Pilgrims on Christ’s Mission

Pelayanan Gereja

Menuju Satu Abad Penuh Sukacita

HUT Gereja KotaBaru Ke-99: Berbeda dengan misa harian pada umumnya, umat Gereja Kotabaru tampak memenuhi gedung gereja bersiap merayakan ulang tahun Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru ke-99 pada Jumat, 26 September 2025. Diawali dengan misa secara konselebran oleh Pater Andrianus Maradiyo, Pr, Pater Nicolaus Devianto Fajar Trinugroho, S.J., Pater Yohanes Agus Setiyono, S.J., Pater Floribertus Hasto Rosariyanto, S.J., Pater Vincentius Doni Erlangga, S.J., dan Pater Cyprianus Kuntoro Adi, S.J.   Perayaan Ekaristi dibuka dengan iringan lagu pembuka dan tarian. Pater Maradiyo dalam homilinya mengajak umat mengenang kembali perjalanan Gereja Kotabaru hingga menjadi gereja inklusif yang umum dikenal saat ini.   Sebelum berkat penutup, pemberkatan Taman Doa Maria Concordia dilakukan. Taman Doa diberkati oleh Pater Maradiyo didampingi para imam lainnya. Acara berlanjut dengan launching logo dan maskot HUT ke-100 Gereja Kotabaru. Pater Agus, Pater Fajar dan Pater Kuntoro bersama-sama menggunting pita, membuat kain yang menutupi logo dan maskot langsung terbuka. Logo dan maskot yang ada pun juga diberkati oleh Pater Maradiyo.     Seusai perayaan Ekaristi, para umat berpindah di halaman gereja untuk melanjutkan acara dengan pesta umat yang dibuka dengan pemotongan tumpeng nasi kuning. Pater Maradiyo memotong tumpeng dan memberikan secara simbolis kepada Pater Fajar dan Pater Agus. Dalam pesta umat ini turut diadakan penyerahan hadiah bagi para pemenang sayembara serta peluncuran jingle HUT ke-100 Gereja Kotabaru yang dimeriahkan dengan flashmob dari kakak-kakak PIA.   Suasana hangat dan penuh sukacita mencerminkan harmonisasi umat Kotabaru. Momen ini menjadi pembuka kesiapan Kotabaru menyongsong usia ke-100. Setelah melewati berbagai sejarah dan proses, sejalan dengan prinsip Gereja yang terbuka, semoga Gereja Kotabaru senantiasa menjadi rumah bagi siapa pun yang membutuhkan tempat untuk pulang.   Selamat ulang tahun bagi Gereja Kotabaru!     Kontributor: Emanuella Gracia & Jessica Juliani – Kotabaru Digital Service

Formasi Iman

Hidup yang Penuh

Pekan Kaul Bersama 2025: Senin, 1 September 2025 hingga Jumat, 5 September 2025 menjadi momen sukacita bagi para novis Serikat Jesus dan beberapa kongregasi lain. Pasalnya selama lima hari ini mereka belajar bagaimana mengusahakan diri menghayati ketiga kaul yang akan mereka peluk selamanya: kaul kemiskinan, kaul kemurnian, dan kaul ketaatan. Kegiatan Pekan Kaul Bersama (PKB) 2025 diikuti oleh beberapa ordo/kongregasi, yakni: SJ, CSA, OSU, OSF, PMY, SDP, dan AK.   Mereka menyebut momen perjumpaan ini sebagai Pekan Kaul Bersama, meski beberapa memelesetkannya menjadi Pekan Konsolasi Bersama. Kegiatan PKB ini sejatinya adalah kegiatan tahunan yang dilakukan oleh beberapa ordo/kongregasi untuk saling memperkaya sudut pandang mengenai ketiga kaul. Pada tahun ini, kegiatan PKB diadakan di Rumah Retret Gedanganak, Ungaran.   Pada hari pertama, Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J. memberikan pengantar mengenai ketiga kaul. Dipaparkan olehnya tiga contoh teladan penghayatan kaul, yakni: teladan hidup Fransiskus Asisi, Bunda Teresa dari Kalkuta, dan Paus Fransiskus. Ia juga memaparkan pentingnya tiga daya jiwa (nalar, rasa, dan kehendak) dalam menghidupi kaul-kaul tersebut. Lagu Doraemon dinyanyikan untuk menggambarkan pribadi yang memiliki kehendak kuat dan melaksanakannya. “Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini, ingin itu banyak sekali.” Dalam pengantar itu pula, Pater Sunu mengajak para novis untuk melihat akar afeksi dalam keluarga yang menjadi asas dan dasar panggilan hidup mereka.   Di hari kedua, dimulailah pemaparan-pemaparan materi dalam sesi-sesi. Setiap kaul mendapat empat porsi sesi yang dibahas dari tinjauan historis-biblis; tinjauan psiko-fisik, psiko-sosial, dan spiritual-rational; kaul dalam kekhasan tarekat; serta tantangan dan penghayatan di masa kini. Pada setiap sesi tersebut, diadakan presentasi oleh para novis yang dilanjutkan dengan sharing tiga putaran dalam kelompok-kelompok kecil.   Sharing tiga putaran merupakan terobosan untuk mengatasi ketegangan yang bisa terjadi dalam sesi tanya-jawab. Tak hanya itu, kesempatan sharing tersebut mengantarkan hasil presentasi pada nilai-nilai rohani yang membadan pada setiap novis. Dengan demikian PKB ini membawa suasana yang lebih spiritual ketimbang diskusi intelektual. Kesempatan tersebut menjadi waktu yang tepat melatih kerendahan hati untuk mau dan mampu menginspirasi, serta diinspirasi orang lain. Kerendahan hati itulah yang rasanya menjadi benang merah dari keutamaan ketiga kaul. Keutamaan tersebut pada akhirnya, juga membantu setiap pribadi yang memeluknya untuk lebih terbuka pada realitas di luar dirinya. Inilah modal awal untuk hidup berkomunitas dan saling berkolaborasi.   Nilai spiritualitas Ignatian juga beberapa kali disinggung, di antaranya diskresi dan menemukan Allah dalam segala hal. Dalam hal ini, kesadaran merupakan kunci. Keheningan pun tak luput dari sorotan. Pribadi yang hening akan mampu menyadari idealitas dan realitas baik di dalam dirinya maupun di sekitarnya. Pada akhirnya, menjadi pribadi yang merdeka dari segala kelekatan adalah cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap pribadi berkaul. Kemerdekaan pribadi tersebut tak lepas dari kematangan pribadi terkait. Pada hari Rabu, 3 September 2025, Pater Yulius Eko Sulistyo, S.J. memberikan gambaran tersebut, di mana pribadi yang matang adalah pribadi yang memiliki relasi yang afektif kepada diri sendiri, sesama, dan Tuhan.     Pada sesi penutupan, Pater Hilarius Budi Gomulia, S.J. memberi kesimpulan yang rasanya menjadi hal yang perlu dipegang oleh setiap pribadi berkaul, yakni “orang berkaul itu tidak merepotkan orang lain.” Dalam menghayati kaul, para novis semakin digerakkan untuk membagikan diri secara total demi pelayanan pada Allah yang lebih luhur. Sebagaimana kata-kata St. Ireneus, “Gloria Dei, homo vivens” – kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup. Para novis diajak untuk hidup sepenuhnya dan memandang Tuhan selalu.   Kontributor: nSJ Arnoldus Iga Pradipta Wihantara

Provindo

Bertemu, Berbagi, Bersinergi

Humas Gathering 2025: Sabtu, 18 dan 25 Oktober 2025, Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia menyelenggarakan kegiatan Humas Gathering bagi para komunikator dari karya-karya dan lembaga yang dikelola Serikat Jesus yang ada di regio Yogyakarta dan Semarang. Pertemuan ini merupakan perjumpaan perdana secara tatap muka antarkomunikator dari berbagai karya, yang meliputi karya pelayanan masyarakat, pelayanan gereja, dan pendidikan untuk memperkuat jejaring, mengembangkan kapasitas komunikasi, dan menumbuhkan semangat kolaborasi antarkarya.   Kegiatan Humas Gathering diawali di regio Yogyakarta dan diselenggarakan di Kampoeng Media pada 18 Oktober 2025. Karya-karya dalam regio ini tersebar di Yogyakarta, Klaten, Magelang, Wonogiri, dan Surakarta. Pada kesempatan ini Koordinator Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Antonius Septian Marhenanto, S.J., memberikan pengantar mengenai sejarah terbentuknya Tim Komunikator Serikat Jesus Universal dan Provinsi Indonesia kemudian dilanjutkan dengan perkenalan Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia, peran, fungsi, serta agenda tim komunikator ke depan. Sesi dilanjutkan oleh Elizabeth Florence Warikar, Dosen Komunikasi Soegijapranata Catholic University Semarang, yang berbagi wawasan mengenai cara mengemas pesan yang efektif dan berdampak. Antusiasme peserta terlihat jelas melalui sesi tanya jawab dan diskusi dalam kelompok kecil. Berangkat dari wawasan yang dibagikan, para komunikator karya berbagi refleksi dan berkonsultasi mengenai dinamika yang dialami selama menjalankan perannya sebagai komunikator.      SMA Kolese Loyola menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Humas Gathering untuk regio Semarang yang diselenggarakan pada 25 Oktober 2025, dengan peserta yang berasal dari karya di Ambarawa, Semarang, Ungaran, Salatiga, dan Sukorejo. Pater Antonius Septian Marhenanto, S.J. memberikan pengantar dan dilanjutkan dengan materi yang disampaikan oleh Bapak Andreas Pandiangan, M.Si., Dosen Komunikasi Soegijapranata Catholic University Semarang mengenai strategi penggunaan media di era komunikasi digital. Materi yang disampaikan sungguh membuat para komunikator karya mengenali tantangan komunikasi digital dan menelusuri akar kendala yang mereka alami. Sesi sharing dalam kelompok dan konsultasi bersama Bapak Andreas menjadi ruang berbagi yang meneguhkan dan membantu para komunikator menemukan kembali kepercayaan diri dalam menjalankan peran mereka.   Humas Gathering, baik di regio Yogyakarta maupun Semarang, memiliki benang merah yang saling terhubung satu sama lainnya. Kedua regio ini memiliki kerinduan untuk saling mengenal, berjejaring, dan bertumbuh bersama, bukan hanya dalam karya pelayanan yang sama, baik dalam satu regio maupun lainnya. Para komunikator dari berbagai karya melihat peluang kolaborasi sebagai sarana mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing karya. Pada ujung acara, para peserta berharap bahwa kegiatan serupa bisa dilaksanakan kembali dan dikemas dalam bentuk workshop untuk meningkatkan kapasitas komunikasi. Melalui kegiatan Humas Gathering, semangat sinergi komunikasi yang solid antarsesama komunikator karya semakin diteguhkan.   Kontributor: Bonifasia Amanda – Tim Komunikator Jesuit Indonesia

JCAP

Satu Tubuh Apostolik dengan Hati yang Mendengarkan

Setiap tahun, Dewan Konsultor yang Diperluas berkumpul untuk mengenali gerakan Roh Kudus dalam karya dan pelayanan Serikat di seluruh konferensi kita. Bersama para konsultor presiden konferensi, sekretaris, dan koordinator karya apostolik, Dewan Konsultor yang Diperluas berfungsi sebagai instrumen penting untuk melakukan discernment bersama dalam Serikat kita ini.   Doa dan percakapan rohani menjadi inti setiap konsultasi. Tema sentral pada pertemuan tahun ini, yang diadakan dari 6 hingga 8 Oktober di EAPI Manila, adalah mendengarkan. Poin-poin doa yang diberikan oleh Pater Chris Dumadag, S.J. menetapkan suasana mendengarkan pada momen dua setengah hari tersebut dan menyoroti bagaimana kolaborasi dimulai dengan mendengarkan yang mendalam dalam suasana doa. Hal ini senada seperti dikatakan Presiden JCAP Pater Jun Viray, S.J., “Mendengarkan adalah prasyarat untuk discernment.”   Fokus pada mendengarkan ini secara alami berlanjut menjadi input penting dalam proses penyusunan rencana apostolik berikutnya. Para provinsial memulai proses ini dengan bimbingan konsultan perencanaan J.P. Villanueva selama pertemuan mereka di Palau pada Februari dan Tokyo pada bulan Juli. Bagian dari proses ini melibatkan imajinasi seperti apakah konferensi kolaboratif akan nampak pada tahun 2035. Dari refleksi ini, Villanueva menggambarkan visi tentang “konferensi yang kokoh berakar pada discernment bersama, rasa tanggung jawab bersama dalam karya perutusan, dan kolaborasi penuh kasih, terutama bagi orang miskin.”   Perencanaan apostolik akan menjadi perjalanan selama tiga tahun. Prioritas tahun 2026 adalah melakukan discernment di mana Roh Kudus telah berkarya—melihat dengan seksama realitas kita, mendengarkan dengan mendalam di mana hati kita berada, dan merasakan bersama ke mana Tuhan membimbing kita sebagai konferensi. Fase mendengarkan ini akan melibatkan penilaian terhadap apa yang terjadi di lapangan; memutuskan program mana yang akan dihentikan, dimulai, atau dilanjutkan; mengidentifikasi tema-tema bersama dan ketegangan yang muncul; serta mengenali benih-benih yang menjanjikan untuk masa depan.   Untuk memberikan konteks, Villanueva mengajukan pertanyaan, di dunia seperti apakah perutusan kita berlangsung saat ini? Ia memperkenalkan konsep BANI untuk menggambarkan sifat era modern kita. BANI adalah kepanjangan dari Ekosistem yang rapuh, Manusia yang cemas, Perubahan yang tidak linier, dan Logika yang sulit dipahami (Brittle ecosystems, Anxious people, Nonlinear changes, and Incomprehensible logic). “Kita hidup di dunia dimana begitu satu masalah teratasi, masalah lainnya muncul,” jelasnya, sambil mencatat bahwa transformasi telah menjadi hal yang biasa dalam bisnis. Hal ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana leadership Ignatian merespons BANI? Ditegaskan bahwa spiritualitas Ignatian menjadi karunia abadi dalam pelaksanaan kepemimpinan dan perawatan perutusan kita. Dr. Achoot Cuyegkeng, profesor di Universitas Ateneo de Manila dan co-author buku Leading with Depth: A Practitioner’s Guide to 21st-Century Ignatian Leadership, membahas empat dimensi kepemimpinan, yaitu: refleksi, mendengarkan, discernment, dan perutusan. Seorang pemimpin Ignatian adalah orang yang penuh dengan kesadaran, mendengarkan secara mendalam agar bisa memahami bukan sekadar merespons, menentukan keputusan bukan hanya berdasar efektivitas tetapi juga berdasar bimbingan rohani, moral, dan komunal, serta menginspirasi orang lain untuk merespons panggilan kerasulan.   Contoh nyata kepemimpinan dan tata kelola demi perutusan adalah karya apostolik di Pakistan. Update melalui Zoom dari P Noel Jayanathan, S.J., acting superior lokal, dan P Riyo Mursanto, S.J., delegat formasi, mengungkapkan pencapaian yang sederhana dari kehadiran Jesuit di negara tersebut. Umat kristiani di sini adalah minoritas kecil dan terpinggirkan. Serikat kita berfokus pada pendidikan, yaitu mengelola dua sekolah menengah dan sebuah taman kanak-kanak yang melayani sekitar 1.120 anak didik, serta sebuah rumah formasi bagi calon anggota dan promosi panggilan. Kehadiran kita, meskipun kecil, sangat dihargai oleh Gereja lokal atas kontribusinya dalam karya formasi dan pendidikan. Pusat Riset dan Pusat Spiritualitas Loyola Hall telah menjadi lembaga terkemuka di negara tersebut untuk penelitian, pelatihan, dan seminar, bahkan Serikat Jesus dipercaya     oleh komunitas non-Kristen. Namun bagaimanapun, tantangan utamanya adalah kekurangan tenaga kerja dan kebutuhan akan lebih banyak formator, pembimbing rohani, guru, dan administrator. Dengan demikian, pentinglah untuk mengelola ekspektasi di tengah sumber daya yang sangat terbatas dan realitas saat ini. Perkembangan signifikan adalah bahwa Pater Viray telah mengumumkan bahwa Fakultas Keguruan Ateneo de Manila University tertarik menawarkan sesi pelatihan guru bagi sekolah-sekolah Jesuit di Pakistan.   Safeguarding juga dibahas oleh Pater Hans Zollner, S.J. secara daring. Ia menekankan bahwa safeguarding harus melampaui konsep atau pedoman keamanan. “Bukti komitmen kita terdapat dalam setiap karya kerasulan dan komunitas.” Safeguarding mungkin memiliki prinsip-prinsip umum, tetapi pendekatan harus tetap disesuaikan dengan konteks lokal. Ke depannya, cara-cara Ignatian akan melibatkan discernment, pengambilan keputusan, dan kerendahan hati.   Konsultasi ditutup dengan tanggapan terhadap seruan Presiden JCAP terkait ragam isu yang muncul dari anggota Konsultor yang Diperluas. Julie Edwards, sekretaris kerasulan sosial, bertanya bagaimana badan tersebut dapat bekerja sama untuk menjadikan kerasulan sosial sebagai prioritas di seluruh konferensi. Ia merujuk pada pesan Pater Jenderal Arturo Sosa di pertemuan yang diadakan oleh Sekretariat bagi Keadilan Sosial dan Ekologi pada Juni lalu di Roma, di mana ia berbicara tentang “kebutuhan mendesak untuk memperkuat kerasulan sosial dan membuat komitmen yang sulit untuk mempertahankan dan memperdalam demokrasi di semua tingkatan, di semua benua, dan dalam sistem dunia.” Pater Jenderal menggambarkan dimensi politik kerasulan sosial sebagai “bentuk tertinggi dari kasih sayang.” Terkait hal ini, diperlukan penyertaan partisipasi orang miskin dan kolaborasi di dalam dan di luar Gereja untuk menciptakan kondisi sosial dan politik yang meningkatkan martabat bagi semua orang. Penekanan bukan pada kepemimpinan, melainkan pada pembentukan kemitraan dengan pihak lain.   COP31, yang kemungkinan besar akan diadakan di Australia, diusulkan sebagai kesempatan bagi JCAP untuk membangun aliansi di kalangan Gereja dan masyarakat sipil, melanjutkan semangat kolaboratif yang ditunjukkan oleh Serikat dalam COP30. Meskipun peran kita mungkin terbatas, partisipasi ini akan menandai langkah penting dalam mengintegrasikan ekologi integral ke dalam setiap aspek kehidupan apostolik kita. Kelompok tersebut tampak terbuka terhadap kemungkinan ini, yang dapat dibahas oleh para konsultor presiden konferensi dalam pertemuan mereka setelah Konsultasi yang Diperluas.   Kontributor: Konferensi Jesuit Asia Pasifik

English

The Gift of Self

The Tapestry of Gratitude: For three years, I have lived in Yogyakarta, experiencing many meetings and farewells. I’ve had extraordinary experiences that not everyone gets to have. I believe God designed all of this for me to appreciate as blessings in my life journey. From my first steps in Yogyakarta to finding a warm-hearted community, I felt everything was prepared for me.   My journey began when I started attending a private Jesuit university. I had many worries about making friends and developing relationships with others. Can I connect with people, or would I remain closed off? My fears started to fade when I volunteered with the Realino Community.   On February 14, 2023, I first entered the historic building located at Jalan Mataram No. 66, Yogyakarta. I vividly remember the atmosphere. It was hot outside, but I was greeted warmly by the smiles of the Realino community. This experience was my first interaction with Realino, and I noted the presence of Polo, a friendly dog that welcomed every volunteer. Despite my fears, I bravely explored this new place.   Soon, I was not alone; I joined friends in the Realino Community. Together, we interacted with children and residents in Bongsuwung and Jombor. We explored the narrow and winding streets of Yogyakarta and Central Java for educational scholarship surveys and occasionally indulged in Yogyakarta’s delightful culinary offerings.   Bongsuwung and Jombor hold a special place in my heart. Although I can no longer visit Bongsuwung due to displacement, both communities have taught me many valuable lessons. As Realino volunteers, we were always welcomed by the children and locals, whose lively stories and experiences brought joy. Their antics sometimes made me laugh or shake my head in disbelief, yet I eagerly looked forward to weekly visits.   A friend asked why we teach non-formal education to these children on weekends when they already learn in school. I paused and found my answer when a spirited child shared their daily life with us. While they may receive lessons at school, our approach offers something different. We bring not just education but also companionship and listening.   Another memorable experience as a Realino volunteer was home visits during scholarship surveys. I enjoyed meeting new people and hearing their stories, each family with their unique struggles. I felt grateful to be a small part of their journey. Sharing the survey moments with fellow volunteers deepened our understanding of presence and the importance of listening to those in need.   Lastly, my unexpected rise to coordinator for the Realino Community has been transformative. At just seventeen years old, I never imagined I’d take on this role, managing volunteers and social media while helping organize events in Bongsuwung and Jombor. This experience taught me to make choices confidently. A friend once said, “Nares is spreading her wings.” Through my experiences at Realino, my initial struggles found resolution, leading me to study in Yogyakarta without financial burden and to serve as an expression of gratitude.     I have come to realize that Realino is truly a home to return to. I am now more affirmed and grateful for my journey. As one song lyric goes, “You can call it home, as long as those you love are inside. ” Thank you, Realino, for the extraordinary experiences and the people I will always cherish.   AMDG.   Contribution: Aurelia Pradhita Nareswari Pangarso – volunteer Realino of 2023/2024

English

Guiding Yet Guided

Hello! We are Mother Mary’s Kids (MMK). We began in 2012 as a small Bible study group for our neighborhood children, and by God’s grace, we’ve grown into a ministry with Bible studies, choir, and sacrament preparation for kids and teens. We serve under Blok B Parish of the Jakarta Archdiocese, welcoming both Indonesian and international kids, mostly from non-denominational English-speaking national plus or international schools.   Our journey with Ignatian spirituality started when our parish priest, Father Aluisius Pramudya Daniswara, S.J. (Father Pram), “forced” (his word, not ours!) us to try the practice of Spiritual Conversation during one of our annual retreats. At the time, we thought it would be just another program. Instead, it became the seed of a transformation for us as catechists and, later, for the children we accompany.   As catechists, we set aside one day each year to retreat together. It is our time to recharge, to rest from lesson plans and crafts, and simply to be in community. Usually, the day is quiet, centered on listening to God’s Word through Father’s reflections. But that year, he invited us into something different: spiritual conversation, where we listened deeply, shared freely and safely, and let the Spirit guide what happened between us.   At first, it felt unusual. Yet it worked. We left not only refreshed but also more connected. We shared our hopes and struggles, not only as fellow catechists but also as friends on the same mission. Since then, we have returned to the practice many times. In fact, during our most recent 12-week formation for new catechists, we concluded with a spiritual conversation, where each participant shared their surprises, fears, and hopes as they began their ministry. The fruit was unmistakable: a sense of fraternity, of meeting one another in authenticity beyond roles or functions. We began to see each other not merely as “fellow catechists” but as companions on the journey.   Of course, once we told Father Pram about the fruits we experienced, he “forced” us again, this time into the practice of the Examen. As laypeople serving in a Jesuit parish, we thought we knew the Examen. For years, we had taught children to pray in three simple steps: one thing to thank God for, one thing to say sorry for, and one thing to hope for. We thought, “Check! We’ve got this!” But Father reminded us prayer is more than words; it is the lifting of heart and soul to God. He gently but firmly asked us not only to practice the Examen ourselves, daily and in writing, but also to bring it into our sessions with the kids. “Through this,” he insisted, “you and the children will come to know yourselves more deeply.”   Honestly, we dragged our feet. With lesson plans, jobs, and sacrament prep on our plates, this felt like one more thing. But in true Jesuit spirit, we obeyed. We began with our Confirmation candidates, asking them to pray the Examen nightly and write it out in a journal. At first, we didn’t comment much; we simply checked that it was done. After three weeks, we scheduled one-on-one pastoral conversations with each candidate. We weren’t sure what to expect, but what unfolded left us stunned.     I will never forget one boy in particular, a 13-year-old who had faithfully written his examen every night. His notebook was thick with reflections. I asked him to look at it like a detective: “What patterns do you see? What do you usually thank God for, what do you say sorry for, and what do you ask help with?” He flipped through the pages, then looked up and admitted quietly, “I tend to swear a lot.” He pointed to several entries where he had written it down. I asked gently, “Why do you think you do that? Is swearing really the best way to express yourself?” He thought for a long while before answering, “Because that’s what my friends do. It feels normal around them. But deep down I know it’s not right.” We sat in silence. Then I asked, “If you could give advice to yourself, what would it be?” He paused, longer this time, and finally said words that struck me to the core: “Don’t do what’s normal!”   In that moment, the Spirit broke through: clear, simple, and powerful. Through the Examen, this boy had discovered not only a personal weakness but also the courage to resist conformity. It was discernment in action, born not from a lecture but from his own prayer. I was so moved I nearly wept.   Other conversations were just as moving. A 14-year-old boy confessed that he felt stuck in routines, empty, and distant from God. A teenage girl shared how the Examen had helped her notice and rejoice in the small, ordinary blessings of her day. Another spoke candidly about the frustration of endless pressure to excel in school. And one brave girl, with tears in her eyes, asked the question weighing on her heart: “Is my late grandma saved?” There were smiles, laughter, and yes, tears. We had never seen such honesty in past programs.   We were unprepared for the emotions that surfaced, but it was a holy kind of overwhelm. After 13 years of serving MMK, we have come to understand more deeply that being a catechist means not only teaching doctrine but also accompanying as a friend and companion on the journey. That is the true gift of Spiritual Conversation and the Examen.   That very night, we called Father Pram to share our joy and amazement. We are no experts in Ignatian spirituality, but we are witnesses to its fruits. And if you are a catechist reading this, we want to encourage you: let yourself be “forced” into these practices too. Try Spiritual Conversation. Practice the Examen. Even when it feels awkward, even when it feels like extra work.   Because the Spirit works in those moments. And sometimes, the most profound wisdom comes

English

The Discerning Pope

JESUIT VALUES OF JORGE MARIO BERGOGLIO (part 2): Spiritual Exercises Fr. General celebrated the Eucharist with Jesuits in Rome to pray for Pope Francis. In his homily, he noted that Pope Francis embodies the Spiritual Exercises of St. Ignatius of Loyola, which influence his unique style of life and service to God and humanity. The Spiritual Exercises foster strong faith and emphasize dialogue to cultivate authentic relationships, resolve conflicts, and promote reconciliation, with “Principle and Foundation” as a key component.   The life of Pope Francis is rooted in Jesus Christ, providing a strong foundation. He acknowledges his vulnerabilities, which are integral to the first week of the Spiritual Exercises. In contrast, the second week begins with the King’s Call, which focuses on the Incarnation and the Birth of Jesus. Father Arturo Sosa noted that this contemplation enables the Pope to understand the world’s work of redemption. It gives him a universal perspective, enabling him to connect deeply with people from diverse backgrounds, including children and the elderly.   In the second week, the meditation on the “Two Standards” inspires Pope Francis to align himself with Jesus, who epitomizes poverty and humility.   Petrus Faber Santiago Madrigal, a Spanish Jesuit, writes about St. Peter Faber as a mystical model of holiness in his article. Pope Francis canonized St. Peter Faber on December 17, 2013. Faber’s spiritual inspiration and mystical journey can be found in his personal writings, specifically in “Memoriale. ” Pope Francis draws from Faber’s example, emphasizing that true renewal comes from profound spiritual experiences. This idea aligns with St. Ignatius’ acknowledgment of Faber as the best guide for the Spiritual Exercises.   Historically, when St. Ignatius left Paris for Azpeitia, Faber helped recruit three new members, adding to the original group of six friends, who were later called the “nine companions” in their mission. From St. Ignatius, Faber learned always to seek God and live according to God’s path. This dedication is also reflected in Pope Francis’s pastoral work, discernment, and prayer, earning him the title “the Discerning Pope.”   Rome, Sunday, June 8, 2025 Pentecost   Leo Agung Sardi, S.J.   Contributor: P. L. A. Sardi, S.J. 

English

Journeying Through the Paths and History of Gedangan

Amazing Race: Hi, I am Lusia, a member of Gedangan Catholic Youth. You may remember that in the previous edition, I wrote about Gedangan Church. This time, I am back with a different story, although it is still from the same place. I hope you have not forgotten my story as the guide for the Exploring Gedangan event on Internos last August.   I want to share my experiences related to the 150th anniversary celebration of Gedangan Church. I, along with other friends, parish council members, and priests, prepared for an event called the Amazing Race, which aimed to promote health and commemorate the church’s history. This event combines exercise, historical awareness, and community bonding. I am involved in organizing the event, which includes creating challenges and a guidebook for participants.   Participants would walk along different routes with various stops featuring games connected to the church’s history. This interactive approach allows everyone, whether organizers or attendees, to experience the history personally. The activities include solving riddles in Morse code, understanding historical facts, completing crossword puzzles about the church’s journey, assembling puzzles featuring old photographs of the church, and identifying figures from the community’s past.   As the preparations came together, enthusiasm grew among participants, with teams creating cheers and selecting outfits for the day. The atmosphere anticipated a lively gathering, filled with laughter and teamwork, marking not just a healthy outing but also a celebration of unity among the church community.   However, plans faced a setback due to rising tensions in Indonesia, with large demonstrations impacting public events and security concerns. As a result, the Amazing Race had to be postponed, disappointing many participants who had diligently prepared for the event. Though I acknowledge the disappointment, I emphasize that safety must take precedence over celebrations. I reflect on the importance of this event as a symbol of spiritual journey and community connection, despite the delay.   I find comfort in knowing that the event can still take place in the future and that its essence remains intact. The church’s history will live on through the faithful participation of its members. While this pause may be due to circumstances beyond control, it serves as a moment to prepare spirits and hearts for future gatherings. The spirit of the Ignatian philosophy reminds everyone to seek God in all things, including the challenges of missed opportunities.     Contributor: Lusia Pamungkas – Gedangan Muda