Pilgrims on Christ’s Mission

Safeguarding Serikat Jesus

Kuria Roma

Program Pelatihan Menyeluruh tentang Safeguarding

Untuk semakin mengembangkan budaya dan lingkungan aman dalam komunitas Jesuit global, Serikat telah meluncurkan program pendidikan dan pelatihan menyeluruh yang bertujuan untuk melindungi anak di bawah umur dan orang dewasa rentan. Inisiatif ini, atau dikenal dengan nama Program Promosi Budaya Perlindungan yang Konsisten (Promotion of a Consistent Culture of Protection atau PCCP), akan diterapkan di seluruh ranah kerasulan Serikat Jesus yang mencakup pendidikan pra-sekolah menengah dan menengah, pendidikan tinggi, pendidikan informal, karya-karya sosio-pastoral, formasi Jesuit, iman dan spiritualitas, dan jejaring global. PCCP telah disebut oleh Pater Jendral Arturo Sosa, S.J. dalam De Statu Societatis 2023. Audit global PCCP yang diselesaikan tahun 2022 mengidentifikasi kebutuhan akan pelatihan atau lokakarya yang berkualitas yang mendorong perumusan program global ini. Setelah konsultasi ekstensif dengan para Superior Mayor, para Delegat Safeguarding di tingkat Konferensi, berbagai Sekretariat dan jejaringnya, akhirnya usulan pelatihan menyeluruh atau komprehensif mengenai safeguarding disetujui pada Juni 2023. Pater Jenderal telah menunjuk Pater John Guiney, S.J. menjadi Koordinator dan Dr. Sandra Racionero-Plaza sebagai Asisten. Mereka akan memulai bekerja pada Januari 2024 hingga tiga tahun ke depan. Mereka bertanggung jawab mengorganisasi dan mengimplementasikan program pelatihan ini dalam kolaborasi dengan semua Provinsi dan karya Serikat Jesus di seluruh dunia. Dalam surat yang ditujukan kepada semua Superior Mayor tertanggal 8 Desember 2023, Pater Jenderal menekankan pentingnya Program PCCP yang baru sebagai langkah maju yang signifikan dalam mengemban misi bersama untuk menghapuskan tindak pelecehan, seperti yang diuraikan dalam poin kedua Preferensi Kerasulan Universal, Berjalan bersama Mereka yang Tersisih. Program ini dipandang sebagai inisiatif strategis dan berdampak sosial karena berkontribusi pada upaya yang sedang dilakukan Serikat, yaitu menciptakan budaya perlindungan bagi seluruh anggotanya. Fokusnya adalah merancang program pelatihan dan mengembangkan kurikulum khusus untuk setiap ranah karya kerasulan. Para Presiden Konferensi dan Tim Delegasi memainkan peran penting dalam memastikan pelaksanaan program yang efektif. Pater Jenderal telah menyerukan pentingnya kolaborasi, partisipasi, dan dukungan dari semua Provinsi dan bekerja keras sehingga program ini dapat memenuhi mandat ambisius seperti ditetapkan dalam KJ 36, yaitu menciptakan budaya perlindungan dan keamanan yang konsisten. Selain itu, Serikat juga merayakan tonggak sejarah lainnya pada 8 Desember 2023 yaitu dengan diterbitkannya edisi terbaru Promotio Iustitiae yang sepenuhnya didedikasikan bagi PCCP. Publikasi ini berfungsi sebagai dokumen utama yang menawarkan wawasan tentang sejarah PCCP dan kontribusi keenam Konferensi, menyoroti pengalaman konkret dalam mendampingi korban, mengembangkan kebijakan dan protokol, dan contoh-contoh keberhasilan dari upaya pencegahan di berbagai lingkungan pendidikan dan masyarakat umum. Dalam edisi ini, diterbitkan dalam empat bahasa dan tersedia akses terbuka, juga menampilkan refleksi tentang pelatihan dan formasi yang diperlukan. Jaringan-jaringan utama Serikat universal, seperti Jesuit Refugee Service, Fe y Alegria, dan Xavier Network, telah memberikan kontribusi dalam edisi ini dan semakin memperkaya pemahaman menyeluruh mengenai upaya-upaya perlindungan di komunitas-komunitas Jesuit kita. Serikat Jesus, selain mendorong disebarluaskannya Promotio Iustitiae edisi terbaru ini, juga mengharapkan partisipasi aktif dari semua anggota untuk mempromosikan misi perlindungan dan budaya aman ini bagi seluruh keluarga besar Ignasian. Anda dapat mengunduh dokumen Promotio Iustitae: A Journey to Justice and Hope di sini. Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel “Society of Jesus Launches Comprehensive Safeguarding Training Programme” dalam https://jcapsj.org/2024/01/society-of-jesus-launches-comprehensive-safeguarding-training-programme/ Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat SJ Provindo pada tanggal 31 Januari 2024.

Provindo

Protecting Children and Vulnerable Adults bagi Jesuit Muda

Safeguarding Workshop Pada 1-4 Agustus 2023, sebanyak 46 Jesuit muda mengikuti Leadership Development Program (LDP) dengan tema Workshop Orientasi Dasar terkait Safeguarding (Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan) di Rumah Retret Syalom, Bandungan, Kabupaten Semarang. Acara ini merupakan bagian ongoing formation imam dan bruder muda yang belum berkaul akhir dan dilaksanakan setiap tahun sebagai sarana pembekalan keterampilan dan kepemimpinan para Jesuit muda dalam karya. Tahun 2022 tema yang diangkat adalah perihal tata kelola keuangan dalam Serikat Jesus. Tahun ini, tema yang akan dibahas adalah safeguarding the minors and vulnerable adults. Para pemateri adalah Tim Safeguarding di bawah koordinasi Pater Eko Sulistyo, S.J. dan Pater Bambang Irawan, S.J., yakni Bapak Sigit Widiarto (Fakultas Hukum UAJY), Ibu Hotmauli Sidabalok (Fakultas Hukum dan Komunikasi Unika Soegijapranata), Ibu Titik Kristiyani (Fakultas Psikologi USD), dan Ibu Iswanti. Pada hari pertama, acara dibuka secara resmi oleh Pater Provinsial. Pater Yusup Edi Mulyono, S.J. Koordinator ongoing formation Jesuit muda, memberikan pengarahan umum. Tak kalah menarik adalah sambutan Pater Jenderal Arturo Sosa yang dikirimkan dari Lisbon. Peserta kemudian mengadakan sharing mengenai pemahaman dan praktik safeguarding di tempat karya masing-masing. Pada hari kedua, Ibu Titik memberikan materi mengenai boundaries, Tripod of Relational Safety Model, dan menganalisis Faktor Risiko dan Faktor Protektif pelaku dan korban kekerasan seksual. Ibu Iswanti melanjutkan pemaparan dengan mempergunakan studi kasus dalam kelompok. Para peserta diajak menganalisis bentuk kekerasan, bentuk relasi, dampak, faktor penyebab, dan pencegahannya. Pada hari ketiga, Ibu Hotmauli dan Bapak Sigit memberikan perspektif hukum sipil tentang safeguarding. Ada banyak undang-undang yang dirujuk mulai dari KUHP, UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, UU Perlindungan Anak, UU ITE, Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi, dan sebagainya. Pater Bambang Sipayung, S.J. memberikan pedoman penanganan kasus safeguarding menurut hukum Serikat Jesus. Ada banyak diskusi menarik pada hari ini yang memberi insight bagi para peserta. Acara hari ketiga dilanjutkan dengan outing. Peserta membentuk kelompok sendiri seturut minat. Ada yang memilih wisata kuliner, wisata heritage, dan wisata alam. Ternyata, minat tertinggi ialah tanding sepakbola di Novisiat Girisonta. Lebih dari 20 orang memilih sepakbola ke Girisonta. Sesudah pertandingan kolaborasi imam muda dan Novis SJ, dilanjutkan pertandingan nostri KAJ vs KAS. Acara hari keempat lebih merupakan acara sharing dan pengendapan. Pater Philipus Bagus Widyawan, S.J. Romo Kepala Paroki Botong dan Pater Stephanus Advent Novianto, S.J. yang bertugas di Pusat Pastoral Ketapang, Kalimantan Barat memberikan sharing mengenai misi SJ di Bumi Borneo. Pater Martinus Dam Febrianto, S.J. yang baru pulang dari Inggris memberikan update mengenai JRS dan karya kerasulan sosial di Indonesia. Mereka memberi peluang kerja sama bagi para imam dan bruder lain untuk terlibat. Acara ditutup dengan pengarahan umum Pater Edi Mulyono, S.J. dan pemutaran film dokumenter workshop ini. Kontributor: P Surya Awangga, S.J.

Provindo

Komitmen Serikat Jesus akan Budaya Aman

Sebagai bagian dari komitmen Serikat Jesus dalam budaya aman (safeguarding) dan perlindungan terhadap anak dan orang dewasa rentan di setiap institusi karya di bawah Serikat Jesus, diadakan Workshop Lanjutan terkait Safeguarding di Griya Paseban Semarang, 12-14 Mei 2023. Workshop lanjutan ini merupakan tindak lanjut dari Basic Orientation Workshop on Safeguarding Vulnerable Persons (BOWS) yang telah berlangsung di Bali pada 1- 10 September 2022 yang lalu. Tujuan dari workshop ini adalah melihat perkembangan pelaksanaan budaya aman di tiap institusi karya setelah BOWS tahun lalu. Workshop lanjutan ini juga menjadi sarana untuk menyatukan gerak bersama dan saling belajar dalam usaha membangun budaya aman dalam dan antar institusi karya SJ terlebih bagi institusi karya yang belum mengikuti BOWS di Bali yang lalu. Setiap institusi mengirimkan wakil dari anggota tim atau satgas yang ditugaskan untuk menjadi koordinator atau animator budaya safeguarding di institusinya. Dalam workshop ini, kebanyakan peserta datang dari institusi pendidikan di bawah SJ. Selain para peserta BOWS tahun lalu, mereka antara lain adalah perwakilan dari Yayasan Kanisius, Universitas Sanata Dharma, Politeknik ATMI Cikarang, Politeknik ATMI Solo, Tim Komunikator Provindo, dan delegat Komisi Pendidikan SJ. Ada 31 peserta yang hadir secara tatap muka dalam workshop ini; peserta lain yang berhalangan mengikutinya secara daring. Ada tujuh anggota Tim Safeguarding Provindo hadir menjadi fasilitator dalam workshop ini. Sebelum workshop ini berlangsung, para peserta terlebih dahulu diajak untuk mengidentifikasi situasi aktual di masing-masing institusi karya dan kebutuhan yang mendesak terkait penciptaan budaya aman. Masing-masing institusi karya dibantu untuk mengenali situasi aktualnya dengan melihat empat pokok berikut: Satu, Pasca BOWS: Apa hal pokok yang Anda bisa terapkan di institusi atau lembaga karya Anda, dari Workshop Safeguarding BOWS yang lalu? Hal apa yang sudah Anda kerjakan secara konkret setelah Workshop tersebut? Dua, sesuai dengan standard SJ: Apakah dalam institusi Anda SUDAH memiliki dan menerapkan protokol perlindungan (yang terdiri atas Kode Etik, Sistem Pelaporan, dan Pendampingan kepada Korban)? Tiga, Kesulitan dan tantangan: Tantangan dan kesulitan macam apa yang Anda hadapi terkait membangun budaya aman dan implementasi kebijakan safeguarding di tempat karya atau institusi Anda? Empat, harapan untuk Tim Safeguarding Provindo: Bantuan dan dukungan seperti apa yang diharapkan dari Tim Safeguarding Provindo? Sebagian besar peserta yang hadir merupakan peserta yang baru sekali mengikuti seminar terkait safeguarding semacam ini. Mereka semakin menyadari bahwa safeguarding pertama-tama bukanlah terkait penanganan kasus pelecehan semata, melainkan juga sebuah usaha proaktif untuk menciptakan lingkungan yang aman di mana setiap orang dihormati martabatnya sebagai pribadi. Mereka merasa terbantu dan bersemangat untuk menjadikan budaya aman sebagai bagian integral dari pelayanan di institusi mereka. Para peserta juga bisa belajar dari institusi lain yang telah mempunyai sistem dan infrastruktur yang jelas terkait penciptaan budaya aman. Workshop diakhiri dengan penyusunan rencana tindak lanjut dalam masing-masing institusi karya. Di akhir workshop, para peserta menerima sertifikat keikutsertaan. Workshop semacam ini akan diadakan secara rutin sebagai bagian dari pencegahan dan pelatihan terkait safeguarding dalam tiap institusi SJ. Rencana selanjutnya adalah mengadakan workshop sejenis untuk paroki-paroki yang dikelola oleh SJ. Untuk paroki, tentu agak berbeda situasinya karena setiap paroki mengimplementasikan kebijakan yang telah dirumuskan oleh masing-masing keuskupan. Pelatihan dan usaha pencegahan semacam ini diharapkan menjadi bagian dari komitmen untuk budaya aman ini bisa terus dijalankan dan dihidupi dalam institusi karya SJ. Hal ini juga menjadi langkah konkret kita untuk mewujudkan preferensi kedua dari Universal Apostolic Preferences SJ, Berjalan bersama kaum miskin, mereka yang terbuang di dunia, mereka yang martabatnya dirusak, dalam pelayanan rekonsiliasi dan keadilan.” AMDG Kontributor: Pater Y. Eko Sulistyo, S.J. – Delegat Safeguarding