Natal 2018: Mencecap Pengalaman dicintai Allah

Dalam Natal 2018 kemarin, saya dan teman-teman Skolastik Filosofan Kolese Hermanum menggunakan kesempatan liburan untuk berkunjung ke rumah keluarga kandung di Cibubur - Jakarta dan Jogja serta mengunjungi rumah-rumah keluarga anggota Serikat yang ada di Purwokerto dan Bandung.
septian dan para frater natal di cilacap
septian dan para frater natal di cilacap
Liburan para Frater Kolman ke Pekalongan

Dalam Natal 2018 kemarin, saya dan teman-teman Skolastik Filosofan Kolese Hermanum mendapat kesempatan untuk berlibur bersama keluarga dan teman-teman terdekat dari tanggal 23 Desember 2018 hingga 3 Januari 2019. Saya sendiri menggunakan kesempatan liburan tersebut untuk berkunjung ke rumah keluarga kandung di Cibubur – Jakarta dan Jogja serta mengunjungi rumah-rumah keluarga anggota Serikat yang ada di Purwokerto dan Bandung. Salah satu pengalaman yang berkesan dan menjadi oleh-oleh dalam liburan kali ini adalah saat saya berkunjung ke rumah keluarga Frater Erwin dan mengikuti Misa Natal di Kapel Stasi Wangon.

Tidak seperi pada perayaan Natal biasanya, Misa dan perayaan Natal Stasi Wangon saat itu menjadi sangat special karena Bapak Uskup Purwokerto, Mgr. Christophorus Tri Harsono datang dan memimpin misa bersama umat katolik di tempat ini. Dengan gaya tutur katanya yang khas, Bapak Uskup menyampaikan homili tentang makna natal tentang kasih Allah yang tiada batasnya bagi umat manusia. Homili Bapak Uskup mengingatkan saya kembali pada kebaikan dan cinta Allah pada umat-Nya lewat kelahiran Yesus Kristus di dunia. Kelahiran-Nya menjadi tanda bahwa Allah sudah mau terlebih dahulu mencintai umat-Nya jauh sebelum kita sadar dan ingin membalas cinta Tuhan tersebut.

Sejalan dengan homili Bapak Uskup, Natal selalu menjadi momen pembaharuan bagi hidup saya untuk mencecap kembali pengalaman dicintai oleh Allah. Kontemplasi Penjelmaan dalam Latihan Rohani Minggu Kedua kembali menggema dalam hati dan perasaan saya. Kontemplasi Penjelmaan menjadi peristiwa bagaimana Allah terlebih dahulu mencintai saya dengan memberikan Putera-Nya yang tunggal demi keselamatan diri saya dan seluruh umat manusia. Natal mengingatkan saya pada bagaimana Allah selalu punya banyak cara untuk mencintai saya lewat kehadiran keluarga, teman dekat, anggota komunitas, dan Serikat Yesus.

Saya pun membayangkan kembali, kelahiran bayi manusia ke dunia adalah rahmat istimewa karena dirinya mulai merasakan apa artinya cinta dari kedua orang tuanya. Kelahiran Yesus Kristus ke dunia pun menjadi rahmat yang teristimewa karena menjadi bukti kongkrit Allah masih mau mencintai umat-Nya yang berdosa. Allah nggak cuma ‘nongkrong’ di singgasanaNya aja dan memerintah semaunya dari atas sana. Bagi saya itu bukanlah sosok Allah yang aku imani dan alami. Allah yang aku imani dan alami adalah Allah yang mau ‘bela-belain’ turun ke dunia dan menjelma jadi manusia demi menyelamatkan kita semua.

Natal adalah peristiwa dimana Tuhan sudah terlebih dahulu mencintai saya sama seperti bapak dan ibu sudah mencintai saya lebih dahulu sejak dalam kandungan ibu. Mau seburuk dan senakal apapun diri saya, mereka tetap mencintai saya tanpa syarat dan kondisi apapun. Cinta Tuhan yang tanpa syarat dan kondisi itu pun selalu mengusik hati saya untuk mau berbagi cinta ada siapa saja, mau mewartakan Immanuel kepada semua orang, bahwa Tuhan selalu beserta kita. Dan akhirnya, bagi saya natal adalah peristiwa dimana saya diundang untuk mencecap kembali rahmat dan cinta Tuhan untuk saya dan semua orang di dunia ini. Selamat Natal 2018 dan Tahun Baru 2019.

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *