Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Sepanjang hari Senin, 21 Juni 2021, saya memantau situasi di Paroki Tangerang dengan hati cemas. Gelombang kedua Covid-19 cukup mengakibatkan 73 dari 114 (64%) lingkungan di paroki telah terpapar virus Covid-19.  ampung di seberang sungai tempat Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB), mencatat 300 warga yang terverifikasi positif Covid-19. Dengan hati pedih keputusan mesti diambil, bahwa gereja ditutup kembali. 

Sebagai paroki yang dipercayakan penanganannya kepada Serikat Jesus, Paroki Tangerang menghadapi tantangan untuk hadir dan menjawab tantangan untuk transformasi di tengah situasi pandemi. Ada pertanyaan mendasar tentang mengisi peran mistik Gereja di tengah kecemasan akibat pandemi yang berkepanjangan. 

Gereja yang Peduli

Paroki merupakan bidang pelayanan Gereja yang langsung bersentuhan dengan denyut keprihatinan umat yang merasakan dampak pandemi. Oleh karena itu, Gereja harus responsif terhadap keprihatinan umat terlebih pada mereka yang menderita (option for the poor). Melalui struktur yang telah ada dalam Gereja, Paroki Tangerang berusaha sigap dalam menjawab keprihatinan umat melalui aneka aksi peduli. Gereja bergerak dengan membentuk tim-tim dari seksi-seksi yang ada seperti PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi), HAAK (Hubungan Antaragama dan Kemasyarakatan), dan banyak pihak lainnya. 

Pater Suryadi, S.J. (baju hitam) bersama Pater Teguh, S.J. bersama Tim dokter  HSPMTB melakukan layanan Vaksinasi
3 Agustus 2021

Pada masa awal pandemi, Paroki Tangerang langsung menjawab kebutuhan sanitasi lingkungan dengan pelayanan semprot disinfektan 28.854rumah warga tanpa batas-batas agama. Ketika banyak umat yang mengalami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), Gereja melanjutkan dengan pelayanan karitatif. P bagi mereka yang terdampak secara ekonomi. Sembako dibagikan baik bagi yang katolik maupun warga masyarakat di sekitar umat katolik tinggal. Tim “Crisis Centre Covid-19 HSPMTB” menjadi tulang punggung seluruh respons Paroki Tangerang di awal pandemi ini.

Tim ini yang kemudian disebut “Tim Pusat Penanggulangan Covid-19 Paroki Tangerang” (TPPC) segera memberi tanggapan saat gelombang kedua pandemi. Per akhir Juni 2021 sebanyak 18.660, umat yang menjalani isolasi mandiri (isoman) ada 447 orang yang tinggal di rumah masing-masing karena Rumah Sakit penuh, 16 orang meninggal. Jumlah meninggal selama bulan Juli meningkat menjadi 38 orang.TPPC menunjukkan sikap tanggap dan sigap dengan memberikan aneka pelayanan, seperti menyediakan database pendonor plasma, pelayanan permintaan donor plasma, pinjaman tabung oksigen, konsultasi medis, konsultasi psikolog, dan poli online.

Poli online merupakan salah satu bentuk inovasi layanan di tengah tuntutan situasi karena pembatasan perjumpaan tatap muka. Kenyataan bahwa banyak umat yang hanya disuruh pulang tanpa diberi obat-obatan setelah pemeriksaan di Puskemas dan dinyatakan positif Covid-19 melahirkan ide poli online

Buah kolaborasi Tim Medis HSPMB dan TPPC bertujuan memberi pelayanan kesehatan sederhana bagi mereka yang menjalani isoman. Setelah melalui proses verifikasi dari TPPC, umat lantas diarahkan untuk mengambil layanan konsultasi dokter. Dokter kemudian menuliskan resep obat yang dibutuhkan. TPPC akan memeriksa resep-resep yang masuk, dan lantas diteruskan ke apotek yang telah menjalin kerjasama dengan Gereja HSPMTB berdasarkan rayon lokasi yang paling dekat dengan pasien. Selanjutnya pihak apotek menghubungi ojol HSPMB sehingga dipastikan obat sampai ke pasien. Sementara para perawat akan memantau perkembangan pasien. 

Dalam perkembangan terkini, TPPC Paroki Tangerang juga melakukan pelayanan vaksinasi untuk usia 12 tahun ke atas. Pelayanan pertama telah dilaksanakan pada 3 Agustus 2021. Vaksinasi ini melayani 1010 peserta yang diikuti oleh siswa Sekolah Strada, umat katolik Dekenat Tangerang 1, dan masyarakat umum. Program ini terselenggara berkat kerja kolaborasi dari banyak pihak yang berkehendak baik, yakni Paroki Tangerang, Perkumpulan Strada, Walubi Banten, TNI dan para sponsor. 

Menjadi Gereja Digital

Salah satu hal yang membuat proses respons selama pandemi ini bisa berjalan cepat ialah perkembangan teknologi. KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) sudah lama memiliki apa yang disebut BIDUK (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan) yang tersimpan secara digital Revolusi teknologi informasi menuntut Gereja untuk beradaptasi dengan mengelola Big Data.  BIDUK telah berperan sebagai BIG DATA yang sungguh besar sumbangannya bagi kesigapan dalam pelayanan terutama di masa pandemi yang membutuhkan kecepatan respon akan situasi yang berkembang cepat. Melalui database yang tersedia, Gereja HSPMTB tidak kesulitan melakukan penelusuran (tracing) untuk mendapatkan data tentang nama-nama dokter yang ada di paroki Tangerang, para medis, data umat prasejahtera (Dupras) yang terdampak secara ekonomi, psikolog, pemilik apotek, bahkan umat yang berprofesi sebagai ojol (ojek online). 

Data yang tersedia membantu untuk memproyeksikan, telah tergambar kebutuhan pelayanan pasca pandemi. Tidak sedikit anak yang kehilangan orangtuanya, dan keluarga yang kehilangan kepala keluarga yang bekerja. Pendampingan kepada mereka akan menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui aneka inovasi layanan sosial. 

Pandemi Covid-19 juga memaksa Gereja menjadi dinamis dari segi peribadatan untuk menyediakan layanan melalui media digital semisal misa streaming melalui Youtube. Upaya mencegah penularan virus dengan ketentuan 5M (Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas) menghasilkan pelayanan dan ibadat yang dilakukan secara online. Paroki Tangerang telah menyiapkan semua infrastruktur IT untuk ibadat streaming online dan untuk kemungkinan optimalisasi aneka pelayanan kreatif lain secara digital. Pelayanan gereja di masa kini menuntut umat dan seluruh elemen yang terlibat dalam pelayanan telah memiliki environment dan habit digital.

Pater Teguh, S.J. bersama Suhu Pushan (Dewan Kehormatan Walubi Banten), Bapak  Triroso (Pembimas Buddha Banten) – pakaian kuning koordinasi bersama.

Saatnya Kolaborasi

Pandemi Covid-19 terlalu perkasa untuk dihadapi sendiri. Pekerjaan sekecil apa pun dalam kaitan dengan pandemi ini, tak sanggup untuk kita selesaikan sendiri. Oleh karena itu kesadaran bahwa kita perlu bekerjasama dengan semua pihak yang berkehendak baik perlu diusahakan. Di balik semua usaha pelayanan di atas, sesungguhnya ada pendekatan spiritual yang dilakukan untuk menggerakkan semua orang yang terlibat menjadi kolaborator agar memiliki keprihatinan yang sama. Cura personalis merupakan salah satu pendekatan yang khas agar tercipta perjumpaan dari hati ke hati untuk melakukan aksi bersama. Salah satu contohnya adalah “Sapa Tim Medis HSPMTB” melalui zoom meeting telah melahirkan aksi Poli Online. 

Di tengah kesibukan para dokter di masa pandemi, ternyata di antara mereka banyak yang bersedia bekerja sukarela (pro bono) dalam pelayanan untuk komunitas gereja. . Ada belasan doker dari Tim Medis yang membagi tugas dengan berjaga melalui pengaturan piket untuk melayani konsultasi umat dari pk 09.00 sampai pk 21.00 dari hari Senin sampai Minggu. Ini sungguh luar biasa! Saya bersyukur, Gereja tidak kehilangan peran mistiknya di tengah pandemi. 

Kontributor : P. Walterus Teguh Santosa, S.J. – Paroki Tangerang