Pilgrims of Christ’s Mission

Bong Suwung

Pelayanan Masyarakat

Kamu-Kamulah Penghuni Surga

Memanusiakan Manusia Di tengah hiruk-pikuk kota berjuluk Kota Pelajar itu terdapat berbagai wilayah terpinggir yang sering kali luput dari pandangan orang. Salah satunya adalah Bongsuwung. Tempatnya berdiri di samping rel kereta yang memaksa orang sekitar mendengar deru kereta setiap hari. Pun masih ditambah ketersediaan infrastrukturnya yang sederhana. Di lain sudut ada daerah Pingit dan Jombor yang punya “keunikan” tersendiri, seolah tak mau kalah dengan Bongsuwung.   Mungkin sudah bisa terbayang bagaimana ritme kehidupan penduduk di sana. Entah mereka masih memiliki angan hidup layak atau impian kemakmuran mungkin menjadi pertanyaan yang terlalu utopis. Barangkali sekadar mendapatkan sesuap pangan hari ini sudah menjadi syukur mendalam bagi mereka. Apakah esok rezeki masih tersedia atau tidak, mereka sepenuhnya pasrahkan kepada Yang Esa, itu pun andai mentari esok masih dianugerahkan bagi mereka.   Kendati demikian, mereka masih manusia. Sudah layak dan sepantasnya bagi kita, sesama manusia, memanusiakan mereka. Mereka pun pantas merasakan hak bisa hidup layak, sekurang-kurangnya dalam bidang pendidikan. Itulah yang telah dan terus dilakukan Realino SPM. Dengan bersenjatakan perlengkapan keterampilan dan prakarya, para volunteer Realino siap diutus mengemban tugas menabur benih harapan bagi anak-anak di sana.   Volunteer Realino, mayoritas beranggotakan mahasiswa/i dari berbagai universitas di Yogyakarta. Mereka memberikan pelajaran menyenangkan sekaligus bermanfaat mendorong kemampuan kognitif dan memantik nyala api humaniora dalam diri anak-anak Jombor, Bongsuwung, dan Pingit. Lewat pelbagai prakarya sederhana maupun kegiatan serupa diberikan kepada anak-anak SD dan SMP tersemat harapan nilai juang dan semangat berprestasi bisa tumbuh dalam hati anak-anak.     Meneladani Penghuni-penghuni Surga Sekilas, mungkin kata volunteer atau model sukarela yang ditekankan dalam pelayanan Realino menunjukkan semua pihak yang terlibat pelayanan tidak mendapat imbalan apa pun. Nyatanya, tidak demikian. Jika kita bertolak lebih dalam, kita sanggup menemukan hidden gem yang membuat kita lebih memaknai perjumpaan para volunteer dan anak-anak di Komunitas Belajar Realino.   Semangat dasarnya, para volunteer menjadi pendidik dan anak-anak yang menjadi siswa/i. Namun, nyatanya hal sebaliknya bisa terjadi. Para volunteer bahkan kita semua bisa belajar banyak keutamaan dari anak-anak. Tidak hanya karena status mereka anak-anak pinggiran, tetapi lebih sederhana lagi, status mereka sebagai anak-anak. Yesus pernah berpesan, “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.” Apa sebenarnya bisa dipelajari dari anak-anak spesial ini? Mereka suka bertengkar. Mereka cerewet dan susah diminta diam apalagi mendengarkan. Kata-kata mereka acap kali terdengar keras, kasar, dan tak segan mengumpat. Bahkan cara mereka berbicara pada para volunteer pun bisa dengan ujaran kasar. Kita bisa berpandangan faktor lingkungan kuat mempengaruhi mereka.   Di sisi lain kita bisa melihat kebaikan anak-anak, yang seringkali luput dari mata kita, karena terlalu fokus pada kenakalan mereka. Apakah kita pernah menyadari betapa mudahnya anak-anak saling berjabat tangan, memaafkan tak lama setelah saling bertengkar? Atau entengnya lidah mereka mengatakan “Kak ini caranya gimana sih! Tolongin dong aku enggak paham” ketika sedang ditemani membuat prakarya? Terkesan sederhana. Namun, jika ditanya kapan terakhir kita melakukan hal serupa? Rasanya kita mulai sadar betapa mudahnya anak-anak itu mengesampingkan ego diri mereka. Mungkin seiring bertumbuh dewasa, ego kita turut kian jaya, membuat kita lupa caranya mengucap “maaf”, “tolong”, atau “terima kasih”. Kita seakan hidup di dunia yang mengucap maaf adalah kalah dan yang mengucap tolong adalah lemah.   Pada momen lain, jika sempat memperhatikan, betapa semangatnya anak-anak ini saat menceritakan pengalaman seru mereka menjelajah sawah yang menghiasi kampung halaman mereka. Pada kisah lain, mereka berbagi betapa asyiknya berangkat sekolah bersama sahabat-sahabat terdekat tiap pagi. Saat itu juga sebenarnya kita diingatkan terus dan terus bersyukur. Tuntutan studi atau pekerjaan sepertinya bisa menggiring pola pikir kita, bahwa bersyukur hanya bisa dilakukan saat berhasil meraih nilai ujian sempurna atau saat hari gaji turun. Padahal dari hal sesederhana melihat mentari pagi masih diterbitkan bagi kita, atau memandang wajah kita di cermin pun pantas disyukuri. Semua hal bisa disyukuri. Bahagia itu sederhana bila kita mampu bersyukur.   Kontributor: Efrem Mas Aletadeo Satya Pramuda – Volunteer Realino SPM

Pelayanan Masyarakat

Sumunar ing Jiwa kang Samar*

Refleksi Tumpu | SMA Kolese de Britto dan Realino SPM Barang siapa menanam akan menuai. Sama halnya dengan dunia masa depan yang merupakan hasil jerih payah masa sebelumnya. Setiap tindakan yang dilakukan akan memberikan efek pada lingkungan sekitar maupun efek bagi masa depan. Kami percaya bahwa Tuhan menghendaki kami turut berperan dalam memberi efek dan daya ubah bagi lingkungan sekitar. Salah satunya adalah keterlibatan kami dalam organisasi pemimpin pengabdi bernama Tumpu. Tumpu bermakna sebagai tempat berpijak atau fondasi yang berfungsi sebagai tumpuan benda agar stabil atau aman. Tumpu mengajak para volunteer,salah satunya beberapa siswa SMA Kolese de Britto, untuk berani terjun langsung dalam kegiatan pelayanan kepada sesama, yaitu mengajar anak-anak yang tidak pernah bersekolah. Salah satu kegiatan tersebut berlokasi di Bong Suwung, sebuah sanggar yang dikelola Seksi Pengabdian Masyarakat (SPM) Realino dan terletak di sebelah barat Stasiun Kereta Api Tugu, Yogyakarta. Ngrembug Kami bergabung dengan Tumpu sebagai volunteer. Kami akui, ketika masuk dan berjumpa dengan Tumpu, kami cukup kebingungan menentukan aksi yang akan dilakukan. Pada awal kegiatan ini dilaksanakan, sebenarnya kesungguhan dan kemauan melayani secara murni belum timbul dalam diri kami, terutama karena kegiatan ini hanyalah semata tugas dari mata pelajaran Pendidikan Nilai. Beruntunglah, kebingungan ini tidak bertahan lama karena selang beberapa hari, anggota Tumpu berkumpul dan mengadakan pertemuan secara daring membahas segala hal yang akan dikerjakan. Setelah pertemuan itu, semuanya menjadi lebih jelas. Para siswa SMA Kolese de Britto dibagi menjadi dua tim. Ketika saatnya berdiskusi, kebingungan muncul kembali. Materi apa yang akan disampaikan? Lantas muncul banyak pertanyaan lainnya. “Siapa koordinatornya?” “Ini kita ngajar anak-anaknya di mana?” “Ngajarnya entar pake materi apa? Kita yang buat?” “Eh tim kita bagian apa sih?” Seraya mendiskusikan bahan pengajaran, muncul berbagai perasaan bingung, cemas, hingga khawatir. Mengapa hal ini muncul? Karena inilah pengalaman pertama kami untuk mengajar. Kami lebih terbiasa dengan peran siswa dibandingkan dengan peran sebagai guru. Kebingungan ini akhirnya membawa kami pada keputusan untuk melakukan peninjauan dahulu ke calon tempat kegiatan. Secercah Ketersentuhan Perjalanan menuju sanggar Bong Suwung bisa dikatakan merupakan pengalaman yang unik bagi kami. Ini adalah kali pertama kami pergi ke sebuah area permukiman yang berada di bantaran rel kereta dan yang biasanya hanya dilihat melalui TV. Ketika sampai di sanggar, kami melihat-lihat keadaan sekitar. Sanggar tersebut berada di pinggir rel kereta tetapi tentu tidak terlalu dekat. Ruangannya cukup nyaman dengan dominasi warna coklat dan diisi dengan perabotan-perabotan lainnya. Suara kereta yang sangat keras dan berisik seringkali mengejutkan kami karena jarak yang cukup dekat dengan jalur mereka dan mereka sering muncul dengan tiba-tiba. Dalam kesempatan ini, tak sengaja, kami malah bertemu dengan salah satu dari anak-anak sanggar ketika hendak melangkah pergi dari sana. Awalnya kami mengira bahwa dia akan mengabaikan kami namun ternyata sebaliknya. Dia justru begitu antusias dan bertanya kepada salah satu dari kami, “Mas, ini mau mulai? Kok masnya pada balik?” Dari nada bicaranya, terlihat bahwa anak itu bersemangat untuk belajar namun sayangnya saat itu kami hanya melakukan peninjauan tempat saja. Sesi Pengajaran Hari pengajaran pun datang. Selama dua minggu berturut-turut, kami mempersiapkan materi yang akan diajarkan pada anak-anak. Kami juga harus pergi ke sana-sini untuk menyiapkan bahan dan materi pendukung. Ternyata cukup melelahkan dan membuat pusing terutama karena harus menghitung dana dan membuat berbagai laporan pertanggungjawaban. Ternyata tantangan belum usai. Ada kendala di luar dugaan kami. Kami tidak bisa menggunakan mesin lem tembak di sana karena keterbatasan daya listrik. Kejadian tersebut sungguh membingungkan dan membuat seluruh anggota tim kecewa dan kalut. Materi yang sudah dipersiapkan hampir saja gagal karena bahan utamanya tidak bisa digunakan. Situasi ini diperkeruh dengan suara anak-anak yang ribut. Namun kendala ini bukanlah halangan tetapi justru menjadi tantangan bagi kami. Kami berusaha mengatasinya dengan membeli lem di warung terdekat. Hal ini cukup berhasil dalam mengatasi masalah sehingga materi dapat berjalan meskipun terjadi penundaan begitu lama. Dari sesi pertama, banyak sekali emosi dan perasaan yang didapatkan, sekalipun didominasi oleh rasa kecewa.Kecewa karena materi yang dipersiapkan gagal dan kecewa karena semuanya tidak berjalan mulus. Namun dari sini kami belajar bahwa rencana yang sudah dipersiapkan dengan matang pun memiliki potensi gagal. Meski demikian, pertemuan pertama sudah mengajari kami cara berkomunikasi dengan anak-anak, memahami perilaku mereka yang enerjik, dan lainnya. Ada satu hal yang cukup menampar kami, yaitu kebahagiaan mereka. Di balik kondisi dan situasi yang dialami, mereka selalu bisa tersenyum dan tertawa. Cukup heran rasanya. Pada pertemuan kedua, kami menyiapkan materi mosaic origami. Dalam kesempatan ini, kami berusaha untuk mempersiapkan materi dengan lebih baik. Secara khusus, kami berusaha untuk terus berkomunikasi dengan pihak volunteer lainnya agar tidak ada salah komunikasi lagi. Anak-anak antusias untuk mencoba materi kedua yakni mosaic origami. Antusiasme mereka menjadi angin segar bagi kami. Seolah-olah semua kerja keras yang dilakukan terbayar lunas oleh senyuman dan antusiasme anak-anak di sanggar. Kami senang karena bisa bahagia bersama kebahagiaan mereka. Sejenak Merefleksikan Terkadang kami terlalu fokus dengan tujuan sampai melupakan proses yang seharusnya dirasakan. Dalam pengajaran ini, terdapat banyak emosi, baik antusiasme, kebahagiaan, kebingungan, maupun kelucuan. Kami pada awalnya masih belum bisa memahami mereka. Namun, perlahan-lahan kami belajar untuk memahami dan membuat senyum terus bertahan di muka dan hati mereka. Dari pengalaman-pengalaman ini, kami juga belajar banyak hal baru: Bagaimana menghadapi anak-anak, berkomunikasi dengan mereka, memahami mereka, merasakan dan menanggapi emosi yang mereka tunjukkan. Hal ini menjadi pengalaman yang begitu bermakna bagi kami. Meskipun kami kebingungan pada permulaan, tetapi perlahan-perlahan kepuasan, rasa bahagia, dan keberhasilan bisa kami dapatkan. Segala perasaan seperti capek, bingung, pusing, lelah, ketidakberdayaan, kecewa dan lainnya, terbayar sudah dengan kebahagiaan. Kami menyadari bahwa kehidupan yang harus mereka alami begitu keras, bahkan mungkin lebih sulit dari hidup yang kami miliki. Mungkin masa depan mereka lebih samar dibandingkan masa depan kami. Namun, dengan sarana Tumpu, kami mencoba untuk belajar bersyukur serta menyumbangkan diri kami lewat berbagi ilmu dengan harapan dapat menjadi secercah terang di tengah jiwa yang samar. Kami bersyukur atas dinamika ini. Kami bersyukur boleh berupaya menjadi wujud terang kasih Allah bagi sesama. Sama seperti lilin yang harus terbakar untuk menjadi terang bagi yang lain, kami pun bersyukur karena bisa belajar berkorban entah waktu, tenaga, pikiran, maupun perasaan. Lilin itu adalah kami, yang

Feature

Perjumpaan yang Mengubah

Kisah kasih ini bermula dari berbagai pergumulan hidup yang saya alami, hingga pertemuan saya dengan Pater Pieter, S.J. yang memperkenalkan saya pada komunitas Realino SPM. Di sinilah akhirnya saya menemukan makna diri dan hidup di dalamnya. Singkatnya, Realino SPM menjadi tempat perjumpaan saya dengan Tuhan yang menolong saya lewat mereka yang terkasih — Anak-anak Bongsuwung dan Jombor. Perjalanan dimulai dengan kegiatan pendampingan yang saya lakukan di Jombor dan Bongsuwung setiap hari Kamis dan Sabtu. Di sana saya berkenalan dengan anak-anak dengan keunikan dan keaktivannya masing-masing. Anak-anak yang beraneka ragam umur, tingkah laku, hingga latar belakangnya. Kegiatan pendampingan yang kami lakukan adalah membuat prakarya dan belajar Bahasa Inggris. Selain itu, kami juga mengajarkan hal-hal yang membentuk kepribadian baik bagi mereka, contohnya sopan santun. Kami juga memberikan motivasi bagi mereka dan mengarahkan mereka jika mereka melakukan hal-hal yang kurang berkenan. Dalam prosesnya, banyak suka-duka yang menjadi bumbu dalam perjalanan ini. Terkadang, ada anak yang kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan, berkelahi dengan temannya, malas mengerjakan tugasnya, dan lain sebagainya. Di samping itu, saya menghargai dan salut dengan perjuangan mereka untuk hadir dan belajar bersama kami. Saya dan rekan-rekan volunteer memahami bahwa semua yang dilakukan anak-anak merupakan bentuk keunikan yang mereka miliki. Komunitas Realino serta anak-anak dampingan menjadi babak baru dan warna baru dalam perjalanan hidup saya. Di komunitas ini, hal yang saya syukuri adalah saya dapat bertemu dengan orang-orang seperti Pater Pieter, S.J. dan mbak Luci, rekan-rekan volunteer, serta anak-anak dampingan. Mereka semua adalah orang-orang hebat yang mau membuka diri dan memberikan diri mereka untuk saling bekerja sama dan menjadi teman perjalanan bersama. Dalam perjalanannya, saya menemukan bahwa anak-anak bukan hanya menjadi tempat kami menyalurkan pengalaman tetapi menjadi tempat kami memperoleh pengalaman. Kami dan anak-anak belajar untuk saling berbagi, saling memahami, dan saling mengembangkan. Saya juga belajar menjadi pribadi yang lebih sabar dan mau memahami kondisi orang lain. Berjalan bersama anak-anak Jombor dan Bongsuwung bukanlah hal yang mudah. Namun, perlahan saya mulai dengan memahami apa, mengapa, dan bagaimana mereka terlihat berbeda. Dari situlah saya dapat memaknai bahwa segala sesuatu yang telah berjalan, merupakan suatu keterlibatan yang didasari oleh “semangat kasih” yang mendalam. Dari dasar yang saya temukan, saya pun menyadari bahwa setiap pribadi memiliki martabat yang luhur” terlepas dari latar belakang yang mereka miliki. Pada akhirnya, cinta dan kasih itu tumbuh dalam bentuk “teman perjalanan.” Teruntuk anak-anak Jombor dan Bongsuwung, terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupku dan kami semua. Terima kasih telah menjadi ungkapan hidup dari kebaikan hati Tuhan. Warna yang kalian pancarkan dan senyuman yang kalian tebarkan menjadi semangat langkahku melanjutkan hidup dan memaknai proses kehidupan ini dengan lebih baik. Semoga kedepannya, kalian semua dapat tumbuh menjadi pribadi yang berhasil dan tidak pernah melupakan kami dalam perjalanan hidup kalian. Teruntuk rekan-rekan volunteer, Pater Pieter, S.J. dan mBak Luci, terima kasih untuk segala penerimaan, nasihat, bimbingan, dan kebersamaan di hari-hari kemarin. Semoga apa yang kalian tabur menjadi kebaikan yang kalian tuai di kemudian hari. Semoga ke depan, kalian semua dapat terus bertumbuh menjadi ungkapan hidup dari kebaikan hati Tuhan. Kontributor: Anny Angelina S – Volunteer Realino SPM