Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan

Memeluk Hening, Merajut Persaudaraan

Examen Conscientiae Menjelang Prapaskah 2026 Masa Prapaskah sering kali dipandang sebagai perjalanan personal antara manusia dengan Penciptanya. Namun, dalam terang Surat Gembala 2026, kita diingatkan bahwa pertobatan sejati tidak berhenti pada kesalehan diri sendiri. Prapaskah adalah undangan untuk meruntuhkan tembok ego demi membangun jembatan persaudaraan. Di SMP Kanisius Kalasan, Yogyakarta, persiapan ini dimulai dari tempat yang paling sunyi dalam pengolahan batin atau Examen Conscientiae.   SMP Kanisius Kalasan telah membangun ritme spiritual yang konsisten. Setiap Senin hingga Rabu, suasana kelas berubah menjadi hening menjelang akhir pembelajaran untuk refleksi secara mandiri. Hal ini menuntut kesadaran pribadi untuk sesaat meninggalkan riuhnya proses pembelajaran. Didampingi guru yang mengajar di jam terakhir, para murid diajak menoleh sejenak ke belakang, melihat jejak Tuhan dalam tawa, kesulitan, bahkan rasa bosan selama belajar. Namun, ritme ini mencapai puncaknya di akhir pekan.   Setiap hari Kamis, para murid melangkah bersama menuju Gereja. Di sana mereka mempraktikkan Examen yang dipandu oleh Bapak/Ibu guru secara bergantian. Keheningan komunal di Gereja ini menciptakan ikatan persaudaraan yang unik. Para murid belajar bahwa meski Harapan utama dari pembiasaan ini adalah agar murid semakin mampu mendengarkan suara Tuhan yang menuntun pada penguasaan diri yang baik. Mengapa penguasaan diri itu penting dalam konteks persaudaraan? Karena tanpa penguasaan diri, kebersamaan akan mudah retak oleh ego.       Seorang murid yang mampu mengolah batinnya akan lebih bijak dalam bertutur kata, lebih sabar dalam perbedaan, dan lebih rendah hati untuk meminta maaf. Inilah wujud nyata dari tagline “Karakter Hebat, Prestasi Dapat.” Karakter hebat bukan hanya soal integritas pribadi, tetapi juga soal kemampuan untuk hidup rukun dan berkolaborasi. Prestasi yang optimal akan lebih mudah tercapai dalam lingkungan yang penuh dukungan dan persaudaraan yang tulus.   Selaras dengan pesan Surat Gembala 2026 Keuskupan Agung Semarang, kita diajak untuk menjadi saksi-saksi persaudaraan di tengah dunia yang kian terfragmentasi. Melalui rangkaian refleksi ini, para murid dilatih untuk tidak hanya fokus pada “aku,” tetapi beralih menjadi “kita.”   Masa Prapaskah 2026 menjadi momentum untuk mengubah hasil refleksi dan renungan pagi menjadi aksi nyata. Jika dalam pengolahan batin seorang murid menyadari ia telah melukai hati temannya, maka Prapaskah adalah waktu untuk rekonsiliasi. Talenta yang ditemukan melalui keheningan batin akan menjadi berkat bagi persaudaraan di lingkungan sekolah dan masyarakat.   Melalui pembiasaan Examen Conscientiae dan renungan pagi, SMP Kanisius Kalasan sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka secara spiritual dan sosial. Karakter hebat yang kita impikan adalah karakter yang mampu merangkul sesama sebagai saudara.   Mari memasuki Prapaskah 2026 dengan tekad baru bahwa setiap doa dan hening yang kita lakukan akan berbuah pada kasih yang nyata. Karena pada akhirnya, prestasi tertinggi seorang manusia adalah saat ia mampu menjadi berkat bagi sesamanya.       Kontributor: Heffi Widyaningrum, S.Pd.Si – Guru SMP Kanisius Kalasan

Karya Pendidikan

Kisah Menyatu, Berkah Menghampiri

Imlek 2577 di Kanisius Pati Hembusan angin pagi membawa aroma kue keranjang dan jeruk mandarin, berpadu dengan tawa riang anak-anak yang memenuhi halaman SMP Kanisius Pati, Jawa Tengah. Jumat, 13 Februari 2026 lalu, keluarga besar Kanisius Pati merayakan Tahun Baru Imlek 2577—Tahun Kuda Api—dalam suasana hangat, semarak, dan penuh makna.   Perayaan ini menyatukan siswa-siswi dari KB-TK Kanisius Pati, SD Kanisius Pati, SMP Kanisius Juwana, SMP Kanisius Kudus, serta SMA Kanisius Yos Soedarso Pati. Dengan mengusung tema “Kisah Menyatu, Berkah Menghampiri”, acara ini bukan sekadar pesta budaya, melainkan perjumpaan lintas usia dan tradisi yang memperkuat nilai-nilai pendidikan Ignasian: magis, cura personalis, dan men for others.   Hadir pula perwakilan utusan Plt. Bupati Pati dan Kodim Pati membuka kegiatan dengan pesan tentang toleransi dan persatuan. Sch. Viktor Daki, S.J., serta Pak Petrus Marjono selaku perwakilan Yayasan Kanisius Cabang Semarang turut memberikan sambutan yang meneguhkan semangat kebersamaan di tengah keberagaman budaya Indonesia.     Pawai Harmoni: Merah, Emas, dan Gamelan Jawa Tepat pukul 08.00 WIB, suara genderang dan sorak semangat menandai dimulainya pawai pembuka. Gelombang warna merah dan emas mengalir indah di sepanjang barisan. Spanduk bertuliskan “Gong Xi Fa Cai” dan tema perayaan dibawa dengan bangga oleh perwakilan siswa SMA Kanisius Yos Soedarso Pati.   Anak-anak KB-TK, didampingi kakak-kakak siswa/i SMA yang penuh perhatian, tampil menggemaskan dalam balutan kostum bernuansa Imlek. Marching band dari SMP Kanisius Juwana tampil energik dengan irama dinamis, disusul barisan siswa SD dan SMP yang melangkah percaya diri. Pawai ditutup dengan alunan gamelan dari SMP Kanisius Pati, sentuhan khas budaya Jawa yang menyatu harmonis dengan nuansa Tionghoa.   Perpaduan lentera merah dan suara gong menciptakan perpaduan budaya yang memikat. Simbol-simbol Imlek—warna merah sebagai lambang keberuntungan dan api sebagai energi pembaruan—berpadu dengan filosofi harmoni dalam tradisi Jawa. Rute pawai mengitari Jalan P. Sudirman, Jalan Kamandowo, Jalan K.H. Wachid Hasyim, hingga Jalan Dr. Sutomo sebelum kembali ke kompleks sekolah. Di akhir perjalanan, para siswa menerima angpao simbolis berisi pesan motivasi untuk giat belajar di Tahun Cerdas.   Seperti ungkapan salah satu peserta, “Pawai ini seperti perjalanan bersama, di mana kami belajar menghargai perbedaan dan menemukan kegembiraan dalam setiap langkah.”     Harmoni Musik dan Barongsai yang Menggetarkan Kemegahan berlanjut saat marching band SMP Kanisius Juwana mengambil alih panggung. Dengan seragam biru yang mencolok dan formasi rapi, mereka membawakan medley lagu Imlek seperti “Gong Xi Gong Xi” dalam aransemen modern. Dentuman drum mengingatkan pada petasan tradisional yang melambangkan pengusiran energi negatif dan penyambutan keberuntungan baru.   Suasana semakin memuncak ketika barongsai dari SMP Kanisius Kudus tampil memukau. Gerakan akrobatik yang lincah, iringan genderang yang menggelegar, serta interaksi hangat dengan anak-anak kecil menciptakan atmosfer penuh kegembiraan. Tradisi pembagian angpao kepada barongsai pun menjadi momen yang dinanti—simbol rasa syukur dan harapan baik di tahun yang baru.   Penampilan band dari berbagai unit sekolah, mulai dari SD-SMA Kanisius, turut menambah warna. Lagu-lagu yang dibawakan menghadirkan harmoni yang menyatukan hati, memperlihatkan bahwa seni adalah bahasa universal yang melampaui sekat budaya.   Fashion Show Cici-Koko: Tradisi Bertemu Kreativitas Puncak acara hadir dalam fashion show cici-koko yang memikat perhatian. Para perwakilan siswa berjalan percaya diri di atas karpet merah, mengenakan busana tradisional Tionghoa yang dipadukan dengan sentuhan batik Nusantara.   Anak-anak KB-TK tampil ceria dalam kostum mini merah-emas yang melambangkan kelimpahan dan kebahagiaan. Siswa/i SD tampil anggun dengan aksesori bak putri kerajaan. Remaja SMP menghadirkan desain dinamis penuh energi, sementara siswa/i SMA menampilkan sentuhan elegan dengan syal sutra dan detail modern yang berkelas.   Sorot mata guru, orang tua, dan tamu undangan tak lepas dari panggung. Di sekitar panggung, bazar makanan dan kerajinan tangan siswa menambah semarak. Aroma kue keranjang yang lengket—simbol rezeki yang “melekat”—bercampur dengan semangat kewirausahaan dan kreativitas anak-anak.   Fashion show ini menjadi jendela pembelajaran budaya yang menyenangkan. Para pelajar tidak hanya mengenakan busana tradisi, tetapi juga memahami makna dan sejarah di baliknya.     Menemukan Tuhan dalam Kebudayaan Menjelang siang, acara ditutup dengan doa bersama yang mengingatkan seluruh peserta untuk finding God in all things—menemukan Tuhan dalam segala hal, termasuk dalam keberagaman budaya. Perayaan ini menjadi ruang refleksi bahwa perbedaan bukanlah jarak, melainkan warna yang memperindah kehidupan bersama.   Simbolisme Imlek tentang kebersamaan, harapan, dan rasa syukur selaras dengan semangat pendidikan Kanisius: membentuk pribadi yang cerdas secara intelektual sekaligus matang secara spiritual.   Perayaan Imlek 2577 ini berakhir dengan sukses. Namun, lebih dari itu, perayaan kebudayaan ini meninggalkan jejak hangat di hati setiap peserta, seperti benang emas yang mempererat keluarga besar Kanisius. Dalam kebersamaan yang tulus, kisah pun menyatu dan berkah benar-benar menghampiri.     Kontributor: Arianti Novitasari – Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia

Formasi Iman

Belajar Imamat di Pedalaman

Immersion Para Frater Skolastik Kolese Santo Ignatius (KOLSANI) Pada 3-31 Januari 2026, kami, tiga teologan tingkat 1 Kolsani (SS. Alfred, Kefas, dan Septian K.) menjalani program Immersion di Paroki Santa Maria – Botong, Kalimantan Barat dan Paroki Santo Yohanes Pemandi – Waghete, Papua Tengah. Program Immersion Kolsani adalah bagian dari program formasi yang baru untuk mendukung pemantapan pilihan hidup imamat Jesuit bagi para frater di Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta, salah satu rumah formasi bagi para calon imam Serikat Jesus sebelum mereka menerima tahbisan kelak. Seperti namanya (immersion = mencelupkan), tujuan utama dari program ini adalah agar para frater dapat masuk dan mengalami langsung kehidupan imam Jesuit yang khas secara lebih mendalam di tempat mereka berkarya, terutama dalam konteks pelayanan pastoral paroki di luar Jawa.   Pada umumnya, bulan Imamat (Arrupe Month) menjadi kegiatan rutin di bulan Januari bagi para frater teologan tahun pertama di Kolsani. Akan tetapi, tahun ini bulan Imamat akan ditunda hingga tahun depan, sehingga kami mendapat kesempatan untuk menjalani immersion terlebih dahulu sebelum tahun depan menjalani bulan Imamat. Penundaan itu kiranya membuat pengalaman ini menjadi lebih menarik karena sebelum belajar tentang kekhasan imamat Jesuit secara teoretis, kami justru mendapat kesempatan untuk mengalaminya secara langsung di tempat immersion kami masing-masing.     Tantangan dan warna pengalaman yang berbeda menyambut kami di tempat immersion masing-masing. Di Paroki Botong, saya dan Sch. Alfred merasakan perjalanan ke stasi sebagai salah satu tantangan terbesar. Jarak dari paroki yang berada di Desa Kualan Hulu ke stasi yang berada di Desa Kualan Tengah memang tidak sangat jauh untuk ukuran pada umumnya. Namun, medan yang sebagian besar berupa jalan tanah yang berlumpur dan tidak rata menjadikan perjalanan yang normalnya ditempuh selama satu jam pada praktiknya kami tempuh dalam durasi dua hingga tiga kali lebih lama. Kami bahkan pernah menghabiskan waktu hampir enam jam hanya untuk pulang dari stasi karena kondisi jalan yang semakin licin akibat diguyur hujan semalaman. Kami merasa tenaga imam atau pelayan pastoral di sana sebagian besar habis di jalan karena kondisi medan yang demikian. Tentunya, anggaran perbaikan kendaraan juga menguras keuangan cukup banyak.       Berbeda dengan tantangan di Kalimantan, Sch. Septian di Paroki Waghete menemukan variasi tantangan, salah satunya adalah pendidikan formal yang tidak berjalan dengan baik. Guru yang mengajar di sekolah negeri maupun swasta sering tidak hadir sehingga mengakibatkan anak-anak tidak mendapat akses pendidikan dengan semestinya. Anak-anak juga tidak mengenal cara untuk merawat diri. Untuk itu, Paroki Waghete mendatangkan guru sukarelawan untuk membantu mengajar membaca, menulis, dan berhitung serta menyediakan makanan bergizi seperti telur rebus maupun susu di sekolah yang berada di keempat stasi, yakni Yaba, Kigo, Yagu, dan Meyepa. Paroki juga menyediakan asrama bagi anak-anak SMP yang berasal dari pedalaman. Selain itu, faktor keamanan juga menjadi tantangan bagi para guru sukarelawan ketika hendak mengajar di stasi-stasi.     Di tengah berbagai tantangan yang ada, kami di Botong ataupun Waghete juga menjumpai semangat para pastor paroki yang terus berusaha mencari cara untuk melayani umatnya dengan maksimal. Di Botong, kami berjumpa dengan pastor paroki yang terus berusaha melampaui batas-batas fisiknya untuk bisa berkeliling dan mengunjungi umat di stasi-stasi setiap bulan. Di Waghete, kami berjumpa dengan pastor paroki yang juga memperjuangkan pendidikan umatnya selain juga menjalankan tugas pelayanan sakramental di stasi-stasi.   Pada akhirnya, kami kembali ke komunitas kami di Kolsani, Yogyakarta, dengan konsolasi. Immersion di tempat-tempat pedalaman ini mengajak kami untuk berefleksi tentang kekhasan imamat Jesuit melalui pengalaman hidup bersama para imam dengan segala perjuangan mereka di tempat-tempat sulit.     Dari satu bulan hidup bersama mereka, kami belajar bahwa setidaknya dari pengalaman terbatas ini, kekhasan imamat Jesuit tetap berakar pada semangat Latihan Rohani. Kami berjumpa dengan para imam yang mendengar dan sedang menjawab panggilan Raja abadi untuk bersusah payah bersama-Nya dalam konteks yang berbeda di dua tempat yang berbeda pula. Bagi kami, pengalaman ini juga menjadi undangan untuk terus berusaha mendengarkan panggilan Raja Abadi itu dan terus berjuang untuk menjawab panggilan-Nya.     Kontributor: Sch. Daud Kefas Raditya, S.J.

Jesuit Global

Bersatu dalam Roh, Memimpin Penuh Tekad

Kongres WUJA XI di Yogyakarta Pendahuluan Kongres ke-11 Asosiasi Alumni Sekolah Jesuit Sedunia (WUJA) akan diselenggarakan dari Rabu, 29 Juli hingga Minggu, 2 Agustus 2026, di Yogyakarta, pusat budaya dan pendidikan, tepatnya di Universitas Sanata Dharma.   Mengumpulkan para pemimpin organisasi alumni Jesuit, para penanggung jawab lembaga pendidikan Jesuit, pemimpin Jesuit utama di bidang pendidikan, alumni Jesuit, jaringan, dan para sahabat dalam acara transformatif ini akan memperkuat koneksi dan membentuk komunitas yang bermakna.   Makna di Balik Tempat Kongres: Mengapa Yogyakarta? Menyelenggarakan Kongres WUJA di Indonesia menjadi pilihan penuh makna simbolis. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi laboratorium yang dinamis dan kompleks bagi harmoni antaragama dan demokrasi. Yogyakarta yang dikenal sebagai “kota pelajar” dan tempat kelahiran peradaban Jawa Ini juga menjadi rumah institusi Jesuit terkemuka seperti Universitas Sanata Dharma dan SMA Kolese de Britto.   Dengan berkumpul di Yogyakarta, jaringan alumni global memasuki konteks dialog yang faktual dan menjadi kebutuhan sehari-hari. Kongres ini memberikan kesempatan unik bagi alumni negara Barat untuk belajar dari perspektif Timur tentang pembentukan komunitas, toleransi, dan menavigasi iman dalam masyarakat yang beragam. Hal ini menyoroti komitmen Jesuit terhadap “inkulturasi” – menyesuaikan iman kepercayaan dengan budaya setempat sambil tetap menghormati tradisi uniknya.   Dari Kontemplasi Menuju Aksi Tema utama Kongres nampaknya akan berpusat pada penerapan nilai-nilai pedagogi Ignatian ke dalam tindakan global yang konkret. Misi Jesuit modern, yang sangat dipengaruhi oleh Kongregasi Jenderal terbaru dan kepemimpinan Paus Fransiskus (seorang Jesuit), menekankan rekonsiliasi dengan Pencipta dan semua ciptaan.   Peserta akan mengikuti workshop intensif dan sesi pleno yang membahas isu-isu global yang mendesak. Topik utama pastinya mencakup krisis iklim, terinspirasi dari ensiklik Paus Fransiskus Laudato si’, dan mengeksplorasi bagaimana alumni di bidang bisnis dan kebijakan dapat mendorong praktik berkelanjutan.   Secara krusial, Kongres ini akan menanggapi seruan Pater Jenderal Arturo Sosa yang menekankan “Rekan dalam Perutusan.” Konsep ini menyoroti bagaimana rekan berkarya awam, universitas, dan komunitas yang beragam bekerja bersama Jesuit untuk mewujudkan perutusan Gereja. Mengingat lokasinya, pembahasan tentang dialog antaragama sebagai cara untuk pembangunan perdamaian juga akan menjadi topik yang penting.   Kongres ini berfungsi sebagai platform bagi alumni yang banyak di antaranya adalah pemimpin organisasi alumni Jesuit, eksekutif lembaga pendidikan Jesuit, pemimpin utama Jesuit di bidang pendidikan, serta alumni Jesuit, jaringan, dan para sahabat.     Berjejaring demi Tujuan yang Lebih Besar Aspek krusial Kongres WUJA adalah memperkuat jaringan itu sendiri. “Keterhubungan Jesuit” – istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan koneksi internasional yang kuat di kalangan alumni – kini dihadapkan pada tantangan untuk mereorganisasi dirinya sebagai kekuatan demi mewujudkan kebaikan sosial. Kongres ini akan fokus pada menemukan cara terbaik untuk menghubungkan profesional yang sudah mapan dengan alumni muda yang baru memasuki dunia kerja serta memupuk formasi yang didasarkan pada nilai-nilai bersama.   Ada kebutuhan mendesak untuk memastikan bahwa Magis, bahasa khas Ignatian untuk selalu melakukan lebih baik, untuk berjuang demi tujuan baik yang lebih besar yang tidak pudar bersama generasi lebih tua. Melibatkan alumni muda yang sangat peduli dengan keadilan sosial dan aktivisme digital sangatlah penting untuk menjaga kelangsungan misi Serikat.   Kesimpulan Kongres WUJA di Yogyakarta merupakan bukti nyata warisan abadi St. Ignatius Loyola. Hal ini mengingatkan kita bahwa pendidikan Jesuit bukanlah hak istimewa statis yang tersimpan dalam selembar ijazah, melainkan perutusan dinamis untuk terlibat melawan ketidakadilan di dunia. Saat para alumni ini berkumpul di Yogyakarta di mana mereka menyalakan kembali api kebersamaan lalu berkemas untuk kembali ke negara masing-masing, maka mereka tidak hanya memetik inspirasi melainkan juga dibekali dengan jejaring partnership baru dan kesiapsediaan untuk melayani yang telah disegarkan.   Diterjemahkan oleh Wahyaka (Sekretariat Provindo) dari artikel berjudul The WUJA XI Congress in Yogyakarta: United in Spirit, Leading with Purpose https://www.jesuits.global/2026/02/13/the-wuja-xi-congress-in-yogyakarta-united-in-spirit-leading-with-purpose/    

Jesuit Global

Bagaimana Seorang Superior Mayor Dipilih?

Superior Mayor, mereka yang dipilih untuk memimpin sebagian besar Serikat Jesus – baik itu Provinsi, Regio, maupun Konferensi – merupakan bagian sangat penting dalam gubernasi Serikat. Para Jesuit mengandalkan Superior Mayor dalam mengalokasikan sumber daya, pengutusan, dan membuat keputusan penting tentang karya Serikat dan bagaimana karisma Ignatius diwujudkan melalui hidup mereka. Itulah mengapa pemilihanSuperior Mayor bukanlah tugas yang mudah. ​​Ini merupakan proses deliberasi spiritual yang melibatkan semua anggota Serikat hingga Pater Jenderal di Roma.   Pemilihan Superior Mayor menekankan pada discernment, konsultasi, dan ketaatan pada “cara bertindak” Serikat. Proses ini biasanya dimulai dengan periode konsultasi di antara para Jesuit dalam suatu Provinsi atau Regio yang bersangkutan. Para anggota diminta menimbang-nimbang dalam doa apa yang menjadi kebutuhan komunitas mereka dan mengharapkan kualitas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Konsultasi ini bersifat rahasia dan dirancang untuk mengumpulkan feedback yang jujur ​​dan bijaksana. Ini lebih mencerminkan prinsip Ignasian tentang discernment yang dibimbing oleh Roh Kudus daripada sekadar pertimbangan politik atau preferensi pribadi.   Berdasarkan konsultasi ini, daftar tiga kandidat, atau dikenal sebagai terna, disusun oleh Provincial (atau Superior Regio) dan para konsultor. Terna tersebut mencakup individu-individu yang dianggap matang secara spiritual, mampu memimpin, sangat berkomitmen pada misi Serikat, dan memiliki sifat-sifat yang dapat memenuhi kebutuhan komunitas dalam lingkup Provinsi, Regio, atau Konferensi.     Daftar tiga nama (terna) kemudian dikirim ke Kuria Generalat di Roma, di mana daftar tersebut dikaji oleh Superior Jenderal – saat ini Pater Arturo Sosa – dan para konsultornya. Pater Jenderal dapat memilih nama dari daftar tiga nama tersebut atau bahkan meminta daftar tiga nama baru atau juga memilih nama lain yang tidak ada dalam daftar tiga nama tersebut. Pada akhirnya, setelah pertimbangan dan nasihat dari Asisten Regional, dalam suasana penuh doa, Superior Jenderal secara final menunjuk nama yang akan menjadi Superior Mayor.   Setelah ditunjuk, seorang Superior Mayor biasanya akan menjabat selama enam tahun. Selama periode ini, ia dipercaya untuk mereksa komunitas, melakukan aneka pelayanan, dan mengelola perutusan seluruh anggota di Provinsi atau Regionya. Seluruh proses terna mencerminkan penekanan pada ketaatan, discernment rohani, dan kepemimpinan yang berpusat pada misi yang mengikuti prinsip-prinsip subsidiaritas. Dengan mendasarkan pemilihan pada konsultasi dan doa, Serikat bertujuan untuk memastikan bahwa para pemimpinnya mampu dan selaras dengan kebutuhan spiritual yang mendalam dari mereka yang dilayani.   Diterjemahkan oleh Wahyaka (Sekretariat Provindo) dari artikel berjudul “How Major Superiors Selected?” https://www.jesuits.global/2025/07/18/how-are-major-superiors-selected/

Feature

Menemukan Tuhan dalam Segala

Pater Bayu Risanto dan Kerasulan Ilmiah Jesuit Awal tahun 2026 ini, media sosial ramai dengan berita mengenai Pater Bayu Risanto, seorang imam Jesuit asal Indonesia yang namanya diabadikan menjadi nama asteroid. Warganet merayakan pencapaian ini dan komentar yang beragam pun muncul. Banyak orang Katolik yang merasa bangga, bukan hanya karena ada pemuka agamanya yang berprestasi di bidang sains, tetapi juga karena merasa bahwa agama Katolik itu sendiri adalah agama yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan tidak mempertentangkannya dengan iman. Namun, ada juga yang bertanya kok seorang imam bisa jadi ilmuwan ya? Perutusannya apa?     Atas dua poin terakhir itu, iman dan sains serta perutusan, saya akan membahas sedikit dari perspektif sejarah ilmu pengetahuan dan bagaimana Gereja Katolik—terutama para Jesuit—terlibat di dalamnya.   Society of Jesus, atau Serikat Jesus, adalah sebuah ordo yang sejak awal memang didirikan untuk excel in all things, mungkin singkatnya bisa dibilang begitu. Ignatius Loyola, yang mendirikan ordo ini pada tahun 1540, memiliki visi bahwa para pengikutnya akan menjadi less monastic dan bahwa they will set no limits on the place or circumstances of their ministries, so long as these are ordered to the greater glory of God (O’Malley 2013, 147). Ignasius sangat konsisten dalam idenya dan ini nampak dari tulisannya, misalnya dalam Constitutions (dicetak pada 1558) dan Spiritual Exercises (1548), semua mengandung pesan bahwa para Jesuit harus mampu finding God in all things, atau menemukan Tuhan dalam segala.   Bagi para lulusan sekolah Jesuit seperti saya, jargon-jargon ini sangat akrab di telinga. Kata-kata itu sudah menjadi bagian dari identitas anak Kolese sebagai didikan para Jesuit. Menariknya, dalam dunia history of science, Jesuit sendiri sudah menjadi semacam tradisi dalam produksi pengetahuan, atau bahkan semacam genre. Ia sudah tidak lagi dianggap sebagai ordo religius saja. Tidak jarang, misalnya, dalam diskusi terlontar “that’s very Jesuit” atau “that’s Jesuit science.”   Sepertinya mustahil untuk membahas sejarah pengetahuan Barat tanpa membahas Jesuit. Di perpustakaan Max Planck Institute for the History of Science sendiri, di mana saya sekarang sedang menempuh studi doktoral, misalnya, dari seluruh judul buku bertema religion and science, mungkin 50% berkaitan dengan ordo ini. Membicarakan mengenai sejarah ilmu astronomi dan kalkulasi di Cina, kita tidak bisa lepas dari Matteo Ricci (1552–1610), seorang Jesuit yang pada abad ke-16 duduk di kalangan terpelajar Dinasti Ming; membahas sejarah museum, pasti tersebutlah nama Athanasius Kircher (1602–1680) dengan Wunderkammer-nya. Walaupun sekarang, tentu saja, we have to see it with a more critical lens.   The Jesuits were everywhere, dan ini juga menyebabkan mereka tidak disukai oleh komunitas sains atau the Republic of Letters. Timbul perasaan di kalangan mereka apa yang sekarang kita kenal dengan mixed feelings, antara kagum tapi juga antipati, cemburu dan benci. Misalnya, pada tahun 1769, Maximilian Hell (1720–1792) — seorang Jesuit pendahulu Bayu Risanto dalam dunia astronomi — yang saat itu adalah direktur Vienna Observatory, dianggap tidak mumpuni dalam melaporkan perlintasan Venus karena ia tidak segera menerbitkan karya ilmiah mengenai kejadian tersebut. Lawan-lawannya menuduhnya tidak kompeten dan hanya mau mencontoh karya lain yang akan terbit lebih dulu (Feingold 2003, 2). Namun tetap saja, selama 200 tahun sejak dibentuk, murid Ignatius tetap berkarya, menerbitkan lebih dari 5.000 judul karya tulis touching on every branch of sciences, mulai dari bidang astronomi, filosofi, matematika, hingga ilmu yang sekarang kita sebut sebagai cultural anthropology.   Semua ini terjadi karena Ignatius menginginkan murid dan pengikutnya untuk be out there in the world. Para penasihatnya kemudian menyarankan bahwa untuk memahami apa yang menjadi aspirasi dan kebutuhan orang banyak dan Serikat (the society and the Society), mereka harus fokus pada dua hal: yang pertama adalah pendidikan dan yang kedua adalah overseas mission. Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa mau bagaimanapun juga, tujuan akhirnya adalah confession-building alias membuat orang mengimani Katolik. Apalagi ketika itu sedang ramai counter-reformation juga. Ini yang disebut oleh Steven J. Harris sebagai an up-scale strategy of proselytizing, yang artinya mengkatolikkan orang dengan cara yang berkelas. Harris menulis dalam Confession-building, Long-distance Networks, and the Organization of Jesuit Science (1996) analisisnya mengenai bagaimana Jesuit menggunakan sains untuk mendukung misi religius mereka. Pembahasan di bawah ini sebagian besar diambil dari tulisan tersebut.   Kembali lagi pada dua fokus itu, pendidikan dan overseas mission. Dua hal ini sangat berkaitan dan mewujud dalam apa yang disebut long-distance networks (konsep yang ditawarkan oleh social scientists Bruno Latour dan John Law) yang pada akhirnya menjadi kunci keberhasilan Jesuit. Pertama, fokus pada pendidikan ini menciptakan apa yang disebut sebagai learned ministries, yang mungkin terjemahannya adalah kerasulan/perutusan berorientasi ilmiah. Learned ministries ini punya tiga target pasar utama: studiosi, virtuosi, dan cognoscenti. Studiosi adalah orang-orang muda baik awam maupun rohaniwan yang masuk sekolah yang didirikan Jesuit (termasuk seminari dan universitas). Virtuosi adalah para patron dari kalangan bangsawan yang suka mengoleksi benda-benda antik dan langka serta punya rasa penasaran terhadap ilmu baru, dan cognoscenti adalah sebuah istilah untuk kalangan terpelajar, golongan Republic of Letters itu tadi, para penulis dan pembaca yang memiliki keahlian dan ilmu tertentu. Mungkin kalau sekarang disebut kalangan akademik. Jesuit melihat mereka ini sebagai klien, dan Jesuit juga punya publikasi yang ditujukan untuk masing-masing dari kelompok itu.   Pengikut Ignatius paham betul bahwa virtuosi dan cognoscenti ini haus akan pengetahuan baru and the Jesuits provide just that. Ignasius menyebutnya sebagai curiosity that is not evil dan bahwa pengikutnya harus berupaya bagaimana caranya memperkuat persahabatan antara Jesuit dengan orang-orang yang dianggap sebagai persons of great quality. Oleh karena itu, para misionaris yang ditempatkan di India dan Amerika Selatan, misalnya, diminta untuk mengirimkan segala macam informasi mulai dari catatan perjalanan, reportase mengenai kondisi alam, budaya, dan juga mengenai fenomena lain yang mereka temukan. Dalam suratnya kepada Gaspar Berze, Superior Jesuit di Goa, 24 Februari 1554, Ignatius menulis,   …They want to know, for instance, how long the days of summer and of winter are; when summer begins; whether the shadows move towards the left or towards the right. Finally, if there are things that may seem extraordinary, let them be noted, for instance, details about animals and plants that are either not known at all, or not of such a

English

RIP Brother Petrus Canisius Hardjawardaja, S.J.

On Sunday, February 8, 2026, at 3:00 p.m., Brother Petrus Canisius Hardjawardaja, S.J., passed away at the age of 89 years old at Emmaus House, Girisonta. Brother Hardjawardaja was born in Sleman on May 27, 1937, was baptized at the Pugeran Parish Church in Yogyakarta, and received the sacrament of Confirmation at the Medari Parish Church in Sleman. He completed his elementary education at Medari Public Elementary School and PPDI Medari, and continued his studies at Kanisius Muntilan Technical School and Public Technical School of Magelang. After graduating, he worked as a freelancer for one year.   He wanted to become a Jesuit and spent a one-year aspirant at Stanislaus College, Girisonta. He entered the Society of Jesus on January 7, 1960, and took his first vows on September 8, 1962. He learned motorcycle mechanics and taught Catholicism, later serving as technical staff at St. Peter Canisius Minor Seminary in Magelang until 1971.   Brother Hardjawardaja completed his tertianship at Stanislaus College and pronounced his final vows on February 2, 1972, received by Provincial Fr. Antonius Soenarja, S.J. He was known as a catechist and religion teacher dedicated to nurturing the faith of the faithful. In addition, he was an expert in electricity and lived the Ignatian spirituality through the works entrusted to him. His devotion taught that every talent in service, whether in teaching or in technical work, is a noble thing. Brother Hardjawardaja had a long journey of service. From 1972 to 1981, he worked at St. Petrus Canisius Minor Seminary in Magelang. Then, he continued his work at ATMI Surakarta until 1984, and became a religion teacher in Namlea, Buru Island. For many years, he also served as a catechist in several parishes, as well as an assistant minister and treasurer in various communities. In recent weeks, Brother Hardja’s health declined, and he was hospitalized at St. Elisabeth Hospital before passing away at Emmaus House. A Requiem Mass will be held on February 10, 2026, at St. Stanislaus Church, followed by burial at Maria Ratu Damai Cemetery.

Obituary

Selamat Jalan Bruder Petrus Canisius Hardjawardaja, S.J.

Pada hari Minggu, 8 Februari 2026, pukul 15.00, telah dipanggil Tuhan di Wisma Emmaus, Girisonta:   BRUDER PETRUS CANISIUS HARDJAWARDAJA, S.J. dalam usia 89 tahun   Bruder Hardjawardaja lahir di Sleman, pada 27 Mei 1937, dari pasangan Bapak Adrianus Hardjasumarta dan Ibu Theresia Hardjasumarta. Ia dibaptis di Paroki Pugeran, Yogyakarta pada 6 Agustus 1937 dan menerima sakramen Krisma pada 3 Mei 1950 di Paroki Medari, Sleman. Bruder Hardjawardaja menamatkan pendidikan dasar di dua tempat, yaitu SD Negeri Medari dan PPDI Medari (1949-1955). Setamat SD, ia melanjutkan ke Sekolah Teknik Pertama Kanisius Muntilan jurusan Logam (1952-1955) dan kemudian ke Sekolah Teknik Negeri Magelang (1955-1958). Setelah lulus dari STN Magelang, lantas ia bekerja lepas selama satu tahun     Merasa sangat tertarik menjadi Jesuit, ia diminta menjalani masa aspiran/postulant sebagai Jesuit di Kolese Stanislaus, Girisonta selama satu tahun. Setelah siap dan mantap, ia melamar menjadi anggota Serikat Jesus dan diterima. Ia masuk Novisiat St. Stanislaus, Girisonta pada 7 Januari 1960 dan dua tahun kemudian mengucapkan kaul pertama, tepatnya pada 8 September 1962, diterima oleh Pater Provinsial waktu itu, Pater G. Kester, S.J., di Kolese Stanislaus, Girisonta. Setelah itu, ia ditugaskan menjalani program juniorat dengan bekerja di Kamar Mesin Kolese Stanislaus, Girisonta selama satu tahun (1962-1963). Tahun 1963-1964 ia kursus permesinan sepeda motor di Semarang sambil bertugas di Kolese Stanislaus sebagai penjilid buku dan juga pengawas mesin di Kebun Kayu Semarang dan pengajar agama katolik di SDK Kobong, Semarang hingga tahun 1965. Setelah itu, ia mendapat penugasan ke Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, Mertoyudan sebagai tenaga teknik (1965-1971).        Bruder Hardjawardaja menjalani formasi akhir tersiat di Kolese Stanislaus, Girisonta pada 25 Januari 1971 – 30 Oktober 1971 dengan hasil memuaskan di bawah bimbingan Pater Prawirasuprapta, S.J. Satu tahun kemudian, tepatnya pada 2 Februari 1972, Bruder Hardjawardaja mengucapkan kaul akhir di Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, Mertoyudan dan diterima oleh Provinsial Pater Antonius Soenarja, S.J.   Kita mengenang Bruder Hardja dengan penuh syukur atas kontribusi dan dedikasinya dalam karya Serikat Jesus. Beliau adalah seorang katekis dan guru agama yang mendedikasikan hidupnya untuk membina iman umat di paroki-paroki. Di sisi lain, beliau juga adalah seorang bruder yang andal di bidang kelistrikan. Dia menghidupi spiritualitas Ignasian yang melihat Tuhan dalam segala karya, sekalipun yang bersifat teknis. Dalam kerendahan hati dan ketekunannya, Bruder Hardja mengajarkan pada kita bahwa setiap talenta, entah itu mengajar atau memperbaiki instalasi kelistrikan, dapat menjadi sarana pelayanan yang mulia.   Berikut riwayat tugas Bruder Hardjawardaja setelah kaul akhir:   1972-1981 : Bagian teknik, pemeliharaan Gedung, kendaraan, dan kekaryawanan di Seminari Menengah St. Petrus Canisius, Mertoyudan, Magelang 1981-1984 : Tugas di ATMI Surakarta 1984-1986 : Tugas guru agama di Namlea, Pulau Buru 1986-1987 : Katekis di Gereja Paroki Santo Antonius Padua Muntilan 1987-1994 : Katekis di Gereja Paroki Santo Isidorus, Sukorejo 1994-2009 : Asisten Minister dan tugas kerumahtanggaan Komunitas Kolese Santo Ignatius Loyola, Semarang 2009-2010 : Ekonom dan Asisten Minister Komunitas Kolese Santo Petrus Kanisius, Jakarta 2010-2021 : Operator modifikasi dan pengujian mesin di ATMI Surakarta 2021-wafatnya : Pendoa bagi Gereja dan Serikat di Wisma Emmaus   Beberapa minggu terakhir ini kesehatan Bruder Hardja mengalami penurunan. Beliau sempat dirawat di Rumah Sakit Elisabeth, Semarang dan akhirnya dipanggil Tuhan di Wisma Emmaus, Girisonta.   Selamat jalan, Bruder Hardjawardaja.    Misa Requiem dan Pemakaman Misa Requiem akan diadakan pada:    Hari, tanggal : Selasa, 10 Februari 2026 pukul : 10.00 WIB Tempat : Gereja St. Stanislaus Girisonta, Ungaran   dan dilanjutkan dengan pemakaman di Taman Maria Ratu Damai, Girisonta, Girisonta, Bergas, Ungaran.