capture imaginations, awaken desires, unite the Jesuits and Collaborators in Christ mission

World Food Day : Membangun Ketahanan Pangan dan Gizi

Date

“Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) harus menjadi pedoman bagi siapa saja yang ingin belajar tentang pertanian dan peternakan. Untuk mengembalikan citra tersebut, KPTT terus berbenah, lebih lagi dengan adanya rencana-rencana implementasi Universal Apostolic Preferences (UAPs),” ungkap Direktur KPTT, Pater F.A. Sugiarta, S.J. Dalam kerangka itu, selama satu tahun terakhir, KPTT mengadakan rekoleksi dan rapat yayasan untuk membicarakan rencana-rencana strategis ke depan. KPTT harus bisa menjadi pedoman, baik dari segi aset yang dimiliki, sumber daya manusianya, manajemen keuangan, model-model kursus yang dijalankan, proses produksi komoditas pertanian, maupun marketing serta sejarah panjang yang dimilikinya.

Sebagai salah satu usaha untuk menjadikan KPTT sebagai pedoman atau rujukan di bidang pertanian dan peternakan, pada Jumat, 15 Oktober 2021, KPTT mengadakan webinar dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia. Tema yang diangkat adalah “Membangun Ketahanan Pangan dan Gizi.” Dalam webinar tersebut, KPTT menghadirkan beberapa narasumber yang memiliki kiprah di bidang pertanian. Narasumber pertama adalah Pater Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J. yang berbicara tentang membangun ketahanan dan kedaulatan pangan keluarga. Narasumber kedua adalah beberapa orang muda yang berkecimpung langsung dan aktif di dunia pertanian, khususnya produksi beras organik yang berkualitas. Mereka adalah Mas Hengky Peno, Mas Adiyo Mbering, Mas Justin Nursanto, dan Mbak Amanda Kharisma. Narasumber ketiga adalah Ibu Caesilia Isti Sumiwi dari Lembaga Pendamping Usaha Buruh Petani dan Nelayan (LPUBTN). 

Infografis pertumbuhan penduduk Indonesia dengan penurunan jumlah petani dan pekerja tani.

Webinar yang dimoderatori secara khusus oleh Ketua Yayasan Taman Tani, yaitu Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J., diawali dengan presentasi Pater Wiryono, S.J. yang mengupas banyak hal terkait dengan ketahanan dan kedaulatan pangan dalam keluarga. Di masa pandemi ini, kedaulatan pangan bagi keluarga menjadi sangat vital. Bertani adalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Dalam presentasinya, Pater Wiryono, S.J. menampilkan salah satu slide yang berisi dialog antara seorang Satgas anti Covid dan seorang ibu petani. Dialog itu hendak menyampaikan poin bahwa dengan berpanas-panasan (bertani) membuat ibu itu merasa lebih sehat. Terkait dengan kegiatan bertani, dalam briefing Webinar, dibahas pula salah satu fakta yang ada di KPTT yaitu tentang tidak ada satupun warga KPTT yang terkena Covid. Apakah ini ada kaitannya dengan kegiatan bertani dan “berpanas-panasan” yang secara langsung meningkatkan imunitas para petani? Perlu penelitian secara khusus untuk membuktikan hipotesis ini. Yang jelas, dari kesaksian para peserta kursus, kegiatan bertani di KPTT itu menyenangkan dan membanggakan. Salah seorang peserta kursus, seorang guru SMA Yakobus Jakarta, bahkan mengatakan bahwa bertani itu satisfying. Ringkasnya, dalam pemaparannya, Pater Wiryono, S.J. banyak menyajikan soal data kebutuhan pangan bagi keluarga dan usaha-usaha nyata apa saja yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam keluarga.

Hengky Peno dan Adiyo Mbering, yang menjadi pembicara adalah petani muda yang terjun memproduksi dan memasarkan beras kualitas organik di daerah Klaten. Mereka ini lulusan ATMI (Akademi Teknik Mesin Industri), Surakarta. Karena profesi mereka yang baru ini, ada orang yang memplesetkan ATMI menjadi Akademi Tanaman Menanam Indonesia. , Beras adalah kebutuhan pokok bagi masyarakat luas dan dikonsumsi setiap hari. Mereka tergelitik, mengapa mereka tidak memproduksi beras yang benar-benar berkualitas dengan menerapkan pertanian berkelanjutan. Mas Adiyo Mbering, dengan motonya “tetap gagah meski melalui jalan yang tidak mudah”, memaparkan bahwa peluang untuk memproduksi beras berkualitas sambil membantu meningkatkan pendapatan petani sangatlah terbuka. Ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai seorang manajer di salah satu perusahaan otomotif ternama dan terjun secara penuh dan fokus untuk menjadi petani dan hanya memproduksi komoditas beras. Ia tidak tertarik dengan jenis komoditas pertanian yang lain. Sementara itu, Mas Hengky Peno terjun ke dunia pertanian bersama dengan Adiyo karena memang punya pengalaman personal saat kecil menikmati enaknya masakan, aroma dan tekstur beras yang pernah disajikan oleh neneknya. Saat bertemu dengan produk yang diproduksi oleh Adiyo, Hengky terpikat dan akhirnya berkolaborasi dengannya untuk turut memproduksi beras sehat kualitas organik. Ia bahkan sering mengajak anaknya yang waktu itu masih bersekolah di SMK Mikael untuk ikut terjun ke sawah. Pada sesi yang sama, Mbak Amanda Kharisma yang saat ini menempuh Pendidikan S2 bidang Pertanian di Reading University, United Kingdom, memaparkan data tentang penurunan jumlah orang muda yang meminati bidang pertanian. Ada pertanyaan mendasar yang ia ajukan, bagaimana kita akan menjaga kedaulatan pangan bangsa kita jika kita tidak memiliki jumlah petani yang cukup? Ada penelitian yang mengatakan bahwa pada tahun 2063, Indonesia tidak lagi memiliki petani. Bagaimana jika hal tersebut benar-benar terjadi?

Sebagian peserta yang mengikuti webinar.

Pentingnya kehadiran dan keberadan petani kembali digaris bawahi oleh Ibu Isti (adik mendiang Pater Bernardinus Herry Priyono, S.J.) dari LPUBTN. Menurut Bu Isti, petani memiliki peran yang penting dalam menjaga kedaulatan pangan di Indonesia. Oleh karena itu, dukungan kita terhadap para petani perlu sungguh-sungguh diberikan. Secara pribadi dan kelembagaan, Bu Isti banyak terjun langsung mendampingi para petani. Ia pernah mendampingi para petani di daerah Njlarem dan Gantang, Jawa Tengah. Dalam proses pendampingan ini, pemberdayaan para petani menjadi hal yang tidak mudah. Ia menyadari bahwa saat kita berkecimpung dalam dunia pertanian, maka akan bersinggungan pula dengan “kekuatan lain” yaitu politik dan kekuasaan. Politik dan kekuasaan akan berdampak langsung pada kehidupan para petani, misalnya saat bersinggungan dengan harga komoditas pertanian dan bagaimana distribusi komoditas pertanian itu terjadi. Kenyataannya, para petani di Indonesia seringkali tidak selalu bisa menentukan harga komoditas yang mereka budidayakan dengan segala jerih payah mereka. Kendati sulit, LPUBTN dan Bu Isti tetap berjuang untuk mendampingi para petani, buruh dan nelayan. KPTT seringkali dilibatkan pula dalam proses pendampingan para petani. Saat ini, kami sedang menyiapkan ratusan bibit alpukat dan program biogas untuk proses pemberdayaan di daerah Gantang, Paroki Banyutemumpang. Semoga gerakan pemberdayaan ini sungguh-sungguh mampu memberdayakan para petani. 

Di akhir webinar, Rm. Sunu sebagai moderator membuka sesi tanya jawab dan tanggapan. Dalam sesi ini muncul beberapa usulan, misalnya apakah memungkinkan membuka kursus pertanian yang secara khusus diarahkan untuk para pekerja kantoran, sehingga mereka tetap bisa bertani meskipun tidak secara langsung berkecimpung secara penuh di dunia pertanian. Muncul juga beberapa pertanyaan apakah mungkin jika KPTT melakukan pendampingan secara online pada para petani di tempat lain. Dari hasil presentasi para petani beras organik, banyak pula yang tertarik dengan produk beras kualitas organik dan muncul niat-niat pribadi untuk ikut terlibat memasarkan produk beras yang dikembangkan oleh Mas Hengky dan Mas Adiyo. Di akhir webinar, terjadi kesepakatan bahwa kegiatan webinar ini akan diselenggarakan setiap satu selapan (35 hari), yang  akan diadakan pada setiap Sabtu Kliwon. Maka, pada bulan November nanti, KPTT akan mengadakan lagi webinar yang secara khusus akan mengangkat tema-tema menarik seputar pertanian. Semoga kegiatan ini sungguh menjadi sarana bagi para TEMAN TANI untuk bisa saling berbagi ilmu, berkomunikasi dan berkolaborasi.

Kontributor : Antonius Dieng Karnedi, S.J.

More
articles

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *