Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan

Karya Pendidikan

Menempa Pemimpin Ignatian

LKI 2026 SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville Dalam upaya menyiapkan kader pemimpin muda yang berintegritas dan berjiwa pelayanan, SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville kembali menyelenggarakan Latihan Kepemimpinan Ignatian (LKI) 2026. Kegiatan ini merupakan bagian penting dari proses pembinaan calon presidium OSIS, sekaligus ruang pembelajaran intensif untuk menumbuhkan kepemimpinan yang reflektif, disiplin, dan peka terhadap sesama.   LKI 2026 dilaksanakan selama tiga hari, dari Kamis hingga Sabtu, 22–24 Januari 2026, bertempat di Gereja Stasi Santo Yosep Samabusa. Seluruh rangkaian kegiatan diikuti oleh para calon presidium terpilih dengan pendampingan para imam dan guru. Peserta tidak hanya dibekali pengetahuan teoretis, tetapi juga diajak mengalami secara langsung proses pembentukan karakter melalui latihan, refleksi, dan hidup bersama.     Kepemimpinan Ignatian sebagai Dasar Pembinaan LKI 2026 disusun berdasarkan semangat kepemimpinan Ignatian yang menekankan kesadaran diri, kebebasan batin, dan keberanian mengambil keputusan demi kebaikan bersama. Peserta diajak memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal posisi, melainkan panggilan untuk melayani dan bertanggung jawab.   Melalui sesi pengantar dan latihan, peserta menggali pokok-pokok kepemimpinan Ignatian, termasuk pentingnya refleksi, kepekaan terhadap situasi sekitar, serta kemampuan membedakan mana yang baik dan lebih baik (magis). Proses ini diperkaya dengan latihan konkret agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi sungguh dihidupi.   Disiplin adalah Kunci Utama Salah satu fokus utama LKI 2026 adalah pembentukan disiplin yang berkelanjutan. Peserta dilatih untuk mengelola waktu secara bertanggung jawab, setia pada tugas-tugas kecil, serta berani menerima konsekuensi atas pelanggaran. Latihan ini mencerminkan pemahaman bahwa kepemimpinan sejati dibangun melalui kesetiaan pada hal-hal sederhana.   Peserta juga diajak keluar dari zona nyaman melalui latihan yang sengaja dirancang “tidak nyaman.” Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan daya juang, ketangguhan, serta kepekaan terhadap penderitaan orang lain.     Belajar Mengelola Aturan dan Konflik Dalam dinamika komunitas sekolah, pemimpin tidak terlepas dari aturan dan konflik. Karena itu, LKI 2026 membekali peserta dengan pemahaman mendalam tentang tata tertib sekolah melalui simulasi kasus. Peserta diajak menyadari bahwa aturan bukan alat pengekangan, melainkan sarana untuk menjaga keteraturan dan keadilan.   Selain itu, peserta dilatih untuk mengingatkan teman sebaya dan menengahi konflik dengan pendekatan komunikasi tanpa kekerasan (non-violent communication). Melalui presentasi dan latihan, peserta belajar menyampaikan pendapat, kritik, dan teguran secara tegas namun tetap menghargai martabat sesama.   Merancang Kegiatan dan Mengelola Keberagaman Sebagai calon pemimpin organisasi siswa, peserta juga dibekali keterampilan praktis dalam merancang dan melaksanakan kegiatan. Mereka diajak memahami tahapan perencanaan, mulai dari perumusan ide, penyusunan proposal, hingga pelaksanaan dan evaluasi.   Dalam latihan ini, peserta diminta menyusun proposal kegiatan yang realistis, inovatif, kreatif, serta inklusif dengan melibatkan keberagaman suku dan budaya. Pendekatan ini sejalan dengan semangat sekolah sebagai komunitas belajar yang menghargai perbedaan.   Mengenali Diri dan Sesama sebagai Dasar Kepemimpinan Kesadaran diri menjadi bagian penting dalam LKI 2026. Melalui kegiatan outbound, pengisian kuesioner, refleksi pribadi, dan sharing kelompok, peserta diajak mengenali kapasitas diri dan teman secara jujur dan terbuka.   Dari proses tersebut, peserta kemudian menentukan pasangan calon ketua dan wakil ketua presidium secara objektif. Tahapan ini diakhiri dengan pemungutan suara untuk memilih tiga pasangan calon yang akan melanjutkan proses kampanye.     Menumbuhkan Pemimpin yang Melayani Melalui Latihan Kepemimpinan Ignatian 2026, SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville menegaskan komitmennya untuk menciptakan pemimpin muda yang tidak hanya cakap secara organisatoris, tetapi juga memiliki kedalaman rohani, integritas pribadi, kepekaan sosial, serta semangat melayani. LKI menjadi ruang pembelajaran penting untuk menempa karakter agar para siswa mampu memaknai kepemimpinan sebagai panggilan untuk hadir, peduli, dan bertanggung jawab bagi sesama.   Merumuskan Visi dan Misi yang Bermakna Tahap akhir LKI 2026 difokuskan pada perumusan visi dan misi. Peserta diajak berdiskusi dalam tim untuk menyusun visi dan misi yang tidak hanya menarik, tetapi juga berakar pada kebutuhan nyata komunitas sekolah. Proses pendampingan intensif dilakukan agar visi-misi yang dihasilkan mencerminkan semangat pelayanan, keberpihakan pada kebaikan bersama, serta nilai-nilai Ignatian.   Ritme Kegiatan yang Seimbang Seluruh rangkaian LKI 2026 dirancang seimbang antara aktivitas fisik, intelektual, sosial, dan spiritual. Setiap hari diisi dengan olahraga pagi, sesi pelatihan, refleksi harian melalui Examen, doa malam, dan diakhiri dengan istirahat. Kegiatan ditutup dengan perayaan Ekaristi sebagai ungkapan syukur atas seluruh proses.       Kontributor: Reinaldo Rahawarin

Karya Pendidikan

Memeluk Hening, Merajut Persaudaraan

Examen Conscientiae Menjelang Prapaskah 2026 Masa Prapaskah sering kali dipandang sebagai perjalanan personal antara manusia dengan Penciptanya. Namun, dalam terang Surat Gembala 2026, kita diingatkan bahwa pertobatan sejati tidak berhenti pada kesalehan diri sendiri. Prapaskah adalah undangan untuk meruntuhkan tembok ego demi membangun jembatan persaudaraan. Di SMP Kanisius Kalasan, Yogyakarta, persiapan ini dimulai dari tempat yang paling sunyi dalam pengolahan batin atau Examen Conscientiae.   SMP Kanisius Kalasan telah membangun ritme spiritual yang konsisten. Setiap Senin hingga Rabu, suasana kelas berubah menjadi hening menjelang akhir pembelajaran untuk refleksi secara mandiri. Hal ini menuntut kesadaran pribadi untuk sesaat meninggalkan riuhnya proses pembelajaran. Didampingi guru yang mengajar di jam terakhir, para murid diajak menoleh sejenak ke belakang, melihat jejak Tuhan dalam tawa, kesulitan, bahkan rasa bosan selama belajar. Namun, ritme ini mencapai puncaknya di akhir pekan.   Setiap hari Kamis, para murid melangkah bersama menuju Gereja. Di sana mereka mempraktikkan Examen yang dipandu oleh Bapak/Ibu guru secara bergantian. Keheningan komunal di Gereja ini menciptakan ikatan persaudaraan yang unik. Para murid belajar bahwa meski Harapan utama dari pembiasaan ini adalah agar murid semakin mampu mendengarkan suara Tuhan yang menuntun pada penguasaan diri yang baik. Mengapa penguasaan diri itu penting dalam konteks persaudaraan? Karena tanpa penguasaan diri, kebersamaan akan mudah retak oleh ego.       Seorang murid yang mampu mengolah batinnya akan lebih bijak dalam bertutur kata, lebih sabar dalam perbedaan, dan lebih rendah hati untuk meminta maaf. Inilah wujud nyata dari tagline “Karakter Hebat, Prestasi Dapat.” Karakter hebat bukan hanya soal integritas pribadi, tetapi juga soal kemampuan untuk hidup rukun dan berkolaborasi. Prestasi yang optimal akan lebih mudah tercapai dalam lingkungan yang penuh dukungan dan persaudaraan yang tulus.   Selaras dengan pesan Surat Gembala 2026 Keuskupan Agung Semarang, kita diajak untuk menjadi saksi-saksi persaudaraan di tengah dunia yang kian terfragmentasi. Melalui rangkaian refleksi ini, para murid dilatih untuk tidak hanya fokus pada “aku,” tetapi beralih menjadi “kita.”   Masa Prapaskah 2026 menjadi momentum untuk mengubah hasil refleksi dan renungan pagi menjadi aksi nyata. Jika dalam pengolahan batin seorang murid menyadari ia telah melukai hati temannya, maka Prapaskah adalah waktu untuk rekonsiliasi. Talenta yang ditemukan melalui keheningan batin akan menjadi berkat bagi persaudaraan di lingkungan sekolah dan masyarakat.   Melalui pembiasaan Examen Conscientiae dan renungan pagi, SMP Kanisius Kalasan sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka secara spiritual dan sosial. Karakter hebat yang kita impikan adalah karakter yang mampu merangkul sesama sebagai saudara.   Mari memasuki Prapaskah 2026 dengan tekad baru bahwa setiap doa dan hening yang kita lakukan akan berbuah pada kasih yang nyata. Karena pada akhirnya, prestasi tertinggi seorang manusia adalah saat ia mampu menjadi berkat bagi sesamanya.       Kontributor: Heffi Widyaningrum, S.Pd.Si – Guru SMP Kanisius Kalasan

Karya Pendidikan

Kisah Menyatu, Berkah Menghampiri

Imlek 2577 di Kanisius Pati Hembusan angin pagi membawa aroma kue keranjang dan jeruk mandarin, berpadu dengan tawa riang anak-anak yang memenuhi halaman SMP Kanisius Pati, Jawa Tengah. Jumat, 13 Februari 2026 lalu, keluarga besar Kanisius Pati merayakan Tahun Baru Imlek 2577—Tahun Kuda Api—dalam suasana hangat, semarak, dan penuh makna.   Perayaan ini menyatukan siswa-siswi dari KB-TK Kanisius Pati, SD Kanisius Pati, SMP Kanisius Juwana, SMP Kanisius Kudus, serta SMA Kanisius Yos Soedarso Pati. Dengan mengusung tema “Kisah Menyatu, Berkah Menghampiri”, acara ini bukan sekadar pesta budaya, melainkan perjumpaan lintas usia dan tradisi yang memperkuat nilai-nilai pendidikan Ignasian: magis, cura personalis, dan men for others.   Hadir pula perwakilan utusan Plt. Bupati Pati dan Kodim Pati membuka kegiatan dengan pesan tentang toleransi dan persatuan. Sch. Viktor Daki, S.J., serta Pak Petrus Marjono selaku perwakilan Yayasan Kanisius Cabang Semarang turut memberikan sambutan yang meneguhkan semangat kebersamaan di tengah keberagaman budaya Indonesia.     Pawai Harmoni: Merah, Emas, dan Gamelan Jawa Tepat pukul 08.00 WIB, suara genderang dan sorak semangat menandai dimulainya pawai pembuka. Gelombang warna merah dan emas mengalir indah di sepanjang barisan. Spanduk bertuliskan “Gong Xi Fa Cai” dan tema perayaan dibawa dengan bangga oleh perwakilan siswa SMA Kanisius Yos Soedarso Pati.   Anak-anak KB-TK, didampingi kakak-kakak siswa/i SMA yang penuh perhatian, tampil menggemaskan dalam balutan kostum bernuansa Imlek. Marching band dari SMP Kanisius Juwana tampil energik dengan irama dinamis, disusul barisan siswa SD dan SMP yang melangkah percaya diri. Pawai ditutup dengan alunan gamelan dari SMP Kanisius Pati, sentuhan khas budaya Jawa yang menyatu harmonis dengan nuansa Tionghoa.   Perpaduan lentera merah dan suara gong menciptakan perpaduan budaya yang memikat. Simbol-simbol Imlek—warna merah sebagai lambang keberuntungan dan api sebagai energi pembaruan—berpadu dengan filosofi harmoni dalam tradisi Jawa. Rute pawai mengitari Jalan P. Sudirman, Jalan Kamandowo, Jalan K.H. Wachid Hasyim, hingga Jalan Dr. Sutomo sebelum kembali ke kompleks sekolah. Di akhir perjalanan, para siswa menerima angpao simbolis berisi pesan motivasi untuk giat belajar di Tahun Cerdas.   Seperti ungkapan salah satu peserta, “Pawai ini seperti perjalanan bersama, di mana kami belajar menghargai perbedaan dan menemukan kegembiraan dalam setiap langkah.”     Harmoni Musik dan Barongsai yang Menggetarkan Kemegahan berlanjut saat marching band SMP Kanisius Juwana mengambil alih panggung. Dengan seragam biru yang mencolok dan formasi rapi, mereka membawakan medley lagu Imlek seperti “Gong Xi Gong Xi” dalam aransemen modern. Dentuman drum mengingatkan pada petasan tradisional yang melambangkan pengusiran energi negatif dan penyambutan keberuntungan baru.   Suasana semakin memuncak ketika barongsai dari SMP Kanisius Kudus tampil memukau. Gerakan akrobatik yang lincah, iringan genderang yang menggelegar, serta interaksi hangat dengan anak-anak kecil menciptakan atmosfer penuh kegembiraan. Tradisi pembagian angpao kepada barongsai pun menjadi momen yang dinanti—simbol rasa syukur dan harapan baik di tahun yang baru.   Penampilan band dari berbagai unit sekolah, mulai dari SD-SMA Kanisius, turut menambah warna. Lagu-lagu yang dibawakan menghadirkan harmoni yang menyatukan hati, memperlihatkan bahwa seni adalah bahasa universal yang melampaui sekat budaya.   Fashion Show Cici-Koko: Tradisi Bertemu Kreativitas Puncak acara hadir dalam fashion show cici-koko yang memikat perhatian. Para perwakilan siswa berjalan percaya diri di atas karpet merah, mengenakan busana tradisional Tionghoa yang dipadukan dengan sentuhan batik Nusantara.   Anak-anak KB-TK tampil ceria dalam kostum mini merah-emas yang melambangkan kelimpahan dan kebahagiaan. Siswa/i SD tampil anggun dengan aksesori bak putri kerajaan. Remaja SMP menghadirkan desain dinamis penuh energi, sementara siswa/i SMA menampilkan sentuhan elegan dengan syal sutra dan detail modern yang berkelas.   Sorot mata guru, orang tua, dan tamu undangan tak lepas dari panggung. Di sekitar panggung, bazar makanan dan kerajinan tangan siswa menambah semarak. Aroma kue keranjang yang lengket—simbol rezeki yang “melekat”—bercampur dengan semangat kewirausahaan dan kreativitas anak-anak.   Fashion show ini menjadi jendela pembelajaran budaya yang menyenangkan. Para pelajar tidak hanya mengenakan busana tradisi, tetapi juga memahami makna dan sejarah di baliknya.     Menemukan Tuhan dalam Kebudayaan Menjelang siang, acara ditutup dengan doa bersama yang mengingatkan seluruh peserta untuk finding God in all things—menemukan Tuhan dalam segala hal, termasuk dalam keberagaman budaya. Perayaan ini menjadi ruang refleksi bahwa perbedaan bukanlah jarak, melainkan warna yang memperindah kehidupan bersama.   Simbolisme Imlek tentang kebersamaan, harapan, dan rasa syukur selaras dengan semangat pendidikan Kanisius: membentuk pribadi yang cerdas secara intelektual sekaligus matang secara spiritual.   Perayaan Imlek 2577 ini berakhir dengan sukses. Namun, lebih dari itu, perayaan kebudayaan ini meninggalkan jejak hangat di hati setiap peserta, seperti benang emas yang mempererat keluarga besar Kanisius. Dalam kebersamaan yang tulus, kisah pun menyatu dan berkah benar-benar menghampiri.     Kontributor: Arianti Novitasari – Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia

Karya Pendidikan

Merawat Tradisi, Merayakan Kebersamaan di Borobudur

Harmoni Gamelan Soepra SMA Kolese Loyola, Semarang Balkondes Ngadiraharjo, Borobudur, Magelang (16/11/2025) – Kelompok musik gamelan modern dari SMA Kolese Loyola Semarang, yang dikenal sebagai Gamelan Soepra (Gamsoep), baru saja menorehkan pengalaman berharga dengan tampil memukau sebagai bintang penutup dalam rangkaian acara “ANGKRINGAN BOROBUDUR: Nglaras Raga, Nglaras Rasa, Nglaras Wirama” yang diselenggarakan oleh LONGRUNRANGERS, sebuah komunitas lari yang didirikan pada tahun 2018. Panggung utama yang berlokasi di Balkondes Ngadiraharjo ini menjadi saksi perpaduan antara semangat olahraga, perjalanan, dan ekspresi seni budaya di kawasan yang dikelilingi pemandangan indah.   Maraton Persiapan dan Puncak Acara Persiapan telah dilakukan oleh tim Gamsoep dua bulan sebelum acara, yaitu sejak bulan September. Walaupun ada berbagai tugas dan ulangan yang menanti, kami tetap menyempatkan waktu untuk latihan rutin pada sela-sela jam istirahat dan jam ekstra Soepra. Seluruh anggota Gamsoep sangat bersemangat berlatih dan menghafalkan sepuluh lagu yang akan ditampilkan dengan harapan dapat menampilkan yang terbaik pada waktu pelaksanaan acara.   Perjalanan tim Gamsoep dimulai pada Minggu pagi, tepat pukul 06.00 WIB. Rombongan yang menggunakan bus tiba di Balkondes Ngadiraharjo sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah perjalanan panjang, kami langsung melakukan check sound untuk memastikan setiap instrumen siap. Sesi check sound berlangsung hingga pukul 12.30 WIB.   Usai santap siang dan rias wajah, suasana venue di Ngadiraharjo sudah ramai menyambut puncak acara. Pukul 18.00 WIB, acara Angkringan Borobudur resmi dibuka, menampilkan berbagai talenta pendukung, mulai dari band hingga tarian.   Puncak yang paling dinantikan, yakni penampilan Gamelan Soepra, tiba menjelang akhir rangkaian acara. Tepat pukul 20.30 WIB, Gamsoep mengambil alih panggung dan bertindak sebagai penampil sebelum penutupan. Selama satu jam penuh, Gamsoep sukses menyajikan sepuluh lagu dengan aransemen gamelan yang inovatif dan enerjik.     Pada acara Angkringan Borobudur ini, Gamsoep membawakan 10 lagu hits lintas genre yang digubah ulang, termasuk: Anoman Obong, Kala Cinta Menggoda, Selalu Ada di Nadi, Can’t Take My Eyes Off of You, Final Countdown, Rungkad, Gethuk, Jogja Istimewa, Bendera, dan Laskar Pelangi.   Perpaduan unik antara gamelan dengan lagu-lagu bersemangat ini sukses membuktikan bahwa musik tradisional mampu beradaptasi dan menjadikannya penutup yang sempurna untuk perayaan acara. Malam itu ditutup dengan momen kebersamaan yang hangat. Para pemain Gamsoep, penonton, pelari yang baru menyelesaikan acara lari, dan grup musik Alfakustik berbaur menjadi satu, menari dan bernyanyi bersama. Momen ini sukses merayakan semangat kebersamaan dan seni yang inklusif.     Eksplorasi Candi dan Pulang ke Semarang Keesokan harinya, para anggota Gamsoep melakukan perjalanan wisata budaya. Setelah check out dari Balkondes pada pukul 09.00 WIB, kami segera berangkat menuju kompleks Candi Borobudur. Ditemani oleh pemandu wisata, kami melakukan kunjungan ke museum sebelum menapaki anak tangga dan mencapai puncak candi. Di museum, kami belajar sejarah, menemukan fakta menarik terkait pelajaran hidup seperti hukum Karma, mekanisme pembangunan Candi Borobudur, dan mematahkan mitos-mitos mengenai Candi Borobudur.   Kami mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga pada sesi ini. Baru setelah itu, kami mendaki ke puncak Candi, memahami makna dan nilai yang ada secara langsung, serta ikut menjaga dan menghormati adat-istiadat yang berlaku. Kunjungan ke situs warisan dunia ini menjadi sesi cool down dan refleksi atas warisan budaya yang telah direpresentasikan di atas panggung. Tidak hanya itu, perjalanan ini juga turut memupuk dan mengembangkan rasa cinta tanah air dan bangga terhadap keragaman budaya Indonesia di dalam diri kami sebagai generasi muda.   Tepat pukul 12.00 WIB, rombongan Gamsoep bertolak kembali ke Semarang. Suasana di dalam bus sepanjang perjalanan pulang dipenuhi gelak tawa dan kebersamaan yang erat. Seluruh anggota tim sepakat bahwa kunjungan kerja sekaligus wisata ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.     Gamelan Soepra di Tengah Modernisasi Penampilan Gamelan Soepra, yang memadukan gamelan dengan lagu-lagu hits lintas genre, telah membuktikan bahwa seni tradisi tidaklah kaku dan tak lekang oleh waktu. Sebagai generasi muda yang memiliki minat dalam bermusik, kami para anggota Gamelan Soepra sangat bangga dan senang dapat tampil menjadi perantara yang membawa gamelan ke ranah musik modern dan populer. Kami pun turut bersyukur atas respons positif para penonton yang turut menari dan bernyanyi bersama dalam penampilan Soepra.   Ke depan, kami berharap agar Gamelan Soepra dapat menjadi wadah yang tepat dan suportif bagi banyak orang di masa depan untuk menghargai dan mempelajari seni tradisi gamelan, serta mengembangkan talenta bermusik. Dari semua latihan dan penampilan tadi, kami berharap senantiasa dapat menciptakan semangat kolaborasi dan kebersamaan dari para pemain dan juga penonton. Semoga Gamelan Soepra semakin dapat berkolaborasi dan berjejaring dengan berbagai komunitas dan acara-acara lainnya untuk menyebarkan semangat kebersamaan, bermusik, berkolaborasi, dan berbudaya kepada khalayak umum yang lebih luas.       Kontributor: Felicia Edita Arga & Jason Alexander Cahyadi Santoso – SMA Kolese Loyola

Karya Pendidikan

Porseni Kolese Gonzaga Merajut Komunitas Lintas Angkatan

VERA AMICITIA EST INTER BONOS: Pekan Olahraga dan Kesenian (Porseni) Kolese Gonzaga 2025 telah berlangsung dengan semangat penuh sukacita dan persaudaraan. Lebih dari sekadar ajang kompetisi, Porseni tahun ini dihelat dengan satu misi mulia, yaitu menjadi laboratorium hidup untuk memperkuat ikatan komunitas lintas angkatan di antara siswa kelas X, XI, dan XII. Melalui berbagai aktivitas yang dirancang, semangat “Vera Amicitia Est Inter Bonos” menjadi napas yang menghidupi seluruh rangkaian acara.   Struktur Komunitas dalam “House” Jesuit Untuk mencapai tujuan itu, siswa tidak berlomba sebagai perwakilan kelas atau angkatan, tetapi terbagi dalam sepuluh kelompok besar bernama “House.” Setiap House, yang beranggotakan sekitar 90 siswa campuran dari semua tingkat, mengambil nama dari para Santo Jesuit yang menginspirasi, seperti Fransiskus Xaverius, Petrus Faber, Petrus Claver, Edmund Campion, Joseph Pignatelli, Alfonsus Rodrigues, Johannes Bergman, Fransiskus Borgias, Paulus Miki, dan Stanislaus Kostka. Struktur ini memaksa interaksi dan kolaborasi, di mana setiap poin yang diraih anggota memperkuat posisi House-nya, mendidik mereka tentang arti solidaritas yang melampaui batas teman sekelas.     Pembelajaran Holistik di Luar Ruang Kelas Selama Porseni, ruang kelas dikosongkan dan seluruh area sekolah berubah menjadi ruang belajar yang dinamis. Beragam aktivitas dirancang untuk menjangkau beragam minat dan bakat. Di lapangan, semangat sportivitas berkobar dalam lomba basket, voli, dan mini soccer. Di lobi, ketenangan dan strategi diuji dalam pertandingan catur. Sementara itu, keberanian menghadapi tantangan fisik ditunjukkan di area panjat dinding (wall climbing).   Kreativitas juga mendapat panggung utama. Di taman belakang sekolah, digelar lomba memasak yang unik, di mana peserta tidak hanya dinilai dari rasa hidangan, tetapi juga dari presentasi yang mengaitkan masakannya dengan negara asal Santo pelindung House mereka. Di sepanjang pagar sekolah, jiwa seni diekspresikan melalui lomba mural. Para peserta melukiskan simbol-simbol kehidupan dan pelayanan Santo mereka, seperti mural Petrus Claver yang menggambarkannya sebagai servant of the slaves lengkap dengan perahu budak dan simbol kebebasan di lautan luas. Kedua lomba ini menekankan pada proses kreatif dan reflektif, bukan sekadar hasil akhir.     “Gonzaga Got Talent” Sekolah meyakini bahwa setiap siswa adalah karya unik dengan talentanya masing-masing. Untuk memastikan tidak ada bakat yang terlewat, Porseni menyelenggarakan “Gonzaga Got Talent” melalui aplikasi rekaman online “A-Luigi.” Setiap siswa wajib merekam dan mengunggah kebolehannya, mulai dari menyanyi, memainkan berbagai alat musik (piano, violin, gitar, drum, dll), menari, membaca puisi, hingga sulap dan melukis.   Proses kurasi oleh para guru juri membuka banyak kejutan. Bakat-bakat tersembunyi terungkap, misalnya siswa yang pendiam ternyata memiliki suara emas, siswi yang anggun ternyata adalah penggebuk drum yang handal, atau tutor matematika yang serius ternyata piawai dalam seni pertunjukan. Dari semua rekaman, dipilih 10 terbaik per kategori untuk tampil secara langsung di depan seluruh komunitas. Momen ini menjadi perayaan yang sangat personal dan hangat, di mana setiap keunikan diakui dan diapresiasi.     Mempertajam Pikiran dan Semangat Tim: Cerdas Cermat dan Lomba Kelompok Tahun ini, Porseni juga menghadirkan dimensi baru, yaitu lomba cerdas cermat matematika dan pengetahuan umum antar House. Babak penyisihan dan final disaksikan wajib oleh seluruh komunitas, menciptakan atmosfer intelektual yang bersemangat. Saat soal matematika dipecahkan, tak hanya peserta, para penonton pun ikut menghitung dan bersorak kegirangan. Lomba pengetahuan umum dirancang untuk memacu rasa ingin tahu siswa tentang dunia, budaya, dan istilah-istilah umum.     Dinamika kelompok semakin terasah dalam lomba vokal grup dan band. Dengan waktu latihan yang terbatas, siswa lintas angkatan harus cepat beradaptasi dan berkolaborasi. Mereka membawakan lagu wajib serta lagu pilihan. Harmoni yang indah tercipta bukan hanya dari nada, tetapi juga dari proses bekerja sama itu sendiri. Selain itu, acara perkenalan maskot setiap House menjadi momen edukasi yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu, di mana perwakilan harus mendalami dan mempresentasikan riwayat hidup, perjuangan, serta nilai-nilai Santo pelindung mereka dengan kostum yang kreatif.   Puncak Kebersamaan di Christmas Vigil Concert Mengalir dari semangat Porseni, komunitas Gonzaga mengakhiri semester dengan Christmas Vigil Concert di gedung Ciputra Artpreneur. Konser ini adalah puncak ungkapan syukur dan ruang kontemplasi menyambut Natal. Gonzaga Big Band Orchestra (GBBO) membawakan “Carol of The Bells” dengan penuh energi, diiringi oleh Paduan Suara “Suara Gonzaga” (Surga) yang menyanyikan lagu-lagu Natal dari berbagai penjuru dunia seperti Polandia, Jerman, dan Filipina. Kehadiran Pater Emanuel Baskoro Poedjinoegroho, S.J. (Pater Superior), Bapak Corneiles Tedjo Endriyarto (Ketua Yayasan Wacana Bhakti), perwakilan alumni (Ikagona), serta orang tua siswa, menunjukkan lingkaran komunitas yang luas dan solid. Pater Eduard Calistus Ratu Dopo, S.J., M.Ed., Kepala Sekolah sekaligus pelatih, menyanyikan dua lagu sebagai bentuk terima kasih tulus kepada semua pihak.     Dari Kompetisi Menuju Komunitas Acara Porseni ditutup dengan pengumuman juara umum, yang tahun ini diraih oleh House Edmund Campion. Namun, kemenangan sejati terletak pada proses yang telah dilalui. Setiap siswa belajar menjadi pemimpin dan pelayan melalui kepanitiaan, mengalami langsung arti kerja sama lintas angkatan, dan belajar mensyukuri baik talenta sendiri maupun kelebihan orang lain.   Seperti ungkapan dari karya Cicero dalam bukunya berjudul De Amicitia, Porseni Kolese Gonzaga 2025 berhasil menjadi wadah nyata untuk menumbuhkan “persahabatan sejati.” Dalam semangat Ignasian, kegiatan ini tidak hanya mengasah keterampilan (competence), tetapi lebih penting lagi membangun kepedulian (care) dan hati yang tulus (conscience). Semoga ikatan yang terjalin ini menguatkan komunitas Gonzaga untuk menyambut Tuhan dengan pertobatan dan mewujudkan niat baik di tahun baru. AMDG.   Kontributor: Gabriella Kristalinawati, S.Pd., M.Si.

Karya Pendidikan

Kolaborasi Generasi untuk Masa Depan Desain Indonesia

WOODFEST 2025: WOODFEST 2025 menandai sebuah tonggak baru. Untuk pertama kalinya, acara yang telah diselenggarakan ketiga kalinya ini digelar di luar kampus SMK PIKA Semarang, bertempat di Marina Convention Center. Perpindahan ini bukan sekadar perubahan lokasi, tetapi sebuah pernyataan: WOODFEST telah matang menjadi sebuah platform publik yang siap menjangkau khalayak yang lebih luas dari kalangan industri, akademisi, dan masyarakat.   Tahun ini, partisipasi melonjak dengan kehadiran lebih dari 30 brand, mulai dari produsen furnitur ekspor, kontraktor interior, hingga sekolah dan universitas dengan fokus pada kayu, desain, dan arsitektur. WOODFEST 2025 membuktikan diri bukan hanya sebagai ruang pamer, tetapi sebagai ekosistem untuk bertukar ide, inovasi, dan lahirnya kolaborasi baru. Antusiasme publik pun luar biasa. Lebih dari 2.400 pengunjung memadati venue selama tiga hari, menegaskan bahwa Semarang memiliki potensi kuat menjadi pusat pertemuan industri kayu dan desain kreatif di Indonesia.     Namun, capaian terpenting WOODFEST 2025 justru terletak pada kolaborasi yang terjalin di balik panggung. Panitia pelaksana yang terdiri dari alumni PIKA (KAPIKA) bekerja berdampingan dengan para siswa/i SMK PIKA. Para siswa tidak hanya membantu, mereka juga mengalami langsung proses perancangan dan manajemen event industri nyata mulai dari komunikasi dengan ekshibitor, logistik, hingga interaksi dengan pengunjung. Inilah inti dari WOODFEST: ia adalah medium pendidikan yang hidup, tempat transfer ilmu dan pembentukan karakter profesional terjadi secara langsung.   Rangkaian seminar tematik memperkaya wawasan peserta dengan pembahasan mulai dari keberlanjutan material, inovasi desain, hingga tantangan regulasi internasional seperti EUDR (European Union Deforestation Regulation).     WOODFEST 2025 juga diwarnai oleh kehadiran istimewa Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. Kehadiran Beliau mengingatkan kita pada akar spiritual PIKA—sebuah karya pendidikan yang dirintis Bruder Joseph Haeken, S.J. dan Bruder Paul Wiederkehr, S.J. Semangat Ignasian akan kedisiplinan, refleksi, dan pelayanan bagi sesama menjadi fondasi yang membuat kesuksesan ini bermakna lebih dalam. Pada akhirnya, WOODFEST 2025 adalah perwujudan nyata dari semangat Ad Maiorem Dei Gloriam, sebuah karya untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar yang membawa dampak bagi masyarakat.   Sebagai Ketua Panitia, saya menyaksikan sendiri komunitas KAPIKA yang bukan sekadar jejaring nostalgia, melainkan sebuah kekuatan hidup yang bergerak aktif. Kolaborasi dengan adik-adik siswa/i SMK PIKA adalah investasi yang tak ternilai untuk kesinambungan generasi. Keberhasilan WOODFEST 2025 membuktikan bahwa PIKA telah melahirkan manusia-manusia kreatif, tangguh, dan siap berkarya untuk Indonesia.   WOODFEST 2025 bukanlah garis akhir, melainkan awal dari sebuah babak yang lebih besar. Semoga semangat kolaborasi dan kreativitas ini terus berkobar, berlipat ganda, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia pendidikan dan industri Indonesia.     Kontributor: Johanes Chaesario Octavianus – Ketua Panitia Pelaksana WOODFEST 2025

Karya Pendidikan

Yayasan Kanisius yang Cerdas, Aman, dan Peduli

107 Tahun Menyalakan Api: Selasa, 21 Oktober 2025, keluarga besar Yayasan Kanisius merayakan HUT ke-107. Perayaan misi yang dirintis oleh seorang misionaris Jesuit asal Belanda, Pater Van Lith, menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan selama hampir satu abad lebih ini. Tema Cerdas, Aman, dan Peduli merangkum arah gerak ke depan Yayasan sampai menyambut usia yang ke-110 di tahun 2028 nanti.   Acara puncak HUT ke-107 Yayasan Kanisius dirayakan dengan Ekaristi di setiap cabang. Cabang Yogyakarta merayakan syukur ini di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Tak Bercela, Nanggulan, dipimpin oleh Pater Martinus Suharianto, Pr (Pastor Paroki Nanggulan), Pater Heru Hendarto, S.J., selaku Ketua Yayasan, dan Pater Surya Awangga, S.J. Sementara itu, Cabang Semarang merayakannya dengan Ekaristi di Paroki Karangpanas, Semarang. Perayaan dipimpin oleh Pastor Paroki Karangpanas, Pater Adolfus Suratmo Atmomartaya, Pr., dan Bendahara Yayasan Pater Aria Dewanto, S.J.     Kanisius Masa Kini Saat ini, Yayasan Kanisius menaungi 186 sekolah; mulai dari Daycare, KB-TK, SD, SMP, SMA, SMK, dengan 1.322 guru-karyawan, dan 17.892 siswa-siswi yang tersebar di empat cabang: Semarang, Yogyakarta, Magelang, dan Surakarta. Pada satu periode, yayasan yang lahir pada 21 Oktober 1918 ini pernah mendidik lebih dari 35.000 siswa di 350 sekolah di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Seiring perkembangannya dan berbagai tantangan pada beberapa dekade terakhir, jumlah tersebut perlahan-lahan menurun. Berhadapan dengan aneka tantangan ini, Yayasan Kanisius terus berbenah diri.   Belajar di Zaman yang Cair Dalam merayakan HUT ke-107, Yayasan terus memfasilitasi para guru dan murid untuk menambah wawasan dan keterampilan baru. Pada 10 Oktober 2025 di KB-TK Kurmosari, sejumlah guru di Yayasan Kanisius Cabang Semarang dan beberapa Yayasan Pendidikan Katolik di Semarang mengikuti acara Kanisius Belajar: Sharing Praktek PPR dan bedah buku “Men and Women for Others,” karya Pater Melkyor Pando, S.J.   Melalui sharing best practice PPR, Kepala Sekolah SMP Kanisius Argotiloso Sukorejo, Yohanes Martono, S.Pd. dan Kepala Sekolah SD Kanisius Sanjaya Sukorejo, Yohana Rosana Meiwati, S.Pd., mengungkapkan bagaimana cura personalis telah membuat sekolah menjadi rumah bagi semua. Relasi antara kepala sekolah dan guru-karyawan semakin erat, para murid pun semakin berkembang sesuai dengan bakat dan keistimewaannya, dan orang tua pun makin tersapa.   Sementara itu, dalam pemaparan mengenai bukunya, Pater Melkyor Pando menegaskan bahwa visi pendidikan Jesuit tetaplah relevan di zaman yang cair ini (penuh ketidakpastian, terus berubah, dan bahkan ditandai dengan ketidakpastian permanen). Kesetiaan untuk menanamkan 4C (competence, compassion, commitment, conscience) menjadi kunci untuk membentuk pribadi-pribadi “Men and Women for Others” di zaman ini.   Pada waktu yang hampir bersamaan, Jumat-Sabtu, 10-11 Oktober 2025 di Wisma Salam, 28 guru Yayasan Kanisius dari Cabang Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Pembelajaran Mendalam. Kegiatan ini membahas pemanfaatan AI untuk Implementasi Deep Learning melalui Contextual Project-Based Learning yang berorientasi SDG’s, bersama Pater A.P. Danang Bramasti, S.J. dan Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D. (Dekan FKIP Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta).   Ignatian Parenting dan Safeguarding SD Kanisius Girisonta pun turut mengadakan Ignatian Parenting pada Jumat, 17 Oktober 2025 lalu. Melalui tema “Menjadi Orangtua Bijak di Era Digital”, para orang tua diajak untuk bermitra dengan sekolah dalam membimbing anak-anak di tengah tantangan perkembangan dunia digital. Selain itu, sosialisasi dan pelatihan safeguarding kini telah selesai dilaksanakan bagi setiap guru di seluruh cabang. Sosialisasi yang telah berlanjut kepada anak-anak dan orang tua ini pun diharapkan menjadikan sekolah-sekolah Kanisius tempat yang aman untuk anak bertumbuh-kembang. Ini menjadi salah satu nilai plus sekolah Kanisius, selain mendidik generasi muda yang cerdas dan peduli terhadap sesama dan sekitarnya.   Cincin Emas Pesta Perak Sukacita HUT Kanisius kali ini terasa istimewa karena terdapat empat guru di Kanisius Semarang yang telah 25 tahun lebih mengabdi. Yayasan Kanisius Cabang Semarang memberikan cincin emas sebagai bentuk apresiasi kepada mereka yang telah membentuk generasi muda dengan teladan, ketekunan, dan kasih. Mereka adalah: Ibu Ika Purbiantari, S.Pd., Kepala SMP Kanisius Raden Patah, yang menekankan toleransi beragama sebagai fondasi pendidikan di sekolah multikultural. Ibu Tutik Supriyanti, S.E., Guru TK Kanisius Kaliwinong, yang membimbing anak-anak dengan pendekatan holistik meski dengan fasilitas sederhana. Bapak Agustinus Suwasma, S.Pd., yang aktif mengintegrasikan nilai Bhinneka Tunggal Ika melalui kegiatan budaya seperti barongsai. Bapak Felix Yanik Sargunadi, Staf Kantor Pusat Yayasan Kanisius, yang aktif di balik operasional kantor. Bu Rini Kusumawati, S.Pd. selaku Kepala Cabang Semarang dalam sambutannya menyampaikan, “Meski harga emas saat ini sedang naik drastis, Yayasan tetap berkomitmen penuh untuk memberikan cincin emas kepada para guru. Ini adalah tanda kepedulian dan cinta Yayasan terhadap setiap pribadi yang penuh loyalitas dan totalitas dalam memberikan diri.”     Menjadi Men and Women for Others Sebagaimana dalam sambutannya, Ketua Yayasan Kanisius, Pater Heru Hendarto S.J., mengundang setiap pribadi untuk menggarap kecerdasan secara menyeluruh, meliputi kecerdasan hidup, emosi, rohani, dan skill, sehingga setiap orang menjadi nyaman dengan diri sendiri dan sesama, saling menghargai dan menghormati. Semua pribadi diajak untuk peduli pada sesama, mereka yang berkekurangan, pada alam dan segalanya, sebab setiap pribadi dilahirkan dan dibentuk untuk menjadi manusia yang peduli. Be Men and Women for Others!   Semoga sukacita HUT ke-107 Yayasan Kanisius membuat setiap pribadi yang pernah belajar di Kanisius semakin bersyukur dan mencintai karya yang mulia ini. Para staf, guru-karyawan, donatur, dan pemerhati semakin menyadari bahwa karya di Yayasan ini adalah karya Allah sendiri, sehingga semakin hari semakin magis dalam pelayanan. Dari karya yang luhur ini, lahir para agen perubahan yang cerdas, mulia, peduli, serta menjadi pembawa garam dan terang dunia.   Kontributor: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.

Karya Pendidikan

Pelatihan Media Pembelajaran Berbasis Audio-Visual

Hari Jumat hingga Minggu, 19-21 September 2025, Studio Audio Visual – USD menyelenggarakan Pelatihan Media Pembelajaran Berbasis Audio-Visual bagi 20 guru terpilih (TK-SD-SMP) dari Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta. Sebagian besar peserta adalah guru-guru tetap yang masih muda. Pelatihan gelombang 3 ini terselenggara berkat kerja sama antara Universitas Sanata Dharma dan Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta. Pelatihan yang waktunya relatif singkat ini dilaksanakan di Studio Audio Visual-USD, Sinduharjo dan para peserta menginap di Kampoeng Media.   Dalam kata sambutannya, Ibu Nur Sukapti, Direktur Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta, menyampaikan rasa terima kasih atas kemurahan hati Universitas Sanata Dharma yang mendukung kegiatan pelatihan gelombang 3 ini. Pembekalan ketrampilan ini sungguh berarti bagi para guru. Terbukti para alumni pelatihan gelombang 1 dan 2 sudah menghasilkan banyak media pembelajaran dan juga liputan-liputan audio visual yang bermanfaat untuk promosi Sekolah Kanisius dan juga bahan-bahan presentasi dalam seminar di luar negeri, termasuk Amerika Latin.   Selain mengucapkan “Selamat Datang” kepada para peserta, menyambung sambutan dari Ibu Nur Sukapti, Pater Yosephus Ispuroyanto Iswarahadi, S.J., Penanggungjawab Program, menegaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk membekali para guru dengan pengetahuan dan ketrampilan membuat media pembelajaran berbasis audio visual. Pada zaman ini para guru ditantang untuk bisa mengampu proses pembelajaran dengan menarik dan berkualitas. Hal ini sesuai dengan karakter generasi sekarang yang lebih mengutamakan perasaan daripada pemikiran. Feeling is first. Diharapkan bahwa dengan didampingi oleh para tutor yang berpengalaman para guru dapat mengikuti pelatihan ini dengan gembira dan menghasilkan media pembelajaran yang kreatif. Penanggungjawab materi pelatihan ini adalah Pater F.X. Murti Hadi Wijayanto, S.J. dan ia dibantu para pendamping antara lain Mas Niko, Mas Haryo, Mas Daniel, Mas Mantep, dan Mbak Kristy (Koordinator Pelatihan). Para peserta bersama-sama mempelajari dan mengolah materi: pembelajaran a la Montessori, prinsip-prinsip sinematografi, penulisan naskah, proses produksi, proses editing, dan evaluasi program. Pada materi pertama Pater Murti menegaskan bahwa pelatihan kali ini lebih menantang daripada pelatihan sebelumnya karena para peserta sudah mempunyai dasar keterampilan audio visual dan fokus pelatihan diarahkan pada kontennya. Konten yang diangkat kali ini adalah Model Pembelajaran Montessori. Oleh karena itu, 6 mahasiswi PGSD-USD (Sesilia, dkk) ikut menjelaskan bagaimana alat-alat pembelajaran a la Montessori dipergunakan.   Setelah mempelajari prinsip-prinsip sinematografi, para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk menyusun naskah video instruksional tentang model pembelajaran Montessori. Pada hari Jumat pukul 09.30 naskah video yang sudah disusun dipresentasikan kepada Tutor Pendamping untuk dikoreksi. Setelah naskah diperbaiki, setiap kelompok melaksanakan produksi (syuting) di tiga lokasi yang berbeda (Studio Biru, Ruang Mawar, dan Wisma Teratai). Masing-masing anggota kelompok mendapatkan peran, misalnya menjadi penulis naskah, sutradara, penata kamera, pemain, dan editor. Waktu untuk produksi adalah Jumat 20 September 2025 pukul 10.00 – 18.00. Selama proses produksi setiap kelompok ditemani oleh seorang pendamping.     Pada petang harinya, setiap kelompok mulai mengerjakan editing. Tugas editing ini membutuhkan stamina yang prima karena harus memilih shot-shot yang begitu banyak dan disesuaikan kerangka film sebagaimana telah ditulis di dalam naskah. Dibutuhkan ketelitian untuk menyambung shot yang satu dengan shot berikutnya. Kemudian editor harus pandai-pandai menyelaraskan warna dan ritme sajian sesuai musik ilustrasi yang dipilih. Mengingat program video yang diproduksi adalah program instruksional yang materinya amat kaya, proses editing membutuhkan waktu lama. Setelah berjuang melawan rasa kantuk dan lelah, para peserta dapat menyelesaikan film mereka. Ada yang selesai pada pukul 01.00 WIB, ada yang selesai pada pukul 02.30 WIB dan bahkan pukul 03.30 WIB dini hari.   Pada hari ketiga, ketika hutang tidur belum tersembuhkan, para peserta mengadakan acara apresiasi dan evaluasi atas video yang telah diproduksi. Penayangan video dilaksanakan di Studio Biru dengan menggunakan layar lebar. Kelompok 1 menayangkan video dengan judul “Feli dan Manik-manik Emas”. Kelompok 2 menyanjikan video “Grammar Sense Game”, sedangkan video yang dihasilkan oleh Kelompok 3 berjudul “Serunya Mengenal Pecahan a la Montessori.” Setiap penayangan ditanggapi oleh peserta dari kelompok lain, kemudian kelompok pembuat menceritakan pengalaman berproduksi dan menanggapi komentar anggota kelompok lain. Pada bagian terakhir komentar disampaikan oleh para pendamping dan tutor. Proses evaluasi dan refleksi ini menjadi bagian penting dari proses learning by doing. Para peserta merasa sangat diperkaya dengan latihan selama 3 hari ini. Mereka merasa dibekali untuk melayani peserta didik dengan lebih baik. Para peserta mengakui bahwa proses pelatihan ini sangat menarik dan menambah pengalaman.   Sebelum acara penutupan, para peserta mengikuti Misa Syukur yang dipersembahkan oleh Pater Iswarahadi di Studio Biru. Dalam kata sambutan penutupan, Bapak Alex yang mewakili Direktur Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta sangat berterima kasih kepada Universitas Sanata Dharma dan Studio Audio Visual atas kesempatan pelatihan yang telah diberikan secara murah hati dan didampingi oleh para tutor/pendamping yang luar biasa. Bapak Alex juga memotivasi para peserta agar menggunakan keterampilan yang diperoleh untuk mendidik siswa-siswi generasi muda dengan lebih kreatif. Pelatihan semacam ini sangat penting, karena membekali para guru dengan ilmu perfilman yang berstandar internasional. Selain memberi apresiasi atas kreativitas, kerja keras, dan kerja tim yang telah dibuktikan oleh para peserta, Pater Iswarahadi menyerahkan sertifikat kepada semua peserta. Para guru dapat kembali ke sekolah masing-masing dengan kepala tegak dan semakin bersemangat untuk mengabdi negeri.     Kontributor: P. Yoseph Ispuroyanto, S.J.