Pilgrims on Christ’s Mission

Kuria Roma

Kuria Roma

Menuju Loyola – Kongregasi Prokurator ke-71

Bulan Mei 2023 ini para Jesuit dari setiap Provinsi dan Regio di mana Serikat Jesus berkarya akan bersidang di Sanctuario de Loyola Spanyol untuk melaksanakan Kongregasi Prokurator (KP) ke-71. Melalui surat kepada seluruh Superior Mayor bulan Januari 2021, Pater Jenderal Arturo Sosa mengeluarkan konvokasi untuk mengadakan Kongregasi Prokurator. Dalam suasana doa, setiap Provinsi, Regio, dan Misi merefleksikan tentang “status atau keadaan Serikat” di tempat mereka masing-masing dan kemudian memilih satu delegat sebagai wakil yang akan hadir dalam KP. Bagi para Jesuit, KP adalah hal biasa dalam “cara bertindak Serikat.” Akan tetapi bagi mereka yang tidak begitu mengenal tata kelola Serikat, KP mungkin tampak misterius. Apa sebenarnya “Kongregasi Prokurator” itu dan apa yang dapat dihasilkan dari sidang semacam itu? Tidak seperti banyak bagian lain yang merinci cara hidup Jesuit, KP bukanlah bagian dari Konstitusi Serikat Jesus. Sebaliknya, Kongregasi Jenderal ke-2 (tahun 1565) menyadari perlunya sidang yang lebih sering selain 36 Kongregasi Jenderal yang telah diadakan dalam sejarah Serikat Jesus selama hampir 500 tahun ini. KP dapat diadakan setiap beberapa tahun sekali, selain terutama untuk merekomendasikan kepada Pater Jenderal apakah Kongregasi Jenderal perlu diadakan atau tidak, tetapi juga sebagai cara untuk membawa ke hadapan tubuh global Serikat mengenai masalah mendesak yang muncul dalam karya, hidup, dan doa para Jesuit di seluruh dunia. Setelah setiap Provinsi, Regio, dan Misi memilih seorang delegat, maka Jesuit tersebut bertanggung jawab untuk mengunjungi semua komunitas yang ada dalam lingkupnya, yaitu demi mendengarkan tantangan dan peluang, serta mengumpulkan informasi yang nantinya akan disampaikan kepada Pater Jenderal dan delegat lainnya. Dengan demikian, KP menjadi representasi akar rumput yang sangat besar dalam Serikat, yaitu bagian penting dari kehidupan Jesuit seperti yang dilihat oleh banyak orang yang hidup dan bekerja di lapangan. Tahun ini, para delegat diminta memfokuskan laporan mereka pada tema melihat segala sesuatu secara baru di dalam Kristus. Secara khusus, Pater Jenderal telah menugaskan para delegat untuk memberikan laporan bagaimana UAP (Preferensi Kerasulan Universal) – yang diserahkan kepada Serikat Jesus oleh Paus Fransiskus pada tahun 2019 – telah mengubah hidup dan pelayanan di seluruh tubuh universal Serikat. KP 71 akan segera dimulai dengan doa sebagaimana setiap Jesuit mengawali hari mereka. Pada 5 Mei 2023, para delegat bersama Pater Jenderal akan memulai retret Ignasian selama 8 hari. Latihan Rohani digunakan sebagai upaya untuk memberi fokus pada pertanyaan-pertanyaan mereka, memperjelas pemahaman tentang gerak Roh Kudus di wilayah karya mereka, dan bergerak menuju pertobatan yang akan membuat KP menjadi wujud pertemuan hati dan pikiran kita semua. Sidang agung ini akan berlangsung pada 15-21 Mei 2023. Mohon doa bagi Pater Jenderal dan para delegat KP 71 sehingga mereka dapat menemukan cara terbaik untuk menempatkan Serikat Jesus dalam pelayanan Gereja dan semua orang. Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel Towards Loyola the 71st Congregation of Procurators dalam https://www.jesuits.global/2023/04/18/towards-loyola-the-71st-congregation-of-procurators/ Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat SJ Provindo, pada tanggal 27 April 2023

Kuria Roma

Paus Fransiskus dan Sepuluh Tahun Perjalanannya bersama Para Pengungsi (Bagian 2)

Seksi Migran dan Pengungsi Segera setelah kunjungannya ke Lesbos, Bapa Suci membuat sebuah seksi baru yaitu Seksi Migran dan Pengungsi (Seksi M&P) yang terkait dengan Dicastery untuk Promosi Pengembangan Keutuhan Manusia (Dicastery for Promoting Integral Human Development). Seksi ini didirikan agar “punya kemampuan menyangkut isu migran, mereka yang membutuhkan, mereka yang sakit, tersingkir dan terpinggirkan, mereka yang dipenjara dan tanpa pekerjaan, dan korban konflik bersenjata, bencana alam dan segala bentuk perbudakan dan penyiksaan.”9 Secara pribadi Paus Fransiskus langsung memimpin Seksi M&P dan secara khusus diarahkan untuk mencapai visi Paus: “Di Lampedusa dan Lesbos, titik utama transit ke Italia dan Yunani, Paus Fransiskus menangis bersama migran dan pengungsi yang berkerumun di sana. Di dalam pesawat ke Lesbos, dia membawa beberapa keluarga pengungsi dari Syria untuk tinggal di Vatikan. ‘Ketika kita menyembuhkan luka para pengungsi, mereka yang terusir dan korban-korban perdagangan manusia,’ katanya ‘kita menjalankan perintah cinta kasih yang diwariskan Yesus bagi kita… Tubuh mereka ialah Kristus.’10 Apa yang Paus ingin ajar dan lakukan, dia ingin agar Seksi M&P membantu orang lain untuk mengatakan dan melakukan di seluruh dunia.”11 Sejak itu, misi seksi M&P ialah membantu Gereja (yaitu para uskup, umat, para klerus, organisasi-organisasi Gereja) dan setiap orang yang berkehendak baik untuk “menemani” mereka yang pergi dan melarikan diri, mereka yang di tempat transit atau menunggu, mereka yang menderita dan berusaha untuk berintegrasi, dan mereka yang kembali. Salah satu capaian utama ialah membantu memelihara dan menumbuhkan bibit yang disemai oleh Paus dalam campur tangannya di Lampedusa. Seksi ini secara khusus amat erat terlibat dalam upaya menolong mengembangkan lebih lanjut basis intelektual dan teologis bagi sebuah pendekatan Katolik yang lebih jelas atas isu-isu pengungsian. Tahun 2020, seksi ini menerbitkan koleksi lengkap ajaran Paus Fransiskus terkait perhatian pastoral untuk migran, pengungsi dan korban perdagangan manusia berjudul Lights on the Ways of Hope. Di tataran lebih praktis, seksi ini terlibat dalam mewujudkan usulan Bapa Suci yaitu Dua Puluh Pokok Aksi untuk Global Compact untuk Migrasi dan Pengungsi dan Orientasi Pastoral mengenai Perdagangan Manusia. Program bagi Bangsa dan Masyarakat Sipil Seperti pendahulu-pendahulunya, Paus Fransiskus menyerap unsur-unsur pokok dari iman Kristiani dan ajaran sosial Katolik untuk mengembangkan sebuah pendekatan alternatif dan lebih manusiawi atas tantangan-tantangan migrasi paksa. Bulan Februari 2017, Bapa Suci menyapa para peserta Forum Internasional mengenai Migrasi dan Perdamaian di Roma. Dia menyatakan bahwa respons atas tantangan migrasi kontemporer harus dibagi di antara komunitas politik, masyarakat sipil dan Gereja, dan harus diartikulasikan dalam empat tindakan yang saling terkait: menyambut, melindungi, mempromosikan, dan mengintegrasikan.12 Seksi M&P selanjutnya menerbitkan Dua Puluh Pokok Aksi yang sudah disebut di atas sebagai sumbangan dalam menyusun draft, negosiasi dan adopsi Global Compact mengenai Migran dan Pengungsi pada akhir tahun 2018. Konsultasi ini dilakukan dengan mendengarkan Konferensi Para Uskup dan organisasi-organisasi Katolik yang bekerja di bidang ini, dan memasukkan refleksi mendalam mengenai praktik-praktik baik Gereja yang telah dikembangkan selama tahun-tahun belakangan. Dua Puluh Pokok Aksi ini didasarkan pada empat aksi – menyambut, melindungi, mempromosikan, dan mengintegrasikan – yang mendukung visi Paus Fransiskus bagi sebuah perbaikan pendekatan yang lebih manusiawi atas pengungsian manusia. Bapa Suci mengelompokkan rekomendasinya untuk Global Compact 2018 sebagai berikut: “Menyapa merupakan seruan untuk memperluas jalur legal bagi pintu masuk dan tidak lagi memaksa para migran dan pengungsi pergi ke negara-negara di mana mereka akan menghadapi bahaya penganiayaan dan kekerasan. Hal ini juga menuntut keseimbangan perhatian kita terhadap masalah keamanan nasional dan keprihatinan atas hak-hak asasi fundamental. Kitab Suci mengingatkan kita: ‘Jangan lupa menunjukkan keramahtamahan kepada orang asing, beberapa dari kita sudah memperlihatkan sikap ramah tamah kepada para malaikat tanpa mengetahuinya.’ Melindungi terkait dengan tugas untuk mengenali dan membela martabat yang tidak bisa diganggu gugat dari orang-orang yang melarikan diri dari bahaya yang nyata, mencari suaka dan keamanan, dan mencegah mereka dari eksploitasi. Saya secara khusus melihat perempuan dan anak-anak yang berada dalam situasi yang membuat mereka terpapar pada resiko dan pelecehan yang bahkan bisa sampai pada perbudakan. Allah tidak mendiskriminasi manusia: ‘Allah menjaga orang-orang asing dan menopang anak yatim dan janda.’ Mempromosikan mencakup dukungan pengembangan manusiawi yang utuh dari para migran dan pengungsi. Diantara cara-cara yang mungkin dilakukan, saya menekankan pentingnya menjamin akses di semua tingkat pendidikan bagi anak-anak dan orang muda. Hal ini akan membuat mereka tidak hanya mampu mengolah dan mewujudkan potensi mereka, tapi juga melengkapi diri mereka untuk bertemu orang lain dan memupuk semangat dialog daripada mengalami penolakan atau konfrontasi. Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah mencintai orang asing yang tinggal diantara kalian, memberi makanan dan pakaian. Dan kalian akan mencintai mereka yang menjadi orang asing karena kalian sendiri dulu adalah orang asing di Mesir.’ Akhirnya mengintegrasikan berarti membiarkan pengungsi dan migran untuk berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan masyarakat yang menyambut mereka, sebagai bagian dari proses saling memperkaya dan kerjasama yang berbuah dalam pelayanan pengembangan manusia yang utuh di komunitas lokal. Santo Paulus mengatakan: ‘Kalian bukan lagi orang asing tetapi sesama warga negara bersama dengan umat Allah’.13 Perdagangan Manusia, Pengungsi Internal dan Pengungsi karena Perubahan Lingkungan Sebuah evolusi yang jelas terlihat dalam pendekatan Bapa Suci terhadap migrasi ialah pengakuannya bahwa perdagangan manusia adalah kejahatan dan perlunya menangani isu ini saat berurusan dengan isu migrasi. Para migran sangatlah rentan karena mereka melarikan diri dari situasi yang berbahaya; mereka seringkali mengambil resiko untuk mencoba masuk ke sebuah negara tujuan dan takut dipulangkan (deportasi). Pada tahun 2014, Bapa Suci menggambarkan perdagangan manusia sebagai “sebuah luka yang menganga di tubuh masyarakat kontemporer, bencana bagi tubuh Kristus.”14 Pada tahun 2018, Paus Fransiskus menekankan bahwa “jalur migrasi juga sering dipakai oleh para pedagang manusia dan orang-orang yang suka mengeksploitasi untuk merekrut korban-korban baru.”15 Paus Fransiskus juga mengenali sesuatu yang lebih dalam, sebagaimana dilihat dalam ekshortasi apostolik Evangelii Gaudium. Dia berbicara mengenai budaya “mencampakkan” di mana manusia lebih dilihat sebagai “pemakai barang-barang” yang dapat digunakan dan dibuang (cf. EG 53). “Jejaring kejahatan yang bejat ini sekarang terbentuk rapi di kota-kota kita, dan banyak yang ikut punya andil dalam kejahatan ini sebagai akibat dari keterlibatan senyap dan yang menyenangkan buat mereka.” (EG 211). Pada awal tahun 2015, Paus Fransiskus mendedikasikan Pesan Hari Perdamaian Dunia bagi perdagangan manusia, sambil menekankan bahwa “Kita sedang menghadapi fenomena

Kuria Roma

Pertobatan, Penebusan, Pengampunan, dan Pilihan

Sebagai tema yang tampaknya sederhana, keempat kata tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan masa pontifikal Paus Fransiskus selama 10 tahun ini. Meskipun dunia telah banyak berubah dalam beberapa dekade terakhir, karena perang, pergolakan global, bencana alam, dan pandemi, Paus Fransiskus secara konsisten meminta semua orang yang berkehendak baik untuk membuka diri terhadap pertobatan, mencari penebusan dosa dan mengampuni mereka yang telah berbuat dosa, dan menentukan pilihan untuk membangun masa depan yang penuh harapan dan peluang, alih-alih sinisme dan ketakutan. 10 Tahun Paus Fransiskus: Refleksi dari Para Jesuit Paus Gregorius XII juga melakukan hal yang sama pada tahun 1415, yaitu mengadakan konklaf untuk memilih penggantinya. Tahun 2013 lalu, pada voting kelima, 115 kardinal yang hadir memilih Jorge Mario Bergoglio, S.J., Uskup Agung Buenos Aires, untuk menjadi Uskup Roma menggantikan Paus Benediktus. Pada 13 Maret 2013, Paus Fransiskus diperkenalkan kepada dunia. Itulah kali pertama seorang Jesuit menjadi Paus, kali pertama Paus berasal dari benua Amerika, dan kali pertama seorang Paus menggunakan nama “Fransiskus.” Itu menjadi awal yang sungguh menggugah perasaan atas sejarah kepausan paling penting di zaman modern. Tahun ini, 2023, adalah tahun kesepuluh masa kepemimpinan Paus Fransiskus dan kami meminta para Jesuit dari seluruh dunia untuk memberikan refleksi pribadi tentang arti satu dekade Paus Fransiskus bagi diri, pelayanan, dan hidup mereka dalam Gereja. Kami akan membagikan refleksi mereka dan berharap semua itu menginspirasi doa-doa kita dan memungkinkan kita memetakan gerakan Roh Kudus dalam hidup selama masa yang luar biasa ini. 10 Tahun Paus Fransiskus: Ia adalah Paus saya juga Pater Patrick Mulemi, dari Lusaka, Zambia, adalah Jesuit pertama yang memberikan refleksi tentang Kepausan Fransiskus dalam seri “10 Tahun Paus Fransiskus” ini. Rabu, 13 Maret 2013. Saya adalah seorang pastor Paroki Matero, sebuah daerah miskin yang luas di Lusaka, ibukota Zambia. Matero terletak lebih dari 10.000 kilometer jauhnya dari Roma, dan hari itu para kardinal sedang mengadakan konklaf. Saya baru saja merayakan misa sore dan mengobrol dengan umat saat mereka keluar dari gereja. Tiba-tiba seseorang berteriak, “Kita punya paus baru!” Saya bergegas ke pastoran, menyalakan TV, dan … “Dia seorang Jesuit!” Seorang Jesuit??? Apa artinya bagi Gereja dan Serikat Jesus? Saya benar-benar tak menduganya. Dia memilih nama Fransiskus, demikian diumumkan. Pikiran pertama saya yang muncul adalah “Orang miskin dari Asisi.” Dan saya benar. Mungkin itu karena saya tinggal dan bekerja di lingkungan yang miskin. Pada misa pagi keesokan harinya, setelah menyebutkan “Fransiskus Paus kita” untuk pertama kalinya dalam doa Ekaristi, seorang wanita tua mendekati saya setelah misa selesai dan sambil tersenyum berkata kepada, “Dia Paus saya juga.” Pada saat itu saya tahu bahwa Roh Kudus telah berbicara. Saya kemudian bertemu dengan Paus Fransiskus dalam beberapa kesempatan ketika bekerja di Roma. ia adalah seorang Jesuit, dengan nama Fransiskan, dan kebiasaan Dominikan. Seorang Paus untuk semua orang. Karunia Tuhan bagi Gereja. Dia adalah Paus yang dibutuhkan Gereja saat ini. 10 Tahun Paus Fransiskus: MAGIS Pater Ramesh Vanan, S.J., Jesuit dari India yang sedang berkarya di Guyana, menuliskan refleksi untuk seri “10 Tahun Fransiskus.” MAGIS adalah nilai Ignasian yang saya peluk dan telah lama tertanam dalam diri saya. Nilai ini sudah menjadi bagian integral diri dan hidup saya sehari-hari, yang pada gilirannya menuntun saya untuk melayani Tuhan dan umat-Nya di Guyana. Bagi saya, pontifikal Paus Fransiskus telah menggarisbawahi sebuah apresiasi dan membantu menenun esensi MAGIS yang sama namun dalam dimensi yang berbeda. Diantaranya ialah menjaga segala sesuatunya tetap sederhana, mengakui bahwa tidak ada yang lebih besar daripada Sang Pencipta, tidak menghakimi, rendah hati meminta pengampunan, mengekspresikan diri dengan sederhana, merangkul spiritualitas dalam hal-hal yang paling kecil, mencium bau domba, peduli akan kebaikan bersama, menjaga agar pintu-pintu Gereja tetap terbuka, mengingat yang miskin, merangkul semua orang apapun latar belakang mereka, hadir di tengah-tengah realitas dunia, dan di atas semua itu, terlibat dalam kebutuhan orang banyak. Saya menghargai bahwa melalui iman dan tindakannya, Paus Fransiskus telah menginspirasi hidup dan pelayanan saya. Cara Gereja di Guyana melibatkan diri dalam keinginan untuk berkontribusi pada pertumbuhan Gereja universal adalah contoh yang bagus. Hal ini dapat dilihat melalui pesan yang disampaikan Paus Fransiskus kepada umat beriman di seluruh dunia, khususnya di Guyana. Berkali-kali ia menggarisbawahi pentingnya Gereja mendengarkan umatnya dan merespon dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Kristus lakukan bagi mereka. Mereka mendengarkan pesannya, dan hal itu telah membuka kekuatan iman di dalam diri mereka. Seorang peserta lansia dalam sesi audiensi untuk sinode mengatakan, “Tolong beritahu Paus (Fransiskus) untuk makan dan beristirahat yang cukup supaya sehat untuk terus memimpin Gereja.” Kelembutan hati Paus Fransiskus telah menyentuh orang-orang sederhana yang mendiami daerah-daerah terpencil di Lembah Amazon. Dengan demikian, orang-orang merasa bahwa Gereja mendengar dan memperhatikan hidup dan pertumbuhan rohani mereka. Saya berharap dan berdoa bagi Paus Fransiskus, semoga Tuhan senantiasa memberkati dan memberikannya rahmat yang cukup untuk memimpin Bunda Gereja kita di dalam zaman kontemporer ini. 10 Tahun Paus Fransiskus: Inspirasi Panggilan S Rob Rizzo, SJ, skolastik dari Provinsi EUM (Euromediterania) yang sedang menempuh formasi teologi di Filipina. Paus Fransiskus dan saya sebenarnya memiliki tanggal yang istimewa. Rabu pagi, 13 Maret 2013, saya bertemu seorang promotor panggilan di tempat saya dan ia mengajak saya menjadi Jesuit. Kini, 10 tahun sudah saya menjadi seorang Jesuit, sama dengan masa kepausan Paus Fransiskus. Meskipun belum pernah bertemu, saya merasa dekat dengannya. Saya merasa ia akan memahami saya – dan banyak orang merasakan hal ini. Itulah salah satu karisma Paus Fransiskus yang saya kagumi. Ia membuat orang merasa dekat dengan Tuhan dan Tuhan dekat dengan kita. Kepausannya dipenuhi aneka anekdot seperti ketika dia menelepon agen koran di Buenos Aires untuk membatalkan langganannya ketika ia menjadi Paus atau ketika ia memberi tahu seorang anak kecil, Emanuele, bahwa ayahnya yang seorang ateis tetap dicintai Tuhan; atau siapakah yang bisa melupakan foto ikoniknya, ia memberikan berkat Urbi et Orbi pada Maret 2020 tanpa seorang pun hadir di sana karena Covid-19. Paus Fransiskus menginspirasi saya dengan keberaniannya. Tanpa takut, ia menghadapi isu-isu kontroversial dan tabu bagi Gereja sebelumnya, misalnya kasus pelecehan oleh klerus dan kesulitan Gereja memahami dan menyambut LGBTQ+. Bagi seseorang dari generasi saya, ini bukanlah masalah yang bisa disembunyikan. Sungguh menggembirakan melihat Paus mulai membahasnya. Ia lebih