Pilgrims on Christ’s Mission

Formasi Iman

Formasi Iman

Epifani di Ujung Timur

Sedikit Ketersingkapan atas Kompleksitas Papua Liburan semester teologi tahun pertama ini membawa perutusan yang tak terduga untukku: program Immersion ke luar Pulau Jawa. Karena jumlah skolastik tingkat satu teologi di Kolsani (Kolese St. Ignatius, Yogyakarta) hanya tiga orang, program yang sedianya baru diterapkan pada tahun 2027 ini pun dimajukan sebagai ganti Bulan Imamat. Awalnya, sejujur-jujurnya, ada rasa gentar di hati. Kabar angin tentang Papua yang tidak aman sempat membuatku enggan. Kontras rasanya melihat dua rekanku yang begitu gembira berbelanja perlengkapan tourney untuk masuk ke pedalaman Kalimantan. Alih-alih antusias, aku lebih sering menyendiri, memohon rahmat agar dikaruniai semangat misionaris seperti Fransiskus Xaverius.   Di penghujung tenggat pengumpulan tugas akhir yang kuunggah ke surel dosen, aku akhirnya bisa berserah. Sabtu, 3 Januari 2026, perjalananku dimulai. Rentetan penundaan penerbangan di Yogyakarta dan Makassar seolah menguji kesabaranku. Namun, tempaan probatio sejak masa novisiat membantuku mengubah keluhan menjadi momen eksplorasi: mencicipi Coto Makassar hingga perjumpaan tak terduga dengan Pater Sudriyanto, S.J., dan seorang guru SMA Adhi Luhur di bandara.     Setibanya di Nabire, Gereja kebetulan sedang merayakan Epifani. Momen ini menjadi sangat mengena bagiku. Epifani mengisahkan kedatangan para Majus dari Timur yang mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Namun, esensi terdalam dari perayaan ini adalah sebuah ketersingkapan. Allah yang adalah Sang Raja dan Penguasa semesta ternyata menyingkapkan diri-Nya dengan menjelma menjadi manusia yang rentan.   Di tanah ini, aku pun mengalami ‘epifani’-ku sendiri. Papua yang selama ini hanya berputar di awang-awang kepalaku sebagai konsep wilayah yang jauh dan rawan, seketika tersingkap menjadi sebuah realitas yang begitu manusiawi dan nyata. Ketersingkapan realitas itu diawali oleh hangatnya persaudaraan dalam Serikat Jesus. Aku disambut dan dijemput oleh Pater Purwantoro, S.J., Pater Adi Bangkit, S.J., serta para Jesuit senior di Wisma SJ. Aku juga mengunjungi Paroki Kristus Sahabat Kita dan SMA Adhi Luhur. Menyaksikan karya para Jesuit perintis di tempat ini, aku berkontemplasi betapa gigihnya mereka dalam menanamkan benih iman, harapan, dan kasih.   Perjalanan sesungguhnya berlanjut lewat jalur darat selama delapan jam menuju Waghete di ketinggian 2.000 mdpl dekat Danau Tigi. Aku tidak sendiri menuju Waghete, melainkan ditemani volunteer baru yang bersemangat belajar, seorang umat, dan driver handal dari Toraja. Di pastoran Paroki Yohanes Pemandi, Pater Peter Devantara, S.J., dan dua volunteer menyambut kami. Tugas di Waghete membawaku pada keseharian yang sangat praktis, jauh dari teori ilmu teologi. Di asrama, aku menjadi ‘bapak asrama’.’ Ada sukacita tersendiri saat menemani anak-anak memotong rumput ilalang, hingga mereka dengan bangga menuliskan namaku di buku examen harian mereka.   Tantangan terbesarku adalah mengutak-atik mesin filter air Reverse Osmosis (RO) dan membenahi jalur pipa tandon yang pecah. Ketika air kembali mengalir jernih, sorak gembira anak-anak menjadi penghiburan rohani yang tak ternilai. Allah sungguh tersingkap dalam hal-hal harian yang sederhana.   Selain urusan rumah, aku juga mengajar di SD Stasi Yaba, Yagu, dan Kigou. Berbekal teriakan “Mei Sekolah!” (Ayo Sekolah!), kami mengajak anak-anak belajar calistung (membaca, menulis, dan berhitung) sederhana. Di bilik kelas inilah aku terbentur pada realitas struktural. Jika para Majus mempersembahkan emas kepada Sang Raja, di sini aku melihat ironi yang menyesakkan: anak-anak Papua ini berdiri di atas tanah yang kaya akan emas, namun mereka berjalan tanpa alas kaki. Absennya tenaga pendidik membuatku sadar bahwa pendidikan di sini bukan tertinggal, melainkan ditinggalkan.     Merujuk pada ulasan “The failure of education in Papua’s highlands” di situs Inside Indonesia, hancurnya sistem pendidikan di pedalaman Papua justru terjadi ketika kebijakan otonomi khusus menyerahkan wewenang kepada pejabat daerah, yang memicu pemekaran wilayah administratif tak terkendali tanpa diimbangi dengan kapasitas manajemen lokal. Akibatnya, sistem sekolah yang dahulunya sempat berjalan baik secara swadaya di bawah naungan gereja dan misionaris perlahan terfragmentasi hingga akhirnya terbengkalai dan ditinggalkan. Meskipun demikian, sebagai sebuah kemungkinan alternatif lain, barangkali pendidikan formal memang belum menjadi prioritas di Papua untuk saat ini.   Dalam situasi yang serba kompleks ini, Gereja Waghete hadir bukan untuk memaksakan perubahan instan atau menggantikan peran guru seutuhnya. Kehadiran ini merupakan wujud nyata Gereja yang menghidupi preferential option for the poor—memihak kepada mereka yang rentan dan dirampas hak-haknya.   Tiga minggu berlalu teramat cepat. Perpisahan diwarnai rasa haru yang mendalam. Di Stasi Meyepa, seorang bapak bahkan memberiku seekor ayam sebagai wujud terima kasih. Aku kembali ke Jawa pada tanggal 28 Januari, tepat ketika Gereja merayakan Peringatan Wajib Santo Thomas Aquinas, pelindung para teolog dan pelajar Katolik. Sebuah penutup yang begitu puitis bagi langkahku berikutnya. Pengalaman immersion di Waghete pada akhirnya bukan sekadar jeda studi, melainkan bentuk latihan berteologi kontekstual secara nyata.   Sumber: Bobby Anderson. (2013, 29 September). “The failure of education in Papua’s highlands”. dari https://www.insideindonesia.org/archive/articles/the-failure-of-education-in-papua-s-highlands.     Kontributor: Sch. Y.K. Septian Kurniawan, S.J.

Formasi Iman

Belajar Imamat di Pedalaman

Immersion Para Frater Skolastik Kolese Santo Ignatius (KOLSANI) Pada 3-31 Januari 2026, kami, tiga teologan tingkat 1 Kolsani (SS. Alfred, Kefas, dan Septian K.) menjalani program Immersion di Paroki Santa Maria – Botong, Kalimantan Barat dan Paroki Santo Yohanes Pemandi – Waghete, Papua Tengah. Program Immersion Kolsani adalah bagian dari program formasi yang baru untuk mendukung pemantapan pilihan hidup imamat Jesuit bagi para frater di Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta, salah satu rumah formasi bagi para calon imam Serikat Jesus sebelum mereka menerima tahbisan kelak. Seperti namanya (immersion = mencelupkan), tujuan utama dari program ini adalah agar para frater dapat masuk dan mengalami langsung kehidupan imam Jesuit yang khas secara lebih mendalam di tempat mereka berkarya, terutama dalam konteks pelayanan pastoral paroki di luar Jawa.   Pada umumnya, bulan Imamat (Arrupe Month) menjadi kegiatan rutin di bulan Januari bagi para frater teologan tahun pertama di Kolsani. Akan tetapi, tahun ini bulan Imamat akan ditunda hingga tahun depan, sehingga kami mendapat kesempatan untuk menjalani immersion terlebih dahulu sebelum tahun depan menjalani bulan Imamat. Penundaan itu kiranya membuat pengalaman ini menjadi lebih menarik karena sebelum belajar tentang kekhasan imamat Jesuit secara teoretis, kami justru mendapat kesempatan untuk mengalaminya secara langsung di tempat immersion kami masing-masing.     Tantangan dan warna pengalaman yang berbeda menyambut kami di tempat immersion masing-masing. Di Paroki Botong, saya dan Sch. Alfred merasakan perjalanan ke stasi sebagai salah satu tantangan terbesar. Jarak dari paroki yang berada di Desa Kualan Hulu ke stasi yang berada di Desa Kualan Tengah memang tidak sangat jauh untuk ukuran pada umumnya. Namun, medan yang sebagian besar berupa jalan tanah yang berlumpur dan tidak rata menjadikan perjalanan yang normalnya ditempuh selama satu jam pada praktiknya kami tempuh dalam durasi dua hingga tiga kali lebih lama. Kami bahkan pernah menghabiskan waktu hampir enam jam hanya untuk pulang dari stasi karena kondisi jalan yang semakin licin akibat diguyur hujan semalaman. Kami merasa tenaga imam atau pelayan pastoral di sana sebagian besar habis di jalan karena kondisi medan yang demikian. Tentunya, anggaran perbaikan kendaraan juga menguras keuangan cukup banyak.       Berbeda dengan tantangan di Kalimantan, Sch. Septian di Paroki Waghete menemukan variasi tantangan, salah satunya adalah pendidikan formal yang tidak berjalan dengan baik. Guru yang mengajar di sekolah negeri maupun swasta sering tidak hadir sehingga mengakibatkan anak-anak tidak mendapat akses pendidikan dengan semestinya. Anak-anak juga tidak mengenal cara untuk merawat diri. Untuk itu, Paroki Waghete mendatangkan guru sukarelawan untuk membantu mengajar membaca, menulis, dan berhitung serta menyediakan makanan bergizi seperti telur rebus maupun susu di sekolah yang berada di keempat stasi, yakni Yaba, Kigo, Yagu, dan Meyepa. Paroki juga menyediakan asrama bagi anak-anak SMP yang berasal dari pedalaman. Selain itu, faktor keamanan juga menjadi tantangan bagi para guru sukarelawan ketika hendak mengajar di stasi-stasi.     Di tengah berbagai tantangan yang ada, kami di Botong ataupun Waghete juga menjumpai semangat para pastor paroki yang terus berusaha mencari cara untuk melayani umatnya dengan maksimal. Di Botong, kami berjumpa dengan pastor paroki yang terus berusaha melampaui batas-batas fisiknya untuk bisa berkeliling dan mengunjungi umat di stasi-stasi setiap bulan. Di Waghete, kami berjumpa dengan pastor paroki yang juga memperjuangkan pendidikan umatnya selain juga menjalankan tugas pelayanan sakramental di stasi-stasi.   Pada akhirnya, kami kembali ke komunitas kami di Kolsani, Yogyakarta, dengan konsolasi. Immersion di tempat-tempat pedalaman ini mengajak kami untuk berefleksi tentang kekhasan imamat Jesuit melalui pengalaman hidup bersama para imam dengan segala perjuangan mereka di tempat-tempat sulit.     Dari satu bulan hidup bersama mereka, kami belajar bahwa setidaknya dari pengalaman terbatas ini, kekhasan imamat Jesuit tetap berakar pada semangat Latihan Rohani. Kami berjumpa dengan para imam yang mendengar dan sedang menjawab panggilan Raja abadi untuk bersusah payah bersama-Nya dalam konteks yang berbeda di dua tempat yang berbeda pula. Bagi kami, pengalaman ini juga menjadi undangan untuk terus berusaha mendengarkan panggilan Raja Abadi itu dan terus berjuang untuk menjawab panggilan-Nya.     Kontributor: Sch. Daud Kefas Raditya, S.J.

Formasi Iman

Pabrik Roti Tuhan

Roti sourdough adalah sejenis roti yang proses pembuatannya memanfaatkan ragi alami yang terbentuk dari campuran air dan tepung. Tidak seperti jenis roti lainnya yang relatif lebih mudah dibuat karena menggunakan ragi instan, roti sourdough ini lebih sulit karena membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Namun jika berhasil, roti ini memberikan rasa yang unik serta khasiat kesehatan yang lebih banyak dibandingkan roti-roti lainnya.   Pada Minggu, 28 Desember 2025, di Kapel Kolese Hermanum, Johar Baru, Sch. Alfa Almakios Dwi Prawira Leton mengikrarkan Kaul Pertama-nya di dalam Serikat Jesus. Ia menyusul kesembilan teman angkatan novisiatnya yang sudah mengucapkan Kaul Pertama di Kapel La Storta, Girisonta enam bulan sebelumnya. Misa Kaul Pertama Sch. Alfa dipimpin secara konselebran dengan selebran utama P Benediktus Hari Juliawan, S.J., didampingi oleh P Augustinus Setyo Wibowo, S.J., Rektor Kolese Hermanum dan P Dominico Savio Octariano Widiantoro, S.J., Magister Novisiat St. Stanislaus Kostka. Para skolastik Kolese Hermanum beserta keluarga Sch. Alfa juga ikut serta dalam misa tersebut. Di dalam homilinya, Pater Provincial memberikan analogi menarik yang membandingkan proses formasi dengan pembuatan roti sourdough. “Bagaikan membuat roti sourdough yang membutuhkan kesabaran, waktu yang lama, serta ketelitian, begitu pula proses formasi yang harus dijalankan seorang Jesuit,” ucap Pater Benny, panggilan akrabnya, sembari mengingat pengalamannya belajar membuat roti sourdough.     Setelah melewati masa penundaan pengucapan kaul dengan perasaan harap-harap cemas, Sch. Alfa akhirnya diperkenankan untuk mengikrarkan janjinya untuk hidup murni, taat, dan miskin. Ia juga berjanji untuk masuk ke Serikat Jesus dan hidup seturut Konstitusi Serikat Jesus. Kaul pertama di dalam Serikat Jesus itu unik karena langsung bersifat kekal. Kaul dalam ordo atau kongregasi lain bersifat sementara, sehingga setiap anggotanya harus membuat surat lamaran pembaruan kaul kepada pimpinan setiap tahun sampai diperkenankan untuk mengucapkan kaul kekal. Seorang Jesuit tidak perlu membuat surat lamaran setiap tahun. Namun, dari pihak Serikat, Serikat belum menerima kaul pertama ini karena kaul ditujukan langsung kepada Allah. Baru setelah melewati proses formasi yang lebih panjang, setelah Serikat yakin bahwa memang Jesuit ini layak untuk menjadi bagian dari Serikat Jesus secara defintif, Serikat akan mengundang Jesuit tersebut untuk kaul akhir. Pada saat kaul akhir, Serikat Jesus menerima secara penuh anggotanya.   Di zaman modern ini, tiga kaul yang diucapkan oleh seorang Jesuit mungkin membuat orang menjadi bertanya-tanya, “Buat apa hidup miskin, murni, dan taat? Bukannya hidup itu harus bebas, kaya, dan nikmat?” “Apakah mengucapkan kaul itu masih relevan di tengah dunia yang menawarkan berbagai macam hal?” Bagi Serikat Jesus, kaul-kaul yang diucapkan oleh para anggotanya justru menjadi semakin relevan dan profetis. Para Jesuit berani mengambil sebuah sikap serta nilai yang diyakini dapat membawa diri mereka sekaligus orang lain pada sebuah kedalaman. Di kala banyak orang memperebutkan materi dan kekuasaan demi kepentingan diri, lewat kaul kemiskinan seorang Jesuit dipanggil untuk menyadari bahwa harta duniawi adalah milik Tuhan sendiri yang harus dijadikan sarana untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Kaul kemurnian tidak melarang para Jesuit untuk merasakan cinta. Sebaliknya, cinta menjadi dasar dari kaul kemurnian. Lewat cinta, timbulah hasrat untuk memberikan diri dalam pelayanan secara penuh. Ketaatan tidak menjadikan seorang Jesuit seperti sebuah robot yang tidak bisa berpikir. Justru lewat ketaatan, seorang Jesuit diajak untuk hidup secara kreatif dan setia (creative fidelity).     Seperti analogi roti sourdough di atas, kaul-kaul itu bagaikan tepung dan air. Bahan-bahannya sudah tersedia. Tinggal bagaimana bahan-bahan tersebut mau diolah supaya dapat menghasilkan ragi yang baik. Seorang Jesuit diajak untuk mengolah dirinya terus-menerus lewat kaul-kaulnya. Jika dapat diolah dengan baik, Jesuit tersebut dapat memberikan khasiat dan manfaat yang banyak bagi keselamatan jiwa-jiwa, seperti roti sourdough.   Apakah kaul menjadikan seorang Jesuit suci? Tentu tidak. Kenyataannya, pergulatan dan pergumulan terjadi di sana-sini. Namun, setidaknya kaul-kaul memberikan dasar sekaligus orientasi kehidupan yang hendak dicapai oleh Jesuit. Pada akhirnya, yang paling penting adalah memohon rahmat kepada Tuhan agar membimbing setiap Jesuit dalam menghidupi kaul. Dalam salah satu bagian rumusan kaul pertama, ada kalimat indah yang bunyinya, “Dan sebagaimana Engkau berkenan menganugerahkan untuk mengingini dan mempersembahkan ini, juga menganugerahkan rahmat selimpah-limpahnya untuk melaksanakannya.” Semoga Tuhan yang sudah memulai berkenan untuk menyelesaikannya.     Kontributor: Sch. Adrianus Raditya I., S.J.

Formasi Iman, Provindo

Program Tersiat Serikat Jesus Provinsi Indonesia 2026

Dalam Serikat Jesus, formasi tersiat adalah periode formasi ketiga dan terakhir sebelum seorang Jesuit mengucapkan kaul akhir. Setelah bertahun-tahun studi dan berkarya, para Jesuit yang menjalani formasi tersiat diajak kembali mencecap sumber-sumber utama Serikat Jesus, termasuk kehidupan Santo Ignatius, Latihan Rohani, dan sejarah Serikat Jesus. Selama periode ini, para tersiaris merenungkan panggilan mereka, hubungan mereka dengan Tuhan, dan pengalaman dalam karya pelayanan. Mereka juga sejenak undur diri, berdoa, dan merenungkan perjalanan pribadi mereka. Para tertian berbagi refleksi mereka dan menerima bimbingan rohani dari Direktur Program Tersiat. Tahun ini, program tersiat Provinsi Indonesia, yang berlangsung dari Januari hingga Juli, diikuti 8 imam dari negara lain, termasuk India, Italia,  Malaysia, dan Amerika Serikat, dan akan didampingi oleh Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J.   Berikut profil delapan Jesuit yang mengikuti Program Tersiat 2026 Provinsi Indonesia: P. Sujay Daniel D.G., S.J. Bangalore, Karnataka, India – 09 Januari 1982 Pater Sujay, S.J. ditahbiskan pada 1 Desember 2016. Ia pernah berkarya dalam pengelolaan pendidikan dan asrama pendampingan komunitas marjinal (Siddi), pelayanan pastoral kaum muda, serta formasi calon imam, sambil menempuh studi doktoral Neurosains yang memperkaya pendekatan pendampingannya dengan perspektif ilmiah.   Saya berharap dapat memberikan diri dengan tulus kepada Tuhan. Setelah itu, apapun yang terjadi, terjadilah!!!     P. Martinus Dam Febrianto, S.J. Lampung, Indonesia – 17 Februari 1981 Pater Dam, S.J. yang ditahbiskan pada 19 Agustus 2021, berkarya bersama Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia dalam pelayanan bagi pengungsi dengan memberikan dukungan emosional dan pemenuhan kebutuhan dasar. Sejak 2022 menjabat sebagai Direktur Nasional JRS Indonesia sambil tetap terlibat langsung dalam pendampingan di berbagai wilayah.   Saya ingin sepenuhnya menyerahkan diri kepada Tuhan, secara bebas dan jujur, membiarkan diri dibentuk, ditantang, dan diperbarui. Di luar itu, saya hanya ingin menikmati momen syukur ini!     P. Parthasarathi N, S.J. Chennai, India – 22 April 1986 Ditahbiskan pada 26 Agustus 2017, Pater Sarathi, S.J. menekuni karya pastoral dan kerasulan orang muda melalui pelayanan paroki, serta pendampingan komunitas. Selain itu, ia juga terlibat dalam AICUF Tamil Nadu (Perkumpulan Universitas Katolik Seluruh India), pengembangan karya digital dan pembelajaran global Jesuit, sembari menjalani studi doktoral di bidang Manajemen dengan fokus kewirausahaan sosial.   Saya ingin semakin mendengarkan panggilan Allah, orang-orang yang tersisih, terutama kaum muda, dan diri sendiri dalam terang iman, demi keterbukaan yang lebih besar pada perutusan universal Serikat dan Gereja.     P. Luigi Territo, S.J. Genova (Italia) – 27 April 1980 Ditahbiskan pada 22 Februari 2020, Pater Luigi, S.J. berkarya dalam pendampingan rohani, formasi calon imam, dan dunia akademik di Italia Selatan. Ia melayani sebagai pembimbing rohani di sekolah menengah di Naples, formator di Seminari Tinggi Pontifikal Antar-regio Campania, serta dosen teologi di Fakultas Kepausan di Naples, Italia, dengan subjek Trinitas dan dialog dengan Islam.   Saya ingin berhenti sejenak dan kembali kepada Tuhan untuk berada bersama-Nya sebagai seorang novis.     P. Joseph Koczera, S.J. New Bedford, Massachusetts, USA – 27 Mei 1980 Dari tahun 2009 hingga 2012, sebagai TOKer, Pater Joseph, S.J. mengajar filsafat di Universitas St. Joseph, Philadelphia (AS). Setelah ditahbiskan imam, ia menyelesaikan studi doktoral teologi di Centre Sèvres di Paris, dan sejak 2023 mengajar di Pontificia Università Gregoriana, Roma. Ia juga bekerja paruh waktu di paroki-paroki di Kanada, Prancis, dan Italia, serta bertanggung jawab mereksa Gereja Paroki Sant’Antonio Abate all’Esquilino, sebuah gereja kecil di Roma.   Saya berharap cinta saya kepada Allah semakin bertumbuh dan sebagai Jesuit saya makin mampu menjawab panggilan untuk melayani-Nya secara tulus, melalui keinginan mengikuti Latihan Rohani secara penuh sebagai pembaruan pengalaman Retret Agung yang terakhir saya jalani lebih dari dua puluh tahun lalu saat masih novis.     P. Rafael Mathando Hinganaday, S.J. Jakarta, Indonesia – 13 November 1988 Pater Rafael, S.J. memulai pelayanan apostoliknya di Kolese Mikael Surakarta, kemudian melanjutkan studi Magister Manajemen di Universitas Trisakti sambil menjadi ekonom Kolese Hermanum. Selain itu, ia bekerja sebagai anggota staf Yayasan Dana Pensiun (Yadapen), Semarang.   Saya ingin semakin bertumbuh dan menjadi seorang Jesuit yang mencintai Allah, Serikat Jesus, Gereja, dan karya di manapun saya ditugaskan.     P. Philipus Bagus Widyawan, S.J. Klaten, Indonesia – 18 November 1990 Segera setelah ditahbiskan imam, Pater Bagus, S.J. ditugaskan ke Paroki Santa Maria Bunda Allah di Botong, Keuskupan Ketapang, Kalimantan. Di sana, ia melakukan pelayanan paroki, pendampingan iman di kelompok-kelompok komunitas setempat.   Saya ingin semakin mencintai Serikat Jesus dan menjadi lebih siap diutus ke manapun sebagai seorang Jesuit untuk melayani Gereja.     P. Leslie Joseph Bingkasan, S.J. Sabah, Malaysia Pater Leslie, S.J. adalah Jesuit dari Regio Malaysia–Singapura. Beberapa kenangan terindahnya sebagai Jesuit adalah ketika ia menjalani pelayanan paroki, baik selama masa diakonat di Sabah maupun dalam karya pastoralnya saat ini. Sejak 2021, ia bertugas di Paroki St. Ignatius, Singapura, dan sejak 2023 menjadi pastor rekan. Keragaman demografis paroki yang tinggi menunjukkan kepadanya bahwa tidak ada pendekatan seragam dalam pelayanan. Hal ini memberikan ruang konkret baginya untuk menghidupi semangat lepas bebas Ignasian.   Saya berharap semakin terbantu untuk mengintegrasikan pengalaman hidup Jesuit dan pelayanan pastoral yang telah dijalani selama bertahun-tahun sehingga hidup dan panggilan saya sebagai Jesuit kembali disegarkan.     Kontributor: Tim Komunikator Jesuit Indonesia & Ha Wahyaka

Formasi Iman

Sukacita Sejati di Cafe Puna

Memetik Buah Discernment: Pada hari Kamis, 27 November 2025, komunitas Serikat Jesus (SJ) Pulo Nangka kembali menyelenggarakan acara Cafe Puna. Ruang belajar bersama yang terbuka untuk umum ini berlangsung pukul 19.30–21.00 WIB dan dihadiri secara luring maupun daring oleh umat paroki, kelompok kategorial, serta peserta dari beragam latar belakang usia dan profesi.   Pertemuan edisi ini mengangkat tema “The Fruits of Discernment: True Joy in Living God’s Will”, yang diambil dari bagian ketiga buku Discerning the Will of God: An Ignatian Guide to Christian Decision Making karya P. Timothy M. Gallagher, O.M.V. Tema ini sekaligus menutup rangkaian pembahasan buku tersebut, setelah peserta diajak mendalami disposisi dan proses discernment pada dua pertemuan sebelumnya. Melalui tema penutup ini, para peserta diajak untuk melihat bahwa discernment bukan sekadar metode mengambil keputusan, melainkan sebuah cara hidup yang menuntun seseorang untuk semakin selaras dengan kehendak Allah dan mengalami sukacita sejati.     Sebagai narasumber utama, hadir dua frater dari Komunitas SJ Pulo Nangka, yaitu Frater Wishal, S.J. dan Frater Yuhan, S.J. Dalam pemaparannya, Frater Wishal mengawali dengan menjelaskan pentingnya discernment sebagai landasan dalam mengambil keputusan hidup. Melalui proses ini, seseorang diajak untuk mengenali pilihan-pilihan yang selaras dengan kehendak Tuhan, yang pada gilirannya menumbuhkan kejernihan batin, kedamaian hati, dan pertumbuhan rohani.   Merujuk pada tulisan Gallagher, Frater Wishal menjabarkan tiga tanda penting dari discernment yang sejati, yaitu: rasa damai (bukan kesenangan sesaat, melainkan kejernihan batin yang mendalam atau inner clarity), konsolasi, dan rasa terpenuhi atau ditemukan (being found). Ia mengilustrasikannya dengan pengalaman Santo Ignatius Loyola, yang justru menemukan kekosongan dalam imajinasi tentang kejayaan duniawi, sementara refleksi atas hidup para kudus membawanya pada kedamaian dan arah hidup yang baru.     Frater Yuhan Felip, S.J. kemudian melengkapi pemaparan tersebut dengan menekankan bahwa discernment merupakan bagian dari hidup sehari-hari yang tak terpisahkan. Ia menggambarkannya sebagai “rumah” di saat keraguan, batu pijakan untuk sebuah keputusan berharga, dan yang terpenting, sebagai “a way of living”. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati akan dicapai karena melalui discernment, seseorang bersatu dengan kehendak Tuhan.   Pater Widy, S.J. menanggapi pertanyaan dalam sesi tanya jawab Acara Cafe Puna. (Dokumentasi: Penulis)   Sesi kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif yang dipandu oleh Pater Guido Chrisna Hidayat, S.J. dan Pater Widyarsono, S.J. Beragam pertanyaan yang mengalir, baik dari peserta luring maupun daring, mencerminkan antusiasme dan ketertarikan yang luas terhadap topik ini. Partisipasi aktif dari peserta muda hingga senior menunjukkan bahwa tema discernment tetap relevan bagi berbagai lapisan usia dan pengalaman rohani.     Sebagai penutup acara, para peserta diajak untuk hening sejenak merefleksikan gerak batin yang muncul selama sesi berlangsung. Suasana kemudian berlanjut menjadi obrolan ringan dan hangat sembari menikmati hidangan kecil di ruang makan. Melalui Cafe Puna, komunitas SJ Pulo Nangka terus berupaya menghadirkan ruang yang edukatif, reflektif, dan inspiratif, sekaligus membangun jejaring yang lebih luas dengan akademisi, umat beriman, dan masyarakat umum.   Kontributor: Sch. Sirilus Hari Prasetyo, S.J. – Humas Cafe Puna

Formasi Iman

Hidup yang Penuh

Pekan Kaul Bersama 2025: Senin, 1 September 2025 hingga Jumat, 5 September 2025 menjadi momen sukacita bagi para novis Serikat Jesus dan beberapa kongregasi lain. Pasalnya selama lima hari ini mereka belajar bagaimana mengusahakan diri menghayati ketiga kaul yang akan mereka peluk selamanya: kaul kemiskinan, kaul kemurnian, dan kaul ketaatan. Kegiatan Pekan Kaul Bersama (PKB) 2025 diikuti oleh beberapa ordo/kongregasi, yakni: SJ, CSA, OSU, OSF, PMY, SDP, dan AK.   Mereka menyebut momen perjumpaan ini sebagai Pekan Kaul Bersama, meski beberapa memelesetkannya menjadi Pekan Konsolasi Bersama. Kegiatan PKB ini sejatinya adalah kegiatan tahunan yang dilakukan oleh beberapa ordo/kongregasi untuk saling memperkaya sudut pandang mengenai ketiga kaul. Pada tahun ini, kegiatan PKB diadakan di Rumah Retret Gedanganak, Ungaran.   Pada hari pertama, Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J. memberikan pengantar mengenai ketiga kaul. Dipaparkan olehnya tiga contoh teladan penghayatan kaul, yakni: teladan hidup Fransiskus Asisi, Bunda Teresa dari Kalkuta, dan Paus Fransiskus. Ia juga memaparkan pentingnya tiga daya jiwa (nalar, rasa, dan kehendak) dalam menghidupi kaul-kaul tersebut. Lagu Doraemon dinyanyikan untuk menggambarkan pribadi yang memiliki kehendak kuat dan melaksanakannya. “Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini, ingin itu banyak sekali.” Dalam pengantar itu pula, Pater Sunu mengajak para novis untuk melihat akar afeksi dalam keluarga yang menjadi asas dan dasar panggilan hidup mereka.   Di hari kedua, dimulailah pemaparan-pemaparan materi dalam sesi-sesi. Setiap kaul mendapat empat porsi sesi yang dibahas dari tinjauan historis-biblis; tinjauan psiko-fisik, psiko-sosial, dan spiritual-rational; kaul dalam kekhasan tarekat; serta tantangan dan penghayatan di masa kini. Pada setiap sesi tersebut, diadakan presentasi oleh para novis yang dilanjutkan dengan sharing tiga putaran dalam kelompok-kelompok kecil.   Sharing tiga putaran merupakan terobosan untuk mengatasi ketegangan yang bisa terjadi dalam sesi tanya-jawab. Tak hanya itu, kesempatan sharing tersebut mengantarkan hasil presentasi pada nilai-nilai rohani yang membadan pada setiap novis. Dengan demikian PKB ini membawa suasana yang lebih spiritual ketimbang diskusi intelektual. Kesempatan tersebut menjadi waktu yang tepat melatih kerendahan hati untuk mau dan mampu menginspirasi, serta diinspirasi orang lain. Kerendahan hati itulah yang rasanya menjadi benang merah dari keutamaan ketiga kaul. Keutamaan tersebut pada akhirnya, juga membantu setiap pribadi yang memeluknya untuk lebih terbuka pada realitas di luar dirinya. Inilah modal awal untuk hidup berkomunitas dan saling berkolaborasi.   Nilai spiritualitas Ignatian juga beberapa kali disinggung, di antaranya diskresi dan menemukan Allah dalam segala hal. Dalam hal ini, kesadaran merupakan kunci. Keheningan pun tak luput dari sorotan. Pribadi yang hening akan mampu menyadari idealitas dan realitas baik di dalam dirinya maupun di sekitarnya. Pada akhirnya, menjadi pribadi yang merdeka dari segala kelekatan adalah cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap pribadi berkaul. Kemerdekaan pribadi tersebut tak lepas dari kematangan pribadi terkait. Pada hari Rabu, 3 September 2025, Pater Yulius Eko Sulistyo, S.J. memberikan gambaran tersebut, di mana pribadi yang matang adalah pribadi yang memiliki relasi yang afektif kepada diri sendiri, sesama, dan Tuhan.     Pada sesi penutupan, Pater Hilarius Budi Gomulia, S.J. memberi kesimpulan yang rasanya menjadi hal yang perlu dipegang oleh setiap pribadi berkaul, yakni “orang berkaul itu tidak merepotkan orang lain.” Dalam menghayati kaul, para novis semakin digerakkan untuk membagikan diri secara total demi pelayanan pada Allah yang lebih luhur. Sebagaimana kata-kata St. Ireneus, “Gloria Dei, homo vivens” – kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup. Para novis diajak untuk hidup sepenuhnya dan memandang Tuhan selalu.   Kontributor: nSJ Arnoldus Iga Pradipta Wihantara

Formasi Iman

Pekan Kateketik Novisiat Girisonta

Sabtu hingga Rabu, 9-13 Agustus 2025, Novisiat Girisonta mengadakan acara Pekan Katekese untuk para novis dan pranovis. Agenda rutin setiap tahun ini diadakan guna membekali para frater dengan materi katekese dari tim Pendikkat Sanata Dharma yang digawangi oleh Romo Hendra Dwi Asmara, S.J., Bapak Rudi dan Ibu Sindi, serta dua mahasiswa tingkat akhir, Ariel dan Caroline.   Setiap hari para frater dikenalkan dengan games ice breaking yang baru untuk membantu kerasulan PIA, PIR, OMK di lingkungan-lingkungan di Paroki Girisonta. Kak Caroline dan Ariel pun membawakan games untuk para frater agar para frater mengerti dan memahami cara memainkan games tersebut, misalnya ‘Berjalan Bersama’, melipat koran, ’Awas-Siap-Tembak-Dor’, games kerja sama dengan baik (Kyotobosi), games berhitung dan masih banyak games yang lain.   Selain permainan, para frater juga diberi materi peta perkembangan katekese. Dengan materi ini, para frater diharapkan memiliki tujuan ketika melaksanakan kerasulan lingkungan, yaitu transformasi, komunitas umat yang semakin beriman, perkembangan spiritual, dan pengajaran agama.   Yang menarik dari tim Pendikkat Sanata Dharma ini, selain membimbing/memaparkan materi di ruang belajar bersama para Novis, mereka juga ikut terjun langsung praktik kerasulan lingkungan naik sepeda bersama para Novis. Para pengajar Pak Rudi, Bu Sindi, Ariel, dan Caroline ikut bersama para novis pergi kerasulan lingkungan melewati jalan yang menanjak, menurun, dan tantangan lainnya. Berbagai sharing menarik pun muncul dari mereka karena ikut merasakan perjuangan novis setiap Senin sore menaiki sepeda untuk kerasulan lingkungan. Ada yang merasa lelah, namun bahagia; ada yang hanya dapat bersepeda hanya saat berangkat, lalu pulangnya naik ojek, karena medan yang dilalui naik-turun bukit, bukan jalan yang tidak datar.   Katekese Simbolik Selain itu, aktivitas menarik lainnya di dalam Pekan Katekese ini adalah materi tentang membuat katekese simbolik. Kami diminta untuk menjelaskan pengertian katekese dengan menggunakan simbol atau suatu benda di sekitar kami. Aktivitas ini kami lakukan dalam kelompok yang beranggotakan tiga orang. Hasil yang kami peroleh pun cukup unik. Dari 7 kelompok, muncullah 7 simbol katekese yang unik.   Salah satu simbol yang unik itu datang dari kelompok enam (Lino, Fred dan Alfons). Simbol yang mereka pakai adalah moke. Moke adalah minuman keras tradisional suku Bajawa, yang terkenal di dataran Flores, NTT. Kadar alkohol dalam moke terbilang cukup tinggi. Meminum moke secara berlebihan dapat membuat orang mabuk. Pada titik ini, kami heran: mengapa mereka memakai jenis miras ini untuk menjelaskan hal yang suci?    Ternyata, mereka mampu memaknainya secara berbeda. Lino menjelaskan bahwa katekese itu seperti moke yang membuat orang kecanduan dan mabuk cinta Tuhan. Katekese mesti dirancang agar umat mau datang lagi dan lagi, bukan karena untuk bertemu para fraternya, melainkan untuk lebih mengenal Tuhan. Menurut kami, simbol ini unik dan out of the box.   Katekese simbolik ini sangat membantu kami untuk lebih mengenal katekese itu apa sehingga memberikan kami orientasi yang jelas dalam katekese atau kerasulan di lingkungan. Dengan demikan, kami bisa lebih mudah membuat preparasi kerasulan dan mempraktikkannya kemudian.   Kerasulan: Probasi dasar hidup menjesuit Dalam kegiatan kerasulan atau berkatekese, para frater novis seringkali berjumpa dengan tantangan dan kesulitan yang berbeda-beda di lingkungan tempat diutus. Tantangan itu dimulai dari kondisi perjalanan bersepeda yang tidak mudah, yaitu jalan terjal, curam, minim penerangan di beberapa titik, dan juga harus sungguh berhati-hati ketika melewati jalan besar karena beriringan dengan banyak kendaraan besar. Tantangan lainnya adalah ketika bertemu dengan kelompok/umat yang kami layani, khususnya dengan kelompok PIA dan PIR, karena kami harus mengenal dinamika batin mereka dan mencari cara yang tepat dalam berkomunikasi atau menyampaikan materi katekese.   Salah satu pengalaman menarik, yakni kerasulan di lingkungan Sambeng. Kebetulan Kak Ariel mendampingi frater-frater (Higa dan Deva) yang merasul di situ. Anak PIA dan PIR di situ cukup unik dan boleh dikata susah. Kak Ariel sebelumnya sudah tahu tentang kondisi lingkungan Sambeng dari cerita. Ketika memulai mengajar, Kak Ariel memberi contoh pada kami cara membangun dinamika yang hidup serta komunikasi yang baik dengan kelompok PIA-PIR ini. Pengalaman ini membuat para frater belajar dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang menjadi kekurangan mereka selama ini.   Kak Ariel memberi masukan dan evaluasi kepada frater. Dia tersenyum dan kemudian menjelaskan bahwa para frater harus tekun dan setia dalam proses. Karena para frater baru beberapa pertemuan datang ke sini, maka butuh waktu untuk bonding dengan anak-anak.   Selanjutnya, yang bisa dilakukan para frater yaitu tetap semangat dalam menyiapkan materi kerasulan tanpa merisaukan apakah nanti di lapangan berhasil atau gagal.   Kami bersyukur atas Pekan Katekese ini. Lewat kursus beberapa hari ini, kami disadarkan bahwa kerasulan merupakan salah satu probasi dasar yang harus kami latih dan kerasulan adalah bagian dari hidup menjesuit sebab Jesuit adalah mereka yang dipanggil untuk selalu siap sedia diutus ke manapun.     Kontributor: nS Martin, Edgar, dan Higa

Formasi Iman

Nasi Berkah, Berkah bagi Sesama

Pada Minggu, 8 Juni 2025, skolastik Kolese Hermanum berkumpul bersama dengan para donatur untuk mengadakan rapat evaluasi dan refleksi terkait program nasi berkah. Sepanjang Oktober 2024 hingga Juni 2025, program ini terus memberikan kekayaan pembelajaran bagi para frater. Program nasi berkah di Kolese Hermanum terus berlanjut sebagai bentuk konkret kehadiran dan solidaritas terhadap saudara-saudari kita yang mengalami kesulitan ekonomi. Dari yang mulanya hanya dilaksanakan di Unit Pulo Nangka, program ini telah berkembang ke unit-unit lain seperti Kampung Ambon, Johar Baru, Kramat 6, dan Kramat 7 (Wisma Dewanto).    Setiap unit tetap mempertahankan pembagian 30 kupon nasi berkah per minggu, yang masing-masing bernilai subsidi Rp10.000. Para penerima diminta memberikan kontribusi sebesar Rp2.000 ke warung mitra sebagai bentuk partisipasi mereka atas kegiatan ini.    Namun, dalam pelaksanaannya, kegiatan ini menghadapi sejumlah tantangan, yaitu (1) pergantian PIC dan perubahan komposisi unit membuat alur koordinasi sempat tidak stabil; (2) beberapa warung mengajukan kenaikan harga karena biaya bahan baku yang meningkat; (3) miskomunikasi terkait sistem pembayaran juga sempat terjadi, terutama ketika PIC berhalangan hadir dan digantikan oleh orang lain yang belum sepenuhnya memahami alur; dan (4) ketidakteraturan dalam pembagian kupon juga muncul ketika para frater mengalami kesibukan akademik atau kegiatan internal sehingga perlu saling mengingatkan agar kupon tetap dibagikan tepat waktu.   Relasi dengan Penerima dan Warung Salah satu kekuatan program ini terletak pada relasi yang terbangun secara personal. Banyak frater membagikan pengalaman bagaimana kupon yang diberikan bukan sekadar akses ke makanan tetapi menjadi pintu perjumpaan yang bermakna. Dari para frater yang membagikan kupon, mereka membagikan cerita tentang para penerima kupon yang dengan setia menanti setiap minggu. Pemilik warung juga merasa terlibat dalam kegiatan nasi berkah ini. Bahkan ada warung yang tanpa diminta menambahkan lauk seperti daging sebagai bentuk keterlibatan memberi.    Keluarga Ibu Fifi dan keluarga Ibu Khim, yang sebelumnya telah menjadi inspirasi bagi program ini, tetap menjadi mitra dan donatur aktif. Mereka melihat bahwa membantu menyediakan makanan secara layak adalah bentuk nyata menghargai sesama. Bagi mereka, program ini bukan hanya transaksi ekonomi, tetapi juga kesempatan rutin berbagi kasih dan kemurahan hati yang juga menjadi sumber pemasukan stabil bagi para pemilik warung.   Refleksi Sosial dan Rohani Sebagaimana telah menjadi semangat awal program ini, kegiatan nasi berkah bukanlah sekadar pembagian makanan murah. Hal ini adalah bentuk tanggapan terhadap Universal Apostolic Preferences (UAP) nomor dua, yaitu berjalan bersama mereka yang terpinggirkan. Program ini membawa pesan bahwa tidak ada seorang pun yang sendirian di dunia ini — bahwa Tuhan, dalam cara-Nya yang sederhana, hadir melalui komunitas yang peduli.   Banyak PIC menyadari bahwa proses ini membentuk mereka secara pribadi dan rohani. Bagi para skolastik ekspatriat, kegiatan ini menjadi sarana belajar bahasa dan budaya Indonesia sekaligus menyentuh realitas sosial secara langsung. Di tengah tantangan praktis, selalu ada momen kecil yang menjadi ruang belajar mencintai lebih dalam dengan cara yang konkret.   Arah ke Depan Beberapa keputusan pun diambil selama periode ini untuk menjalankan program agar berjalan lebih baik, yaitu: (1) penyesuaian harga kupon dengan kondisi ekonomi dan kebutuhan warung. Biaya subsidi yang awalnya Rp10.000 meningkat jadi Rp13.000. Dengan cara yang sama pula para penerima harus membayar Rp2.000; (2) bukti pembayaran lebih diperjelas melalui nota atau dokumentasi foto agar ada transparansi dan pertanggungjawaban; (3) komunikasi dengan warung mitra harus diprioritaskan, baik dalam hal harga, menu, maupun sistem pembayaran; dan (4) Kriteria penerima kupon ditekankan pada kebutuhan riil, bukan pada status sosial atau penampilan luar. Orang yang menunggu dengan harapan, mereka layak untuk menerima tanpa harus dibebani verifikasi yang kaku.   Kini apa yang telah kami mulai kiranya menjadi gerakan kolektif yang membentuk kepedulian. Kegiatan ini telah menyentuh kehidupan banyak orang — baik penerima kupon, pemilik warung, para frater, maupun donatur. Sekecil apapun yang dibagikan, ketika dilakukan secara konsisten dan dengan hati, akan menjadi rahmat. Pertanyaannya ini kembali pada kita, “Maukah kita menjadi saluran rahmat bagi sesama dan menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan meski dengan cara yang sederhana namun penuh arti?”   Kontributor: Sch. Laurensius Herdian Pambudi, S.J.