Berita Duka Romo Franciscus Xaverius Widyatmaka, SJ

rm widy 2 - Copy

Romo Widy, atau sering dipanggil Romo Djien, mengembuskan nafas terakhir pada hari Sabtu, 27 Juni 2020, pukul 04.30 WIB, di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta. Romo Widy lahir di Semarang pada 22 Maret 1952 dari pasangan Bp. Jonatan Kusdianto Adiwinata dan Ibu Elizabeth Listyani Sutantyo. Ia dibaptis dan menerima sakramen penguatan di Gereja St. Yusup, Gedangan, Semarang yang merupakan paroki asalnya. Setelah lulus dari SMA Kolese Loyola Semarang, Romo Widy memutuskan untuk mengikuti panggilannya menjadi imam dengan mendaftar di Kelas Persiapan Atas (KPA) Seminari Menengah Mertoyudan dan setahun kemudian melamar menjadi anggota Serikat Jesus. Ia mulai menjalani masa novisiat di St. Stanislaus Girisonta pada 31 Desember 1973 dan mengucapkan kaul pertamanya sebagai anggota Serikat Jesus pada 1 Januari .

Selanjutnya, Widy muda melanjutkan pendidikan filsafat di Jakarta dari 1976 – 1979 dan menjalani Tahun Orientasi Kerasulan (ToKer) sebagai moderator di SMA Kolese Kanisius, Jakarta dari 1979 – 1981. Tahap pendidikan teologi ia selesaikan di FTW Yogyakarta tahun 1981 – 1984. Widy muda ditahbiskan sebagai diakon di Kapel Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan pada 12 Oktober 1983 dan menerima tahbisan imamat dalam upacara yang meriah di Gedung Olahraga Kridosono, Yogyakarta. Kedua tahbisan ini ia terima dari Kardinal Julius Darmaatmadja.

Setelah tahbisan imamat, Romo Widy menjalani perutusan sebagai Moderator SMA Kolese Kanisius Jakarta selama dua tahun (1984-1985). Selanjutnya ia menjalani tugas perutusannya di sebagai pastor paroki di KAS dan KAJ dengan rincian tugas di Paroki St. Perawan Maria Ratu Jakarta tahun 1987-1988, Paroki St. Theresia Jakarta tahun 1989-1991, Paroki St. Martinus Weleri tahun 1991-1996, Paroki St. Antonius Padua Muntilan tahun 2001-2004, Paroki St. Petrus Paulus tahun 2004-2009, Paroki St. Yohanes Penginjil tahun 2009-2011, dan Paroki St. Anna dari tahun 2014 hingga wafatnya 27 Juni 2020.

Salah satu hal yang diingat para Jesuit ialah ungkapan “Bejo kowe…” Artinya “Kamu masih untung…” Dari sana, Romo Widy mau melihat sisi positif dari sebuah peristiwa-peristiwa sedih dan malang. Ia juga menggunakan ungkapan itu untuk mengingatkan siapapun agar tidak terlena dengan kemapanan dan kenyamanan. Seperti dikatakan oleh St. Ignatius dalam Latihan Rohani kepada retretan agar dalam saat desolasi mengingat bagaimana ia mengalami konsolasi, dan pada saat konsolasi tidak menganggap itu sebagai usahanya sendiri melainkan rahmat Allah. Rahmat Allah yang samalah yang kiranya menjadi pegangannya dalam masa-masa sakit sebelum kemudian menikmati kebahagian Allah yang ia imani.

Romo Widyatmaka, doakanlah kami yang sedang berziarah di dunia ini.


Communicator Serikat Jesus Provinsi Indonesia

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *