capture imaginations, awaken desires, unite the Jesuits and Collaborators in Christ mission

Apa Kata Mereka?

Date

TEMU KOLESE 2023

Temu Kolese 2023 adalah kegiatan yang diinisiasi oleh para pamong kolese agar siswa-siswi Kolese Jesuit Indonesia berjumpa dan berkolaborasi. Dalam kegiatan ini tidak hanya siswa-siswi Kolese saja yang berjumpa dan berkolaborasi, namun juga para pamong dan guru Kolese juga. Berikut ini beberapa pengalaman berkesan yang dirasakan oleh para guru dan siswa saat mengikuti Temu Kolese 2023.

“Bertemu dengan teman-teman baru, tanpa mereka pengalaman di Temu Kolese 2023 ini gak bisa tak rasain. Di sini aku mengetes diriku sendiri bisa gak ya aku bergaul dengan semua orang tanpa melihat perbedaan,” ungkap Raina Atitaranti Brata. Kegiatan immersion di Pasar Beringharjo bagi siswi SMA Kolese Gonzaga ini begitu mengesan karena menguji keberaniannya akan banyak hal. Mulai dari harus memegang pisau dan memotong ayam, memungut puntung rokok di jalanan Malioboro, dan melakukan orasi mengenai bahaya rokok di depan para perokok. Langkah pertama ternyata mengubah segala ketakutan yang dia pikirkan sebelumnya.

Senada dengan Raina, Hieronymus Halashan Samosir atau biasa dipanggil Hiero, merasakan bahwa pengalaman mengikuti Tekol ini begitu menantang dirinya. Hiero yang tertutup bahkan dengan teman-temannya di Seminari Mertoyudan, mau tidak mau belajar untuk membuka dirinya selama kegiatan ini. Dalam Temu Kolese ini Hiero melihat begitu banyak karakter dan latar belakang teman-temannya yang membuat sudut pandangnya berubah. Belum lagi dengan immersion yang dia lakukan di daerah Magelang. Hiero merasa bahwa memahami dinamika kehidupan dan orang dapat dimulai dari kemauan kita untuk membuka diri bagi orang-orang terdekat atau daerah sekitarnya.

Di balik kegiatan expo Temu Kolese 2023 ada sosok Yakobus Dani Senja atau Pak Dani. Beliau menyiapkan mulai dari merchandise kaos Tekol untuk semua kontingen, piala kejuaraan, medali, hingga plakat-plakat. Selain itu beliau dibantu siswa-siswa panitia mengkoordinir merchandise dengan desain ciri khas masing-masing kolese dan satu desain kolaborasi yang berisi semua kolese. Merchandise ini disiapkan untuk expo yang dijual melalui dua sistem yaitu pre-order (sebelum tekol) dan on the spot (ketika tekol). Pak Dani terkejut karena 80% barang sudah habis terjual dan bahkan banyak pre-order yang melebihi target penjualan hanya dalam dua hari. Anak-anak kolese begitu excited dengan merchandise yang ditampilkan, bahkan banyak yang belum mendapatkan barangnya. Pak Dani berharap setelah Temu Kolese ini compassion anak-anak semakin terasah dan menjadi lebih peduli dengan yang tersingkirkan.

Bertemu dan berkolaborasi dengan anak-anak yang penuh semangat memberikan kesan tersendiri bagi Ibu Antonina Yunika Suryawulan atau Bu Ika, guru SMA Kolese de Britto. Dalam kepanitian Temu Kolese ini Bu Ika menjadi sekretaris Tekol bersama dengan dua frater, satu awam, dan sembilan anak dari berbagai kolese. “Anak-anak semangatnya sungguh luar biasa. Bahkan malam hari pun mereka masih mengerjakan laporan harian,” ungkapnya. Memang tidaklah mudah mempersiapkan Temu Kolese ini. Namun dengan komunikasi dan pembagian jobdesc yang jelas, semua pekerjaan menjadi terasa lebih ringan. Tidak dipungkiri pula pasti ada ricuh secara teknis mendekati hari H, namun semuanya bisa teratasi. Bu Ika berharap agar siswa-siswi yang mengikuti Temu Kolese melakukan semuanya dari hati sehingga mereka menjadi berkat bagi orang lain serta membawa perilaku zero waste di tempat mereka masing-masing, yaitu dengan membawa tempat makan dan minum yang dapat dipakai berulang-ulang.

Selain itu, beberapa alumni juga menceritakan pengalaman mereka ketika mengikuti Temu Kolese. “Pengalaman paling berkesan saat malam keakraban karena di sana bisa lebih mempererat hubungan antara sesama kolese lain. Pertandingan-pertandingannya juga seru karena sesama tim dicampur antar kolese,” kata Gilbert Widjaja. Alumni CC tahun 2016 ini juga pernah menjadi peserta Temu Kolese 2015 dengan tema “My Earth My Mother”. Dia masih ingat bagaimana mereka, para peserta diajak untuk merawat bumi demi masa depan yang lebih baik, walaupun dengan usaha yang kecil, namun berdampak bagi lingkungan sekitar. Pastinya, selama temu kolese ini Gilbert juga mendapatkan teman baru dari berbagai kolese. Dia berharap agar anak-anak kolese tetap menjaga nilai-nilai dan kehidupan rohani kolese. Hidup harus seimbang antara rohani dan jasmani. Jika ada kesempatan mengikuti acara Temu Kolese jangan disia-siakan karena kesempatan tidak datang dua kali.

Marcelino Angelus atau biasa dipanggil Ino, alumni PIKA tahun 2018 pernah mengikuti Temu Kolese 2015. Pengalaman yang berkesan ketika mengikuti Temu Kolese ini adalah saat tampilan lomba Tekol Got Talent. Ketika ia mendengar teman-teman peserta mulai berteriak dan bersorak sorai memenuhi aula, ia merasakan hangatnya kekeluargaan kolese yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Perasaan bahagia yang teramat bisa bergabung dan merasakan kehangatan keluarga kolese melalui Temu Kolese waktu itu. Dia mendapatkan keluarga baru yang bahkan sampai saat ini masih sering bertegur sapa. “Cari teman sebanyak mungkin!! Jangan cuma main sama anak-anak satu sekolah, temen-temen dari kolese lain seru semua kok! Kalian bakal dapet pengalaman baru dan banyak wawasan tentang kehidupan kolese! Perluas zona nyaman kalian dan rasakan kehangatan keluarga kolese!!” pesan Ino untuk peserta Temu Kolese.

Kontribusi: Margareta Revita – Tim Komunikator

More
articles

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *