Pater Bayu Risanto dan Kerasulan Ilmiah Jesuit Awal tahun 2026 ini, media sosial ramai dengan berita mengenai Pater Bayu Risanto, seorang imam Jesuit asal Indonesia yang namanya diabadikan menjadi nama asteroid. Warganet merayakan pencapaian ini dan komentar yang beragam pun muncul. Banyak orang Katolik yang merasa bangga, bukan hanya karena ada pemuka agamanya yang berprestasi di bidang sains, tetapi juga karena merasa bahwa agama Katolik itu sendiri adalah agama yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan tidak mempertentangkannya dengan iman. Namun, ada juga yang bertanya kok seorang imam bisa jadi ilmuwan ya? Perutusannya apa? Atas dua poin terakhir itu, iman dan sains serta perutusan, saya akan membahas sedikit dari perspektif sejarah ilmu pengetahuan dan bagaimana Gereja Katolik—terutama para Jesuit—terlibat di dalamnya. Society of Jesus, atau Serikat Jesus, adalah sebuah ordo yang sejak awal memang didirikan untuk excel in all things, mungkin singkatnya bisa dibilang begitu. Ignatius Loyola, yang mendirikan ordo ini pada tahun 1540, memiliki visi bahwa para pengikutnya akan menjadi less monastic dan bahwa they will set no limits on the place or circumstances of their ministries, so long as these are ordered to the greater glory of God (O’Malley 2013, 147). Ignasius sangat konsisten dalam idenya dan ini nampak dari tulisannya, misalnya dalam Constitutions (dicetak pada 1558) dan Spiritual Exercises (1548), semua mengandung pesan bahwa para Jesuit harus mampu finding God in all things, atau menemukan Tuhan dalam segala. Bagi para lulusan sekolah Jesuit seperti saya, jargon-jargon ini sangat akrab di telinga. Kata-kata itu sudah menjadi bagian dari identitas anak Kolese sebagai didikan para Jesuit. Menariknya, dalam dunia history of science, Jesuit sendiri sudah menjadi semacam tradisi dalam produksi pengetahuan, atau bahkan semacam genre. Ia sudah tidak lagi dianggap sebagai ordo religius saja. Tidak jarang, misalnya, dalam diskusi terlontar “that’s very Jesuit” atau “that’s Jesuit science.” Sepertinya mustahil untuk membahas sejarah pengetahuan Barat tanpa membahas Jesuit. Di perpustakaan Max Planck Institute for the History of Science sendiri, di mana saya sekarang sedang menempuh studi doktoral, misalnya, dari seluruh judul buku bertema religion and science, mungkin 50% berkaitan dengan ordo ini. Membicarakan mengenai sejarah ilmu astronomi dan kalkulasi di Cina, kita tidak bisa lepas dari Matteo Ricci (1552–1610), seorang Jesuit yang pada abad ke-16 duduk di kalangan terpelajar Dinasti Ming; membahas sejarah museum, pasti tersebutlah nama Athanasius Kircher (1602–1680) dengan Wunderkammer-nya. Walaupun sekarang, tentu saja, we have to see it with a more critical lens. The Jesuits were everywhere, dan ini juga menyebabkan mereka tidak disukai oleh komunitas sains atau the Republic of Letters. Timbul perasaan di kalangan mereka apa yang sekarang kita kenal dengan mixed feelings, antara kagum tapi juga antipati, cemburu dan benci. Misalnya, pada tahun 1769, Maximilian Hell (1720–1792) — seorang Jesuit pendahulu Bayu Risanto dalam dunia astronomi — yang saat itu adalah direktur Vienna Observatory, dianggap tidak mumpuni dalam melaporkan perlintasan Venus karena ia tidak segera menerbitkan karya ilmiah mengenai kejadian tersebut. Lawan-lawannya menuduhnya tidak kompeten dan hanya mau mencontoh karya lain yang akan terbit lebih dulu (Feingold 2003, 2). Namun tetap saja, selama 200 tahun sejak dibentuk, murid Ignatius tetap berkarya, menerbitkan lebih dari 5.000 judul karya tulis touching on every branch of sciences, mulai dari bidang astronomi, filosofi, matematika, hingga ilmu yang sekarang kita sebut sebagai cultural anthropology. Semua ini terjadi karena Ignatius menginginkan murid dan pengikutnya untuk be out there in the world. Para penasihatnya kemudian menyarankan bahwa untuk memahami apa yang menjadi aspirasi dan kebutuhan orang banyak dan Serikat (the society and the Society), mereka harus fokus pada dua hal: yang pertama adalah pendidikan dan yang kedua adalah overseas mission. Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa mau bagaimanapun juga, tujuan akhirnya adalah confession-building alias membuat orang mengimani Katolik. Apalagi ketika itu sedang ramai counter-reformation juga. Ini yang disebut oleh Steven J. Harris sebagai an up-scale strategy of proselytizing, yang artinya mengkatolikkan orang dengan cara yang berkelas. Harris menulis dalam Confession-building, Long-distance Networks, and the Organization of Jesuit Science (1996) analisisnya mengenai bagaimana Jesuit menggunakan sains untuk mendukung misi religius mereka. Pembahasan di bawah ini sebagian besar diambil dari tulisan tersebut. Kembali lagi pada dua fokus itu, pendidikan dan overseas mission. Dua hal ini sangat berkaitan dan mewujud dalam apa yang disebut long-distance networks (konsep yang ditawarkan oleh social scientists Bruno Latour dan John Law) yang pada akhirnya menjadi kunci keberhasilan Jesuit. Pertama, fokus pada pendidikan ini menciptakan apa yang disebut sebagai learned ministries, yang mungkin terjemahannya adalah kerasulan/perutusan berorientasi ilmiah. Learned ministries ini punya tiga target pasar utama: studiosi, virtuosi, dan cognoscenti. Studiosi adalah orang-orang muda baik awam maupun rohaniwan yang masuk sekolah yang didirikan Jesuit (termasuk seminari dan universitas). Virtuosi adalah para patron dari kalangan bangsawan yang suka mengoleksi benda-benda antik dan langka serta punya rasa penasaran terhadap ilmu baru, dan cognoscenti adalah sebuah istilah untuk kalangan terpelajar, golongan Republic of Letters itu tadi, para penulis dan pembaca yang memiliki keahlian dan ilmu tertentu. Mungkin kalau sekarang disebut kalangan akademik. Jesuit melihat mereka ini sebagai klien, dan Jesuit juga punya publikasi yang ditujukan untuk masing-masing dari kelompok itu. Pengikut Ignatius paham betul bahwa virtuosi dan cognoscenti ini haus akan pengetahuan baru and the Jesuits provide just that. Ignasius menyebutnya sebagai curiosity that is not evil dan bahwa pengikutnya harus berupaya bagaimana caranya memperkuat persahabatan antara Jesuit dengan orang-orang yang dianggap sebagai persons of great quality. Oleh karena itu, para misionaris yang ditempatkan di India dan Amerika Selatan, misalnya, diminta untuk mengirimkan segala macam informasi mulai dari catatan perjalanan, reportase mengenai kondisi alam, budaya, dan juga mengenai fenomena lain yang mereka temukan. Dalam suratnya kepada Gaspar Berze, Superior Jesuit di Goa, 24 Februari 1554, Ignatius menulis, …They want to know, for instance, how long the days of summer and of winter are; when summer begins; whether the shadows move towards the left or towards the right. Finally, if there are things that may seem extraordinary, let them be noted, for instance, details about animals and plants that are either not known at all, or not of such a