Jambore Kebangsaan KawaN 2019

Pada haru Sabtu, 2 Maret 2019 kami mengikuti Jambore Kebangsaan yang bertempat di Paku Haji, Tanggerang, Banten. Acara ini diselengarakan oleh KawaN (Kawal Nusantara) dan menyasar teman-teman sesama siswa SMA yang merupakan “New Voters” dari berbagai sekolah
kanisius kolese berkumpul

Pada hari Sabtu, 2 Maret 2019, kami mengikuti Jambore Kebangsaan yang bertempat di Paku Haji, Tanggerang, Banten. Acara ini diselengarakan oleh KawaN (Kawal Nusantara) dan menyasar  teman-teman sesama siswa SMA yang merupakan “New Voters” dari berbagai sekolah di Jakarta dan Tangerang. Kami kumpul di Kanisius pada pukul 05.00 dan berangkat pada pukul 05.30. Kami sampai di Paku Haji pada pukul 07.15 dan melakukan registrasi ulang.

Acara dimulai pada 8.30 dengan upacara bendera dan game untuk ice breaking dan dilanjutkan pembagian kelompok. Saya sendiri termasuk dalam kelompok 8 yang berangotakan 17 orang dan memilih nama Mawar. Setelah pembagian kelompok, ada acara games yang kami ikuti. Pos Pertama adalah brogol tali, di mana tangan ditali dan disambung dengan teman sekelompok, tujuannya adalah melihat bahwa sesuatu yang rumit sebenarnya bisa diselesaikan secara sederhana. Pos kedua adalah pos bujur sangkar, di mana semua anggota kelompok diberi penutup mata dan di minta untuk membuat bujur sangkar, kelompok saya di pos ini kacau karena salah memegang tali pada saat dibagikan tali, oleh itu koordinasi sukar dilakukan, karena asumsi tali lurus menjadi muter-muter kacau balau. Dan pos terakhir adalah pos untuk rel zig-zag untuk bola plastik, kelompok saya dalam pos ini lebih beruntung tetapi kurang maksimal dalam melaksanakan, dari 17 titik belok, hanya 6 yang terlewati, hal ini karena kurang komunikasi dan anggota yang tergolong pasif.

Setelah menyelesaikan serangkaian games, Kami melanjutkan acara dengan snack dan ibadah bagi teman-teman yang beragama Muslim. Setelah snack kami melanjutkan dengan game how long can you go, yaitu kelompok diminta menggunakan alat terbatas untuk membuat semacam tali sepanjang yang kita bisa. Setalah game ini, acara dilanjutkan dengan pemberian materi pemilu dan sosialisasi penggunaan hak pilih beserta dampak yang dialai Indonesia jika rakyat tidak menggunakan hak pilih. Acara dilanjutkan dengan games anti hoax yaitu pesan berantai yang cukup rumit. Acara ditutup dengan pembagian kaos dan prosesi penyalaan api unggun dengan hening sebagai bentuk pemaknaan acara serta simbolisasi api sebagai semangat tiap individu yang menyatu menjadi satu semangat yang besar. Akhirnya acara diselesaikan dengan menyanyi lagu nasional dan foto bersama.

Para siswa Kolese Loyola sedang mengikuti kegiatan KawaN (Kawal Nusantara)

Acara ini diselenggarakan akibat keprihatinan teman-teman dari KawaN terhadap masyarakat yang termakan budaya hoax, menggunakan kebhinnekaan sebagai senjata, dan terhadap usaha oknum untuk memecah-belah bangsa. Oleh sebab itu, acara ini diselenggarakan dalam upaya menyelaraskan fakta dan membuat orang memiliki pemikiran berdasarkan data dan fakta obyektif, serta untuk membina toleransi dan pluralism anatara umat beragama dan juga antara suku budaya.

Menurut saya, acara-acara serupa dengan acara ini baik untuk dilaksanakan, hal tersebut karena acara seperti ini dapat mempererat silahturahmi siswa-siswi antar sekolah yang berbeda agama, ras, dan suku bangsa; setelah itu didalam masyarakat luas terdapat banyak isu mengenai perbedaan entah agama, suku, ataupun ras yang dijadikan sumber konfik, konteoversi, dan konfrontasi maka dalam acara-acara serupa dengan acara ini teman-teman lainnya akan memiliki kesempatan untuk mengubah perspektif mengenai suatu kelompok tertentu.

Dari berbagai permainan tersebut, kami belajar bagaimana melakukan koordinasi dan komunikasi serta pelaksanaan yang efektif dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Selain itu, kita harus memiliki mata jeli dalam mempercayai informasi yang beredar di masyarakat agar jangan terhasut, melainkan melihat situasi keadaan dengan fakta yang obyektif dan benar. Harapan saya adalah acara seperti ini dapat menjadikan generasi kedepan yang semakin berkualitas dan memiliki semangat pluralisme dan persatuan dalam keberagaman dalam naungan Pancasila.  

Yohannes Maria Vianney Widoputranto (Siswa SMA Kolese Kanisius, Jakarta)

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *