Pilgrims on Christ’s Mission

Realino SPM

Realino SPM

Sebuah Catatan Perjalanan Volunteer Realino

Dari Rasa Takut ke Tanggung Jawab: Di tengah dunia yang semakin pragmatis, kegiatan volunteer seringkali dipandang sebelah mata. Banyak yang beranggapan menjadi relawan adalah aktivitas ringan tanpa komitmen serius—sekadar mengisi waktu luang, bersenang-senang, atau pelengkap resume. Tidak sedikit yang berpikir, “Toh, ini cuma kerja sukarela, nggak usah terlalu effort.” Akibatnya, tidak jarang kita melihat relawan perlahan menghilang di tengah jalan, lelah, bosan, atau merasa tak memiliki keterikatan. Realitas inilah yang justru saya temukan jawabannya ketika bergabung dalam Komunitas Volunteer Realino.   Ketertarikan saya sudah tumbuh sejak SMA, lewat perkenalan dari Pater Pieter Dolle yang beberapa kali datang ke sekolah untuk memperkenalkan program pengabdian sosial. Saat memasuki semester pertama perkuliahan, saya langsung mendaftar dan mulai mengikuti kegiatan Komunitas Belajar Realino (KBR).   Pengalaman pertama menjadi volunteer di komunitas Bongsuwung dan Jombor bukanlah sesuatu yang mudah. Rasa takut dan bingung menyelimuti karena saya belum terbiasa berinteraksi dengan anak-anak dalam suasana belajar. Namun perlahan, saya belajar membuka diri, membangun relasi, dan menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan bagi mereka. Di sini saya memahami, pelayanan itu ternyata bukan hanya tentang memberi, tetapi lebih tentang ruang untuk tumbuh dan belajar bersama.     Memasuki semester kedua, babak baru terbuka. Saya mendapat kesempatan tak terduga untuk menjadi Wakil Koordinator Volunteer, melalui ajakan Mbak Luci dan Pater Pieter. Awalnya, keraguan menghampiri. Namun, panggilan ini justru menjadi titik balik refleksi terdalam saya sebagai relawan. Saya menyadari bahwa menjadi pemimpin dalam komunitas volunteer bukanlah sekadar posisi, melainkan sebuah bentuk tanggung jawab pribadi yang lebih luhur.   Ada anggapan keliru di kalangan mahasiswa, bahwa menjadi koordinator hanyalah soal memberi instruksi dan mengatur. Kenyataannya, sangat jauh dari itu. Menjadi koordinator, terutama dalam konteks komunitas volunteer, bukan soal siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling siap menjadi garda terdepan ketika terjadi dinamika dalam komunitas. Kita menjadi otak yang berpikir dan jantung yang terus mengalirkan semangat ke seluruh bagian kelompok.   Bagi saya, kepemimpinan dalam pelayanan ini tak terpisahkan dari semangat Santo Ignasius dari Loyola: “pemimpin pelayan”. Seorang pemimpin bukan hanya hadir untuk mengarahkan, melainkan terlebih dahulu hadir untuk melayani. Ia memprioritaskan kebutuhan kelompok di atas kenyamanan pribadi. Ia mendengarkan, mengayomi, dan menciptakan suasana kolaboratif yang memperkuat rasa tanggung jawab bersama. Kepemimpinan seperti ini tidak hanya efektif secara organisasi, tetapi juga membentuk dan memelihara jiwa kebersamaan komunitas.   Dalam proses ini, saya belajar bahwa kedekatan antar volunteer adalah kunci yang menjaga semangat. Bukan paksaan yang membuat seseorang bertahan, melainkan rasa memiliki, rasa dibutuhkan, dan rasa dicintai. Ketika kehangatan itu hadir, tanggung jawab berubah bukan lagi menjadi beban, melainkan sebuah kerinduan. Kerinduan untuk hadir, untuk melayani, dan untuk bertumbuh bersama.   Selain itu, bagi saya, menjadi volunteer juga merupakan wujud syukur yang paling nyata. Tuhan telah memberikan kehidupan yang baik, penuh kesempatan dan kecukupan. Saya percaya, pelayanan adalah salah satu cara untuk mengembalikan kasih itu kepada sesama. Lewat hal-hal sederhana, Tuhan mengajar kita untuk melihat yang kecil dan tersembunyi sebagai tempat karya-Nya dinyatakan.     Saya teringat akan ayat dalam 1 Korintus 1:27–28 (TB): “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti.”   Pelayanan yang terlihat kecil dan tak dianggap oleh banyak orang, justru kerap menjadi saluran kasih Allah yang paling jernih. Kita mungkin tidak menerima sorotan, tetapi kita sedang menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dalam rencana kasih karunia-Nya.   Santo Ignatius dari Loyola pernah berkata, “Cinta harus ditaruh lebih dalam pada tindakan daripada pada kata-kata.” Menjadi volunteer dan koordinator bukan tentang status, namun tentang kesediaan untuk hadir dan bertindak. Ini adalah panggilan untuk menghidupi komitmen secara utuh. Bukan lahir dari kewajiban, tetapi bersumber dari kesadaran bahwa pelayanan adalah bentuk kasih paling nyata.   Pada akhirnya, saya belajar bahwa komitmen dalam komunitas volunteer bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Ini adalah tanggung jawab yang lahir dari rasa syukur, cinta, dan kesediaan bertumbuh bersama orang-orang yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. AMDG.   Kontributor: Oddie Christian Tamzil – Volunteer Realino 2024/2025

Realino SPM

Bakti Sosial di Komunitas Belajar Realino Jombor

AGAPE: Kegiatan bersama anak-anak di Jombor merupakan sebuah pengalaman yang menyenangkan dan penuh makna bagi kami yang baru pertama kali melakukan kegiatan bakti sosial bersama. Rangkaian acara yang sudah kami persiapkan sejak lama mulai dari games hingga karya seni, kini menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Awalnya, ini hanyalah tugas mata pelajaran agama, tetapi ternyata memberikan makna yang jauh lebih dalam.   Pada awalnya, kami sangat bingung untuk memilih lokasi dimana kami akan melakukan bakti sosial. Sampai akhirnya kami memutuskan Komunitas Belajar Realino di Jombor sebagai tempat kami berkegiatan. Sebelum kegiatan dimulai, kami mendiskusikan mengenai banyak hal, seperti games dan karya seni apa yang disukai anak-anak, serta bagaimana cara berinteraksi dengan mereka.   Akhirnya setelah beberapa waktu kami berdiskusi, tibalah hari di mana kami akan melakukan bakti sosial, yaitu 26 September 2025. Tentunya saat awal datang kami merasa gugup, tapi seiring berjalannya waktu, setelah kami berkenalan, menyapa, dan membangun suasana akrab, kami pun mulai dapat membangun komunikasi dengan anak-anak di sana.     Selama kami berdinamika di Jombor, kami melakukan berbagai aktivitas dengan anak-anak yang bertujuan melatih kerja sama, kreativitas, serta membangun kedekatan dengan anak-anak. Kami melakukan berbagai macam permainan sederhana seperti estafet bola, menebak hewan, dan tepuk perhatian yang membuat suasana menjadi ceria dan penuh semangat. Selain itu, ada juga kegiatan kreatif berupa mewarnai kipas untuk anak TK, melukis gypsum untuk SD kecil, dan menghias pot clay serta menanam biji untuk SD besar. Beberapa dari kami juga mengajarkan hal-hal sederhana, seperti nama warna, hewan, dan kosakata bahasa asing serta mendokumentasikan momen dengan foto bersama. Semua kegiatan tersebut berlangsung dengan antusiasme tinggi dari anak-anak dan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi kami semua.   Pengalaman paling mengesankan yang kami rasakan umumnya muncul dari interaksi langsung dengan anak-anak. Kami terkesan dengan mereka karena melihat semangat, keceriaan, dan rasa ingin tahu walaupun kegiatan dilakukan pada sore hari. Beberapa dari kami juga mengalami tantangan saat menghadapi anak-anak yang sangat aktif. Namun, justru hal ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kami tentang kesabaran dan cara berkomunikasi dengan penuh perhatian. Momen sederhana, seperti ketika anak-anak menunjukkan hasil karyanya dengan bangga atau mengatakan akan merindukan “kakak” menjadi hal yang sangat menyentuh. Ada pula yang terkesan oleh refleksi dari pembimbing tentang makna kehadiran kecil yang dapat meninggalkan dampak positif bagi anak-anak. Dari pengalaman-pengalaman ini, kami belajar bahwa perhatian dan kasih kecil dapat memberikan kebahagiaan besar bagi orang lain.   Sebelum acara dimulai, kami merasa gugup, takut, dan cemas. Ada kekhawatiran tentang apakah kami bisa berinteraksi dengan baik dan diterima oleh anak-anak. Namun, seiring aktivitas berlangsung, perasaan takut dan cemas itu berubah menjadi gembira dan bersemangat setelah melihat antusiasme dan keceriaan anak-anak. Walaupun terkadang terasa lelah dan kewalahan, rasa bahagia dan haru mendominasi suasana. Setelah kegiatan, kami merasa lega, puas, dan bersyukur karena acara berjalan dengan lancar, namun juga ada perasaan sedih karena harus berpisah dengan anak-anak yang sudah mulai akrab. Momen singkat bersama dengan anak-anak inilah yang ternyata meninggalkan kesan mendalam yang tidak mudah dilupakan.     Dari kegiatan di Jombor, kami memperoleh banyak nilai hidup yang berharga. Kami belajar pentingnya kesabaran, empati, dan keikhlasan dalam berinteraksi dengan orang lain, terutama anak-anak. Kegiatan ini menumbuhkan rasa syukur atas kesempatan dan kehidupan yang dimiliki, serta menyadarkan bahwa kasih tidak selalu diwujudkan melalui hal besar tetapi juga melalui tindakan sederhana seperti memberi perhatian, mendengarkan, dan tersenyum tulus. Selain itu, kami juga belajar untuk lebih terbuka, berani bersosialisasi, dan percaya diri menghadapi orang serta pengalaman baru.   Kontributor: Allyn, Bianca, Cia, Echa, Ecle, Gracia, Philia, Tata, Tia, & Viola – Siswa Kelas XII SMA Stella Duce 1 Yogyakarta

Realino SPM

Rajutan Kisah Syukur Pemberian Diri

Tiga tahun sudah saya melangkah di Yogyakarta. Dalam rentang waktu itu, berbagai perjumpaan dan perpisahan seringkali saya alami. Banyak pengalaman luar biasa yang mungkin tak semua orang berkesempatan mengalaminya. Saya percaya semuanya telah dirancang Tuhan untuk saya syukuri sebagai berkat-Nya dalam perjalanan hidup saya. Sejak langkah pertama ketika tiba di Yogyakarta hingga akhirnya dipertemukan dengan sebuah komunitas yang menghangatkan hati, saya merasakan semuanya seolah-olah sudah dipersiapkan-Nya bagi saya.   Perjalanan dimulai saat saya memasuki bangku perkuliahan. Saya punya banyak sekali kekhawatiran saat memasuki universitas swasta milik Serikat Jesus. Apakah saya dapat menemukan teman? Apakah saya bisa berkembang nantinya, berelasi dengan orang-orang di sekitar saya? Ataukah saya hanya akan menjadi pribadi tertutup seperti sebelumnya? Perlahan-lahan kekhawatiran tersebut mulai terjawab saat saya datang mendaftarkan diri sebagai relawan di Komunitas Realino.   Hari itu tepat 14 Februari 2023, pertama kali saya menapakkan kaki di area bangunan tua di Jalan Mataram No. 66, Yogyakarta. Saya masih mengingat persis suasananya. Panas terik menyengat di luar ruangan, namun saya disambut hangat senyuman orang-orang Realino. Ini perjumpaan dan interaksi awal saya dengan Realino. Saya catat pula di sana ada Polo, anjing menggemaskan ramah menyapa setiap calon relawan. Berbekal kepercayaan diri meskipun masih ada ketakutan memenuhi kepala, saya berani melangkah sendiri menyusuri tempat baru itu.   Ternyata langkah-langkah saya selanjutnya tidak lagi sendiri, melainkan bersama mereka, teman-teman di Komunitas Realino. Bersama sahabat-sahabat di Realino, saya berdinamika dengan anak-anak serta warga di Bongsuwung dan Jombor. Kami berkesempatan menyusuri jalan-jalan sempit dan berkelok-kelok di Yogyakarta dan Jawa Tengah sewaktu melakukan survey beasiswa pendidikan. Sesekali kami menyempatkan diri pergi mencoba aneka kuliner Yogyakarta yang selalu saja menawarkan santapan istimewa.   Bongsuwung dan Jombor adalah dua tempat yang akan terus saya ingat dalam hati. Walaupun Bongsuwung tidak lagi bisa saya kunjungi karena penggusuran, kedua tempat itu meninggalkan kesan mendalam. Dua komunitas pinggiran ini telah mengajarkan banyak hal pada saya. Kami sebagai Volunteer Realino selalu disambut anak-anak dan warga sekitar saat datang ke sana. Celotehan dan curhatan anak-anak selalu unik dan menggembirakan untuk didengarkan. Tak jarang tingkah laku mereka membuat saya mengeraskan suara dan menepuk jidat. Meskipun demikian, justru polah mereka itu membuat saya tidak sabar bertemu dengan mereka tiap minggunya.   Ada teman saya bertanya, apa gunanya mengajarkan pendidikan non-formal kepada mereka di tiap akhir pekan? Bukannya mereka juga mendapatkannya di sekolah? Saya hening. Kemudian, saya menemukan jawabannya saat seorang anak penuh semangat bercerita kepada saya dan rekan volunteer tentang keseharian dan pengalamannya. Mungkin mereka mendapatkan pelajaran di sekolah, namun ada nilai tambah yang membuat kami berbeda. Saya datang tidak hanya membawakan materi melainkan juga sungguh hadir menemani dan mendengarkan anak-anak di Bongsuwung dan Jombor ini.   Pengalaman berkesan lain sebagai Volunteer Realino adalah kesempatan kunjungan rumah saat survey beasiswa pendidikan. Saya menyusuri jalan berliku di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sisi paling menarik adalah menemukan bahwa diri saya senang bertemu orang-orang baru dan mendengarkan cerita serta latar belakang mereka. Setiap keluarga memiliki cerita perjuangan masing-masing dan saya bersyukur boleh jadi bagian kecil dari perjalanan mereka. Saya menemukan berbagai kisah keluarga yang membuat saya banyak belajar. Semakin seru saat kami saling berbagi momen survey yang kami lakukan. Ada banyak hal yang membuat kami tertegun, merenung, dan sadar tentang arti kehadiran dan mendengarkan sesama yang membutuhkan.   Terakhir, pengalaman saya diberi kepercayaan dalam Komunitas Realino menjadi sesuatu yang sama sekali tidak terduga. Seorang Nares berusia tujuh belas tahun tentu tak pernah membayangkan bahwa setahun kemudian ia akan dipercaya menjadi koordinator sebuah komunitas volunteer. Saya belajar banyak: mengoordinasi relawan, mengelola media sosial, dan mendampingi rangkaian kegiatan Komunitas Belajar Realino di Bongsuwung dan Jombor. Semua ini menjadi pengalaman baru—hadir, mendengarkan sesama volunteer, serta tumbuh bersama mereka.   Realino menolong saya untuk berani menimbang pilihan dan mengambil keputusan. Saya ingat kata seorang teman, “Nares lagi mengepakkan sayapnya.” Dari pelbagai pengalaman di Realino, terjawablah pergumulan saya di awal. Ah, ternyata ini yang menghantar saya menuntut ilmu di Yogyakarta dan di universitas swasta Jesuit tanpa membayar sepeserpun. Kemudian saya belajar mengabdikan diri sebagai ungkapan syukur, ucapan terima kasih kepada Dia yang telah membawa saya jauh sampai di rumah ini: Realino. Saya tidak akan pernah menarik refleksi yang pernah saya bagikan dulu di awal perjalanan, bahwa Realino adalah Rumah untuk Kembali. Malahan saya semakin diteguhkan dan bersyukur. Izinkan saya mengutip salah satu bagian lirik lagu Sal Priadi:   “Kamu boleh namai itu rumah, Selama ada mereka yang kamu cinta di dalamnya”   Terima kasih Realino sudah memberikan pengalaman luar biasa dan menghadirkan orang-orang yang akan selalu saya cintai di dalamnya.   AMDG.   Kontributor: Aurelia Pradhita Nareswari Pangarso – volunteer Realino 2023/2024

Realino SPM

Dari Kelas ke Rumah Kardus

Daerah Istimewa Yogyakarta kerap dinilai sebagai kota sejuta kenangan. Kota pelajar yang menyimpan sejarah memukau, daerah dengan wisata indah, dan kuliner nikmat. Banyak orang pergi ke Yogyakarta menimba ilmu atau sekadar rehat menikmati liburan. Saya bersyukur karena Kongregasi SCJ sedari awal memilih daerah ini menjadi tempat belajar para frater dan bruder SCJ. Bagi saya, tugas belajar dari kongregasi tidak hanya belajar formal di fakultas teologi melainkan juga belajar berbagai hal. Kuliah di jurusan Filsafat Keilahian membuat saya belajar konsep-konsep Ketuhanan, dari perspektif para teolog dan filsuf, Kitab Suci, dan dokumen-dokumen Gereja. Satu hal membuat saya kagum di fakultas ini, teologi kontekstual memperoleh penekanan serius. Semua mahasiswa diundang mewujudkan gagasan ke realita zaman. Pengalaman pengabdian sosial (pengabsos) di Realino SPM menjadi salah satu upaya mewujudkan teologi yang saya pelajari. Realino SPM merupakan salah satu pengalaman indah berteologi secara nyata. Saya akui tujuan awal bergabung di Realino SPM adalah memenuhi syarat studi. Kami menyiapkan banyak hal untuk proses mengajar, namun tidak semua dapat digunakan begitu saja. Kerap kali semua itu idealisme sebagai pendidik. Nyatanya, saya tidak hanya menjadi pengajar tetapi lebih banyak belajar dari masyarakat yang saya jumpai.   Realino SPM adalah ruang perjumpaan. Lembaga ini menyediakan kesempatan melibatkan diri ke kenyataan, jarang terjamah, sekaligus mengembangkan kepedulian sosial. Seperti halnya, pendiri Kongregasi SCJ, Pater Leo Yohanes Dehon, SCJ sejak awal pun memiliki kepedulian sosial sangat besar. Pada masa revolusi Prancis, Pater Dehon dengan berani melawan kaum borjuis yang sembarangan mempekerjakan anak-anak di bawah umur dan memberikan gaji kecil pada buruh pabrik. Fokus Pater Dehon adalah memperjuangkan keadilan di masyarakat. Saat saya merefleksikan pengalaman pengabsos dan konsentrasi Pater Dehon, saya mengingat gagasan Gilles Deleuze, filsuf Perancis. Gagasannya yang terkenal adalah konsep rhizome, tentang kesetaraan, kebebasan, transformasi dinamis, dan keterhubungan. Semangat Pater Dehon dan Gilles Deleuze senada dengan perjuangan Realino SPM dan teman-teman volunteer. Suasana itu membuat saya bangga bergabung dalam komunitas volunteer.   Pengabdian sosial di Realino SPM saya awali dengan satu nasihat rohani: “Kalau seseorang berkata, ‘aku mengasihi Allah’, tetapi membenci saudaranya, berarti dia berbohong. Orang yang tidak mengasihi sesama manusia yang kelihatan, tidak mungkin bisa mengasihi Allah yang tidak kelihatan.” (1 Yohanes 4:20). Saya sudah merefleksikan ayat ini lama dalam perjalanan panggilan membiara. Gemanya begitu terasa ketika benar-benar terjun di masyarakat. Perjumpaan dengan adik-adik Komunitas Belajar Realino (KBR) mengajarkan saya menghidupi kasih kepada Allah lewat sesama. Setelah satu tahun berkegiatan di KBR Jombor dan Bongsuwung, saya tersadar bahwa lebih banyak diberi hal baru daripada memberi. Adik-adik KBR mengajarkan tentang arti hidup. Anak-anak dan keluarga mereka di sana tidak pernah pusing memikirkan definisi makna kehidupan, namun mereka berpeluh memperjuangkan hidup. Mereka tidak pernah memilih terlahir dalam kondisi keluarga tertentu, tetapi mereka memilih memperjuangkan hidup yang mereka miliki dengan sekuat tenaga.   Saya terhenyak ketika melihat alat kontrasepsi seksual dijual di warung-warung kecil secara bebas terbuka. Pengalaman pertama di sana memberikan banyak tanya, bahkan sempat ‘merendahkan hidup’ orang-orang yang tinggal. Dalam perjalanan waktu, saya menyesal. Hidup mereka bukan lagi mengenai benar atau salah, melainkan mengenai berjuang bertahan hidup. Realino SPM hadir di tengah-tengah realita itu. Saya banyak belajar dari semangat para pendamping dan volunteer lainnya. Mereka gigih ikut memperjuangkan hidup masyarakat dan anak-anak miskin di sana. Anak-anak ditemani dan dibantu belajar membuka pandangan tentang pendidikan dan hidup yang lebih baik. Realino SPM mendampingi mereka lewat pengetahuan, baik itu seputar pelajaran formal, nilai-nilai di masyarakat, maupun sopan-santun sederhana.   Tentu ada suka-duka berkegiatan. Setiap perjumpaan memiliki lelah dan kebahagiaannya. Saya bersyukur atas pengalaman penuh berkat. Pengalaman tak terlupakan adalah momen menjemput beberapa anak yang tidak hadir di KBR. Pada suatu hari, jumlah adik-adik di ruang belajar hanya sedikit. Inilah spesialnya menjadi volunteer Realino SPM, kami tidak hanya mengajar melainkan juga menjadi teman, mencari dan berkunjung ke keluarga mereka. Saya dan beberapa volunteer menjemput ke rumah-rumah mereka. Dengan cara itu, mereka mau datang ke balai tempat belajar bersama. Saat menjemput, saya terkejut. Hari itu, saya bisa menyaksikan langsung keadaan tempat tinggal mereka. Mereka berada di lingkungan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Rumah mereka seadanya. Saya baru sadar celotehan kebenaran salah satu anak yang awalnya saya anggap candaan belaka. Katanya, “Boro-boro hiasan dinding mas, rumah aja dari kardus!” Saat berkunjung ke rumah mereka, kalimat adik itu saya lihat wujudnya di depan mata. Saya tersadar karena datang dan melihat. Sejak hari itu, saya mulai belajar lebih lagi merenungkan: “Apa itu hidup?”   Pengalaman terlibat di komunitas Realino SPM adalah berkat tersendiri buat saya. Saya mengalami perjumpaan transformatif. Saya tambah mengenal banyak saudara dari berbagai sudut Indonesia. Secara sederhana, saya terlibat menyulam mimpi dan harapan adik-adik di Bongsuwung dan Jombor demi memiliki masa depan lebih baik. Lebih dalam lagi, saya semakin yakin dan diteguhkan bahwa Allah sungguh nyata hadir bagi mereka yang miskin, menderita, dan putus asa.       Kontributor: Fr. Marcelinus Wahyu Setyo Aji, SCJ – volunteer Realino 2023/2024

Realino SPM

Menjadi Sahabat: Pendengar dan Utusan Kasih

Saya dan teman seangkatan memilih pengabdian sosial (pengabsos) di Yayasan Realino, pendampingan anak-anak Komunitas Belajar Realino (KBR) Bongsuwung dan Jombor. Pengalaman sebagai volunteer di Realino Seksi Pengabdian Masyarakat (Realino SPM) membawa saya pada refleksi mendalam tentang hidup. Sebagai volunteer, saya tidak hanya bertindak sebagai pendidik, tetapi juga teman, pendengar, dan pemberi kasih tulus. Pengalaman ini mengingatkan saya pada semangat dan dedikasi pendiri kongregasi saya, Pater Leo John Dehon. Dia memperjuangkan kehidupan kaum buruh dan orang miskin. Pater Dehon merupakan teladan bagi kami, para Dehonian dalam memperhatikan dan menyelesaikan masalah sosial. Saya berusaha meneladan semangatnya, terutama dalam mengabdi masyarakat dan Gereja.   Mengajar anak-anak di KBR Bongsuwung dan Jombor bukanlah tugas mudah. Di tengah keceriaan dan semangat mereka, saya sering menemukan tantangan. Banyak anak-anak terpengaruh budaya toxic yang menjauhkan mereka dari nilai kesopanan dan penghormatan pada sesama. Saya menyaksikan antara mereka berperilaku kurang sopan, kadang-kadang dengan kata-kata menyakitkan. Di sisi lain, ada pula kebahagiaan selama pengabsos. Saya bangga dan bahagia bisa berbagi, mendapat pengalaman baru, menjalin relasi dengan sesama volunteer dan anak-anak KBR. Kerja sama mengajar dan mendampingi anak-anak menyatukan komunitas volunteer dan membangun solidaritas satu sama lain. Kami saling mendukung untuk terus berkomitmen memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Momen-momen lucu penuh tawa bersama menciptakan kenangan tak terlupakan. Saya merasa terhormat jadi bagian hidup mereka.   Anak-anak KBR Bongsuwung dan Jombor sangat aktif dan periang. Mereka punya semangat luar biasa dan imajinasi tak terbatas ketika saya mengajak membuat handycraft bahan-bahan alam, seperti terrascape tumbuhan hidup atau kapal pesiar daun pisang kering (klaras). Mereka antusias mengerjakan dan memberikan ide-ide kreatif. Saya menyadari mereka membutuhkan bimbingan, perhatian, dan kasih sayang. Banyak dari mereka kurang diperhatikan orang tua yang mungkin terjebak kesibukan tuntutan hidup harian. Saya terpanggil memberikan dukungan sebagai sahabat. Saya belajar jadi pendengar, memberikan perhatian penuh saat mereka berbicara, menciptakan lingkungan aman tempat mereka merasa diterima, dihargai dan dicintai.   Sebagai mahasiswa Teologi, saya belajar bahwa Teologi pun bersuara tentang bagaimana saya menciptakan dampak positif di masyarakat, khususnya bagi yang terpinggirkan. KBR Bongsuwung dan Jombor jadi ruang penghayatan nilai-nilai teologis dan manusiawi, aneka pengalaman perjumpaan kesedihan dan kebahagiaan yang kerap berjalan beriringan. Ada masa saya merasa sedih dan lelah karena terik panas dan habis energi. Namun, ada saat pula ketika saya merasa terinspirasi semangat anak-anak. Saya mensyukuri setiap pengalaman, suka maupun duka. Saya berkomitmen terus berjuang menghargai setiap pribadi dan perhatian pada mereka yang kecil. Sebagai frater SCJ, lewat semangat Pater Dehon, saya berniat memperjuangkan kehidupan lebih baik bagi mereka yang terpinggirkan dan memberikan suara kepada mereka yang tidak terdengar. Saya belajar tidak hanya menjadi pendamping, tetapi juga sahabat yang dapat dipercaya.    Pengalaman menjadi volunteer di Realino SPM telah menjadikan saya lebih peka pada kebutuhan sosial di sekitar saya. Saya lebih sadar akan berbagai isu yang dihadapi masyarakat, terutama anak-anak dan remaja. Ini mendorong saya berpikir lebih kritis bagaimana saya bisa berkontribusi menciptakan perubahan positif. Saya berefleksi bahwa pengalaman ini bukan hanya tentang memberikan, melainkan juga tentang menerima. Setiap interaksi dengan anak-anak dan relasi sesama volunteer telah memberikan pelajaran berharga tentang kebersamaan, kasih, dan harapan. Saya belajar lebih bersyukur atas setiap momen saya jalani. Pun saya menyadari bahwa setiap usaha kecil saya lakukan bisa berdampak besar bagi hidup sesama. Dengan semangat kasih, saya siap menjadi utusan kasih di tengah masyarakat dan Gereja. Setiap hari adalah kesempatan menciptakan perubahan berarti dalam hidup pribadi yang kita jumpai, terlebih mereka yang terpinggirkan.   Kontributor: Fr Faustinus Trias Windu Aji, SCJ – Volunteer Realino SPM

Realino SPM

Hadir dan Berbagi Kasih-Nya

Dalam tradisi iman Kristiani, pengabdian sosial bukan hanya sebuah tugas atau kewajiban moral, melainkan bentuk perwujudan nyata kasih Allah kepada sesama. Yesus Kristus sendiri memberikan teladan dalam pelayanan-Nya kepada mereka yang lemah, tersisih, dan termarjinalkan. Setiap kali saya berinteraksi dengan anak-anak dampingan, saya diingatkan akan panggilan saya sebagai umat beriman. Pun saya diingatkan sebagai seorang suster CB yang digerakkan oleh kasih tanpa syarat Yesus Yang Tersalib. Dia memberikan teladan untuk melayani mereka yang berkesusahan dengan kerendahan hati. Ini tercermin dalam sabda Yesus: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40).   Tentu dalam proses berdinamika di Komunitas Belajar Realino (KBR), saya juga mengalami tantangan. Salah satunya adalah ketika saya harus berhadapan dengan anak-anak yang dalam konteks tertentu ‘haus perhatian.’ Bisa jadi mereka kurang mendapat pendidikan atau perhatian dari orang tua. Hal ini sungguh menguras tidak hanya tenaga tetapi juga perasaan. Meskipun demikian, tantangan ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menghayati kesabaran, keterbukaan hati, dan pengertian.    Tuhan sendiri hadir dalam kerapuhan anak-anak ini. Mereka mengajarkan kepada saya tentang makna pelayanan tanpa syarat, sebagaimana Allah melayani dan mencintai saya secara total, tak bersyarat. Tuhan tidak pernah  memandang kelemahan saya dalam hal mencintai. Karena itu, atas dasar cinta Tuhan ini saya dimampukan memberi hati dengan penuh dalam pelayanan di Komunitas Belajar Realino di Bongsuwung dan Jombor.   Hal menarik lain adalah ketika saya melihat anak-anak mengembangkan potensi mereka dan mengekspresikan kreativitas dalam hasil karya yang mereka bawa pulang. Saya menyadari betapa penting kehadiran dan pendampingan ini bagi mereka. Setiap pertemuan dan interaksi bukan sekadar rutinitas, melainkan perjumpaan dengan wajah-wajah Allah yang hidup dalam diri setiap anak. Dalam mereka, saya belajar bahwa pengabdian sosial ini adalah bentuk persekutuan dengan Tuhan. Dia memanggil saya untuk hadir dan berbagi kasih-Nya di tengah dunia yang membutuhkan ini.   Lewat refleksi ini, saya semakin menyadari bahwa tugas saya sebagai umat beriman bukan hanya melayani, melainkan juga memberikan diri, pikiran dan hati untuk belajar dari mereka yang saya layani. Allah bekerja dan hadir melalui setiap pengalaman. Dia memberikan saya kesempatan untuk mengasihi dan bertumbuh dalam iman melalui tindakan konkret pengabdian sosial ini. Saya merefleksikan dan memahami bahwa kegiatan pengabdian sosial ini menjadi sebuah jalan menuju transformasi pribadi dan spiritual. Dalam pengalaman ini saya merasa semakin dipersatukan dengan misi kasih Allah bagi dunia.   Kontributor: Sr. Rafaela, CB – Volunteer Realino SPM