Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Tahun 2021, Majalah Basis telah mencapai usia 70 tahun sejak pertama kali terbit pada 1 Oktober 1951. Dalam rangka menyambut ulang tahunnya, majalah sosial budaya ini menyelenggarakan rangkaian kegiatan bertajuk “Sekolah Basis” secara daring melalui platform Zoom (zoominar) pada 1 – 10 Juli 2021 setiap pukul 19.00-21.00 WIB. 

Untuk menyelenggarakan kegiatan ini, Majalah Basis tidak bergerak sendiri. Majalah Basis bekerja sama dengan Komunitas Utan Kayu (KUK), Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), TribunNews, Periplus, Bentara Budaya, dan Jesuit Insight. Kesepuluh zoominar Sekolah Basis dengan beragam tema digelar guna “menembus fakta”, menyentuh kedalaman etika, politik, seni, pandemi, ekonomi, filsafat dan teologi.

Beberapa peserta yang mengikuti Sekolah Basis.

“Selama sepuluh hari kami mengajak para hadirin sekalian untuk bertualang, belajar, mengarungi kedalaman tema-tema seni, ekonomi, politik, filsafat, dan teologi yang menjadi kajian di Majalah Basis,” ujar Dr. A. Setyo Wibowo, Pemimpin Redaksi Majalah Basis. 

Sepuluh tema yang ditawarkan adalah 1) Profil Majalah Basis, 2) Estetika Seni Adorno, 3) Etika Komunikasi di Era Digital, 4) Komunisme Masih Hidup?, 5) Albert Camus dan Pandemi, 6) Agama, Rasionalitas, dan Teologi Publik di Zaman Post-Sekular: Berdialog dengan J. Habermas, 7) Retorika, Semiotika, dan Hermeneutika: Belajar dari Intelektual Muslim Fakhr al-Din al-Razi, 8) Estetika dan Rasa, 9) Prospek Demokrasi di Era Kapitalisme Digital, 10) Kilas Balik Majalah Basis.

Sementara itu para pembicara dan penanggap zoominar yang diikuti 400-600 peserta ini antara lain Bandung Mawardi, Dr. Rémy Madinier, Goenawan Muhamad, Dr. G.P. Sindhunata, Dr. J. Haryatmoko, Dr. Agus Sudibyo, Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, Prof. Hermawan Sulistyo, Ph.D., Prof. Dr. A. Sudiarja, Dr. A. Setyo Wibowo, A. Bagus Laksana, Ph.D, Dr. Fitzerald Sitorus, Dr. J.B. Heru Prakosa, Ulil Abshar Abdalla, Ayu Utami, Dr. B. Hari Juliawan, dan Yustinus Prastowo.

Pemimpin Umum Majalah Basis, Dr. G.P. Sindhunata, menceritakan bahwa ketika menggantikan tugas budayawan Dick Hartoko, ia ingin membuat Majalah Basis lebih terkomunikasikan. Format lama Majalah Basis menjelang era Reformasi cukup ketinggalan, maka diganti dengan bentuk seperti sekarang. “Supaya tidak terlalu ilmiah, harus diberi warna yang lebih jurnalistik,” tutur filsuf sekaligus sastrawan dan wartawan ini.

Pater Melky, S.J. menjadi moderator dalam seri ke-6 Sekularisme Teologi Publik di Era Post-Sekular
dengan narasumber Pater Bagus Laksana, S.J.

Oleh karena itu, Majalah Basis sejak di bawah asuhan Dr. G.P. Sindhunata senantiasa menggandeng para perupa, terutama dari Yogyakarta, yang ikut ambil bagian dalam perwajahan Majalah Basis. Inilah mengapa Majalah Basis mengusung tagline “Jurnalisme Seribu Mata”. “Hal ini juga untuk menghindari kesan elitis. Majalah Basis bukan majalah jurnal, majalah kebudayaan yang kering, atau majalah intelektual yang elitis, tetapi majalah yang mampu mengomunikasikan apa yang sulit, dalam, dan berbobot sehingga bisa dimengerti,” imbuhnya. 

Ia pun melanjutkan, “Jurnalis yang mau menggali kedalaman itu bagaikan mempunyai seribu mata. Kita mau betul-betul inklusif, tidak eksklusif. Dengan segala mata yang kita punya, kita tidak meninjau hanya dari satu sudut saja. Maka, semboyannya adalah menembus fakta.”

Apa yang ada dibalik fakta dilihat lebih dalam dengan intuisi, pikiran, dan pengolahan. “Dengan seribu mata kita memandang dan dengan kedalaman kita ingin melihat sesuatu,” pungkas penulis novel Anak Bajang Menggiring Angin ini. Selamat ulang tahun ketujuh puluh, Majalah Basis!

Kontributor : Willy Putranta