Kegiatan yang Aman untuk Anak

JRS 1

Kalau ada gempa, lindungi kepala,

Kalau ada gempa, masuk kolong meja,

Kalau ada gempa, jauhilah kaca,

Berlari ke luar, kumpul di lapangan…

Dari lokasi pengungsian sayup-sayup terdengar suara anak-anak bersama para pendamping yang menemani mereka. Dengan semangat, mereka menyanyikan lagu favorit yang sering dinyanyikan di setiap lokasi pengungsian selama masa pemulihan di Sulawesi Tengah.

Bencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi di beberapa kawasan di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 meninggalkan duka yang mendalam bagi mereka yang mengalaminya sendiri. Banyak orang yang terpisah dari keluarga yang dicintainya. Harta benda dan tempat tinggal hancur. Anggota tubuh terluka, bahkan juga ada yang hilang.

Banyak anak ikut menderita, terpisah dari orangtua dan keluarga. Mereka perlu diperhatikan secara khusus. Sangat penting mendampingi penyintas anak-anak dengan memperhatikan kesehatan mental mereka. Beberapa anak sulit beradaptasi di tempat tinggal sementara. Mereka menjadi mudah tersinggung, marah, atau menarik diri. Beberapa dari mereka mengungkapkan rasa frustrasi dalam perilaku yang menantang.

Saya mengharapkan agar kegiatan yang kami berikan dapat memberi arah yang jelas dan mendukung para penyintas untuk memulihkan diri dan meningkatkan ketahanan secara lebih baik. Melalui kegiatan-kegiatan yang tidak hanya menyenangkan, namun juga menumbuhkan rasa percaya diri, membantu penyesuaian dan memulihkan trauma, JRS berupaya menyediakan bagi mereka ruang yang aman, kesempatan untuk tertawa dan saling berbagi rasa.

Bencana memberi pengaruh dengan berbagai cara bagi anak-anak, para remaja, orang-orang dewasa, orang-orang lanjut usia, dan orang-orang difabel. Seperti di daerah bencana yang lainnya, yang sering dipikirkan pertama kali di Sulawesi Tengah adalah kegiatan-kegiatan ramah anak, tetapi melakukan kegiatan-kegiatan itu secara baik dan berkelanjutan bukanlah tugas yang mudah. Data yang dikumpulkan oleh koordinator Program Dukungan Psikososial di Kementerian Sosial menunjukkan bahwa mayoritas organisasi menyediakan kegiatan bagi anak-anak (55%), remaja (22%), dewasa (12%), dan lansia (5%) di 119 lokasi pemindahan di daerah-daerah Palu, Sigi, dan Donggala. Daripada kelompok-kelompok usia yang lainnya, anak-anak yang berusia 5 sampai 12 tahun menerima dukungan psikososial yang porsinya lebih besar.

Lebih banyak tidak selalu lebih baik. Salah satu koordinator lokasi pengungsian mengatakan bahwa banyak organisasi bersedia membantu anak-anak, tetapi kadang-kadang tanpa komunikasi dengan koordinator lokasi pengungsian, mereka langsung mendekati anak-anak dan bermain dengan mereka. Ada hari-hari ketika anak-anak dalam sehari mengikuti dua sampai tiga sesi bermain bersama sukarelawan, dari organisasi-organisasi yang berbeda, dan setiap sesi bermain lamanya satu sampai dua jam. Akibatnya, mereka menjadi terlalu lelah untuk belajar.

Kegiatan-kegiatan bermain bersama anak-anak perlu dipersiapkan secara matang dan terstruktur, disesuaikan dengan kebutuhan mereka, dan dikoordinasikan. Semua ini tidak mudah. Ketika mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan, kita perlu merefleksikan dapatkah kita menjadi panutan yang baik bagi anak-anak dan kegiatan apa yang dapat mendukung mereka. Perlahan, aktivitas kita dapat memberikan ruang yang aman dan menggembirakan, menumbuhkan harapan, ketahanan, dan keterampilan yang memperkuat mereka dalam kehidupan mereka setelah bencana.

Para penyelenggara kegiatan psikososial perlu memperhatikan setiap anak dan kondisinya, memastikan bahwa semua anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, dapat berpartisipasi. Satu langkah sederhana yang kami lakukan adalah bertanya siapa yang tidak dapat datang pada hari ini dan mengapa, sehingga kami dan anak-anak dapat pergi ke tempat mereka untuk mengundang mereka bergabung dengan kami. Orang yang mau mendampingi, melayani, dan mengadvokasi anak-anak pengungsi perlu menyadari hak-hak mereka atas pendidikan, untuk bermain dan melibatkan diri dalam kegiatan bersama. Dalam perencanaan, kita perlu menemukan ruang kegiatan yang aman dan bersih, untuk mengurangi risiko anak-anak mengalami cedera dan jatuh sakit.

Setiap Lembaga Swadaya Masyarakat di daerah bencana perlu belajar dari pengalaman siapa pun, mendengarkan warga masyarakat, menyediakan makanan yang bergizi bagi anak-anak, mempromosikan mentalitas sadar lingkungan, memastikan agar sampah masuk ke tempatnya, sebelum memastikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan menyuntikkan nilai-nilai moral.

Mendampingi dan melayani anak-anak itu menyenangkan dan menantang pada saat yang sama. Banyak waktu dibutuhkan untuk mempersiapkan dan merencanakan, dan lebih banyak waktu dibutuhkan untuk menemukan cara memastikan bahwa komunitas dan otoritas di sekitarnya mengakui dan memenuhi hak-hak mereka. Saya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa anak-anak yang sehat dan tangguh pada masa kini adalah generasi penerus yang sehat dan tangguh pada masa depan.

Entis Sutisna, Koordinator Proyek dukungan Psikososial untuk Penyintas Bencana Alam, Sulawesi Tengah membagikan catatan pengalamannya dalam mengorganisasi kegiatan untuk anak-anak di kamp pengungsian.

tulisan diambil dari Newsletter JRS bulan Mei 2019

Found something interesting? share to friends....

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *