Pilgrims on Christ’s Mission

English

Café Puna: ‘Discerning the Will of God’

On Thursday, 22 May 2025, the Jesuit Scholasticate of Pulo Nangka hosted Café Puna, a relaxed forum for sharing experiences related to Ignatian spirituality with the scholastics of the Society of Jesus. The event, running from 7.30-9 PM, was held both in-person at the Pulo Nangka Scholasticate and online via Zoom.   The theme ‘Discerning the Will of God,’ had successfully attracted 65 participants on-site and 50 online, including environmentalists, students, and members of various religious groups interested in spiritual life and discernment. The main session featuring Scholastics Herdian and Pond, discussed the three stages of discretion in Ignatian spirituality. The focus was on the third stage, where decisions are made through calm reasoning rather than intense emotions or experiences.     It was emphasized that this reasoning should include inner freedom, allowing a choice that is not only good but also glorifies God and is fulfilling. The session concluded with a Q&A, where participants discussed the challenges of discernment in life and work choices. Jesuit fathers, including Fr Sardi, Fr Effendi, Fr Siwi, and Fr Widi, answered questions and stressed the importance of daily reflection and spiritual guidance. Overall, this event served as an enlightening space for spiritual growth, with hopes for its continuation as a platform for exploring Ignatian spirituality.   Contributor: Fr. Alexius Aji Pradana, SJ – Public Relations of Café Puna

Karya Pendidikan

Dari Ragu Menjadi Percaya

Pada 25–26 April 2025, saya mengikuti kegiatan rekoleksi gabungan kelas X angkatan 38 dan kelas XI angkatan 37 SMA YPPK Adhi Luhur, Kolese Le Cocq d’Armandville. Kegiatan ini bertujuan untuk merenungkan kembali perjalanan hidup kami, memperdalam relasi dengan Tuhan, dan mempererat hubungan antar teman.   Saat pertama kali mendengar berita mengenai rekoleksi, saya merasa senang karena rekoleksi kali ini akan menginap di sekolah. Meski demikian, beberapa teman sepertinya kurang suka jika kegiatan ini menginap. Namun saya juga merasa kurang antusias karena saya khawatir tidak bisa bekerjasama dengan adik kelas.    Dinamika Kelompok Dalam rekoleksi kali ini saya masuk ke dalam kelompok yang beranggotakan 9 siswa dari total 20 kelompok. Dalam dinamika pembagian tugas, saya mendapat bagian membawa panci. Selama rekoleksi kami diwajibkan untuk menyiapkan sendiri kebutuhan untuk makan dan minum. Sebelum berangkat saya sedikit cemas karena dalam kelompok tidak ada yang memilih membawa kompor. Namun setelah sampai di sekolah sudah ada teman yang membawa kompor walaupun saya tidak tahu siapa yang membawanya.   Arti Kemenangan Tema rekoleksi tahun ini adalah “Melangkah Bersama di Jalan Harapan”. Sesi pertama rekoleksi kali ini Pater Yohanes Adrianto, S.J. menerangkan tentang “Kisah Kemenangan”. Beliau menjelaskan bahwa kemenangan bukan hanya tentang sesuatu yang besar seperti juara lomba, juara kelas atau memenangkan olimpiade. Kemenangan bisa diraih juga dari sesuatu yang kecil seperti berhasil berdamai dengan masa lalu yang buruk, berhasil mengontrol emosi, atau berhasil melawan rasa malas. Saya pun mengingat-ingat kembali kemenangan kecilku, yaitu saya berhasil melawan rasa malas untuk melakukan eksperimen setelah menyelesaikan bab kedua karya ilmiah. Kemenangan yang lainnya saya sekarang lebih rajin beribadah atas keinginan sendiri. Sekarang saya sudah sidi dan masuk Persekutuan Anggota Muda (PAM) di gereja.    Belajar dari Kegagalan Kegagalan adalah kondisi ketika suatu usaha atau rencana tidak mencapai hasil yang diharapkan. Setiap manusia pasti pernah mengalami yang namanya kegagalan, lalu banyak orang yang merasa kehilangan motivasi atau merasa sedih sehingga tak ingin mencoba lagi. Tapi tak sedikit juga yang menjadikan kegagalan sebagai motivasi untuk berusaha lebih keras lagi, itulah poin penting dari materi pada sesi kedua, kegagalan.    Kegagalanku adalah gagal melawan rasa malas, cara saya berusaha menghadapi rasa malas ini dengan melakukan berbagai kegiatan seperti mengerjakan tugas, bermain di luar rumah, atau membantu orang tua di rumah. Kegagalan yang lain adalah saya dalam pelajaran matematika sehingga saya cukup kecewa. Dan saat ini saya memilih untuk fokus mempelajari pelajaran lain yang lebih saya kuasai daripada matematika.    Memperbaiki Diri Sesi ketiga kami belajar mengenai memperbaiki diri. Untuk menjadi lebih baik kita perlu memperbaiki sesuatu agar hasilnya bisa lebih maksimal. Saya memperbaiki kebiasaan scrolling HP selama berjam-jam salah satunya dengan berkegiatan di luar rumah agar tak terfokus ke HP.   The Boy Who Harnessed the Wind Pada sesi keempat, kami menonton film The Boy Who Harnessed the Wind. Film ini memberi pesan penting mengenai peran keberanian, kegigihan dan kemauan untuk mencapai hidup yang lebih baik. Setelah menonton, kami diberi kesempatan untuk berefleksi pribadi di area kolese Le Cocq dengan membawa sebatang lilin.   Malam itu, hanya lilinlah yang memberi terang dan menjadi teman. Saya merasakan perasaan yang damai saat menulis, meski angin yang terus bertiup membuat lilinku sering hampir mati. Setelah berdinamika pribadi, kami berkumpul sambil membawa lilin lalu berdoa bersama. Seru dan damainya kegiatan di hari itu kami tutup dengan istirahat di ruang-ruang kelas. Awalnya saya kesulitan tidur, tapi akhirnya saya bisa tidur lelap setelah seharian yang melelahkan.   The Village of Hope Keesokan harinya, Sabtu 26 April 2025, kami bangun sekitar pukul 04.30 WIT untuk memulai memasak sarapan pagi dan berganti pakaian untuk kegiatan luar sekolah. Kami diutus dengan misi yang berbeda-beda dengan hanya diberi amplop yang berisi lokasi dan aktivitas yang dilakukan. Kelompokku mendapat misi harus ke tempat bernama “The Village of Hope” lalu mencari tempat ibadah, menggambar tempat tersebut dan menyanyikan dua lagu bertema Paskah. Kami langsung tahu “The Village of Hope” adalah Kampung Harapan dan segera menuju ke sana. Awalnya saya dan beberapa teman ragu memilih jalan yang harus kami lewati, tapi akhirnya kami mendapati Gereja GBI Pondok Daud. Kami pun sempat salah paham dengan  misinya yang tertulis “Mintalah seseorang untuk menggambar” sehingga kami berpikir orang yang menggambar adalah orang di luar kelompok sehingga kami meminta orang di situ untuk menggambar gerejanya. Untunglah mereka mau menerima permintaan kami, lalu kakaknya mulai menggambar dan kami menyanyikan  dua lagu bertema paskah.    Berbagi Kami lanjut sharing di dalam aula mengenai pengalaman menjalankan misi. Perutusan kami tadi beragam, ada yang ke Pantai Nabire, Taman Gizi, Kantor Pos, Goa Maria KSK, Tugu Nabire Hebat, dll. Ternyata ada yang seharusnya ke Masjid Al Falah hanya saja mereka gagal karena memang misinya cukup sulit. Saya merasa gembira karena boleh menerima misi khusus dan belajar menjalani misi itu dengan baik. Tidak semua misi itu mudah, tetapi mencobanya sepenuh hati itu penting. Dan yang tidak kalah penting juga adalah berani berbagi agar sesama bisa belajar dari setiap kisah yang ada. Karena setiap misi memiliki kisahnya sendiri-sendiri.   Rahmat yang Mengejutkan Dari rekoleksi ini saya belajar banyak hal, mulai dari kerja sama, kebersamaan, motivasi-motivasi, dan sebagainya. Saya tidak menyangka rekoleksi kali ini akan menyenangkan, saya dapat mengenal adik kelas dan bahkan teman seangkatan yang belum terlalu dikenal sebelumnya. Saya awalnya ragu dengan kelompokku sendiri. Saya berpikir kelompok 11 tidak akan kompak, ternyata tidak. Setelah dijalani ternyata mereka cukup menyenangkan dan bisa diandalkan khususnya urusan memasak. Saya mengalami banyak perasaan, ya senang, sedih, bosan, dan sebagainya. Dari yang awalnya ragu, kini saya semakin percaya. Melalui rekoleksi ini saya merasa lebih mampu menghargai diri sendiri dan orang lain, lebih terbuka, dan tidak boleh berprasangka buruk ke orang lain sebelum mengenal dan  melihatnya lebih dekat.   Kontributor: Gracia Tawa Buntu – Siswi Kelas XI 2 SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville

Karya Pendidikan

Kolaborasi Ilmiah, Upaya Merawat Ibu Bumi Rumah Kita

Mengacu pada program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) SD Kanisius Tlogosari Kulon pada semester II tahun ajaran 2024/2025, kami,  SD Kanisius Tlogosari Kulon, mengambil tema Gaya Hidup Berkelanjutan dengan judul projek Bijak Mengelola Sampah. Tidak lepas dari Capaian Pembelajaran (CP) diantaranya adalah peserta didik mengamati, menyelidiki fenomena hubungan ketergantungan antara komponen biotik-abiotik yang dapat mempengaruhi kestabilan suatu ekosistem di lingkungan dan merefleksikan perubahan kondisi alam yang terjadi akibat faktor alam maupun perbuatan manusia. Dan diselaraskan juga dengan Universal Apostolic Preferences (UAP), yaitu merawat ibu bumi rumah kita. P5 ini kami buat berjenjang dan berkelanjutan menjadi tiga fase sebagai berikut: Fase A kelas 1-2 pemilihan bahan ramah lingkungan untuk bungkus makanan, Fase B kelas 3-4 pengolahan sampah menjadi kompos dan eco enzyme, dan Fase C kelas 5-6 memanfaatkan eco enzyme menjadi sabun cair layak pakai dan layak jual.    Kondisi lingkungan di sekitar sekolah serta kebiasaan warga sekolah maupun warga lingkungan sekitar yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan, menjadi latar belakang dalam menentukan tema P5 dan melakukan aksi tersebut.    Proses P5 dilalui oleh peserta didik SD Kanisius Tlogosari Kulon dengan membuat eco enzyme, memanennya, menuangkannya secara rutin di selokan belakang sekolah, menjadikannya sabun cair eco enzyme dan beberapa kali mendapat kesempatan mengedukasi warga sekitar sekolah dengan mendemonstrasikan pembuatan eco enzyme.      Eco enzyme adalah cairan fermentasi yang terbuat dari campuran air, molase, dan kulit buah dengan perbandingan 10:1:3 yang difermentasi selama 3 bulan, merupakan produk alami yang ramah lingkungan. Setelah 3 bulan, eco enzyme siap dipanen. Pembuatan Eco enzyme adalah salah satu solusi untuk mengurangi permasalahan lingkungan di lingkungan sekitar sekolah. Para guru tahu bahwa banyak peserta didik tidak suka dengan kegiatan membuat dan memanen eco enzyme, karena malas kotor dan baunya yang tidak sedap.   “Sedekah Alam” itulah sebutan aksi peduli kami pada ibu bumi. Dengan menuangkan eco enzyme ke selokan sekitar sekolah yang bau dan mampet, ke polder Dempel dan sungai Tlogosari yang sangat keruh dan berminyak. Selain dituang ke selokan, ampas panenan eco enzyme digunakan untuk memupuk pohon-pohon (pohon sukun dan mangga) di sekolah sehingga dapat menghasilkan banyak buah sukun dan mangga yang bisa dinikmati bersama satu sekolah. Selain itu sebenarnya eco enzyme dapat digunakan untuk mencuci pakaian, disinfektan, pembersih lantai dan bantal terapi. Tetapi masih ada keengganan menggunakannya karena aroma dan proses pembuatannya yang membuat jijik. Padahal masih ada bergalon-galon eco enzyme dan sabun cairnya yang siap digunakan. Perlu meyakinkan pada peserta didik serta guru dan karyawan agar tidak enggan menggunakan eco enzyme yang ramah lingkungan itu. Oleh karena itu para siswa kelas V diajak sebagai agen kelestarian lingkungan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan ini di SMA Kolese Loyola dengan melakukan penelitian ilmiah.    Para guru membiasakan diri untuk membekali para siswa dengan pengetahuan awal sebelum mereka diajak berkunjung ke tempat yang mendukung materi tersebut. Ide awal sebenarnya keinginan untuk berbagi pengetahuan tentang eco enzyme. Hal ini disampaikan ke pihak SMA Kolese Loyola melalui Pater Ferdinandus Tuhujati Setyoaji, S.J., Kepala SMA Kolese Loyola, yang kemudian ditanggapi dengan persiapan matang sehingga ide yang sederhana ini menjadi sesuatu yang lebih luas serta mendalam. Ini kali keduanya kami berkolaborasi ilmiah.    MAGIS, ini yang hal dirasakan. Rencana awal hanya menyiapkan beberapa peserta didik saja yang menjadi narasumber dalam presentasi dan demonstrasi membuat sabun eco enzyme. Namun SMA Kolese Loyola justru meminta semua anak harus terlibat. Semua peserta didik harus mengalami hal yang sama (bukan hanya beberapa anak saja yang dipilih untuk presentasi). Sebanyak 87 peserta didik dibagi menjadi 20 kelompok dan mereka diminta masuk ke 20 kelas X dan XI membagikan pengalaman ekologis yang dilakukan di SD Kanisius Tlogosari Kulon.      Tibalah hari yang ditunggu-tunggu, Kamis, 22 Mei 2025,  pukul 06.30 WIB peserta didik sudah siap di sekolah untuk menuju SMA Kolese Loyola. Deg-degan  itu pasti, karena mereka harus bisa mengingat bahan bicara untuk presentasi di depan kakak-kakak nanti. Ini pengalaman yang tak terlupakan. Sesampai di SMA Kolese Loyola, rasa takut itu musnah, karena sambutan kakak-kakak yang luar biasa, sangat ramah, sangat menghargai dengan mendengarkan apapun yang disampaikan adik-adik saat sharing. Meskipun adik-adik ini tampak malu dan grogi tetapi tepuk tangan dan kata-kata positif kakak-kakak membuat adik-adik ini makin suka cita dan percaya diri.   Ibu Etik Maharani, DP. dan Bapak Reynhard Louis Dermawan selaku koordinator kegiatan dari SMA Kolese Loyola dibantu oleh 25 orang murid dan 7 orang guru fasilitator menyiapkan materi ilmiah dengan mengajak peserta didik SD Kanisius Tlogosari Kulon melakukan praktikum fermentasi, ecoprint dan membuat lotion anti nyamuk berbahan alami. Materi yang diberikan oleh SMA Kolese Loyola menguatkan project ekologis yang telah dilakukan di SD Kanisius Tlogosari Kulon. Hal ini sejalan dengan UAP (Universal Apostolic Preferences) – Merawat Ibu Bumi rumah kita dan mendukung gerakan Gaya Hidup Berkelanjutan.    Pendidik hendaknya tidak hanya menjejali peserta didik dengan soal-soal hafalan. Sebaliknya, pendidik juga perlu menanamkan kepedulian pada lingkungan, dengan peka menemukan permasalahan lingkungan, mencari solusinya, dan melakukan aksi nyata. Santo Fransiskus Asisi mengajarkan pada kita untuk menghormati alam ciptaan Tuhan dan menganggap semua makhluk hidup sebagai saudara. Dengan mencintai alam, kita dapat menemukan Tuhan dalam keagungan-Nya.   Kontributor: Khatarina Ika Wardhani – Kepala SD Kanisius Tlogosari Kulon

Penjelajahan dengan Orang Muda

Café Puna: “Discerning the Will of God”

Pada hari Kamis, 22 Mei 2025, komunitas SJ Pulo Nangka menyelenggarakan kegiatan Café Puna (Café Pulo Nangka), sebuah forum santai dan inspiratif untuk berbagi pengalaman dalam menghidupi spiritualitas Ignatian bersama para Frater Serikat Jesus Unit Pulo Nangka. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 19.30 hingga 21.00 WIB dan dilaksanakan secara hybrid, yakni on-site di Komunitas Pulo Nangka serta secara daring melalui platform Zoom.   Kegiatan bertajuk “Discerning the Will of God” ini dihadiri oleh 65 peserta secara langsung dan 50 peserta secara daring, yang terdiri dari umat lingkungan, OMK, mahasiswa, kelompok MAGIS, serta para religius lain yang memiliki ketertarikan pada dinamika hidup rohani dan proses discernment (membedakan kehendak Allah) dalam spiritualitas Ignatius Loyola.   Sesi utama dipandu oleh Frater Herdian, S.J. dan Frater Pond, S.J. yang membawakan pembahasan mengenai tiga waktu diskresi dalam spiritualitas Ignatian. Fokus utama malam itu adalah pada waktu ketiga—yakni momen diskresi di mana seseorang tidak berada dalam kondisi pengalaman batin yang kuat (waktu pertama) maupun gerak rasa yang mencolok (waktu kedua), tetapi mengambil keputusan melalui pertimbangan akal budi yang jernih dan tenang.     Disampaikan pula bahwa pertimbangan akal budi dalam waktu ketiga tidak bersifat kering atau semata-mata rasional. Diskresi ini tetap mengandaikan kebebasan batin, yakni keterbukaan dan keterlepasan dari ketertarikan pribadi yang mengaburkan pandangan. Kebebasan ini memungkinkan seseorang untuk memilih bukan hanya apa yang baik, melainkan apa yang lebih memuliakan Tuhan dan membahagiakan dirinya secara mendalam dan sejati.   Sesi diakhiri dengan tanya jawab interaktif dan sharing pengalaman singkat dari beberapa peserta yang menyoroti tantangan konkret dalam menjalani proses discernment, terutama dalam konteks pilihan hidup dan pekerjaan. Pada sesi ini, pertanyaan-pertanyaan dari para peserta dijawab oleh para Pater SJ yang hadir baik secara langsung maupun online. Mereka adalah Pater Sardi, Pater Effendi, Pater Siwi, dan Pater Widi. Selain bahwa kita harus cermat dalam melakukan diskresi, para penanggap menegaskan pentingnya membangun kebiasaan refleksi harian dan pendampingan rohani sebagai sarana konkret untuk menumbuhkan kepekaan rohani dalam membuat keputusan-keputusan penting.   Akhirnya, kegiatan ini menjadi ruang formasi rohani yang hangat, terbuka, dan mencerahkan, yang diharapkan terus berlanjut secara berkala sebagai wadah bagi kaum muda dan siapa saja yang ingin mendalami spiritualitas Ignatian dalam kehidupan sehari-hari.   Kontributor: Sch. Alexius Aji Pradana, SJ – Humas Café Puna

English

Al-Fatah: An Islamic Institute for Transgender

On Sunday, April 27, 2025, the volunteers of Perkampungan Sosial Pingit (part of Realino societal service unit) were eager for their visit to Al-Fatah, an Islamic institute for transgender people, situated in the village of Cokrodiningratan, Yogyakarta, a location often overlooked by the broader community but significant for the marginalized community living there. The volunteers were warmly greeted by the students, particularly by Kak YS, a transgender woman. She shared the history of Al-Fatah, founded in 2008 by Ibu Shinta Ratri, a transgender Muslim activist. The school was established to create a safe space for transgender individuals to learn and practice their faith.   Al-Fatah is inclusive, welcoming both Muslim and Christian transgender women. It aims to offer compassion and acceptance to individuals facing discrimination and rejection in society, providing them with a sense of belonging. The community encourages students to engage in various activities, including community service and learning skills like makeup and catering, to support their livelihoods. Many students, however, face challenges in securing jobs due to societal stigma and a lack of formal identification.   Kak YS shared her personal experiences with stigma, recounting instances of discrimination even from religious figures. Despite this, she emphasized the importance of self-acceptance, urging students to stay true to themselves regardless of societal expectations. The life lesson of embracing one’s identity amidst adversity resonated deeply, highlighting the significance of personal acceptance.   Ustadz Arif Nur Safri, who teaches at the school, encouraged critical thinking about the negative labels used against transgender individuals. He highlighted that awareness and education are vital in combating discrimination and fostering acceptance of everyone’s identity.   The visit was timely, occurring shortly after Easter and just before Eid al-Fitr, reinforcing a message of love and acceptance reminiscent of the teachings of Jesus. The volunteers reflected on the importance of embracing marginalized groups with compassion, inspired by the idea that we are all children of God, deserving of love, regardless of our differences.   As the day came to a close, the volunteers left with a renewed commitment to support marginalized individuals. They recognized the ongoing challenges faced by these communities and were motivated to contribute positively, including through teaching and community involvement. The heartfelt exchanges during their visit left a lasting impact, underscoring the idea that justice and love can coexist in the pursuit of equality for all.   The lovely dusk of that afternoon sent us home after we all had a warm conversation with the students of Al-Fatah.    Contributor: Basilika Rain – volunteer teacher at Pingit Social Village  

English

Courage amid Doubt: From the Sidewalk to the Leadership Throne

The ORSIKA (school organization of PIKA) candidates experienced a unique public speaking exercise on May 16, 2025, where they had to give impromptu speeches in front of strangers during a traffic jam. Initially seen as a public speaking task, it became a moment of reflection on overcoming fears and the significance of courage.   Participants like Evelyn shared their nervousness, with her mistakenly saying ‘good morning’ in the afternoon, but realizing that courage is about taking the first step despite imperfections. Galuh reflected on her fear of being scolded but felt confident when no one criticized her during her speech. Saka, who went first, dealt with feelings of panic but learned that overthinking can hinder progress. They all recognized that facing experiences is crucial for managing feelings and thoughts.   The idea that self-confidence does not come naturally was evident. Isa, despite thorough preparation, found herself blank, realizing that self-mastery takes practice. Vania’s perspective changed when she saw her friends’ confidence, emphasizing that a supportive environment fosters growth. Kevin discovered that he could speak in public without needing familiar faces around, while Kenzi noted that doubts could hinder improvement.   Participants also discussed how labels and expectations hold them back. Joy faced self-limiting beliefs from her past as an introvert but found bravery by expressing her opinions spontaneously. Brigitta experienced freedom from worrying about others’ judgments, stating that “daring to be disliked is liberating.” Gio reflected on overcoming his shyness and past failures, realizing through this speech that he could be confident.   The importance of community support emerged strongly as participants shared how their surroundings influenced their experiences. Jenifer, who often overthinks, learned that people do not dwell on our mistakes, feeling proud rather than ashamed of performing. Mulky, while admitting some challenges during his speech, felt bolstered by his friends’ encouragement and aimed to support others in discovering their potential.   Although it lasted no more than a minute, the oration experience had a profound impact on the ORSIKA candidates. Each of them discovered something new about themselves such as courage, poise, spontaneity, and self-acceptance. It’s not just about performing and speaking in public, but they learnt to know themselves and others better.   The twelve candidates cultivate positivity, from fear to gratitude. This experience is a good start to learn to be a courageous leader. A leader is not the one who is fearless yet someone who dares to act despite fear. They wanted to learn to lead not because they could, but because they tried to be faithful to the task they were given. From the red light that afternoon, these young leaders-to-be have shown us a sign that they are ready to go further, not to be articulate, but to bring positive influence to their community.   Contributor: Sch. Y. K. Septian Kurniawan, S.J.

English

The Festive Inauguration of Eco Camp and Children’s Gathering of Kanisius Foundation

On 28-29 April 2025, Yayasan Kanisius (a foundation for schools of the Archdiocese of Semarang) celebrated the Feast of its patron saint, Petrus Kanisius, and inaugurated the Eco Learning Camp (ELC) in Ambarawa, Central Java. This event aimed to promote care for the earth and character development in children, involving over 300 students from Kanisius schools of Semarang.   The ELC, situated near SMK SPP Kanisius Ambarawa, serves as an ecological learning space for character building and outdoor activities such as leadership training and spiritual development. It features facilities like joglo, limasan (javanese houses), lodging rooms, educational plants, and camping tents.   Fr. Heru Hendarto, S.J., Chairperson of the Kanisius Foundation, opened the ceremony with Mass, emphasizing the need for the Church to support children’s growth through curriculum and learning facilities. He referenced two important teachings from Pope Francis: Fratelli Tutti, which promotes universal brotherhood, and Laudato Si’, which calls for love of the environment. He stated that the ELC represents a commitment to caring for the earth and future generations.   The ELC aims to be both a learning and reflective space, showcasing plants that nurture human life and serve as symbols of environmental care. Fr. Heru urged everyone to take care of the environment and each other.   Attendees included students, teachers, local officials, and community leaders. The event was enlivened by performances from Kanisius Harjosari Kindergarten and Elementary School children. The two-day gathering, Temu Anak Kanisius, was the first opportunity for students to experience the ELC, focusing on leadership, cooperation, and environmental appreciation through educational activities and games aimed at developing students’ physical, mental, and spiritual abilities.   The ELC aligns with the Kanisius Foundation’s priority to integrate digital communication technology and environmental care into its mission, echoing the principles of Laudato Si’. The Foundation hopes the new facility will benefit everyone in the Kanisius community and beyond.   Additionally, Yayasan Kanisius launched a profile video showcasing its initiatives, created entirely by its resources and accessible on YouTube. With the ELC’s inauguration, the Kanisius Foundation reaffirms its commitment to transformative and ecological education, aiming to inspire a generation that cherishes the earth.   If you are interested in organising outbound, recollection, retreat, seminar, or camping in this campground, please contact the manager’s contact person at +62 896-9744-8585 (Yuli).    Contributor: Fr. Th. Surya Awangga, S.J.

English

A Beautiful Mosaic: Indonesia in the Eyes of Pope Francis

Interfaith Reflection on the Legacy of Pope Francis and Hope towards the Leadership of Pope Leo XIV Jakarta, 10 May 2025 – PRAKSIS (Jesuit Center for Research and Advocacy) held a reflective seminar called “A Beautiful Mosaic: Indonesia in the Eyes of Pope Francis” at the aula of the office of the Indonesian Bishops’ Conference in Jakarta. The seminar aimed to reflect on Indonesia’s role in creating a universal Church that is inclusive and peaceful, while also commemorating Pope Francis and welcoming Pope Leo XIV’s leadership.   Prominent speakers, including Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, Ignatius Jonan, Prof Dr Siti Musdah Mulia, and Rev Jacklevyn F. Manuputty, actively engaged in discussions led by Francisia Saveria Sika Ery Seda, a sociology professor at the University of Indonesia. The Indonesian Jesuit Provincial, Fr. Benedictus Hari Juliawan, S.J. opened the event by highlighting the importance of recognizing the spiritual and social connections made by Pope Francis and embracing Pope Leo XIV as a promising successor. He described Indonesia as a “beautiful mosaic,” emphasizing love, dialogue, and brotherhood among people.   Mgr. Bunjamin expressed that Pope Francis urges a shift from indifference to solidarity worldwide, and believes Pope Leo XIV embodies this vision. Professor Musdah Mulia emphasized that Pope Francis’ legacy serves as an interfaith call for peace, advocating dialogue and respect for life and human rights. Rev Manuputty referred to Pope Francis as the “Shepherd Father of Humanity” and noted his alignment with vulnerable communities. Ignatius Jonan invited participants to recognize the significance of Pope Francis’ visit and the election of Pope Leo XIV as a divine invitation for transformation within the Church.   The seminar represented a moment to honor Pope Francis’s positive influence in Indonesia and to look forward to the Church’s direction under the papacy leadership of Pope Leo XIV.   Documentation video link: https://www.youtube.com/watch?v=wfpI54HoYmQ  www.praksis.id   Contributor: Fr. Angga Indraswara, S.J.