Pilgrims on Christ’s Mission

imam jesuit

Tahbisan

Menjadi Sahabat di Jalan Pengharapan

Empat diakon Serikat Jesus ditahbiskan imam oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang, pada Rabu, 23 Juli 2025 di Gereja Santo Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta. Keempat diakon tersebut adalah:  Diakon Antonius Septian Marhenanto, S.J. (Paroki St. Yohanes Maria Vianney, Cilangkap, Keuskupan Agung Jakarta),  Diakon Isodorus Bangkit Susetyo Adi Nugroho, S.J. (Paroki St. Maria Lourdes, Sumber, Keuskupan Agung Semarang),  Diakon Jacobus Aditya Christie Manggala, S.J. (Paroki Santo Petrus dan Paulus, Babadan, Keuskupan Agung Semarang), dan  Diakon Leo Perkasa Tanjung, S.J. (Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar, Keuskupan Denpasar).  Misa tahbisan yang dihadiri oleh keluarga serta tamu undangan berlangsung khidmat dan penuh syukur. Dalam homilinya, Mgr. Rubiyatmoko memberikan bahan permenungan bagi para diakon agar sungguh-sungguh memberikan diri secara total yang diwujudkan melalui komitmen dan tekad mendalam. Sakramen imamat yang diterima hendaknya dihayati sebagai perayaan syukur atas rahmat yang mengatasi kelemahan manusia itu sendiri.   Menjadi Sahabat di Jalan Pengharapan adalah tema tahbisan tahun ini. Tema tersebut diharapkan mampu mengingatkan bahwa imam adalah sahabat Yesus sendiri dan sahabat dari teman-teman Yesus yang kecil, tersingkir, terluka, dan tak berpengharapan. Menjadi imam di masa ini kiranya bukan sekadar mengajar dan memimpin ibadah-ibadah. Imam perlu berperan sebagai sahabat yang berani hadir secara nyata, menjadi pendengar yang penuh empati, dan berani membalut luka-luka hati dengan berbagai macam cara sehingga mampu membuat mereka bangkit kembali membangun pengharapan sekaligus mempunyai masa depan kembali.      Meskipun menjadi sahabat Yesus tidak selalu mudah, dalam homilinya Mgr. Rubiyatmoko berpesan agar jangan putus dalam pengharapan sebab pengharapan tidak mengecewakan. “Selagi kita punya pengharapan yang besar maka akan ada usaha dan nantinya akan ada hasil yang bisa kita tawarkan kepada umat yang kita layani.” Para imam ini pun nantinya tidak akan sendirian karena mereka memiliki Tuhan serta rekan dalam Serikat Jesus yang akan mendukung dan menguatkan.   Mengakhiri homilinya, Mgr. Robertus Rubiyatmoko berharap agar para imam yang ditahbiskan hari ini mampu menjadi sahabat Yesus yang nyata, khususnya bagi mereka yang kecil, terluka, dan kebingungan, serta mampu memberikan pengharapan. Pelayanan yang dilakukan hendaknya dilakukan sebagai wujud cinta kepada Yesus, sang sahabat sejati. Ketika mengalami penderitaan dan kesulitan, teladanilah Santo Paulus yang mampu menemukan sukacita bahkan dalam penderitaan sebab penderitaan adalah bagian dari persekutuan dengan Kristus.    Setelah ditahbiskan, keempat imam baru ini akan menjalani perutusan ke berbagai tempat sesuai dengan tugas perutusan yang disampaikan oleh Pater provincial.  P. Antonius Septian Marhenanto, S.J. bertugas sebagai Koordinator Purna Waktu Tim Komunikator SJ Indonesia  P. Isodorus Bangkit Susetyo Adi Nugroho, S.J. bertugas sebagai anggota staf SMA YPPK Adhi Luhur, Nabire, Papua  P. Jacobus Aditya Christie Manggala, S.J. bertugas sebagai Direktur Campus Ministry Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, dan  P. Leo Perkasa Tanjung, S.J. bertugas menjalani studi Kitab Suci di Biblicum, Roma.  Pada akhir misa tahbisan, para imam baru memberikan berkat perdana kepada seluruh umat. Seusai misa, acara dilanjutkan dengan ramah tamah di Kolese Santo Ignatius. Semoga para neomis ini senantiasa mampu menggembalakan umat dengan penuh cinta, kasih, dan perhatian. Proficiat!   Kontributor: Bonifasia Amanda – Tim Komunikator Jesuit Indonesia

Provindo

New Gamaliel Award untuk P James Bharataputra, S.J.

Pada Sabtu, 13 Desember yang lalu, Pater James Bharataputra, S.J. menerima penghargaan sebagai New Gamaliel atas usahanya dalam melayani umat di Indonesia, khususnya dengan membangun Taman Doa Maria Annai Velangkanni di Medan.   Seperti yang sudah dikenal secara luas bahwa taman doa ini menggambarkan kehadiran semua agama di Indonesia yang saling membantu dan menolong. Taman doa ini adalah simbol toleransi. Pater James mengatakan bahwa tujuan ia membangun taman doa ini adalah untuk menarik peziarah dari semua lapisan masyarakat. Ada dua hal beliau lakukan, yaitu membantu peziarah untuk berjumpa dengan Tuhan dan pada saat yang sama, mengingatkan semua peziarah bahwa mereka adalah anak-anak dari satu Tuhan, apa pun keyakinan agama mereka. Hal ini mengajarkan sikap saling menghormati dan mengasihi sebagai saudara laki-laki dan perempuan karena semua manusia adalah anak-anak dari Bapa yang sama di Surga. Pater James ingin mewujudkan doa seorang pemazmur, “Betapa indahnya hidup sebagai saudara laki-laki dan perempuan di rumah Tuhan di bumi!”   Penghargaan kepada Pater James Bharataputra, S.J. sebagai “Gamaliel Tamil Nadu Masa Kini” ini diberikan oleh Asian Centre for Cross Cultural Studies. Upacara pemberian penghargaan ini dilakukan di Basilika Vailankanni, India. Pater James terkejut atas apresiasi yang luar biasa dari Uskup Tanjavur dan juga Kardinal Bo dari Myanmar ini.   Apa sebenarnya maksud dari penghargaan ini? Gamaliel adalah seorang guru atau rabi yang sangat dihormati karena pengetahuan mendalam tentang hukum Taurat dan kebijaksanaannya. Kebijaksanaannya terlihat jelas dalam nasihatnya kepada kelompok Sanhedrin, di mana dia menyarankan untuk tidak menghukum para rasul karena jika pekerjaan mereka berasal dari Tuhan, itu tidak bisa dihalangi. Karena pengetahuan, kebijaksanaan, pengaruh, dan peran pentingnya dalam pendidikan, Gamaliel dianggap sebagai salah satu guru terkemuka dan dihormati dalam sejarah Yahudi dan Kristen. Para panitia Asian Centre for Cross Cultural Studies melihat bahwa apa yang dikerjakan oleh Pater James merupakan karya Tuhan. Ia menyelenggarakan sebuah katekese iman lewat gambaran-gambaran visual yang ada di Taman Doa Maria Velangkani Medan agar setiap orang, terutama umat di Medan, dapat melihat Allah secara lebih konkret secara visual.   Pater James menambahkan bahwa pembangunan taman doa ini berawal dari mimpinya untuk mengajak semua orang bertemu Tuhan. “Saya percaya Tuhan memberi tahu saya perincian tersebut melalui mimpi saya. Kadang-kadang saya terbangun dari mimpi saya dan menuliskan beberapa perincian mimpi saya agar saya tidak lupa. Saya tidak tahu bagaimana menggambarkan pengalaman spiritual yang luar biasa ini, seperti Tuhanlah yang mendiktekan rencana-Nya untuk Taman Doa ini secara terperinci saat saya melanjutkan pembangunannya.”   Baginya, seluruh desain arsitekturnya merupakan hasil dari mimpinya ketika merenungkan misteri Inkarnasi di Minggu Kedua Latihan Rohani. Semua direpresentasikan secara artistik melalui lukisan dan patung bergaya Indo-Saracenic. Taman doa ini menggabungkan sisi kebutuhan dasar manusia yang tergambar dalam ruang bagian bawah. Ruang ibadah dan doa berada di lantai tengah. Bagian tentang misteri ilahi atau surga terletak di atas. Ada tujuh tingkatan yang menggambar-kan tujuh tingkatan surga atau tujuh sakramen. Pater James Bharataputra telah memberikan kontribusinya terhadap keragaman religio-budaya dan pariwisata di Medan karena Tempat Suci ini menarik peziarah dari semua agama. Hidupnya telah menjadi berkat bagi banyak orang.   Mari kita berbahagia atas inspirasi dari mimpi-mimpi Pater James yang luar biasa dan telah diapresiasi oleh banyak orang, terutama para umat katolik di Tamil Nadu, India. Pater Sindhunata juga memberikan apresiasinya yang tertuang dalam buku autobiografi Pater James. Ia menulis: “Keagungan dan keindahan tempat suci ini merupakan perwujudan proses inkulturasi antara tanah kelahirannya, Tamil Nadu, dan tanah Sumatera. Tempat suci ini telah menjadi tempat pertemuan surga dan bumi – tempat yang ilahi dan manusia saling berpelukan – tempat Tuhan ingin bertemu umat-Nya, tanpa memandang ras, kepercayaan, dan bahasa.”   Momen yang luar biasa ini menjadi tanda bagi Pater James untuk kembali ke tanah airnya. Dengan momen ini, ia siap meninggalkan Taman Doa Maria Velangkanni yang mengembangkan iman umat di Indonesia dan siap juga mengakhiri masa misionarisnya di Indonesia. Ia telah menjadi misionaris di Indonesia selama 50 tahun dan telah memberikan banyak kontribusi untuk umat dari berbagai agama di Indonesia. Kini, Taman doa ini dikelola oleh RD Gundo Franci Saragih. Semoga impian Pater James untuk membangun iman umat di tanah Medan tetap lestari bersama RD Gundo.   Terima kasih dan Selamat Pater James atas karya luar biasa dari Allah ini di tanah Indonesia. Selamat kembali menghirup udara segar di Tamil Nadu.   Kontributor: P Ignatius Windar Santoso, S.J.

Obituary

Selamat Jalan P Ferdinandus Yuswar Riyana, S.J.

Pater Ferdinandus Yuswar Riyana, S.J. adalah seorang imam Jesuit dari Klaten yang menerima sakramen baptis setelah ia dewasa. Sepanjang hidupnya sebagai Jesuit, Pater Yuswar banyak berkarya di bidang pelayanan paroki di sekitar Jawa Tengah.    Pater Yuswar dilahirkan di Klaten pada 7 Juli 1952 dari pasangan suami–istri Sunda- Jawa Soekardi Partaatmadja dan Soepartinah Partaatmadja. Dua puluh delapan tahun setelah kelahirannya, ia dibaptis di Paroki St. Petrus dan Paulus, Mangga Besar, Jakarta dan empat tahun kemudian, ia menerima Sakramen Penguatan (22/9/1979) di paroki yang sama. Pendidikan dasar hingga pendidikan menengah ia tempuh di Klaten dan pendidikan diploma bahasa asing ia peroleh dari Akademi Bahasa Asing Negeri di Jakarta (1972).    Tertarik untuk bergabung dengan Serikat Jesus, delapan tahun setelah lulus dari pendidikan diplomanya, Pater Yuswar melamar menjadi anggota Serikat Jesus di Novisiat St. Stanislaus, Girisonta dan diterima. Ia kemudian secara resmi memulai masa novisiat pada 15 Juli 1980. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 16 Juli 1982, ia mengucapkan kaul pertama dan melanjutkan ke jenjang formasi Filsafat.    Formasi Filsafat dijalani Pater Yuswar di STF Driyarkara, Jakarta selama tiga tahun (1982-1985). Setelah selesai Filsafat, ia ditugaskan untuk menjalani tahap orientasi kerasulan (TOK) di Keuskupan Agung Jakarta, yaitu menjadi pendamping guru–guru agama di sekolah Inpres (1985-1988). Kemudian selama empat tahun (1988-1992), ia menjalani formasi Teologi di Yogyakarta.    Tahbisan diakon diterima Pater Yuswar di Kapel Seminari Tinggi St. Paulus, Yogyakarta dari tangan Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja pada 25 Januari 1991 dan enam bulan kemudian, juga oleh Mgr. Darmaatmadja, ia ditahbiskan imam (29 Juli 1991) di Gereja St. Antonius Kotabaru, Yogyakarta. Empat tahun setelah tahbisan imam, Pater Yuswar menjalani program Tersiat di Kolese Stanislaus, Girisonta di bawah bimbingan PJ. Darminta, S.J. selama sembilan bulan (1 September 1995 – 1 Juni 1996). Akhirnya pada 3 Desember 1998, Pater Yuswar mengucapkan kaul akhirnya di Kapel SAV Puskat, Yogyakarta dan diterima oleh PP. Wiryono Priyotamtama, S.J. dengan gradus coadjutor spiritualis.    Riwayat tugas Pater Yuswar Riyana, S.J. setelah tahbisan Pastor Rekan Gereja St. Pius X   Karanganyar   1991-1992   Pastor Administrator Gereja St. Pius X   Karanganyar   1992-1995   Pastor Kepala Gereja St. Pius X   Karanganyar   1995-1998   Pastor Rekan Gereja St. Theresia   Semarang   1998-2004   Pastor Kepala Gereja St. Yusup   Baturetno   2004-2009   Moderator SMPK Baturetno   Baturetno   2006-2012   Pastor Rekan Gereja St. Yusup   Baturetno   2009-2013   Pastor Kepala Gereja St. Stanislaus   Ungaran   2013-2015   Pastor Rekan Gereja St. Stanislaus   Ungaran   2015-2016   Penulis & Pendoa bagi Gereja dan Serikat di Wisma Emmaus   Ungaran   2016-wafatnya     Pater Yuswar, selamat beristirahat dalam damai di pangkuan Tuhan. Doakan kami agar bisa menekuni dengan setia hidup dan ziarah di bumi ini.   Misa Requiem dan Pemakaman  Misa Requiem akan diadakan di:  Tempat           : Gereja St. Stanislaus, Girisonta  Hari, tanggal : Rabu, 11 Desember 2024  Waktu             : Pukul 11.00 WIB  dan akan dilanjutkan dengan pemakaman di Taman Makam Maria Ratu Damai, Girisonta, Bergas, Ungaran.    Seluruh anggota Provinsi dimohon merayakan Ekaristi khusus bagi kedamaian jiwa Pater Ferdinandus Yuswar Riyana, S.J.   

Pelayanan Masyarakat

Membawa Kabar Suka Cita di Panggung Literasi

Partisipasi PT Kanisius di Frankfurt Book Fair Perbincangan kecil bersama Pater Stefan Kieschle, S.J., saat sarapan di refter Ignatiushaus, Frankfurt am Main, Elsheimer Straße 9, mengawali dinamika PT Kanisius di Frankfurt Book Fair pada Oktober lalu. Dalam perbincangan itu, Pater Kieschle, S.J., delegatus Spiritualitas Ignatian dan pemimpin redaksi majalah budaya “Stimmen der Zeit,” menceritakan tantangan sekularisme di Gereja Eropa. Saat ini hampir tidak ada lagi kaum muda yang berminat datang ke Gereja. Ekaristi mingguan hanya dihadiri oleh segelintir generasi senior saja. Menanggapi situasi ini, Pater Kieschle, S.J. yang sebelumnya pernah menjabat Provinsial Provinsi Jerman, memilih tetap konsisten memberikan kesaksian perwujudan iman di tengah arus sekularisme. “Yang penting adalah terus melakukan kebaikan Injili,” itulah pilihan tindakan yang diambil bersama oleh komunitas Jesuit di Ignatiushaus. Kalimat ini selanjutnya kami temukan maknanya secara lebih nyata dalam tugas kami sebagai exhibitor di Frankfurt Book Fair 2024.   PT Kanisius hadir ketujuh kalinya di ajang perbukuan internasional tertua di dunia ini sejak Indonesia terpilih menjadi Guest of Honour (GoH) pada 2015. Sejak saat itu, PT Kanisius dikenal sebagai “Penerbit Katolik Indonesia” yang aktif karena setiap tahun hadir berpartisipasi sebagai co-exhibitor pemerintah Indonesia. Momen 2015 menjadi awal keterlibatan PT Kanisius, satu-satunya penerbit Katolik sekaligus satu-satunya yang berasal dari daerah, sebagai rekan kerja Pemerintah Indonesia di forum Frankfurt Book Fair.   Bersyukur bahwa pada tahun 2015 PT Kanisius lolos kurasi sebagai co-exhibitor dalam menampilkan potret budaya literasi Indonesia. Seperti dikatakan Presiden Frankfurt Book Fair, Juergen Boos, perhelatan ini merupakan kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan dan keragaman budaya dari berbagai wilayah di belahan dunia yang berbeda. Forum ini menjadi ajang ekspresi untuk memperkenalkan identitas budaya suatu bangsa. Buku dengan beragam konten yang baik, merupakan salah satu unsur penting pembentuk budaya dan peradaban. Kanisius yang telah bergumul sebagai pelaku perbukuan lebih dari satu abad, memang seharusnya memberikan kontribusi yang tampak dalam performa bangsa Indonesia di ajang perbukuan internasional ini. Di era disruptif seperti saat ini, industri buku terasa lesu. Situasi ini sempat membuat kami ragu, akankah terus menyediakan diri berkontribusi menghadirkan wajah Indonesia dengan literatur kekatolikan yang kami hasilkan di forum internasional Frankfurt Book Fair? Tahun ini, entah bagaimana, Indonesia tampak sedang enggan untuk konsisten menghadirkan diri sebagai negara berbudaya literasi. Beberapa teman sesama pelaku perbukuan di Jakarta memperbincangkan kecenderungan pemerintah untuk lebih memperhatikan bidang-bidang usaha kreatif yang lebih cepat memberikan income dan peluang investasi, seperti kuliner atau kerajinan. Buku dengan segala kegiatan literasinya, sekalipun disadari memiliki kekuatan intelektualitas penopang budaya, memang harus diakui lambat memberikan keuntungan ekonomis. Fenomena ini menempatkan para pelaku perbukuan di persimpangan jalan, berada dalam tegangan antara peran idealis dan tuntutan ekonomis yang tak mudah dipertemukan.     Dalam sebuah perjumpaan sebelum keberangkatan ke Frankfurt, Pater Leo Agung Sardi, S.J. sempat menyatakan, “Tindakan baik itu meskipun terus dilakukan, tidak tampak menghasilkan banyak. Tapi jika tidak dilakukan, akan terasa banyak kurangnya.” Ungkapan itu dikemukakan menanggapi kegalauan tim manajemen PT Kanisius menghadapi tantangan sedemikian cepatnya perubahan hingga berdampak pada kecenderungan serba instan. Ungkapan Pater Leo Agung Sardi, S.J. itu sejalan dengan Pater Stefan Kieschle, S.J. di awal tulisan ini, yaitu mengajak untuk tetap konsisten memberikan kesaksian iman di tengah arus zaman. Perjalanan mengikuti Frankfurt Book Fair 2024 kali ini terasa berbeda. Bukan karena besarnya prospek ekonomi dari bisnis buku yang kami lihat, melainkan karena kedalaman makna kehadiran kami, PT Kanisius dengan kekhasan Katoliknya di tengah percaturan literasi dunia. Perbincangan kecil dengan Pater Kieschle SJ di awal kedatangan di Frankfurt, serta ungkapan Romo Leo Agung Sardi, S.J. sebelum keberangkatan ke Frankfurt, terasa seperti percakapan rohani yang membekali kami untuk menyelami Frankfurt Book Fair kali ini bukan semata-mata sebagai perjalanan dinas, namun juga perjalanan rohani yang menegaskan perutusan kami.   Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun 2024, Pemerintah Indonesia tidak lagi menyediakan sponsor bagi pelaku perbukuan untuk menghadirkan eksistensi literasi Indonesia di Frankfurt Book Fair. Namun secara tak terduga, hadir “teman-teman seperjalanan,” sesama pejuang di medan frontier dunia perbukuan, yang rela bahu-membahu berbagi beban untuk dapat tetap hadir bersama di percaturan buku internasional ini. Kami yakin, kehadiran kami tetap diperlukan untuk menghidupi semangat literasi di Indonesia. Jika pada masa pra-awal kemerdekaan, Kanisius mengambil bagian dalam perjuangan eksistensi bangsa Indonesia melalui pencetakan majalah pergerakan dan ORI (Oeang Repoeblik Indonesia), maka saat ini PT Kanisius tetap ambil bagian dalam eksistensi bangsa Indonesia di kancah budaya literasi dunia. Kehadiran di Frankfurt Book Fair menjadi bentuk perwujudan iman dalam perutusan PT Kanisius yang khas, membawa kabar sukacita di panggung literasi, menyuarakan kemendalaman di antara tebaran isu-isu ekonomi, politik, dan gaya hidup.   Bagi PT Kanisius, persimpangan jalan di bisnis perbukuan menjadi momen diskresi mendengarkan suara Tuhan tentang arah yang harus dituju, dalam semangat Kesetiaan Kreatif. Seiring laju zaman, PT Kanisius menghadapi tantangan untuk tetap setia pada jati dirinya, kreatif membuat terobosan yang relevan, dan mempersembahkan karyanya sebagai buah perutusan.   Kontributor: Mg Sulistyorini dan Peter Satriyo Sinubyo – PT Kanisius

Formasi Iman

Mewujudkan Mimpi Provindo

PERTEMUAN JESUIT MUDA 2024 31 Juli-3 Agustus 2024, setelah acara tahbisan, kami, para imam dan bruder muda berkumpul di Kampoeng Media untuk mengikuti Program Pengembangan Kepemimpinan (LDP). Suasananya menggembirakan dan fun. Kami dibantu Pater Nano, S.J. selaku delegat Rencana Apostolik Provindo (RAP) untuk berbagi pengalaman dan inspirasi terkait RAP ini. Dalam sharing kelompok gugus karya (paroki, pendidikan, dosen, karya sosial, formasi) kami mendengarkan satu sama lain bagaimana RAP ini bergema dalam hidup dan perutusan yang kami jalani. Meski gema RAP ini belum terdengar nyaring, kami melihat bahwa RAP ini memberikan jalan dan harapan dalam menghidupi kesatuan hati dan budi dalam hidup perutusan Serikat saat ini. Bahkan dalam sambutannya, Pater Provinsial mendorong Jesuit muda untuk berani berimajinasi bagi karya kerasulan Serikat.   Dalam kesempatan LDP ini hadir juga teman-teman Jesuit dari Thailand dan Vietnam (Pipat, Sarayuth Konsupap, Sakda, Luong, Josep Doan Tam) yang menambah keakraban. Secara khusus PP Thep dan Pipat yang pernah menempuh studi filsafat di STF Driyarkara tahun 2009-2013, juga membagikan pengalaman berkarya di Thailand dalam terang UAP di hari terakhir.   Pada hari Kamis, 1 Agustus, Pater Nano, S.J. mengajak kami untuk memperhatikan mimpi kecil Jesuit dan juga mimpi Serikat Provindo serta Serikat Universal. Kami juga diharapkan untuk memberikan perhatian besar kepada mimpi Serikat Provindo yang tertuang dalam RAP. Salah satu rekomendasinya ialah setelah LDP ini Pater Nano, S.J. akan mengajak kami untuk mengadakan pertemuan online demi mewujudkan mimpi itu dalam karya kerasulan kami masing-masing.     Pater Sigit, S.J. sebagai ekonom provinsi mengajak kami belajar dan menengok lagi pedoman dalam pengelolaan harta benda Serikat secara tepat berdasarkan IAF (Instruction for Administration and Finances) dan sesuai dengan penghayatan kaul kemiskinan kita.   Untuk menambah kegembiraan kami, pada Jumat, 2 Agustus, kami mengadakan outing ke beberapa tempat, seperti Lava Tour, rafting di Sungai Elo-Magelang dan beberapa kelompok jalan-jalan wisata rohani serta kuliner.   Pada hari terakhir, Pater Daryanto memperkaya imajinasi kami dengan sharing kerasulan orang muda, khususnya pendampingan kaderirasasi bagi mahasiswa-mahasiswi katolik di Yogyakarta. Br. Dieng berbagi refleksi tentang menemukan Tuhan dalam karya KPTT sekaligus mempromosikan sei babi yang terkenal enak. Terakhir, PP Thep, Pat, dan Sakda bercerita upaya-upaya Jesuit Thailand dalam menemukan bentuk yang relevan terkait RAP di konteks sana, misalnya membangun ecology center dalam salah satu karya di sana.   LDP ini ditutup dengan misa yang dipimpin oleh PP Sakda dan Dam. Selamat berimajinasi dan berkarya.   Kontributor: Panitia LDP Jesuit Muda 2024

Tahbisan

Tinggallah Bersama Kami

Penerimaan Sakramen Imamat Empat Diakon Serikat Jesus Serikat Jesus Provinsi Indonesia merayakan kegembiraan atas ditahbiskannya empat diakon menjadi imam di Gereja Santo Antonius Padua, Yogyakarta, pada 31 Juli 2024. Keempat diakon ini menerima sakramen imamat dari tangan Bapak Uskup Robertus Rubiyatmoko. Mereka adalah adalah Diakon Tiro Angelo Daenuwy, S.J., Diakon Andreas Aryono Mantiri, S.J., Diakon Antonius Bagas Prasetya, S.J., dan Diakon Vincentius Doni Erlangga Satriawan, S.J. Lebih kurang seribu umat hadir dalam misa tahbisan ini dan semua umat yang hadir diundang untuk ikut beramah-tamah di wisma teologan Kolese Santo Ignatius, Yogyakarta.    Yesus senantiasa menyertai Para Imam Terinspirasi oleh kisah Yesus yang bangkit di jalan menuju Emaus, para neomis mengambil tema tahbisan dari Lukas 24:28 “Tinggallah Bersama Kami.” Dalam homilinya, Bapak Uskup Rubiyatmoko, mengajak para imam yang baru ditahbiskan ini untuk mengingat kembali semua pengalaman dalam masa formasi mereka yang panjang sebagai bukti bahwa Yesus selalu hadir dalam hidup mereka. Ia berkata, “Di balik motto ini, ada berbagai pengalaman yang menarik. Mereka telah berjalan bersama Yesus. Dia menemani mereka, berjalan berdampingan, dari waktu ke waktu, hingga mereka berdiri teguh dan kokoh.” Dalam sharingnya selama homili, Diakon Bagas menceritakan kesepian yang sering ia alami selama dua belas tahun masa formasinya. Ia masuk Serikat Jesus pada 2012 bersama sembilan calon lainnya hingga ialah satu-satunya yang akhirnya ditahbiskan imam. Meskipun demikian, Diakon Bagas bersyukur atas dukungan yang ia terima dari semua temannya di Serikat Jesus, bukan hanya dari teman seangkatannya. “Memang benar bahwa setiap hari Tuhan selalu mengajar dan membentuk saya melalui banyak momen, baik yang menyakitkan maupun menyenangkan, dan semua itu membuat saya ingin selalu bersama Yesus dan mengikuti-Nya hingga akhir hayat.”     Tiga dari empat neomis masuk Serikat melalui program promosi panggilan, bukan dari seminari menengah. Uskup Rubiyatmoko dengan bercanda mengatakan bahwa ia menahbiskan kelompok “orang-orang berumur” tahun ini. Bapak Uskup meminta diakon Tiro, Doni, dan Andre untuk berbagi sedikit cerita tentang bagaimana mereka meninggalkan ambisi, hobi, dan relasi di masa lalu untuk memulai jalan baru dalam hidup religius. Uskup Rubiyatmoko mengatakan bahwa ketiga diakon baru ini memiliki pengalaman hidup yang kaya, namun mereka menerima berkat untuk melayani umat Allah. Bapak Uskup mengutip apa yang ditulis oleh Diakon Doni dalam buklet tahbisan, “Imamat adalah sebuah proses. Jadi, apa yang dibutuhkan dari kita adalah mengikuti prosesnya seperti mengikuti jalan ziarah. Awalnya memang tidak jelas, tetapi akan menuntun kita hingga ke tempat tujuan.” Uskup mengakhiri homilinya dengan mengingatkan para neomis untuk selalu menjadi imam yang sederhana dan rendah hati yang melayani dengan tulus.   Berbeda Jalan, Satu Panggilan Jalan yang dilalui para neomis hingga saat mereka ditahbiskan ini memang berbeda-beda. Diakon Bagas yang berasal dari Pamulang, Banten menghabiskan masa formasi awal di Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, Mertoyudan (2008-2012). Selama masa formasinya, ia bekerja sebagai sub moderator di SMA Kolese Loyola Semarang. Pater Andre, dari Jakarta, dan Pater Doni, dari Yogyakarta, masuk novisiat pada tahun 2014 dan mereka berdua memiliki gelar sarjana sebelum masuk Serikat. Mereka menjalani masa orientasi kerasulan (TOK) selama dua tahun (2018-2020) sebelum menjalani studi teologi di FTW-USD, Yogyakarta. DiakonAndre di Kantor Provinsialat SJ Semarang membantu Ekonom Provinsi dan Diakon Doni di Surakarta menjadi pengajar di Politeknik ATMI dan SMK Kolese Mikael. Apa yang dialami DiakonTiro selama TOK berbeda dengan ketiga frater lainnya. Tahun pertama ia TOK di Paroki Santo Ignatius, Danan, Wonogiri, tahun kedua di Jesuit Refugee Service (JRS) Bogor dan Palu, dan tahun ketiga di SMA Kolese Loyola Semarang. Meskipun memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda, para neomis dipersatukan oleh panggilan dan tujuan yang sama, seperti yang ditekankan oleh Bapak Uskup.     Sebelum misa berakhir, Provinsial Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., mengumumkan secara terbuka tempat dan tugas para imam baru. Pater Tiro akan bekerja sebagai moderator di SMK Kolese Mikael, Surakarta. Pater Bagas menjadi Vikaris Parokial Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan. Pater Doni akan menyelesaikan pendidikan pascasarjana teknik sipil di Universitas Gadjah Mada dan membantu pelayanan sakramental di Paroki Kotabaru, Yogyakarta. Pater Andre juga melanjutkan studi khusus program pascasarjana manajemen keuangan di Universitas Atmajaya, Jakarta dan menjadi Wakil Pater Unit Skolastikat Johar Baru, Jakarta.   Serikat Jesus Provinsi Indonesia sangat berterima kasih kepada para neomis yang siap diutus dan memulai perjalanan mereka sebagai imam Jesuit. Mari kita doakan para imam baru ini dalam melaksanakan karya perutusan mereka.   Kontributor: S. Benicdiktus Juliar Elmawan, S.J.