Hampir sepanjang bulan Januari lalu, para frater teologan tahun pertama Kolese St. Ignatius Yogyakarta memperoleh kesempatan untuk menjalani program immersion ke karya-karya Serikat Jesus di luar Pulau Jawa. Kegiatan ini diadakan sebagai pengganti program Bulan Imamat yang pelaksanaannya mesti ditunda hingga tahun mendatang karena satu dan lain hal. Harapannya, dengan immersion ini kami dapat lebih mengenal karya (paroki) yang dikelola oleh Serikat Jesus di luar Pulau Jawa. Dalam rangka itu, saya dan Sch. Kefas diutus ke Paroki St. Maria Botong, Ketapang, Kalimantan Barat.
Perjalanan menuju Paroki St. Maria Botong kami tempuh secara bertahap. Setelah tiba di Pontianak, saya dan Kefas menumpang mobil travel selama sekitar 6 jam menuju Kecamatan Balai Berkuak. Dari sana, perjalanan masih harus dilanjutkan dengan sepeda motor selama sekitar dua jam sebelum benar-benar tiba di Paroki Botong. Nyaris tidak ada papan penunjuk arah selama dua jam etape akhir perjalanan tersebut. Satu-satunya tanda yang mudah diingat sebagai patokan, menurut umat setempat, adalah tiang-tiang listrik yang berjajar di sepanjang tepi jalan tanah yang masih agak berlumpur pasca diguyur hujan sehari sebelumnya. “Ikuti saja tiang-tiang itu, nanti frater akan sampai di Botong.”
Sesampainya di Botong, saya cukup terkejut karena keberadaan tiang dan kabel listrik tersebut, meski sudah sejak setahun lalu, ternyata tidak serta-merta menjamin ketersediaan listrik di desa. Selama ini listrik diperoleh warga secara terbatas dari panel-panel surya yang diupayakan secara swadaya. Sementara itu, listrik PLN baru mulai mengaliri rumah warga desa sekitar seminggu setelah kami tiba di sana.
Botong bagi saya memang penuh kejutan-kejutan tak terduga semacam itu. Meski saya sudah mengimajinasikan dan mengantisipasi beberapa hal sebelum berangkat, nyatanya Botong yang saya alami tetap saja menyediakan banyak hal baru, segar, dan pada kalanya: menggugat. Salah satunya, Botong membuat saya merasakan dan memaknai ruang dan waktu secara berbeda. Di Botong, perjalanan selama tiga jam adalah sekadar perjalanan ke desa sebelah dan jarak 200 km adalah sebatas jarak tempuh dari tepian menuju pusat Kabupaten Ketapang. Tiba-tiba saja jarak puluhan kilometer menjadi jarak yang “dekat” dan perjalanan selama beberapa jam menjadi perjalanan yang ditempuh dalam “sebentar.”

Pada satu sisi, situasi ini memberi saya sedikit gambaran tentang latar belakang tantangan pemerataan pembangunan di luar Jawa, yakni mengapa terdapat selisih waktu yang sedemikian lama antara pemasangan tiang listrik dan keberfungsiannya dan juga mengapa kondisi jalan dari dan menuju Botong tak kunjung membaik dari tahun ke tahun. Di sisi lain, situasi tersebut juga membantu saya memahami dimensi pelayanan umat yang tidak selalu tertangkap dalam pandangan: bahwa semangat untuk mengunjungi dan ikut mengembangkan iman umat mesti juga dibarengi dengan semangat untuk bolak-balik memperbaiki motor setiap sebelum berangkat hingga mencuci pakaian dan kendaraan saban kembali pulang ke pastoran.
Saya kira dari situ pula persepsi saya tentang imamat diperluas dan diperdalam. Imamat, setidaknya sejauh saya saksikan dan alami di Botong, bermakna lebih dari kombinasi pelayanan sakramental, pastoral, dan sosial semata. Imamat pada dasarnya adalah bentuk keterlibatan dalam napas hidup Gereja setempat. Imamat adalah pilihan sadar untuk berpartisipasi dalam Ekaristi, yakni dalam karya Kristus yang terus-menerus membagikan diri-Nya bagi dunia. Maka selain tentang memimpin misa dan ibadat, dari para pater yang berkarya di Botong saya melihat bahwa imamat juga berarti rajin menyapu-mengepel pastoran, betah bedabol (ngobrol) bersama umat, ikut nyandau alias mencari buah ke hutan, hingga secara berkala bakar-bakar di bawah dangau (rumah adat) paroki agar serangga-serangga tidak melahap lantai kayu dan atap sirapnya.

Selain itu, saya juga melihat betapa imamat adalah sesuatu yang dilakukan dalam kebersamaan perutusan. Menyenangkan rasanya dapat berbagi cerita tentang suka-duka pelayanan bersama para Jesuit lain yang tinggal di pastoran Botong atau dengan para imam diosesan yang melayani di Paroki Balai Berkuak. Menyenangkan pula bertemu dengan para ketua umat yang setia memimpin ibadat setiap kali para Jesuit belum sempat melawat, dengan OMK yang menyemarakkan pastoran setiap hari dan menemani perjalanan panjang ke stasi, atau dengan orang-orang lain yang mendukung pelayanan kami dengan cara-cara mereka sendiri. Membantu mengangkut logistik gereja hingga menggratiskan jasa perbaikan kendaraan, misalnya.
Sebagaimana tiang-tiang listrik yang saya temui di bagian awal perjalanan, seluruh pengalaman dan perjumpaan yang saya temukan di Botong tersebut rasa-rasanya juga menjadi suatu tanda penunjuk arah: bahwa Gereja hendaknya hidup, tumbuh, dan berkembang karena rasa memiliki alias sense of belonging dari para anggotanya. Bukankah persis di situ tampak identitas Gereja sebagai persekutuan umat beriman yang digerakkan oleh Roh, yang tidak sekadar berjalan mengikuti kelembaman atau malah kekakuan administrasi belaka?

Tiga setengah minggu di Botong pada akhirnya terasa berlalu dengan cepat. Namun tentu saja, meninggalkan jejak-jejak yang tidak akan mudah saya lupakan.
Bokah makaseh bah kenak onya Botong!
