese Kanisius, Kolese Gonzaga, Kolese Loyola, Kolese PIKA, Kolese Mikael, Seminari Mertoyudan, Kolese De Britto, dan Kolese Le Cocq D’armandville. Meskipun berasal dari berbagai macam daerah di Indonesia, kehangatan dan keseruan sebagai anak kolese begitu terasa. Tekol ini diadakan pada 16-20 Oktober 2023 di Kolese De Britto dengan mengangkat tema To Be Friend With The Poor: menjadi teman bagi mereka yang tersingkir. Dinamika dan kegiatan disiapkan sedemikian baik oleh panitia dengan harapan mampu membawa peserta pada pengalaman dan pendalaman nilai bahwa anak muda harus mau terlibat untuk menjadi teman bagi yang tersingkir. Acara ini melibatkan kolaborasi panitia siswa, guru, hingga pamong atau moderator antarkolese. Tekol 2023 merupakan Temu Kolese pertama setelah jeda lima tahun karena pandemi. Ada suatu kerinduan terpendam akan perjumpaan yang dibawa oleh masing-masing Kolese. Banyak peserta dari masing-masing kontingen merasa sangat antusias dan ingin ambil bagian dalam kegiatan Tekol 2023 ini. Oleh karena itu banyak acara di Tekol tahun ini yang dirancang sedemikian rupa dengan harapan bisa memberikan kenangan dan momen berharga bagi setiap kolese terutama panitia dan peserta yang terlibat langsung. Dalam perencanaannya, panitia mulai membahas konsep dan model kegiatan sejak awal tahun 2023. Pertemuan demi pertemuan akhirnya membuahkan konsep rangkaian kegiatan Tekol 2023 dengan berbagai modifikasi dari Tekol sebelumnya. Secara khusus dalam Tekol kali ini, panitia juga mencoba untuk memadukan audio-visual dalam setiap kegiatannya. Sehari sebelum kontingen tiba, panitia sudah sampai di lokasi Tekol 2023 untuk memastikan segala sesuatunya siap. Hari Minggu itu SMA Kolese De Britto menjadi ramai dengan segala kesibukan panitia yang melakukan persiapan. Berbagai penyesuaian dan adaptasi harus dilakukan dalam waktu singkat agar acara dapat berjalan dengan baik dan lancar. Pada hari pertama Tekol 2023, upacara pembukaan dilakukan oleh Pater Baskoro selaku Delegat Pendidikan Serikat Jesus, Pater Kuntoro selaku rektor SMA Kolese De Britto, dan Pater Hugo sebagai ketua panitia. Rangkaian pembukaan diawali dengan sambutan, pemukulan gong oleh sejumlah perwakilan kolese Jesuit di Indonesia, perarakan bendera, menyanyikan mars setiap kolese, menyanyikan mars Tekol 2023, dan defile. Berangkat dari harapan dan antusiasme Jesuit serta panitia perancang acara, Tekol dirancang dengan memodifikasi beberapa tradisi menjadi kegiatan yang lebih inovatif. Salah satu contohnya adalah defile pembukaan Tekol 2023. Pada kegiatan Tekol sebelumnya defile diadakan dengan perarakan kontingen yang diiringi mars masing-masing Kolese. Kali ini defile dibungkus dengan pertunjukan teater gabungan kolese. Teater ini mengusung kisah hidup Inigo di masa modern yang menceritakan perjalanan hidupnya kepada dua orang sahabatnya yaitu Xavier dan Faber. Perjalanan Inigo dipilih karena memuat unsur-unsur khusus immersion Tekol 2023 sesuai dengan tema “To be Friend with The Poor”. Ada tiga narator utama dalam kisah ini yang berperan sebagai Ignatius Loyola, Xavier, dan Faber. Cerita diawali dengan kisah hidup Inigo kecil yang ditampilkan oleh Kolese Kanisius. Kolese PIKA melanjutkan dengan pola asuh orang tua Inigo. Ternyata, lingkungan di sekitar Inigo tidak baik. Inigo tercebur dalam pergaulan yang buruk. Bagian ini divisualisasikan oleh Kolese Loyola dan Gonzaga. Kolese De Britto melanjutkan hidup Inigo yang harus bekerja sebagai kuli demi memenuhi kebutuhan hidupnya hingga mengalami kecelakaan yang membuatnya cacat. Ia juga diringkus oleh pihak berwenang yang menangkap basah ketika ia sedang melakukan transaksi. Penggambaran hidup Inigo dalam sel divisualisasikan oleh Kolese Mikael. Kemudian Kolese Le Cocq D’armandville melanjutkan dengan adegan Inigo menjadi pengemis. Kisah hidup Inigo ditutup dengan visualisasi pertobatan Inigo oleh Seminari Mertoyudan. Pada hari kedua, peserta dan panitia siswa dísebar ke beberapa wilayah di Jogja hingga Muntilan untuk melakukan immersion. Immersion ini mengajak para peserta untuk merasakan dan terlibat dalam keseharian mereka yang kecil dan tersingkir. Bentuk immersion yang dilakukan meliputi kunjungan ke panti jompo, panti asuhan, pasar, TPA, kuli pasir, bersih kota, dan berdialog dengan PSK. Selama immersion, peserta dapat melihat dan merasakan langsung kondisi sebenarnya tanpa terpengaruh stigma yang berkembang di masyarakat. Setiap lokasi immersion memiliki keunikan dan tantangannya masing-masing. Mereka yang pergi ke lokasi kuli pasir harus berangkat sejak pukul dua pagi dan baru kembali pada siang hari. Perjalanan menuju ke lokasi cukup panjang dan memakan banyak waktu. Belum lagi mereka harus belajar untuk menambang pasir dalam waktu singkat. Lokasi TPA juga menyambut dengan bau yang tidak sedap, ditambah lagi panas terik mentari yang kuat. Begitu pula dengan lokasi lainnya, mereka juga memberikan kekayaan ilmu hidup yang mengesan bagi setiap peserta. Sekembalinya ke De Britto, peserta diperbolehkan untuk beristirahat hingga acara talkshow dan pengendapan bersama di malam harinya. Talkshow dibawakan oleh Pater Pieter Dolle bersama dengan relawan dari SPM Realino. Mereka membagikan sepak terjang mereka untuk menjadi teman bagi mereka yang tersingkir. Mereka mengatakan bahwa membantu sesama membuahkan suatu kebahagiaan tersendiri meskipun tidak jarang kesabaran mereka juga diuji khususnya ketika berhadapan dengan anak-anak. Setelah talkshow, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk sharing dan menuliskan apa yang didapat pada selembar kertas A2. Kertas tersebut kemudian dipajang dan menjadi reminder berharga bagi semua. Seluruh kegiatan di hari itu ditutup dengan adorasi pada Sakramen Mahakudus. Hari ketiga merupakan hari pertandingan olahraga dan non-olahraga. Ada pertandingan olah raga kolaboratif dan ada pula antarkolese. Basket putra, sepak bola, basket putri, dan futsal putri bersifat kolaboratif. Sedangkan voli, lari estafet, atletik lari 2,4 km, tenis meja, dan badminton dipertandingkan antarkolese. Adapun perlombaan non-olahraga meliputi debat Bahasa Inggris, musikalisasi puisi, mendongeng, Tekol Got Talent, stand up comedy, fotografi, dan film pendek. Beberapa pertandingan olahraga juga dimeriahkan oleh pertandingan para Pater/Frater dan beberapa guru. Pertandingan berlangsung dengan penuh semangat dan berjalan dengan baik. Seluruh peserta bersemangat untuk memberikan performa terbaiknya demi tim dan kemenangan. Sejak pagi hari, para peserta telah mempersiapkan diri dengan mengenakan jersey Tekol. Mereka berkumpul di sisi-sisi lokasi pertandingan untuk menonton dan menunggu giliran bermain. Tidak hanya dipenuhi oleh antusiasme para peserta, panitia juga bekerja keras dalam memeriahkan pertandingan. Dentuman serta sorakan khas dari suporter Kolese Mikael dan Kolese De Britto menambah kemeriahan pertandingan di hari itu. Pada Kamis malam diadakan Malam Kesenian yang dibalut dalam kisah perjalanan punakawan saat berjalan-jalan di Jogja. Malam Kesenian ini menyuguhkan lanjutan pesan moral yang diberikan saat defile. Setiap penokohan dan pementasan yang dilakukan berjalan dengan baik.

Provindo

Protecting Children and Vulnerable Adults bagi Jesuit Muda

Safeguarding Workshop Pada 1-4 Agustus 2023, sebanyak 46 Jesuit muda mengikuti Leadership Development Program (LDP) dengan tema Workshop Orientasi Dasar terkait Safeguarding (Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan) di Rumah Retret Syalom, Bandungan, Kabupaten Semarang. Acara ini merupakan bagian ongoing formation imam dan bruder muda yang belum berkaul akhir dan dilaksanakan setiap tahun sebagai sarana pembekalan keterampilan dan kepemimpinan para Jesuit muda dalam karya. Tahun 2022 tema yang diangkat adalah perihal tata kelola keuangan dalam Serikat Jesus. Tahun ini, tema yang akan dibahas adalah safeguarding the minors and vulnerable adults. Para pemateri adalah Tim Safeguarding di bawah koordinasi Pater Eko Sulistyo, S.J. dan Pater Bambang Irawan, S.J., yakni Bapak Sigit Widiarto (Fakultas Hukum UAJY), Ibu Hotmauli Sidabalok (Fakultas Hukum dan Komunikasi Unika Soegijapranata), Ibu Titik Kristiyani (Fakultas Psikologi USD), dan Ibu Iswanti. Pada hari pertama, acara dibuka secara resmi oleh Pater Provinsial. Pater Yusup Edi Mulyono, S.J. Koordinator ongoing formation Jesuit muda, memberikan pengarahan umum. Tak kalah menarik adalah sambutan Pater Jenderal Arturo Sosa yang dikirimkan dari Lisbon. Peserta kemudian mengadakan sharing mengenai pemahaman dan praktik safeguarding di tempat karya masing-masing. Pada hari kedua, Ibu Titik memberikan materi mengenai boundaries, Tripod of Relational Safety Model, dan menganalisis Faktor Risiko dan Faktor Protektif pelaku dan korban kekerasan seksual. Ibu Iswanti melanjutkan pemaparan dengan mempergunakan studi kasus dalam kelompok. Para peserta diajak menganalisis bentuk kekerasan, bentuk relasi, dampak, faktor penyebab, dan pencegahannya. Pada hari ketiga, Ibu Hotmauli dan Bapak Sigit memberikan perspektif hukum sipil tentang safeguarding. Ada banyak undang-undang yang dirujuk mulai dari KUHP, UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, UU Perlindungan Anak, UU ITE, Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi, dan sebagainya. Pater Bambang Sipayung, S.J. memberikan pedoman penanganan kasus safeguarding menurut hukum Serikat Jesus. Ada banyak diskusi menarik pada hari ini yang memberi insight bagi para peserta. Acara hari ketiga dilanjutkan dengan outing. Peserta membentuk kelompok sendiri seturut minat. Ada yang memilih wisata kuliner, wisata heritage, dan wisata alam. Ternyata, minat tertinggi ialah tanding sepakbola di Novisiat Girisonta. Lebih dari 20 orang memilih sepakbola ke Girisonta. Sesudah pertandingan kolaborasi imam muda dan Novis SJ, dilanjutkan pertandingan nostri KAJ vs KAS. Acara hari keempat lebih merupakan acara sharing dan pengendapan. Pater Philipus Bagus Widyawan, S.J. Romo Kepala Paroki Botong dan Pater Stephanus Advent Novianto, S.J. yang bertugas di Pusat Pastoral Ketapang, Kalimantan Barat memberikan sharing mengenai misi SJ di Bumi Borneo. Pater Martinus Dam Febrianto, S.J. yang baru pulang dari Inggris memberikan update mengenai JRS dan karya kerasulan sosial di Indonesia. Mereka memberi peluang kerja sama bagi para imam dan bruder lain untuk terlibat. Acara ditutup dengan pengarahan umum Pater Edi Mulyono, S.J. dan pemutaran film dokumenter workshop ini. Kontributor: P Surya Awangga, S.J.

Provindo

Iman yang Tumbuh dan Berkembang di Timor

Dalam perjalanan dari Kupang menuju Atapupu, saya berjumpa dengan alam Nusa Tenggara Timur yang sarat dengan teriknya sinar matahari, tanah gersang, sungai kering, pohon meranggas, bukit terjal dan berbatu. Siang terasa begitu panas tetapi malam bisa dingin sekali. Mungkin saja banyak misionaris 140 tahun yang lalu sakit atau meninggal karena kondisi iklim yang ekstrem dan tidak menentu di sana. Kedatangan saya dan Pater Bambang Sipayung, S.J. ke Atapupu untuk memenuhi undangan dari Pastor Paroki Atapupu, Pater Gorys Sainudin Dudy, Pr. Pada kesempatan ini Paroki Maris Stella Atapupu akan memberkati makam dua misionaris Jesuit yang pernah bertugas di stasi Atapupu dan merayakan 140 tahun berdirinya stasi Atapupu. Pater Jacobus Kraayvanger, S.J. dan Pater Augustinus de Kuijper, S.J. adalah dua misionaris Belanda yang dimakamkan di sana. Sebelum ke Atapupu, Pater Jacobus Kraayvanger, S.J. bertugas di Larantuka. Beliau paling setia mengunjungi umat-umat yang ada di daerah Timor sejak tahun 1879. Terkadang, dalam perjalanannya ke Timor, beliau menghadapi angin topan dan angin badai yang ganas. Pater Kraayvanger, S.J. inilah yang meneruskan Pater Dyckman, S.J. dalam mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk memulai stasi baru di Atapupu. Setiap kali melakukan kunjungan, beliau menuliskan surat mengenai kondisi di Atapupu serta meminta ijin untuk membuka stasi ke Uskup Jakarta. Dalam salah satu suratnya kepada Uskup Jakarta pada tanggal 29 Januari 1883, ia mengungkapkan, “Biarpun perut saya masih tetap bengkak dan penyakit liver saya belum sembuh betul, saya merasa sudah agak baik. Saya tidak berkeberatan untuk memulai karya misi di stasi baru, di Atapupu itu. Malah saya rindu untuk kembali ke sana. Untuk memulai karya misi di Timor, saya terpaksa mengorbankan gaji saya. Itu tidak menjadi soal. Semuanya ini saya serahkan kepada Tuhan.” Gubernur Batavia saat itu akhirnya menyetujui didirikannya stasi di Atapupu untuk melayani umat yang ada di Timor terutama di wilayah Jenilu dan Fialaran (Lahurus). Persetujuan pendirian diberikan per 1 Agustus 1883. Pater Kraayvanger, S.J. bersama Br Vermeulen, S.J. memulai misi di Timor dengan membeli sebuah rumah dari orang Tionghoa yang digunakan sebagai kapel dan juga rumah pastoran. Kemudian Br Vermeulen, S.J. mulai membongkar rumah yang dibeli untuk dibangun menjadi gereja. Pater Kraayvanger, S.J. menjadi pastor stasi pertama dan pelopor misi Timor. Akhir tahun 1886, datang Pater Augustinus de Kuijper, S.J. sebagai pastor pembantu paroki Atapupu. Kehadiran Pater Kuijper, S.J. memperingan tugas-tugas Pater Kraayvanger, S.J., terlebih ketika penyakit yang dideritanya kambuh. Beliau dikenal sebagai “baja” karena kesehatannya yang sangat baik. Akan tetapi, setelah mengunjungi Lahurus pada tahun 1888, Pater Kuijper, S.J. jatuh sakit cukup parah. Tak lama setelah itu beliau meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit di dekat situ yang kemudian dikenal sebagai bukit Kalvari. Beberapa imam baru pun datang untuk membantu, yaitu Pater Willem Vogel, S.J. dan Hendrik Jansen, S.J. Setelah kepergian Pater Kuijper, S.J. kesehatan Pater Kraayvanger mulai memburuk dan beliau meninggal pada 6 Februari 1889, sebulan setelah diresmikannya gedung gereja stasi Atapupu yang baru. Beliau dimakamkan tepat di sebelah makam Pater Kuijper, S.J. Gedung gereja Atapupu sempat pindah tempat beberapa kali karena kondisi iklim yang tidak bersahabat, yaitu di Ularo lalu kembali lagi ke Atapupu. Para misionaris yang datang dan bertugas di sana pun banyak yang akhirnya kembali ke Jawa untuk pemulihan kesehatan karena sakit akibat iklim dan penyakit malaria yang ganas. Kurangnya tenaga, iklim yang tidak menentu, dan umat yang semakin banyak, membuat Serikat Jesus memutuskan untuk menyerahkan misi Timor ini ke Serikat Sabda Allah (SVD) pada tahun 1913. Selama 30 tahun Jesuit melayani di Timor sampai saat diserahkan kepada tarekat SVD, umat berkembang menjadi 2500 jiwa. Di Atapupu kami juga bertemu dengan Suku Bunda’o, salah satu suku asli Nusa Tenggara Timur yang tinggal di kawasan Atapupu. Suku inilah yang menerima para misionaris ketika mereka datang dari laut pada waktu itu. Leluhur suku ini berjanji bahwa suatu saat akan membangunkan rumah untuk makam misionaris. Kondisi makam yang sebelumnya dengan salib kayunya yang mulai keropos, cukup memprihatinkan dibandingkan dengan makam-makan di sekelilingnya. Bukan hal yang mudah bagi mereka untuk menepati janji ini. Berbagai pergulatan pun mereka hadapi dari desain bangunan yang sulit, dana, dan SDM-nya. Hingga akhirnya tahun ini mereka bisa membangun rumah untuk makam misionaris ini dari hasil swadaya anak suku Bunda’o. Kerinduan yang begitu besar untuk memahami warisan leluhurnya tentang para misionaris ini, juga bisa dirasakan ketika bertemu dengan mereka. Mereka sangat ingin melihat foto kedua misionaris ini. Mereka mencari foto kedua misionaris ini selama bertahun-tahun dan akhirnya mendapatkannya setelah menghubungi media sosial Jesuit Indonesia. Begitu bahagianya mereka bisa mendapatkan foto itu sehingga kedua wajah missionaris tersebut bisa langsung dilukiskan di rumah itu. Mereka juga sangat merindukan kehadiran perwakilan Jesuit ke Atapupu. Mereka juga bercerita bahwa mereka ingin sekali ada Jesuit yang datang ke sana ketika ulang tahun yang ke 100. Setelah 40 tahun berselang, akhirnya ada Jesuit yang datang kemari untuk menengok makam leluhurnya. Salah seorang umat berkata, “Terima kasih Pater, dari Jesuit kami mengenal Yesus”. Ketika mendengar hal ini saya langsung terdiam dan terharu. Terasa sekali bagaimana rindunya mereka akan kehadiran Jesuit di tanah Timor ini. Pada 31 Juli 2023, Pater Bambang Alfred Sipayung, S.J. bersama dengan Romo Yosef Tae Bria, Pr memberkati makam misionaris ini. Hari itu bertepatan dengan pesta Santo Ignatius Loyola dan datangnya Pater Kraayvanger, S.J. atau sehari sebelum misi Timor dimulai. Sehari setelahnya umat merayakan 140 tahun Stasi Atapupu dan pusat misi Timor. Perayaan ini diselenggarakan secara konselebran di Gereja Stella Maris, Atapupu dan dipimpin oleh Mgr Dominikus Saku, Pr, Uskup Keuskupan Atambua, Pater Gorys Sainudin Dudy, Pr, pastor Paroki Stella Maris Atapupu, Pater Bambang Alfred Sipayung, S.J. sebagai perwakilan Provindo serta beberapa romo lain yang pernah berkarya atau berasal dari Atapupu. Dalam kotbahnya Mgr. Dominikus Saku, Pr mengatakan bahwa Pater Kraayvanger dan Kuijper melalui banyak sekali tantangan selama menjalankan misi mereka di sini. Kecewa, gagal, senang, sedih, marah dilalui namun mereka tidak menyerah. Mereka tetap setia. Kesetiaan mereka ini berasal dari cinta mereka untuk umat Atapupu. Pater Kraayvanger, S.J. dan Pater Kuijper, S.J. sungguh dicintai oleh umatnya karena mereka melihat bahwa kedua Pater ini sangat mencintai mereka. Cinta yang mereka tanamkan di Timor menumbuhkan iman yang semakin berkembang dan tumbuh. Setelah 140 tahun berlalu

Provindo

Terlibat dan Berkolaborasi demi Kebaikan Bersama

100 tahun sudah Kolese St. Ignasius Yogyakarta berdiri dan melahirkan ratusan imam Jesuit. Sebagai ungkapan syukur, panitia ulang tahun 100 tahun Kolsani menyelenggarakan berbagai acara yang dimulai sejak Februari tahun ini. Dimulai dengan tahbisan Imam Jesuit, Sayembara Cipta Karya 100 tahun Kolsani, Seminar Penelitian, dan Misa serta Puncak Acara. Sayembara Cipta Karya 100 tahun Kolsani ini berupa lomba menulis cerpen, cover lagu, desain poster, dan fotografi yang diikuti oleh orang-orang muda. Puncak acara syukur ulang tahun diselenggarakan pada 25 Juli 2023 di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta dan kompleks Kolsani. Bersamaan dengan perayaan syukur ulang tahun 100 tahun Kolsani ini beberapa Jesuit juga merayakan pesta Jubilaris. Jubilaris 50 tahun dalam Serikat Jesus PP. Ignatius Loyola Madya Utama, S.J.; Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno, S.J.; Antonius Puja Harsana, S.J.; Antonius Sudiarja, S.J.; Fransiskus Xaverius Widoyoko, S.J.; Michael Windyatmaka, S.J. dan Bruder Mateus Sugiyono, S.J. Jesuit yang merayakan 25 tahun dalam Serikat Jesus yaitu PP. Paulus Bambang Irawan, S.J. dan Odemus Bei Witono, S.J. serta 25 tahun menjadi imam Jesuit PP. Nicolaus Dibyadarmaja, S.J.; Fransiskus Xaverius Murti Hadi Wijayanto, S.J. dan Tarsisius Puspodianto, S.J. Perayaan syukur ini dipimpin oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. dengan konselebran PP. Paulus Suparno S.J., Andreas Sugijopranoto, S.J., Floribertus Hasto Rosariyanto, S.J., Joannes de Britto Mardikartono Sugita, S.J., Fransiskus Asisi Susilo, S.J. dan Bernhard Kieser, S.J. Setelah perayaan Ekaristi dilanjutkan perayaan puncak di kompleks kolsani yang dihadiri oleh para Jesuit dan tamu undangan. Dalam acara ini dilaksanakan penyerahan hadiah untuk para pemenang lomba Sayembara Cipta Karya 100 tahun Kolsani. Dimeriahkan pula penampilan dari sanggar tari PSP Anak Pingit, sanggar tari Mahasiswa Mentawai, band OMK Kobar, Kolese JB, Volunteer PSP, Realino, Lintas Agama serta OMK, dan organ tunggal Hadi Soesanto. Pada tahun 1921 Serikat Jesus Provinsi Netherland membuat keputusan untuk menjadikan Yogyakarta sebagai pendidikan awal calon Jesuit, agar benih panggilan baik pribumi dan misionaris akrab dengan tanah misi. Pada tanggal 18 Februari 1923 diresmikanlah Kolese St. Ignatius, Yogyakarta sebagai tempat formasi calon imam dari jenjang novis, yuniorat filsafat, dan teologi. Ketika zaman penjajahan Jepang, Kolsani sempat ditutup, namun kemudian dapat direbut kembali oleh Pater Djajasepoetra, S.J. Sejak tahun 1954, Kolsani menjadi rumah formasi dan pendidikan bagi frater yang belajar teologi hingga sekarang. Teologi inilah yang membentuk para Jesuit, mereka diajak untuk terlibat dan berkolaborasi dengan masyarakat. Ciri teologi di Kolsani adalah teologi angkat pantat. Istilah tersebut diberikan oleh Pater Kieser, S.J. agar para Jesuit jangan hanya duduk dan membaca teologi, namun bergeraklah keluar dan terlibat di tengah konteks masyarakat. Kontributor: Margareta Revita – Komunikator Provindo

Provindo

“Tetapi Karena Engkau Menyuruhnya, Aku Akan Tetap Menebarkan Jala Juga” 

Forum Provinsi 2023 | 24-25 Juli 2023 “Saya tidak takut pada dunia yang baru. Yang saya takutkan adalah jika kita para Jesuit tidak punya apa pun untuk ditawarkan pada dunia itu, tidak bisa bicara atau berbuat apa pun yang menunjukkan eksistensi kita sebagai Jesuit.” Kutipan tersebut dibacakan oleh Fr. Septian Kurniawan dalam ibadat pembukaan Forum Provinsi 2023. Acara tahunan ini mengundang semua anggota Serikat Jesus Provinsi Indonesia (Provindo) untuk berkumpul di Rumah Retret Panti Semedi Sangkal Putung, Klaten, Jawa Tengah. Kutipan tersebut dipercaya berasal dari Pater Pedro Arrupe, Jenderal Serikat Jesus ke-28 (1965- 1983) dan masih terdengar aktual dan dapat memberi kerangka bagi Forum tahun ini. Serikat Jesus dari waktu ke waktu berusaha untuk menanggapi situasi zaman. Menjadi makin bermakna dalam Forum kali karena Pater Provinsial Benedictus Hari Juliawan menempatkannya dalam konteks penyampaian Rencana Apostolik Provindo (RAP) 2023-2029 kepada seluruh Jesuit Indonesia. Melalui RAP tersebut, Serikat Jesus Provindo ingin mengalami pertobatan terus-menerus agar semakin dapat dipercaya oleh Gereja dan masyarakat Indonesia, gesit sebagai organisasi, dan berani memeluk tantangan-tantangan dunia secara terukur. Secara lebih spesifik, RAP dibagi menjadi tiga prioritas. Yang pertama adalah prioritas internal, yaitu terkait dengan tata kelola Provindo sebagai lembaga. Berikutnya adalah prioritas keterlibatan Provindo dalam lingkup Asia-Pasifik. Terakhir adalah prioritas eksternal yang menyangkut pelayanan Provindo dan tantangan-tantangan dalam konteks Indonesia yang hendak ditanggapi. Dalam waktu dekat, teks RAP akan tersedia untuk para kolaborator Serikat agar semakin terintegrasi dalam gerak bersama Serikat Jesus Provindo. Para Jesuit yang hadir diberi kesempatan untuk mendiskusikannya dalam kelompok-kelompok kecil dan menyampaikan pertanyaan maupun hasil diskusi pada Provinsial. Harapannya, RAP tidak hanya menjadi tambahan dari sekian banyak dokumen Serikat yang sudah ada, tetapi menjadi sesuatu yang dihayati oleh semua yang terlibat dalam misi Serikat Jesus di Indonesia. Mencermati apa yang dicanangkan dalam RAP, perasaan ragu dan khawatir muncul, namun seperti Simon Petrus di Danau Genesaret, semua yang terlibat dalam tugas perutusan ini mau mengulang apa yang dikatakan Petrus “…tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan tetap menebarkan jala juga.” (Luk 5:5). Selain penjelasan RAP oleh Pater Provinsial, ada acara lain yang khas pada Forum kali ini. Yang pertama adalah pemaparan buah-buah dari Kongregasi Prokurator oleh Pater Bambang A. Sipayung. Kedua, pengalaman pendampingan Kelompok Awam Sahabat Ignatius oleh Pater Ag. Setyodarmono. Secara sederhana, Kongregasi Prokurator adalah konsultasi yang diprakarsai dengan Pater Jenderal untuk mengevaluasi keadaan Serikat Universal (Serikat Jesus di seluruh dunia). Setiap provinsi memilih perwakilannya, yang kemudian disebut “prokurator”. Orang tersebut bukanlah Provinsial dan ia bertugas untuk mengumpulkan informasi soal Serikat dengan mendatangi dan berbicara dengan komunitas dan karya Serikat Jesus di provinsinya. Kongregasi Prokurator yang lalu berlangsung pada 15-22 Mei 2023 di Loyola, Spanyol. Kelompok Awam Sahabat Ignatius merupakan inisiatif Serikat untuk lebih memperkuat jejaring dan pendampingan antara kelompok-kelompok awam yang berbasis Spiritualitas Ignatian. Pater Setyodarmono yang biasa dipanggil Pater Nano, S.J. menyampaikan rasa syukurnya bahwa sejak pandemi sampai sekarang animo akan Spiritualitas Ignatian berkembang pesat. Tampak tren bahwa kelompok-kelompok Ignatian tidak lagi bergantung pada figur seorang Jesuit tetapi para awam sendirilah yang menjadi penggerak dan pengkader. Misa Forum pada tanggal 24 Juli 2023 dipimpin oleh tiga imam baru Jesuit yang ditahbiskan pada 16 Februari yang lalu, yaitu Pater Yohanes Deodatus, Pater Agustinus Daryanto, dan Pater Yulius Suroso. Para novis dari Girisonta mengiringi dengan lagu yang menggugah dan penuh semangat. Keterlibatan para novis dalam Forum merupakan cara untuk memperkenalkan mereka kepada para Jesuit lintas generasi.Terlepas dari acara-acara resmi tersebut, Forum, dari tahun ke tahun, juga selalu menjadi ruang perjumpaan bagi para Jesuit Indonesia untuk menimba lagi semangat dari kebersamaan sebagai satu tubuh apostolik Serikat Jesus. Kontributor: S. Theilhard Aurobindo Soesilo, S.J.

Provindo

Berjalan Bersama dalam Cinta-Nya

Tujuh novis tahun kedua mengucapkan kaul pertama dalam Serikat Jesus pada Sabtu, 24 Juni 2023 pukul 10.00 di Kapel La Storta Novisiat Girisonta. Mereka adalah Frater Adrianus Raditya Indriyatno, Frater Christoforus Kevin Hary Hanggara, Frater Franky Njoto, Frater Ignatius Dio Ernanda Johandika, Frater Iridious Yuhan Felip Adhi Pradana, Frater Laurensius Herdian Pambudi, dan Frater Marcelino Edo Susanto. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Pater Provinsial Benedictus Hari Juliawan, S.J., didampingi konselebran Pater Hilarius Budiarto Gomulia, S.J.(Superior Lokal Komunitas Kolese St. Stanislaus Kostka Girisonta), dan Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J. (Magister Novisiat St. Stanislaus Girisonta). Para novis secundi memilih Kapel La Storta yang berada di tengah halaman novisiat sebagai tempat mengikrarkan kaul pertama mereka. Ketika dalam perjalanannya menuju ke kota Roma, Santo Ignatius singgah di sebuah kapel kecil di La Storta. Di sana ia mendapatkan vision bahwa dia diminta untuk melayani Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Para novis secundi ini berharap selama perjalanan menjadi Jesuit, mereka mendapatkan rahmat seperti diterima Santo Ignatius, yaitu ditemani oleh Yesus dalam segala keadaan. “Perjalanan sebagai Jesuit itu panjang. Ketika berjalan bersama dalam formasi novisiat, ternyata menjadi jalan yang panjang, berat, dan menuntut. Kami diajak untuk berjalan bersama diri sendiri dan merasakan Allah yang sungguh bekerja dan mencintai kami, bukan Allah yang ngawang, tetapi Allah yang sungguh nyata hadir. Kami bertemu dengan banyak orang dengan berbagai karakter dan kondisi yang membuat kami belajar apa artinya merawat dan melayani,” begitu sambutan Fr Adrianus Raditya Indriyatno, S.J. yang mewakili para novis secundi. Pengikraran kaul pertama ini dihadiri oleh keluarga kaules, para calon novis dan pra novis, tersiaris, dan beberapa tamu undangan. Setelah mengucapkan kaul pertama, para novis secundi ini resmi menjadi skolastik dan akan melanjutkan formasi filsafat di Jakarta. Mari kita doakan agar mereka semakin bersemangat untuk berjalan bersama dalam cinta-Nya. Semoga perjalanan panggilan mereka senantiasa ditempuh bersama dan di dalam cinta-Nya. Ad Maiorem Dei Gloriam. Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator Provindo