Pilgrims of Christ’s Mission

Feature

Feature

Kebersamaan Dalam Keceriaan

Refleksi HUT ke-58 Perkampungan Sosial Pingit Pada 19-26 Oktober 2024, Perkampungan Sosial Pingit (PSP) mengadakan rangkaian kegiatan untuk memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-58 Pingit. Tema yang diangkat tahun ini adalah “Kebersamaan dalam Keceriaan.” Para pengurus dan volunteer Pingit merefleksikan sukacita yang dialami selama mengadakan kegiatan belajar dan mengajar di PSP. Semangat tema tersebut dituangkan dalam tiga kegiatan utama: (1) cek kesehatan gratis; (2) perlombaan rakyat; dan (3) malam tirakatan.   Cek Kesehatan Gratis Pada Sabtu, 19 Oktober2024, para volunteer bekerja sama dengan Klinik Pratama Realino menyelenggarakan cek kesehatan gratis bagi lansia dan warga di sekitar Pingit. Layanan kesehatan yang diberikan mencakup pemeriksaan asam urat, gula darah, kolesterol, serta tekanan darah. Pemeriksaan dilanjutkan dengan konsultasi personal oleh para dokter Klinik Pratama Realino. Setelah pemeriksaan, resep yang didapatkan dari dokter dapat ditukarkan dengan obat-obatan yang sudah disediakan.   Antusiasme warga dalam mengikuti kegiatan ini menunjukkan tingginya kebutuhan akan kesehatan diri. Acara ini menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap masyarakat jangan hanya terfokus pada usia produktif, melainkan juga pada warga lansia yang kerap terabaikan. Seperti yang tercermin dalam doa penutup acara, “[…] melayani mereka, lansia di sekitar kita, yang jarang diperhatikan oleh masyarakat,” acara ini membawa pesan tentang pentingnya memperhatikan kesejahteraan lansia sebagai bagian penting dari masyarakat.     Perlombaan Rakyat Selain cek kesehatan gratis, HUT ke-58 Pingit juga dimeriahkan dengan perlombaan rakyat untuk anak-anak para warga pada Minggu, 20 Oktober 2024. Acara sempat tertunda karena hujan. Syukurlah Semangat semua yang hadir tidak pudar begitu saja. Setelah cuaca agak terang, para volunteer segera mempersiapkan sejumlah perlombaan sesuai dengan kategori usia. Anak TK berlomba makan kerupuk dan sedotan warna. Anak SD kecil bermain estafet sedotan dan paku botol. Anak SD besar bermain kocok kardus dan estafet koran dalam barisan.   Saat cuaca sudah terang, semangat anak-anak dan warga semakin membara hingga perlombaan dapat selesai dengan lancar. Kegiatan diakhiri dengan seru-seruan bermain voli air. Rasa bahagia yang terpancar dari anak-anak dan warga merupakan sebuah kenangan yang mengesan bagi volunteer. Tidak lupa, anak-anak dan warga mendapat snack yang sudah disiapkan oleh panitia. Walau lelah, para volunteer bersyukur karena dapat menjalankan tugas dengan baik hingga menciptakan sebuah pengalaman yang mengesan dan tidak terlupakan.     Malam Tirakatan  Puncak rangkaian kegiatan HUT ke-58 Pingit dirayakan dengan malam tirakatan pada Sabtu, 26 Oktober 2024. Kami sangat terkesan dengan semangat para volunteer yang memberikan waktunya selama satu bulan untuk mempersiapkan tampilan dari anak-anak. Latihan tampilan bersama anak-anak menjadi tantangan tersendiri yang berhasil kami lalui dengan baik. Pada hari H, para volunteer dan warga pingit saling membantu untuk menyiapkan panggung dan tenda malam tirakatan. Hal ini menjadi pengalaman berharga di mana semua pihak saling peduli untuk saling membantu dalam menyukseskan serangkaian acara HUT ke-58 Pingit. Keceriaan itu berpuncak pada malam tirakatan. Kebersamaan adalah salah satu hal yang kami dapatkan selama berkegiatan di Pingit. Setelah kurang lebih satu tahun bertemu dengan warga serta anak-anak, kami merasakan adanya kedekatan dan keakraban dengan mereka. Di awal kami menjadi volunteer Pingit, kami selalu melihat antusiasme anak-anak yang kami dampingi. Setelah lama mendampingi mereka, kami mulai mengetahui beragam cerita anak-anak Pingit mulai dari kondisi keluarganya hingga hingga pergulatan mereka. Selain berjumpa dengan ragam cerita anak-anak, kami juga berjumpa dengan warga Pingit yang ramah dan peka untuk terlibat dalam kegiatan di Pingit. Selain anak-anak dan warga Pingit, kami juga merasa nyaman berada bersama para pengurus dan volunteer Pingit. Kami sering berbagi cerita dan pengalaman yang tak jarang membawa keceriaan. Kami sangat bersyukur karena setiap volunteer juga memiliki kepekaan untuk saling membantu. Salah satu buah kepekaan itu adalah suksesnya rangkaian kegiatan HUT ke 58 Pingit.   Kontributor: Adelia Dwi Maharani, Alessandra Josephine Lie Saragih dan Lidwina Paskarylia Shinta – Volunteer Pingit

Feature

Perjumpaan Transformatif

Melalui perjumpaan dengan anak-anak di Komunitas Belajar Realino (KBR) – Jombor, kami disadarkan tentang diri kami. Ada lima poin refleksi pembelajaran sederhana yang bagi kami berkesan dan ingin kami bagikan.   Poin pertama adalah kami belajar untuk selalu bersyukur. Seperti halnya dengan anak-anak yang bermain bersama kami, mereka bisa tertawa lewat hal-hal kecil dan sederhana yang kami berikan. Kami sangat senang bisa memberikan tenaga dan meluangkan waktu bermain dan belajar bersama. Tanggapan anak-anak juga memberikan kami semangat.   Poin kedua adalah kami belajar untuk saling memahami satu sama lain dan menurunkan ego. Bersama anak kecil tentunya dibutuhkan kesabaran agar mereka juga bisa merasa nyaman bersama kami. Kami melihat anak-anak yang dengan sabar memutar kaleng agar bisa membuat es krim, mengalah untuk mendapat giliran memutar, dan mengantri untuk mendapatkan es krim. Tanpa kita sadari, membuat es krim bersama telah jadi sarana pembentukan karakter yang baik.   Poin ketiga adalah kami belajar untuk berbagi. Walau dimulai dari hal yang tampaknya kecil tetapi selama bermanfaat untuk sesama akan menjadi sedemikian berharga sekaligus berkesan. Kami merasa senang bisa berbagi dengan anak-anak di KBR Jombor. Kami berbagi tidak hanya dalam bentuk materi (barang dan makanan) tapi juga ilmu (pembelajaran dan karakter).   Poin keempat adalah kami belajar tentang arti toleransi. Kami berbagi dan belajar bersama anak-anak tanpa memandang latar belakang (suku, ras, dan agama) mereka. Poin kelima adalah kami belajar untuk selalu tulus dalam memberi dan menyalurkan kasih. Ketika melakukan sesuatu dengan tulus, kami mendapat semangat dan kebahagiaan tersendiri.   Melalui kegiatan bersama anak-anak di Jombor ini, kami dapat merasakan berkat dan rahmat Tuhan. Apa yang kami berikan kepada mereka tidak seberapa, tetapi justru apa yang kami dapatkan dari mereka lebih dari cukup untuk kami refleksikan dalam kehidupan kami.   Poin-poin refleksi ini menorehkan perasaan tenang dan bahagia di dalam hati kami masing-masing. Kami dapat mencecap perasaan yang tak bisa kami dapatkan bila kami berderma saja tanpa terjun langsung atau tanpa perjumpaan dengan mereka yang paling membutuhkan, khususnya anak-anak yang kami jumpai di KBR Jombor.   Kontributor: Ica, Ave, Nia, Indira, Christy, Stevy, Aurel, Gita, Jessica – SMA Stela Duce I Yogyakarta, Kelas XII

Feature

BE THE BRIDGE FOR PEOPLE TO KNOW THE MEANING OF LIFE

Menjadi sebuah pertanyaan mengapa menjadi jembatan bagi masyarakat dapat membuat kita mengetahui makna hidup itu sendiri? Jembatan pada konteks ini memiliki arti sebagai perantara atau perpanjangan tangan untuk menghubungkan orang–orang yang mempunyai latar belakang yang beragam, memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan, mengatasi ketidaksetaraan, dan mendukung adanya perubahan positif dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai mahasiswa yang memiliki hak istimewa untuk mendapatkan ilmu atau wawasan yang lebih sudah seharusnya kita memiliki sikap peduli terhadap kehidupan bersosial dan ikut terlibat untuk menjadi jembatan kepada mereka yang membutuhkan bantuan kita.   Peduli adalah salah satu dasar dari kebaikan manusia yang menjadi nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat atau bersosialisasi. Namun pada era modern saat ini, tingkat kepedulian antar sesama mulai menurun dikarenakan kesibukan yang menjadikan sikap individualistis semakin meningkat. Rasa kepedulian seseorang dapat ditumbuhkan dengan berbagai cara namun tentunya sikap proaktif atau keinginan untuk terlibat menjadi jembatan itu sendiri. Cukup banyak cara yang dapat digunakan dan dilakukan untuk menumbuhkan rasa kepedulian dalam diri setiap masyarakat, salah satunya yaitu menjadi relawan dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial.     Saya pernah menjadi sukarelawan di suatu seksi pengabdian masyarakat yang ada di kota Yogyakarta. Pengabdian ini bertujuan untuk membentuk suatu komunitas belajar pada desa yang tidak memiliki akses pendidikan yang layak. Motivasi saya untuk bergabung menjadi relawan yaitu karena adanya keinginan saya untuk membagikan ilmu yang saya miliki kepada mereka yang membutuhkannya dan mengembangkan nilai–nilai sosial yang ada.    Dari kegiatan sosial tersebut saya mendapatkan banyak pelajaran akan makna kehidupan, salah satunya saya melihat bahwa setiap manusia itu berharga dan memiliki potensi dalam diri mereka masing-masing.    Sudut pandang manusia terhadap kehidupan tentunya berbeda–beda dan cara memaknai kehidupan juga tentunya berbeda namun nilai–nilai sosial itu tidak akan pernah berubah. Menjadi orang yang peduli tentunya tidak akan pernah memberikan makna yang tidak baik, melainkan mengajarkan kita akan banyak makna kehidupan. Dengan menunjukkan rasa peduli kita akan sesama, kita juga mendapatkan suatu hal baru yang sangat berharga di dalam hidup kita dan menjadi paham akan makna dari kehidupan itu sendiri.   Tunjukkanlah rasa peduli dengan mengatakan “aku peduli” dan lakukan tindakan nyata sebagai bentuk jalan pengabdian.   Kontributor: Monayanti Simanjuntak – Volunteer Realino SPM

Feature

Bapa Suci bersyukur kepada Tuhan atas kunjungannya ke empat negara di Asia-Pasifik

Lawatan Paus Fransiskus menebarkan belas kasih dan persaudaraan di Indonesia, Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura   Paus Fransiskus, kini berusia 87 tahun, bersyukur kepada Tuhan karena telah mengizinkannya melakukan apa yang ingin ia lakukan sebagai seorang paus yang sudah sepuh, sebagaimana yang ingin dilakukan seorang Jesuit muda pendahulunya, yaitu melakukan perjalanan ke Asia untuk mewartakan kabar gembira.   Seperti biasa, Paus memanfaatkan audiensi publik pertamanya dalam kunjungannya ke Asia Pasifik pada 2-13 September 2024 untuk membagikan hal-hal yang ia lakukan, ia lihat, dan semua hal yang paling menarik yang ia temui selama perjalanannya.   Berbicara kepada ribuan orang di Lapangan Santo Petrus pada 18 September, ia menamai perjalanannya sebagai “lawatan kerasulan” karena memang bukan perjalanan wisata melainkan perjalanan untuk mewartakan sabda Tuhan sehingga Dia dikenal sekaligus menjadi kesempatan bagi Paus untuk mengenal jiwa-jiwa. “Itu semua sangatlah indah,” katanya.     Paus mengunjungi Indonesia, Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura. Paus mengatakan bahwa beberapa orang “masih terlalu Eurosentris” ketika berpikir tentang Gereja Katolik. Namun kunjungannya menunjukkan kenyataan bahwa ternyata Gereja itu jauh lebih besar, jauh lebih besar daripada Roma atau Eropa, dan jauh lebih hidup di negara-negara itu.   Di Indonesia, negara dengan penganut Islam terbesar di dunia, Paus mengatakan, “Saya menerima penegasan bahwa belas kasih adalah jalan yang dapat dan harus dilalui oleh umat Kristiani untuk memberikan kesaksian tentang Kristus sang juru selamat, dan pada saat yang sama untuk bertemu dengan tradisi-tradisi agama dan budaya yang sungguh luhur.”   “Seorang beriman Kristiani tetapi tanpa belas kasih tidaklah berharga. Iman, persaudaraan, belas kasih menjadi moto yang dipilih para uskup Indonesia untuk perjalanan ini, sebagaimana terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta,” kata Paus Fransiskus. “Mengunjungi terowongan dan Masjid, saya melihat bahwa persaudaraan adalah masa depan dan menjadi jawaban untuk melawan anti peradaban, kebencian, persekutuan jahat, dan perang.”   Di Papua Nugini, ia mengatakan kepada umat bahwa ia terkesan dengan pengabdian para misionaris, termasuk sekelompok imam dan biarawan-biarawati dari Argentina, dan para katekis sebagai pewarta Injil utama.   Di hadapan kaum muda negara itu, ia berkata, “Saya melihat masa depan yang baru, tanpa kekerasan rasial, tanpa ketergantungan, tanpa penjajahan ekonomi dan ideologi. Masa depan yang penuh dengan persaudaraan dan kepedulian terhadap lingkungan alam yang menakjubkan.”     Paus Fransiskus mengatakan bahwa di Timor-Leste, sebagai sebuah negara yang masih berjuang dengan mayoritas penduduk beragama Katolik, ia sangat terkesan dengan keanggunan para penduduknya, yaitu orang-orang yang telah mengalami banyak hal namun tetap mampu bersukacita, orang-orang yang bijaksana meski dalam penderitaan.   “Orang Timor Leste adalah orang-orang yang tidak hanya melahirkan banyak anak, ada lautan anak-anak, tetapi juga mengajarkan mereka untuk tersenyum. Di Timor-Leste saya melihat Gereja dengan jiwa muda: keluarga, anak-anak, OMK, banyak seminaris dan calon-calon religius. Saya tidak berlebihan dengan mengatakan bahwa saya menghirup ‘udara musim semi,” kata Paus.   Meskipun kemakmuran Singapura sangat kontras dengan tiga negara lainnya, katanya, minoritas Katolik di negara itu membentuk “Gereja yang hidup, terlibat dalam memupuk kerukunan dan persaudaraan di antara berbagai etnis, budaya, dan agama. Bahkan di Singapura yang makmur pun terdapat ‘orang-orang kecil’ yang mengikuti Injil, menjadi garam dan terang, menjadi saksi akan harapan yang lebih besar daripada yang dapat dijamin oleh keberhasilan ekonomi.   Paus Fransiskus memulai pertemuannya dengan memperkenalkan para pegawai Vatikan yang membacakan ringkasan pidatonya dalam bahasa Spanyol dan Polandia. Arturo López Ramírez dan Monika Nowak dijadwalkan akan menikah pada hari Sabtu, dan paus mengatakan, “Sungguh indah ketika cinta menuntun dua orang untuk memulai sebuah keluarga baru.”     Seperti biasanya, Paus mengakhiri audiensinya dengan berdoa untuk perdamaian di Israel, Palestina, Ukraina, Myanmar, dan banyak tempat lainnya di mana ada perang yang mengerikan.   Dengan memejamkan mata, ia berdoa, “Semoga Tuhan memberi kita semua hati yang mengusahakan perdamaian demi mengalahkan peperangan, di mana perang selalu merupakan kekalahan.”   Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel “‘Old Pope’ thanks God for four-nation trip to Asia-Pasific” https://www.ucanews.com/news/old-pope-thanks-god-for-four-nation-trip-to-asia-pacific/106452 Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat SJ Provindo pada tanggal 17 September 2024.

Feature

Pantang Mundur, Arif Tanpa Kenal Takut

Pertemuan Paus Fransiskus dengan Jesuit Indonesia Rabu pagi (4/9) sekitar pukul 11.30 WIB setelah menemui Presiden Indonesia, para pejabat pemerintah, dan korps diplomatik, Paus Fransiskus kembali ke Wisma Kedutaan Vatikan untuk menemui sekitar 200 Jesuit Provinsi Indonesia yang telah menunggunya. Mereka ini, sekitar 2/3 dari keseluruhan Jesuit di Indonesia, hadir bersama Provinsial Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. Paus Fransiskus hadir di ruang pertemuan berbentuk “T” dengan penuh senyum sambil menyapa mereka. Komentar pertamanya adalah, “Ada banyak orang muda di sini!” Demikianlah, karena 1/3 dari yang hadir adalah para Jesuit muda yang sedang menjalani formasi filsafat, teologi (magisterium), dan regensi atau orientasi kerasulan yang dilaksanakan setelah lulus filsafat sebelum masuk teologi. Karena waktu terbatas, Paus Fransiskus segera mempersilakan mereka untuk mengajukan pertanyaan.   “Yang ingin bertanya, silakan tunjuk jari!”   Dialog berlangsung dalam bahasa Indonesia yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Italia.   Paus Fransiskus, terima kasih berkenan datang ke Indonesia dan menemui kami. Saya skolastik teologan. Pertanyaan saya, bagaimana kita menangani masalah-masalah yang sangat mendesak dalam Gereja saat ini, khususnya dalam membantu mereka yang paling terpinggirkan dan tersingkir? Saya ingin para Jesuit bersuara. Bacalah Kisah Para Rasul untuk melihat apa yang mereka lakukan pada awal Kristianitas! Roh Kudus menuntun kepada “keriuhan” bukannya membiarkan segala sesuatu diam. Singkatnya, ini adalah cara untuk menghadapi isu-isu penting. Ingatlah bahwa para Jesuit harus berada di tempat-tempat yang paling sulit. Ini adalah cara kita untuk “melangkah lebih jauh” demi kemuliaan Allah yang lebih besar. Untuk membuat suara yang baik yang dibimbing oleh Roh Kudus, kita harus banyak berdoa. Saya selalu teringat apa yang dikatakan Pater Arrupe, yaitu agar para Jesuit jangan meninggalkan doa. Pater Arrupe ingin agar Jesuit melayani karya bagi para pengungsi, sebuah kerasulan sulit di tapal batas. Hal pertama dan terutama yang ia minta adalah berdoa dan berdoa. Pidato terakhirnya yang ia sampaikan di Bangkok menjadi wasiat bagi semua Jesuit. Hanya dalam doa kita menemukan kekuatan dan inspirasi untuk menghadapi ketidakadilan sosial. Lihatlah juga kisah hidup Fransiskus Xaverius, Matteo Ricci dan banyak Jesuit lainnya. Mereka mampu bergerak maju karena semangat doa mereka.   Terkait dialog lintas agama dan pentingnya kerukunan antaragama, para Jesuit yang tinggal di Pakistan hidup bersama orang-orang yang menjadi korban penganiayaan. Apa saran Bapa Suci? Saya merasa bahwa jalan orang Kristiani selalu merupakan jalan “kemartiran,” yaitu bersaksi. Kita harus bersaksi dengan bijak dan penuh keberanian. Dua elemen yang berjalan beriringan dan tergantung pada masing-masing orang untuk menemukan jalannya sendiri. Berbicara tentang Pakistan, saya teringat sosok Asia Bibi yang dipenjara selama hampir 10 tahun. Saya bertemu dengan putrinya, yang secara diam-diam membawakannya komuni. Ia menunjukkan kesaksian penuh keberanian selama bertahun-tahun. Maju terus dengan bijaksana dan penuh keberanian! Kebijaksanaan selalu memberikan nyali untuk mengambil risiko. Sebaliknya, jiwa penakut itu bernyali ciut.   Bagaimana Bapa Suci berdoa di tengah kesibukan? Saya sangat perlu berdoa dan benar-benar membutuhkannya! Di usia tua ini, saya bisa tidur nyenyak dan selalu bangun pagi-pagi, sekitar sekitar pukul 04.00, lalu mulai berdoa sejam kemudian. Saya mendoakan brevir dan memanjatkan doa pribadi kepada Tuhan. Jika doa terasa “membosankan,” maka saya berdoa rosario. Kemudian saya pergi ke Istana Kepausan untuk audiensi. Setelah itu saya makan siang dan beristirahat sejenak. Kadang-kadang di hadapan Tuhan saya berdoa hening. Saya berdoa dan tentu saja merayakan Ekaristi. Di malam hari, saya melakukan lebih banyak doa. Dalam berdoa, bacaan rohani juga menjadi sangat penting; kita harus menumbuhkan kerohanian kita dengan bacaan yang baik. Saya berdoa seperti ini, secara sederhana. Sederhana saja dan malah terkadang saya tertidur dalam doa. Tidak masalah karena bagi saya itu menjadi tanda bahwa saya baik-baik saja dengan Tuhan! Saya beristirahat dengan berdoa. Jangan pernah meninggalkan doa!   Bapa Suci, saya seorang formator. Apa saran Bapa Suci agar para formator dapat membentuk para formandi sehingga terbangun interkulturalitas dan rasa saling menghormati latar belakang multikultural dalam sebuah komunitas internasional? Saya punya cerita “lelucon” yang dilakukan oleh Roh Kudus. Tahu apa yang Dia lakukan? Seperti saya katakan sebelumnya, setelah kebangkitan Kristus, hal pertama yang Roh Kudus lakukan adalah membuat “kekacauan.” Saya ulangi lagi, bacalah Kisah Para Rasul dengan saksama. Roh Kudus “menciptakan,” dan dengan cara ini Ia menyertai kita sepanjang hidup. Apa yang diceritakan oleh Kisah Para Rasul kepada kita? Yaitu bahwa di Yerusalem terdapat orang-orang dari segala bangsa: ada orang Partia, Media, dan Elam. Mereka semua berbeda satu sama lain dan berbicara dalam bahasa mereka masing-masing. Inilah anugerah Roh Kudus, yaitu mereka “bersuara riuh,” berbicara dalam bahasa mereka sendiri tetapi semua saling memahami satu sama lain. Hal ini sesuai dengan para Jesuit, yakni menjadi alat Roh Kudus yang berarti membuat keriuhan ini.   Inilah inkulturasi. Jesuit harus memiliki kemampuan untuk berinkulturasi seperti telah dilakukan oleh banyak misionaris di berbagai benua. Ini berarti bahwa seorang Jesuit berkhotbah dalam bahasa dan bentuk yang pas sesuai tempat dan waktunya. Dua pilarnya adalah inkulturasi Injil dan penginjilan kultural. Inilah mengapa Jesuit itu berbeda satu sama lain, dan itu baik. Tidak ada model tunggal. Panggilan kita adalah membiarkan Tuhan memampukan kita mewartakan Injil dengan segala kekayaan yang telah diberikan-Nya kepada kita.   Hal ini juga berlaku untuk kondisi personal, temperamen dan karakter, misalnya, usia. Orang muda tidak dapat membuat dirinya menjadi tua, dan orang tua tidak dapat membuat dirinya menjadi muda sebab jika itu terjadi maka itu konyol. Setiap orang dipanggil untuk mewartakan Injil sesuai dengan usia, pengalaman, dan budayanya masing-masing. Saya garis bawahi inilah mengapa kebijaksanaan itu begitu penting. Seseorang harus mampu ber-discernment untuk melakukan inkulturasi: mencari dan menemukan Allah di mana Ia telah berada dan telah hadir dalam budaya-budaya. Latihan discernment adalah sesuatu yang dinamis. Hal ini membantu kita untuk tidak bersembunyi di balik ungkapan “selalu dilakukan dengan cara ini,” dan terus berjalan seperti yang biasa dilakukan. Ini tidak baik. Kita perlu melakukan discernment setiap saat. Discernment menuntun kita untuk terus maju.   Penting juga berdiskresi bersama dan berdialog dengan pembesar kita. Jika engkau menerima perutusan yang membosankan atau yang menurut kita bukan perutusan yang benar-benar cocok, lakukanlah eksamen. Diskresi yang baik tidak selalu dapat dilakukan sendirian. Dibutuhkan kebersamaan. Saya mengatakan ini kepada mereka yang masih dalam masa formasi dan mereka yang telah selesai menjalani semua

Feature

Audiensi Fraternal Paus Fransiskus dengan para Jesuit Indonesia

Paus Fransiskus mengadakan pertemuan persaudaraan dengan para Jesuit Indonesia pada hari kedua kunjungannya ke Indonesia, tepatnya pada Rabu siang, 4 September 2024, di Wisma Kedutaan Vatikan, Jakarta setelah ia menemui pihak berwenang, pemerintah, dan korps diplomatik Indonesia di Istana Kepresidenan. Di antara mereka yang hadir dalam pertemuan fraternal di kedutaan adalah Pater Julius Kardinal Riyadi Darmaatmadja, S.J., Uskup Agung Emeritus Jakarta (1996-2010) yang kini berusia 89 tahun. Seperti yang biasa dilakukannya, Paus berbicara dengan para Jesuit secara pribadi selama sekitar satu jam dan menjawab beberapa pertanyaan.   Kunjungan persaudaraan di antara para konfrater  Menurut Pater Antonio Spadaro, S.J., Wakil Sekretaris Dikasteri Bidang Kebudayaan dan Pendidikan, pertemuan berlangsung hangat dan akrab. “Paus Fransiskus selalu sangat santai,” kata Pater Spadaro kepada Vatikan News. “Dia merasa seperti di rumah sendiri sehingga dapat memberikan masukan awal tentang kunjungannya ini.” Paus merasa sangat terkejut sekaligus gembira karena ada begitu banyak orang muda di Jesuit Provinsi Indonesia.   “Ini mungkin yang paling mengejutkan Paus. Ada banyak Jesuit muda dalam formasi di Indonesia,” kata Pater Spadaro. Dia mengatakan bahwa Paus berbicara tentang Serikat Jesus dan pentingnya discernment dan doa.   “Jesuit termuda bertanya kepada Paus di manakah ia menemukan waktu untuk berdoa. Paus menjawabnya dengan diselingi beberapa anekdot,” jelas Pater Spadaro seraya menambahkan topik yang dibahas terkait isu-isu penting lainnya di Indonesia, seperti dialog antaragama dan inkulturasi. Dua ini hal yang sangat ditekankan oleh Paus Fransiskus.     “Paus Fransiskus mencintai Gereja-Gereja nol koma (0….%). Di Indonesia, jumlah umat Katolik hanya 3%. Jumlah yang sangat kecil dari keseluruhan populasi, 8 juta orang, Namun jumlah cukup berperan signifikan di negara ini. Tujuan umat Kristiani adalah untuk berkontribusi pada pertumbuhan negara, menjadi seperti ragi yang dicampurkan ke dalam adonan, dan ini benar-benar penting bagi Paus. Pesan bagi umat Kristiani adalah untuk berkolaborasi sepenuhnya demi kebaikan bersama. Bagi Bapa Suci, yang terpenting adalah vitalitas dan kapasitas generatif,” jelas Pater Spadaro.   Setelah dari Indonesia, Paus dijadwalkan mengadakan dua pertemuan lagi dengan para konfraternya, yaitu di Timor Leste dan Singapura. “Paus Fransiskus melihat sebuah potensi di negeri ini, yaitu potensi harmoni dalam konteks yang majemuk,” katanya. “Bahkan presiden hari ini berbicara tentang harmoni dan pluralisme. Saya percaya di sini ada harapan untuk masa depan di tengah berbagai ancaman keterpecahbelahan. Jadi Paus sangat terbuka terhadap realitas dan pencarian akan masa depan.” Transkrip lengkap pertemuan Bapa Suci dengan para Jesuit biasanya diterbitkan di La Civiltà Cattolica beberapa minggu setelah ia kembali ke Roma.   Ditulis oleh Salvatore Cernuzio dan Devin Watkins – Vatican News Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel “Pope Francis holds ‘brotherly encounter’ with Jesuits in Indonesia – Vatican News’ https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2024-09/pope-francis-indonesia-society-jesus-encounter.html Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat SJ Provindo pada tanggal 17 September 2024.

Feature

Pelayanan Tanpa Jalan Akhir

Bertatap muka dan bersalaman dengan Paus Fransiskus adalah mimpi yang tidak pernah berani saya bayangkan sebelumnya. Paus sebagai pimpinan tertinggi Gereja Katolik sedunia dalam bayangan saya adalah sosok yang nan jauh di sana. Tokoh yang sepertinya tidak mungkin saya temui secara langsung. Namun ternyata saya diberi kesempatan yang indah untuk bisa bertemu dengan pribadi Paus dalam rangka kunjungannya ke Indonesia pada bulan September 2024 ini. Saya ikut menyambut kedatangan beliau bersama kelompok pengungsi, anak – anak yatim piatu, dan kelompok lansia di Nunciatura, Jakarta.   Selama ini, sosok Paus Fransiskus hanya saya lihat dan ikuti dari pemberitaan, sosial media serta film “The Two Popes.” Latar belakang dan pemikiran beliau sebagai orang yang lahir dari Amerika Latin memberi kesegaran dalam pemikiran-pemikiran Gereja Katolik. Pilihan pada kesederhanaan cara hidup adalah hal yang paling mengena bagi saya ketika melihat sosok Paus Fransiskus dari sejak awal terpilih hingga sekarang. Menjadi sederhana adalah sebuah pilihan bijak ketika kita selalu terpapar dengan informasi terbaru dan diperbandingkan dalam segala hal lewat sosial media. Bagi saya kesederhanaan yang ditunjukkan Paus menjadi bukti bahwa pesan yang beliau sampaikan dalam setiap homili bukanlah kata kosong belaka tapi tindakan yang dimulai dari diri sendiri.   Ensiklik Fratelli Tutti yang dikeluarkan tahun 2020 adalah salah satu pemikiran Paus Fransiskus yang mengena bagi saya. Dalam dokumen yang mengulas secara dalam tentang persaudaraan dan persahabatan sosial, kita diajak pertama untuk mengenali bahwa semua manusia memiliki martabat yang sama, apapun latar belakang, kelas sosial, agama, orientasi, suku, dan ras. Dengan mengenali bahwa semua manusia adalah sejajar maka relasi atau pertemanan antar budaya, komunitas maupun bangsa bukanlah hal yang mustahil. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kemudian kesetaraan martabat dan persaudaraan bisa menjawab tantangan zaman yang penuh dengan persoalan-persoalan pelik mulai kemiskinan, perpindahan paksa, perang dan rusaknya lingkungan bisa dijawab. Menurut saya, Paus tidak menawarkan satu resep mujarab untuk menyelesaikannya. Ia justru mengajukan sebuah konsep solidaritas dan kebaikan bersama yang melampaui individu, kelompok, dan negara untuk menjawab berbagai persoalan tersebut. Solidaritas dan mewujudkan kebaikan bersama ini pun bisa dimulai dari diri sendiri, bersama tetangga, teman, dan rekan kerja.   Perjumpaan saya dengan Paus kali ini mungkin tidak lebih dari lima menit. Saya bersama yang lain turut menyambut beliau sesampainya di Nunciatura. Paus Fransiskus di usianya yang ke-86 tampak kelelahan setelah perjalanan panjang dari Roma ke Jakarta. Namun, perjumpaan singkat ini menjadi pengalaman tak terlupakan seumur hidup saya. Saya masih ingat pasca pertemuan tersebut dan berita tentang penyambutan singkat ini, banyak teman dan saudara menyapa dan mengatakan bahwa saya adalah orang yang dilimpahi berkat karena kesempatan bertemu Paus ini. Semua ucapan selamat dan berkah inilah yang membuat saya bersyukur atas kesempatan tersebut. Tentu saja, kesempatan ini tidak akan datang jika saya tidak bergerak dalam pelayanan pengungsi di JRS Indonesia yang kebetulan ada beberapa pengungsi dampingan JRS yang ikut dalam pertemuan itu.     Saya juga tersentuh dan tersapa dengan apa yang dinyatakan Paus dalam Misa di GBK “….dalam menghadapi berbagai tugas hidup sehari-hari, menghadapi panggilan yang kita semua rasakan untuk membangun masyarakat yang lebih adil, untuk melangkah maju di jalan perdamaian dan dialog, yang telah lama dipetakan di Indonesia, kita kadang-kadang merasa tidak mampu, merasakan beratnya komitmen yang begitu besar yang tidak selalu membuahkan hasil yang diharapkan, atau kesalahan-kesalahan kita yang tampaknya menghambat perjalanan hidup kita. Namun, dengan kerendahan hati dan iman yang sama seperti Petrus, kita juga diminta untuk tidak tetap menjadi tawanan kegagalan kita, dan alih-alih tetap menatap jala kita yang kosong, untuk memandang Yesus dan percaya kepada-Nya.” Apa yang beliau sampaikan tersebut berkorelasi dengan situasi batin yang sedang saya hadapi akhir-akhir ini. Ketika saya memberikan pelayanan kepada pengungsi luar negeri, saya kadang merasa bahwa pelayanan untuk pengungsi adalah pelayanan tanpa jalan akhir. Sering kali saya juga bertanya pada diri saya apakah saya sudah melakukan yang benar? Apakah pelayanan kepada pengungsi ini adalah sebuah usaha yang doomed to fail di mana pada akhirnya membuat saya merasa kecewa, putus asa dan sendiri? Akan tetapi, dalam kotbah yang sama Paus juga mengutip apa yang disampaikan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta.   ”Ketika kita tidak memiliki apa pun untuk diberikan, hendaklah kita memberikan ketiadaan itu. Dan ingatlah, bahkan ketika kamu tidak menuai apa-apa, jangan pernah lelah menabur.”   Pada akhirnya, saya kembali pada makna pesan Bapa Paus dalam dalam Fratelli Tutti bahwa saya akan terus menumbuhkan semangat bersaudara bersama mereka yang terpinggirkan, bersentuhan langsung dalam jaringan bela rasa dengan kerendahan hati serta kepercayaan penuh pada kuasa Allah untuk mewujudkan kebaikan bersama yakni dunia dibangun atas solidaritas dan keadilan.   Kontributor: Melani Wahyu Wulandari – JRS Indonesia

Feature

Di Indonesia, Paus Fransiskus Disambut oleh Pengungsi dan JRS Indonesia

Paus Fransiskus terus menunjukkan kepeduliannya yang mendalam terhadap kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan terabaikan saat tiba di Indonesia pada Selasa, 3 September 2024. Saat tiba di Jakarta, Paus disambut hangat oleh anak-anak yatim, orang sakit, tunawisma, dan pengungsi di Kedutaan Vatikan (Nunciatura) di Jakarta Pusat. Di tempat itu dan agenda pertamanya, ia menyapa sekitar 40 orang dari komunitas terpinggirkan. Paus menyapa orang-orang di pinggiran eksistensial. Paus selalu memberikan perhatian khusus kepada orang miskin, yang ditelantarkan, pengungsi, dan korban perdagangan manusia.   Beberapa bulan sebelumnya, JRS Indonesia mengusulkan kepada Mgr. Piero Pioppo, Nuntius Tahta Suci untuk Indonesia, agar para pengungsi diberi kesempatan untuk bertemu dengan Paus selama kunjungannya. Ide ini diterima dengan baik. Penyambutan di Nunciatura diperluas untuk mencakup tidak hanya pengungsi tetapi juga tunawisma, orang sakit, dan anak-anak yatim. Nuntius menyatakan, “Biarkan yang terakhir menjadi yang pertama,” menekankan pentingnya simbol dari gerakan ini dalam mempromosikan perhatian kepada kelompok-kelompok yang terpinggirkan.   Didampingi oleh perwakilan dari JRS Indonesia dan komunitas Sant’Egidio, 20 pengungsi dari Myanmar, Afghanistan, Sudan, Somalia, dan Sri Lanka merasa terhormat menyambut Paus Fransiskus dalam perjalanan apostoliknya yang ke-45. Selama 12 hari, Yang Mulia dijadwalkan mengunjungi Indonesia, Papua Nugini, Timor-Leste, dan Singapura, di mana ia akan bertemu dengan yang paling rentan, pejabat pemerintah, pemimpin agama, dan misionaris, serta terlibat dalam dialog antaragama.     Hidup di Indonesia bisa sangat sulit bagi pencari suaka dan pengungsi. Tanpa hak untuk bekerja, mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka dan harus bergantung pada bantuan kemanusiaan dari organisasi seperti UNHCR, IOM, dan organisasi non-pemerintah lain seperti JRS Indonesia. Akses terhadap kebutuhan pokok, perawatan kesehatan, dan pendidikan sangat terbatas, dan integrasi tidak mungkin dilakukan di bawah kebijakan saat ini. Bahkan upaya untuk hidup berdampingan dengan penduduk setempat sambil menunggu pemukiman kembali menghadapi banyak kendala.   Beberapa pengungsi mengungkapkan rasa terima kasih dan harapan mereka setelah bertemu dengan Bapa Suci. Feruzul, seorang pengungsi Rohingya, menggambarkan pertemuan dengan Paus Fransiskus sebagai momen berharga dan penuh kehormatan. Ia mengungkapkan antusiasmenya terhadap kunjungan tersebut. Bibi Rahima, seorang pengungsi dari Afghanistan, berterima kasih kepada Paus karena telah menjadi pembela terbaik bagi para pengungsi sambil menekankan perlunya upaya advokasi yang lebih luas dan berkelanjutan. Tariq, seorang pengungsi dari Sudan, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas perhatian Paus terhadap situasi pengungsi global dan mendesaknya untuk mendorong peningkatan peluang pemukiman kembali dari Indonesia. Zakaria, seorang pengungsi dari Somalia, menyoroti pemotongan bantuan dari lembaga internasional baru-baru ini, menekankan bahwa pengungsi di Indonesia kini hidup dalam kondisi yang memprihatinkan dan sangat membutuhkan bantuan.   Kontributor: Martinus Dam Febrianto, S.J. – JRS Indonesia