capture imaginations, awaken desires, unite the Jesuits and Collaborators in Christ mission

Antara Kesetiaan dan Harapan

Date

Menemani Orang Muda Thailand

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan bertemu dengan para misionaris Indonesia yang berkarya di Thailand. Regio Dependen Thailand merupakan bagian dari Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Dua nostri Indonesia yang pertama kali dikirim ke Thailand yaitu Pater Macarius Maharsono Probho, S.J. dan seorang skolastik lain ketika mereka masih dalam formasi TOK (Tahap Orientasi Kerasulan) pada tahun 1985. Hal ini dilakukan karena jumlah SDM di Thailand masih sedikit. Ada dua nostri Indonesia yang hingga saat ini masih berkarya di Thailand, yaitu Pater Beda Yassao, S.J. dan Pater Yohanes Sigit Setyo Wibowo, S.J.

Pater Beda Yassao, S.J. atau biasa dipanggil Pater Beda sudah berkarya sejak tahun 2000 dan saat ini tinggal di The Seven Fountains Retreat House, Chiang Mai sebagai pembimbing retret. Sebelumnya, selama sembilan tahun Pater Beda bertugas sebagai Pastor Mahasiswa dan Pastor Pembantu sebuah paroki di Provinsi Chon Buri, Thailand. Pater Yohanes Sigit Setyo Wibowo, S.J. atau biasa dipanggil Pater Bowo, sudah berkarya di Thailand semenjak ia masih sebagai skolastik/frater TOK (Tahap Orientasi Kerasulan) tahun 2007 hingga sekarang sebagai Socius Regional Superior Thailand. Saat ini ia tinggal di Xavier Hall Jesuit Residence. Ia juga bertugas sebagai Direktur Christian Ministry, Jesuit Social Services (JESS), dan anggota tim Safeguarding sambil menyelesaikan studi doktoral bidang Filsafat dan Agama di Assumption University, Bangkok.

Umat Katolik di Thailand merupakan minoritas. Hanya terdapat kurang lebih 300.000 orang dari 75 juta penduduk dan dengan jumlah stagnan. Mengapa demikian? Penduduk di sana masih menganggap agama Katolik sebagai ibu tiri karena berasal dari penjajah Eropa dan agama Buddha merupakan agama ibu. Selain itu, ada tradisi di sana bahwa jika kakek atau nenek meninggal maka cucu laki-lakinya diminta menjadi biksu sementara selama 3-4 hari. Apabila cucu laki-lakinya sudah dibaptis maka tidak bisa lagi melakukan tradisi ini. Dengan kata lain, menjadi katolik memerlukan keberanian untuk “keluar” dari tradisi yang ada.

Pater Beda, S.J. bersama para mahasiswa yang didampinginya di Nadi, Thailand.
Dokumentasi: Arsip Provindo

Pendidikan atau sekolah Katolik di Thailand begitu diakui dan terkenal, bahkan sering menjadi incaran untuk mengenyam pendidikan yang baik. Pater Beda dan Pater Bowo mendampingi para mahasiswa Katolik yang tersebar di 150 kampus Thailand. Ternyata mendampingi mahasiswa Katolik di sana bukan hal yang mudah karena biasanya mereka sudah merasa jenuh dengan kegiatan keagamaan yang sedari SMP/SMA Katolik diwajibkan.

Pater Beda dan Pater Bowo pun memahami bagaimana kondisi mahasiswa yang sudah jenuh oleh beragam kegiatan Katolik dan diperlukan usaha lebih untuk menarik minat para mahasiswa. Pantang menyerah. Kegiatan-kegiatan yang tidak melulu liturgis namun juga sosial (work camp, live in) dan spiritualitas terus diusahakan. Uniknya, tidak hanya mahasiswa Katolik, namun juga para mahasiswa beragama Buddha dan Islam yang tertarik dengan aneka kegiatan yang diadakan dalam perkumpulan mahasiswa Katolik ini.

Karakter orang muda di Thailand sangat berbeda dengan di Indonesia. Para mahasiswa Thailand sangat bergantung dengan orang yang mereka kenal. Ketika ada kegiatan, biasanya mereka bukan tertarik karena kegiatannya itu sendiri namun lebih kepada siapa saja teman-teman yang ikut bergabung. Oleh karena itu, pendekatan personal dan relasi (jejaring) menjadi kunci untuk menarik mereka mengikuti kegiatan-kegiatan ini. Selain itu, jaringan para pastor paroki juga menjadi kunci karena para mahasiswa ini juga masih menjadi bagian dari orang muda katolik di paroki tertentu.

Pater Bowo, S.J. bersama dengan para mahasiswa yang didampinginya.
Dokumentasi: Arsip Provindo

Di balik semua tantangan yang dihadapi, Pater Beda merasa senang bisa menemani para mahasiswa karena dapat memotivasi dan melibatkan mereka dalam proses pendampingan. Para mahasiswa diajak untuk memikirkan pengalaman apa yang sebenarnya mereka butuhkan, salah satunya ketika akan live in. Mereka memilih, yang merupakan ide mereka sendiri, untuk melakukan live in di tempat yang minim listrik dan sinyal. Pater Beda memberikan ruang kebebasan untuk berekspresi dan mengungkapkan ide sambil mengajak mereka mempertanggungjawabkan pilihan yang telah ditetapkan.

Hal yang kurang lebih sama diungkapkan oleh Pater Bowo ketika menemani orang muda. Bekerja dengan orang muda membuatnya semakin aktif dan kreatif dalam memenuhi apa yang mereka inginkan walaupun butuh tenaga ekstra. Para mahasiswa diajak untuk mengalami perjumpaan dengan orang miskin, misalnya melalui work camp. Kegiatan ini dilaksanakan di pedesaan. Setiap mahasiswa diajak untuk membantu masyarakat di desa itu, misalnya dengan memperbaiki rumah penduduk atau bekerja di ladang. Pengalaman perjumpaan ini penting agar mereka bisa lebih memahami tujuan menjadi men or women for others.

Di Thailand saat ini banyak orang muda yang mengalami depresi karena berbagai faktor. Banyak mahasiswa bunuh diri dan dosen mengalami depresi. Pendampingan mahasiswa dengan aneka kegiatan yang diselenggarakan ini adalah upaya untuk menemani mereka dalam masa kering atau desolasi. Bagi Pater Beda dan Pater Bowo, menemani orang muda adalah menemani mereka yang bersemangat muda untuk mampu menentukan identitas dirinya sendiri sehingga kelak mereka dapat berdiri sendiri dengan kreativitasnya dan mampu menjadi men or women for others.

Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator

More
articles

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *