7 Strategi di Masa Pandemi secara Spiritualitas

Woman works in a garden. Lady in a blue gloves

1. Berdoa.

Tuhan itu selalu mendengarkan. Saya sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan itu beserta kita. Sedekata kita dengan diri kita sendiri. Bahkan lebih dekat. Waktu saya berdoa, saya menantikan jawaban Tuhan.  Walaupun saya tidak selalu tahu bagaimana cara Tuhan akan menjawabnya, tetapi saya percaya bahwa Tuhan pasti akan menjawab. Ketika saya berdoa untuk orang lain, seperti ibu saya yang tinggal di kota lain, saya tahu bahwa mereka hadir bersama saya dalam doa seperti berada dalam ruangan yang sama. Dalam Tuhan yang hadir, kita semua disatukan.

2. Tetap Terhubung.

Saya baru-baru ini menjalani karantina mandiri selama 14 hari setelah suami saya jatuh sakit dengan gejala mirip flu setelah kami kembali dari Eropa. (Kami semua sehat sekarang.) Saya menemukan bahwa keterhubungan melalui program seperti Zoom, Skype, atau Google Meet, atau SMS atau whatsapp, adalah cara terbaik untuk memelihara relasi dengan orang lain di luar karantina. Manusia itu memang mahluk sosial dan membutuhkan relasi.

3. Menyapa.

Anda tidak sakit atau karantina mandiri? Perhatikanlah apa yang dibutuhkan sesama. Kita memang masih tetap menjaga jarak dengan membuat grup chat orang-orang di lingkunganku. Ketika saya tidak bisa ke luar, seorang teman mengirimkan rangkaian bunga dan juga minuman ke rumah kami. Jaga jarak tidak berarti akhir dari pelayanan.

4. Berterima kasih.

Selalu ada sesuatu untuk disyukuri. Percayalah. Saat saya menulis ini, kedua anak saya yang dewasa sudah berada di rumah bersama kami, dan mereka semua sehat. Saya bersyukur atas obrolan bersama, makan bersama, dan rahmat kesehatan bagi kami semua. Rasa terima kasih memberikan kita perspektif.

5. Melambat.

Saya sering berharap punya waktu lebih banyak untuk berkontemplasi. Hati-hati dengan harapan anda. Akan tetapi, waktu lebih banyak waktu untuk merenung dan memandang matahari terbit atau melihat pohon yang indah lewat jendela belakang rumah sungguh memberikan rasa damai. Membuat roti tentu saja membutuhkan lebih banyak waktu daripada membelinya. Namun proses itu membantu saya untuk hadir sepenuhnya dalam waktu itu, sambil merawat orang lain. Mungkin melambat adalah hadiah tersembunyi.

6. Melibatkan diri dalam pekerjaan bermakna.

Para biksu selalu tahu prinsip ini, “kita membutuhkan keseimbangan antara pekerjaan, doa, dan waktu luang dalam kehidupan.” Saya seorang guru. Karena itu saya mencurahkan seluruh energi saya untuk mengajar mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi melalui sarana/platform jarak jauh, bekerja sesuai jam kantor, dan menemukan cara baru dan kreatif untuk membantu mahasiswa-mahasiswa saya bertumbuh dan belajar. Bahkan bagi mereka yang sudah pensiun atau tidak bekerja, tugas-tugas seperti membuat roti, memperbaiki kerusakan keci yang tertunda, atau mengatur foto ke dalam album dapat menjadi pekerjaan yang bermakna.

7. Cinta

Cinta itu menular. Cinta, kata St. Ignatius, ditunjukkan dalam perbuatan, tidak hanya dalam kata-kata. Pernyataan ini menolong kita untuk berani mengatakan kepada orang lain, bahwa saya mencintai mereka. Bagaimana Anda ingin berbagi cinta hari ini?

oleh Marina McCoy

diterjemahkan dari https://www.ignatianspirituality.com/seven-spiritual-strategies-for-a-time-of-pandemic/

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *