Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan

Karya Pendidikan

Keterbukaan Hati, Pintu Menuju Kasih

Perbedaan di zaman ini dipandang sebagai salah satu masalah besar untuk mencapai suatu persatuan terutama di Indonesia. Kurangnya minat generasi milenial dalam memahami dengan lebih mendalam mengenai perbedaan yang ada di sekitar sering menjadi faktor penghambat kesatuan Bangsa Indonesia. Padahal sebenarnya, generasi muda berpotensi besar membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan. Akan tetapi, ekspektasi tidaklah semulus realita. Banyak konflik terjadi di sekitar kita hanya karena perbedaan pendapat dan cara pandang. Sebagai siswa SMA Kolese De Britto, saya bersyukur karena bisa belajar dan memahami perbedaan melalui pengalaman nyata. Beberapa waktu yang lalu ada salah satu sekolah yang saya anggap berbeda dengan sekolah kami datang dan berkunjung ke tempat kami. Sekolah itu adalah SMA Bumi Cendekia. SMA Bumi Cendekia merupakan SMA yang berbasis boarding house atau pesantren berbasis asrama yang ada di Sleman. Pada awalnya kami para murid SMA Kolese De Britto diajak oleh salah satu guru sejarah, Pak Nova, untuk ikut bertemu, berkenalan, dan berproses dalam perjumpaan bersama teman-teman dari SMA Bumi Cendekia. Kami merasa sangat senang dengan kegiatan ini karena kami sebagai siswa diberikan fasilitas oleh sekolah untuk menambah relasi sekaligus diberikan kesempatan untuk berproses dengan teman – teman santri dari SMA Bumi Cendekia. Pada awalnya, saya merasa sedikit ragu untuk mengikuti acara ini. Saya takut jika terjadi suasana canggung dan aneh dalam perjumpaan ini. Namun saya tetap mau mencoba dan berdinamika bersama teman-teman santri SMA Cendekia. Saya menyadari bahwa sebenarnya perbedaan adalah realita yang harus dihadapi hingga akhirnya harus diterima dan dihidupi. Saat menyambut mereka di ruang AV 2, suasana menjadi sunyi dan canggung. Saya dan teman-teman merasa kaget karena kami hanya mengenakan kemeja dan kaos berkerah yang biasa kami gunakan untuk belajar di sekolah sementara teman-teman dari SMA Bumi Cendekia terlihat sangat rapi dengan jas berwarna biru. Bapak F.X. Catur Supatmono, M.Pd. selaku Kepala Sekolah SMA Kolese De Britto turut hadir dan menyambut para tamu. Dalam sambutannya, Bapak Ubaidillah Fatawi, M.Pd. selaku Kepala Sekolah SMA Bumi Cendekia, mengungkapkan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan antar sekolah sekaligus acara ini menjadi sarana bagi para siswa baik dari SMA Kolese De Britto maupun SMA Bumi Cendekia untuk saling mengenal dan menghargai perbedaan yang ada di antara kami. Setelah sambutan singkat, acara dilanjutkan dengan perkenalan yang dikemas dengan mini games yang asik dan menarik. Kami semua dipaksa untuk mengenal dan mengingat nama-nama kami. Pada awalnya mungkin kami sedikit kesulitan untuk mengingat nama dari teman-teman santri karena nama mereka terdengar sedikit asing bagi kami namun pada akhirnya kami dapat saling berkenalan dengan baik sehingga suasana menjadi cair. Kami pun mulai tertawa satu sama lain hingga tanpa disadari waktu untuk salat Ashar pun tiba. Acara terjeda sejenak. Setelah teman – teman santri selesai menunaikan ibadah salat, acara dilanjutkan dengan board games. Dalam sesi games ini ada tiga board games yang dihadirkan. Salah satu yang menarik bagi saya adalah games yang menguji pengetahuan kita tentang agama-agama lain yang ada di dunia ini. Pada awal game kami diajak untuk memilih pion yang ada dan menaruhnya di papan lalu terdapat kartu-kartu yang disusun dengan keadaan tertutup. Di balik kartu-kartu itu terdapat banyak sekali simbol dari berbagai agama yang ada di dunia. Secara bergantian kami harus menebak dan membuka dua kartu. Kedua kartu tersebut harus sama simbolnya (mirip seperti memo games). Setelah menemukan kartu yang sama, contohnya kartu dengan simbol Shinto, pion kita dapat maju satu langkah. Setelah itu narator akan memberikan pertanyaan umum terkait agama Shinto dan ketika kita berhasil menjawab maka pion kita akan maju sebanyak satu langkah lagi. Game yang diberikan ini selain melatih ingatan, juga dapat menambah pengetahuan umum kita mengenai agama-agama yang ada di dunia. Dalam kesempatan ini, saya senang bisa berkenalan dengan salah satu santri yang bernama Hebba. Hebba adalah salah satu murid kelas X SMA Bumi Cendekia. Pada awalnya kami merasa canggung, namun seiring berjalannya waktu, kami saling mengobrol dan bertukar informasi mengenai budaya serta keunikan yang ada di sekolah kami masing-masing. Saya menjadi akrab tidak hanya dengan Hebba tetapi juga dengan teman-teman santri yang lain. Tak terasa waktu cepat berlalu. Acara pun diakhiri dengan berfoto bersama di depan patung Santo Yohanes De Britto yang terletak di tengah halaman SMA Kolese De Britto. Setelah menjalani dinamika bersama teman-teman santri SMA Bumi Cendekia, kami sadar dan paham betul bahwa sebenarnya kata “perbedaan” tidaklah cocok untuk menggambarkan realitas masyarakat saat ini. Kata yang lebih cocok adalah “keberagaman” atau “diversity”. Kami menyadari bahwa keberagaman itu adalah realitas kehidupan. Sebesar apapun usaha atau kehendak kita untuk membuat dunia sama, tidak akan pernah mungkin tercapai. Kami sadar bahwa Tuhan terlalu kreatif. Ia tidak akan pernah menciptakan manusia yang sama persis. Semua memiliki perbedaan baik kelebihan maupun kekurangannya masing-masing. Akan tetapi sebagai manusia, terkadang kita tidak siap untuk melihat dan menerima realitas tersebut. Santo Ignatius dari Loyola mengajak kita untuk “Finding God in all things“. Tuhan pasti dapat ditemukan dalam setiap hal yang ada di sekitar kita. Bahkan dalam hal yang awalnya tampak buruk sekalipun asalkan kita dapat merefleksikannya dengan saksama, kita pasti akan mendapatkan hal baik di dalamnya. Sebagai siswa SMA Kolese De Britto, saya mencoba untuk memahami bahwa perbedaan latar belakang yang ada di sekitar kita bukanlah menjadi suatu masalah lagi. Keberagaman justru menjadi jalan kasih untuk menghargai satu sama lain. Untuk itu dibutuhkan keterbukaan hati dan pikiran agar perbedaan yang menjadi masalah sebelumnya justru menjadi pintu untuk saling menyebarkan kasih kepada semua orang tanpa terkecuali. AMDG. Kontributor: Oddie Christian Tamzil – SMA Kolese de Britto

Karya Pendidikan

Bakti Alumni PIKA 2023

Pada tanggal 1 Mei 2023 Gereja merayakan Pesta St. Yosef Pekerja yang juga bertepatan dengan hari Buruh Internasional. Pada hari ini pula keluarga besar SMK PIKA yang dimotori oleh para Alumni PIKA merayakannya dengan mengadakan kegiatan BAKTI ALUMNI PIKA. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin tali silaturahmi para alumnus dengan para guru, karyawan, dan juga para pensiunan yang pernah berkarya di PIKA. Jasa para guru dan karyawan tentunya sangat penting bagi sejarah Pendidikan dan kesuksesan yang diraih oleh para alumni PIKA. Acara ini juga dilengkapi dengan Perayaan Ekaristi dalam rangka Pesta Nama St. Yosef yang dipimpin oleh Pater Vincentius Istanto, SJ. Dalam homilinya Pater Istanto menyampaikan nilai-nilai keteladanan yang dapat dicontoh dari St. Yosef, yaitu ketulusan, kemurnian, kejujuran, ketaatan, kecermatan, dan kesederhanaan. Pater Istanto, S.J. berharap semoga kita dapat meneladani nilai-nilai keutamaan yang dimiliki oleh St.Yosef dalam kehidupan sehari-hari melalui pekerjaan, pelayanan, dan panggilan kita masing-masing baik sebagai siswa, guru, karyawan, pensiunan dan tentunya para alumni di dunia kerja. Perayaan Ekaristi dan kegiatan Bakti Alumni ini dihadiri kurang lebih 100 orang yang terdiri dari para guru, karyawan, pensiunan, dan juga para pengurus Keluarga Alumni PIKA (KAPIKA). Gregorius Hans (Angkatan 35) dalam kesempatan ini memberikan sambutannya sebagai ketua panitia pelaksana kegiatan BAKTI ALUMNI PIKA. Ia menyampaikan rasa syukur dan terimakasih atas jasa-jasa para guru dan karyawan yang telah mendidik para alumnus semasa sekolah. Grego juga menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada para donatur baik alumni perorangan maupun perusahaan-perusahaan alumni yang berkenan memberikan sponsorship dalam acara tersebut sehingga acara BAKTI ALUMNI ini dapat berjalan dengan lancar. “Pada momen ini KAPIKA ingin mewujudkan syukur dengan berbagi kebahagiaan bersama dengan orang-orang yang kami sayangi dan yang telah berjasa bagi kami para alumni yaitu para guru dan karyawan PIKA. Bakti Alumni juga menjadi salah satu program KAPIKA yang terus mendorong perkembangan SMK PIKA dan keluarga besarnya. Sekaligus menjadi tali asih antara alumni dengan keluarga SMK PIKA”. – Gregorius Hans (alumni Angkatan 35) Pak Ardian Sugito selaku Ketua Pengurus KAPIKA juga menyampaikan ungkapan terima kasih seraya memohonkan maaf mewakili alumni dengan membungkukkan badan di hadapan para guru dan karyawan apabila semasa sekolah dulu para alumni sering menyusahkan para guru dan karyawan melalui kenakalan-kenakalan yang mungkin menyakiti dan mengecewakan bapak-ibu guru dan karyawan. Pak Ardian juga menyampaikan bahwa melalui didikan dan pengajaran yang diberikan oleh bapak-ibu guru para alumni sekarang ini dapat meraih kesuksesan dan keberhasilan di dunia pekerjaan. Bakti Alumni PIKA 2023 ini juga diisi dengan pelayanan cek darah, konsultasi dokter, pengobatan gratis, dan penyerahan tali asih berupa bingkisan bahan pangan. Dalam penyelenggaraan pemeriksaan kesehatan ini, panitia bekerja sama dengan Klinik Pratama Yayasan Sosial Soegijapranata – Keuskupan Agung Semarang. Kami bersyukur atas antusiasme dan respon positif yang diberikan oleh para guru, karyawan dan pensiunan dalam acara ini. Beberapa pensiunan juga berterimakasih karena merasa terbantu dengan adanya acara BAKTI ALUMNI PIKA ini. Para alumni berharap agar ke depannya acara ini dapat diikuti lebih banyak lagi pensiunan maupun eks guru dan karyawan yang pernah mengajar dan memberikan baktinya kepada para alumni semasa sekolah. Para pengurus juga berharap agar lebih banyak lagi rekan rekan alumni yang dapat terlibat baik secara moril maupun material demi kesuksesan acara BAKTI ALUMNI yang akan datang. Harapannya pada perayaan St.Yosef di tahun yang akan datang acara yang serupa dapat terlaksana dengan lebih baik dan lebih meriah sehingga semakin menjadi wujud nyata cinta almamater yang lebih besar. Ad Maiorem Dei Gloriam “KAPIKA Rumah Kita Bersama” Kontributor: Johanes Chaesario Octavianus – Sekjend KAPIKA 2022 – 2025

Karya Pendidikan

Gelar Budaya Kanisius Yogyakarta sebagai Pijakan Think Globally, Act Locally

Istilah think globally, act locally sering kita dengar sebagai ungkapan untuk menunjukkan eksistensi kelompok yang mau terlibat dan mengambil peran di dunia yang semakin terkoneksi ini. Pemikiran ini tidak lepas dari pesatnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi dalam perkembangan zaman yang mau tidak mau harus dipeluk oleh karya-karya Serikat Jesus terutama dalam lingkup pendidikan. Bukan berarti meninggalkan identitas lokalnya tetapi menunjukkan kepada dunia bahwa identitas budaya terutama konteks kelokalan Yogyakarta hendak dilestarikan, dikenalkan, dan ditempatkan pada konteks yang lebih luas. Pesta nama Santo Petrus Kanisius menjadi inspirasi bagi Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta untuk terus berbenah dan menunjukkan diri. Yayasan yang tahun ini berusia 105 tahun pada Oktober nanti menyadari bahwa perkembangan zaman harus dikejar dan terus berusaha menyesuaikan diri dalam seluk beluk dunia pendidikan di masa kini dan masa depan. Pada peringatan pesta nama Santo Petrus Kanisius, Yayasan Kanisius Yogyakarta menyelenggarakan Gelar Budaya di Titik Nol Kilometer atau tepatnya di pelataran Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 29 April 2023 bersamaan dengan libur panjang hari raya Idul Fitri. Banyak pengunjung menikmati gelaran yang disajikan secara apik oleh putra-putri Sekolah Kanisius Cabang Yogyakarta. Gelaran ini dimulai pukul 08.00 WIB dengan pembukaan yang dihadiri oleh pejabat di jajaran pemerintahan provinsi DIY, Yayasan Kanisius, dan unsur Gereja yang diwakili Kevikepan Yogyakarta (Yogyakarta Barat dan Timur). Cuaca yang cukup mendukung, tidak terlalu panas dan tidak terlalu mendung, menambah antusias putra-putri Kanisius dalam menampilkan hasil terbaik identitas budaya mereka. Penampilan dibagi dalam dua sesi yang terdiri dari Gelar Budaya yang dimulai pada pukul 08.00 WIB (sesi pertama) dan pementasan wayang kulit dengan dalang putra-putri Kanisius dari enam komunitas Sekolah Kanisius Yogyakarta pada sesi kedua. Gelar Budaya pada sesi pertama menampilkan banyak tarian dan teater khas Yogyakarta. Sajian ini mengundang gelak tawa karena peran serta anak-anak Taman Kanak-Kanak yang otentik membawakan lakon mereka masing-masing. Enam Komunitas Sekolah Kanisius menampilkan teater kepatriotan Nyi Ageng Serang, cerita bajak laut, serta tarian-tarian. Pada sesi kedua pementasan wayang kulit dengan berbagai macam lakon dibawakan oleh dalang-dalang cilik dari enam komunitas Sekolah Kanisius Yogyakarta. Walau diiringi gerimis saat pementasan wayang kulit di sore hari, antusias penonton terus mengalir demi menonton pementasan ini. Turis domestik dan luar negeri turut menikmati pementasan yang berakhir pada pukul 21.30 WIB. Kegiatan ini terlaksana tidak lepas dari peran Ketua Panitia Bapak Yohanes Nugroho, S.Pd (selaku Kepala Sekolah SD Kanisius Pugeran), Yayasan Kanisius Yogyakarta, kolaborasi guru dan karyawan dari enam Komunitas Sekolah Yogyakarta, dan Pemprov DIY. Tidak lupa dukungan dari pemerhati, orang tua, dan Gereja mengalir sebagai pendukung utama, tidak hanya dalam kegiatan seremonial saja melainkan juga dalam keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. Semoga momen ini kembali mengingatkan pada jati diri dan identitas pendidikan Kanisius yang hadir menjawab tantangan lokal dan perlu terlibat menanggapi tantangan global. Perayaan pesta nama Santo Petrus Kanisius ini diakhiri dengan perayaan Ekaristi bersama di Gereja St Antonius Padua Kotabaru pada 2 Mei 2023 bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pater Yohanes Heru Hendarto, S.J. dengan konselebran Pater Mahar, S.J. dan Pater Paul Suparno, S.J. Dalam homilinya Pater Heru, S.J. memberikan penekanan pada keteladanan Santo Petrus Kanisius dalam tiga aspek. Teladan Kanisius yang diutus menjadi manusia rohani yang tidak hanya menitik beratkan pada pengetahuan semata namun juga pada kedalaman untuk memiliki sikap bela rasa. Keteladanan yang kedua adalah menjadi manusia gerejawi. Sebagaimana keteladanan St Petrus Kanisius hadir dalam pergolakan Gereja saat itu dan menjadi penopang bagi pembaharuan terutama dalam formasi iman dan pendidikan. Terakhir adalah manusia dalam perutusan. Sebagai lembaga yang dibawah perlindungan Santo Petrus Kanisius, ketersediaan diri dan dengan rendah hati mengikuti perutusan yang akan diberikan. Perayaan ekaristi ini cukup meriah karena dihadiri oleh bapak ibu kepala sekolah serta para murid SD Kanisius Kota baru dan SD Kanisius Gayam. Tagline Kanisius “Where are leader are made” menjadi harapan dan perwujudan bagi perjalanan layar kapal Kanisius mengarungi luasnya samudra. Kristus sang mercusuar akan mendampingi dan memberikan tanda bagi perjalanan Kanisius. Dari titik 0 monumen Serangan Umum 1 Maret semoga layar Kanisius terkembang untuk semakin berani mengobarkan dunia. Ad Maiorem Dei Gloriam Kontributor: Sch. P Craver Swandono, SJ – Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta

Karya Pendidikan

Tanah Abang, Universitas Kehidupan

“Kalian besar nanti, carilah perguruan tinggi yang bisa bantu belajar tentang kehidupan, yang rektornya mengajarkan tentang kemanusiaan,” kata Bang Dillah, sebutan akrab Abdillah, nama induk semang kami di Tanah Abang. Selama lima hari itu, mulai dari 16-20 Januari 2023, aku dan kelompokku melaksanakan live in sosial di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, tepatnya di Kelurahan Kebon Kacang. *** Waktunya berangkat pun tiba, namun ketidakjelasan masih kuat menghantui. Minggu malam kami memulai perjalanan dengan bus ke Jakarta dan sempat diputar-putarkan di sebuah ruas jalan besar. Akhirnya, kami berhenti di pinggir jalan, persis di depan ruko dengan gang kecil di sebelahnya. Bu Nita, guru pendamping, memberi instruksi untuk turun dan membawa barang-barang kami yang dikemas dalam sebuah trash bag. Tibalah kami di sebuah tempat yang tak lazim. Halamannya luas, dengan dua buah pohon yang membuatnya rindang. “Sanggar Anak Akar,” tertulis di sebuah ambulans yang terparkir di halaman. “Pasti nanti mengajar anak-anak,” pikirku. Di sanggar tersebut, yang kelak akan menjadi basecamp kami, kami sarapan sejenak sebelum mendengar arahan dari Mbak Yuse, salah seorang anggota sanggar. Kami dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan lokasi, yaitu TPA Bantar Gebang, Sentiong (kawasan kuburan Cina), dan Tanah Abang, tempatku live in. Tempat dengan pasar yang besar, terkenal akan preman dan prostitusi, menjadi “universitas kehidupanku.” Di sana kami diminta membantu pekerjaan warga sekitar. Ada yang menjadi tukang bubur, pemilah sampah, atau pedagang karung. Aku sendiri membantu seorang pedagang soto betawi yang sekaligus guru ngaji, Bang Wahyu. Di Tanah Abang, kami tidak menginap di sebuah rumah atau toko, melainkan sebuah tempat pengajian yang dikelola oleh Yayasan Hurin’in, sebuah yayasan yang boleh dikatakan mempunyai tujuan yang sangat mulia dan kontekstual. Yayasan ini berdiri untuk memutus rantai prostitusi yang mengikat sebagian perempuan di sana. Sebagian anak yang dididik dan diasuh adalah anak-anak PSK melalui pembinaan iman dan akhlak (etika) agar mereka tidak terjerumus ke dalam jebakan yang dialami oleh orang tua mereka. Anak TK hingga SD di sini bagaikan perwujudan dari realitas “pasar” yang keras. Mereka sudah mengerti dan lihai menggunakan umpatan-umpatan seperti dongo, goblok, dan lain sebagainya. Berbicara dengan kawannya pun menggunakan logat Betawi disertai nada yang tinggi dan keras, hampir menyerupai gaya berbicara orang tua mereka. Tanah Abang memang punya dua muka. Ia bisa tampak seperti kawasan permukiman kumuh yang penuh preman dan kriminalitas, namun ia juga bisa tampak seperti perkampungan dengan warga yang rukun dan teguh dalam penghayatan iman. Mushola di dekat tempat kami menginap selalu ramai dengan warga waktu Maghrib dan Isya’. Para muadzin berlomba-lomba menyerukan dengan lantang panggilan untuk beribadah dan warga menyambutnya dengan antusias. Selama empat hari itu, setelah shalat subuh, aku berangkat ke pasar bersama Bang Wahyu, seorang Ustadz dan penjual soto betawi. Saat tiba, Bang Wahyu langsung bergegas membersihkan lapak dan aku membantu membersihkan meja, melepas terpal, mengambil air di tempat yang cukup jauh, memotong kol, tomat, dan mencuci beras. Fase yang paling membosankan adalah menunggu pelanggan berdatangan. Pada saat demikian itu, aku sering duduk menganggur sambil sesekali menyeruput kopi. Pelanggan banyak berdatangan ketika menjelang makan siang. Saat pagi, hanya ada satu atau dua pembeli saja. Karena sepi dan tidak tahu harus melakukan apa, serta didukung angin semilir, maka selama empat hari itu yang datang bukanlah manusia, melainkan rasa kantuk. Namun, sekalinya pelanggan membludak, rasanya seperti gelombang lautan yang tak berakhir. Pekerjaanku, yakni membantu mencuci piring dan menyiapkan nasi, serasa abadi di waktu menjelang makan siang. Satu tumpukan piring selesai dicuci, tumpukan lain datang menyusul. Satu piring nasi disiapkan, yang lain juga menunggu antrian. Satu piring kecil acar disajikan, yang lain menunggu diisi. Ada kalanya para pelanggan mengiyakan saja apa yang disajikan, namun ada kalanya mereka mengajukan permintaan tersendiri. Bahkan pernah satu kali, sebuah rombongan mengajukan banyak sekali permintaan kepada Bang Wahyu, seperti kikil dipotong di bagian tertentu, dan sebagainya. Di situ ada Aril, pegawai yang membantu bang Wahyu menjual soto betawi. Ia bercerita bahwa ia hanya bersekolah sampai SMP. Setamat SMP, ia memutuskan membantu orang tuanya dengan banting tulang mengais rezeki, hingga akhirnya, ia tiba di Tanah Abang. Aril tak menganggapnya sebagai hal yang perlu disesali. Aril seolah-olah menganggap tak melanjutkan pendidikan hanyalah bagian dari realita yang ia harus hadapi. Memang, di kawasan Tanah Abang, tak banyak orang yang menempuh pendidikan tinggi, terutama karena alasan ekonomi. Namun orang-orang seperti mereka membuktikan bahwa hidup tak melulu soal pendidikan saja dan bahwa tak mengenyam pendidikan tinggi bukan berarti akhir dari segalanya. Pada hari kedua, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri bukti nyata praktik prostitusi di Tanah Abang. Malam itu, oleh Bang Dillah, aku dan kelompokku diajak melewati sebuah gang tempat ia tinggal. Di sana, aku melihat bilik-bilik persis di sebelah kiri jalanan gang. Selain bilik, juga terdapat semacam klub malam sederhana di sisi jalan yang sama. Realita sosial di Tanah Abang memang jauh dari kata ideal. Berada di sana hanya selama lima hari, mungkin terasa nyaman saja, tetapi jika tinggal di sana hingga waktu yang tak dapat ditentukan adalah perkara yang membuatku bertanya-tanya, “Apakah kehidupan ini adil?” Namun, tentu ada sisi positif yang terdapat di Tanah Abang, seperti yang kami rasakan di malam terakhir live in. Setidaknya, kedekatan Tanah Abang dengan Bundaran HI memberi sebuah hiburan tersendiri bagi kami yang kami kunjungi pada malam kedua. Mengetahui bahwa kami akan kembali ke Yogyakarta pada hari Jumat, Bang Wahyu berinisiatif untuk mengadakan perpisahan bersamaan dengan acara sholawatan yang rutin diadakan di balai pengajian setiap Kamis malam. Setelah sholawatan selesai dan hidangan telah disiapkan oleh kami, dibantu oleh Bang Dillah dan istrinya, kami semua makan bersama-sama dan mengucapkan salam perpisahan dengan anak-anak pengajian serta guru mereka. Dari live in yang kuikuti, banyak pelajaran yang dapat aku petik. Dari Aril, aku belajar bahwa setiap orang mampu melayani sesamanya dengan kemampuan masing-masing. Kenyataan bahwa Aril tak sempat mengenyam bangku SMA tidak menghalanginya untuk menyalurkan tenaga dan kemampuannya untuk membantu sesama, dalam hal ini dengan menjadi karyawan Bang Wahyu. Bagaimana orang-orang seperti Aril mencoba untuk bersyukur dan menikmati hidup, sekalipun tidak dalam kondisi yang ideal, selalu membuatku terpukau. Aku juga belajar secara langsung bagaimana rasanya bekerja bersama dengan orang lain dan betapa bosannya menunggu datangnya pelanggan saat berjualan.

Karya Pendidikan

Sister School Partnership

Kanisius KAS & SMA Kolese de Britto Pada 2 Februari 2023 dua lembaga pendidikan yang dikelola oleh Jesuit, yaitu SMA Kolese de Britto dan Yayasan Kanisius Keuskupan Agung Semarang mengadakan pertemuan di ruang rapat Yayasan de Britto. Pertemuan ini diinisiasi sebagai bentuk kesadaran formasi berkelanjutan sekolah-sekolah yang dikelola oleh Serikat Jesus. Kolaborasi ini diharapkan memberikan dampak signifikan bagi Yayasan Kanisius dan SMA Kolese de Britto untuk mendampingi orang muda seturut arahan Universal Apostolic Preferences. Pertemuan ini dihadiri oleh Pater Yohanes Heru Hendarto, S.J. selaku Ketua Yayasan Kanisius Keuskupan Agung Semarang, Pater C. Kuntoro Adi, S.J. selaku Ketua Yayasan de Britto, Ibu Nur Sukapti selaku Kepala Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta, Bapak F.X. Catur Supatmono selaku Kepala SMA Kolese de Britto beserta staf dan enam kepala sekolah SMP Kanisius di Yogyakarta (SMP Kanisius Sleman, Bambang Lipuro, Kalasan, Gayam, Pakem, dan Sleman). Suasana dialog yang menyenangkan dan saling memberi informasi, menggugah kesadaran untuk membuka cakrawala dan berani keluar dari kotak-kotak yang membelenggu. Rahmat Kolaborasi Sister School Partnership menjadi salah satu brand yang hendak dibangun Yayasan Kanisius dan SMA Kolese de Britto. Harapan dari kerja sama ini tidak hanya berdampak terhadap serapan siswa yang akan masuk ke SMA Kolese de Britto (penerimaan siswa baru jalur beasiswa dan jalur kerjasama Kanisius-de Britto) namun secara menyeluruh mendorong dan memaksimalkan kapasitas sumber daya manusia dua lembaga ini. Salah satunya, formasi guru Ignatian menjadi peluang bagi lembaga pendidikan Jesuit untuk memperkaya pengalaman dan membangun jejaring. Gagasan kerja sama ini kemudian ditanggapi dengan mengumpulkan siswa SMP Kanisius kelas sembilan di DIY yang ingin melanjutkan ke SMA Kolese de Britto. Tahun ini ada enam belas siswa dari SMP Kanisius Keuskupan Agung Semarang yang diterima. Dua belas siswa SMP Kanisius di DIY yang diterima, delapan diantaranya mendapatkan beasiswa, lalu satu siswa berasal dari YKC Semarang dan tiga siswa dari YKC Magelang. Hal ini menjadi motivasi para pendidik di Yayasan Kanisius untuk menyiapkan siswa-siswanya yang ingin melanjutkan ke SMA Kolese de Britto. Working for Local and Regional Networks Diskusi berlangsung semakin hangat dengan membahas peluang apa yang perlu digali. Pater Heru Hendarto, S.J. memberikan penekanan pada formasi pendidikan yang saling mengisi. Siswa Kanisius yang melanjutkan ke SMA Kolese de Britto perlu diperhatikan kapasitasnya selama berproses, sehingga menjadi umpan balik bagi guru-guru Kanisius dalam mengembangkan diri. Pater Kuntoro Adi, S.J. mendorong supaya kerja sama ini memberikan mimpi besar kepada para anak didik. Para kepala sekolah dan guru berkewajiban menemani peserta didik dan mewujudkan cita-cita mereka, serta dapat menginspirasi dan punya hati untuk mendedikasikan diri kepada peserta didik. Salah satu lulusan SMP Kanisius Pakem yang melanjutkan di SMA Kolese de Britto sekarang ini melanjutkan karier bermusiknya sampai di Austria. Contoh konkret ini menunjukkan bahwa kapasitas guru dan sekolah bisa turut memaksimalkan potensi diri siswa. Dukungan semua pihak terkait sister school partnership tidak hanya meliputi Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta namun juga akan melibatkan tiga cabang lainnya. Secara bertahap akan mulai dirintis pula kerja sama serupa bagi kolese-kolese Jesuit di Keuskupan Agung Semarang. Semoga dengan usaha ini bentuk kolaborasi nyata bisa terbangun dan meluaskan jejaring. Pembinaan berkelanjutan sekolah Jesuit semakin mendaratkan UAP dalam terang Latihan Rohani, pendampingan orang muda, keberpihakan terhadap mereka yang termarginalkan dan merawat keutuhan ciptaan. Terkait kolaborasi, ungkapan Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. “Working for local and regional networks will also mean working in and for the global network” memberikan cakrawala baru. Langkah ini sebagai langkah kecil untuk mewujudkan jaringan global sekolah Jesuit dari berbagai tingkat. Semoga. Kontributor: S. Petrus Craver Swandono, S.J. – Skolastik TOK di Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta

Karya Pendidikan

Peran Pembelajaran Produk Kreatif dengan Memanfaatkan Teknologi 3D Printer

Pendidikan dan teknologi saling berjalin kelindan. Pendidikan tidak hanya menjadi alat untuk mempelajari teknologi, namun juga dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk pembelajaran. Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran produk kreatif adalah teknologi 3D printer. Teknologi 3D printer memungkinkan kita untuk mencetak objek tiga dimensi dari berbagai material seperti plastik, logam, kertas, dan bahkan makanan. 3D printer memungkinkan pengguna untuk membuat prototipe produk bahkan produk jadi dengan cepat dan mudah. Dalam konteks pendidikan, teknologi ini memberi peluang yang tak ternilai dalam membantu siswa untuk mempelajari konsep matematika dan ilmu pengetahuan dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Penggunaan 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif sudah diterapkan di SMK St. Mikael Surakarta sejak tahun 2019. Teknologi ini membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Siswa dapat menghasilkan produk yang mereka desain sendiri dan melihat hasilnya dalam bentuk fisik yang nyata. Hal ini meningkatkan motivasi dan antusiasme mereka dalam belajar. Selain itu, teknologi 3D printer juga membantu siswa untuk mempelajari desain produk dengan lebih efektif. Dengan membuat prototipe produk, siswa dapat dengan mudah melihat kelemahan desain mereka dan melakukan perbaikan secara langsung. Mereka juga dapat mempelajari bagaimana berbagai material dan tekstur mempengaruhi kinerja produk. Penggunaan 3D printer juga dapat membantu siswa mempersiapkan diri untuk karir di bidang teknologi dan rekayasa. Siswa dapat mempelajari teknologi cetak 3D dan cara menggunakan perangkat lunak desain, sehingga dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan di dunia kerja. Namun, untuk mengoptimalkan potensi teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif, diperlukan pengajaran yang tepat dan peralatan yang memadai. Guru harus dapat mengajarkan kepada siswa cara menggunakan teknologi ini secara efektif dan memandu mereka dalam membuat produk. Sekolah juga harus mempertimbangkan pengalokasian sumber daya untuk membeli dan memelihara peralatan cetak 3D yang diperlukan. Untuk mendukung penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif, diperlukan beberapa hal, seperti: 1. Infrastruktur dan peralatan yang memadai Sebelum menggunakan teknologi 3D printer, sekolah atau institusi pendidikan perlu memastikan bahwa infrastruktur dan peralatan yang diperlukan sudah tersedia. Ini termasuk perangkat keras seperti 3D printer, komputer, dan perangkat lunak desain 3D. Selain itu, diperlukan juga ruangan yang memadai untuk mengoperasikan peralatan dan menyimpan bahan-bahan cetak 3D. 2. Pelatihan dan pengembangan keterampilan Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif memerlukan keterampilan khusus dalam desain 3D dan operasi peralatan cetak 3D. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi guru dan siswa untuk menggunakan peralatan dan perangkat lunak dengan benar. Hal ini akan membantu siswa untuk belajar dengan lebih efektif dan guru untuk memimpin dan mendukung siswa dalam pembelajaran produk kreatif. 3. Kurikulum yang relevan Kurikulum pembelajaran produk kreatif yang efektif harus mencakup penggunaan teknologi 3D printer dalam desain dan pembuatan produk. Kurikulum ini harus mencakup pelajaran tentang dasar-dasar desain 3D, operasi peralatan cetak 3D, dan pengembangan keterampilan kreatif dan berpikir kritis. Dengan demikian, siswa dapat mengembangkan keterampilan yang relevan untuk mempersiapkan mereka berkarir di bidang teknologi. 4. Integrasi dengan mata pelajaran lain Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran lain, seperti matematika, sains, atau bahasa. Contohnya, siswa dapat menggunakan perangkat lunak desain 3D untuk membuat model matematika 3D atau membuat produk sains dengan teknologi 3D printer. Sedangkan dalam Bahasa Jawa, siswa mendesain tulisan aksara jawa dengan aplikasi Tinkercad berkolaborasi dengan pelajaran produk kreatif untuk realisasinya dengan 3D printer. Integrasi ini dapat membantu siswa memahami konsep-konsep penting dalam mata pelajaran lain sambil mengembangkan keterampilan kreativitas dan berpikir kritis. Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif juga memiliki beberapa manfaat, di antaranya: 1. Meningkatkan keterampilan kreatif dan berpikir kritis Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif memungkinkan siswa untuk mengembangkan keterampilan kreatif dan berpikir kritis. Dalam proses desain dan pembuatan produk, siswa harus berpikir kreatif untuk menghasilkan ide dan konsep yang unik dan original. Selain itu, siswa juga harus berpikir kritis untuk mengevaluasi produk mereka dan menemukan cara untuk meningkatkan kualitasnya. 2. Meningkatkan motivasi dan minat belajar Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa. Siswa akan merasa lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar ketika mereka terlibat dalam proses desain dan pembuatan produk yang nyata dan bermanfaat. Selain itu, penggunaan teknologi canggih seperti 3D printer dapat menarik minat siswa dan membuat mereka merasa lebih antusias untuk belajar. 3. Meningkatkan kemampuan kolaborasi dan komunikasi Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif juga dapat meningkatkan kemampuan kolaborasi dan komunikasi siswa. Dalam proses desain dan pembuatan produk, siswa harus bekerja dalam kelompok dan berkolaborasi untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Hal ini akan membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan komunikasi yang penting untuk kehidupan dan karir mereka di masa depan. 4. Membuka peluang karir di bidang teknologi Penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif dapat membuka peluang karir di bidang teknologi. Siswa yang terampil dalam desain 3D dan operasi peralatan cetak 3D akan memiliki keunggulan dalam mencari pekerjaan di bidang teknologi dan manufaktur. Dengan demikian, penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif dapat membantu siswa untuk mempersiapkan diri untuk karir di masa depan. Secara keseluruhan, penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan, kreativitas, berpikir kritis, dan mempersiapkan diri untuk karir di bidang teknologi. Dengan pengajaran yang tepat dan peralatan yang memadai, teknologi ini dapat membawa perubahan positif dalam pembelajaran di masa depan. Selain itu, teknologi 3D printer juga dapat membantu mempromosikan inklusivitas dalam pendidikan. Dalam banyak kasus, siswa atau mahasiswa yang memiliki disabilitas fisik tidak dapat membuat prototipe produk mereka secara tradisional, seperti dengan menggunakan kayu atau kertas. Namun, dengan teknologi 3D printer, siswa ini dapat menggunakan perangkat lunak desain yang mudah digunakan untuk membuat produk dan mencetaknya dalam bentuk fisik. Hal ini memungkinkan siswa dengan disabilitas untuk mengikuti pembelajaran produk kreatif secara penuh tanpa mengalami hambatan fisik. Dengan adanya infrastruktur dan peralatan yang memadai, pelatihan dan pengembangan keterampilan, kurikulum yang relevan, dan integrasi dengan mata pelajaran lain, penggunaan teknologi 3D printer dalam pembelajaran produk kreatif dapat memberikan manfaat besar bagi siswa dan guru. Dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh melalui penggunaan teknologi ini, siswa dapat mempersiapkan diri untuk karir

Karya Pendidikan

Gedung Baru Harapan Baru untuk Meningkatkan Pelayanan Pendidikan

Senyum gembira terpancar dari wajah siswa-siswi TK Kanisius Cempaka 1 Wonogiri karena akhirnya gedung sekolah yang baru telah selesai dibangun dan diberkati. Pemberkatan gedung kelompok bermain dan TK Kanisius Cempaka 1 Wonogiri ini dilaksanakan pada Selasa, 10 Januari 2023. Pater Martinus Hadi Siswoyo, S.J. (Direktur Yayasan Kanisius Pusat) memimpin perayaan Ekaristi didampingi oleh Pater Joseph M.M.T. Situmorang, S.J. (Kepala Yayasan Kanisius Cabang Surakarta) dan Romo Yosafat Dhani Puspantoro, Pr (Kepala Paroki St Yohanes Rasul, Wonogiri). Selain pemberkatan gedung baru, perayaan ini juga menjadi ungkapan syukur atas kelahiran Sang Juru Selamat, Tahun Baru 2023, dan Pahargyan Purna Bakti 2022 Yayasan Kanisius Cabang Surakarta. Perayaan ini dihadiri pula oleh Pater J. Heru Hendarto, S.J., Pater Ignatius Aria Dewanto, S.J., Pater Clemens Budiarto, S.J. (Kepala Paroki St. Antonius Purbayan, Surakarta), Kepala Sekolah TK, SD, SMP, SMA dan SMK Kanisius Cabang Surakarta, para suster dan wali murid. Perayaan ini juga disiarkan langsung (live streaming) dan diikuti oleh sekolah-sekolah yang berada di naungan Yayasan Kanisius Cabang Surakarta. Ketika homili, ada dua orang guru yang memberikan sharing pengalamannya selama menjadi guru di Yayasan Kanisius. salah satunya adalah Ibu Maria Ananingrum, guru SD Kanisius Bayat, Klaten yang mulai bergabung di Kanisius sejak tahun 2014. Beliau bercerita bahwa bekerja di Kanisius merupakan kehendak Tuhan yang bisa memberikan harapan sehingga ia bisa memenuhi kebutuhannya. Lain halnya dengan Ibu Cicilia Ani Setyowati, guru SMP Kanisius Wonogiri, yang bergabung semenjak tiga puluh dua tahun yang lalu dan saat ini sudah purna tugas. Pada waktu itu, Ibu Ani bersama umat Paroki St Yohanes Rasul Wonogiri berjuang untuk mendirikan SMA Kanisius sehingga sekolah Kanisius di Wonogiri hadir lengkap dalam semua jenjang pendidikan. Pater Joseph, S.J. menyampaikan ucapan terima kasih kepada guru, karyawan, dan staf Yayasan Kanisius yang telah purna bakti atas tugas pengabdian dan karya pelayanannya selama ini. Beliau juga berharap, di tahun yang baru ini, Yayasan Kanisius semakin meningkatkan pelayanan pendidikan bagi masyarakat dan semakin dapat memuliakan Tuhan, terutama dengan selesainya renovasi gedung sekolah KB/TK Kanisius Cempaka 01, Wonogiri. Setelah perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan pahargyan purna bhakti guru, karyawan, dan staf Yayasan Kanisius. Pater Martinus Hadi Siswoyo, S.J. bersama dengan Pater Joseph Situmorang, S.J. memberikan kenang-kenangan untuk para guru, karyawan, serta staff Yayasan Kanisius tersebut. Beliau juga berpesan agar setelah pensiun, mereka semua tetap menjaga kesehatan dan optimisme, bahwa pensiun bukan berarti tidak bekerja namun bisa melakukan banyak aktivitas baik di Gereja, masyarakat, maupun keluarga. Pater Heru Hendarto, S.J., pengurus Yayasan Kanisius dalam sambutannya menyampaikan proficiat dan terima kasih kepada Pater Joseph, S.J., donatur, serta bapak ibu guru atas selesainya pembangunan gedung TK Kanisius Cempaka 01, Wonogiri. Pembangunan gedung ini menjadi salah satu sarana membangun karakter, kemampuan akademik, dan mengasah skill motorik anak-anak. Pater Heru juga bercerita bahwa ia juga dididik dari “rahim” sekolah Kanisius. Sekolah Kanisius sebagai pionir maka harus berkualitas. Yayasan Kanisius yang dulunya bersikap “ngaten kemawon cekap” (begini saja cukup) harus berani berubah menjadi sekolah yang berkualitas, bertransformasi untuk menanggapi tuntutan zaman, serta relevan bagi bapak ibu guru saat ini. Kebahagiaan dalam rangkaian acara ini juga tidak bisa ditutupi oleh Ibu Fransiska Marlina Ambar, Kepala TK Kanisius Cempaka 01 Wonogiri. Selesainya pembangunan gedung menambah semangat baru para guru dalam kegiatan pembelajaran. Saat ini jumlah siswa KB dan TK adalah 73 anak, terdiri atas 18 anak KB dan 55 anak TK. Saat ini ada satu kelas KB, dua kelas TK Kecil, dan dua kelas TK Besar. Pembangunan gedung baru ini ternyata meningkatkan animo orang tua dalam mendaftarkan putra-putri mereka di TK Kanisius Cempaka 01. Guru-guru Kanisius sudah menyiapkan berbagai pembelajaran kreatif untuk para peserta didiknya, baik untuk pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Tidak hanya itu, Romo Dhani, Pr., Pastor Paroki St Yohanes Rasul, memberikan dukungan dengan memberikan izin untuk bertugas koor guna pencarian dana renovasi sekolah. Ibu Marlina Ambar berharap dengan gedung yang baru, sekolah dapat memberikan pelayanan pendidikan yang semakin baik. Kontributor: FX Juli Pramana – SMK Kanisius Surakarta

Karya Pendidikan

MAGIS Yogyakarta Goes Hybrid

Minggu, 8 Januari 2023, MAGIS Yogyakarta memulai Pertemuan Bulanan perdana di Formasi MAGIS Yogyakarta 2023 secara hybrid. Peserta MAGIS Yogyakarta formasi tahun 2023 kali ini sebanyak 29 peserta. Ada 19 orang yang mengikuti secara daring dan 10 orang secara luring. Mereka berasal dari berbagai daerah, yaitu Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Palangkaraya, Larantuka, Magelang, Semarang, Salatiga, Labuan Bajo, Lampung, dan Bandung. Peserta dan pengurus yang berdomisili di Yogyakarta wajib mengikuti Pertemuan Bulanan secara luring di Pusat Pastoral Mahasiswa (PPM) DIY, sedangkan yang berdomisili di luar Yogyakarta dapat mengikuti pertemuan secara daring melalui Zoom meeting. Sebelum menjalankan konsep pendampingan peserta secara hybrid di tahun 2023 ini, MAGIS Yogyakarta sudah menjalankan konsep pendampingan secara daring melalui Zoom meeting selama dua tahun terakhir. Pendampingan MAGIS di tahun 2021 hingga 2022 ini kami beri nama “MAGIS Yogyakarta Goes Online”. Momen pandemi Covid-19 ini sungguh menjadi tantangan bagi kami sekaligus mengajak kami untuk terus bertumbuh dan belajar dalam situasi dan hal baru. Diawali dengan merancang dan mengkonsep rangkaian proses yang biasa kami jalankan secara luring menjadi serba daring. Tentu ini tidak mudah. Dibutuhkan latihan dan kontemplasi agar segala sesuatu yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh para peserta sehingga peserta dapat berproses dengan baik. Dalam menemani teman-teman yang sedang berproses, para pengurus juga menjalankan serangkaian proses persiapan. Persiapan yang pertama adalah belajar bagaimana menjadi sahabat rohani yang baik dengan mengikuti Training for Trainers (TFT) Sahabat Rohani. Kami belajar dan berlatih di dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok kecil mendapat satu tema untuk dipelajari kemudian dipresentasikan. Dua tahun kami melewati serangkaian proses dan dinamika pendampingan secara daring. Kini situasi sudah membaik, maka kami kembali melanjutkan pendampingan secara luring. Namun karena ingin menjangkau peserta secara lebih luas, maka tetap disediakan juga proses pendampingan secara daring. Kami bersyukur bahwa sejak Juli 2022, Pater Alexander Hendra Dwi Asmara, S.J. bergabung bersama kami menjadi Romo Pendamping MAGIS Yogyakarta. Kurang lebih satu setengah tahun kami tidak memiliki pendamping di Regio Yogyakarta. Semoga dengan MAGIS Yogyakarta Goes Hybrid semakin banyak orang muda yang mengenal Spiritualitas Ignatian sehingga dapat membantu Orang Muda Katolik dalam menemukan makna hidup dan mempersiapkan generasi muda sebagai kader awam bagi Gereja dan masyarakat. Be More, Be MAGIS! Kontributor: Cecilia Anis Oktaviani  – MAGIS Yogyakarta