Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan

Dua Spiritualitas Satu Tujuan

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada 17 Mei 2025, saya (Dionisius Adven Pramana) dan teman-teman kelas X SMA Kolese de Britto, berkunjung ke Keraton Surakarta dalam rangka pelaksanaan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Tujuan kami ke sana adalah untuk mengetahui dan mempelajari budaya Keraton Surakarta yang hendaknya bisa kami dapatkan dari pihak keraton. Kami menempuh perjalanan kurang lebih sekitar 1 jam lamanya. Jalan-jalan yang kami lalui terlihat nyaman untuk dinikmati. Sayangnya saya tidak duduk disamping jendela. Namun hal itu bukanlah suatu kekurangan, justru hal ini merupakan kesempatan bagi saya untuk bersosialisasi dengan teman sebelah saya. Untungnya, teman sebelah saya merupakan orang yang dekat dan bisa diajak bersosialisasi, sehingga perjalanan menuju Keraton Surakarta tidak sepi. Setelah sekian waktu memperhatikan jalan dan sekeliling, kami sampai di Keraton Surakarta.   Kami datang melalui pintu utama, pintu yang berupa gerbang besar, tempat kendaraan masuk ke wilayah Keraton. Keraton ini memiliki 7 bagian unik, dan kami telah melewati pintu yang pertama. Uniknya setiap pintu dalam keraton memiliki filosofinya tersendiri. Seperti gerbang pertama yang kami lewati ini namanya adalah Nggladhak. Memiliki filosofi kelahiran seorang manusia ke dunia. Terdiri atas dua Arca Gupala, manusia yang lahir harus menerima apa adanya (Nrima Ing Pandun). Secara fungsi, biasanya tempat ini digunakan sebagai tempat penyembelihan hewan pada acara tertentu. Setelah melewati pintu pertama, kami masuk lebih dalam dan menemui dua pasang beringin. Kali ini filosofi dari tempat ini adalah kewibawaan seorang pria dan keanggunan seorang perempuan. Ini menyimbolkan bahwa di dunia ini hanya ada dua manusia, laki-laki dan perempuan. Masuk lebih dalam, kami sampai pada tempat bernama Kori Wijil, yaitu tempat di mana manusia sedang menuju kedewasaannya. Tempat ini merupakan arah menuju bagian dalam keraton yang dapat dilewati kendaraan juga, terutama motor. Filosofinya pula, dalam fase ini, manusia sudah harus mengetahui tujuan dan kedudukannya dalam hidup. Menyeberang jalan Kori Wijil, kami melewati tempat bernama Kori Mangu. Cermin besar terpampang di tempat ini. Fungsinya untuk berintrospeksi diri, apakah kita sudah layak, secara fisik, penampilan, sikap, dan yang terpenting, sudahkah hati kita siap memasuki area yang lebih dalam di keraton? Setelah melewati Kori Mangu, selanjutnya kami melewati Braja Nala. Braja Nala memiliki makna Senjata Batin.   Filosofinya, manusia harus mempertajam batinnya untuk bisa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Tempat ini memiliki dua bangunan, Marchu Kunda (berfungsi untuk menghukum Putra Dalem yang melanggar aturan keraton) dan Kedhaton (Kenaikan pangkat Abdi Dalem). Uniknya, walaupun kedhaton merupakan tempat menerima ganjaran/kenaikan pangkat, kami tetap diterima sebagai tamu dan dipersilakan istirahat di sini. Setelah itu, kami masuk lebih dalam ke tempat bernama Kori Kemandungan. Tempat ini adalah tempat untuk sekali lagi berintrospeksi diri, apakah sudah layak secara penampilan, fisik, pikiran, dan hati untuk memasuki Keraton? Setelah melewati Kori Kemandungan, kita akan sampai kepada tempat yang bernama Sri Manganti. Tempat ini berupa Gerbang dengan pintu biru besar. Jika seseorang ingin bertemu dengan Raja, maka orang tersebut harus menunggu di gerbang ini hingga ada utusan dari Raja yang memanggil. Itulah kenapa arti nama Sri Manganti adalah raja menanti. Dari segi filosofinya, tempat ini melambangkan surga. Setelah kita hidup sekian lama dengan berbagai macam dinamikanya, kita pada akhirnya akan kembali ke dalam rumah bapa.     Sebenarnya masih banyak lagi tempat tempat keraton yang hendak saya tuliskan, namun itulah tempat yang sempat kami kunjungi. Dari pengalaman itu, saya dapat melihat nilai budaya yang terukir di sana menarik untuk didalami. Uniknya, nilai budaya dan spiritualitas yang ada dalam keraton ini memiliki kesamaan dengan spiritualitas Ignasian-Jesuit yang dipegang oleh SMA Kolese de Britto.   Corak warna biru pada bangunan keraton menunjukkan Ketuhanan, seperti warna langit biru yang melambangkan ketinggian dan besarnya Tuhan. Keraton Surakarta juga percaya kepada Tuhan dan mengharapkan tuntunan dari-Nya dalam menjalani hidup seperti de Britto yang memiliki spiritualitas Ad Maiorem Dei Gloriam, demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar. Artinya dalam hidup pun de Britto juga mengharapkan tuntunan dan menyandarkan pengharapan kepada Tuhan agar hidup ini sejalan dengan rencana-Nya. Bukankah ini berarti de Britto dan Keraton Surakarta memegang Spiritualitas yang sama tentang pengharapan kepada Tuhan meski dengan bahasa yang berbeda?   Spiritualitas lain yang sangat menarik adalah dua cermin besar yang terdapat dalam Keraton. Cermin itu mengajak kita merefleksikan dan juga introspeksi kita apakah kita sudah layak untuk masuk Keraton atau belum. Bangunan dalam keraton, diinterpretasikan sebagai surga, sedangkan dua cermin itu adalah tempat untuk mengintrospeksikan diri kita apakah sudah layak untuk masuk atau belum. Spiritualitas ini mirip dengan Examen yaitu merefleksikan apa yang sudah kita lakukan hari ini dan kesalahan apakah yang bisa diperbaiki dan juga apakah yang bisa kita perbuat selanjutnya. Hal ini menarik karena terdapat dua kali kesempatan untuk berefleksi. Ini penting karena refleksi menjadi waktu untuk menyadari apa yang sekiranya kurang dan dapat diperbaiki. Terkadang, refleksi yang sudah kita lakukan harus kita beri pendalaman kembali agar lebih berkesan, terasa, dan tidak ada yang mengganjal di hati. Karena inti tujuan dari refleksi bukanlah sekadar berhenti pada menyadari kesalahan dan kekurangan dan mengerti bagaimana cara mengatasinya, melainkan melakukannya. Saat ingin melakukan suatu kegiatan kita memang harus merencanakannya terlebih dahulu. Namun jika rencana tersebut tidak dijalankan, maka tidak akan ada hasil atau nilainya. Oleh karena itu, pemaknaan dan pendalaman sangat penting agar kita tertarik dan tergerak untuk melakukan apa yang sudah kita rencanakan. Mirip seperti Examen yang dianjurkan dilakukan dua kali dalam sehari, yaitu siang dan malam. Ini juga menunjukkan spiritualitas lain yang sama dengan de Britto. Spiritualitas atau semangat untuk melakukan pembenahan diri melalui refleksi yang lebih mendalam yang tidak hanya berhenti pada mengetahui dan menyadari, namun melakukannya. Tidak menjadi persoalan besar meski refleksi yang dilakukan oleh Keraton dan de Britto memiliki bentuk yang berbeda.     Hal ini menunjukkan bahwa dalam mencapai tujuan yang sama, tidak hanya dapat dicapai hanya dengan satu jalan tetapi dapat pula melalui berbagai jalan yang berbeda yang mengarah pada satu tujuan yang sama. Contohnya adalah tentang spiritualitas yang dimiliki di SMA Kolese De Britto dan Keraton Surakarta. Dimana keduanya memiliki cara dan ciri yang berbeda namun mengarah pada satu tujuan yang sama. Itulah inti dari P5 kami pada hari itu. Dan itulah alasan judul refleksi ini ditulis sedemikian rupa.   Hal ini tidak hanya

Karya Pendidikan

Empat Tahap Menuju Kolaborasi Global Alumni Jesuit

Jakarta, 4 Mei 2026 – Komite persiapan Kongres Dunia Alumni Jesuit (WUJA) kembali menggelar rapat koordinasi dalam rangka memperkuat langkah strategis menjelang pelaksanaan pra-kongres. Pertemuan ini dipimpin oleh Pak Elman dan dihadiri oleh jajaran Steering Committee (SC) serta Organizing Committee (OC).   Pertemuan ini menegaskan bahwa kegiatan pra-kongres WUJA bukan sekadar agenda pengantar, melainkan ruang penting untuk menyaring gagasan, membangun identitas kolektif alumni Jesuit, hingga merancang kolaborasi nyata lintas wilayah dan generasi.   Empat Tahap Pra-Kongres Dalam rapat tersebut, disepakati bahwa pra-kongres akan dibagi ke dalam empat tahap utama:   Pemetaan Gagasan dan Tokoh Tahap pertama bertujuan untuk mengerucutkan topik-topik utama dan menjaring pembicara kompeten dari komunitas alumni. Forum ini menjadi ruang eksplorasi ide yang akan dibawa ke kongres utama. Hasil yang diharapkan: poin-poin diskusi strategis.   Penyusunan Manifesto Identitas Fokus tahap kedua adalah pada pertanyaan mendasar: Siapa kita sebagai alumni Jesuit? Diharapkan lahir sebuah manifesto identitas bersama yang menjadi dasar gerakan dan keterlibatan alumni secara berkelanjutan.   Perancangan Kerangka Tata Kelola Tahap ketiga menyentuh aspek implementatif: bagaimana membentuk struktur kerja, peran, dan tata kelola yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari sekolah Jesuit, alumni, hingga organisasi pendukung. Hasil akhir berupa manual kolaboratif.   Model Kolaborasi Nyata Tahap keempat menjadi momen konkretisasi ide melalui rancangan model kolaborasi antar-alumni dan lembaga. Ini menjadi bentuk nyata dari semangat partner in mission. Fokusnya adalah pada tindakan kolaboratif yang bisa diadopsi secara luas dan berkelanjutan.   Target Waktu dan Strategi Komunikasi George selaku ketua SC menegaskan bahwa meskipun estimasi awal cukup ketat, saat ini tersedia waktu hingga akhir kuartal pertama tahun 2026 untuk menyelesaikan seluruh rangkaian pra-kongres. Hal ini memberi ruang untuk pendalaman materi dan keterlibatan lebih luas.   Sementara itu, dalam hal komunikasi, diusulkan penyusunan narasi tokoh-tokoh alumni dari berbagai komunitas sebagai konten publikasi internal. Ini dimaksudkan untuk memperkuat rasa memiliki dan keterlibatan aktif dari komunitas alumni di seluruh dunia.   Peran Sekolah dan Alumni Dalam diskusi, juga muncul refleksi kritis tentang pentingnya mengenalkan semangat alumni Jesuit sejak masa sekolah, bukan setelah kelulusan. Pendidikan Jesuit perlu memelihara jalinan relasi dengan alumninya secara lebih dini dan berkelanjutan.   “Alumni bukan hanya produk sekolah, tapi juga partner dalam misi. Maka hubungan harus dirancang sejak awal,” ujar Adhi Anondo dalam sesi refleksi.   Kolaborasi Global dan Rencana Strategis Salah satu highlight diskusi adalah gagasan untuk menyusun rencana strategis empat tahun ke depan pasca-kongres. Rencana ini mencerminkan keberlanjutan komitmen alumni dalam menjawab berbagai isu lokal maupun global melalui semangat Jesuit yang kontekstual dan adaptif.   Dengan demikian, pra-kongres WUJA tidak hanya menjadi momentum refleksi, tapi juga awal dari gerakan alumni Jesuit yang lebih terstruktur, kolaboratif, dan berdampak nyata.   Kontributor: Markus Budiraharjo – IASM/Ikatan Alumni Seminari Mertoyudan

Pelayanan Masyarakat

Menghidupi Spiritualitas Manusia Ekologis

Para bruder Jesuit merasa bangga dan gembira melihat perkembangan Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) Salatiga. Mereka senang dan “gumun” bahwa KPTT hingga saat ini terus eksis. Apalagi, sebagian besar para bruder Jesuit pernah bertugas ataupun menjadi siswa di KPTT. Trend positif KPTT bisa dilihat dari beberapa sisi, yaitu kemandiriannya secara finansial, jumlah peserta kursus yang semakin meningkat, pelayanannya yang semakin meluas, dan menjadikan dirinya sebagai pusat studi ekologi.   Sustainable dan Integrated Farming Tahun ini, para bruder Provindo melanjutkan program tahun sebelumnya untuk mengadakan rekoleksi dan kunjungan keluarga. Bulan Juni 2025 ini, KPTT dan keluarga Br. Dieng menjadi pilihan untuk dikunjungi. Maka, saat berada di KPTT para bruder mendapatkan input tentang gambaran KPTT saat ini. Saat ini, KPTT telah berubah dan terus bertransformasi. Hal yang patut disyukuri adalah bahwa KPTT saat ini bisa hidup secara mandiri. Hal tersebut tidak lepas dari praktik sustainable dan integrated farming sebagai model pertanian yang kami usung. KPTT bukanlah tempat wisata, namun lembaga kursus pertanian yang hidup secara penuh dari hasil pertanian dan peternakan. Dengan cara ini, kami merasa percaya diri untuk mengajarkan model pertanian kepada banyak orang. Apa yang penting untuk dicatat dalam model sustainable dan integrated farming adalah tindakan untuk mau saling melayani. Pertanian dan hasilnya adalah salah satu bagian dari proses saling melayani dalam siklus alami. Dalam proses itu, manusia ekologis menjadi salah satu subyek yang penting namun tidak bisa melepaskan diri dari subyek-subyek alami lainya. Contoh kecil yang dapat kami ambil adalah saat manusia KPTT melayani kebutuhan ternak sapi, yaitu dengan memberikan makanan, minuman, dan menjaga kebersihanya. Sapi tersebut dengan sendirinya akan menghasilkan susu dan kotoran yang kemudian diproses hingga menghasilkan biogas. Susu dan biogas adalah benefit yang dapat diperoleh manusia secara langsung saat tindakan melayani sapi dilakukan. Seterusnya, kotoran sapi sendiri menjadi makanan bagi bakteri dan jamur yang kemudian mendekomposisi kotoran sapi menjadi pupuk kendang. Singkatnya, sapi melalui kotoranya melayani kebutuhan bakteri, jamur, dan tanaman untuk bisa hidup dan menghasilkan panenan. Ringkasnya, tindakan alami saling melayani inilah yang pada akhirnya melahirkan keberlanjutan dan kelestarian. Pada akhirnya dalam proses ini, manusialah yang paling banyak diuntungkan.   Spiritualitas Manusia Ekologis Bagi KPTT kursus pertanian dan peternakan adalah sarana untuk membentuk pribadi-pribadi ekologis. Oleh karena itu, dalam proses pembelajarannya kami menawarkan spiritualitas manusia ekologis. Melalui praktik dan teori pertanian serta hidup bersama di KPTT kami menawarkan semangat keharmonisan hubungan antara manusia, Allah, sesama, dan alam. Berlandaskan prinsip-prinsip dasar dari Laudato si dan Universal Apostolic Preferences (UAP), KPTT mengajak setiap pribadi untuk menjadi pribadi yang sadar bahwa hidupnya tidak pernah lepas dari hubungan dengan Allah, sesama, dan alam. Di tempat yang sama kami menawarkan langkah-langkah untuk menjadi pribadi ekologis entah itu melalui pikiran, tindakan, kebiasaan, pembentukan karakter dan menjadikan semua itu sebagai bakti kita kepada Allah. Berdasarkan data yang ada, sejak tahun 2021 terjadi peningkatan pelayanan yang dilakukan KPTT melalui macam-macam programnya, yaitu berupa kursus, magang, live in, fieldtrip, dan pelayanan ke luar. Di bawah ini adalah data singkat para peserta yang pernah belajar di KPTT. Jika kami boleh berasumsi, seandainya 5% saja dari para peserta di atas yang sungguh-sungguh tertarik di bidang ekologi, tentu jumlah itu sudah patut syukuri.   Di akhir permenungan tentang KPTT, para bruder diajak untuk merenungkan beberapa pertanyaan mendasar terkait bagaimana menjadi manusia ekologis. Apakah aku sudah memeluk spiritualitas ekologis secara mendalam? Apa bentuk-bentuk konkret kecintaanku terhadap lingkungan hidup? Apa yang dapat aku usulkan terkait usaha untuk meningkatkan minat banyak orang di bidang ekologi?   Kunjungan Keluarga Br. Dieng, SJ di Paroki Ngawi Acara rekoleksi para bruder diawali dengan doa bersama dan “sapa aruh” antara para bruder. Pada kesempatan ini, para bruder menceritakan update tugas dan perutusan masing-masing. Apa saja sukacita dan tantangan-tantangan dalam karya yang saat ini sedang mereka alami. Hal yang menarik dari sesi ini adalah pengalaman iman masing-masing bruder yang secara langsung maupun tidak langsung saling menguatkan panggilan kami. Ada semacam ikatan kokoh dalam batin bahwa kami berjalan bersama meskipun tidak di tempat tugas yang sama.   Dalam rekoleksi dan kunjungan keluarga tahun ini ada 12 bruder yang hadir. Selanjutnya, pada hari Minggu, 22 Juni 2025, kegiatan rekoleksi para bruder di KPTT dilanjutkan dengan kunjungan keluarga. Kegiatan kunjungan keluarga diawali dengan mengikuti perayaan Ekaristi di kapel Stasi Santa Perawan Maria Kedunggalar. Dalam misa, selain memperingati Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, kami memperingati pula saudara kami almarhum Leo Agung Sapto Prioyo Ponco, adik Br. Dieng yang genap dua tahun lalu dipanggil Tuhan. Pada bagian akhir rekoleksi dan kunjungan, para bruder secara khusus berkunjung ke rumah keluarga Br. Dieng dan dilanjutkan dengan proses saling berkenalan. Para bruder satu persatu memperkenalkan siapa mereka dan tugas di mana. Begitu juga dengan anggota keluarga Br. Dieng. Bagi kami, keluarga adalah bagian yang penting dan tak terpisahkan dari kehidupan panggilan. Keluarga adalah rahim pertama yang melahirkan panggilan para bruder Jesuit. Pada akhirnya, kami berdoa bagi banyak keluarga, semoga makin banyak keluarga yang berkenan mempersembahkan putra-putra mereka untuk menjadi bruder Jesuit.   Kontributor: F Antonius Dieng Karnedi, S.J.

Provindo

Pertemuan Superior 2025

Pada tanggal 19-21 Juni 2025, Provinsi mengadakan acara untuk para superior. Pertemuan ini cukup baru karena selama ini pertemuan superior digabungkan dengan pertemuan direktur karya. Jumlah superior komunitas 16 orang, Socius termasuk di dalamnya karena menjadi superior komunitas Rumah Provinsialat. Dari jumlah 16 orang, 2 orang superior berhalangan karena harus mengikuti pertemuan di tempat lain. Tema besar pertemuan ini adalah Personal and Apostolic Care. Tiga narasumber yaitu Bapak RY. Kristian Hardianto dan Provincial serta Socius sendiri. Lewat banyak pengalamannya memimpin perusahaan, Pak Kristian membagikan bagaimana memperhatikan kesejahteraan lebih dari 1.000 karyawan, menciptakan budaya suportif di lingkungan perusahaan, dan mendidik karyawan dengan proses formasi.   Pater Provincial mengajak para superior berbagi pengalaman terkait usaha-usaha untuk menemani para anggota komunitas, sekaligus suka-duka masing-masing. Sebelumnya,Pater Socius menyegarkan pengetahuan tentang guidelines sebagai seorang Superior. Di sela-sela pertemuan, diadakan jeep-tour dengan rute menjelajahi kaki gunung Lawu dengan beberapa perhentian: Air Terjun Jumog dan Candi Sukuh. Para superior sangat menikmati dinamika pertemuan ini. Harapannya, semoga pertemuan ini menyemangati para superior dalam melaksanakan perannya di komunitas masing-masing.   Kontributor: Tim Komunikator Jesuit Indonesia

Formasi Iman

Disatukan, Diutuhkan, dan Semakin Berbuah dalam Kristus

Sembilan frater Novis telah mengucapkan Kaul Pertama dalam Serikat Jesus pada Selasa, 24 Juni 2025 pukul 10.00 WIB di Kapel La Storta, Novisiat St. Stanislaus Girisonta. Kesembilan novis yang telah mengucapkan Kaul Pertama adalah: Sch. Aloysius Gonzaga Evan Adhi Laksana, S.J. dari Paroki St Theresia, Bongsari Sch. Albert Hosea Santoso. S.J. dari Paroki St Yusuf, Gedangan Sch. Christoforus Iuliano Mesaroga, S.J. dari St Agustinus, Karawaci Sch. Ignatius Damar Adi Wicaksana, S.J. dari St Agustinus, Karawaci Sch. Archie Setyo, S.J. dari Paroki St Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari, Katedral Semarang Sch. Leonard Valentino Ngandiri, S.J. dari Paroki St Maria Diangkat ke Surga, Katedral Jakarta Sch. Leonardo Amaris Liaupati, S.J. dari Paroki Tyas Dalem Gusti Yesus, Macanan, Yogyakarta Sch. Valentinus Religio Perangin-angin, S.J. dari Paroki St Padre Pio, Medan Sch. Yohanes Ragil Sumantri, S.J. dari Paroki St Ignatius Ketandan, Klaten Kaul Pertama para novis ini diterima oleh Provinsial Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. serta dihadiri oleh keluarga, para Jesuit, dan tamu undangan. Dalam homilinya, Pater Provincial menyampaikan masa novisiat merupakan masa untuk mengumpulkan kepingan dan berusaha untuk lebih utuh menjadi manusia di hadapan Allah. Ia mengingatkan para novis bahwa setelah mengucapkan kaul bukan berarti perjalanan mengutuhkan diri sudah selesai, melainkan kaul pertama ini menandai babak baru perjalanan hidup dengan membiarkan Tuhan membawa ke mana arah peziarahan mereka untuk mengutuhkan dirinya dengan berbagai ujian yang sudah menanti di depan. Di akhir misa, mewakili teman-temannya, Fr Leon membagikan refleksi bersama. Ia bersama teman-temannya ingin membagikan kasih Allah dengan berbagai cara sesuai dengan kekhasan pribadi masing-masing dengan berpedoman pada cara Ignatius Loyola. Artinya, mereka menuruti perintah Yesus, tinggal dalam kasih-Nya untuk disatukan dan diutuhkan menjadi satu tubuh universal hingga akhirnya membuahkan berkat bagi orang-orang di sekitar mereka. Disatukan, Diutuhkan, dan Semakin Berbuah dalam Kristus adalah tema yang mereka angkat dari hasil refleksi bersama ini. Selanjutnya kesembilan frater ini akan melanjutkan ke jenjang formasi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Selamat melanjutkan formasi, semoga semakin disatukan, diutuhkan, dan berbuah dalam Kristus.   Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator Jesuit Indonesia

Pengumuman A24

Pengumuman Kaul Akhir

Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. dalam keputusannnya tertanggal 8 dan 9 Mei 2025, telah mengundang saudara-saudara kita di bawah ini untuk mengucapkan kaul akhir dalam Serikat Jesus: P. Agustinus Winaryanta, S.J. P. Alexander Koko Siswijayanto, S.J. P. Bernadus Dirgaprimawan, S.J. P. Christoforus Bayu Risanto, S.J. P. Christoforus Kristiono Puspo, S.J. P. Peter Benedicto Devantara, S.J. P. Thomas Septi Widhiyudana, S.J. Kita mengucapkan proficiat untuk saudara kita ini dan membawanya dalam doa-doa kita. Tempat dan tanggal pengucapan kaul akhir akan diumumkan menyusul. Melkyor Pando, S. J. Socius Provinsial SJ Indonesia

English

From Doubt to Faith

On April 25-26, 2025, I participated in a joint recollection for classes X and XI at YPPK Adhi Luhur High School. This activity aimed to reflect on life, deepen relationships with God, and strengthen friendships. I enjoyed staying overnight at school, but some of my friends didn’t. I also felt less enthusiastic because I was afraid I wouldn’t be able to work with my younger siblings.   In this recollection, I was part of a group of 9 students. My task was to bring a pot for cooking, and we had to prepare our food and drink. At first, I was anxious because no one was willing to bring a stove, but when I arrived at school, it turned out that a friend had already brought a stove.   The theme of this year’s recollection was “Stepping Together on the Path of Hope.” In the first session, Fr. Yohanes Adrianto Dwi Mulyono, S.J., spoke about “The Story of Victory.” He explained that victory is not only about achievement. He explained that victory is not only about big achievements but also about small achievements, such as making peace with the past or controlling emotions. I also reflected on my small achievements, such as fighting laziness to continue experimenting and becoming more diligent in worship. I now actively attend church services after joining catechism and becoming a member of the Young Members Fellowship (PAM).   In the second session, we learned about failure. Failure happens when a plan doesn’t work, and this often makes people feel discouraged. However, some make it a motivation to strive harder. I once failed to overcome laziness, but I tried to fight back by doing various activities. I also failed in math, which made me disappointed, but I focused on other subjects that I was better at.   The third session was about self-improvement. I want to reduce the time I spend on my cell phone and try to make up for it with activities outside the home. In the fourth session, we watched “The Boy Who Harnessed the Wind,” a movie that teaches about courage and persistence to achieve a better life. After watching, we were given time to contemplate around Le Cocq College with candles. That night, candles were the only source of light and company. I felt at peace while writing, even though the candle almost died in the wind. After our reflections, we gathered to pray together before retiring to the classroom, where I had a hard time falling asleep but was eventually able to sleep soundly.   On Saturday, April 26, 2025, we woke up at 4:30 am to cook breakfast and change clothes for the outdoor activities. We received different missions with envelopes containing locations and tasks. My group had to go to “Kampung Harapan” to find a place of worship, draw it, and sing two Easter songs. We were confused by the directions but eventually found the Bethel Church of  Pondok Daud. We got help to draw and sing the songs.   We shared our experiences about going on a mission in the hall. There were various destinations, such as Nabire Beach, Nutrition Park, and others. Some people were supposed to go to Al Falah Mosque but failed because the mission was difficult. I am happy to be able to receive special missions and learn to carry them out. Although not all missions are easy, trying with all your heart is important. Sharing stories is also important so that others can learn.   From this recollection, I learned about cooperation, togetherness, and motivation. I didn’t expect this recollection to be so much fun and to get to know my younger siblings and classmates. At first, I was skeptical about my group, thinking that group 11 would not be cohesive, but it turned out that they were fun and reliable, especially in cooking. I experienced various feelings, such as happy and sad, but also gained many new experiences. This recollection made me respect myself and others more and not prejudge them before getting to know them.   Contributor: Gracia Tawa Buntu- YPPK Adhi Luhur High School

English

Scientific Collaboration, Efforts to Care for Mother Earth Our Home

In the second semester of the 2024/2025 academic year, Kanisius Tlogosari Kulon Primary School focused on the Sustainable Lifestyle for the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5). We name the project Wise Waste Management. This project supports the Learning Outcomes, which involve students observing and investigating the relationship between living (biotic) and non-living (abiotic) components that influence ecosystem stability. It aligns with the Universal Apostolic Preferences, emphasizing care for the earth.   The project was designed in three phases: Phase A (grades 1-2) involved selecting eco-friendly food wrapping materials; Phase B (grades 3-4) focused on turning waste into compost and eco enzyme; Phase C (grades 5-6) put the eco enzyme to use in producing liquid soap that can be sold. The choice of theme came from the lack of attention to environmental sustainability in the school and the surrounding areas.   Students participated in making eco-enzymes, which is created by fermenting a mix of water, molasses, and fruit peels for three months. This natural product helps address environmental issues near the school. They collected and used the eco enzyme to clear clogged drains and improve the cleanliness of local waterways. The leftover material from eco enzyme production was used to fertilize school trees, promoting the growth of breadfruit and mangoes for the whole school community. Despite its benefits, some students were reluctant to engage in its production due to the fear of messiness and unpleasant smells.   The project also introduced ‘Sedekah Alam,’ an offer to nature, an initiative where eco enzyme was poured into smelly sewers and into local bodies of water to help improve the environment. This process taught students about caring for nature and using eco-friendly products. However, many still hesitated to use the eco enzyme because of its odor and manufacturing process, even though there were plenty available.   To further spread knowledge about eco-enzymes, the fifth-grade students were invited to conduct research at Kolese Loyola High School. Teachers prepared students with knowledge before visiting and sharing their newfound skills. After the communication was fixed, the Principal of Kolese Loyola High School, Fr Ferdinandus Tuhujati Setyoaji organized a broader collaborative initiative. Initially planned for a few students, all students were included to enhance the experience.   On May 22, 2025, the students headed to Kolese Loyola High School. They were excited yet nervous about their presentations. Upon arrival, they received warm welcomes, which helped boost their confidence and enjoyment in sharing their experiences. Activity coordinators, Mrs. Etik Maharani and Mr. Reynhard Louis Dermawan, along with 25 students of Kolese Loyola High School, guided our students through various activities like fermentation labs, eco-printing, and making natural anti-mosquito lotion.   This collaboration reinforced the ecological initiatives at Kanisius Tlogosari Kulon Elementary School, aligning with their commitment to caring for the environment as part of the Universal Apostolic Preferences. The education approach highlights the need for students to actively engage with environmental issues instead of just memorizing facts. It emphasizes the importance of recognizing problems, finding solutions, and taking real action. Inspired by St. Francis Assisi, students learn to respect and appreciate nature as part of their spiritual growth.   Contributor: Khatarina Ika Wardhani- Principal of Kanisius Tlogosari Kulon Elementary School