Pilgrims on Christ’s Mission

Jesuit Global

Jesuit Global

Bersatu dalam Roh, Memimpin Penuh Tekad

Kongres WUJA XI di Yogyakarta Pendahuluan Kongres ke-11 Asosiasi Alumni Sekolah Jesuit Sedunia (WUJA) akan diselenggarakan dari Rabu, 29 Juli hingga Minggu, 2 Agustus 2026, di Yogyakarta, pusat budaya dan pendidikan, tepatnya di Universitas Sanata Dharma.   Mengumpulkan para pemimpin organisasi alumni Jesuit, para penanggung jawab lembaga pendidikan Jesuit, pemimpin Jesuit utama di bidang pendidikan, alumni Jesuit, jaringan, dan para sahabat dalam acara transformatif ini akan memperkuat koneksi dan membentuk komunitas yang bermakna.   Makna di Balik Tempat Kongres: Mengapa Yogyakarta? Menyelenggarakan Kongres WUJA di Indonesia menjadi pilihan penuh makna simbolis. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi laboratorium yang dinamis dan kompleks bagi harmoni antaragama dan demokrasi. Yogyakarta yang dikenal sebagai “kota pelajar” dan tempat kelahiran peradaban Jawa Ini juga menjadi rumah institusi Jesuit terkemuka seperti Universitas Sanata Dharma dan SMA Kolese de Britto.   Dengan berkumpul di Yogyakarta, jaringan alumni global memasuki konteks dialog yang faktual dan menjadi kebutuhan sehari-hari. Kongres ini memberikan kesempatan unik bagi alumni negara Barat untuk belajar dari perspektif Timur tentang pembentukan komunitas, toleransi, dan menavigasi iman dalam masyarakat yang beragam. Hal ini menyoroti komitmen Jesuit terhadap “inkulturasi” – menyesuaikan iman kepercayaan dengan budaya setempat sambil tetap menghormati tradisi uniknya.   Dari Kontemplasi Menuju Aksi Tema utama Kongres nampaknya akan berpusat pada penerapan nilai-nilai pedagogi Ignatian ke dalam tindakan global yang konkret. Misi Jesuit modern, yang sangat dipengaruhi oleh Kongregasi Jenderal terbaru dan kepemimpinan Paus Fransiskus (seorang Jesuit), menekankan rekonsiliasi dengan Pencipta dan semua ciptaan.   Peserta akan mengikuti workshop intensif dan sesi pleno yang membahas isu-isu global yang mendesak. Topik utama pastinya mencakup krisis iklim, terinspirasi dari ensiklik Paus Fransiskus Laudato si’, dan mengeksplorasi bagaimana alumni di bidang bisnis dan kebijakan dapat mendorong praktik berkelanjutan.   Secara krusial, Kongres ini akan menanggapi seruan Pater Jenderal Arturo Sosa yang menekankan “Rekan dalam Perutusan.” Konsep ini menyoroti bagaimana rekan berkarya awam, universitas, dan komunitas yang beragam bekerja bersama Jesuit untuk mewujudkan perutusan Gereja. Mengingat lokasinya, pembahasan tentang dialog antaragama sebagai cara untuk pembangunan perdamaian juga akan menjadi topik yang penting.   Kongres ini berfungsi sebagai platform bagi alumni yang banyak di antaranya adalah pemimpin organisasi alumni Jesuit, eksekutif lembaga pendidikan Jesuit, pemimpin utama Jesuit di bidang pendidikan, serta alumni Jesuit, jaringan, dan para sahabat.     Berjejaring demi Tujuan yang Lebih Besar Aspek krusial Kongres WUJA adalah memperkuat jaringan itu sendiri. “Keterhubungan Jesuit” – istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan koneksi internasional yang kuat di kalangan alumni – kini dihadapkan pada tantangan untuk mereorganisasi dirinya sebagai kekuatan demi mewujudkan kebaikan sosial. Kongres ini akan fokus pada menemukan cara terbaik untuk menghubungkan profesional yang sudah mapan dengan alumni muda yang baru memasuki dunia kerja serta memupuk formasi yang didasarkan pada nilai-nilai bersama.   Ada kebutuhan mendesak untuk memastikan bahwa Magis, bahasa khas Ignatian untuk selalu melakukan lebih baik, untuk berjuang demi tujuan baik yang lebih besar yang tidak pudar bersama generasi lebih tua. Melibatkan alumni muda yang sangat peduli dengan keadilan sosial dan aktivisme digital sangatlah penting untuk menjaga kelangsungan misi Serikat.   Kesimpulan Kongres WUJA di Yogyakarta merupakan bukti nyata warisan abadi St. Ignatius Loyola. Hal ini mengingatkan kita bahwa pendidikan Jesuit bukanlah hak istimewa statis yang tersimpan dalam selembar ijazah, melainkan perutusan dinamis untuk terlibat melawan ketidakadilan di dunia. Saat para alumni ini berkumpul di Yogyakarta di mana mereka menyalakan kembali api kebersamaan lalu berkemas untuk kembali ke negara masing-masing, maka mereka tidak hanya memetik inspirasi melainkan juga dibekali dengan jejaring partnership baru dan kesiapsediaan untuk melayani yang telah disegarkan.   Diterjemahkan oleh Wahyaka (Sekretariat Provindo) dari artikel berjudul The WUJA XI Congress in Yogyakarta: United in Spirit, Leading with Purpose https://www.jesuits.global/2026/02/13/the-wuja-xi-congress-in-yogyakarta-united-in-spirit-leading-with-purpose/    

Jesuit Global

Bagaimana Seorang Superior Mayor Dipilih?

Superior Mayor, mereka yang dipilih untuk memimpin sebagian besar Serikat Jesus – baik itu Provinsi, Regio, maupun Konferensi – merupakan bagian sangat penting dalam gubernasi Serikat. Para Jesuit mengandalkan Superior Mayor dalam mengalokasikan sumber daya, pengutusan, dan membuat keputusan penting tentang karya Serikat dan bagaimana karisma Ignatius diwujudkan melalui hidup mereka. Itulah mengapa pemilihanSuperior Mayor bukanlah tugas yang mudah. ​​Ini merupakan proses deliberasi spiritual yang melibatkan semua anggota Serikat hingga Pater Jenderal di Roma.   Pemilihan Superior Mayor menekankan pada discernment, konsultasi, dan ketaatan pada “cara bertindak” Serikat. Proses ini biasanya dimulai dengan periode konsultasi di antara para Jesuit dalam suatu Provinsi atau Regio yang bersangkutan. Para anggota diminta menimbang-nimbang dalam doa apa yang menjadi kebutuhan komunitas mereka dan mengharapkan kualitas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Konsultasi ini bersifat rahasia dan dirancang untuk mengumpulkan feedback yang jujur ​​dan bijaksana. Ini lebih mencerminkan prinsip Ignasian tentang discernment yang dibimbing oleh Roh Kudus daripada sekadar pertimbangan politik atau preferensi pribadi.   Berdasarkan konsultasi ini, daftar tiga kandidat, atau dikenal sebagai terna, disusun oleh Provincial (atau Superior Regio) dan para konsultor. Terna tersebut mencakup individu-individu yang dianggap matang secara spiritual, mampu memimpin, sangat berkomitmen pada misi Serikat, dan memiliki sifat-sifat yang dapat memenuhi kebutuhan komunitas dalam lingkup Provinsi, Regio, atau Konferensi.     Daftar tiga nama (terna) kemudian dikirim ke Kuria Generalat di Roma, di mana daftar tersebut dikaji oleh Superior Jenderal – saat ini Pater Arturo Sosa – dan para konsultornya. Pater Jenderal dapat memilih nama dari daftar tiga nama tersebut atau bahkan meminta daftar tiga nama baru atau juga memilih nama lain yang tidak ada dalam daftar tiga nama tersebut. Pada akhirnya, setelah pertimbangan dan nasihat dari Asisten Regional, dalam suasana penuh doa, Superior Jenderal secara final menunjuk nama yang akan menjadi Superior Mayor.   Setelah ditunjuk, seorang Superior Mayor biasanya akan menjabat selama enam tahun. Selama periode ini, ia dipercaya untuk mereksa komunitas, melakukan aneka pelayanan, dan mengelola perutusan seluruh anggota di Provinsi atau Regionya. Seluruh proses terna mencerminkan penekanan pada ketaatan, discernment rohani, dan kepemimpinan yang berpusat pada misi yang mengikuti prinsip-prinsip subsidiaritas. Dengan mendasarkan pemilihan pada konsultasi dan doa, Serikat bertujuan untuk memastikan bahwa para pemimpinnya mampu dan selaras dengan kebutuhan spiritual yang mendalam dari mereka yang dilayani.   Diterjemahkan oleh Wahyaka (Sekretariat Provindo) dari artikel berjudul “How Major Superiors Selected?” https://www.jesuits.global/2025/07/18/how-are-major-superiors-selected/

Jesuit Global, Penjelajahan dengan Orang Muda

MAGIS Movement, Gerakan Bersama Orang Muda

Refleksi atas pertemuan MAGIS Think In Meeting di Roma, Italia.   Pada awal Januari 2026, Kuria Roma menjadi ruang perjumpaan dan diskresi bagi para koordinator Pelayanan Orang Muda Serikat Jesus dari berbagai penjuru dunia. Pertemuan yang dikenal sebagai MAGIS Think In Meeting ini menghimpun para koordinator pendamping orang muda tingkat konferensi dari: Eropa, Afrika dan Madagaskar, Asia Pasifik, Asia Selatan, Amerika Utara, dan Amerika Latin (yang diwakili oleh masing-masing Presiden Konferensi), bersama tim dari MAGIS Digital Home–India, serta perwakilan Kuria Roma.   Mereka yang hadir bukanlah para pemimpin karya besar seperti pendidikan atau sosial, melainkan para pendamping yang sehari-hari bergumul dekat dengan realitas hidup orang muda. Yang menyatukan mereka adalah kepedulian bersama, yaitu bagaimana menemani orang muda dewasa di dunia yang dinamis, rapuh sekaligus penuh energi, tetapi juga sarat kebingungan dan pencarian makna.   Membaca Tanda Zaman Bersama Orang Muda Dalam sambutannya, Pater Jenderal Arturo Sosa mengajak peserta untuk berangkat dari realitas konkret dunia hari ini. Ia mengisahkan bagaimana sebuah artikel di harian El País berbicara tentang fenomena yang menarik: mengapa masih ada orang muda yang kembali percaya di tengah krisis. Konteksnya adalah Eropa sekuler, tempat banyak penopang hidup—rumah, pekerjaan, keluarga, kesehatan, ketenteraman, dan rasa aman—mengalami keruntuhan, sehingga melahirkan krisis makna. Dari situ, Pater Jenderal menawarkan pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi para pendamping orang muda: Apakah kita melihat tanda-tanda meningkatnya ketertarikan pada kehidupan batin dan spiritualitas? Apakah ini terjadi di mana-mana, atau hanya fenomena pasca-sekularisasi? Apakah pencarian makna hidup berkaitan erat dengan spiritualitas?   Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi nada dasar refleksi selama pertemuan bahwa pelayanan orang muda dewasa tidak bisa dilepaskan dari konteks global yang ditandai oleh ketidakpastian, konflik, ketimpangan, serta perubahan besar dalam dunia digital dan teknologi.     MAGIS: Gerakan Universal, Bukan Sekadar Global Pertemuan ini berangkat dari keyakinan bahwa kita sedang hidup dalam sebuah kairos, waktu rahmat, bagi pertumbuhan MAGIS. Seperti ditegaskan Pater Jenderal, MAGIS telah berkembang secara kreatif di berbagai belahan dunia, dari bawah ke atas, dengan aneka wajah dan pendekatan kontekstual. Dalam refleksinya, ia mengajak peserta untuk membedakan dua istilah yang tampak mirip namun sarat makna: global dan universal. Mungkin mudah menyebut MAGIS sebagai gerakan global, tetapi dalam terang kharisma Ignatian, istilah universal jauh lebih tepat. Gereja, kristianistas, dan Serikat Jesus sejak awal memahami diri sebagai universal, bukan global. Globalisasi kerap mengarah pada penyeragaman dan pemusatan kuasa; universalisme justru berangkat dari perbedaan, menghormatinya, dan melihatnya sebagai kekayaan bersama. Dengan menggunakan gambaran tubuh, Pater Jenderal menegaskan bahwa tubuh membutuhkan keragaman organ agar dapat hidup. Tubuh yang homogen tidak memiliki kehidupan. Demikian pula MAGIS: bukan keseragaman, melainkan kesatuan dalam keberagaman yang memberi daya hidup.   Selama pertemuan, para koordinator mendengarkan laporan dari enam konferensi. Meskipun konteksnya sangat beragam, benang merahnya jelas: orang muda dewasa sedang bergulat dengan kompleksitas hidup yang semakin besar. Mobilitas geografis dan sosial sering membawa peluang, tetapi juga kesepian. Kepercayaan pada institusi melemah. Di banyak tempat, kerinduan akan perubahan mendorong keterlibatan sosial dan politik, namun sering tanpa pendampingan diskretif yang memadai. Pandemi COVID-19 meninggalkan luka mendalam, khususnya dalam kesehatan mental. Maka semakin jelas bahwa orang muda tidak hanya membutuhkan kegiatan, melainkan pendampingan, komunitas, relasi yang mendalam, dan ruang aman untuk bertumbuh.   MAGIS sebagai Cara Hidup Salah satu rumusan yang paling mengena selama pertemuan adalah definisi ini, yaitu MAGIS adalah sebuah “cara hidup” yang dihayati orang muda melalui pengalaman dan proses yang berakar pada spiritualitas Ignatian. MAGIS bukan sekadar acara atau pertemuan, melainkan proses yang dihidupi dalam komunitas, idealnya bersama orang muda sebagai rekan seperjalanan dan dalam kebersamaan. Unsur-unsur kuncinya meliputi: doa, perjumpaan dengan realitas, berbagi dalam kelompok, formasi, dan semakin mengenal hati Yesus. Di sini, diskresi panggilan hidup mendapat tempat penting—bukan sebagai rekrutmen, melainkan sebagai pendampingan orang muda untuk menemukan arah hidup mereka di hadapan Allah.   Digital: Medan Baru Perutusan Pertemuan ini juga menyoroti tantangan dan peluang besar dunia digital. Pater Jenderal mengingatkan bahwa dunia digital adalah ruang yang penuh energi dan potensi, namun tidak bebas dari bahaya. Ia mengutip pandangan Paus Leo XIV yang menyebut dunia digital sebagai peluang sekaligus tantangan utama untuk menghadirkan sukacita Injil di dunia yang terluka.   Pengalaman MAGIS Digital Home di Asia Selatan menjadi tanda harapan: ruang digital yang aman, kreatif, dan lintas budaya, dengan ribuan peserta dan tema-tema relevan seperti kesehatan mental, ekologi, karier, dan seni. Dari pengalaman ini, gerakan MAGIS kini sedang menyiapkan langkah baru: pengembangan platform digital yang lebih terintegrasi yang akan diluncurkan saat MAGIS Korea 2027.   MAGIS Korea 2027 dipandang bukan sekadar peristiwa, melainkan tonggak penting bagi MAGIS sebagai gerakan universal orang muda dewasa. Persiapan menuju ke sana mencakup seleksi dan pembinaan peziarah, formasi kepemimpinan, serta keterkaitan nyata dengan komunitas lokal agar dampaknya berkelanjutan.   Para koordinator sepakat untuk memperkuat jejaring lintas konferensi, berbagi sumber daya, dan terus berdiskresi bersama: Apa dan Bagaimana MAGIS semakin dihayati sebagai sebuah gerakan?     Berjalan Bersama dalam Harapan Dalam terang bacaan Kitab Suci dan spiritualitas Ignatian, Pater Jenderal mengingatkan kembali Prinsip dan Dasar, yaitu beriman kepada Yesus Kristus dan saling mengasihi. Dari sanalah diskresi roh menemukan pijakannya. Seperti Yesus yang memulai pelayanan-Nya di masa sulit, demikian pula kita dipanggil untuk berani melayani di batas-batas rapuh kehidupan manusia.   Pertemuan ini ditutup dengan sebuah pertanyaan doa yang sederhana namun mendalam: Di manakah aku menemukan harapan dalam semua ini? Dengan mendengarkan Roh, realitas orang muda, dan satu sama lain, MAGIS melangkah ke depan—sebagai jalan hidup, gerakan universal, dan ungkapan kasih Allah yang terus bekerja di hati orang muda zaman ini.     Kontributor: P. Alexander Koko Siswijayanto, S.J.

Jesuit Global

Kunjungan Pater Jenderal Arturo Sosa ke Tanah Suci

Lebih dari 500 tahun yang lalu, tepatnya 1 September 1523, Ignatius Loyola melakukan ziarah ke Tanah Suci. Ia memiliki keinginan yang kuat untuk hidup dan bekerja di sana sebagai pelayan Tuhan yang sederhana hingga akhir hayatnya. Namun, dengan perang yang mengancam di wilayah tersebut, ia terpaksa kembali ke Eropa, di mana ia mendirikan apa yang kemudian menjadi Serikat Jesus. Meskipun ia tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Tanah Suci, api keinginannya untuk melayani terus berkobar sepanjang sisa hidupnya. Mungkin tidak mengherankan bahwa selama puluhan tahun, Serikat Jesus telah mengutus sekelompok kecil Jesuit yang tekun bekerja di Tanah Suci. Dari para Jesuit ini, Pater Jenderal Arturo Sosa ingin belajar selama kunjungannya ke Tanah Suci.   Hal pertama yang didengarkan oleh Pater Jenderal adalah suara para Bruder De La Salle di Universitas Bethlehem. Tiga Jesuit mengajar di universitas ini, yang melayani lebih dari 3.300 mahasiswa dan semuanya warga Palestina. 50% di antaranya tinggal di Yerusalem, dan 20% di antaranya adalah Kristen. Universitas dan komunitasnya sedang menghadapi masa sulit. Ketakutan yang ditimbulkan oleh situasi masa kini bahkan berisiko membahayakan perutusan pendidikan mereka sebagai penjaga harapan untuk masa depan.   Wakil Rektor Br Hernán Santos González FSC, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Br Jack Curran FSC, dan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Br Peter John Iorlano FSC bertemu dengan Pater Sosa dan delegatnya, dan mengadakan percakapan hangat tentang kondisi Universitas setelah dua tahun konflik terbuka. Meskipun jumlah mahasiswa tetap stabil, semakin sulit bagi mahasiswa, dosen, dan staf untuk melewati berbagai pos pemeriksaan dan langkah keamanan yang telah diterapkan sejak meletusnya perang. Jika perjalanan ke kampus memungkinkan, maka pos pemeriksaan dapat mengubah perjalanan pulang pergi harian yang biasanya memakan waktu 30 menit menjadi 5 jam.   Bahkan di tengah tantangan tersebut, Universitas terus berupaya mewujudkan misinya tidak hanya di kampus, tetapi juga melalui nilai-nilai yang ditanamkan pada mahasiswanya melalui kurikulum yang mengintegrasikan keterampilan profesional dengan formasi sosial dan etika. Br Jack membagikan kisah seorang mahasiswa yang menyelesaikan program kedokterannya dan saat ini sedang menempuh program spesialis onkologi sambil tinggal di tenda dan bekerja di rumah sakit yang hancur akibat bom di Gaza. Kisah ini menggema di kalangan alumni Universitas Bethlehem dan menjadi bukti bahwa universitas tidak hanya mentransfer pengetahuan dan keahlian, tetapi juga semangat melayani perutusan tersebut.     Pada akhir pertemuan, para Bruder berbagi cerita lain yang menyoroti urgensi karya ini. Pada masa terburuk perang, Universitas Bethlehem menerima seruan bantuan dari Palestina di Gaza. Yang mereka minta bukanlah makanan, pakaian, atau tempat tinggal. Sebaliknya, yang paling mereka butuhkan dari Universitas Bethlehem adalah pendidikan. Mereka menyadari bahwa pendidikan, sebagaimana pendidikan yang diselenggarakan oleh Universitas Bethlehem, adalah masa depan bagi rakyat mereka.   Tergerak oleh percakapan tersebut, Pater Jenderal bertanya kepada para Bruder apa yang dapat dilakukan oleh Serikat Jesus untuk membantu misi tersebut. Sebagai tanggapan, Bruder Jack menjawab dengan tegas, “Kirimkan lebih banyak Jesuit ke sini.” Karena Universitas Bethlehem merupakan salah satu dari sedikit kontak pastoral langsung yang dimiliki Serikat Jesus dengan rakyat Palestina, sasaran tersebut menggema sebagai panggilan yang mendesak.   Lima ratus tahun yang lalu, pria yang kelak menjadi Santo Ignatius Loyola ditolak keinginannya untuk hidup dan bekerja di Tanah Suci demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar. Dengan lembaga-lembaga seperti Universitas Bethlehem, harapannya keinginan tersebut akan semakin terpenuhi oleh generasi Jesuit di masa depan.   Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel Jesuits in the Holy Land dalam https://www.jesuits.global/2025/12/02/jesuits-in-the-holy-land/ Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat dan Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia, pada tanggal 17 Desember 2025.

Jesuit Global

Pertemuan Ignite the Way Usai, Misi Formasi Discernment Dimulai

Setelah 9 hari berkumpul di Salamanca, Spanyol, hampir 100 orang fasilitator proses discernment menutup pertemuan pembuka Ignite the Way pada 3 Desember. Para peserta yang terdiri dari Jesuit, imam diosesan, biarawati, dan awam dari berbagai belahan dunia kini bersiap membawa pulang pengalaman mereka dan menyelenggarakan program formasi di komunitas masing-masing.   “Sembilan hari ini menjadi pengalaman mendalam untuk belajar bersama,” kata Ketua Penyelenggara, Pater John Dardis. “Kami melihat banyak orang dari latar belakang beragam mulai dari Asia, Amerika Latin, Afrika, Eropa, Amerika Utara, hingga Asia Selatan, menemukan kesamaan dalam pendekatan mereka untuk mendampingi proses discernment. Maka pekerjaan sesungguhnya dimulai saat kita semua kembali ke Provinsi, keuskupan, dan organisasi kita untuk membagikan apa yang telah dipelajari.”   Pertemuan tersebut berhasil mencapai tujuan utamanya, yaitu mengidentifikasi unsur-unsur inti untuk pengembangan kurikulum yang dapat disesuaikan dengan konteks budaya berbeda. Peserta membahas studi kasus yang beragam, mulai dari pendampingan orang muda hingga menjadi fasilitator Sinode Keuskupan, dari membantu kongregasi religius mengidentifikasi prioritas masa depan hingga mendampingi komunitas paroki dalam mengambil keputusan penting.   “Yang paling mengesankan bagi saya adalah kerendahan hati dan kemurahan hati,” demikian refleksi peserta Avovome Blessing dari Nigeria. “Kekuatan dan ikatan yang tercipta melalui praktik beberapa unsur discernment bersama memberikan harapan besar untuk masa depan Gereja dalam berbagai konteks dan keragaman.”     Selama tahun 2026, tim regional akan mulai menyelenggarakan program formasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks lokal. Situs web baru, ignitetheway.org akan berfungsi sebagai pusat sumber daya yang menyediakan materi yang dapat digunakan dan disesuaikan oleh tim untuk karya formasi mereka.   “Menarik sekali sebab pendekatannya benar-benar sinodal,” kata Pater Roy Ragas, S.J. dari Filipina. “Kami tidak memaksakan satu model dari pusat. Sebaliknya, kami mengakui keragaman konteks dan dapat berjalan bersama dalam mendiskusikan apa yang dibutuhkan oleh Gereja dan komunitas kami.”   Pater Jenderal Arturo Sosa, yang meluncurkan inisiatif tiga tahun ini, menekankan bahwa inisiatif ini mewakili kontribusi Serikat Jesus dalam perjalanan sinodal Gereja. “Discernment bersama bukanlah teknik yang harus dikuasai,” kata Pater Sosa dalam pesannya kepada para peserta. “Ini adalah praktik spiritual yang membutuhkan formasi hati. Para fasilitator nantinya akan membantu banyak orang untuk belajar mendengarkan satu sama lain dan juga mendengarkan Roh Kudus, di mana kemampuan mendengarkan semacam itu sangat dibutuhkan.”     Menatap ke depan, proyek ini dipersiapkan untuk mengantisipasi pertumbuhan dan perkembangan berkelanjutan. Seiring tim regional mendapat pengalaman sepanjang 2026-2027, pola akan terlihat mengenai di mana kebutuhan spesifik paling mendesak, baik dalam formasi, kerja sama dengan kongregasi religius, atau dukungan bagi lembaga pendidikan dan sosial. Pengalaman ini akan membantu mengarahkan evolusi berkelanjutan inisiatif ini, termasuk kemungkinan identifikasi pusat sumber daya regional yang dapat menjadi tempat formasi lebih mendalam.   Saat ini, fokus tetap pada tugas mendesak, yaitu membekali para fasilitator yang baru saja terhubung ini agar dapat segera memulai perutusan mereka. Setiap peserta meninggalkan Salamanca dengan sumber daya, jaringan, dan yang paling penting, visi bersama untuk mendampingi Gereja dalam perjalanan sinodalnya.   “Kami menanam benih,” kata Selia Paludo dari Brasil yang bekerja di Chile. “Kami tidak tahu persis bagaimana benih-benih ini akan tumbuh di setiap tempat, tetapi kami percaya Roh Kudus akan membawa pertumbuhan.”   Artikel ini merupakan terjemahan dan adaptasi dari artikel “Ignite the Way” Salamanca Meeting Concludes: Regional Teams Ready to Take Formation Forward dalam https://www.jesuits.global/2025/12/03/ignite-the-way-salamanca-meeting-concludes-regional-teams-ready-to-take-formation-forward/   Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat dan Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia, pada tanggal 17 Desember 2025.

Jesuit Global

Pelatihan Fasilitator untuk Discernment Bersama

Ignite The Way: Gereja universal sedang berjalan dalam sebuah perjalanan sinodal, sebuah proses “berjalan bersama” yang mengajak seluruh umat untuk terlibat secara lebih inklusif dan partisipatif. Dokumen akhir Sinode tentang Sinodalitas menekankan pentingnya “pertobatan sinodal” yang membawa transformasi dalam cara kita berelasi, berdoa, dan mengambil keputusan. Pada intinya, Gereja kembali dipanggil untuk menjadi ruang dialog dan mendengarkan, terutama bagi mereka yang berada di pinggiran, sambil membangun jembatan dengan umat beragama lain serta merawat seluruh ciptaan. Untuk mewujudkan visi ini, dibutuhkan lebih dari sekadar wacana. Gereja memerlukan alat dan metode yang konkret. Di sinilah “discernment bersama,” sebuah karunia warisan spiritual Ignasian, menjadi sangat relevan. Discernment bersama adalah proses membedakan kehendak Allah secara komunal dalam doa, dialog, dan keterbukaan pada Roh Kudus.   Sebuah Inisiatif Global untuk Gereja Lokal Menanggapi panggilan Gereja universal ini, Serikat Jesus meluncurkan sebuah proyek internasional bertajuk “Ignite the Way: Pelatihan Fasilitator untuk Discernment Bersama”. Proyek yang dipimpin oleh Pater John Dardis, S.J. dan dibantu oleh Pater Joseph Cardozo, S.J. dari Provinsi Goa ini dirancang dalam tiga tahap: awal (2025), berbagi (2026-2027), dan peneguhan (2028+).   Sebagai dasar proyek ini, Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J., menegaskan, “Ini adalah proyek yang berakar pada Konsili Vatikan II… Visi tersebut adalah Gereja sinodal, yaitu Gereja yang berjalan bersama, rendah hati, dan berziarah.” Dengan kata lain, proyek ini ingin menghidupkan kembali visi Gereja yang penuh persaudaraan dan membumi, yang bekerja sama membawa pembebasan, rekonsiliasi, dan keadilan bagi dunia yang terluka.     Sebagai puncak dari tahap awal, pada 23 November hingga 3 Desember 2025, sebanyak 97 orang yang terdiri dari Jesuit, awam, biarawan/wati, dan imam diosesan akan berkumpul dalam sebuah kolokium di Salamanca, Spanyol. Pertemuan ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan sebuah kolaborasi global untuk menyiapkan pelatih (trainer of facilitators) discernment bersama.   Tujuan Kolokium: Dari Keterampilan hingga Jaringan Pertemuan di Salamanca dirancang sebagai sebuah kolokium, sebuah pertemuan untuk berbagi dan belajar. Tujuannya adalah: Mengembangkan Keterampilan: Melatih peserta menjadi fasilitator discernment bersama yang andal. Mendalami Spiritualitas: Mengeksplorasi aturan discernment St. Ignatius Loyola yang diterapkan dalam kelompok. Menyepakati Kurikulum: Menciptakan sebuah kurikulum inti yang dapat diterapkan di berbagai budaya dan konteks. Membangun Jaringan: Menghubungkan berbagai inisiatif sinodal yang sudah ada agar dapat saling mendukung. Melalui sesi interaktif, refleksi hening, percakapan rohani, dan berbagi pengalaman, peserta akan mendalami baik teori maupun praktik memfasilitasi sebuah kelompok untuk mendengarkan suara Tuhan bersama-sama.   Sebuah Batu yang Dilempar, Gelombang yang Menyebar Pada akhirnya, tujuan utama kolokium ini adalah melahirkan tim inti yang dapat melatih fasilitator-fasilitator baru di tingkat regional, baik di dalam Serikat Jesus maupun untuk Gereja universal. Proyek ini bukan milik Jesuit semata, melainkan sebuah sumbangan bagi seluruh Gereja, termasuk untuk keuskupan, paroki, kongregasi religius, dan organisasi awam.     Bagi Pater Joseph Cardozo, S.J., yang terlibat langsung sebagai Asisten Manajer Proyek, menjadi bagian dari inisiatif ini adalah sebuah kehormatan dan inspirasi. “Bertemu dengan berbagai peserta secara daring dan mendengarkan kisah kegembiraan, kesedihan, dan impian mereka telah menjadi motivasi bagi saya. Saat ini, kita sedang membangun sebuah gerakan,” ungkapnya.    Ia meyakini bahwa dalam dunia di mana percakapan publik seringkali terpecah dan penuh dengan kebisingan, Gereja justru memiliki alternatif: sebuah sikap mendengarkan dengan rendah hati dan penuh doa. “Saya yakin Gereja dan cara Injil memiliki begitu banyak hal untuk ditawarkan,” tambahnya.   Kolokium ini diibaratkan seperti sebuah batu yang dilemparkan ke danau. Dampak riaknya diharapkan akan menyebar ke seluruh benua dan budaya. Setiap peserta yang pulang ke tempat asalnya nanti diharapkan dapat menjadi agen perubahan. Mereka diharapkan siap memantik jalan dan mentransformasi budaya dalam kelompok masyarakat, organisasi, dan Gereja lokal mereka, menuju sebuah persekutuan yang lebih sinodal dan bersaudara.     Kontributor: P. Septian Marhenanto, S.J. dan Ha Wahyaka Diadaptasi dari tulisan P. Joseph Cardozo, S.J.

Jesuit Global

Juara Kelas? Bukan, Orang Kudus Seumur Hidup. Nasihat untuk Guru Masa Kini

Carlo Acutis dan Pier Giorgio Frassati: Muda, tampan, berasal dari keluarga terpandang, atletis, mampu menginspirasi dan menyatukan orang, penuh semangat, pencari kebenaran, dan peduli terhadap mereka yang paling terpinggirkan. Pier Giorgio Frassati (1901-1925) dan Carlo Acutis (1991-2006) memiliki banyak kesamaan. Keduanya bersekolah di sekolah Jesuit, di Turin dan Milan. Saat mewawancarai guru-guru yang mengenal mereka atau mempelajari secara mendalam mengenai kesaksian hidup mereka, beberapa kesamaan muncul seiring dengan wawasan untuk memperbarui pendidikan masa kini.   “Banyak Hal Lain yang Dapat Dilakukan” Mereka bukan kutu buku. Keduanya punya banyak ‘hal lain yang harus dilakukan.’ Dokumen dan guru mengkonfirmasi hal ini. Terkadang Carlo, meskipun seorang siswa yang cerdas, tidak menyelesaikan PR matematikanya karena ada ‘komitmen’ lain. Maria Capello, guru matematikanya selama tahun keempat sekolahnya di Istituto Leone XIII Milan, mengenang: “Dia tidak terlalu bersemangat dengan mata pelajaran saya,” katanya. “Terkadang dia datang terlambat. Tahun ajaran berakhir dengan nilai yang sedikit buruk. Saya memberi nilai 5 untuk orang suci! Baru kemudian saya tahu apa sebenarnya ‘komitmen’ itu. Dia sedang melakukan karya kasih, diam-diam, tanpa pamer. September berikutnya, nilainya pulih dengan cemerlang, tapi saya tak sempat lagi menyampaikannya langsung kepadanya.” Hal ini dikonfirmasi oleh Antonio Bertolotti, guru bahasa Italia-nya pada tahun 2005. “Dia anak biasa saja, cukup rata-rata. Humaniora adalah bidang yang paling membuatnya merasa nyaman. Saya tidak tahu apa yang dia lakukan di luar jam sekolah. Kepergiannya adalah peristiwa yang mengejutkan. Dari situlah kami mulai menyatukan kepingan kisahnya.”   Sementara itu Frassati sempat gagal dua kali dalam pelajaran Latin di Sekolah Menengah Klasik Massimo d’Azeglio, lalu pindah ke Istituto Sociale. Ia menerima kegagalannya dengan lapang dada. “Surat yang ditulis Pier Giorgio untuk ayahnya sungguh indah, yaitu keinginannya untuk memperbaiki diri dan untuk maju,” kata Antonello Famà, seorang guru agama senior di sekolah itu. Moto hidupnya lahir dari sana, “hidup, jangan hanya sekadar ada.”   Mencari secara mendalam “Pertanyaan, pertanyaan — dan senyumnya. Rasa ingin tahu yang selalu positif,” kenang Fabrizio Zaggia, guru agama Carlo di tahun keempat sekolahnya. “‘Kembali ke tempat dudukmu! Kita harus mulai pelajaran,’ terkadang saya menyuruhnya — meskipun, lebih sering, sayalah yang akhirnya mengubah pelajaran karena pertanyaannya.” Bertolotti, yang sekarang menjadi kepala sekolah menengah pertama di Leone XIII, setuju. “Sering kali pertanyaannya mencapai lima belas, baru saya suruh ia kembali ke bangkunya. Topiknya beragam, dari pelajaran sampai isu-isu aktual. Ia benar-benar tertarik, bahkan ingin berbagi gagasan dengan saya. Saya terutama ingat tulisan tangannya — sangat kecil. Dia sangat kreatif dalam menulis esai, bisa lima atau enam halaman panjangnya. Terkadang saya frustrasi mengoreksinya. Tulisannya seperti tulisan orang dewasa; tidak ada kekanak-kanakan sama sekali.” Ketika jam pelajaran berakhir dan guru matematika masuk, dia kemudian akan mengalihkan pertanyaannya kepada gurunya: “Saya ingat mengira dia terlalu muda untuk pertanyaan seperti itu. Dia sering berhenti untuk berdoa di kapel sekolah. Kami kemudian mengetahui dia melakukan hal yang sama di parokinya.”   Frassati, yang bergabung dengan Istituto Sociale pada tahun 1913, menemukan harta rohani lewat Latihan Rohani di Villa Santa Croce. Ia berdoa dan menerima komuni kudus setiap hari. Ia memiliki iman yang aktif, yang diwujudkan dalam sejarah dan kasih.   Kaum muda untuk orang lain “Tiga, dua, satu: Menga masuk ke dalam kelompok!” Itu adalah kalimat dari film pendek yang disutradarai Carlo dan dibuat bersama kelasnya, atas saran guru agama mereka, untuk berpartisipasi dalam kompetisi yang mempromosikan karya sosial. “Panitia menolak film pendek karya seorang santo,” kata guru itu sambil tersenyum. Kami tidak menang, tetapi Carlo berhasil melibatkan semua orang dalam proyek itu. Saya ingat betapa sangat ringan tangan, “Jangan khawatir: Saya akan merekamnya, mengeditnya, dan memilih musiknya,” katanya kepada saya. Saya ingat bahkan ia memasukan musik latar karya Morricone, the Mission. Dia sangat berhati-hati agar tidak ada yang dikucilkan, terutama mereka yang introvert dan yang lebih lemah. Dia adalah teman semua orang. Dia tegas dalam ide-idenya, tetapi tidak pernah marah atau suka memerintah.” “Dia tenang,” tambah Bertolotti, “dan seseorang yang bisa dipercaya. Terutama teman-teman sekelasnya, sangat senang mengobrol dengannya dan mencurahkan isi hati mereka.”   Banyak teman yang sering mendaki gunung bersama Pier Giorgio dan bersama beberapa dari mereka, ia mendirikan “Compagnia dei Tipi Loschi” (perkumpulan anak-anak jahil), yang di tengah canda tawa dan semangat yang tinggi, mendambakan hubungan yang mendalam dan autentik berdasarkan doa dan iman. “Kegembiraan hidup dan kedalaman hubungan adalah kualitas-kualitas yang berpadu sempurna di dalamnya,” tegas Famà, menggambarkan mereka sebagai pembangun komunikasi yang lihai.   Perhatian pada yang Terkecil Keduanya melangkah keluar dari zona nyaman tempat mereka dilahirkan. Privilege? Bagi mereka, itu sarana untuk melayani yang kecil. Di Istituto Sociale, Pier Giorgio bertemu dengan Serikat Santo Vincentius de Paul. “Ia memasuki rumah-rumah kaum miskin di Turin tahun 1920-an. Ia mencium bau busuknya. Ia tidak menutup hidungnya, melainkan merangkul situasi-situasi tersebut. Ini bukan tentang estetika kasih, melainkan tentang berbagi, tentang perhatian konkret kepada kaum pinggiran seperti yang telah diutarakan oleh Paus Fransiskus,” jelas Famà. “Gairahnya untuk belajar muncul kemudian di Politeknik. Ia memilih teknik pertambangan karena ia ingin bekerja bersama para penambang agar bisa meningkatkan kondisi hidup mereka.”   “Dia menolong siapapun yang ditemuinya,” kenang Profesor Capello tentang Carlo. “Dia mengulurkan tangan kepada orang lain, tanpa pernah menoleh ke belakang. Dia memberikan apapun yang dia bisa, misalnya kantong tidur dan selimut untuk orang miskin. Kepada mereka yang tidak membutuhkan apapun, dia menawarkan senyumnya. Dia memberikan hidupnya untuk orang lain.” “Proses kanonisasi? Proses itu tidak disambut positif oleh teman-teman sekelasnya,” ungkap Bertolotti, “terutama oleh mereka yang paling cerdas. Kekudusan menimbulkan sedikit rasa tidak nyaman, terutama ketika itu milik teman sekelas yang duduk tepat di sebelahmu.”   Nasehat untuk Guru Masa Kini Kesaksian diatas menantang para orang tua, guru, dan pendidik saat dihadapkan dengan banyaknya anak muda yang mereka jumpai — unik, istimewa, dan masing-masing berpotensi menjadi orang suci.   Amati dan Dengarkan “Ada hal-hal yang lebih penting bagi anak muda daripada pekerjaan rumah dan belajar. Kita harus belajar mendengarkan. Mereka memiliki pesan-pesan berharga yang mungkin tidak langsung kita pahami,” jelas Capello. “Berawal dari pesan-pesan tersebut, kita kemudian dapat menemukan cara untuk membangkitkan minat dan rasa ingin tahu, membantu setiap orang untuk tumbuh dan dewasa.” “Di balik setiap anak muda ada misteri (dimana)