Pilgrims on Christ’s Mission

SAV Puskat

Formasi Iman

Mewujudkan Mimpi Provindo

PERTEMUAN JESUIT MUDA 2024 31 Juli-3 Agustus 2024, setelah acara tahbisan, kami, para imam dan bruder muda berkumpul di Kampoeng Media untuk mengikuti Program Pengembangan Kepemimpinan (LDP). Suasananya menggembirakan dan fun. Kami dibantu Pater Nano, S.J. selaku delegat Rencana Apostolik Provindo (RAP) untuk berbagi pengalaman dan inspirasi terkait RAP ini. Dalam sharing kelompok gugus karya (paroki, pendidikan, dosen, karya sosial, formasi) kami mendengarkan satu sama lain bagaimana RAP ini bergema dalam hidup dan perutusan yang kami jalani. Meski gema RAP ini belum terdengar nyaring, kami melihat bahwa RAP ini memberikan jalan dan harapan dalam menghidupi kesatuan hati dan budi dalam hidup perutusan Serikat saat ini. Bahkan dalam sambutannya, Pater Provinsial mendorong Jesuit muda untuk berani berimajinasi bagi karya kerasulan Serikat.   Dalam kesempatan LDP ini hadir juga teman-teman Jesuit dari Thailand dan Vietnam (Pipat, Sarayuth Konsupap, Sakda, Luong, Josep Doan Tam) yang menambah keakraban. Secara khusus PP Thep dan Pipat yang pernah menempuh studi filsafat di STF Driyarkara tahun 2009-2013, juga membagikan pengalaman berkarya di Thailand dalam terang UAP di hari terakhir.   Pada hari Kamis, 1 Agustus, Pater Nano, S.J. mengajak kami untuk memperhatikan mimpi kecil Jesuit dan juga mimpi Serikat Provindo serta Serikat Universal. Kami juga diharapkan untuk memberikan perhatian besar kepada mimpi Serikat Provindo yang tertuang dalam RAP. Salah satu rekomendasinya ialah setelah LDP ini Pater Nano, S.J. akan mengajak kami untuk mengadakan pertemuan online demi mewujudkan mimpi itu dalam karya kerasulan kami masing-masing.     Pater Sigit, S.J. sebagai ekonom provinsi mengajak kami belajar dan menengok lagi pedoman dalam pengelolaan harta benda Serikat secara tepat berdasarkan IAF (Instruction for Administration and Finances) dan sesuai dengan penghayatan kaul kemiskinan kita.   Untuk menambah kegembiraan kami, pada Jumat, 2 Agustus, kami mengadakan outing ke beberapa tempat, seperti Lava Tour, rafting di Sungai Elo-Magelang dan beberapa kelompok jalan-jalan wisata rohani serta kuliner.   Pada hari terakhir, Pater Daryanto memperkaya imajinasi kami dengan sharing kerasulan orang muda, khususnya pendampingan kaderirasasi bagi mahasiswa-mahasiswi katolik di Yogyakarta. Br. Dieng berbagi refleksi tentang menemukan Tuhan dalam karya KPTT sekaligus mempromosikan sei babi yang terkenal enak. Terakhir, PP Thep, Pat, dan Sakda bercerita upaya-upaya Jesuit Thailand dalam menemukan bentuk yang relevan terkait RAP di konteks sana, misalnya membangun ecology center dalam salah satu karya di sana.   LDP ini ditutup dengan misa yang dipimpin oleh PP Sakda dan Dam. Selamat berimajinasi dan berkarya.   Kontributor: Panitia LDP Jesuit Muda 2024

Pelayanan Spiritualitas

RETRET AUDIO VISUAL YAYASAN ST. LOUISA KEDIRI

Berdasarkan ilmu yang diperoleh di CREC-AVEX Lyon Prancis, Rm. Iswarahadi dan Rm. Murti puluhan kali mengampu retret audio-visual atau symbolic way. Para peserta retret biasanya berasal dari kalangan siswa-siswi SLTA, para guru, biarawan-biarawati dan aktivis Gereja. Baru-baru ini ada kesempatan lagi untuk mendampingi retret semacam itu. Sebanyak 40 orang dari Yayasan St. Louisa Kediri (14 suster dan 26 kepala sekolah/guru) menjadi peserta “retret audio-visual atau symbolic way” di SAV Puskat Sinduharjo pada 9 -11 Agustus 2019. Mereka datang dari Surabaya, Mojokerto, Kediri dan Jombang. Tema umum yang menjadi orientasi dasar dari retret selama 3 hari ini adalah “Kepemimpinan Kristiani yang Relevan di Era Digital.” Setelah kedatangan mereka pada hari pertama sore hari, mereka selama satu jam diajak untuk mengadakan ziarah makna dengan merenungkan cerita-cerita yang terlukis di beberapa bangunan yang ada di kompleks SAV Puskat Sinduharjo. Inilah bagian dari komunikasi pola Yesus, metode naratif eksperiensial. Lukisan yang direnungkan antara lain kisah musafir dan anjing (Islam), kisah musafir dan kelinci (Budha), Sinta Tundhung (Hindu), Bima dan Dewa Ruci (Hindu/Kejawen), dan Joko Tarub-Nawang Wulan (Jawa). Dalam sesi refleksi setelah ziarah makna para peserta saling mengungkapkan pengalaman batin mereka. Kisah-kisah itu sebetulnya sudah pernah mereka dengar. Namun sore hari itu kisah-kisah itu sangat menyentuh, menggugah emosi dan ingatan mereka akan pengalaman hidup yang mereka miliki. Mereka telah menemukan simbol yang menyentuh batinnya. Malam harinya mereka diberi pengantar tentang symbolic way yang akan dijalankan pada pagi hari berikutnya. Pada hari kedua pagi-pagi buta, dalam silentium magnum mereka diantar ke lembah Kali Kuning di lereng Merapi (eksodus). Mereka dilepas untuk mengembara sendiri-sendiri dalam keheningan di lembah itu selama satu jam. Setelah itu, sambil pulang ke Sinduharjo mereka mengadakan refleksi pribadi atas pengalaman eksodus, kemudian pengalaman itu dibagikan dalam kelompok kecil. Kelompok kecil mengadakan pengolahan dengan mengintegrasikan teks kitab suci lalu menyampaikan laporan dalam pertemuan pleno. Setelah ditanggapi oleh pembimbing, empat kelompok kecil diberi tugas untuk memperdalam refleksi mereka dan menyiapkan presentasi yang diintegrasikan dalam Ekaristi pada petang harinya. Sesuai dengan dinamika dan isi dari pengalaman setiap kelompok, masing-masing kelompok mendapatkan tugas presentasi pada bagian-bagian yang berbeda. Ada yang mengolah bagian pembukaan sampai bagian ibadat tobat, ada yang mengolah bagian ibadat sabda, ada pula yang mengolah bagian persembahan, dan ada yang mengolah bagian komuni sampai bagian penutup. Sejak dari sharing kelompok, kami sebagai pembimbing sudah bisa mendeteksi bahwa pengalaman mereka hari itu luar biasa. Kami berharap selebrasi mereka selama Ekaristi juga akan mengesankan. Dan betul, perayaan Ekaristi yang diselenggarakan petang itu sangat mengesankan. Indah dan penuh makna. Mereka mengekspresikan pengalaman iman dalam aneka bentuk (puisi, tarian, drama, musik) dengan memakai kostum dan properti yang tersedia. Dalam refleksi sesudahnya mereka memetik buah-buah rohani. Pada pagi hari ketiga, para peserta berlatih doa kesadaran dalam kesejukan pagi yang diiringi dengan suara angin, air sungai yang mengalir, suara binatang, suara kegiatan manusia di kejauhan, dan alunan musik lembut. Sesi berikutnya adalah berefleksi berdasarkan film “Sahabat Sejati” yang diproduksi oleh Komsos KWI dan SAV Puskat. Film yang disutradarai Rm. Murti ini diilhami oleh pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial se-Dunia ke-53 yang bertema “Berawal dari Jaringan Sosial menuju Komunitas Insani.” Para peserta mampu menemukan nilai-nilai kepemimpinan kristiani yang terkandung dalam film ini. Mereka sangat tersentuh dan diperkaya oleh film ini. Pada sesi terakhir, sebelum misa penutup, masing-masing peserta diberi tugas untuk mengekspresikan niat-niat pertobatan mereka berdasarkan pengalaman selama retret. Ungkapan diwujudkan dengan melukis topeng selama 1 jam. Topeng-topeng itu dipersembahkan dalam misa penutup. Pada kesempatan misa itulah mereka mengungkapkan niat-niat mereka berpangkal pada topeng yang sudah mereka lukis. Saat pulang dari retret ini para peserta merasa lebih berbahagia. Mereka telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang menyapa mereka secara pribadi dan dengan cara yang unik. Mereka sangat bersyukur boleh mengalami retret yang “gue banget” ini. Sudah seringkali mereka mengadakan retret. Namun retret kali ini sangat-sangat unik dan menyentuh hati. Hidup menjadi lebih hidup, dan mereka siap untuk diutus. AMDG. Iswarahadi, SJ

Pelayanan Masyarakat

MERAYAKAN HARI KOMSOS

“Kita Adalah Sesama Anggota: Dari Komunitas Jaringan Sosial Menuju Komunitas Insani” disampaikan melalui homili dalam tujuh kali misa oleh Rm. JB. Mardikartono SJ, Rm. J. Sigit Prasadja SJ, dan Rm. Y.I. Iswarahadi SJ. Kesempatan ini juga dipakai untuk promosi karya media komunikasi SAV Puskat yang disampaikan lewat brosur dan pemutaran film kegiatan SAV Puskat sepuluh menit menjelang misa.