Pilgrims on Christ’s Mission

paroki bongsari

Pelayanan Gereja

Finding God Through the Lens

Canon Community Goes To Paroki Bongsari Sebuah acara yang diprakarsai oleh OMK Paroki Bongsari bekerja sama dengan Canon Indonesia sukses diselenggarakan di Ballroom Grha Argya, Gereja Paroki Bongsari, pada Minggu, 9 Maret 2025. Acara yang mengangkat tema Finding God Through the Lens ini dihadiri oleh sekitar 70 peserta dengan rentang usia mulai dari 10 hingga 70 tahun. Mereka berasal dari berbagai paroki di Semarang dan luar kota Semarang. Fenomena ini menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap dunia fotografi dan bagaimana seni ini dapat menjadi sarana refleksi iman.   Menemukan Tuhan Melalui Fotografi Sejak pukul 08.00 pagi, peserta telah berkumpul dengan semangat untuk menyelami dunia fotografi lebih dalam. Acara ini menghadirkan dua narasumber profesional, Misbachul Munir dan Angelie Ivone, yang berbagi ilmu serta pengalaman mereka dalam dunia fotografi.   Misbachul Munir membahas teknik dasar fotografi, mulai dari pemahaman pencahayaan, komposisi, hingga pengaturan kamera yang tepat untuk menangkap gambar berkualitas. Sementara itu, Angelie Ivone membimbing peserta dalam memahami fotografi sebagai sarana untuk menangkap keindahan dan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.   Melalui konsep Finding God Through the Lens, peserta diajak untuk melihat bahwa setiap momen, keindahan alam, dan ekspresi manusia adalah refleksi kasih Tuhan yang dapat diabadikan melalui kamera. Baik peserta yang masih anak-anak maupun yang sudah berusia lanjut, semuanya menemukan perspektif baru dalam mengamati dunia melalui lensa kamera.   Dari Teori ke Praktik: Mengabadikan Momen dengan Makna Selain sesi teori, peserta juga diajak untuk langsung mempraktikkan teknik yang telah dipelajari. Dalam sesi ini, mereka diberikan tantangan fotografi yang tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga mendorong mereka untuk menangkap gambar dengan makna spiritual.   Menariknya, berbagai generasi yang hadir dalam acara ini memberikan sudut pandang yang unik dalam menangkap momen. Anak-anak mencoba mengabadikan dunia dengan keceriaan mereka, kaum muda lebih menonjolkan ekspresi artistik, sementara peserta yang lebih senior banyak mengambil gambar yang merefleksikan pengalaman hidup dan spiritualitas mereka.   Dukungan dari Canon Indonesia dan Datascript Sebagai penyelenggara utama, Canon Indonesia dan Datascript turut menghadirkan berbagai perangkat fotografi yang bisa dicoba langsung oleh peserta. Mereka juga memberikan wawasan tentang perkembangan teknologi kamera terbaru serta cara memanfaatkan fitur-fitur yang tersedia untuk mendukung hasil foto yang optimal.   Refleksi dan Harapan ke Depan Acara yang berlangsung hingga pukul 16.00 sore ini ditutup dengan sesi tanya jawab serta pemberian sertifikat kepada peserta. Banyak dari mereka mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan belajar yang diberikan dan berharap acara serupa dapat kembali diadakan di masa mendatang.   Dengan adanya pelatihan fotografi ini, diharapkan komunitas Gereja semakin mampu mendokumentasikan setiap momen penting dalam kehidupan menggereja dengan lebih baik. Lebih dari sekadar keterampilan teknis, Finding God Through the Lens menjadi ajang refleksi bahwa fotografi dapat menjadi sarana evangelisasi dan komunikasi iman yang kuat.   Gereja Paroki Bongsari mengucapkan terima kasih kepada Canon Indonesia dan Datascript atas dukungan serta kolaborasi yang telah terjalin. Semoga semangat belajar dan berkarya terus berkembang, membawa terang bagi banyak orang melalui seni fotografi.   Kontributor: Bonaventura Satria Hagi Putra – Panitia

Pelayanan Gereja

56 Tahun Paroki Bongsari Gembira Melangkah

Gembira bersama kita melangkah, itulah sepenggal lirik dari Mars Paroki St. Theresia Bongsari karya alm. Martin Runi. Kalimat ini selalu digaungkan dalam semangat hidup umat Paroki Bongsari. Umat diajak melangkah maju dengan penuh kegembiraan sembari mewartakan sabda Allah kepada sesama.   Tak terasa paroki St. Theresia Bongsari memasuki usia 56 tahun. Sebuah perjalanan yang cukup panjang untuk sebuah paroki dalam menjaga keharmonisan dan kesejahteraan komunitasnya. Dalam rangka tahun formatio iman di Keuskupan Agung Semarang, HUT Paroki mengambil tema “Dengan Spiritualitas St. Theresia mewujudkan formatio iman berjenjang dan berkelanjutan”.   Menilik 56 tahun yang lalu, tahun 1968, paroki St. Theresia Bongsari resmi berdiri dan dikepalai oleh Pater Ingen Housz, S.J. Nama St. Theresia dipilih sebagai nama paroki Bongsari karena doa sebuah keluarga telah terkabul melalui perantaraan St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus. Sejarah pemilihan nama ini disampaikan oleh Pater Didik Chahyono, S.J., sebagai pastor kepala pada saat homili dalam misa perayaan HUT Paroki Bongsari pada Minggu, 6 Oktober 2024 lalu.   Dalam homilinya, Pater Didik juga menyampaikan kehidupan St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus yang menginspirasi langkah hidup umat Bongsari. Dalam homili tersebut, Pater Didik menyampaikan bahwa St. Theresia merupakan seorang biarawati yang rajin berdoa. St. Theresia ini menganggap dirinya seperti bunga mawar kecil yang akan ia berikan kepada orang-orang yang memohon perantaraannya.     Perayaan Ekaristi Puncak Hari Ulang Tahun Paroki dipimpin oleh Pastor Kepala dengan konselebran romo vikaris parokial Pater Agustinus Sarwanto, S.J., Pater Thomas Surya Awangga, S.J., dan Pater Clemens Budiarta, S.J. pada 6 Oktober 2024. Ekaristi ini diawali dengan perarakan vandel, dilengkapi pemberkatan gunungan sayur dan diiringi dengan paduan suara Mlengse Voice yang berkolaborasi dengan tim keroncong Tjong D’goest dari Paroki Banyumanik, Semarang.   Pada saat memasuki angka 58 (lima dan delapan), Pater Didik berharap bahwa Paroki Bongsari dapat menjadi paroki yang sungguh “mapan.” Kemapanan ini ditunjukkan dengan gedung pelayanan pastoral Grha Argya, kapel adorasi, dan tata kawasan yang sudah selesai dibangun sebagai fasilitas-fasilitas pendukung untuk kegiatan umat paroki Bongsari. Dalam perayaan ini ada juga launching dan pengenalan website parokibongsari.org yang dilengkapi dengan fitur data umat (SIBO) dan pemesanan ruang.   Pasca perayaan Ekaristi, umat langsung disambut dengan hidangan bubur yang telah disiapkan oleh perwakilan umat dari setiap wilayah di paroki Bongsari. Bubur yang disiapkan pun beragam, mulai dari yang gurih seperti bubur dengan topping telur bacem dan sambal goreng sampai bubur candil yang manis. Sembari menikmati hidangan bubur, umat yang hadir juga disuguhi oleh berbagai penampilan dari perwakilan umat Paroki Bongsari.   Ada berbagai rangkaian acara HUT Paroki Bongsari. Bentuk acara ini merupakan implementasi Preferensi Kerasulan Universal Serikat Jesus. Paroki Bongsari membuat beberapa kegiatan, antara lain: Menunjukkan Jalan Menuju Allah: sepanjang bulan Oktober mengadakan empat kali pertemuan katekese pelindung paroki, mengenal spiritualitas St. Theresia di akhir doa rosario. Berjalan Bersama yang Terkucilkan: pembagian sembako untuk masyarakat yang membutuhkan pada puncak HUT Paroki. Peziarahan Bersama Orang Muda: mengadakan katekese untuk anak-anak yang melibatkan sinergi pendamping PIA dan tim OMK pada 8 September 2024. Merawat Rumah Kita Bersama: melakukan kegiatan tabur benih ikan dan senam bersama di area waduk Jatibarang, Kec. Gunungpati pada 29 September 2024.     Meskipun dikemas sederhana, kegembiraan yang terpancar dari umat yang hadir dalam perayaan HUT ke-56 paroki Bongsari sungguh dapat dirasakan dalam rangkaian acara ini. Semoga di usia semakin matang, Paroki semakin menghidupi kharisma St. Theresia, memakai horison Preferensi Kerasulan Universal Serikat Jesus, dan dalam kesepahaman dengan gerak gereja Keuskupan Agung Semarang.   Sebagai pelengkap sukacita ulang tahun, pada tanggal 23 Oktober 2024, Komsos Paroki Bongsari memenangkan lomba film dokumenter dengan tema Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB) tingkat Kevikepan Semarang. Ada dua kategori yang dimenangkan, yakni Juara I dan Juara Favorit. Hadiah diberikan langsung oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam acara penutupan tahun FIBB di Paroki Kudus. Semoga iman umat semakin diperdalam dan nama Allah semakin dimuliakan dengan pencapaian-pencapaian ini.   Kontributor: Anastasia Adristri – Paroki Bongsari 

Pelayanan Gereja

Pemberkatan dan Peresmian Gedung Pelayanan Pastoral Paroki Bongsari di Hari Kemerdekaan RI

Tepat di peringatan hari kemerdekaan RI, 17 Agustus 2024, Bapak Uskup Mgr. Robertus Rubiyatmoko meresmikan dan memberkati Gedung Pelayanan Pastoral Grha Argya, Paroki St Theresia Bongsari Semarang. Pemberkatan dilakukan dalam misa konselebrasi bersama Provinsial Serikat Jesus Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. dan Pastor Paroki Pater Eduardus Didik Chahyono, S.J., beserta empat pastor yang lain, yaitu Pater Agustinus Sarwanto, S.J., Pater Thomas Surya Awangga, S.J., Pater Clemens Budiarta, S.J., dan Pater Bonifasius Melkyor Pando, S.J. Selain peresmian Grha Argya, diresmikan pula Kapel Adorasi St Ignatius (taman dan kawasan baru Gereja Bongsari).   Di hari penuh syukur ini Bapak Uskup mengajak seluruh umat untuk bersyukur atas selesainya pembangunan gedung pelayanan pastoral Grha Argya yang memiliki arti rumah pemuliaan atau persembahan kepada Allah. Lalu apa yang akan kita persembahkan untuk kemuliaan Allah? Apa yang kita persembahkan dengan gedung ini? “Persembahan itu tentu persembahan terbaik dan berkualitas, yaitu iman kita,” tandas Monsinyur.   “Saya berharap, iman akan Yesus Kristus dapat berkembang dengan adanya Gedung Pelayanan Pastoral Grha Argya. Karena gedung ini dipakai untuk proses pembinaan iman dan pewartaan secara terus-menerus dan dari waktu ke waktu. Ini melibatkan anak-anak sampai orang dewasa. Gedung ini akan menghasilkan buah berlimpah ketika umat yang terlibat memberikan diri penuh ketulusan hati, kerelaan, dan dedikasi demi kemuliaan Tuhan,” harap Bapak Uskup.   Sementara itu Pater Didik menyampaikan bahwa pembangunan gedung pelayanan pastoral ini menelan biaya lebih dari 12 milyar rupiah. Dari mana dananya? Pater pun tidak tahu. “Karena kita tidak memulainya dengan simpanan yang ada. Melainkan memulainya dengan Tuhan Yesus dan Bunda Maria, serta tentunya seluruh umat,” tandasnya. Pada kesempatan tersebut, Ketua Panitia Pembangunan, Ignatius Natalis Utomo, menyatakan rasa syukur atas selesainya pembangunan ini. Menurutnya, panitia telah bekerja sejak 2019 atau hampir 5 tahun. Ia pun memperkenalkan satu per satu panitia pembangunan. Dengan diresmikannya gedung pelayanan dan berakhirnya pembangunan, Natalis menyerahkan secara simbolis kunci gedung pelayanan kepada ketua PGPM Paroki Bongsari, Pater Didik.      Sebagai bentuk syukur diadakan pemotongan tumpeng dan penandatanganan prasasti peresmian sebelum berkat penutup. Penandatangan prasasti dilakukan oleh Bapak Uskup, Provinsial Serikat Jesus, dan Romo Kepala Paroki Bongsari. Tumpeng yang dipotong oleh Bapak Uskup diserahkan kepada Pater Didik dan Pater Benny menyerahkan potongan tumpeng kepada Natalis Utomo. Di akhir misa, Bapak Uskup menyampaikan proficiat kepada umat Paroki Bongsari. Menurutnya, Paroki Bongsari adalah paroki yang getol, gencar, dan bersemangat dalam pembangunan dan penggalian dana. “Dalam beberapa kesempatan saya berpesan kepada paroki-paroki lain. Contonen Bongsari kae le golek dana luar biasa dan proses yang dijalani sesuai prosedur berdiskusi dengan Tim Pembangunan Ekonomat Keuskupan!” ungkap Bapak Uskup.   Pembangunan yang menelan biaya 12 M lebih itu meliputi gedung pelayanan pastoral dua lantai dengan luas 1600 m persegi lengkap dengan sound system dan furniture, kapel adorasi, taman, dan penataan kawasan. Setelah Perayaan Ekaristi ada pesta umat. Masing-masing lingkungan menyediakan minimal 40 porsi makanan dan minuman. Sambil menikmati sajian makan malam, umat menyaksikan tampilan dari adik-adik PIA, komunitas adiyuswa, musik OMK, gamelan soepra SMA Loyola, dan group Paksi band dari Yogyakarta.   Hadir dalam acara ramah tamah Kardinal Julius Darmaatmadja, Bante Cattamano, dan beberapa tokoh lintas agama. Dalam acara ramah-tamah disampaikan juga tanda penghargaan pada lingkungan dan donatur. Kemeriahan acara yang dilangsungkan di depan Gedung Pastoral yang megah menggambarkan kegembiraan umat atas keberadaan gedung pastoral paroki. Antonius Iwan Wahyudi selaku ketua panitia pemberkatan dan peresmian menyatakan, ”Saya sangat bersyukur proses pembangunan bisa berjalan lancar dan acara pemberkatan serta peresmian berlangsung meriah. Tidak kurang 1000 umat mengikuti perayaan Ekaristi belum termasuk para penampil yang bersiap mengisi acara. Umat mengapresiasi berhasilnya pembangunan gedung pelayanan pastoral dan tata kawasan gereja yang tampak luas, indah, sejuk, dan nyaman.”   Kontributor:  Antonius Tri – Panitia Peresmian Gedung Grha Argya dan Tata Kawasan Gereja St. Theresia Bongsari Semarang

Pelayanan Gereja

Visualisasi Jalan Salib dan Pesan Kemanusiaan di Gereja Bongsari: ENGKAU IKUTLAH DENGAN-KU

Gereja Bongsari, yang berada di bawah penggembalaan Serikat Jesus, terus mengekspresikan keberanian dan inovasinya dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang mendalam dan relevan. Salah satu ekspresi dari semangat ini adalah melalui visualisasi jalan salib yang dipersembahkan oleh orang muda Katolik. Visualisasi ini bukan hanya sebuah sarana keagamaan tetapi juga menjadi sebuah medium untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan dengan realitas sosial dan spiritual di sekitar kita.   Dengan tema Paskah yang menggugah hati, Engkau Ikutlah dengan-Ku, jalan salib dipentaskan oleh lebih dari 60 orang muda Katolik (OMK) di Gereja Bongsari. Ini tidak hanya sekadar pertunjukan visual. Jalan salib ini mencerminkan semangat kebangkitan dan harapan yang terus dinyalakan dalam iman Katolik. Teman-teman muda tidak hanya menghadirkan visualisasi yang memukau tetapi juga menyampaikan pesan-pesan yang mengajak untuk bertindak lebih empatik, mengatasi ketidakpedulian, dan meningkatkan kepedulian antarsesama.   Visualisasi jalan salib ini bukanlah semata-mata untuk dinikmati secara estetis. Di balik setiap gerakan dan simbol, terdapat pesan yang dalam tentang pentingnya kemanusiaan dan empati dalam kehidupan sehari-hari. Orang Muda Katolik yang menjadi bagian dari visualisasi ini bukan hanya sebagai aktor, melainkan juga sebagai pembawa pesan tentang bagaimana menghadapi tantangan ketidakpedulian dan kurangnya kepedulian antarsesama di lingkungan sekitar.     Dalam konteks ini, visualisasi jalan salib di Gereja Bongsari tidak hanya menjadi ekspresi keagamaan, melainkan juga refleksi komitmen Gereja dalam memperkuat iman dan memancarkan dampak positif bagi masyarakat. Pesan yang disampaikan melalui visualisasi ini mengajak umat Katolik untuk mengikuti jejak Kristus dalam tindakan nyata, khususnya dalam hal empati, mengatasi ketidakpedulian, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.   Melalui tema Engkau Ikutlah dengan-Ku, Gereja Bongsari membangun panggung untuk mengajak para umat bertindak lebih aktif dalam menyebarkan kasih dan keadilan di dunia ini. Pesan kebangkitan dan harapan yang disampaikan melalui visualisasi jalan salib ini menjadi inspirasi dan panggilan setiap individu untuk berkontribusi dalam menciptakan dunia yang lebih baik, yang dipenuhi dengan tindakan-tindakan empatik, dan kepedulian yang berkelanjutan. Dengan demikian, visualisasi jalan salib di Gereja Bongsari bukan hanya menjadi pertunjukan keagamaan, tetapi juga menjadi perwujudan nyata nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sesama yang menjadi inti ajaran Kristiani.   Kontributor: Bonaventura Satria Hagi Putra – OMK Bongsari

Pelayanan Gereja

Mewujudkan Mimpi melalui Konser Rohani

Memiliki gedung pusat pelayanan paroki serta penunjang aktivitas menjadi impian para umat Paroki Santa Theresia Bongsari. Selang setahun setelah penggempuran aula lama, proses ini senantiasa masih berjalan. Rabu, 16 Agustus 2023, konser rohani untuk menggalang dana bertajuk Maria Bunda Pemersatu digelar di Gumaya Tower Hotel Semarang dengan menampilkan Edward Chen, Grezia Epiphania, Maria Priscilla, dan Vanessa Axelia. Keempat penyanyi tersebut melantunkan pujian-pujian rohani dengan alunan musik dari CBC Band. Sebelumnya, konser dibuka dengan penampilan talenta-talenta suara dan musik dari Paroki Santa Theresia Bongsari yang tergabung dalam komunitas Bongsari Music Ministry. Konser yang dihadiri oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang (KAS), Bapa Uskup Robertus Rubiyatmoko, menjadi simbol merajut mimpi terwujudnya Gedung Pelayanan Pastoral. “Keringat” panitia pembangunan dan panitia konser diusap oleh perolehan dana melalui penjualan tiket, pelelangan ruangan dan lukisan, serta donasi dari para donatur. Satu hal yang unik adalah bahwa konser rohani ini menunjukkan wajah Paroki Santa Theresia Bongsari sebagai paroki yang inklusif melalui keterlibatan pelukis disabilitas dalam pelelangan lukisan. Tak hanya itu, sebuah kejutan bagi semua pihak ketika Kardinal Julius Darmaatmadja melelang cincin imamatnya sebagai bantuan dana pembangunan gedung. Perjuangan belum usai. Langkah demi langkah, bergerak dan bersinergi. Melalui Bunda Sang Pemersatu – seperti tema konser Maria Bunda Pemersatu – mimpi untuk memiliki Gedung Pelayanan Pastoral disatukan melalui kolaborasi berbagai pihak sebagai wujud kehidupan paroki. Kontributor: Adeane Yuna – Paroki Santa Theresia Bongsari

Pelayanan Gereja

Bangkit Bersama Merawat Bumi

Ada yang unik dan istimewa dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional kali ini, yaitu Gereja Katolik Paroki Santa Theresia Bongsari Semarang mengadakan kegiatan bersih pantai dan tuang eco enzym di Pantai Tirang, Semarang. Kegiatan bertajuk Kebangkitan Orang Muda Merawat Bumi diselenggarakan pada 21 Mei 2023 dan diikuti oleh 150 orang muda lintas agama, antara lain OMK (Orang Muda Katolik) Gereja Bongsari, Gereja Atmodirono, Gereja Ambarawa, PMKRI, dan Gusdurian. Hadir pula dalam kegiatan tersebut Kyai Haji Muhammad Abdul Qodir, Pater Eduardus Didik Chahyono, S.J., pengurus Pantai Tirang, perwakilan dari Sponsor Janish Home- Samuel Julianto Purnomo, Perwakilan dari Unika Soegijapranata- Dadut Setiadi, wakil Dewan Pastoral Paroki Bongsari- FX. Joko Priyono, dan Ketua Bidang Pelayanan Paroki Bongsari- Antonius Iwan Wahyudi. Victoria Sulistyawati, selaku ketua panitia, mengungkapkan, “Saya gembira acara ini diikuti oleh banyak orang muda lintas agama. Upaya kita untuk memperhatikan bumi tidak dapat dilakukan sendiri dan hanya golongan. Semua komponen masyarakat harus bersinergi dan bekerja sama merawat bumi rumah kita bersama.” Gerardus Raka Wisnu Wardana, perwakilan orang muda Katolik Paroki Bongsari, mengungkapkan,”Paus Fransiskus, sebagai pimpinan umat Katolik tertinggi di dunia, telah mengeluarkan Ensiklik Laudato Si pada tanggal 24 Mei 2015. Ensiklik ini merupakan ajakan dan seruan kepada kita semua dari berbagai golongan dan komunitas, dari berbagai penjuru dunia untuk bergerak bersama merawat bumi. Sejak saat itu di satu minggu terakhir di bulan Mei, kita akan merayakan Pekan Laudato Si, di mana secara khusus dalam pekan tersebut kita melakukan kampanye global untuk mengajak semua umat manusia bergerak bersama merawat bumi. Tahun 2023 ini, Pekan Laudato Si diperingati pada tanggal 21 – 28 Mei.” Melalui kegiatan ini, Paroki Santa Theresia Bongsari berusaha untuk menghidupi Preferensi Kerasulan Universal Serikat Jesus. Paroki Bongsari mengupayakan dapat berjalan bersama orang muda dan merawat bumi rumah kita bersama. Perlu diketahui selama setahun ini ada sejumlah rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Paroki Bongsari untuk membangun kesadaran umat dan masyarakat untuk memperhatikan lingkungan hidup, antara lain pengelolaan sampah dan memanfaatkan air hujan. Setelah kegiatan bersih pantai ini, para peserta bersama orang muda lintas agama diajak untuk melakukan refleksi bersama di Ruang Teater Gedung Thomas Aquinas, Universitas Katolik Soegijapranata pada 28 Mei 2023. Kontributor: Pater Eduardus Didik Chahyono, S.J. – Paroki Bongsari

ngobrol perdamaian di bongsari
Pelayanan Gereja

NGOPI (Ngobrol Perdamaian Indonesia)

Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan rahmat yang pantas disyukuri dan dijaga terus-menerus oleh seluruh komponen bangsa dan Negara Indonesia.Untuk itu, Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Kevikepan Semarang,Komisi Kepemudaan Kevikepan Semarang bekerja sama dengan Persaudaraan Lintas Agama Kota Semarang,Gusdurian mengadakan acara Ngopi Srawung Orang Muda Lintas Agama. Kata “Ngopi” diartikan sebagai Ngobrol Perdamaian Indonesia. “Srawung” merupakan kata dari bahasa Jawa yang artinya bergaul akrab. Dari acara ini diharapkan orang-orang muda lintas agama dari berbagai tempat dapat bergaul akrab untuk selalu memperhatikan perdamaian Indonesia. Dalam acara “ngopi” itu, orang-orang muda lintas agama tersebut bertekad bulat untuk menjaga persatuan,merawat kebhinekaan dan mengisi kemerdekaan Indonesia dengan karya-karya nyata yang memajukan bangsa dan negara. Acara “Ngopi” tersebut dilaksanakan di halaman Gereja St Theresia Bongsari Semarang pada Sabtu, 17 Agustus 2019.Upaya membangun keakraban dilakukan dengan mengadakan lomba-lomba permainan yang menarik seperti karet wajah, estafet karet gelang,makan krupuk dan balap karung.Setelah lomba-lomba keakraban,para peserta berbincang dalam sarasehan dengan pembicara Dewi Prasida,sosok yang dikenal sebagai gadis berjilbab yang bersalaman dengan Paus Fransiskus di Vatikan ketika belajar soal kerukunan beragama dan Setyawan Budi. Dewi mengungkapkan perjuangan untuk membangun kerukunan penuh tantangan. Ia pun tidak lepas dari kecurigaan dan komentar negatif atas aktivitas bersama dengan umat beragama lain. Ia minta bagi kita yang masih bisa berpikir waras mengajak orang muda terus mengembangkan semangat toleransi. Rm Eduardus Didik Chahyono SJ selaku Pastor Kepala Paroki Bongsari sekaligus Ketua Komisi Hubungan antarAgama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang menyatakan, “Acara ini dapat dijadikan upaya mendukung fokus pembangunan pemerintah saat ini yang ingin mengembangkan Sumber Daya Manusia agar menjadi unggul sehingga Indonesia makin maju. Kegiatan ngobrol perdamaian Indonesia diharapkan dapat mencerdaskan orang-orang muda dalam menghayati agama dan mendewasakan dalam pergaulan dengan teman-temannya yang menghayati agama berbeda.Dengan kecerdasan beriman,kedewasaan dan kematangan diri,harapannya orang muda dapat lebih berkontribusi membangun Indonesia.” Acara “Ngopi” makin terasa meriah karena ada tampilan rebana dari Pondok Pesantren Raudhatul Solihin Sayung Demak, nyanyian dari Vitalen, Remaja Gereja Bongsari dan Tari Sufi dari Pondok Pesantren Al-Islah.Hadir dalam acara itu Bambang Suranggono mewakili Walikota Semarang, tokoh lintas agama, Mahasiswa mahasiswi IAIN Kudus, pemuda Hindu, Budha, Katholik, Kristen dan warga masyarakat. Sebelum mengakhiri pertemuan Jimmy, pengelola E-Coffee, berkesempatan untuk berbagi pengalaman dan informasi terkait dengan kopi, minuman yang sedang digemari banyak orang. Jimmy mengajak minum kopi secara sehat. E. Didik Cahyono, SJ