Februari ini, usia saya 58,5 tahun, usia pra-manula. Sudah sewajarnya berhenti bekerja di institusi formal. Saya akan banyak di rumah. Tak ada lagi pertanyaan dari tetangga atau teman saat berjumpa di kompleks perumahan, “Sekarang tugas di mana, Pak?” Tentu saya sangat berterima kasih kepada JRS Indonesia yang telah memberi saya kesempatan untuk bergabung, sejak pasca Tsunami, Displacement Prevention Program, Need Assessment untuk Returnee Papua, Be Friend with Refugee sampai Journey with de Facto Refugee di Bogor dalam rentang waktu sekitar 16 tahun. Apa Rencana setelah Purna Kerja? Memasuki masa purna kerja, tentu saya akan memasuki ritme baru dalam aktivitas hidup keseharian, dari yang semula bekerja dengan rule of game yang jelas dan tertib, masuk jam 8 dan pulang jam 5 sore, mulai Senin sampai Jumat, dan tinggal di perantauan, kemudian saya akan tinggal di rumah dengan kegiatan yang diatur dan disusun sendiri, tanpa rutinitas berangkat dan pulang. Bangun pagi itu pasti, namun setelah terjaga dan mulai beraktivitas, apalagi yang mesti dikerjakan, nyuci, masak, bersihin rumah atau pekerjaan domestik lainnya, lalu mau ngapain lagi ya? Tentu ritme hidup dengan aktivitas di seputaran rumah BTN yang kecil dan tak ada lahan pekarangan akan sangat membosankan. Belum ada gambaran aktivitas yang bersifat olah pikir atau intelektual, atau kerja meja, mungkin saya sudah nggak mampu. Saya berharap, masih bisa bekerja, meski bekerja kasar, turun ke sawah misalnya, jadi petani penggarap. Alat saya adalah cangkul dan sabit, dan tubuh saya siap dibakar matahari yang terik. Kebernilaian manusia adalah bekerja, meski hanya untuk diri sendiri, dan mungkin tampak tak berguna bagi orang lain, yang penting adalah niat, sehat, dan semangat untuk tetap beraktivitas. Dengan tetap beraktivitas, badan dan pikiran tidak statis sehingga menjadikan badan dan pikiran tetap seiring dan sejalan. Jika banyak bengong tanpa aktivitas, bisa jadi badan duduk atau rebah di mana, pikiran lari ke mana, terlalu banyak melamun adalah awal ketidakberdayaan. Pekerjaan dan Hidup Saya Sepanjang hidup, sudah banyak pekerjaan yang saya jalani. Mulai dari reporter saat koran lagi booming pada akhir tahun 1980an. Usia 25 tahun, saya bergabung dengan koran baru anak usaha Kompas-Gramedia Group di Jawa Timur. Itulah awal saya masuk dunia kerja formal. Lalu pada tahun 1993 selesai kuliah, saya bergabung dengan LSM yang masih ada kaitan dengan dunia pers dan pelatihan reporter di Yogyakarta. Pernah juga jadi kuli pabrik di Korea Selatan akhir dekade 1990-an (semata-mata ingin cari uang setelah krismon). Lalu saya kembali gabung LSM yang berfokus pada penelitian dan bermitra dengan LIN (Lembaga Informasi Nasional) untuk penelitian tentang potensi integrasi dan potensi konflik di beberapa daerah. Saya pernah ke perbatasan Aceh, Kabupaten Dairi, Provinsi Sumut pada tahun 2002, ke Tapanuli Utara (Tarutung) pada 2003, dan ke Aceh Utara dan Kabupaten Jayapura, Papua pada tahun 2004. Barulah pasca Tsunami, 2005, tepatnya bulan Juli saya bergabung dengan JRS di Aceh. Saya berangkat ke Medan pada 09 Juli 2005 dan selanjutnya ke Meulaboh pada 12 Juli. Saat itu Aceh masih konflik. Setelah Respons Tsunami Aceh selesai 2007, JRS merambah ke wilayah Aceh Selatan untuk Program Displacement Prevention, dengan proyek andalan Pengurangan Risiko Bencana (Disaster Risk Reduction) setelah UU Penanggulangan Bencana disahkan tahun 2007 ((UU NO 24/Tahun 2007). Saya bergabung sejak need assessment sampai jadi IAO untuk untuk Proyek Komunitas. Pertengahan 2011, saya berhenti dan pulang ke Yogyakarta. Saya sempat berkuliah Ilmu Religi dan Budaya di Universitas Sanata Dharma selama 3 semester. Lalu pada awal 2013, saya bergabung lagi dengan JRS selama enam bulan untuk melakukan need assessment kepada para returnee yang berada di kabupaten perbatasan Provinsi Papua dan Papua Nugini (New Guinea). Saya sempat ke Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura, juga ke Kabupaten Merauke. Saya menemani Bung Doni (Donatus Akur) yang sebelumnya juga sebagai koordinator di Proyek Komunitas Program Displacement Prevention di Aceh Selatan. Bulan Oktober dan November, saya ditugasi lagi oleh JRS untuk kembali ke Aceh Selatan untuk penjajagan evaluasi proyek Displacement Prevention setelah ditutup dua tahun. Dua kali saya ke Aceh Selatan, pertama dengan Mbak Elis untuk penjajagan evaluasi eksternal dan yang kedua dengan Bung Enggal (mantan IAO Proyek Aceh Selatan) untuk menemani para evaluator eksternal. Kembali ke JRS Saya mulai aktif bergabung kembali sebagai staf JRS sejak 2014 untuk proyek Be Friend with Refugees, untuk para pencari suaka yang ditahan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Surabaya, tepatnya di Bangil, Kabupaten Pasuruan. Saya bertugas sebagai Information and Advocacy Officer (IAO) dan juga caregivers untuk para refugee yang ditahan di Rudenim dengan memberikan kegiatan psikososial. Di Rudenim ada tiga lembaga yang bertanggung jawab, yaitu Imigrasi, IOM, dan UNHCR. JRS ikut memberikan pelayanan psikososial untuk para pencari suaka. Pernah suatu waktu, seorang pencari suaka mengatakan bahwa UNHCR ibarat ayah karena melindungi pencari suaka, IOM ibarat Ibu karena memberi makan dan fasilitas lainnya, dan JRS hanyalah teman. Tapi pencari suaka paling dekat dengan teman, karena JRS lah yang mau mendengar dan memenuhi yang pencari suaka minta, seperti kegiatan psikososial antara lain turnamen futsal, turnamen bola voli, berenang, berkebun dan juga piknik ke taman Safari di Pandaan Pasuruan. Tiga tahun saya mendampingi pengungsi di Rudenim Surabaya. Setelah itu, awal 2017 saya ditugasi untuk mencoba program yang sama di Rudenim Pontianak, Kalimantan Barat namun tidak dapat terlaksana. Kemudian Program Psikososial untuk deteni di Rudenim dipindahkan ke Rudenim Medan, Sumatera Utara. Di Rudenim Medan, saya jalankan kegiatan psikososial sampai akhir 2018. Pada tahun ini, ada kebijakan Rudenim tidak lagi menahan para pencari suaka sejak Maret 2018 dan pelan-pelan semua pencari suaka yang sudah ditahan dikeluarkan kemudian dipindah ke Community Housing. Praktis Rudenim kosong sampai akhir 2018. Kemudian pada 2019 saya ditugaskan ke PSS (Psychosocial Support) selama tiga tahun, dan pada 2022 ditugaskan sebagai IAO pada proyek Journey with de facto Refugees. Praktis total saya bergabung dengan JRS hampir 16 tahun, hampir setengah dari masa kerja saya. Tentu banyak kenangan dan dinamika yang dirasakan selama kurun waktu tersebut. Selain mengenal teman-teman sekerja dari berbagai latar belakang, saya juga mengenal beberapa Pater dari Serikat Jesus, mulai dari Pater Edy Mulyono, S.J.; Pater Adrianus Suyadi, S.J.; Pater Thomas Aquinas Maswan Susinto, S.J.; Pater Peter Benedicto Devantara SJ, dan direktur baru JRS Pater Martinus Dam Febrianto, S.J. Saya